Episode 412 - Sangkuni Raja Gandhara



Jangan mainkan, Saudaraku. Kebenaran tidak selalu berdampingan dengan tradisi, karena tidak semua tradisi itu benar. Jangan bermain, kalau tidak ingin benih dari perang besar akan tersemai di dalam istana Hastinapura hari ini. ~ Basudewa Krishna kepada Pangeran Yudhistira jelang permainan dadu.

“Arjuna Adikku, pergilah… pergi dan temui beliau. Pintalah kepadanya agar bersedia membantu. Di antara kita berlima, dikau yang paling disayang.” Di kala berujar, lelaki dewasa nan tampan itu kelihatan canggung. Ia berupaya menyembunyikan sesuatu, namun raut wajahnya jelas mencerminkan perasaan kurang nyaman. 

“Kakak, adalah paling tepat bagi Kakak sebagai Putra Mahkota yang sah untuk mendatangi beliau secara langsung. Ungkapkan dengan terus terang, kuyakin bahwa Sang Madawa tak akan menolak permintaan kita.” (1)

“Aku pernah menentang nasehat Basudewa Krishna. Aku malu bila nanti berhadapan langsung.” 

“Kakak, nama dikau adalah Yudhistira, yang berarti tetap tegar akan cobaan. Demikian adalah adalah sifat alami dikau, lalu mengapa dikau menjadi seperti ini? Saat hidup berputar di luar kendali, sangatlah penting untuk dapat mengendalikan diri.” Jawaban yang keluar dari mulut Pangeran Arjuna demikian menohok.

Putra Mahkota Yudhistira tak hendak terlibat dalam adu debat. Ia berkilah, “Aku harus menuntaskan Upacara Rajasuya. Satyaki dari Klan Vrishni, Dhrishtaketu Raja Chedis, Virata Raja Matsya, mereka saja belum memadai. Kita memerlukan lebih banyak dukungan dari kerajaan-kerajaan lain.” Ia melontar pandang kepada tiga sosok yang juga berada di dalam ruangan yang sama. Satu bertubuh bongsor, sedangkan dua lainnya berperawakan sangat serupa antara satu sama lain. (2)

Pangeran Arjuna mengikuti arah pandangan mata Putra Mahkota Yudhistira. Ia menatap kakak keduanya Pangeran Bhima nan besar tunggi, lalu secara silih berganti kepada kedua adik kembar mereka, Pangeran Nakula dan Pangeran Sahadewa. Di dalam batin, Pangeran Arjuna meringis… beginikah nasib sebagai anak tengah…? Mereka berempat akan bersenang-senang berpetualang, sedangkan aku ditugaskan untuk membujuk Basudewa Krishna… 

Demikian, persiapan para Pandawa menjelang Perang Kurukshetra pun bergulir.


===


Waktu yang menentukan tradisi mana yang harus dikubur. Dan semua orang harus patuh pada waktu yang berjalan…. Untuk seluruh daerah Arya saat ini, ini waktunya untuk Sangkarti. Seperti Dewa Surya yang sudah mengubah jalannya dalam sebuah Sangkarti, maka semua daerah Arya juga berubah jalannya. Tradisi lama akan hancur, dinasti-dinasti tua akan punah, arti baru tentang kebenaran akan tertulis kembali dan era baru akan muncul. Dan dalam siklus waktu itu, kau harus memutuskan ada di pihak mana kau berada nanti, karena nanti semua orang akan terjebak akan pusaran waktu. Mereka yang telah memilih jalan ketidakbenaran akan mengganggu jalan ini dan mereka yang memilih jalan kebenaran akan melanjutkan era baru itu, ini adalah waktunya. ~ Basudewa Krishna kepada Bhisma Putra Gangga ketika suasana antara Kurawa dan Pandawa memanas.

“Yang Mulia Panglima Perang, mata-mata kita membawa kabar berita bahwa Pangeran Arjuna telah mengunjungi Basudewa Krishna,” ujar seorang prajurit kepada tuannya. Ia menyerahkan secarik kertas berisi laporan. 

Bhisma Putra Gangga tersadar dari lamunan, lantas menoleh kepada sang prajurit. Tanpa berujar sepatah kata pun, tangannya bergerak menerima laporan yang diserahkan, namun ia letakkan kertas tersebut di atas meja kecil di dekatnya. Bahkan tanpa membaca laporan tersebut, ia telah dapat menduga isi yang tertuang di dalamnya. 

“Jadi, dia akan memimpin pasukan Pandawa…” 

“Tidak, Yang Mulia Panglima Perang. Dikabarkan bahwa Basudewa Krishna menolak berperang secara langsung. Beliau dikatakan hanya bersedia menjadi kusir kereta perang bagi Pangeran Arjuna.” 

“Hmph…” Bhisma Putra Gangga tak sepenuhnya percaya pada keterangan tersebut. Ia mengibaskan tangan sebagai isyarat bahwa laporan prajurit tersebut diterima, dan dia dipersilakan untuk meninggalkan ruangan.

Tak lama setelah kepergian sang prajurit, seorang lelaki dewasa berkumis tebal melangkah masuk. “Yang Terhormat Kakek Bhisma, Panglima Perang…,” ujar Pangeran Dushasana sembari membungkuk memberi hormat. “Bagaimanakah persiapan kita…? Kudengar bahwa para Pandawa sudah bergerak mengumpulkan sekutu dan pasukan.”

“Menurut hematku, wahai Pangeran Dushasana, Pandawa akan memiliki pasukan berjumlah tujuh akshauhini…” Sang Panglima Perang menanggapi tanpa basa-basi. Agaknya ia dapat membaca alasan kedatangan Kurawa Ke-2 itu. 

“Hahaha…” Tetiba Dushasana tergelak sembari memegang perutnya. “Apa yang dapat mereka perbuat dengan pasukan yang hanya berjumlah tujuh akshauhini…? Keseluruhan pasukan kita beserta para sekutu mencapai jumlah sebelas akshauhini… Hahaha…” 

“Tanyakan kepada Putra Mahkota Duryudhana, apakah utusan telah dikirimkan kepada Sangkuni Raja Gandhara?”

“Yang Mulia Sangkuni Raja Gandhara senantiasa berada di pihak kita,” ujar Pangeran Dushasana tanpa ragu. “Akan tetapi, tentu diriku akan meneruskan pesan Yang Mulia Panglima Perang kepada Putra Mahkota Duryudhana.” Demikian, tokoh itu meninggalkan kediaman sang kakek. 


===


Dosa dan kejahatan adalah bagian dari siklus yang beracun, wahai Saudaraku. Kalau penjahat tidak dihentikan dari perbuatan jahatnya maka dia akan lakukan banyak kejahatan lagi. Dia akan terus saja mencemari dirinya sendiri dan dia pun akan kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Dia akan terus melakukan kejahatan bahkan tanpa memerlukan alasan. Dengan begitu, seorang anak akan dipaksa untuk berhenti dari memakan segenggam pasir dan dengan begitu sangat penting artinya untuk menghentikan seorang penjahat dari perbuatan jahatnya. Itu bukanlah sebuah hukuman, Pangeran. Tapi simpati. Dan kau tidak perlu merasa khawatir tentang Sisupala, ia telah dibebaskan dari siklusnya yang beracun… ~ Basudewa Krishna kepada Pangeran Dhuryudhana.

“Bagaimana dengan persiapan kita…?” Mengalihkan pandangan dari meja yang memuat bentang alam wilayah Padang Kuruksethra, Putra Mahkota Duryudhana bertanya kepada tiga adiknya.

“Mendiang Raja Bahlika merupakan saudara kakek buyut Shentanu, oleh karena itu Raja Bhurishrava yang saat ini berkuasa di Kerajaan Bahlika berada di pihak kita,” ujar Pangeran Vikarna. “Karena hubungan baik dengan Kerajaan Bahlika pula, Raja Sudakshina dari Kamboja dan Yavana ikut mendukung.”

Pangeran Anadhresha menambahkan, “Kerajaan Mahishmati dikalahkan oleh Sahadewa, tapi mereka menolak tunduk kepada Pandawa. Kesombongan Sahadewa membuat Raja Nila berpihak kepada kita. Begitu pula dengan Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Awanti yang mendendam kepada Yudishtira.”

“Jangan lupa satu akshauhini milik Basudewa Krishna dari Kerajaan Dwaraka. Kritawarma yang mengepalai pasukan tersebut.” Putra Mahkota Duryudhana mengingatkan. “Begitu pula Karna Raja Angga adalah sahabatku, yang sudah berikrar untuk berperang bersama kita.” Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada satu-satunya adik perempuan Kurawa. 

“Alambusha dan Alayudha, masing-masing membawa satu akshauhini pasukan rakshasa.” Mendapat sorotan, Putri Duhsala tak hendak kalah. Pun ia melanjutkan, “Suamiku, Jayadratha Raja Sindhu, sudah barang tentu memberikan dukungannya.” 

Putra Mahkota Duryudhana mengangguk, senyuman lebar menghias wajahnya. 

“Siasat terhadap Raja Salya membuahkan hasil. Kerajaan Madra mau tak mau berperang di bawah panji-panji Kurawa!” Dari arah pintu masuk, seorang lelaki dewasa berujar sembari melangkah tegap. 

“Ha… Dari mana saja kau Dushasana…?” aju Putra Mahkota Duryudhana riang. 

“Maafkanlah keterlambatan hamba, wahai Putra Mahkota,” tanggap Pangeran Dushasana pelan. “Hamba mengunjungi Kakek Bhisma di kediamannya. Hamba hendak memastikan secara langsung…”

“Bagaimana…? Apakah terbersit keraguan dari diri Panglima Perang kita…?” 

“Kesetian beliau kepada Kemaharajaan Kuru mengalahkan keraguan.” Sorot mata Pangeran Dushasana menatap tajam ketika menyampaikan temuannya. 

“Bagus.” Putra Mahkota Duryudhana meraih secangkir arak dari atas meja. 

“Apakah kiranya sudah ada yang mengunjungi Paman Sangkuni di Kerajaan Gandhara,” lanjut Pangeran Dushasana hendak memastikan.

Putra Mahkota Duryudhana, Pangeran Vikarna, Pangeran Anadhresha serta Putri Duhsala saling pandang. Tebersit keheranan pada raut wajah setiap satu dari mereka. 

“Hahaha…” Putra Mahkota Duryudhana tertawa, bahkan hampir menyemburkan arak di dalam mulutnya. Pertanyaan yang keluar dari adiknya itu terdengar selayaknya lelucon. 

“Kakakku Pangeran Dushasana, apakah maksud dikau dengan pertanyaan itu…?” Putri Duhsala menyibak senyum. “Sangkuni Raja Gandhara adalah kakak dari Ibunda Gandhari, paman kita, sehingga dukungan dari beliau datang tanpa diundang…” 

Meski dipertanyakan, raut wajah Pangeran Dushasana terlihat datar. “Apakah kiranya sudah ada yang mengunjungi beliau…?” ulangnya lagi. Sebelah alisnya terlihat naik sedikit lebih tinggi.

Menyadari makna yang tersirat di balik pertanyaan Pangeran Dushasana, Putra Mahkota Duryudhana meletakkan cangkir arak. Wajahnya berubah serius. Ia menyadari bahwa Sangkuni Raja Gandhara adalah tokoh yang sangat unik. Walaupun diketahui sangat membenci Pandawa, beliau merupakan sosok yang terkenal senang menyusun siasat. Oleh sebab itu, dukungan Sangkuni Raja Gandhara harus dipastikan secara langsung!

“Diriku akan segera bertolak menuju Kerajaan Gandhara,” ujar Pangeran Anadhresha menawarkan diri. Akhirnya ia pun menyadari makna di balik kata-kata Pangeran Dushasana.

“Tidak.” Putra Mahkota Duryudhana menggelengkan kepala. “Tidak salah satu dari kita di dalam ruangan ini. Kunjungan kita akan membuka peluang bagi beliau untuk memanfaatkan keadaan. Jangan sampai kita lengah dan terjerumus dalam suatu muslihat.” 

“Apakah sebaiknya mengirimkan Kakek Bhisma…? Beliau tak mudah terjerumus dalam tipu daya. Sebagai Panglima Perang, maka kunjungan beliau merupakan bentuk penghormatan bagi Paman Sangkuni…” Putri Duhsala menyarankan. 

“Hahaha…” Giliran Pangeran Dushasana tergelak selayaknya mendengar lelucon. “Kakek Bhisma dan Paman Sangkuni duduk satu meja…? Sama saja dengan menabuh genderang perang antara Kuru dan Gandhara…”

“Jadi, siapa yang pantas sebagai utusan…?” Putri Duhsala bersungut. 

“Walau bukan kita, namun yang menjadi utusan sepantasnya adalah salah satu dari Kurawa,” jawab Pangeran Anadhresha. 

Suasana di dalam ruangan yang awalnya riang berubah lengang, bahkan tegang. Urusan terkait Sangkuni Raja Gandhara merupakan sesuatu yang teramat sangat rumit. Sulit bagi mereka menemukan tokoh yang tepat sebagai utusan. 

“Izinkan diriku mengajukan nama…,” ujar Pangeran Vikarna yang sebelumnya hanya diam menyimak. 

“Siapakah kiranya yang pantas menurut dikau…?” Pangeran Dushasana menyilangkan lengan di depan dada. Dalam pandangannya, tak ada tokoh lain yang pantas menyambangi Sangkuni Raja Gandhara selain dirinya sendiri. 


===


Wajah seorang lelaki dewasa muda memerah dan mengkerut, seolah menahan sembelit berhari-hari lamanya. Dalam keadaan seperti merana itu, ia menghentakkan napas, menekuk lutut, dan menghenyakkan telapak tangan kanan pada permukaan tanah. Jemarinya seketika menggenggam, lantas menarik gumpalan tanah secara perlahan. Bersamaan dengan itu pula, sosok tersebut bangkit dan mengambil beberapa langkah mundur. Uniknya, bukan semata segenggam tanah yang ia tarik, karena kepiawaiannya membuat tanah berubah wujud selayaknya sebilah galah nan panjang!

“Plak!” Tuan Buntal sigap melompat menempeleng kepala Si Kumal. “Mengapa kau membuat tempuling dari tanah!? Hah!? Senjata itu tak dikenal di dunia paralel ini! Kau hendak mengumbar jati diri!? Bodoh!”

Jiwa dan kesadaran Bintang Tenggara di dalam raga Si Kumal hanya mampu meringis, tak kuasa membantah apalagi melawan. Hanya dalam dua pekan berlatih, ia sudah dapat mengerahkan unsur kesaktian yang secara alami melekat pada raga Si Kumal, yaitu tanah. 

“Sana!” sergah Tuan Buntal menudingkan jemari. “Berdiri menghadap tembok, dan renungkan kesalahanmu!” 

Si Kumal melangkah gontai menuju tembok yang dimaksud. Betapa luka hatinya, karena niat hendak menunjukkan hasil latihan selama dua pekan terakhir kepada sang Super Guru malah mendapat tamparan, caci-maki, serta hukuman. Walau, patut diakui bahwa menguasai unsur kesaktian tanah sangatlah mudah di bawah bimbingan Komodo Nagaradja. Pengetahuan dan kemampuan tokoh tersebut terkait unsur kesaktian tanah sangatlah digdaya. 

“Giliranmu!” Tuan Buntal lalu menyergah sembari menudingkan jemari kepada lelaki dewasa muda lain. Tubuhnya tinggi kekar, dengan wajah berkumis tipis dan sangat tampan. 

Pangeran Wyudharu menghela panjang. Unsur kesaktian angin berpuntir deras mengelilingi tubuhnya. Ia lantas membuka mulut, dan lidahnya bergerak luwes dalam gerakan naik dan turun. Tatkala gerakan itu berlangsung, jilatan-jilatan angin melibas deras sampai menciptakan ceruk pada permukaan tanah!

Melihat unjuk kebolehan tersebut, Tuan Buntal menghembus napas sembari menundukkan kepala. Tak kuasa ia memandangi gerakan lidah naik-turun dengan sangat tangkas itu. Sungguh sangat mesum. Ia menggerutu, “Satu pertanyaan saja… Jikalau boleh, satu pertanyaan saja…”

“Apakah itu, wahai Tuan Buntal…?” Pangeran Wyudharu terlihat jumawa atas kemampuan barunya. 

“Mengapa kau tak dapat berperilaku sewajarnya saja…? Mengapa harus kau mengerahkan unsur kesaktian angin melalui lidah…?”

“Itu dua pertanyaan…,” tanggap Pangeran Wyudharu serius.

Si Buntal menggeleng kepala, tak tahu lagi harus berkata apa. 

“Tentu karena aku merupakan ahli yang senantiasa berupaya menerapkan pendekatan-pendekatan baru.” Sembari berujar, Pangeran Wyudharu mengambil busur dan sebilah anak panah. Ia jilati anak panah tersebut sembari membidik. 

“DUAR!” 

Anak panah bermuatan unsur kesaktian angin melesat lantas meledakkan tembok. Atas kejadian itu, seorang tokoh yang sedang menjalani hukuman menghadap tembok terpelanting tiada berdaya. 

Raut wajah Pangeran Wyudharu pucat, sementara Tuan Buntal menepuk jidatnya sendiri. Sungguh tak lucu bila tanpa sengaja Si Kumal meregang nyawa jauh sebelum perang. 

“Plok… plok… plok…” 

Suara tepuk tangan terdengar lantang dari arah pintu masuk gelanggang berlatih. Seorang lelaki dewasa dengan kumis maha lebat sedang melangkah ringan. Menyaksikan kedatangan tokoh tersebut, Tuan Buntal membungkukkan tubuh dan Si Kumal nan malang terlihat bersujud padahal ia baru hendak bangkit berdiri. 

“Kakanda Putra Mahkota…,” Pangeran Wyudharu menundukkan kepala. “Mengapa tiada memberi khabar kedatangan…?”

“Hahaha…,” gelak Putra Mahkota Duryudhana. “Aku tak butuh penyambutan tatkala bertandang di kediaman adik-adikku. Hari ini aku sengaja meluangkan waktu untuk menyambangi kalian satu persatu…”

“Maafkanlah kami yang lalai menyambut!”

“Sudah, sudah… Engkau yang lebih mengejutkan. Kemampuanmu tumbuh berkali lipat sejak terakhir kita bersua.” Putra Mahkota Duryudhana memandangi tembok besar yang roboh akibat serangan panah Pangeran Wyudharu. 

“Peperangan sudah di ambang pintu, sudah sewajarnya persiapan dimulai.” Mendapat pujian, Pangeran Wyudharu semakin jumawa.

Suasana hati Putra Mahkota Duryudhana penuh suka cita. Dua pekan sebelumnya ia mengirimkan kereta perang mewah kepada seluruh adik-adiknya. Tindakan tersebut bukan semata memberi hadiah, namun merupakan isyarat agar setiap satu dari mereka wajib mempersiapkan diri untuk peperangan. Sebagian besar dari adik-adiknya dapat mencerna makna yang terselubung dari hadiah kereta perang. 

“Sangat baik bagimu melatih kemampuan diri, akan tetapi jangan melupakan bahwa engkau memiliki prajurit sebagai bawahan. Mereka juga memerlukan perhatian dan pelatihan.” 

“Baik, Kakanda Putra Mahkota. Terima kasih atas sarannya.” 

Sang kakak menatap kepada adiknya selama beberapa saat. Selama ini Pangeran Wyudharu terkenal senang bermalas-malasan dan lebih suka mencurahkan diri dalam bidang seni dibandingkan bela diri. Mungkinkah perubahan ini yang membuat Pangeran Vikarna menyebutkan namanya…? 

Seketika itu pula sang Putra Mahkota mengambil keputusan. 

“Aku memiliki sebuah tugas penting untukmu…,” lanjut Putra Mahkota Duryudhana beralih kepada alasan sebenarnya ia berkunjung.

“Hamba siap menerima titah!” 

“Esok, berangkatlah engkau menuju Kerajaaan Gandhara. Temui Paman Sangkuni. Sebagai utusan resmi, engkau bertugas memastikan dukungan beliau di dalam perang menumpas para Pandawa.”


Catatan: 

(1) ‘Madawa’ merupakan nama lain Basudewa Krishna yang berarti ‘Suami Dewi Keberuntungan’. 

(2) Upacara Rajasuya adalah sebuah upacara yang diselenggarakan oleh para raja untuk mengukuhkan diri akan kemampuan dan kekuasaannya. Upacara Rajasuya juga mencakup upaya sang raja untuk melakukan penaklukan wilayah.