Episode 411 - Kereta Perang



Lingkungan dalam salah satu istana nan megah sebagai kediaman seorang pangeran hari itu lengang. Pengawal dan pelayan tak terlihat banyak berlalu-lalang, bahkan terkesan sengaja diistirahatkan. Di satu sudut dalam lingkungan istana, tersembunyi di di bawah rindang pohon beringin dan balik bayangan tembok, dua ahli sedang berbincang-bincang. Tak jelas perawakan mereka, karena memang sengaja bertukar gagasan secara sembunyi-sembunyi. Apa yang mereka perbincangkan saat ini, kiranya dapat mengubah arah pertempuran yang akan dilakoni enam purnama dari hari ini.

“Kita pancing ‘dia’ lalu alihkan perhatiannya…” Terdengar suara berbisik menyusun siasat. Sangat serius.  

“Saat perhatiannya teralih, maka kita terkam dan bekam! Kita ambil-alih…” Melirik ke kiri dan ke kanan, tanggapan yang keluar diiringi harapan yang menggelora.   

“Brak!” 

Seorang lelaki muda bertubuh gempal melompat ke balik pohon beringin. Tatkala mendarat ia terhuyung hampir kehilangan pijakan, namun masih mampu menjaga keseimbangan tubuh. Rupanya sudah sedari lama ia mengintai dalam diam. Kehabisan kesabaran, ia lantas menghardik berang, “Datangi siapa!? Ambil alih apa!? Hah!?” seru Si Buntal.

Pangeran Wyudharu dan Si Kumal melompat di tempat. Betapa terkejutnya kedua tokoh tersebut ketika tertanggap basah. Serta merta keringat dingin bercururan di pelipis mereka. (1)

“Tidak… Tidak…”

“Bukan apa-apa…”

“Kalian berdua berencana mendatangi Basudewa Krishna lalu merampas Cakra Sudarshana, ya ‘kan!?”

“Hm… Itu…”

“Aah…” 

“BODOH!” Jiwa dan kesadaran Komodo Nagaradja di dalam tubuh Si Buntal mengamuk. “Rencana tolol!” 

“Tenanglah… Bawa bertenang…” Pangeran Wyudharu mengingatkan, “Nanti kita ketahuan…”

“Apa!? Hah!? Apa!?” hardik Si Buntal semakin berang. “Mengapa hanya aku yang menganggap bertahan hidup di dunia ini sangat penting!?”

“Bila kita upayakan bersama-sama, bukanlah tak mungkin…” Si Kumal menambahkan, tentunya masih berupaya memperjuangkan rencana licik terhadap Basudewa Krishna.

“Apakah pekak sudah telingamu!? Rencana tolol! TOLOL, kataku!”

Dibentak dan dimaki, Pangeran Wyudharu dan Si Kumal menundukkan kepala. Keduanya menyadari bahwa bila mereka terus menjawab, maka Komodo Nagaradja akan semakin naik darah. Amarahnya yang membabi-buta akan mengundang kedatangan para pengawal atau pelayan istana, bahkan tokoh ternama. Bila itu terjadi, maka jati diri mereka dapat terbongkar. Oleh sebab itu, lebih baik membiarkan saja dia meluapkan amarahnya. 

“Di dunia paralel ini, tidak dikenal kasta dan peringkat keahlian…” Melihat kedua sasaran amuknya menundukkan kepala, Si Buntal merendahkan suara. “Tapi dapat kupastikan bahwa Basudewa Krishna setidaknya setara dengan ahli Kasta Bumi, sedangkan kalian hanya setingkat Kasta Perunggu… Mengerti…?”

Bintang Tenggara belum sempat memikirkan persoalan keahlian. Ia berpandangan dapat seperti biasa memanfaatkan kemampuan yang selama ini dimiliki. 

“Ikut aku!”

Walhasil, dengan perasaan tiada menentu, Pangeran Wyudharu dan Si Kumal mengekor Si Buntal. Keduanya dibawa ke gelanggang berlatih di lingkungan istana milik sang pangeran. Sebagai catatan, setiap kakak beradik Kurawa memiliki istana masing-masing. Walau tak terlalu luas, namun istana milik Pangeran Wyudharu sangat memadai sebagai tempat tinggal. Lingkungan itu dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana.

Ketiganya tiba di dalam sebuah gelanggang berlatih. 

“Kerahkan kemampuanmu,” perintah Si Buntal kepada Si Kumal. 

Tubuh kurus kering mengambil selangkah maju. Tanpa pusaka Cincin Gundala si Putra Petir, dirinya tiada dapat mengerahkan unsur kesaktian petir. Meskipun demikian, ia masih memiliki jurus persilatan Tinju Super Sakti, Silek Linsang Halimun serta Pencak Laksamana Laut. Berbekal ketiga jurus tersebut serta kemampuan Delapan Penjuru Mata Angin, maka lelaki dewasa muda itu yakin dan percaya dapat tampil cemerlang. 

“Ayo cepat…”

Si Kumal bengong. Ia berupaya menebar mata hati, namun sangatlah lemah. Ia hendak mengerahkan tenaga dalam dari mustika, tapi bukan main kesulitan. Pada akhirnya ia hanya berdiri kebingungan. 

“Mengerti maksudku…?” Si Buntal mengangkat dagu. 

“Tubuh ini…,” gerutu Si Kumal yang masih tak percaya.

“Giliranmu…,” Si Buntal menunjuk kepada Pangeran Wyudharu 

Bahkan ketika melangkah maju, aura tenaga dalam menyeruak dari lelaki dewasa muda nan tampan dan bertubuh kekar itu. Akibatnya aliran angin menderu kencang di sekeliling dirinya, debu dan dedaunan berpuntir serta terangkat ke udara. Tanpa memberikan upaya yang berarti, mudah baginya mengerahkan tenaga dalam. Keadaan itu bahkan membuat dirinya sendiri terkesima.

“Itu bukan tubuh kalian. Kau Kumal tak dapat berbuat sebagaimana biasa karena jiwa dan kesadaranmu menumpang di tubuh yang lemah, hanya setara dengan Kasta Perunggu Tingkat 1. Sedangkan Wyudharu tak perlu berusaha keras karena memiliki garis darah Kurawa. Setara dengan Kasta Emas Tingkat 1, namun tak mampu mengendalikan kekuatan dengan baik.”

Pangeran Wyudharu dan Si Kumal saling pandang.

Si Buntal mendengus. “Jadi, daripada kalian berangan-angan mencuri senjata pusaka dari ahli maha digdaya, maka lebih bermanfaat bila kalian berlatih.”

“Super Guru… Ehm… Buntal sangatlah berpengalaman…,” sanjung Si Kumal. “Apakah dahulu pernah ikut serta membangun keahlian di dunia paralel ini…?”

“Heh…” Si Buntal membusung dada. “Tentu saja tidak! Dahulu aku sudah terlalu tangguh sehingga tak merasa perlu mengasah kemampuan di sini. Walaupun demikian, aku banyak bertemu dengan ahli yang senang berceritera tentang pengalaman mereka mengarungi dunia paralel ini.”

“Dikau memang tak memiliki kesempatan…,” timpal Pangeran Wyudharu. “Ketika menjadi siluman sempurna, dikau sudah berada pada Kasta Emas sehingga memang tak memungkinkan untuk menumpangi Lancang Kuning…”  

“Tutup bacotmu! Latihan dimulai sekarang!” 



Satu pekan waktu berlalu sejak rombongan Bintang Tenggara, Komodo Nagaradja serta Ginseng Perkasa tiba di Hastinapura, ibukota Kemaharajaan Kuru di dalam legenda Mahabharata. Dunia paralel yang misterius dan memungkinkan kesadaran mereka menumpang di tubuh orang-orang lain. Selain memenuhi undangan ke Istana Utama pada hari pertama, mereka belum sekalipun melangkahkan kaki keluar dari istana milik Pangeran ke-100 Wyudharu. Ketiganya giat berlatih sehingga belum sempat menyelidiki keberadaan ahli-ahli lain yang datang bersama dari Negeri Dua Samudera.

“Aaakh… Tidak… Aaakh… Kumohon… Jangan… Akh…”

Dari balik pintu maha megah, terdengar suara merintih tiada tertahan. 

“Sedikit lagi, sedikit saja lagi…” Terdengar balasan disertai suara napas menderu. 

“Aaakh… Jangan… Aaakh… Pangeran… Akh… Aaakh…”

“BRAK!” 

Sepasang daun pintu megah ditendang dengan segenap tenaga untuk didobrak paksa. Di ambang pintu, terlihat seorang lelaki dewasa muda bertubuh gempal, raut wajahnya memerah padam dan dadanya naik turun. Mata melotot, ia mendapati bahwa di arah yang berlawanan, di atas dipan nan mewah, seorang lelaki dewasa muda bertubuh kekar sedang berbaring. Dadanya nan bidang menindih serta kedua kakinya mengunci tubuh lemah seorang gadis pelayan istana. Sungguh malang nian nasib gadis itu, meronta pun tiada kuasa karena kedua lengannya sedang diangkat paksa…

Sementara itu, sang pangeran dengan nikmat menjilati habis-habisan… ketiaknya!

Meskipun dibalut amarah, Si Buntal kali ini masih dapat menahan diri. Ia hanya diam memandang dari di ambang pintu.

Akibat kedatangan tamu tak diundang, sang pangeran sontak melepaskan mangsanya, dan gadis pelayan istana tersebut berhasil melepaskan diri. Antara perasaan jijik dan geli, ia lantas berlari kecil. Terlihat air liur yang berbuih-buih berlumuran di kedua belah ketiaknya, lalu menetes meninggalkan jejak di lantai. Sungguh memalukan. Akan tetapi, bila diperhatikan dengan sangat seksama, di balik tangan yang menyeka air mata tersembunyi sebentuk senyuman nan dikulum. Apakah gadis pelayan itu menikmati ketiaknya digerayangi…?

“Eh… Buntal… yang tadi itu…” Pangeran Wyudharu menggaruk-garuk kepala. Lidahnya kaku kesulitan menyusun kata-kata, atau mungkin lidahnya masih merasakan nikmat kelembutan serta aroma ketiak…? Tak ada yang tahu…  

Si Buntal mengangkat lengan dan membuka telapak tangan ke hadapan wajah lawan bicaranya, seolah hendak meraup dan mengoyak wajah tampan tersebut. Ia tak peduli akan penjelasan, karena merupakan alasan belaka. Dingin ia berujar, “Ikut aku!”

Keduanya menuju bangunan lain yang masih berada di dalam lingkungan istana. “Tunggu di sini!” perintah Si Buntal menuding ke lantai, lalu ia melangkah masuk ke dalam pintu. 

Tak lama kemudian, tokoh tersebut melangkah keluar sembari menyeret kerah belakang pakaian milik seorang lelaki dewasa muda bertubuh ceking. Agaknya tokoh tersebut sedang asyik meneroka kitab dan buku di dalam pustaka, ketika Si Buntal tanpa basa-basi menyeret tubuhnya keluar. Si Kumal pasrah.

“Ayo!”

Keduanya saling pandang, namun mengikuti tanpa berani bertanya-tanya. Padahal, hari itu adalah hari bagi mereka untuk beristirahat dari sajian latihan keras yang disuguhkan oleh Si Buntal. Keduanya mengekor ketika menyusuri jalan setapak ke arah gelanggang berlatih. 

“Bukankah ‘Tuan Buntal’ yang mengatakan bahwa berlatih tanpa istirahat hanya akan mencederai tubuh…?” Akhirnya Si Kumal angkat suara. Selain banyak pengetahuan yang mengalir ke dalam benaknya, ia tetap merasa perlu mempelajari lebih jauh tentang dunia paralel di mana mereka berada. Hanya diberi kesempatan satu hari sangatlah tak memadai!

Si Buntal, yang beberapa hari lalu menegaskan bahwa ia lebih pantas disapa sebagai ‘Tuan Buntal’, memutar tubuh. Tak ada kata-kata yang keluar, namun bola matanya membesar seperti hendak keluar. 

Ketika pandangan mata mereka bertemu, jantung Si Kumal sontak berdetak keras. Menundukkan kepala, ia melirik kepada Pangeran Wyudharu yang serta-merta membuang wajah seolah sedang menikmati pemandangan indah. Sesuatu terjadi, batin Si Kumal. Sesuatu itu membuat Tuan Buntal amat sangat teramat marah! 

Perjalanan berlanjut, namun mereka tak melangkah masuk ke dalam gelanggang berlatih. Ketiganya lantas tiba di halaman depan istana. Di sana, telah menanti sesuatu yang berukuran besar dan ditutupi oleh kain indah berwarna keemasan. 

“Flap!” 

Tuan Buntal menyentak ujung kain. Tatkala kain tersibak, mengemuka sebentuk kereta perang tanpa kuda. Sepasang roda di kiri dan kanannya besar dan kokoh. Pada sisi depan adalah tempat duduk kusir tanpa atap, sedangkan di bagian belakang tak memiliki tempat duduk namun beratap tinggi yang disangga sepasang tiang perkasa. Sungguh megah menyilaukan dengan berbagai ragam hias yang bertakhtakan emas dan permata.

Pangeran Wyudharu dan Si Kumal menganga. Walau hanya sebentar, keduanya pernah menyaksikan kereta perang tersebut di Padang Kurukshetra dalam keadaan mengenaskan tertimbun tulang-belulang berserakan. Di atas kereta perang itu nantinya Pangeran Wyudharu, Tuan Buntal serta Si Kumal meregang nyawa!

“Hei, apa kalian melihat hantu!?” sergah Tuan Buntal. “Kereta perang ini baru tiba. Ia adalah hadiah dari kakakmu Putra Mahkota Pangeran Duryudhana sebagai persiapan pertempuran.” 

“Ti… tidak! Diriku tak mau kereta perang ini!” ratap Pangeran Wyudharu sembari melangkah mundur. 

“Jangan gila!” 

“Benar, kereta perang yang lain saja…,” dukung Si Kumal. “Kereta perang ini membawa sial…” Ia membayangkan ketiganya mati bersama-sama, yang kemungkinan besar dalam keadaan saling berpelukan!

“Sial…? Kalian yang sialan!” bentak Tuan Buntal yang dalam episode ini menjadi tokoh utama ceritera. “Supaya kalian tahu, dalam peperangan nanti kereta perang adalah yang menjadi pemisah antara mati konyol atau mati sebagai pahlawan!” 

“Tapi aku tak mau mati…?” Pangeran Wyudharu nan tinggi kekar lagi tampan meringis. 

“Kita bisa berjalan kaki saja…,” 

“Kumal kau akan bertugas sebagai kusir di depan, Wyudharu sebagai pemanah di tengah, sedangkan aku bersiaga di belakang menjaga bokong kita semua!” sahut Tuan Buntal mengabaikan penolakan dua tokoh lain. “Dalam latihan kita ke depan, maka akan ada tambahan latihan mengendalikan kuda serta memanah!”


===


Sebuah meja kokoh berbentuk persegi. Pada permukaannya, terdapat bentang alam yang diukir terperinci, lengkap dengan wilayah padang terbuka, perbukitan, hutan, dan lain sebagainya. 

Di balik satu sisi meja, lima tokoh berdiri perkasa. Paling tengah adalah Putra Mahkota Duryudhana. Ia diapit oleh Pangeran Dushasana dan Pangeran Vikarna, lalu Pangeran Anadhresha serta Putri Duhsala. Kesemuanya adalah kakak beradik keturunan Maharaja Dhrastrarastra paling berpengaruh, dengan catatan Duhsala sebagai anak ke-101 dan satu-satunya Kurawa perempuan. 

Di hadapan mereka, terpisah oleh meja yang menggambarkan rincian wilayah Padang Kurukshetra adalah seorang lelaki setengah baya. Rambut, kumis dan janggutnya lebat putih, dengan perawakan tubuh tinggi lagi kekar. Sedikit penjelasan perlu diberikan tentang tokoh yang satu ini.


Semasa muda ia bernama Dewabrata. Seorang maha guru yang memiliki keahlian dalam strategi perang serta menguasai segala jenis senjata. Baik kepada Kurawa maupun Pandawa, ia tak pernah pilih kasih. Sebagai kakek mereka, ia memberikan tunjuk ajar tentang ilmu perang dan kehidupan. Pada satu titik dalam hidupnya, tokoh ini mengambil sumpah untuk tak menikah, dan tersohor dengan nama Bhisma Putra Gangga.

“Yang Terhormat Kakek Bhisma,” sapa Putra Mahkota Duryudhana. “Atas tawaran Basudewa Krishna, aku memilih untuk mengambil pasukannya yang sangat besar, berjumlah satu akshauhini dan berada di bawah pimpinan Kritavarma.” (2)

Bhisma Putra Gangga hanya mematung. 

Putra Mahkota Duryudhana melanjutkan, “Oleh sebab itu, sudi kiranya Yang Terhormat Kakek Bhisma mengambil kendali sebagai Panglima Perang di pihak Kurawa.” 

Lelaki setengah baya itu menatap dalam kepada Putra Mahkota Duryudhana. Akan tetapi, benaknya sedang berkelana kepada suatu saat di masa lampau. Kala itu ia berdiri di hadapan seorang perempuan dewasa untuk mengutarakan sebuah janji. 

Aku putra dari Gangga bersumpah atas kesucian dari ibundaku dan aku bersumpah atas cinta akan kesetiaan ayahandaku padaku. Aku tidak akan menghabiskan kehidupanku sebagai Raja Hastinapura tapi hanya sebagai pelayannya saja. Wahai Satyavati, akan kubantu anak keturunanmu nanti untuk bisa mendapatkan kerajaannya, untuk menjamin hidup mereka agar sejahtera selama-lamanya. Aku tidak akan pernah menikah, tidak akan berkeluarga dan tetap sendiri untuk selamanya. (3)

Menyaksikan tokoh di hadapan mereka tak kunjung memberi jawaban dan terkesan sedang melamun, Pangeran Dushasana hendak membantu meyakinkan. Akan tetapi, gerakannya terbaca oleh Putra Mahkota Duryudhana yang sigap menghentikan niat adiknya agar tak salah mengumbar kata. 

Bhisma Putra Gangga menghela napas panjang. Pada akhirnya beliau berujar, “Sebuah wadah hanya bisa dibuat kosong isinya satu kali saja, dan setelah itu ia yang perlu mencari air dari sebuah sumur yang isinya tidak pernah kosong, karena air di dalam sumur itu didapatkan dari dasar bumi yang paling dalam… Aku pun harus bisa menunjukkan kedalaman jiwaku hari ini. Aku harus buktikan bahwa aku bisa membuat banyak pengorbanan, karena itulah aku berjanji padamu Putra Mahkota Duryudhana, bahwa aku akan melayanimu dan menerima setiap kata dari perintahmu.”


Catatan: 

Penulisan Wyudoru diganti menjadi Wyudharu. Sepertinya lebih pantas. 

(2) Satu (1) akshauhini terdiri dari: 21.870 kereta perang, 21.870 gajah perang, 65.610 prajurit penunggang kuda, dan 109.350 prajurit darat. Perbandingan dari jumlah ini adalah: 1 kereta perang = 1 gajah perang = 3 prajurit penunggang kuda = 5 prajurit darat.

(3) Satyavati istri Maharaja Shentanu adalah ibu tiri Bhisma, dan merupakan nenek buyut bagi Kurawa dan Pandawa.