Episode 409 - Penumpang


Angin dini hari berhembus pelan, membawa bersama dengannya bulir-bulir air nan sejuk. Jauh di bawah sana, ombak di permukaan sungai beriak deras ketika cahaya terang memisahkannya menjadi dua bagian. Sumber cahaya bukan berasal dari sang mentari, karena masih beberapa saat lagi baru ia berkenan bangkit. Adalah layar-layar yang berkibar besar, semakin lama semakin menjauh berlayar…

Dari atas sebuah bukit, dua ahli duduk bersantai pada rerumputan pendek. Tatap mata mereka memandang hulu sungai. 

“Oh betapa aku merindu pelayaran bersama Lancang Kuning…,” kenang salah satu ahli tersebut, seorang pemuda. Ia menoleh kepada lawan bicaranya, “Kau tahu, aku bersama kakakku pernah berlayar mengunjungi negeri di dalam dongeng bersama dengan perahu perang itu. Kala itu kami sedang giat menekuni jalan keahlian…” 

“Masa-masa sebelum beliau bertemu dengan kami…?” tanggap lelaki dewasa muda betubuh jangkung. Ia merupakan wujud manusia dari senjata pusaka nan digdaya. 

“Demikian lama telah waktu berlalu, namun kenangan itu masih membekas seolah baru berlangsung semalam…” Hang Jebat semakin larut dalam kenangan. 

“Apakah kiranya Aronawa Kombe akan baik-baik saja…?”

“Heh Tameng, sejak kapan kau peduli dengan nasib ahli lain!? Kita telah menjalankan ‘tugas’, terserah bila Aronawa hendak ikut mencoba peruntungan di tempat itu. Aku pun sudah muak dengan mukanya…”

“Tugas…? Jebat, akui sajalah bila kau diperbudak… Kyahahaha…” (1)

“Cih! Sampai dapat aku kembali ke puncak kekuatan, maka tindakanku semata untuk menyelamatkan jiwa ini! Tunggu saatnya nanti, akan kutampar si keparat dari Kemaharajaan Langit itu!”

“Siapa dari Kemaharajaan Langit…?” tetiba seorang perempuan dewasa melayang turun di hadapan Hang Jebat dan Tameng. 

“Ma… Mayang Tenggara!” Secepat kilat Hang Jebat mundur melompat. 

“Pakcik Jebat, Paman Tameng, siapa dari Kemaharajaan Langit yang kalian bicarakan tadi…?” ulang Mayang Tenggara. Aura tenaga dalamnya meningkat perkasa. 

“Salah seorang pamanmu dari Kemaharajaan Langit meminta kami menelusuri jejak ibundamu. Upaya kami tak membuahkan hasil, sehingga ia mengubah permintaan. Ia meminta kami mencari jejak kedua putramu!” Tanpa berbasa-basi, tanpa menyembunyikan sebarang informasi, Hang Jebat serta-merta menjabarkan apa yang sedang berlangsung. Ia sangat mengenali kepribadian Mayang Tenggara yang bersumbu pendek, sehingga menghindari nasib buruk menimpa.

“Kedua putraku…?” Mayang Tenggara menoleh ke arah Lancang Kuning yang sudah berlayar jauh. Akan tetapi, kedua matanya lalu membesar tatkala menyaksikan kehadiran cahaya kecil yang muncur dari arah samping. Cahaya tersebut melesat mengejar perahu layar nan melaju! 

“Ck!” Mendecak lidah, Mayang Tenggara lantas melesat mengejar dengan segenap kemampuan ahli Kasta Bumi.

“Ayo, Tameng!” seru Hang Jebat kepada Tameng yang masih duduk santai di atas rerumputan. “Pertarungan akan berkecamuk, aku tak mau sesiapa pun pemenangnya kembali dan berbuat sesuka hati kepada kita!” 

Demikian, Hang Jebat dan Tameng melesat menuruni kaki bukit. Akan tetapi, tetiba hadir di hadapan mereka seorang perempuan dewasa muda. 

“Oh… Sungguh mengekor Mayang Tenggara membawa diriku bertemu dengan tokoh-tokoh nan digdaya di masa lampau…,” ujar perempuan dewasa muda itu sembari melontar senyuman. 

Hang Jebat dan Tameng mengabaikan. Beriringan keduanya mengindar dengan berbelok arah. 

“Jawab satu pertanyaanku!” Putri Pinang Masak memberi perintah. 

Langkah kaki Hang Jebat seketika terhenti. Hawa membunuh nan menekan membuat tubuhnya kaku.

“Katakan apakah kalian melihat seorang pemuda berjubah gelap, bernama Kum Kecho…?”

Hang Jebat menggeretakkan gigi tatkala menahan amarah. Dirinya yang dahulu kala merupakan ahli yang perkasa dan disegani, kini diperlakukan semena-mena oleh banyak ahli. Harga dirinya terluka. Tanpa memutar tubuh, ia berujar datar, “Kum Kecho ikut berlayar bersama Lancang Kuning…” 


===


“Aku sengaja mengunci kesadaranku agar kau bocah dapat menumbuhkan keahlian tanpa bantuan berlebihan!” Suara yang keluar dari lelaki dewasa muda bertubuh gemuk itu terdengar asing, namun nada suara dan gerak-geriknya tiada diragu merupakan milik Komodo Nagaradja. Ia menghardik berang sembari mengepalkan lengan di depan dada!

“Super Guru…” Lelaki dewasa muda yang berperawakan kurus kering dan diketahui sebagai tokoh yang berasal dari wilayah perkampungan tergagap. 

“Aku menitipkannya kepada kau tua keladi hidung belang! Kau sepantasnya dapat mencegah perbuatan ceroboh!” Kini ia mengalihkan amarah kepada lelaki dewasa muda yang merupakan keturunan bangsawan nan gagah lagi tampan. 

“Tenanglah… Tak ada yang perlu dirisaukan… Hehe…” Lelaki dewasa muda keturunan bangsawan nan gagah lagi tampan terdengar santai namun sulit menyembunyikan kegelisahaannya. Walau penampilan dan suara yang keluar darinya berbeda, tiada diragu bahwa ia adalah Ginseng Perkasa.

“Aaarrghhh! Sekarang aku terbangun di tempat ini! Di TEMPAT ini! Apa yang ada di dalam batok kepala kalian!? HAH!?”

“Di mana ‘tempat’ ini!?” Bintang Tenggara, yang berperawakan lelaki dewasa muda bertubuh kurus akhirnya angkat suara. “Mengapa kita terbangun di tubuh orang-orang asing…?”

“Hm… soal itu…” Ginseng Perkasa hendak menguraikan. 

“APA!?” Komodo Nagaradja semakin berang. “Kau tak tahu tempat tujuan, tapi menempuh perjalanan!? Dan kau tak memberi tahu terlebih dahulu ketika dia mengambil keputusan…?” Ia menudingkan jemari kepada dua tokoh di hadapan secara bergantian. 

Bintang Tenggara dan Ginseng Perkasa menundukkan kepala. 

“Kalau kau benar-benar mau tahu, saat ini kita berada di Kemaharajaan Kuru! Di Ibukota Hastinapura! Puas!?” 

“Hastinapura…? Bukankah itu nama ibukota di dalam kitab kuno yang mengisahkan wiracarita ribuan tahun silam…?”

“Nah! Ada rupanya isi di dalam batok kepalamu!” 

“Bagaimana mungkin kita bisa berada di Hastinapura? Apakah Lancang Kuning menembus dimensi waktu dan ruang sehingga dan membawa kita kembali ke masa lalu di tempat yang jauh? Mengapa kita berada di tubuh orang-orang asing?” Pertanyaan keluar secara beruntun. Andai saja sebelumnya pemuda itu mengenyampingkan harga diri dan mengajukan pertanyaan kepada Balaputera Khandra, maka dirinya tak akan kebingungan seperti saat ini. 

“Kau yang jelaskan!” hardik Komodo Nagaradja. 

“Ehem… Jadi begini, Nak Bintang…” Ginseng Perkasa akhirnya memperoleh kesempatan memberikan penjelasan. “Lancang Kuning berlayar menuju suatu wilayah yang dinamai Anak Benua, yang mana terletak jauh di barat Negeri Dua Samudera. Sebagaimana diketahui, peradaban di tempat ini telah berumur puluhan ribu tahun. Puluhan ribu tahun lalu berdiri Kemaharajaan Kuru…”

“Akh lambat!” Komodo Nagaradja seperti biasanya tak terlalu senang berlama-lama. “Kita tak menembus waktu maupun ruang. Lancang Kuning membawa penumpangnya… Hm…? Mengapa kau dan aku berada di sini…?” Ia memandang kepada Ginseng Perkasa, sepertinya baru menyadari bahwa ada yang tak kena.

“Sepupunya yang bernama Balaputera Khandra memasang formasi segel yang menyamarkan keberadaan kita,” sahut Ginseng Perkasa sambil memanfaatkan kesempatan untuk melanjutkan. “Jadi, Lancang Kuning membawa kita ke Daratan Kuru di suatu dunia paralel, dengan kata lain bukan di dunia di mana kita berasal.”

“Tunggu…,” sela Bintang Tenggara. “Apakah kita sedang membicarakan Perang Kurukshetra dari Maha Kitab Mahabharata…?” 

“Perang mana lagi…?” cibir Komodo Nagaradja.

“Jadi, padang berkabut yang banyak tulang-belulang itu adalah tempat berlangsungnya Perang Kurukshetra? Perang antara Pandawa dan Kurawa…?”

“Ahli-ahli Kasta Perak yang tiba akan berupaya mencari tengkorak kepala tokoh terbaik untuk menempatkan jiwa mereka ke dalam tubuh tokoh tersebut. Demikian adalah cara dalam menjalani Perang Kurukshetra. Pengalaman yang didapat melalui perang tersebut merupakan kesempatan langka dalam menumbuhkan keahlian…”

“Sedangkan engkau, kalian berdua…” Komodo Nagaradja menyela, “malah menemukan tokoh paling lemah di antara para Kurawa!” Ia menunjuk kepada Ginseng Perkasa yang berada di dalam tubuh lelaki dewasa muda nan gagah lagi tampan bernama Wyudoru. “Lebih buruk dari itu, kalian menempatkan jiwaku sebagai pesuruhnya!” 

“Ehem… Kami dikejar waktu sehingga tak sempat mencari-cari…” Ginseng Perkasa terlihat salah tingkah. 

“Kita akan mati konyol pada hari pertama perang!” 

“Apa yang akan terjadi bila kita mati di dunia paralel ini…?” Bintang Tenggara kelihatan gelisah. 

“Jiwamu akan kembali ke tubuh asli yang saat ini tergeletak di geladak Lancang Kuning. Sebagai ganjaran kegagalan, engkau akan turun satu kasta. Keahlianmu akan kembali ke Kasta Perunggu!”

“Tapi, jikalau tak salah, bukankah seluruh Kurawa meregang nyawa…”

“Tok! Tok!” Tok!” tetiba ketukan terdengar dari arah pintu.

“Siapa!?” Sergah Komodo Nagaradja sebal. 

“Yang Mulia Pangeran Wyudoru, kereta kuda telah disiapkan. Kami menanti keberangkatan.”

“Mari, jangan sampai kita terlambat…,” ujar Ginseng Perkasa setenang mungkin. 

Di dalam kereta kuda yang membawa mereka, Komodo Nagaradja masih terlihat kesal karena jiwanya menumpang di dalam tubuh tokoh yang lemah. Ia mengetahui betul bahwa para ahli lain yang berlayar bersama Lancang Kuning sudah melakukan persiapan matang. Sebagian besar dari mereka pastinya mempelajari catatan ahli-ahli terdahulu tentang tempat dan ciri tengkorak paling baik. Dengan demikian, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih baik pula.

“Rupanya aku adalah pesuruh berjuluk Si Buntal, engkau Si Kumal dan dia… dia Kurawa Ke-100. Mulai hari ini pula kita wajib menyapa satu sama lain dengan nama-nama tersebut. Jangan sampai jati diri kita terbongkar oleh ‘penumpang’ lain,” tegas Komodo Nagaradja.

Bintang Tenggara alias Si Kumal mengangguk. 

“Berapa banyak ahli yang berlayar bersama Lancang Kuning kala itu…?” lanjut Si Buntal. 

“Sekira 100 ahli…” Si Kumal menjawab cepat. 

“Mereka semua akan berupaya membunuh kita!”

“Kemungkinan ahli-ahli dari Sanggar Sarana Sakti dan Pulau Belantara Pusat tak akan bertindak sedemikian…”

“Kau akan terkejut dengan perbuatan para ahli demi menyingkirkan para pesaing…”

“Bersaing untuk apa…?”

“Sesiapa yang dapat bertahan sampai akhir perang, maka dia akan dianugerahi senjata pusaka yang dikerahkan dalam Perang Kurukshetra. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa banyak ahli Kasta Perak berbondong-bondong hendak menumpang di Lancang Kuning!”


Catatan:

(1) Episode 380


Kehujanan. Pilek. Pendek. Telat.