Episode 407 - Wiracarita



Suasana malam yang gelap serta-merta menjadi terang dan riuh. Para ahli Kasta Perak yang sedianya berada di bantaran sudah berhamburan mengejar ke tengah sungai. Sementara mereka yang berada lebih jauh dari bantaran, tak hendak tertinggal. Kesemuanya memacu langkah sekuat tenaga dengan melancarkan jurus persilatan dan kesaktian masing-masing. 

“Lancang Kuning merupakan perahu perang yang akan membawa kita menyeberangi samudera menuju sebuah negeri tua nun jauh di arah barat…” Di tengah hiruk-pikuk semerata ahli, Guru Muda Khandra malah membuka ceritera. Tatap matanya tak lepas dari perahu perang yang terombang-ambing selaras dengan deburan ombak. 

“Yang Terhormat Guru Muda, kini bukan saat yang tepat untuk menyampaikan wiracarita,” sela Canting Emas. “Kita harus bergegas naik ke atas geladak Lancang Kuning.” Raut wajah gadis yang sangat senang bersaing itu terlihat cemas. Ia tak rela tertinggal di belakang.

Akan tetapi, Guru Muda Khandra mengabaikan saja. Sorot kedua matanya sedang menatap kepada Bintang Tenggara yang sesungguhnya tak acuh. Bagi pemuda itu, ada hal lain yang jauh lebih penting daripada melompat naik ke atas perahu hantu dan berlayar menuju negeri antah berantah. Keberadaan dirinya di tempat ini hanya demi memenuhi kesepakatan dengan Balaputera Khandra, di mana dirinya menantikan janji diberi tahu tempat tubuh gurunya berada. Terserah sajalah jikalau Balaputera Khandra hendak bernyanyi dan menari di atas bukit sekalipun. 

“Ribuan tahun silam, pada rentang waktu yang terlupakan baik oleh manusia maupun siluman, sebuah perang saudara berkecamuk di daratan Anak Benua,” lanjut Balaputera Khandra tenang. (1)

Perhatian Bintang Tenggara lebih tertarik pada nasib banyak ahli. Dari bantaran sungai, jarak menuju Lancang Kuning hanya sekira satu kilometer namun tak mudah untuk dicapai karena dihadang ombak raksasa yang terus bergulung. Seolah memiliki kehendak sendiri, Ombak Tujuh Hantu berupaya sepenuh hati menghalang niat para ahli Kasta Perak melompat naik ke atas Lancang Kuning. Gugusan ombak demi ombak bergulung deras demi melibas sesiapa saja yang hendak melintas.

Sejumlah ahli yang melesat di barisan depan, yang awalnya berkemah di bantaran sungai, digulung ombak tanpa ampun. Tubuh mereka hanyut dibawa arus kembali ke bantaran sungai. Mereka berupaya bangkit, namun para ahli tersebut hanya mampu melangkah tertatih. 

“Menyingkir! Dasar tak becus!” Sejumlah ahli yang sedang melesat di bantaran sungai melindas mereka yang hanyut tiada bertenaga. Jerit pilu terdengar tatkala tubuh-tubuh lemah terinjak-injak.

“Jangan sampai dilibas Ombak Tujuh Hantu!” teriak seorang pemuda yang memandu rombongannya melompat dari bantaran sungai. “Ombak itu memakan tenaga dalam!” 

Terdapat sebuah kenyataan pelik dari Ombak Tujuh Hantu, bahwasanya sesiapa saja yang digulung ombak raksasa tersebut maka isi mustika wadah tenaga dalam mereka akan habis dikuras. Inilah mengapa mereka yang hanyut di bantaran sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk mencoba mencapai Lancang Kuning. 

“Mundur! Mundur!” pekik ahli lain seketika sebelum ia bersama rekan-rekannya dilibas ombak dan dibawa arus kembali ke bantaran sungai. 

Semakin banyak korban yang berjatuhan diseret arus 

“Perang saudara itu dilatarbelakangi perebutan takhta…”

Tatkala Balaputera Khandra meneruskan kisahnya, tatapan mata Bintang Tenggara memantau kejadian di sudut jauh. Enam ahli terlihat mengeluarkan benda pusaka berbentuk sampan kecil yang mengapung di atas permukaan air sungai. Walau mirip dengan sampan kecil, tiada benda-benda pusaka tersebut memiliki bagian sisi di kiri dan kanan untuk mencegah masuknya air. Diperhatikan dengan lebih seksama lagi, maka benda yang dinaiki itu merupakan selembar daun tebal nan berukuran raksasa. (2)

Daun Selancar, batin Bintang Tenggara. Dirinya mengenal benda pusaka yang digunakan Laskar Segantang saat pertarungan tak imbang berlangsung di rawa-rawa di bawah Ibukota Rajyakarta. Kini, ia pun mengenal Citra Pitaloka dan Lampir Marapi yang berdiri menekuk lutut di atas benda pusaka tersebut. Gerakan mereka luwes seolah menari, dan bersama-sama dengan rombongan dari Sanggar Sarana Sakti mereka berselancar di atas permukaan Ombak Tujuh Hantu!

“Syahdan, Pangeran Dretarasta sebagai keturuan Maharaja Wicitrawirya tertua terpaksa menyerahkan takhta kemaharajaan kepada adik tirinya, Pangeran Pandu. Pangeran Dretarasta terlahir buta, oleh sebab itu dinilai tiada mampu mewarisi takhta meskipun merupakan putra sulung. Sungguh ketidakadilan.”

Bukan hanya Bintang Tenggara yang menyaksikan kepiawan murid-murid dari Sanggar Sarana Sakti. “Yang Terhormat Guru Muda, kita akan kehilangan tempat…” Kini, Panglima Segantang pun mulai resah mendengarkan Balaputera Khandra yang masih berceritera. 

Guru Muda Khandra menggelengkan kepala, dan tetap melanjutkan. “Maharaja Pandu wafat, dan Pangeran Dretarasta mengisi jabatan adiknya sebagai Maharaja sementara sampai kelak putra sulung Maharaja Pandu mencapai usia dewasa.”

Rombongan dari Sanggar Sarana Sakti sudah berada tepat di antara bantaran sungai dan Langcang Kuning. Setengah perjalanan mereka selancari tanpa kendala berarti. Di saat itu pula Bintang Tenggara mencermati kehadiran rombongan lain. Lebih tepatnya kemungkinan akan rombongan lain, karena apa yang terlihat hanyalah kabut ungu nan merayap pelan di permukaan ombak. Sepertinya, bahkan Ombak Tujuh Hantu tiada dapat menakar sesiapa yang berada di dalam kabut. 

Tak pelak lagi, di dalam kabut ungu tersebut melangkah santai para utusan dari Padepokan Kabut!

“Yang Terhormat Guru Muda…,” pinta Canting Emas pelan. Belum beranjak selangkahpun dari wilayah perbukitan membuat raut wajahnya semakin kusut. 

“Srash!” 

Tetiba, melesat keluar seperti lembing adalah bilah-bilah air dari Ombak Tujuh Hantu. Sasarannya adalah para ahli yang berupaya melangpaui jangkauan ombak dengan cara melayang atau terbang di langit tinggi. Ratusan jumlah mereka yang memanfaatkan benda pusaka yang kiranya mahal dan/atau langka untuk terbang. Sejumlah ahli tertembak jatuh, namun banyak yang cukup cekatan menghindar. Sepertinya mereka telah menduga dan berlatih giat sebagai persiapan menghadapi hari ini. Akan tetapi, tembakan lembing air seolah tanpa batas. Semakin banyak ahli yang berjatuhan lalu digulung ombak raksasa.

Enam ahli dari Sanggar Sarana Sakti meliuk tangkas pada permukaan ombak, berbeda dengan kabut ungu yang merayap perlahan. Kendatipun demikian, keduanya semakin mendekati Lancang Kuning.

Kedua bola mata Bintang Tenggara kemudian mencari-cari. Pada satu titik di bantaran sungai, ia menyaksikan seorang lelaki dewasa muda dengan aura terpelajar sedang merapal sesuatu. Lima muda-mudi berjubah gelap waspada mengelilinginya, yang mana mereka bertugas melindungi Lintang Tenggara dari para ahli yang melintas dan hendak merangsek ke sungai. 

Sebuah formasi segel rampung. Berwarna biru setengah kasat mata, ukurannya besar mirip sebuah tabung lonjong yang tergeletak di bantaran sungai. Keenam ahli tersebut kemudian melangkah masuk ke dalam tabung formasi segel. Lintang Tenggara terlihat melambaikan lengan, dan bersamaan dengan tindakan tersebut tabung lonjong formasi segel membawa rombongan tersebut menyelam ke dalam sungai! 

“Dalam kehidupan nan damai dan tenteram, lima putra Pandu dan seratus putra Dretarasta menetap bersama di istana kemaharajaan, di mana mereka dididik oleh guru yang sama pula, yakni Drona dan Krepa. Pun kesemuanya dibimbing oleh tokoh bijak bernama Bisma, kakek mereka.” 

Bintang Tenggara menatap tajam kepada Balaputera Khandra yang masih saja berceritera ketika ribuan ahli berjuang mencapai Lancang Kuning. Tatapan matanya kini mencerminkan ketidakpuasan. Setelah menyaksikan Lintang Tenggara bersama Kum Kecho dan dayang-dayangnya pergi, timbul perasaan semacam iri. 

“Akan tetapi!” tetiba Balaputera Khandra menyergah. Ia hanyut dalam kisah yang ia sampaikan sendiri. “Setelah Maharaja Dretarasta wafat, putra sulungnya berambisi untuk menguasai takhta!” 

Sebuah formasi segel, berwujud layaknya jembatan yang bersinar gemilang, merangkai dan membentang panjang dari bantaran sungai menuju geladak Lancang Kuning. Formasi segel tersebut dapat menembus gelombang raksasa, sungguh pemandangan yang menyilaukan mata. 

Di saat itu pula seorang pemuda melangkah garang di atas jembatan. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan cawat hitam berukuran mungil yang terbuat dari kulit buaya. Selain itu, hadir bersama dengannya formasi segel yang berwujud seekor naga. Ukurannya sebesar ular sawah besar yang bergerak meliuk-liuk mengitari tubuhnya. Sungguh garang dan buas adanya!

Di belakang pemuda itu, melangkah pula seorang pemudi bertubuh bongsor yang mengenakan pakaian dalam nan terbuat dari kulit harimau. Meskipun demikian, kulit tubuh yang seharusnya terpapar pandangan mata, malah dipenuhi dengan formasi segel yang berwujud sebagai baju zirah setengah kasat mata.

“Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga!” seru Bintang Tenggara mengenali kedua tokoh tersebut. Walau hanya berdua, rupanya turut hadir perwakilan dari Kadatuan Kedelapan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang di bantaran sungai. Agaknya selama ini kedua tokoh sengaja tak menampakkan diri. 

“Cepat! Naik ke jembatan itu!” seru seorang pemuda di bantaran sungai. Ia bersama kelompoknya sangat waspada terhadap Ombak Tujuh Hantu, sehingga memutuskan untuk menanti peluang terbaik. Dalam pandangan mereka, peluang tersebut berwujud jembatan formasi segel yang membentang panjang. 

Enam ahli melompat ke atas jembatan formasi segel yang disusun oleh Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga. Akan tetapi, sesaat mereka menjejakkan kaki pada permukaan jembatan, lengan besar Balaputera Saratungga menyapu dengan perkasa! Enam ahli tersebut terpelanting jatuh, dan serta-merta dilahap oleh ombak raksasa nan bergulung. 

Bukan hanya mereka yang berpandangan untuk menumpang di atas jembatan. Sejumlah ahli yang sudah menempuh setengah perjalanan pun melompat di depan. Balaputera Naga menjulurkan lengan, dan formasi segel nan berwujud ular naga melesat cepat. Sekira sepuluh ahli terpental dilabrak formasi segel yang seolah bernyawa itu. 

Tak ada lagi ahli yang berani menjejakkan kaki di atas jembatan formasi segel. 


“Yang Terhormat Guru Muda,” seru Canting Emas. “Para perwakilan dari Sanggar Sarana sakti sudah mencapai geladak perahu!” 

“Perwakilan-perwakilan dari kerajaan dan perguruan besar lain pun sudah ada yang sampai di atas geladak!” sambung Panglima Segantang. 

Keduanya menyadari bahwa semakin lama menunggu, maka semakin sedikit tempat yang tersisa dan semakin sempit waktu yang tersedia. Lancang Kuning tak dapat menampung terlalu banyak ahli serta tak akan pula berlabuh lama. 

Sudut mata Bintang Tenggara lantas menangkap keberadaan Lintang Tenggara bersama Kum Kecho dan dayang-dayangnya. Mereka melompat naik ke atas geladak Lancang Kuning. Atas peristiwa tersebut, Bintang Tenggara kini melotot kepada Balaputera Khandra. Keinginannya hendak mencapai Lancang Kuning lebih didasari alasan tak rela tertinggal dari tokoh-tokoh yang ia kenali, apalagi ada Lintang Tenggara di antara mereka!

Tatap mata Bintang Tenggara hanya dijawab dengan lirikan belaka. “Pertikaian yang awalnya terjadi antar garis keturunan dalam satu kemaharajaan besar, kemudian merebak semakin luas sampai melibatkan berbagai kerajaan di daratan Anak Benua…”

“Hei!” sergah Bintang Tenggara. Berbeda dengan Canting Emas atau Panglima Segantang yang senantiasa berlaku sopan terhadap tokoh tersebut, Bintang Tenggara tak memiliki rasa hormat yang sama. 

Balaputera Khandra mengamati perahu perang nan terombang-ambing di tengah sungai. Menghela napas panjang, ia memutuskan untuk tak melanjutkan dongeng. Lelaki dewasa muda itu membuka telapak tangan, lalu menempelkannya pada permukaan tanah. “Merapat, mari merapat!” ujarnya cepat. 

Bintang Tenggara, Panglima Segantang, Canting Emas, Aji Pamungkas serta Kuau Kakimerah mengelilingi Balaputera Khandra. Adegan berikutnya, sebuah formasi segel berpendar pada permukaan tanah. Beberapa dari simbol yang dirapal tiada dikenal, demikian pula dengan susunannya. Akan tetapi, Bintang Tenggara pernah menyaksikan formasi segel nan serupa… (3) 

“Plop!”

Enam ahli tetiba terperosok jatuh ke dalam formasi segel pada permukaan tanah. Di saat yang bersamaan, sebuah formasi segel dengan simbol dan susunan yang serupa, berpendar tinggi di atas Lancang Kuning. Dari dalamnya, enam ahli keluar dan serta-merta mendarat tepat di atas geladak perahu perang! 

Segenap ahli, baik itu rombongan Balaputera Khandra sendiri maupun mereka yang sudah berada di atas geladak Lancang Kuning, terkesima tanpa terkecuali. Bagaimana tidak, bagi seorang ahli Kasta Perak Tingkat 9 merapal formasi segel lorong dimensi ruang tanpa bantuan prasasti batu atau benda pusaka, merupakan sesuatu yang mustahil. Bola mata Canting Emas berpendar terang, bahkan Lintang Tenggara yang banyak mengetahui dibuat mendecak lidah atas unjuk kebolehan Balaputera Khandra. 

Bintang Tenggara mengangkat dagu ketika tatapan puluhan pasang mata tertuju ke arah mereka. Akan tetapi, tetiba pemuda itu merasakan keanehan pada tubuhnya… 

“DUAK!” 

Tetiba, sesuatu yang berada di luar dugaan terjadi. Hanya beberapa saat setelah mendarat, tubuh Bintang Tenggara terlontar keluar dari atas geladak perahu perang! Sementara itu, gelombang raksasa Ombak Tujuh Hantu telah siap untuk menggulung!

Dalam keadaan terjepit, Bintang Tenggara mendapati seorang lelaki dewasa muda yang baru hendak melompat ke atas geladak Lancang Kuning. Sontak ia menendang tubuhnya untuk menyelamatkan diri. Tokoh nan malang terdorong akibat tendangan dan langsung tenggelam di lahap ombak, sementara Bintang Tenggara memperoleh pijakan untuk melompat kembali ke atas geladak. 

Raut wajah Guru Muda Khandra tampil tenang tatkala ia menyapu pandang kepada setiap tokoh yang berada di atas geladak. Akan tetapi, tak ada satu pun ahli yang menunjukkan gelagat mencurigakan. 

“Duak!” 

Tubuh Bintang Tenggara kembali terlontar dari atas geladak, namun sebentuk formasi segel telah menyambut. Berkat pijakan yang dibuat, dapat pemuda tersebut kembali melompat ke atas geladak perahu. Adalah Balaputera Khandra yang membantu. 

Keempat rekan menyambut kedatangannya kembali. Bahkan para utusan dari Sanggar Sarana Sakti dan Pulau Belantara Pusat melangkah mendekat. Mereka ikut khawatir. 

Secara sepihak, Panglima Segantang memutuskan untuk memeluk erat-erat tubuh sahabatnya. Keadaan tersebut merupakan sebuah aib bagi Bintang Tenggara, dan terlintas di benaknya untuk menyerahkan diri kepada gulungan Ombak Tujuh Hantu!

“Duak!” 

Betapapun eratnya dekapan Panglima Segantang, tubuh Bintang Tenggara terlepas kemudian terlontar. Di saat yang bersamaan, layar-layar besar berwarna kuning terkembang dan mulai menampung angin. Lancang Kuning, perahu perang tak berawak dan tanpa nakhoda, mulai bergerak. 

Balaputera Khandra mulai kebingungan, namun tetap tampil tenang memberi bantuan. Benaknya berputar keras. Ia mengetahui bahwa hanya ahli Kasta Perak yang diperkenankan menumpang Lancang Kuning, dan Bintang Tenggara berada pada Kasta Perak Tingkat 4. Jadi, siapa kiranya yang sengaja melontarkan tubuh pemuda tersebut…?

“Duak!” 

Untuk kesekian kalinya, tubuh Bintang Tenggara terlontar keluar. Dan untuk kesekian kalinya pula, Balaputera Khandra membantu dengan menyediakan pijakan.

“Barangkali si bodoh dan ceroboh itu membawa sesuatu yang memiliki mustika tenaga dalam di atas Kasta Perak…” Terdengar suara bernada mengejek dari balik kerumunan, dan para ahli baca pastilah mengenal dari mana asalnya. 

Balaputera Khandra melontar pandang kepada Bintang Tenggara yang sedang berdiri di atas formasi segel di sisi perahu. “Benarkah itu!? Cepat tinggalkan!”

Tinggalkan…? Bintang Tenggara membatin. Mana mungkin dirinya melepaskan mustika retak Komodo Nagaradja dan mustika binatang siluman Kasta Emas yang menampung jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa. Selain tak mengetahui caranya, maka membuang kedua tokoh tersebut merupakan tindakan yang mustahil. Lebih baik tak ikut saja!

“Cih!” Balaputera Khandra mendecak lidah karena mengetahui bahwa saudara sepupunya itu keras kepada. Ia lantas menggerakkan jemari, menggambar simbol nan unik dan membangun susunan yang rumit. Dengan gerakan mendorong, ia pasangkan formasi segel tersebut untuk membungkus tubuh Bintang Tenggara. 

Dari balik kerumunan, Lintang Tenggara mengintip dengan sorot mata berbinar. Ia mengenal formasi segel yang dirapal Balaputera Khandra. Susunannya kerap digunakan oleh para ahli dari Kadatuan Kesembilan untuk menyegel mustika sendiri, sementara di antara simbol-simbolnya ada yang senada dengan formasi segel yang menyegel mustika tenaga dalam agar tak beranjak tingkatan. Tak pelak lagi, sebagai murid Balaputera Ragrawira, Balaputera Khandra dapat membantu mengurai formasi segel yang ‘dihadiahi’ oleh sang ayahanda.

Sedetik setelah Bintang Tenggara kembali menjejak di atas geladak Lancang Kuning, perahu perang tersebut melesat dengan kecepatan dahsyat!


Catatan:

Anak Benua: India. Secara geologis, sebagian besar daerah ini dianggap sebagai anak benua karena mempunyai lempeng tektonik sendiri yaitu Lempeng India, yang terpisah dari Lempeng Eurasia.

(2) Episode 197

(3) Episode 341