Episode 404 - Bantaran Sungai



“Jangan sampai hilang lagi…,” gerutu seorang gadis dari arah depan. “Itu adalah pusaka keluarga, dan aku bertanggung jawab penuh karena meminjamkannya.”

Bintang Tenggara mengangguk sembari tersenyum kecut tatkala menyematkan cincin Gundala Si Putra Petir kembali ke ibu jari. Berkat benda pusaka tersebut, dirinya dapat menjalani berbagai halang-rintang dunia keahlian sampai sejauh ini, tak terbilang jumlah keempatan menyelamatkan diri karena dukungan kecepatan unsur kesaktian petir dalam melarikan diri. 

“Sahabatku yang berbahagia, sungguh diriku telah mendengar tentang sepak terjang dikau… Menjadi Sang Yuvaraja di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, terbaik dalam Ajang Pertukaran Murid di Perguruan Budi Daya. Tentunya masik banyak pencapaian lain… Ceriterakanlah kepada kami…” Binar bola mata Panglima Segantang cemerlang tatkala menatap kepada sahabatnya. 

“Hmph… Apa gunanya kisah petualangan tanpa hasrat membara…?” sela Aji Pamungkas yang melangkah seorang diri di belakang. “Katakan gadis mana yang kau cumbu bibirnya, yang kau elus lehernya, lalu kau kupas pakaiannya…? Ceriterakan sekarang!” 

“Tak ada kisah seperti itu! Itu hanya khayalan mesum dari otak kotormu!” Canting Emas terlihat gerah. “Benar ‘kan!?” Kini, gadis tersebut melotot kepada tokoh yang menjadi pusat pembicaraan. 

Bintang Tenggara tergagap. Bola matanya spontan melirik ragu kepada gadis yang masih bertubuh mungil dan sedang melangkah tanpa banyak bicara di sisi Canting Emas. Ditugaskan sebagai dayang-dayang, apakah gadis itu mengetahui kisah suatu malam di Kerajaan Siluman Lebah Ledang bersama dengan Ibunda Ratu Lebah…? Tidak. Tak mungkin Kuau Kakimerah dapat mengetahui! 

“Suatu malam…” Kuau Kakimerah tetiba membuka mulut, “di Kerajaan Siluman Lebah Ledang…”

“Tak ada yang terjadi pada suatu malam di Kerajaan Siluman Lebah Ledang!” sergah Bintang Tenggara panik. 

“Hah! Benar perkiraanku! Kau melakukan sesuatu! Katakan! Katakan dengan siapa! Sekarang juga!” Aji Pamungkas berteriak kesetanan. 

“Ibunda Ratu Lebah mengatakan…,” lanjut Kuau Kakimerah polos.

Aji Pamungkas terdiam sejenak ketika benaknya mengunduh kepingan-kepingan khayal yang bertebaran di udara. “Ibunda Ratu…? Hah! Kau memadu asmara dengan nenek-nenek!? Gila!” 

“Tak ada yang memadu asmara!” Raut wajah Bintang Tenggara memerah padam. Pembicaraan yang kini berlangsung mengingatkan pada kejadian pada malam hari itu, memalukan sangat sampai membuat lemah semangat. 

“Apa rasanya!? Gaya apa yang kau kerahkan!? Bagaimana menghadapi lawan ranjang yang jauh lebih berpengalaman!?”

Pertanyaan datang bertubi, membuat Bintang Tenggara tiada dapat berkutik.

“Apa yang Ibunda Ratu Lebah katakan…?” Canting Emas mengabaikan Aji Pamungkas, dan mulai mengorek informasi yang lebih mustakim dari Kuau Kakimerah. Sepertinya kedua gadis tersebut sempat bertukar cerita antara satu sama lain, namun kisah Bintang Tenggara dan Ibunda Ratu Lebah agaknya terlewatkan. 

Di lain sisi, Bintang Tenggara tiada mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan Kuau Kakimerah tentang malam sejuta malu itu. Ia tak hendak menduga-duga, apalagi mengambil risiko. Tak kuasa menghentikan upaya Canting Emas, pandangan matanya beralih kepada Balaputera Khandra yang melangkah paling depan, dan saat ini sedang memutar tubuh karena mendengar keributan yang sedang berkecamuk. Ketika tatapan mata mereka bertemu, dahi Bintang Tenggara berkedut dan kedua alisnya menyatu. Pemuda itu memohon bantuan… 

“Hm… Kalian berlima berada pada Kasta Perak Tingkat 3…” Tetiba Guru Muda Khandra berujar. “Sebelum sampai di tujuan, ada baiknya kalian menerobos ke Kasta Perak Tingkat 4.”

Jalinan kata-kata yang sederhana tersebut sontak membuat semangat Panglima Segantang berkobar dan perhatian Canting Emas teralihkan. Bagi keduanya, tak ada yang lebih penting dalam meningkatkan keahlian dan di mata mereka Guru Muda Khandra merupakan tokoh yang arif dan bijak, yang sudah sepantasnya menyandang jabatan Guru. Di bawah panduan tokoh nan sedemikian bermartabat, maka naik peringkat merupakan sebuah kesempatan nan langka dan jangan sampai terlewatkan. 

Di lain pihak, Bintang Tenggara baru saja naik ke Kasta Perak Tingkat 3 tatkala berada di Lapas Gleger. Puan Sari yang membantu dirinya, sebagai upaya menjalin hubungan dengan benalu yang menempel pada mustika di ulu hati. Terlepas dari itu, Bintang Tenggara kini dapat bernapas lega. 

Guru Muda Khandra melanjutkan, “Di ibukota Kerajaan Indera Giri, Pekan Tua, berdiri Perguruan Riuh. Kebetulan perguruan tersebut memiliki hubungan baik dengan Perguruan Gunung Agung. Kita akan singgah sejenak di sana.”

Perjalanan berlangsung selama sehari penuh dan pembahasan seputar ‘suatu malam di Kerajaan Siluman Lebah Ledang’ pun teralihkan sudah. Kendatipun demikian, Bintang Tenggara sepenuhnya menyadari bahwa bantuan yang diberikan Balaputera Khandra berarti utang yang akan ditagihkan di lain hari. Utang ibarat pisau bermata ganda, ia dapat membantu mengatasi masalah namun dapat pula mencelakai diri sendiri. Dalam kaitan ini, Bintang Tenggara sudah mempersiakan mental bila tiba saatnya utang tersebut harus dipertanggungjawabkan.


“Kami dari Perguruan Gunung Agung, berniat untuk singgah sejenak di Perguruan Riuh, sebelum melanjutkan perjalanan,” ucap Balaputera Khandra sembari menunjukkan lencana emas Perguruan Gunung Agung miliknya. 

“Dengan siapakah gerangan kami berhadapan…?” tanggap seorang penjaga gerbang Perguruan Riuh memberi hormat. 

“Guru Muda Khandra datang bersama dengan lima Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung.”

“Oh!?” Para penjaga gerbang sejenak terkesima. 

“Tunggu… tunggu sejenak.” Salah satu dari mereka penjaga gerbang segera melesat masuk ke dalam wilayah perguruan. 

Tak lama, penjaga gerbang tersebut kembali bersama dengan seorang lelaki dewasa. Penampilannya sangat bersahaja, namun pembawaannya demikian berwibawa. Postur Tubuh tinggi dan sebentuk kumis tipis menempel di atas bibirnya. 

“Guru Muda Khandra!” sapa lelaki dewasa itu sembari mempersilakan masuk. “Sudah lama tiada bersua!” 

Guru Muda Khandra membunggkukkan tubuh. “Sungguh sebuah kehormatan Yang Terhormat Pimpinan Perguruan Riuh bersusah-payah menyambut kedatangan kami…” 

Usai pertukaran sanjungan, Bintang Tenggara bersama rekan-rekannya mengekor kedua tokoh masuk ke dalam wilayah Perguruan Riuh. Di dalam benak, pemuda itu sungguh mempertanyakan. Sebagaimana diketahui, Balaputera Khandra merupakan seorang Guru Muda namun mendapat penghormatan yang demikian tinggi dari tokoh sekelas Pimpinan Perguruan. Jikalau dilihat dari luas wilayah, prasarana, dan jumlah murid-muridnya, maka Perguruan Riuh tak jauh berbeda dengan Perguruan Svarnadwipa di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Kalian beristirahat terlebih dahulu… Ada yang hendak diriku bahas bersama Yang Terhormat Pimpinan Perguruan.”

Seorang murid dari Perguruan Riuh kemudian mempersilakan Bintang Tenggara dan rekan-rekannya. Sebagai pemandu, murid tersebut memandu mereka menuju penginapan perguruan. Bintang Tenggara mengurung diri, karena khawatir akan pembahasan suatu malam di Kerajaan Siluman Lebah Ledang kembali diungkit. Ia bahkan menolak keras ajakan Panglima Segantang untuk berlatih tarung bersama. 

Hari jelang malam ketika Guru Muda Khandra datang menyambangi. Ia lantas mengarahkan kelima Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung ke dalam sebuah aula.

“Swush!” 

Balaputera Khandra menarikan jemari dan formasi segel dengan berbagai simbol dalam susunan yang rumit merangkai cepat di hadapannya. Ia lantas melambaikan tangan, dan formasi segel tersebut melesat ke arah ulu hati Canting Emas. Sang Guru Muda mengulangi tindakan yang sama berkali-kali, sampai setiap satu dari murid yang ikut bersamanya mendapat formasi segel di ulu hati.

“Dengan ini, kalian dapat naik ke Kasta Perak Tingkat 3 tanpa perlu khawatir memecahkan mustika penampungan tenaga dalam. Formasi segel itu akan menjaga agar tenaga dalam tiada bergejolak.”  

“Benarkah!?” Canting Emas terlihat seolah tak percaya. Ia mengamati formasi segel yang berpendar di ulu hati. Ia mengetahui betul bahwa menerobos peringkat mengandung risiko yang teramat besar. 

Lazimnya, ahli Kasta Emas yang berperan mendampingi ahli Kasta Perak untuk naik peringkat mengerahkan jalinan mata hati demi membantu agar tenaga dalam tidak meledak saat mustika lama dipecahkan dan selama mustika baru dirangkai. Proses tersebut berlangsung satu per satu, bahkan dalam keadaan tertentu dua ahli Kasta Emas diperlukan untuk mendampingi. Oleh karena itu, sungguh di luar nalar bagi Balaputera Khandra yang masih berada pada Kasta Perak Tingkat 9 untuk melampaui kemampuan ahli Kasta Emas!

Bintang Tenggara hanya diam. Ia tak pernah percaya bahwa Balaputera Khandra hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 9. Patut diakui bahwa keluarga besarnya, para ahli dari Kadatuan Kesembilan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, memiliki kebiasaan unik untuk menyegel mustika tenaga dalam sendiri. Ayahanda Sulung Rudra melakukannya, pun Ibunda Tengah Samara. Atas dasar pertimbangan tertentu, mustika tenaga dalam Balaputera Lintara malah disegel paksa. Jadi, dalam pandangan Bintang Tenggara, Balaputera Lintara dipastikan tidak berada pada Kasta Perak Tingkat 9!

“Hmph!” Panglima Segantang yang kelihatan seperti berandalan telah duduk bersila sembari menghentakkan tenaga dalam. Tanpa syak wasangka barang setitik pun, ia memulai. 

Canting Emas mengikuti, lalu Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah. 

Guru Muda Khandra melangkah pelan meninggalkan aula. Akan tetapi, Bintang Tenggara menyusulnya ke luar. 

“Aku tak memerlukan formasi segel ini!” seru Bintang Tenggara yang tak mau terlalu banyak berutang kepada tokoh licik saudara sepupunya. 

“Oh… benar.” Balaputera Khandra berlagak seolah baru menyadari sesuatu. Ia kembali menarikan jemari, di mana formasi segel yang merangkai di ulu hati Bintang Tenggara tidak menghilang, namun berubah susunan. 

“Aku tak memerlukan bantuan!” tegas Bintang Tenggara. 

“Kau memang tak memerlukan bantuan. Tapi andai kata tumbuhan siluman yang menempel di mustika berulah saat naik peringkat, maka berakhir sudah riwayatmu…”

Bintang Tenggara menggeram. Ia menyadari betul bahwa kata-kata Balaputera Khandra seratus persen benar, dan yang paling mengenaskan adalah kenyataan bahwa tokoh tersebut mengetahui akan keberadaan Akar Bahar Laksamana. Andai dunia keahlian mengetahui keberadaan tumbuhan siluman nan tersohor itu, bukan tak mungkin dirinya akan diburu oleh segenap ahli di Negeri Dua Samudera. 

“Kau adalah murid dari ayahandaku!” sergah Bintang Tenggara demi menegaskan bahwa dirinya juga mengetahui rahasia di balik jati diri Balaputera Khandra. 

“Lantas…? Kau hendak mengumbar pengetahuan itu…? Haha…” Balaputera Khandra melangkah pergi sembari tergelak. Hatinya riang selayaknya baru saja mendengar sebuah lelucon yang menggelikan.


Canting Emas berhasil merangkai mustika tenaga dalam baru dan naik peringkat dalam dua hari, disusul Panglima Segantang dalam tiga hari, serta Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah dalam empat hari. Satu pekan waktu berlalu, namun Bintang Tenggara belum rampung merangkai mustika dalam nan baru. 

“Apa itu aura kehijauan yang membungkus tubuhnya…?” ujar Canting Emas mengamati. 

Bintang Tenggara sedang duduk bersila dan memusatkan pikiran. Upaya merangkai mustika tenaga dalam baru berlangsung sangat lambat karena Akar Bahar Laksamana terus menggeliat. Tak diragukan bahwa tumbuhan siluman tersebut berniat melakukan pembalasan dendam atas perlakuan Bintang Tenggara terhadap dirinya. Jikalau saja Balaputera Khandra tak membatasi gerak benalu itu menggunakan formasi segel, maka Bintang Tenggara sudah menghentikan upaya naik peringkat sedari awal. 

“Aura itu adalah akibat sesuatu yang mengalir di dalam darahnya…,” kilah Balaputera Khandra santai. “Sekira tiga hari lagi baru ia akan rampung merangkai mustika baru.” 

Perkiraan Guru Muda Khandra terbukti jitu. Bintang Tenggara naik ke Kasta Perak Tingkat 4 dalam kurun waktu sepuluh hari. Selanjutnya, rombongan Guru Muda dan lima murid Perguruan Gunung Agung, dengan catatan bahwa Panglima Segantang juga terdaftar sebagai murid di Istana Danau Api, melanjutkan perjalanan. 

Hanya dalam beberapa jam saja, rombongan kemudian tiba di bantaran aliran sungai nan membentang panjang. Bukan Sungai Kepetangan Hari, namun sungai yang sedikit lebih kecil ukuran lebarnya. Anehnya, di bantaran sungai, berdiri sudah ratusan kemah tempat berteduh. Selain itu, tak kurang dari seribu ahli berdiri berjajar yang mana setiap satunya memandang jauh ke arah sungai. Kesemuanya menanti.