Episode 101 - Hari yang Gila


Pengalaman yang Danny rasakan hari ini dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu 'gila'.

Pada pagi harinya, Danny seperti biasa berangkat sekolah dan mengikuti pelajaran di kelas, ketika waktu istirahat datang dia dengan semangat mengeluarkan majalah tentang senjata dan membacanya dengan penuh konsentrasi dan senyum yang lebar, membuat dia terlihat seperti seorang maniak sejati.

Di akhir sekolah, ketika bel tanda pulang berbunyi, seorang gadis dari kelas lain langsung masuk dan mendekati Danny.

Semua mata teman-teman Danny tertuju pada gadis tersebut, wajar saja, dengan kemolekan tubuh dan parasnya yang rupawan, tidak mungkin tidak menarik perhatian orang lain, terutama pria.

Dia adalah Angel, yah, walaupun namanya tidak terlalu cocok untuk penampilannya yang seksi seperti iblis succubus.

Tanpa memedulikan tatapan yang melekat padanya, Angel menarik paksa Danny keluar dari kelasnya. 

"Tunggu, tunggu, tunggu!" Ucap Danny.

"Apa? Jangan harap kau bisa lari dariku." Balas Angel seraya menatap tajam Danny.

"Tidak, aku tidak akan melarikan diri, tapi..." ucap Danny ragu.

"Tapi apa?" tanya Angel tajam.

"Aku bisa pergi sendiri, jadi kau tidak perlu menarikku seperti ini."

Dan itu juga sangat memalukan melihat orang-orang melihatnya dalam keadaan seperti ini, pikir Danny.

Angel menaikan alisnya dan berkata. "Kau pikir aku akan percaya, aku yakin kau mau kabur lagi."

Di pertandingan sebelumnya, Danny tidak datang karena saat itu dia bertarung di dalam dunia jiwa Alice dan menyelamatkan. Namun, Angel menyangka Danny kabur dari pertandingan, jadi hari ini, hari di mana pertandingan ketiga Danny diadakan, dia tidak mau membiarkannya pergi.

"Tidak, aku tidak akan kabur, aku hanya mau pulang ke rumah dulu, pertandingannya juga masih lama, kan." Ucap Danny setelah mendapatkan ide untuk melarikan diri dari situasi ini.

"Kalau begitu aku juga ikut." Balas Angel tegas.

"Tapi..."

"Aku ikut!" Ucapnya lagi.

"Ta-" 

"IKUT!" Angel dengan keras berkata.

Dan begitulah, kini Angel duduk di ruang tamu rumah Danny. 

"Tunggu dulu, aku mau ganti baju." Ucap Danny dengan wajah bermasalah.

"Oke." Balas Angel singkat.

Danny berjalan menuju kamarnya dengan gontai. Setelah mengganti pakaiannya, dia segera menuju ruang tamu untuk menemui Angel.

"Kalau begitu, ayo kita langsung saja-"

"Santai, ayo kita ngobrol dulu." Balas Angel yang duduk dengan santai, seperti di rumah sendiri.

"Tapi-"

"Hari ini pertandinganmu adalah yang terakhir, jadi tenang saja. Oh iya, kenapa kau tidak menyediakan minuman untukku, apakah kau tidak perlu diajari bagaimana caranya menerima tamu?" protes Angel dengan tatapan tajam, meskipun begitu tidak melunturkan kecantikannya.

"Hah?"

"Apa!?"  Angel menatap tajam Danny.

"Ba-baiklah, tunggu sebentar." Balas Danny lemah.

Danny pergi ke dapur dengan langkah lemas. Dia membuka kulkas dan mengeluarkan air dingin lalu menuangkannya ke dalam gelas kemudian berjalan ke ruang tamu lagi.

"Sebenarnya apa mau gadis itu sih?" tanya Danny pada Dan di dalam pikirannya.

"Entahlah." Balas Dan pendek.

"Ngomong-ngomong, hei, orang yang dia kenal adalah kau, bukan aku, jadi kau ambil alih mulai sekarang." Protes Danny.

"Tidak, itu merepotkan." Balas Dan.

"Apa maksudmu dengan tidak, cepat kita beralih, sekarang!" ucap Danny tegas.

"Huh, baiklah, baiklah." Ucap Dan terpaksa.

Dengan begitu, kini Dan lah yang mengendalikan tubuh Danny. Dan berjalan sembari membawa gelas yang berisi air dingin menuju ruang tamu. Sesampainya di sana, dia meletakkan gelas tersebut di atas meja dan duduk di kursi yang kosong.

"Hah? Kenapa hanya air putih? Apa kau tidak punya sirup atau apa gitu?" protes Angel dengan nada tidak senang.

"Tidak." Balas Dan singkat.

Angel memicingkan matanya pada Dan lalu mengambil gelas di atas meja dan meminumnya tanpa protes lagi. Air putih dingin membasahi tenggorokannya yang kering, membuatnya segar kembali.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi senang melihatmu kembali seperti biasa lagi." Ucap Angel dengan senyum misterius di wajahnya.

Kembali seperti biasa, tidak, tidak, tidak, kita memang dua jiwa yang berbeda, protes  Danny dalam hati.

"Apa maksudmu?"  tanya Dan atas pernyataan Angel barusan.

"Apakah kau tidak sadar, kau yang sekarang dan tadi sangat berbeda, seperti langit dan bumi. Apakah kau punya kepribadian ganda atau semacamnya?" selidik Angel.

"Mungkin." Balas Dan sembari mengangkat bahu.

"Yah, terserahlah, tapi sangat merepotkan ketika kau berubah menjadi seperti tadi, aku lebih suka kau yang sekarang." Ucap Angel seraya tersenyum tipis.

Tidak, tunggu, tunggu, tunggu. Aku tidak mempermasalahkan kau membenci aku atau tidak, tapi kau suka orang yang cuek dan dingin padamu, seleramu sangat aneh, apakah kau masokis atau semacamnya? Pikir Danny.

"Baiklah, ayo kita pergi, akan memakan waktu cukup lama untuk mendandanimu." Ucap Angel seraya bangkit dari kursinya.

Dan begitulah, kini Dan bersama Angel berjalan bersama ke rumah Angel. Setibanya di sana, Dan diseret menuju kamarnya tanpa perlawanan, mereka berdua tidak memedulikan pandangan orang-orang yang melihatnya dengan iri dan penasaran.

Di dalam kamar Angel, dia segera mengambil sebuah kotak make up dan membukanya. Dengan lihai jari-jari kecilnya yang menggoda memainkan peralatan make up dengan cekatan.

"Arhhhhhhhh! Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jadi begini?" teriak Danny di dalam pikirannya.

"Bukannya sudah aku katakan sebelumnya, ini agar tidak ketahuan oleh Ibumu." Balas Dan santai.

"Tidak, tidak, tidak, aku ingat kau pernah mengatakannya sebelumnya, tapi coba dipikir-pikir lagi, bukannya bisa menyamar sebagai laki-laki saja, kenapa harus menyamar sebagai perempuan?" 

"Hmm, benar juga." Balas Dan singkat.

Dan mengalihkan pandangannya ke depan, di depannya terdapat Angel yang sedang tersenyum seraya merapikan wig di atas kepalanya. Karena posisi Dan sedang duduk, jadi Angel harus sedikit membungkuk dan karenanya dari kaos di pakainya terlihat sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Meskipun begitu, Dan yang memiliki fetish aneh terhadap pantat mengabaikannya dan bertanya, "Hei, bukannya bisa menyamar sebagai laki-laki saja, kenapa harus menyamar sebagai perempuan?"

"Hihihihihi," Angel tertawa dengan cara yang sedikit menyeramkan, "seperti ini lebih baik."

"Hmm, maksudmu?" tanya Dan lagi.

"Tidak akan menyenangkan mendandanimu sebagai laki-laki, seperti ini lebih menarik." Jawab Angel.

Ugh, perempuan ini sangat berbahaya, pikir Danny.

Setelah setengah jam di dandani, orang yang berada di depan cermin bukan lagi Dan atau Danny, tapi Dina.

Sial, aku bahkan tidak bisa menyadari kalau yang di depan cermin itu adalah aku, pikir Danny setelah melihat hasilnya.

"Baiklah, ayo kita berangkat." Ucap Angel dengan penuh semangat.

Dan begitulah, mereka berdua pergi ke gedung martial art, atau yang biasa di singkat dengan gedung MA. Mereke berdua berpisah, Angel pergi ke bangku penonton sedangkan Dan melanjutkan ke ruang tunggu.

Di dalam sana, seorang pria menatap tajam pada Dan dengan rasa permusuhan yang sangat kental.

"Hei, Dan, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan, orang itu sepertinya sangat membencimu?" tanya Danny.

Pria itu adalah Tomas.

"Entahlah, aku saja tidak mengenal. Oh iya, bagaimana kalau kau yang bertarung kali ini." tawar Dan.

"Tidak, tidak, tidak, lebih baik kau saja." Tolak Danny.

"Kau yakin, bukannya kau sangat menyukai bela diri, maka inilah kesempatanmu untuk bertarung melawan orang yang berasal dari dunia bela diri." 

"Ugh, kau benar, baiklah, tapi jika situasi berbahaya, kau segera ambil alih." Ucap Danny setengah yakin.

"Oke." Balas Dan singkat.

Dan begitulah, kini Danny berjalan melewati lorong, setelah melewati pintu dia segera melihat ratusan orang di kursi penonton yang dengan antusias menunggu pertarungan para atlet bela diri.

Sorakan dan teriakan itu begitu nyaring dan membawa semangat yang misterius, membuat darah Danny mengalir lebih cepat. Degup di dadanya jelas menggambarkan semangatnya.

Jadi seperti ini rasanya, pikir Danny seraya melihat dengan takjub pemandangan di depannya.

Danny berjalan menuju arena dan bersiap menghadapi orang yang akan menjadi lawannya. Tidak lama kemudian, orang tersebut datang, dia adalah pria tinggi dan kurus.

Setelah wasit mengumumkan bahwa pertandingan dimulai, sorakan keras mengalir dari para penonton. 

Pria kurus yang menjadi lawan Danny langsung memperpendek jarak antara mereka lalu setelah mendapatkan jarak yang cukup, dia segera melemparkan kakinya seperti sebuah cambuk menuju wajah Danny.

Dengan terburu-buru Danny mundur ke belakang untuk menghindari serangan tersebut. Angin hasil serangan itu bisa Danny rasakan setelah kaki pria kurus itu melewati tepat di depan wajahnya.

Ugh, hampir saja, pikir Danny.

Namun, itu belum selesai, pria kurus itu berputar dan sekali lagi melemparkan kakinya seperti cambuk, tapi serangan ini lebih cepat dari sebelumnya.

Tidak sempat menghindar, Danny mencoba untuk menghalau menggunakan tangannya.

Bam.

Bentrokan keras antara kaki dan tangan tercipta. Tangan Danny mati rasa. Namun, pria itu tidak berhenti, dia menarik kakinya lalu melemparkannya lagi seperti sebuah cambuk rendah menuju pinggang Danny.

"Dan!" teriak Danny dalam pikirannya. Karena atmosfir dari penonton, gerakan dan pikiran Danny seperti kaku dan tidak bisa mengikuti jalannya pertarungan.

Dalam sekejap Danny bertukar tempat dengan Dan. Melihat serangan datang, Dan dengan cekatan melompat tinggi untuk menghindarinya, setelah menginjakkan kakinya di lantai Dan langsung mundur dan mengambil jarak dari lawannya.

Seperti sebelumnya, pria kurus itu langsung mendekati Dan lalu melayangkan tendangan tinggi seperti cambuk menuju wajahnya. Dan menunduk untuk menghindari serangan tersebut lalu dengan cepat mendekati pria itu melewati celah yang terbuka. Kepalan tangan Dan tertegenggam dengan keras lalu meluncurkan dengan tajam pada ulu hati musuhnya.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Dan mendekati musuhnya yang mundur karena serangan sebelumnya dan melakukan tendangan menyamping pada lututnya. Tidak sempat menghindar, serangan itu tepat mengenai lutut pria itu dan membuat terpincang-pincang.

Sebuah tinju mengalir deras dari tangan Dan dan berhenti tepat di depan wajah pria itu setelah mendengar wasit menghentikan pertandingan dengan pemenangnya adalah Dan.

Serangan ganas dan tajam yang sangat berbeda dari sebelumnya membuat Dan seperti orang lain di mata penonton, terlebih Angel yang menatapnya dengan cermat.