Episode 399 - Hati



“Aku tahu!” Seorang remaja melompat girang. “AKU TAHU!” 

Lompatan dan teriakan yang berlangsung secara tiba-tiba itu membuat seekor binatang siluman yang sedang bermalas-malasan di sisinya mengangkat kepala sembari menoleh. Terbesit seberkas ketidaknyamanan para moncong kecilnya. “Apa yang kau ketahui…? Aku mengetahui lebih banyak. Pada suatu hari…”

“Bukan, bukan perkara dongeng…,” tandasnya dengan raut wajahnya berseri.

“Tentu saja! Kau tak akan dapat mengalahkan senarai dongeng-dongengku. Ribuan jumlahnya!”

“Aku tahu siapa yang mengambil tubuh guru sepupuku sang Yuvaraja!” 

“Dan kau tahu dari mana…?” Si Kancil kembali merebahkan kepala, sembari berusaha menghembus pergi rasa bosan. Akibat janji menunggu kepulangan Bintang Tenggara, ia yang terbiasa berpetualang ibarat seekor merpati yang terbang bebas lepas di langit tinggi, kini terkungkung di Perguruan Gunung Agung. 

“Dari pesan yang ditinggalkan di mulut goa…,” lanjut Balaputera Prameswara dengan nada puas sekaligus bangga. (1)

“Pesan apa!? Ada pesan!?” Si Kancil melompat bangun. “Mengapa baru sekarang kau katakan bahwa ada pesan!?”

“Saat itu sepupuku sangatlah terburu-buru…” 

“Apa yang ada di dalam kepalamu!?” hardik Si Kancil berang. “Bintang Tenggara pergi terburu-buru karena ia tak tahu akan adanya pesan yang ditinggalkan pencuri tubuh gurunya! Kalau dia tahu, maka dia tak akan pergi tanpa tujuan pasti!” 

“Hm…?” Kata-kata yang diucapkan Si Kancil sepertinya menyadarkan Balaputera Prameswara akan sebuah kekeliruan dalam pengambilan keputusan. “Tapi… tapi diriku ingin berguna bagi sepupuku…,” kilahnya pelan. Raut wajah yang beberapa saat sebelumnya riang, kini berubah murung. 

“Kau benar-benar tak berguna…,” keluh Si Kancil. “Sudahlah! Katakan apa yang engkau ketahui!” 

“Aku perlu kembali ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang untuk memastikan bahwa adalah ‘dia’ yang mengambil tubuh tersebut…” 

“Jadi, apa lagi yang kau tunggu!? Segera kita bertolak ke Pulau Barisan Barat!” Si Kancil melangkah tegap.

“Tapi… tapi sepupu dan kakakku mengatakan agar diriku jangan bepergian seorang diri…”

“Kau tak akan menempuh perjalanan seorang diri! Aku, petualang sejati nan tersohor di seantero Negeri Dua Samudera, akan hadir mendampingi!” 


===


Singkat kata dan singkat ceritera, Bintang Tenggara kini berada di bawah bimbingan siluman sempurna yang dapat berubah wujud menjadi senjata pusaka Keris Tameng Sari. Tujuan yang hendak dicapai adalah agar dirinya dapat membangunkan tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana yang menjadi benalu pada mustika tenaga dalam di ulu hati. Bilamana terbangun, tumbuhan siluman itu memiliki mekanisme pertahanan diri yang bewujud akar-akar sebesar lengan orang dewasa, berjumlah lima, dan mengincar segala sesuatu yang menjadi ancaman terhadap jiwa induk semangnya. Yang lebih mengagumkan lagi, adalah kemampuan di mana tumbuhan siluman itu dapat melemahkan kemampuan lawan di dalam pertarungan. 

Kendatipun demikian, perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan itu tak banyak bicara. Setiap mentari berada jauh di ufuk barat, ia menerima kehadiran Bintang Tenggara. Ia membuka telapak tangan sembari menebar jalinan mata hati untuk membangungkan tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana. Keadaan ini memungkinkan si anak remaja menebar jalinan mata hati dan memanfaatkan mustika tenaga dalam. 

Tak beda dengan hari-hari sebelumnya, Bintang Tenggara memulai sedari pagi. Karena berat tubuh di dalam Penjara Pulau Kembang Nusa meningkat berkali lipat, ia memanfaatkan keadaaan tersebut untuk melatih raga. Anak remaja itu berlari seorang diri di dalam hutan rimba. Dalam perjalanan pulang, ia mengumpulkan bahan makanan untuk santap siang bersama Kakek Enim. 

Usai istirahat siang, anak remaja itu kembali melatih raga. Kali ini ia sengaja melewati wilayah di mana binatang siluman berdiam. Ia kemudian akan berupaya melepaskan diri dari ancaman binatang siluman yang mengincar. Dengan demikian, kemampuan melarikan dirinya semakin terasah. 

Hari beranjak petang, yang berarti waktunya untuk mendatangi Sari. Di hadapan perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan itu, kemudian Bintang Tenggara duduk bersila. Setelah Akar Bahar Laksamana dibangunkan oleh Sari, anak remaja itu mengarahkan mata hati untuk menjalin komunikasi. Dapat dicermati bahwa ukuran akarnya sudah kembali gemuk seperti sedia kala karena dalam keadaan terjaga tumbuhan siluman itu senantiasa melahap tenaga dalam dari dalam mustika. Bahkan, beberapa lembar daun hijau terlihat tumbuh segar.

Kendatipun demikian, Akar Bahar Laksamana yang berada dalam keadaan terjaga tiada menanggapi tebaran mata hati dari Bintang Tenggara. Pantauan mata hati Anak remaja itu berkali-kali berupaya meneroka dan menyentuh permukaan akar. Setelah sepekan mencoba, tumbuhan siluman itu sama sekali belum menunjukkan reaksi yang diharapkan.

“Puan Sari, sudah lebih dari sepekan diriku mencoba, namun tiada sekalipun Akar Bahar Laksamana memberikan tanggapan…”

Perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan itu hanya berdiam diri. Siluet tubuhnya yang membelakangi mentari petang terlihat jumawa. Sejauh ini, tak sekalipun pernah ia memberikan petunjuk perihal tata cara berkomunikasi dengan Akar Bahar Laksamana. Sementara itu, Bintang Tenggara telah mencoba berbagai cara yang terpikirkan olehnya. Tak juga ada reaksi, sehingga keadaan ini membuat Anak remaja tersebut hampir putus harapan. 

“Kalau kau tak mampu, mungkin sudah waktunya kita hentikan upaya yang sia-sia ini… Jangan buang waktu kami.”

“Ti… tiada mengapa. Tiada mengapa, Puan Sari.” Bintang Tenggara gelagapan. “Diriku akan berupaya lebih keras!”

Bintang Tenggara kembali menebar jalinan mata hati kepada Akar Bahar Laksamana. Sebagaimana diketahui, berkat pengalaman mengarungi Lintasan Saujana Jiwa di Perguruan Anantawikramottunggadewa, kemampuan anak remaja itu dalam menebar jalinan mata hati berada di atas rata-rata ahli. Karena masih belum juga membuahkan hasil, ia bahkan mengimbuhkan tenaga dalam untuk memperkuat jalinan mata hati tersebut. Tindakan ini bukan pertama kali diupayakan, namun tetap saja tiada tumbuhan siluman tersebut menunjukkan tanda-tanda akan menanggapi. 

Petang beranjak malam, dan malam berganti pagi. 

“Yang Mulia, mengapakah dikau tak menjalankan latihan seperti biasanya…?” Lahat Enim menyapa santun. 

Bintang Tenggara mendengus sendu, “Apa gunanya melatih raga, bila diriku tak akan dapat meninggalkan tempat ini…?”

Lahat Enim duduk perlahan di sisi Bintang Tenggara. Ia dapat menangkap perasaan putus asa yang mulai tumbuh di dalam diri anak remaja itu. Sebagai penghuni lama Lapas Gleger, sudah tak terbilang ia menyaksikan keputusasaan yang muncul lalu menguasai diri tahanan. Pada awalnya mereka para tahanan memiliki harapan, namun lama-kelamaan harapan tersebut pupus menjadi nestapa, seolah terperangkap di dalam lorong sempit nan pengap dan gelap. 

“Lapas Gleger memiliki kemampuan merenggut harapan…,” ujar lelaki setengah baya itu. Dirinya sendiri pernah jatuh terperosok ke dalam lorong hitam yang serupa. Akan tetapi, dengan kehadiran sang bangsawan muda dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, perlahan secercah harapan terlihat berpendar di ujung lorong. 

“Hehe…” Bintang Tenggara hampir terkekeh. Kata-kata Lahat Enim menggelitik di telinga. “Andai saja sesederhana itu…,” keluhnya. 

“Kiranya Yang Mulia sudi mengungkapkan apa kiranya yang menjadi hambatan…?” Lahat Enim mendongak, melontar pandangan kepada kerumunan awan putih yang berarak perlahan, seolah melihat harapan yang menggantung tinggi di langit sana.

“Untuk dapat keluar dari tempat ini, diriku wajib membangun hubungan dengan sesuatu di dalam diri…,” ungkap Bintang Tenggara sekenanya. Ia tak dapat mengutarakan secara utuh tentang tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana. 

Lahat Enim menghela napas dalam. “Dahulu hamba adalah seorang guru yang cukup piawai dalam mengajarkan keterampilan khusus merapal segel. Apakah Yang Mulia sadari, bahwa merapal formasi segel ‘bukan hanya’ perkara menebar mata hati dan mengimbuhkan tenaga dalam untuk melukis simbol-simbol dan membangun susunan…?”

Apa yang diutarakan Lahat Enim sepertinya tak ada kaitan dengan kendala yang dirinya hadapi, kendatipun demikian Bintang Tenggara tetap menyimak. Dengan bakat yang berasal dari darah wangsa Syailendra trah Balaputera, kemampuan menyusun formasi segel datang secara alami. Mudah dan sederhana. Demikianlah adanya, bahwa menyusun formasi segel merupakan kepiawaian dalam menebar mata hati dan mengimbuhkan tenaga dalam untuk melukis simbol-simbol dan membangun susunan tertentu. Apalagi yang diperlukan? benaknya tergelitik ketika Lahat Enim menekankan pada kata-kata ‘bukan hanya’. 

Lahat Enim mencermati ketertarikan Bintang Tenggara. Ia lantas melanjutkan, “Kemampuan menyusun formasi segel sesungguhnya datang dari ‘hati’…”

“Hati…?” ulang Bintang Tenggara. 

“Hati yang lemah akan menghasilkan simbol dan susunan yang lemah. Demikian sebaliknya, hati yang kuat akan menghasilkan simbol dan susunan yang kuat pula…”

“Sepertinya demikian…,” tanggap Bintang Tenggara sekenanya. 

“Keteguhan hati, kerendahan hati, kemurahan hati, kegalauan hati, kebusukan hati… Segala sesuatu yang terkait dengan ‘hati’ akan menentukan jalan keahlian. Baik itu dalam keterampilan khusus, kekuatan persilatan, maupun kemampuan unsur kesaktian… semua didasari dari hati. 

“Hati…?” ulang Bintang Tenggara lagi. 

“Yang Mulia mengatakan perlu membangun hubungan dengan sesuatu… Apakah Yang Mulia telah membuka hati untuk hubungan tersebut…?”

Bintang Tenggara, yang biasanya berhati dingin, menyadari kekurangan yang terdapat di dalam dirinya. Dalam menjalani keahlian, ia berupaya mencari cara terbaik dan termudah dalam mencapai tujuan. ‘Bagaimana’ adalah sebuah kata tanya yang acapkali ia ajukan kepada diri sendiri ketika akan melangkah. Dengan kata lain, logika menjadi dasar dalam membangun keahlian sehingga sedapat mungkin mengenyampingkan perasaan. Anak remaja itu lupa, bahwa salah satu kemampuan dasar yang ia miliki, jurus Delapan Penjuru Mata Angin misalnya, dapat terbuka karena menelusuri perasaan.

Petang hari tiba, dan Bintang Tenggara kembali duduk bersila. Puan Sari menebar mata hati dan membangunkan Akar Bahar Laksamana sebagai upaya membantu anak remaja itu dalam membangun hubungan. 

Perlahan Bintang Tenggara menebar mata hati, bersamaan dengan itu ia berujar, “Wahai Akar Bahar Laksamana, sudah lama kita hidup berdampingan namun tiada saling mengenal. Namaku Bintang Tenggara, apakah dikau memiliki nama…?”

“Nyut…” Pantauan mata hati Bintang Tenggara lantas merasakan bahwa Akar Bahar Laksamana berdenyut. Bukan kali pertama terjadi, namun denyut tersebut jelas mengisyaratkan bahwa kata-katanya dapat didengar oleh tumbuhan siluman tersebut. 

“Wahai Akar Bahar Laksamana, bagaimanakah kabar dikau hari ini…?” sambungnya berupaya membangun percakapan. 

Akar Bahar Laksamana berhenti berdenyut. Bintang Tenggara beranggapan bahwa tumbuhan siluman tersebut mungkin pemalu sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk saling mengenal. Tak hendak memaksakan diri, ia menghentikan upaya. Setidaknya hari ini ada kemajuan, batinnya riang. 

Keesokan harinya Bintang Tenggara kembali menyapa Akar Bahar Laksamana. Malangnya, kali ini tak ada tanggapan sama sekali. Menghela napas panjang, anak remaja tersebut menyudahi hari. Namun demikian, selama beberapa hari kemudian lagi-lagi tumbuhan siluman tersebut tiada memberikan tanggapan sesuai harapan. 

Satu pekan waktu berlalu sejak Akar Bahar Laksamana memberikan tanggapan. Kesabaran anak remaja tersebut mulai terkikis.

“Hei Akar Bahar Laksamana!” tegas jalinan mata hati Bintang Tenggara. “Sombong sekali kau! Hah!”

“Nyut…” Pantauan mata hati Bintang Tenggara menangkap bahwa Akar Bahar Laksamana bereaksi. Namun demikian, bukan reaksi yang diharapkan karena sesudahnya tumbuhan siluman itu hanya sibuk melahap tenaga dalam banyak sekali. Sepertinya dia kesal. 

Hari berikutnya, ketika Akar Bahar Laksamana dibangunkan, Bintang Tenggara melancarkan jurus persilatan Pencak Laksamana Laut, Silek Linsang Halimun dan Tinju Super Sakti secara berbarengan. Tindakan tersebut tenguras tenaga dalam sangat cepat dan banyak. Sebagai tambahan, pun ia tiada membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin sehingga Akar Bahar Laksamana tak dapat melahap jumlah tenaga dalam sebagaimana biasanya. 

Selama beberapa hari kemudian, Bintang Tenggara terus melaksanakan tindakan senada. “Rasakan kau! Hahaha… Jangan pikir kau dapat melahap tenaga dalam sesuka hati! Dasar benalu!” 

Denyut nadi Akar Bahar Laksamana menderu. Sepertinya tumbuhan siluman tersebut dibalut amarah. Aura berwarna hijau membungkus tubuh Bintang Tenggara, lalu berubah wujud menjadi jalinan akar. Jalinan akar tersebut kemudian menyebat balik ke arah tubuh si anak remaja. 

Bintang Tenggara tetiba terlibat dalam pertarungan! Uniknya, lawan kali ini berasal dari dalam diri! Serangan datang dari berbagai penjuru, namun anak remaja tersebut mampu bertahan dengan menangkis dan mengelak setiap serangan jalinan akar. Pertarungan yang aneh mencapai hasil akhir imbang. 

“Kau pikir dapat mengalahkan aku, wahai benalu!?” 

Menyaksikan kejadian aneh di hadapannya, Sari hanya mampu meggeleng-gelengkan kepala. Harapannya adalah bagi Bintang Tenggara dan Akar Bahar Laksamana membangun hubungan baik, sehingga dapat membantu satu sama lain. Siapa menyangka, sebaliknya kedua makhluk hidup tersebut malah berseteru!

“Waktumu tak banyak!” sergah perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan itu. “Pendekatanmu salah!” 

Sejak hari itu, Bintang Tenggara berhenti mengunjungi Sari. Ia sudah lelah. Akar Bahar Laksamana terlalu keras kepala. Diberi hati minta jantung, dan bila dikasari dia balik mengamuk. Sepertinya benar kata-kata Puan Sari, membuang-buang waktu sahaja!

Sejak sang mentari terbit, Bintang Tenggara berlari menembus semak belukar di dalam hutan. Selain perkara Akar Bahar Laksamana, masih ada hal lain yang mengganjal di dalam benaknya. Hari jelang malam ketika ia tiba di dekat sebuah gubuk.

“Bocah Kecil Badung…,” sapanya kepada seorang anak yang sedang menyantap makan malam seadanya.

Usai mendengar keterangan Kakek Enim tentang sang peramal yang meregang nyawa di tangan Kepala Lapas Gleger tak lebih dari sepuluh tahun silam, Bintang Tenggara menyadari akan adanya sesuatu yang tak lazim. Diceriterakan pula bahwa kata-kata terakhir tokoh tersebut adalah ‘Ragaku akan sirna, namun jiwaku tak akan binasa’ yang dapat berarti bahwa tokoh dimaksud memiliki kemampuan tersembunyi selain meramal. 

“Dari mana saja kau…?” terdengar tanggapan tak acuh. 

Berdasarkan pengalaman, bagi ahli nan digdaya melepaskan jiwa dari raga merupakan sesuatu yang sangat mungkin dilakukan. Ahli digdaya juga memiliki kemampuan untuk membuat klon tubuh. Nah, berdasarkan pengetahuan tersebut Bintang Tenggara lalu menghitung. Usia Bocah Kecil Badung adalah sekira delapan atau sembilan tahun, yang mata berdekatan dengan waktu kematian sang peramal. Dia hidup sebatang kara tanpa orang tua atau asuhan orang lain. Dari mana dia belajar bertutur kata atau mencuri bahan makanan untuk bertahan hidup…? 

Perlu diakui bahwa kesimpulan yang kemudian dibangun memang didasarkan atas pengetahuan yang terbatas dan jauh dari lengkap. Namun mengabaikan kemungkinan bahwa sang peramal mampu memindahkan jiwa dan membuat raga baru melalui klon tubuh adalah suatu bentuk penghinaan terhadap dunia keahlian. Tak ada yang tak mungkin di dalam dunia keahlian. Oleh sebab itu, terdapat kemungkinan yang beralasan bahwa Bocah Kecil Badung sesungguhnya bukanlah seorang anak kecil biasa. Ia kemungkinan besar merupakan seorang ahli yang ingin melanjutkan hidup dengan tenang serta terbebas dari sesiapa pun yang mengejarnya. 

“Diriku mencari tubuh seorang guru,” ujar Bintang Tenggara kepada anak kecil itu. “Sudikah Tuan Ahli membantu…?”


Catatan:

(1) Episode 375