Episode 99 - Kesepakatan


Bayangan Hitam pulang dengan hati yang suram. Sebelumnya, ketika dia bertemu dengan Dokter tersebut, Bayangan Hitam menganggapnya sebagai seorang penyelamat, karena dengan ramah dan percaya diri Dokter tersebut berkata akan mencarikan pendonor untuk anaknya.

Namun, setelah mengetahui sisi gelapnya hari ini, dia tidak bisa mentolerirnya dan akhirnya menggunakan ancaman padanya. Meskipun jauh di dasar hatinya, Bayangan Hitam sadar bahwa dia tidak memiliki hak untuk mengadili seseorang, karena dia juga memiliki sisi gelapnya sendiri.

Ketika sampai di rumah, Bayangan Hitam segera melihat putri kesayangannya sedang duduk di sofa yang warnanya sudah kumal seraya menyaksikan acara di televisi.

Di acara tersebut, terdapat anak-anak yang dengan riang dan gembira bermain dengan anak-anak seusianya.

Dengan langkah gontai, Bayangan Hitam mendekati anaknya lalu memeluknya erat dari belakang.

"Papa kenapa?" tanya putrinya bingung.

Bayangan Hitam tidak menjawabnya dan terus memeluknya. Dalam hatinya dia bertekad sekali lagi akan melakukan apapun untuk putrinya asalkan dia bisa sembuh dan bermain seperti anak-anak lainnya.

Meskipun Bayangan Hitam tahu dia gagal menjadi seorang manusia, dia tidak mau gagal sebagai seorang Ayah.

Keesokan harinya, Bayangan Hitam membawa semua uang hasil curiannya dan menuju ke rumah sakit sekali lagi. Uang tersebut dia bawa menggunakan tas kumal miliknya. 

Jika orang-orang tahu bahwa di dalam tas tersebut terdapat uang yang sangat banyak, pasti akan membangkitkan sisi gelap dari diri manusia. Sayangnya, tas yang digunakan adalah tas kumal, orang-orang tidak akan percaya meskipun ada yang mengatakan bahwa di dalam tas tersebut ada uang yang sangat banyak.

Begitulah, orang-orang selalu menggunakan tampilan luar dalam tolak ukur atas nilai sesuatu.

Tanpa perlu bertanya pada Suster, Bayangan Hitam berjalan menelusuri lorong. Tidak butuh waktu lama, dia akhirnya sampai di depan ruangan Dokter.

Mengabaikan sopan santun, Bayangan Hitam langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Di dalam ruangan, Dokter terlihat terkejut ketika melihat Bayangan Hitam datang.

Bayangan Hitam melemparkan tas kumalnya, karena tas itu memang sudah tua, tas tersebut langsung robek dan uang-uang yang berada di dalam langsung jatuh di sekeliling Dokter.

Meski awalnya Dokter murka karena Bayangan Hitam tiba-tiba melemparkan tas ke arahnya, akan tetapi ketika dia melihat uang-uang tersebut, sebuah senyum licik terlukis di wajahnya.

"Oh, kau punya banyak uang ya. Darimana kau mendapatkan semua uang ini?" tanya Dokter dengan tatapan tajam.

"Tidak penting di mana aku mendapatkannya, yang penting aku membawa uangnya bukan?” jawab Bayangan Hitam seraya membalas tatapan Dokter.

Dokter mengambil selembar uang dan mengeceknya. "Yah, kau benar, aku memang tidak peduli dari mana kau mendapatkan semua uang ini."

"Tenang saja, semuanya uang asli." Ucap Bayangan Hitam.

Dokter tersebut berhenti bergerak untuk sesaat lalu tersenyum lebih lebar. "Baiklah, kalau begitu silakan pergi dan datanglah seminggu lagi." Ucapnya dengan bosan.

"Aku peringatkan sekali lagi, aku tidak main-main, kau harus menemukan pendonor dalam waktu seminggu." Ancam Bayangan Hitam dengan aura yang mengerikan.

Dokter mengacuhkan Bayangan Hitam dan terus melihat uang-uang di sekelilingnya dengan senyum misterius. "Ya, ya, ya, aku tahu, cepat pergi sekarang." 

Bayangan Hitam melihat dengan jijik pada Dokter yang menatap uang dengan mata serakah lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Dokter mengambil smartphone-nya dan memanggil sebuah nomor, tidak lama kemudian datang seorang Suster muda dengan wajah yang gugup dan takut.

"Cepat rapikan semua uang-uang ini." Perintah Dokter pada Suster tersebut.

"Y-ya." Jawab Suster itu dengan patuh lalu segera merapikan uang yang bertaburan.

Dokter melihat smartphone-nya dan memanggil nomor lain.

"Aku butuh bantuan."

"Bantuan apa?" balas orang yang Dokter panggil.

"Aku butuh beberapa orang untuk 'membersihkah' seseorang." Ucap Dokter dengan santai.

Suster yang mendengar Dokter mengatakan 'membersihkah' langsung bergidik dan cepat-cepat merapikan uang yang masih di lantai.

"Berikan aku detailnya."

"Dia hanya orang miskin yang ingin mencari pendonor untuk anaknya, bukan orang penting."

"Baiklah, lokasinya?"

"Aku akan membututinya, akan aku berikan kabar tentang lokasinya secara berkala." Balas Dokter seraya berdiri dari tempat duduknya.

"Baiklah, tarifnya seperti biasa."

"Oke."

Dengan persetujuan tersebut, panggilan telepon langsung ditutup. Dokter berjalan mendekati Suster yang sedang memungut uang lalu berjongkok di depannya.

Karena takut, Suster tersebut terus menunduk dan menggerakkan tangannya dengan cepat. 

Dengan lembut, Dokter memegang dagu Suster agar melihatnya wajahnya. Mata mereka bertemu, jelas ketakutan tertulis dimatanya.

Suster dan hampir semua staf di rumah sakit tahu bahwa Dokter terkait dengan orang-orang di geng dan tanpa ampun akan mengakhiri hidup orang-orang yang menentangnya. Meskipun sebenarnya pekerjaannya adalah untuk menyelamatkan nyawa, tapi dia sama sekali tidak menghargai nyawa.

"Semua uang ini adalah milikku, jangan macam-macam." Ucap Dokter dengan suara yang rendah dan berat, di matanya jelas tertulis ancaman pada Suster itu.

"Y-ya." Suster itu mengangguk pelan.

"Bagus." Ucap Dokter dengan senyum ramah di wajahnya. 

Lalu, tiba-tiba saja Dokter dengan cepat mendekatkan wajahnya pada Suster dan dengan ganas mencium bibir kecilnya.

Setelah puas, Dokter segera berjalan pergi, meninggalkan Suster yang kapan saja bisa menangis.

Melewati lorong rumah sakit, Dokter dengan ramah menyapa orang-orang yang dia lewati, tidak terburu-buru sedikit pun.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia berjalan lurus pada jalan utama dengan sedikit cepat, lalu lima menit kemudian dia sudah bisa melihat punggung orang yang dia cari.

Dengan santai, Dokter mengeluarkan smartphone-nya dan mengetikkan alamat tempatnya berada, kemudian dia memfokuskan kamera lalu memfoto Bayangan Hitam dan mengirimkan gambarnya.

Sementara itu, Bayangan Hitam langsung waspada, dia melirik ke belakang dan mengetahui bahwa dia sedang diikuti. Lalu, tanpa basa-basi, Bayangan Hitam segera berjalan ke gang sepi. Dia sama sekali tidak peduli dengan orang yang mengikutinya dan malah ingin tahu siapa itu lalu membungkamnya dengan tinjunya.

Sejak saat itu, saat dia secara tidak sengaja mendapatkan kekuatan ini setelah ingin menyingkirkan sebuah potongan tajam di jalan, akan tetapi potongan itu malah terserap ke dalam tubuhnya sebelum dia sempat membuangnya.

Meskipun Bayangan Hitam tidak tahu apa sebabnya, tapi yang terpenting baginya adalah kekuatan ini bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri dan orang yang dia sayangi.

Bayangan Hitam berhenti berjalan setelah dia merasa lingkungan di sekitarnya cukup sepi, dia berbalik dan dengan sabar menunggu, tidak butuh waktu lama akhirnya Buangan Hitam melihat sosok yang mengikutinya, yaitu Dokter.

"Oh, kau sadar kalau sedang diikuti?" tanya Dokter dengan tertarik.

"Apa maumu?" tanpa menjawab pertanyaan Dokter, Bayangan Hitam bertanya padanya.

"Yah, kau terlihat seperti orang miskin, jadi aku ingin tahu darimana kau mendapatkan uang yang banyak tadi, sesederhana itu." Jawabnya seraya menaikan bahu.

"Tidak penting aku mendapatkannya dari mana!" ucap Bayangan Hitam dengan tegas.

"Tunggu, biar aku tebak." Dokter memegang dagunya dan berpikir. "Apakah itu uang warisan?"

"...."

"Hmm, atau uang dari hasil judi?"

"...."

"Atau hasil mencuri?" ucapnya santai.

"Ini tidak ada hubungannya denganmu!"

Setelah mendengar ucapan Dokter, sebersit rasa bersalah merayap di dalam hatinya dan tanpa sadar dia berteriak.

"Oh, sepertinya tebakanku benar." Ucap Dokter dengan senyum tipis di wajahnya.

Bayangan Hitam tidak mengatakan apapun dan hanya terdiam seraya memelototi Dokter.

"Jangan memasang ekspresi seperti itu, aku semakin jijik denganmu." Ucap Dokter dengan pandangan merendahkan.

Tiba-tiba banyak langkah kaki terdengar, suara itu semakin mendekat lalu tidak lama kemudian empat orang bertubuh kekar yang adalah sumber suara tersebut terlihat.

Sejak awal, Dokter mengajak Bayangan Hitam berbicara adalah untuk menunda waktu sebelum mereka datang dan tanpa dia sangka ternyata sangat mudah, dengan begini rencananya berjalan dengan mulus dan akhirnya uang-uang yang Bayangan Hitam berikan padanya akan menjadi miliknya.

"Dia targetnya." Ucap Dokter dengan tenang.

Tanpa mengatakan apapun, seorang pria kekar maju dan mengepalkan tangannya yang berotot pada Bayangan Hitam.

"Kau tahu, apa alasanku berjalan ke tempat sepi seperti ini." Ucap Bayangan Hitam tiba-tiba, kemudian dengan sangat mudahnya dia menangkap tinju yang di arahkan padanya. "Yaitu karena aku ingin menggunakan kekerasan."

Kemudian dengan santai Bayangan Hitam mengayunkan tinjunya, tinju yang tampak lemah itu mengenai wajah pria di depannya  dan kemudian pria itu terlempar jauh ke belakang hingga tidak sadarkan diri.

"Mustahil!" teriak Dokter.

Melihat temannya bisa dikalahkan dengan mudah, tiga orang lainnya dengan buru-buru berlari bersama-sama mendekati Bayangan Hitam. Lalu secara bersamaan menyerang Bayangan Hitam dari arah depan, kanan, dan kirinya.

Bayangan Hitam tidak berlari, seperti sebelumnya dia dengan mudah menghalau serangan tersebut lalu melompat dan melakukan tendangan berputar yang kemudian membuat mereka langsung tidak sadarkan diri.

Meskipun orang-orang yang dilawannya besar dan berotot, tapi Bayangan Hitam mengalahkan mereka dengan sangat mudah dan cepat.

"Siapa ... Kau sebenarnya?" Dokter merasa sangat terkejut dengan fakta di hadapannya. Tidak pernah dia menduga tubuh Bayangan Hitam yang tampak lemah tersebut bisa mengalahkan orang-orang berotot itu.

"Aku bukan siapa-siapa." Ucap Bayangan Hitam seraya berjalan mendekati Dokter.

"Ahhhhhh!" sambil berteriak, Dokter dengan sekuat tenaga berusaha kabur dari Bayangan Hitam.

Namun, tiba-tiba saja Bayangan Hitam kini tepat berada di depannya. Merasa terkejut karena kedatangan Bayangan Hitam, Dokter dengan segera menghentikan larinya dan terjatuh.

"Menjauh dariku, monster!" teriak Dokter seraya mencoba menjauh.

Bayangan Hitam berjalan mendekati Dokter dan berdiri seraya melihat Dokter yang tampak ketakutan dan menyedihkan.

Tanpa ampun Bayangan Hitam menendang area di antara selangkangan Dokter itu dengan keras. Dokter itu berteriak sangat keras karena rasa sakit yang sangat, tidak lama kemudian dia pingsan karena tidak mampu menahan syok karena rasa sakit itu.

"Sudah aku katakan sebelumnya, aku tidak main-main." Ucap Bayangan Hitam dengan dingin.

Tiba-tiba Bayangan Hitam tampak waspada lagi, karena dia mendengar sebuah langkah kaki mendekatinya.

Seorang pria dalam jas mahal masuk dalam bidang pandangnya. Dia mengangkat kedua tangannya seperti menyerah.

"Aku dengar kau mencari pendonor."  Ucap pria itu dengan tenang.

"..." Bayangan Hitam hanya melihatnya dengan waspada.

"Aku bisa membantumu."

"Benarkah?"

"Tentu, tapi sebelumnya, ayo buat kesepakatan."