Episode 394 - Pulau Kembang Nusa (8)



“Kalian berdua, ikutlah denganku…” ajak seorang lelaki dewasa muda sembari melambaikan secarik surat tugas. Ia terlihat tenang, tiada terburu dan tiada pula memaksakan. 

“Yang Terhormat Guru Muda, kemanakah kiranya tujuan kita…?” tanggap seorang gadis belia bertubuh ramping dengan rambut panjang digelung mengalun.

“Perguruan menetapkan agar kita untuk menyambangi Istana Danau Api. Ada tugas yang perlu kita jalankan di sana, di mana keikutsertaan kalian akan sangat membantu.”

Mendengar akan tempat tujuan penugasan, raut wajah si gadis belia berubah dari penasaran menjadi penuh semangat. Baginya, mengunjungi perguruan di mana unsur kesaktian api dipelajari secara menyeluruh dan mendalam, merupakan sebuah kesempatan nan patut dimanfaatkan sebaik mungkin.

Lelaki dewasa muda mengubah arah memandang. Di dekat gadis belia bertubuh ramping, bersandar pada sisi gapura, adalah seorang remaja lelaki yang terlihat acuh tak acuh. Baginya, menjalankan tugas perguruan hanyalah membuang-buang waktu belaka. Masih banyak kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat.  

Lelaki dewasa muda melangkah mendekati remaja lelaki tersebut. Menyondongkan tubuh, ia lantas berbisik… “Kudengar, latihan di Danau Istana Api sangat berat. Karena memanfaatkan unsur kesaktian api secara terus-menerus, tak jarang pakaian murid-murid perempuan di sana sampai habis terbakar…”

“SIAP, LAKSANAKAN!” teriak remaja lelaki tersebut berdiri tegap. Dengan semangat menggebu, ia menyambut baik tugas yang diberikan!

“Segeralah bersiap. Sebelum bertolak ke sana, ada seseorang yang harus kita jemput terlebih dahulu.” 


===


Angin bertiup sejuk, semilirnya berbisik pelan. Binatang-binatang malam bercengkerama dalam canda dan tawa. Tiada terlihat di mana mereka berada, namun suara-suara nan mengemuka menemani seorang anak remaja yang sedang menjalin nalar. 

Ia sudah memiliki cukup pengetahuan tentang tempat di mana dirinya berada. Bahwasanya, ia disekap di dalam Lapas Gleger nan mengerikan, yang mana sang Kepala Lapas merupakan penjahat sekaligus tahanan pada Perang Jagat dahulu. Setiap satu purnama, sang Kepala Lapas itu akan menerima satu penantang. Bila tak ada yang mengajukan diri, maka tokoh tersebut akan mengamuk dan membantai tanpa pandang bulu sehingga memakan korban dalam jumlah yang jauh lebih besar. Uniknya, sesiapa saja yang dapat mengalahkan peranakan siluman tersebut, maka dijanjikan kesempatan untuk dilepaskan dari Penjara Pulau Kembang Nusa. 

Sungguh tawaran yang sangat menggiurkan. Oleh sebab itu, para tahanan membangun komunitas di dalam lapas. Mereka berlatih dan mengirimkan wakil untuk mengalahkan Kepala Lapas. Malangnya, ratusan tahun berlalu, tampaknya belum ada satu pun tahanan yang mampu menumbangkan tokoh dimaksud. 

Meskipun telah memiliki pengetahuan yang memadai, sesungguhnya Bintang Tenggara berada dalam keadaan nan tiada berdaya. Ia masih disekap oleh sesama tahanan, dan akan ditumbalkan kepada sang Kepala Lapas nan haus darah. 

“Srek…”

Kelebat bayangan menyeruak masuk ke dalam gubuk melalui celah di sisi bawah dinding kulit kayu. Sosok tersebut, lantas menghampiri Bintang Tenggara dari arah belakang. Sontak si anak remaja mengambil sikap waspada…

“Sudah kukatakan agar tak berkeliaran!” gerutu Bocah Kecil Badung. Ia lantas mengiris tali yang mengikat kedua tangan Bintang Tenggara dengan lempengan batu pipih dan tajam. 

“Sekali lagi, terima kasih,” bisik Bintang Tenggara. “Akan tetapi, belum waktunya bagi diriku meninggalkan tempat ini…”

Bocah Kecil Badung melirik jengah, lantas membuang wajah secepat tiupan angin. Ia melengos, merangkak ke celah di antara tanah dan dinding kulit kayu, beringsut dan menggeliat mirip cacing tanah, lalu menghilang. Tiada suara dan tiada pula jejak nyata. Anak kecil itu jelas terlihat kesal karena niatnya menyelamatkan tiada ditanggapi sesuai harapan. 

“Prak!” 

Mangkok batok kelapa jatuh ke tanah, pecah. Nasi putih di dalamnya berserakan dan seketika berubah cokelat karena berbaur dengan debu dan tanah kering. 

“Tuan Ahli… Kumohon… diriku tiada berniat buruk…” 

Lelaki setengah baya itu masih terpaku di pintu masuk gubuk. Tatapan matanya tak lepas dari anak remaja yang berdiri tenang di dalam sana. Kedua kaki dan tangan sosok tersebut sudah tak lagi terikat. “Bagaimana caranya kau melepaskan diri!?”

Bintang Tenggara menjawab dengan senyuman, tiada memberikan jawaban yang sesuai dengan harapan lawan bicara. “Diriku melepaskan diri sejak semalam… Namun, sebagaimana yang Tuan Ahli saksikan, diriku tiada berniat melarikan diri…”

“Apa yang terjadi!?” Suara batok kelapa yang pecah di tanah menarik perhatian sejumlah lelaki dewasa. Kesemuanya lantas memasang kuda-kuda tatkala menyaksikan tahanan mereka sudah tak lagi terikat. 

“Tangkap dia!” 

Lelaki setengah baya merentangkan lengan, menghalangi gerakan maju rekan-rekannya. “Tinggalkan kami…”

“Jangan bercanda!”

“Bagaimana bila dia menyerang!?”

“Kita perlu membekuknya!” 

“Tidak!” Lelaki setengah baya melangkah masuk ke dalam. Mengisyaratkan bahwa dia berniat meluangkan waktu untuk berbincang-bincang lebih jauh dengan bekas tahanan mereka. Berdasarkan pengalaman mengarungi dunia keahlian yang dipenuhi dengan tipu muslihat, maka kemungkinan besar anak remaja itu memiliki tawaran yang menarik.

“Tuan Ahli…,” sapa Bintang Tenggara membuka pembicaraan. 

“Namaku Enim,” tanggap lelaki setengah baya. “Katakan apa yang engkau kehendaki dari kami…”

“Kakek Enim, namaku Bintang Tenggara, yang adalah Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa. Diriku dijerumuskan ke dalam Penjara Pulau Kembang Nusa karena kesalahpahaman belaka.” 

Kakek Enim berupaya tampil tenang, walau sorot matanya mencerminkan keterkejutan yang besar. Sebagai bekas guru di sebuah perguruan kecil, maka nama besar Perguruan Gunung Agung pastilah sering berlalu-lalang di telinganya.

“Oleh sebab itu, diriku berniat melepaskan diri dari Lapas Gleger…”

“Tak pernah ada yang pernah berhasil melarikan diri dari Penjara Pulau Kembang Nusa!” sahut Kakek Enim dengan nada datar.

“Bukan melarikan diri, namun melepaskan diri. Diriku akan mengalahkan Kepala Lapas!” 

“Mustahil!”

“Itulah sebabnya mengapa diriku membutuhkan bantuan Kakek Enim…”

“Bantuan…?”

“Benar.”

“Bantuan apa!?”

“Sebagai tahanan di Lapas Gleger, tentunya Kakek Enim sudah sering menyaksikan pertarungan Kepala Lapas.”

“Jadi, kau membutuhkan bimbinganku untuk mengalahkan peranakan siluman haus darah itu…?”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Sorot matanya demikian sungguh-sungguh. “Sebagai bekas guru di sebuah perguruan, tentunya Kakek Enim dapat menelisik keunggulan dan kelemahan Kepala Lapas itu…”

“Keunggulan dan kekurangan…? Hahaha… Kau terlalu polos, wahai anak muda,” gelak lelaki setengah baya itu. “Menghadapi peranakan siluman perkasa yang ibarat binatang buas nan memangsa… Tak ada pola dalam serangannya. Kala bertarung, ia menyesuaikan diri dengan keadaan yang bergulir…” 

“Oh…? Petarung yang mengandalkan naluri…?” Benak Bintang Tenggara mengingat pada Panglima Segantang, dan sekian banyak latih tarung yang pernah keduanya jalani. “Diriku cukup berpengalaman menghadapi ahli dengan kemampuan yang serupa.”

“Anak muda, kau hanya akan menjaring angin… terasa ada, tertangkap tidak.”

“Bagai elang menyongsong angin… Janganlah gentar menghadapi lawan,” balas Bintang Tenggara dengan pepatah. 

“Hmph…,” dengus lelaki setengah baya itu menyepelekan. 

“Lagipula, Kakek Enim tak akan rugi. Diriku tetap akan menjadi tumbal dalam menghadapi sang Kepala Lapas.”

Menyaksikan harapan dan semangat Bintang Tenggara, lelaki setengah baya itu hanya mampu menghela napas panjang. Selama puluhan tahun dirinya menghabiskan waktu di dalam Lapas Gleger, betapa ia banyak menyaksikan harapan dan semangat nan berkobar membara. Pada akhirnya, kala dihadapkan dengan sosok sang Kepala Lapas, seringkali ia menyaksikan harapan dan semangat tersebut menguap hilang ibarat setetes air di tenang gurun panas dan luas. Sudah banyak ia melihat langsung keputusasaan yang berujung pada kematian. 

Tak lagi dapat mengurai kata-kata, lelaki setengah baya itu pun meninggalkan Bintang Tenggara sendiri di dalam gubuk. 


Sekira dua pekan waktu berlalu. Bintang Tenggara tiada meninggalkan pemukiman di mana sebelumnya ia ditawan. Sebaliknya, anak remaja itu membantu, bekerja dan hidup bersama dengan mereka yang bertempat tinggal di sana. Kali ini ia tak lagi mengumpulkan informasi, melainkan sedang berupaya membangun hubungan baik. 

Hari ini adalah hari di mana sang Kepala Lapas akan menyambangi lapas dan meminta tumbal. Terpisah jarak sekira seratus langkah, berdiri tegar di hadapan sana adalah gerbang besar Lapas Gleger. Bintang Tenggara sedia menanti bersama dengan Kakek Enim dan para lelaki dewasa kelompoknya. Di sisi kiri dan kanan, saling terpisah jarak beberapa langkah, berjajar belasan kelompok tahanan lain. Wajah setiap satu dari mereka menampilkan ketegangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Suasana hening.

Tetiba, engsel-engsel perkasa pada pintu gerbang nan maha besar berderak. Suaranya lantang ibarat lonceng raksasa yang berdentang mengumumkan waktu hukuman mati datang menjelang. Memang demikian yang akan terjadi, karena yang akan keluar dari balik pintu gerbang tersebut adalah algojo yang lapar akan pertarungan dan haus darah segar. 

“Hraaarghhh…” Teriakan sambutan terdengar dari salah seorang anggota kelompok tahanan di sebelah. Terlihat seorang lelaki dewasa yang berdiri tegar memajang tampang garang. Tubuhnya dipenuhi keringat, di mana uap panas seolah mengepul dari kulit tubuhnya. Tak ayal, dia adalah tahanan yang disiapkan sebagai penantang maut pada pagi hari ini. 

Tak lama berselang, seorang lelaki dewasa bertubuh jangkung dan kekar melangkah pelan dari celah pintu gerbang. Rambutnya panjang dan gimbal, kulit tubuhnya legam. Dengan hanya mengenakan cawat, serta belenggu di leher dan borgol di kedua pergelangan tangan dan kaki, menunjukkan bahwa dia tak beda dengan para tahanan. Walau semua tahanan yang hadir mengenali, bahwa dia adalah peranakan siluman yang tak terkalahkan! Bahwa dia adalah Kepala Lapas Gleger!

“Hraaarghhh…” Sang penantang hari ini adalah seorang lelaki dewasa yang tak hendak membuang waktu. Sambil berteriak menyemangati diri, dia merangsek maju. Taktik bertarung yang diterapkan adalah untuk tidak memberi kesempatan kepada sang Kepala Lapas mempersiapkan diri. Kecepatannya berlari tiada mencerminkan bahwa tubuhnya berkali lipat lebih berat karena pengaruh borgol khusus. 

Bintang Tenggara membuka mata lebar, mengamati, dan dapat memastikan bahwa lelaki dewasa yang menjadi penantang kali ini telah mempersiapkan diri sedari lama. Dia telah berlatih untuk hari ini, dan di hari ini pula ia akan menghirup udara segar. Demikian kesan yang ditampilkan, bahwa dirinya tak akan kalah!

Masih terpaut sekira sepuluh langkah, tahanan tersebut melompat deras. Kecepatannya bertambah, dan kepalan tinju mencengkeram erat. Satu serangan saja mendarat, maka kemenangan hari ini akan menjadi miliknya! Sampai di titik ini, tiada pernah terbayang di dalam benak Bintang Tenggara bahwa pemandangan yang akan ia saksikan berikutnya demikian mengerikan…

“Grab!” 

Entah sejak kapan dan dari arah mana, sang Kepala Lapas telah tiba di hadapan sang penantang. Jari-jemari nan panjang dan kasar ibarat rahang seekor buaya yang menangkap dan menangkup wajah mangsa! Si penantang meronta, menghantamkan pukulan dan tendangan membabi-buta, dan berupaya melepaskan kepalanya dari cengkeraman lawan. 

“Duak!”

Kepala Lapas mengangkat lengan, lalu menghantamkan sisi belakang kepala mangsa di dalam genggaman ke permukaan pintu gerbang nan terbuat dari besi tebal. Suara yang terdengar hambar, dan tubuh si penantang seketika mengejang!

“Duak!”

Kembali sang Kepala Lapas mengangkat dan menghantamkan sisi belakang kepala dari wajah yang berada di dalam cengkeraman. Tubuh si penantang lunglai dan darah segar membekas pada permukaan pintu gerbang nan terbuat dari besi tebal. 

“Duak!” 

Darah merah membasahi permukaan pintu gerbang nan terbuat dari besi tebal. Tengkorak kepala bagian belakang pecah berhamburan. Otak isi kepala bertebaran. Sang penantang hari ini, telah menjemput ajal.

“Kau masih hendak berhadapan dengan binatang buas itu…?” aju Kakek Enim mengacu kepada kejadian pembantaian sepihak yang berlangsung sehari sebelumnya. Saat ini mereka sedang memperbaiki pagar yang membatasi wilayah pemukiman dengan hutan rimba.

Bintang Tenggara berupaya mengusir pergi pemandangan mengerikan yang mengisi mimpi buruk di malam hari. Berupaya tampil tegar, ia mengalihkan pembicaraan, “Bila berhasil melepaskan diri nanti, diriku akan mengupayakan kebebasan bagi tahanan-tahanan yang tak sepantasnya ditempatkan di sini…”

“Hahaha…,” gelak Kakek Enim atas kata-kata nan kiranya terdengar sangat konyol. “Siapakah engkau yang mampu membongkar kebobrokan pemerintah Negeri Dua Samudera… Haah…?”

“Diriku adalah salah satu anggota keluarga bangsawan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…,” sahut Bintang Tenggara dalam upaya meyakinkan. “Kemaharajaan Cahaya Gemilang sangat disegani di Negeri Dua Samudera!” 

“Huahaha…” Gelak tawa lelaki setengah baya itu semakin menjadi. Agaknya sudah bertahun-tahun ia tiada pernah mendengar lelucon yang demikian menggelikan. “Siapa namamu…? Hah…? Apakah kau tak tahu bahwa nama para bangsawan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang diawali dengan ‘Balaputera’…?” 

“Namaku adalah Balaputera Gara.”

Tetiba kedua bola mata lelaki setengah baya itu melotot. Tubuhnya gamang, dan kakinya mundur setengah langkah… “Ma Ha Ja Ya Na Ta Na Ga Ra…,” gumamnya pelan. “Kadatuan Kesembilan…”

Bintang Tenggara menangkap celah yang dapat dimanfaatkan. “Benar. Diriku adalah cucu dari Balaputera Dharanindra, putra dari Balaputera Ragrawira.”