Episode 393 - Pulau Kembang Nusa (7)



“DUM!”

Suara bergegar terdengar lantang di seantero puncak gunung. Mirip letusan gunung berapi, getaran yang ditimbulkan menyebabkan gempa, yang seolah-olah dapat menjungkirbalikkan gunung itu sendiri. Berada di dalam kawah gunung, suasana ledakan terdengar mencekam. 

Seorang lelaki dewasa, tak terlalu tinggi postur tubuhnya, mengernyitkan dahi. Ia menyadari betul bahwa suara dan getaran dahsyat ini bukanlah disebabkan karena peristiwa alam. Tanpa sepatah kata terucap, segera ia melesat terbang. Mengikuti di belakangnya, adalah seorang pemuda dan perempuan dewasa muda. 

“DUM!”

Dentuman kedua terdengar semakin membahana. Seluruh ahli terjaga dan bersiaga! Kepanikan mulai menjalar dan suara-suara terancam terdengar riuh rendah. Segenap pasukan berkumpul lalu bergerak. Siluman-siluman muda siap diungsikan ke tempat teraman.

Kerumunan bangsawan dan punggawa kerajaan terlihat tinggi mengudara. Serempak mereka bergerak menuju gerbang maha besar di salah satu tebing kawah yang mengelilingi seluruh wilayah kerajaan. Wajah sejumlah ahli perkasa, para siluman sempurna yang menjabat sebagai bangsawan dan punggawa kerajaan, terlihat bingung dan ragu. Keadaan seperti ini bukan kali pertama berlangsung! 

“Mundur!” perintah lelaki dewasa itu sembari menambah kecepatan terbang. Dua ahli yang ikut di belakanngnya mampu mengimbangi.  

Walhasil, kerumunan ahli hanya melayang tinggi di udara. Bersiaga, beberapa dari mereka mendarat demi ikut memastikan bahwa persiapan sudah memadai bilamana sebuah perang berkecamuk.

Di hadapan, lelaki dewasa itu menyaksikan formasi segel pertahanan kerajaan telah merangkai dengan sendirinya, kokoh dan perkasa. Jemarinya bergerak pantas, di mana sebuah lubang pada formasi segel segera membuka. Tiba di wilayah luar, ia melesat turun sambil mengepalkan tinju lengan kanan… 

“Tinju Super Sakti, Gerakan Kedua: Harimau!” 

Ledakan gegap gempita terdengar tatkala sapuan kepalan tinju Raja Bangkong IV bertemu dengan tamparan tangan Mayang Tenggara! Akibat dua kekuatan nan maha besar tersebut beradu, gelombang tenaga dalam mengemuka dan mengambil wujud ibarat sebuah bola raksasa yang mengguncang gunung. Oleh karena itu pula, beberapa bagian di tebing yang mengelilingi kawah Gunung Perahu, yang mana merupakan wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu, meretak. Bahkan, sejumlah batu besar-besar di atas tebing tinggi jatuh longsor menimpa beberapa bangunan di bawahnya! 

Seorang Perempuan dewasa terdorong beberapa langkah ke belakang, begitu pula dengan lelaki dewasa, yang mana tubuhnya tertahan di pintu gerbang kerajaan. Jarak kedunya terpisah sekira dua puluh langkah. 

“Mayang Tenggara!” hardik Raja Bangkong IV. “Jangan berbuat sesuka hati!”

“Hai, Ceceb…,” tanggap ibunda dari Lintang dan Bintang Tenggara santai, “Aku hanya mengetuk pintu gerbang… Apa yang salah dari itu…?”

Wajah Raja Bangkong IV memerah padam. Bukan karena ia tak senang dikunjungi oleh rekan satu regu, melainkan karena, sebagaimana yang telah ia ungkapkan sebelumnya, Mayang Tenggara senantiasa berbuat sesuka hati. Membuat panik seisi kerajaan bukanlah perkara remeh. 

“Sudah… Sudah…” Seorang remaja lelaki mendarat di antara Raja Bangkong IV dan Mayang Tenggara. “Perkelahian tak akan menyelesaikan apa pun…”

“Swush!” 

Mayang Tenggara melangkah maju. Kurang dari satu kedipan mata, ia sudah tiba tepat di hadapan Airlangga Ananta sang pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa yang gemar mengubah penampilan diri. Telapak tangan membuka, Mayang Tenggara menampar dengan kekuatan yang setara dengan sebelumnya ketika ditahan oleh jurus persilatan Tinju Super Sakti milik Raja Bangkong IV! 

Airlangga Ananta terlambat bergerak sehingga tamparan mendarat telak. Kepalanya meledak, hanya meninggalkan batang tubuh yang berdiri kaku. Mengerikan sekaligus menjijikkan! 

“Cih!” cibir Mayang Tenggara, yang mengetahui bahwa rekan satu regu yang satu ini memang memiliki kebiasaan mengirimkan reka tubuh. Walau merupakan seorang ahli tingkat tinggi, Airlangga Ananta senantiasa waspada sehingga lebih memilih berada pada jarak aman. Kewaspadaannya semakin berlipat bilamana bertemu dengan rekan-rekan lama. 

“Pertunjukan badut-badut yang tak lucu…” Gerutu seorang perempuan dewasa membuat suasana semakin panas. Ia masih melayang tinggi di udara, memasang raut wajah yang mencerminkan rasa bosan. 

Mayang Tenggara mendongak. “Hei, peranakan siluman tak bertanggung jawab! Bukankah sepatutnya engkau berkumpul bersama saudaramu monyet-monyet di gunung!?”

Putri Pinang Masak melotot. Aura tenaga dalam melonjak cepat dan pekat. 

“Sudah… Sudah…,” ulang Airlangga Ananta. Di tempat di mana tadinya berdiri kaku tubuh seorang remaja tanpa kepala, kini terlihat seorang lelaki setengah baya. Aura yang dipancarkan demikian bijak lagi sana. “Suamimu, Wira, meminta kita berkumpul…” 

“Hm…?” Raut wajah Mayang Tenggara berubah seketika. 

“Waktu yang dinanti semakin mendekat. Kita perlu menyusun rencana….” Dengan demikian dan tanpa basa-basi lebih lanjut, Raja Bangkong IV melesat kembali ke istana tempat tinggalnya. 


=== 


Seorang lelaki dewasa melangkah ke dalam gubuk. Ikut masuk bersamanya adalah berkas sinar mentari pagi nan menyilaukan. Anak remaja yang menanti diam di dalam gubuk hanya dapat memejam mata dan membuang wajah demi melindungi mata. Dalam keadaan kedua kaki membujur terikat pada pergelangan, punggung anak remaja itu bersandar pada tiang kayu penopang gubuk, dengan kedua tangan di belakang pinggung terikat pula pada tiang yang sama. 

Lelaki dewasa itu membawa sebentuk tempurung kelapa, yang di dalamnya terdapat bulir-bulir nasi yang mengepul hangat. Ia meletakkan tempurung tersebut di sisi Bintang Tenggara nan terikat.

“Kami hanya ahli biasa-biasa saja…,” ucap lelaki dewasa itu. 

Bintang Tenggara dapat memahami makna di balik kata-kata tersebut. Berdasarkan keterangan lelaki setengah baya sehari yang lalu, pada kenyataannya mereka adalah penghuni Lapas Gleger yang merupakan penjara tingkat tinggi paling mengerikan di Negeri Dua Samudera. Namun demikian, sungguh para tahanan ini tiada mencerminkan diri sebagai penjahat kelas kakap. Mereka biasa-biasa sahaja. 

“Aku hanyalah seorang saudagar kecil sebelum dicampakkan ke tempat ini… Kau tahu kejahatanku apa…? Kejahatanku adalah bekerja keras sehingga mampu membangun usaha yang kecil itu bertumbuh. Ketika itu terjadi, para saudagar besar merasa terancam. Mereka kemudian bersebahat, memfitnahku atas kejahatan penggelapan. Persidangan hanya berlangsung singkat, dan aku berakhir di tempat ini sebagai salah satu penjahat nan keji.”

Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, batin Bintang Tenggara. Para saudagar di dalam cerita itu memperoleh cara menyingkirkan bakal calon pesaing, sedangkan pemerintah Negeri Dua Samudera memperoleh tumbal. Sebagaimana telah diketahui, Lapas Gleger dikepalai oleh seorang tahanan peranakan siluman, yang juga merupakan pengikut Kaisar Iblis Darah. Dengan rangkap jabatan sebagai algojo yang haus darah, sang Kepala Lapas membutuhkan tumbal untuk dibantai setiap satu purnama.

DIi kala mencurahkan isi hati nan duka, lelaki dewasa itu mengambil seutas tali dan bergerak ke belakang Bintang Tenggara. Ia melilitkan tali tersebut ke leher si anak remaja dan tiang, lalu menyentak keras!

“Ekkhhh…” Napas terpotong ketika lehernya tercekik, tubuh Bintang Tenggara mengejang selayaknya hendak menyongsong kematian. 

Untungnya, lelaki dewasa itu segera melonggarkan tali nan mencekik leher. Ia lantas melepaskan ikatan pada pergelangan tangan si anak remaja yang masih tersengal napasnya… 

“Makanlah… Jatah makan tak banyak, sehingga engkau hanya akan memperoleh sekali sehari…,” tambah lelaki dewasa itu. Ia masih memegang tali yang melilit di leher, agar si anak remaja tiada berpikiran untuk melepaskan diri. Sepertinya ritual memberi makan dengan cara yang sedemikian rupa, bukanlah kali pertama berlangsung…

“Tuan… mengapakah Kepala Lapas itu membutuhkan korban…?” aju Bintang Tenggara sembari mengais nasi tanpa lauk dari dalam tempurung. 

Agaknya suasana hati lelaki dewasa itu sedang riang, atau memang ia senang berceritera. “Saat Perang Jagat dahulu kala, peranakan siluman itu gemar membantai tanpa memandang lawan maupun kawan. Hal tersebut membuat Kaisar Iblis Darah sekalipun merasa jengah, sehingga berniat menyingkirkannya. Mengetahui keadaan tersebut, pemerintah Negeri Dua Samudera kemudian memanfaatkan kesempatan yang terbuka. Pihak pemerintah menawarkan kesepakatan agar peranakan siluman itu mengkhianati Kaisar Iblis Darah.”

“… dan kesepakatan tersebut adalah membantai tahanan yang telah dijatuhi hukuman mati di Lapas Gleger,” sela lelaki setengah baya yang melangkah masuk ke dalam gubuk. “Usai Perang Jagat, di lapas ini terdapat banyak tahanan pengikut Kaisar Iblis Darah yang membuat Lapas Gleger terkenal, namun satu persatu tahanan tersebut dibantai oleh Kepala Lapas tersebut. Ia menghabisi rekan-rekannya sendiri…”

“Demi meneruskan kesepakatan lama, dan karena tak banyak tahanan yang tersisa atau benar-benar layak ditempatkan ke Lapas Gleger, maka pemerintah Negeri Dua Samudera mengirimkan sesiapa saja yang hendak disingkirkan… atau bernasib malang seperti kami…,” sambung lelaki dewasa yang masih siaga memegang tali nan melilit di leher. 

“Aku dahulu adalah seorang guru di sebuah perguruan kecil, namun memiliki seorang murid dengan prestasi tinggi. Masa depannya cerah…,” si lelaki setengah baya membuka kisah baru. “Oleh sebab itu, sejumlah perguruan besar merasa terancam posisi mereka, sehingga mengatur siasat. Mereka membunuh muridku, dan bersaksi palsu bahwa adalah aku pelakunya…” 

Raut wajah lelaki dewasa itu berubah sendu. Sungguh ujian hidup yang ia jalani demikian berat. Berat pula rasanya bagi Bintang Tenggara mengunyah bulir-bulir nasi nan lembek. Sungguh kisah yang memilukan.

“Jadi, kumohon dikau memaafkan kami… Karena bila waktunya tiba nanti, maka dikau yang akan mewakili kami menantang Kepala Lapas itu…”

“Mengapa harus menghadapinya…? Mengapa tiada bersembunyi saja…?” Aju Bintang Tenggara polos. 

“Dia akan datang dengan amuk yang membinasakan sesiapa saja! Jumlah korban yang jatuh berkali lipat lebih banyak!”

“Mengapa tidak menghadapinya secara bersama-sama…?”

“Hahaha… Bahkan rekan-rekannya dahulu, para pendukung Kaisar Iblis Darah, berupaya mengeroyok namun malah menjemput ajal…” 

Bintang Tenggara usai menyantap nasi seadannya. Kedua tangannya kembali diikat ke belakang, sebelum lehernya dilepas. 


Hari berganti, dan pagi berikutnya tiba. Sebagaimana rutinitas pada hari sebelumnya, Bintang Tenggara kembali dicekik tali sebagai pengingat bahwa ia tak akan bisa melarikan diri. Setelah ikatan di kedua lengan dibuka, ia pun menyantap nasi. Akan tetapi, kali ini yang mengantarkan makanan adalah lelaki dewasa lain. Agaknya mereka berbagai tugas. 

“Apakah Tuan pernah mendengar tentang tahanan yang dijatuhi hukuman mati Karena kejahatan meramal…?”

“Tidak tahu,” tanggap lelaki dewasa itu ketus. Tak seperti rekan sebelumnya yang senang berceritera, ia hendak segera menyelesaikan tugas memberi makan. Baginya, beramah-taman dengan seseorang yang dalam waktu dekat akan meregang nyawa merupakan kesia-siaan belaka. 

Demikian, acara makan kali ini berlangsung singkat. 


Pagi pada hari ketiga, Bintang Tenggara sudah sedia menanti jatah makan. Kali ini, lelaki dewasa yang lain lagi yang datang membawa setangkup batok kelapa berisikan nasi tanpa lauk. Raut wajahnya kelihatan lebih ramah. 

“Tuan, mengapakah kiranya Kepala Lapas Gleger hanya membunuh sekali dalam satu purnama…?”

“Tiada yang mengetahui. Yang jelas, ia juga berperan sebagai algojo.” 

“Mengapa lawannya disebut sebagai ‘penantang’?” Sejak awal Bintang Tenggara merasa janggal akan istilah tersebut. 

“Karena sesiapa pun yang dapat menumbangkan Kepala Lapas itu, maka dia berhak menghirup udara segar keluar dari Pulau Kembang Nusa.”

Tetiba, raut wajah si anak remaja bersinar terang. Gairah hidupnya menyala perkasa! Betapa tidak, bila melarikan diri dari Penjara Pulau Kembang Nusa merupakan kemustahilan, bukankah sesungguhnya terdapat peluang yang lebih memungkinkan untuk meraih kebebasan…?