Episode 392 - Pulau Kembang Nusa (6)



Seribu satu pertanyaan bertarung sengit di dalam benak. Seorang anak remaja tak tahu harus memulai dengan gerakan apa, karena dirinya seolah sedang berhadapan dengan lawan sakti yang merapal berbagai macam jurus nan tiada pernah terbayang keampuhannya. Setiap satu jurus mewakili pertanyaan tersendiri, mulai dari peristiwa dijerumuskan ke dalam penjara tanpa melalui proses yang wajar, dipidana karena tuduhan membunuh sesama tahanan, sampai kepada keadaan saat ini di mana ia tak mengetahui sesungguhnya berada di mana…

Akan tetapi, Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa bilamana dirunut secara perlahan, maka akan dapat dirinya mengurai pertahanan lawan. Demi mempersingkat waktu, yang sudah berlalu biarkan saja dahulu. Di dalam benak ia langsung melompat kepada permasalahan saat ini, yaitu memastikan dimanakah kini dirinya berada. 

“Bocah…,” sapa Bintang Tenggara kepada seorang anak yang sedang mempersiapkan santapan makan malam. “Dimanakah kedua orang tuamu…?”

Bocah Kecil Badung menggeleng kepala, tiada mengalihkan perhatian dari kegiatan menanak nasi. 

“Apakah dikau dilahirkan di tempat ini…?”

Kembali Bocah Kecil Badung menggeleng kepala. 

“Apakah dikau tahanan…?”

Lagi-lagi si lawan bicara menggeleng kepala. Bintang Tenggara mencermati seksama. Dapat ia menyimpulkan bahwa Bocah Kecil Badung menggelengkan kepala bukan lantaran tak hendak memberikan jawaban atau sengaja menyimpan rahasia, melainkan karena memang dia tak memiliki jawaban. “Apakah dikau mengetahui nama tempat ini…?” lanjut Bintang Tenggara 

Atas pertanyaan terakhir, Bocah Kecil Badung mengangguk, memberikan secercah harapan kepada Bintang Tenggara yang sedang berperan sebagai penyidik pemula. Akan tetapi, penyidik yang satu ini tak melanjutkan atau memaksakan pertanyaan lebih jauh. Sebagai korban penyidikan yang bersifat sewenang-wenang, ia tahu pasti bahwa memaksakan pertanyaan atau menggunakan kekerasan dalam upaya memperoleh jawaban bukanlah tindakan yang tepat, setidaknya tidak untuk situasi saat ini. 

Bocah Kecil Badung menyelesaikan kegiatannya. Kedunya menyantap lahap santap malam yang seadanya itu. 


Pagi hari berikutnya, Bocah Kecil Badung melesat lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Meski belenggu di pergelangan tangan, kaki dan leher membuat bobot tubuh berkali lipat lebih berat, sungguh gerakan tubuhnya sangat pantas. Bintang Tenggara kewalahan mengejar, dan hampir kehilangan jejak. 

Tak lama, Bintang Tenggara menghentikan langkah mendadak. Di hadapannya, tersembunyi di balik lebat pepohonan besar-besar, adalah sebuah pemukiman sederhana. Berdiri beberapa gubuk, dan terlihat pula sejumlah lelaki dewasa dan setengah baya sedang berkegiatan layaknya di dalam sebuah dusun kecil. Kesemuanya mengenakan belenggu yang membatasi pantauan mata hati dan pengerahan tenaga dalam, serta membuat tubuh berkali lipat lebih berat. 

Mengendap, Bintang Tenggara mendekat. 

“Siapakah perwakilan satu purnama dari sekarang…?” ujar lelaki dewasa, dengan raut wajah yang menyirat kegelisahan. 

“Sesuai urutan, maka seseorang dari dusun sebelah…” Tanggapan datang dari lelaki setengah baya. 

“Apakah mereka akan menunaikan kewajiban…?”

“Kita tak pernah tahu…”

“Kalau tidak, maka ‘dia’ yang akan memilih sendiri…”

Lelaki dewasa dan setengah baya terlihat gundah gulana. Sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka resah. Sepintas lalu, pembawaan keduanya tidak mencerminkan bahwa mereka merupakan sosok-sosok penjahat berbahaya yang layak menjadi penghuni Lapas Gleger.  

Di saat yang bersamaan, sudut mata Bintang Tenggara menangkap kelebat bayangan yang melesat cepat di antara gubuk-gubuk. Tak perlu dicermati secara seksama, karena dapat langsung diketahui bahwa bayangan tersebut merupakan Bocah Kecil Badung yang sedang beraksi.

Bintang Tenggara kembali ke gubuk, namun hari jelang petang ketika Bocah Kecil Badung kembali. Seperti biasa, ia membawa bulir-bulir beras sebagai sumber penghidupan. 

“Jadi, gerbang besar tempat berlangsungnya pertempuran merupakan pintu masuk menuju Lapas Gleger…” Bintang Tenggara membuka percakapan dengan hati-hati. 

Seperti malam sebelumnya, Bocah Kecil Badung tak menunjukkan ketertarikan menjawab pertanyaan. Ia hanya menggelengkan kepala. 

Akan tetapi, kali ini Bintang Tenggara menangkap sesuatu yang berbeda… Gelengan kepala Bocah Kecil Badung bukan merupakan petanda bahwa ia tidak mengetahui jawaban, namun merupakan isyarat bahwasanya kesimpulan yang dibangun adalah keliru. 

“Siapakah tokoh yang gemar bertarung dan membunuh itu…?”

“Sebaiknya dikau berhenti mengikuti jejak diriku…,” tanggap Bocah Kecil Badung dengan nada datar. 

“Hm…?”

“Dan jangan sekali-kali mengunjungi pemukiman lain…,”

“Mengapa…?” Nada suara Bintang Tenggara sedikit bergetar. Pengalaman buruk di Lapas Batu sejenak terlintas kembali di dalam benak.

“Jikalau tertangkap, maka dikau akan menjadi tumbal…”   

Ditumbalkan…? batin Bintang Tenggara. Penyidikannya mulai mengarah kepada suatu titik terang.


Genap tiga pekan waktu berlalu sejak perbincangan terakhir dengan Bocah Kecil Badung. Cedera tubuh Bintang Tenggara sudah sepenuhnya pulih. Ia pun sudah terbiasa sehingga lebih leluasa bergerak di tengah beban berat berkali lipat yang membebani tubuh. Akan tetapi, perihal penyidikannya tak berlangsung mulus karena Bocah Kecil Badung tak lagi berkenan menjawab pertanyaan. 

Matahari yang baru saja terbit menemani anak remaja yang telah memantapkan hati. Walau dilarang keras oleh Bocah Kecil Badung, ia tetap menuju salah satu pemukiman terdekat. Dari mana lagi ia akan memperoleh informasi tentang tempat tersebut, dan tanpa pengetahuan yang memadai maka akan sulit untuk melarikan diri dari Penjara Pulau Kembang Nusa.

“Selamat pagi, wahai tuan-tuan…,” sapa Bintang Tenggara kepada beberapa lelaki yang sedang berkegiatan di dalam wilayah pemukiman mereka. 

Empat lelaki dewasa dan seorang lelaki setengah baya serempak menoleh dan bersiaga. Raut wajah kesemuanya mencerminkan keterkejutan yang teramat sangat. 

“Siapakah engkau!?” Salah seorang lelaki dewasa mengacungkan jemari. 

“Namaku adalah Bintang… pendatang baru,” ujarnya santun. “Salam kenal…”

“Sudah berapa lama engkau berada di tempat ini!?”

“Hampir satu purnama.” 

“Siapa di sana!?” Tiba-tiba, dua lelaki dewasa lain melompat keluar dari gubuk mereka. 

“Salam kenal…” Bintang Tenggara membungkukkan tubuh. 

“Tangkap dia!” perintah seorang lelaki setengah baya. 

Enam lelaki dewasa serempak merangsek maju. Mereka mengepung si anak remaja nan polos. Tak ada celah untuk melepaskan diri ketiga kesemuanya semakin mendekat membatasi ruang gerak. Akankah dirinya bertemu dengan ancaman yang sama seperti kala berada di Lapas Batu…? 

“Tunggu!” teriak Bintang Tenggara. “Diriku datang dengan niat baik!” 

Tak seorang pun yang mempedulikan anak remaja itu. Salah seorang dari mereka menerkam. Rentang tangannya demikian lebar seolah dapat menjangkau jarak beberapa meter. 

Bintang Tenggara sontak melompat mundur, lantas berkelit ke samping tatkala seorang di belakannya mengayunkan tinju. Tanpa jurus persilatan dan jurus unsur kesaktian, pergelutan berlangsung selayaknya perkelahian antar manusia biasa. Hanya kekuatan dan kecepatan tubuh yang dapat diandalkan. Oleh Sebab itu, Bintang Tenggara tampil lebih unggul. Ia memiliki otot-otot tubuh yang telah diimbuh oleh otot-otot ekor siluman sempurna nan maha digdaya pada masanya. Ditambah dengan naluri bertarung yang terasah dalam berbagai pertarungan, dengan mudahnya ia membaca gerak lawan-lawan yang mengepung.

Anak remaja itu sigap merunduk, lantas mengecoh ke kanan. Di saat lawan mengikuti arah gerakannya, Bintang Tenggara memutar tubuh cepat dan menerobos celah yang terbuka di belakang.  

“Apa yang kalian lakukan!?” sergah lelaki setengah baya menunjukkan kekecewaan kepada bawahannya yang tampil demikian menyedihkan. 

“Tunggu! Tunggu!” Anak remaja tersebut mengangkat lengan dan membuka telapak tangan ke hadapan, mengisyaratkan bahwa ia datang bukan karena hendak berkelahi. 

Kata-katanya tiada diindahkan. Keenam lelaki dewasa kembali bergerak mengepung dan serempak bergerak maju. Dari gerakan mereka, Bintang Tenggara dapat menyimpulkan bahwa para lelaki dewasa tersebut bukanlah ahli-ahli yang mumpuni bahkan bilamana tiada mengenakan belenggu. Sungguh mereka tiada mencerminkan gelagat sebagai penjahat keji dari segala penjuru Negeri Dua Samudera.  

Bintang Tenggara kembali mengelak lincah. Akan tetapi, perlu diakui bahwa dirinya hanya seorang diri yang berhadapan dengan enam lawan sekaligus. Sewaktu-waktu keadaan bisa saja berubah sehingga ia perlu segera melepaskan diri dari kepungan. 

Tiga lelaki dewasa menerkam dari tiga arah secara bersamaan! Bintang Tenggara melompat, namun tiga yang lain sudah siap menyambut dirinya yang akan mendarat. Sigap, anak remaja itu kemudian menendang pundak salah satu dari mereka, lantas memanfaatkan pijakan tersebut untuk melenting semakin jauh.  

“Buk!” 

Hantaman kayu nan keras mendarat telak di tengkuk Bintang Tenggara sesaat setelah mendarat. Si lelaki setengah baya, yang lepas dari pantauan karena sebelumnya hanya memberikan perintah, piawai membaca gerakan anak remaja tersebut. Atas pukulan tersebut, Bintang Tenggara tergolek jatuh dan hilang kesadaran. 


Suara halilintar membuat anak remaja tersebut terperanjat, membelakkan mata! Pandangannya kabur, namun masih cukup terjaga untuk menyaksikan formasi segel yang membatasi ruang dan waktu. Di antara ada dan tiada, berkelebat ibarat lapisan kaca tipis dan ringkih yang mengkilap memantulkan cahaya, formasi segel tersebut menyibak aneka simbol dan susunan yang tak dapat dikenali… 

Apakah dirinya berada di luar Penjara Pulau Kembang Nusa, ataukah itu formasi segel yang menaungi pulau…? 

Di balik formasi segel tersebut, antara ada dan tiada, terhampar gurun nan teramat luas. Pusaran angin bertemu dan menyebabkan badai, halilintar bergemeretak dan memangsa apa pun yang masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Bayangan-bayangan besar menaungi daratan… Deretan patung-patung batu nan maha besar tersusun berjajar ibarat prajurit yang berbaris akan berangkat perang. Tinggi setiap satu patung seolah menopang langit. Sulit menghitung berapa jumlah patung secara akurat, karena pandangan disamarkan oleh peristiwa alam nan pelik.

“Krak!”

Wajah salah satu patung tetiba meretak! Dari celah merekah yang tercipta, udara nan lembab dan pengap merembes keluar. Di saat yang sama pula, semilir angin membawa suara nan sayup…

Antara ada dan tiada… Keberadaan aura yang dirasa dekat namun tak dikenal… 

Bintang Tenggara membuka mata. Pandangannya kabur, kepala pening dan tengkuk terasa nyeri akibat hantaman keras. Seperti saat dipindahkan dari Lapas Batu, mimpi yang ia alami sama. Mimpi tersebut dirasa sangatlah nyata, bahkan seolah kejadian yang benar-benar berlangsung baru-baru ini. 

“Kau sudah siuman…,” sapa seorang lelaki setengah baya yang melangkah masuk ke dalam gubuk.

Bintang Tenggara hendak bangkit berdiri, namun baru ia sadari bahwa kedua tangan terikat ke belakang pada tiang penyangga gubuk. Kedua kakinya pun terikat, membuat semakin sulit bergerak. 

“Apa yang hendak kalian lakukan!?” Anak remaja itu panik bukan kepalang. Seandainya mereka adalah komplotan yang sejenis dengan mereka di Lapas Batu, maka sungguh malang nasib yang menanti. 

“Tidak dalam waktu dekat…,” lelaki setengah baya itu menghela napas panjang. Gelagatnya mengisyaratkan bahwa jika bukan karena terpaksa, maka ia tak hendak mencelakai anak remaja tersebut. 

“Tempat apakah ini?”

“Maksudmu…? Lapas atau gubug ini…?” Kendati bertanya, tiada lelaki setengah baya itu menunjukkan rasa heran atas ketidaktahuan si anak remaja. Sebaliknya, ia terkesan prihatin.

“Lapas…”

Lelaki setengah baya mengambil posisi duduk hanya terpisah beberapa langkah dari Bintang Tenggara. “Setidaknya, adalah kewajibanku menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada pendatang baru seperti dikau…”

Bintang Tenggara menghela napas lega. Walau dalam keadaan terikat, ia tak merasakan ancaman dari lelaki setengah baya tersebut, tak ada petanda bahwa dia merupakan tahanan tindak kejahatan asusila. 

“Dikau berada di dalam Lapas Gleger,” papar lelaki setengah baya tersebut. 

Bintang Tenggara menelan ludah. 

“Akan tetapi, bukankah keadaan di tempat ini berbeda dengan bayangan kebanyakan ahli…? Tiada kesan mengerikan dan anker sebagaimana yang ditanamkan ke dalam benak segenap ahli di Negeri Dua Samudera, benar…?”

Bintang Tenggara mengangguk pelan. 

“Beberapa ratus tahun silam, seusai Perang Jagat, pemerintah Negeri Dua Samudera banyak menangkap peranakan siluman yang ikut berjuang di pihak Kaisar Iblis Darah. Mereka yang berdarah setengah siluman dan setengah manusia itu ditempatkan di sini, di dalam Lapas Gleger, sebelum menjalani hukuman mati.”

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Ia memiliki beberapa pertanyaan, namun memilih untuk mendengarkan saja terlebih dahulu.

“Tidak hanya sampai di situ, pemerintah Negeri Dua Samudera juga menerapkan kebijakan yang pelik. Pemerintah mengangkat salah satu dari tahanan peranakan siluman, yang paling keji dan buas, sebagai Kepala Lapas. Ia dijanjikan kebebasan dengan satu syarat, satu tugas utama…”

Benak Bintang Tenggara mengingat pemandangan di hadapan gerbang tinggi nan megah beberapa pekan sebelumnya. Di sana, berdiri perkasa seorang lelaki dewasa bertubuh kekar yang hanya mengenakan cawat. Sebagaimana layaknya tahanan, ia mengenakan belenggu di leher dan borgol di kedua pergelangan tangan dan kaki. Dia siaga menanti. 

Masih jelas dalam ingatannya ketika seorang tahanan terlihat merangsek maju sebagai penantang mewakili sebuah kelompok. Tanpa basa-basi lebih lanjut, keduanya langsung terlibat dalam pertarungan. Baku hantam lebih tepatnya, tanpa mengerahkan jurus dalam gerak dan bentuk apa pun, mereka saling adu jotos! Yang membedakan adalah naluri bertarung dan kekuatan otot. Kemudian sang penantang jatuh terjungkal. Lelaki dewasa yang hanya mengenakan cawat memburu. Tanpa ampun, ia mengunci lantas mematahkan leher lawan. 

“Sepertinya dikau sudah mengetahui, atau sempat menyaksikan, sosok yang sedang kubicarakan ini…” tebak lelaki setengah baya itu sembari bangkit berdiri. 

“Apakah tugas utamanya…?” Anak remaja itu hendak memastikan.

“Sebagai Kepala Lapas Gleger, tugas utama peranakan siluman itu adalah menjagal satu tahanan setiap satu purnama…”