Episode 94 - Arah Takdir



“Apa yang kau rencanakan?” tanya Danny waspada.

“Kami akan menguasai dunia, ha ha ha.” Balas Kucing hitam dengan tawa yang mengerikan.

Mengikuti tawa tersebut, kucing-kucing yang berkumpul di belakangnya ikut mengeong dengan keras.

“Maka aku tidak punya pilihan lain selain menghentikan ambisi gilamu tersebut.” Ucap Danny seraya memasang kuda-kuda, siap bertarung kapan saja.

“Kau pikir kau bisa mengalahkan kami semua hanya dengan dirimu sendiri? Dasar naif.” Kucing hitam berkata dengan sinis.

“Tentu saja, selama aku percaya, aku pasti bisa melakukannya.” Balas Danny penuh percaya diri. 

“Hentikan semua omong kosong ini. Teman-teman, ayo serang dia!” perintah kucing hitam pada kucing-kucing di belakangnya.

Mengikuti perintah tersebut, kucing-kucing itu segera berlari menghampiri Danny dan mencoba mencakar atau menggigitnya. Danny tidak melawan, dia hanya menghindar karena takut akan menayakiti mereka.

Meskipun begitu, dengan begitu banyaknya kucing yang mencoba menyerangnya, mustahil Danny mampu menghindari mereka semua, hingga akhirnya terdapat banyak sekali luka gores pada tubuhnya.

“Ha ha ha, kau benar-benar naif manusia!” kucing hitam tertawa terbahak-bahak melihat Danny yang tidak mau melawan.

“Apa yang kau lakukan?! Lawan mereka!” teriak Dan.

“Aku tidak mau melukai kucing-kucing ini.” balas Danny seraya menghindari cakaran kucing yang menuju wajahnya.

“Kalau begitu lemparkan saja mereka ke sungai!” 

“Ide bagus.” Balas Danny seraya tersenyum cerah. 

Danny menangkap kucing yang mencoba mencakarnya lalu segera dia lemparkan menuju sungai. Kucing itu tercebur dan dengan buru-buru berenang menuju ke tepian.

“Berhasil!” Danny kembali meraih kucing-kucing di sekitarnya dan melemparkannya ke sungai. Perlahan tapi pasti, semua kucing-kucing itu berhasil Danny lemparkan ke sungai dan hanya menyisakan kucing hitam yang sedari tadi hanya menonton dari jauh.

“Apa yang kalian lakukan? Cepat serang dia lagi!” teriak kucing hitam..

Namun, kucing-kucing itu tidak memedulikannya, mereka sibuk menjilati tubuh masing-masing yang basah karena tercebur sungai.

“Sialan! Dasar tidak berguna.” Gerutu kucing hitam dengan kesal.

“Hehehe...” Danny tertawa jahat seraya mendekati kucing hitam itu.

“A-apa yang kau mau? Pergi, pergi, pergi. Jangan dekati aku!” ucap kucing hitam seraya berjalan mundur.

“Hehehe...” Danny tidak menjawab dan hanya kembali tertawa kecil.

Namun, ketika tangan Danny mencoba meraih kucing hitam tadi, dia segera tersenyum lalu mencakar tangan Danny. 

“Aww!” Danny segera menarik tangannya lalu melihat darah menetes dari luka cakaran itu. Goresan yang dia berikan lebih dalam daripada kucing sebelumnya.

“Hahaha, kau pikir aku sama seperti kucing-kucing bodoh itu? Tidak, aku berbeda dari mereka, aku ini spesial, dengan kata lain aku ini istimewa.” Ucap Kucing hitam itu seraya memperlihatkan cakarnya yang ternoda darah.

“Sialan!” Danny dengan cepat mencoba menangkap Kucing hitam itu, akan tetapi dengan mudahnya dia menghindarinya lalu kemudian mencakar tangan Danny lagi.

“Haha, kau tidak mungkin bisa menangkapku.” Ejek Kucing hitam.

Danny tidak menyerah, dia mencoba menangkap Kucing hitam itu lagi dan lagi, tapi hasilnya selalu nihil. Dia terlalu cepat dan gesit untuk Danny tangkap.

“Biar aku ambil alih!” teriak Dan.

“Baiklah.” 

Kali ini Dan yang mengambil alih tubuh Danny. Tidak seperti Danny sebelumnya, Dan tidak berhati-hati ketika mencoba menangkap kucing tersebut dan benar saja, Dan berhasil menangkapnya. Tapi, kucing hitam itu tidak tinggal diam ketika berada ditangkapan Dan, dia dengan sekuat tenaga menggigit tangan Dan.

“Aww!!” Dan buru-buru melepas gigitan Kucing hitam itu.

Mengetahui bahwa dia tidak bisa menghindar lagi, Kucing hitam tidak lagi ragu dan segera berlari menjauh.

“Jangan biarkan dia pergi!” seru Danny.

“Kau tidak akan bisa kabur, Kucing sialan!” teriak Dan lalu mulai mengejarnya.

*** 

“Inilah yang terjadi ketika kau ragu-ragu!”

“Selama aku bisa melakukannya dengan cara lain, aku tidak mau membunuh, siapapun itu.”

“Dasar naif, orang sepertinya hanya akan membuat yang lainnya menderita, jadi pilihan terbaik adalah menghilangkannya.”

“Terserah kau mau mengatakan apa, aku akan melakukannya dengan caraku.”

“Tapi ingat perjanjian kita.”

“Tentu saja, setelah semuanya selesai, aku akan menepati janjiku.”

*** 

Seorang wanita berjalan terburu-buru di lorong rumah sakit, dia tidak memedulikan teriakan Suster yang memintanya untuk tidak berlari di lorong rumah sakit.

Setelah sampai di ruangan yang dia tuju, wanita itu segera membukanya dan melihat sosok pria yang sangat dia kenal selama belasan tahun ini. Namun, wajah pria itu terlihat pucat, berbeda dari sebelumnya. 

Pria yang berbaring dengan wajah pucat itu adalah Ferdian, dan wanita itu adalah istrinya, Gita. 

Setelah diberitahukan tentang kondisinya saat ini, Gita langsung terburu-buru untuk menemui Ferdian. Semua kesalahpahaman yang terjadi dia lupakan karena rasa cintanya. Ikatan yang terjalin selama belasan tahun tidak akan hancur karena emosi sesaat.

Gita memegang erat tangan Ferdian dan menunggunya untuk bangun. Dia mengingat semua memori lama mereka berdua dan tanpa sadar menitikan air mata. Dalam kesedihannya, Gita terus berdoa untuk kesembuhan suaminya.

Di ruangan lain, seorang pria terbaring seperti mumi, dia adalah Rama, meskipun dia mengalami luka yang amat parah, akan tetapi nyawanya tetap terselamatkan. 

Dari luar ruangan Rama, seorang pria mencurigakan masuk dan kemudian menyuntikan sesuatu ke tubuh Rama, tidak berselang lama pria mencurigakan itu langsung pergi bersama perginya nyawa Rama pula.

***

“Sialan! Larinya sangat cepat.” Ucap Dan yang masih mengejar Kucing hitam itu.

Kini mereka telah sampai di wilayah pemukiman warga yang membuat pengejaran Dan pada Kucing hitam terhambat karena banyaknya halangan dan bangunan. Sedangkan itu, Kucing hitam dengan mudahnya melompat dari satu tempat ke tempat lainnya, dan meskipun sudah berlari sangat jauh tapi staminanya masih sangat bagus.

Kini Kucing hitam itu berlari ke arah belakang rumah warga, tentu saja Dan terus mengejarnya. Tapi tiba-tiba pandangan Dan terhalang oleh sebuah kain.

“Sialan! Apa-apaan ini?” Dan meraih kain tersebut yang ternyata adalah celana dalam berwarna merah muda dengan renda-renda menghiasinya. Tanpa peduli Dan langsung membuang celana dalam tersebut dan melanjutkan pengejarannya pada Kucing hitam.

Sialnya, berseling beberapa rumah lagi-lagi pandangan Dan terhalang oleh sebuah kain. 

“Apa lagi ini?” Dan meraih kain tersebut yang ternyata adalah beha berwarna merah muda dengan renda-renda menghiasinya. Tanpa peduli Dan langsung membuang beha tersebut dan kembali melanjutkan pengejarannya pada Kucing hitam.

“Dan, apakah kau pikir itu tidak aneh?” tanya Danny dari dalam pikirannya.

“Apanya yang aneh?” Dan bertanya balik.

“Celana dalam dan beha tadi sepertinya sepasang, tapi kenapa berada di jemuran yang berbeda?” balas Danny dengan nada yang aneh.

“Siapa yang peduli soal itu!” teriak Dan kesal.

Kucing hitam itu masih terus berlari dan melompat dari satu tempat ke tempat lainnya. Sementara itu Dan terus mengejarnya dan merasa sangat kesal karena belum bisa mendekatinya. 

Dan sedikit memfokuskan dirinya dan kemudian menggunakan kekuatan api hitamnya. Dalam sekejap mata kecepatannya menjadi berlipat ganda dan jarak antara dia dan Kucing hitam langsung terpotong yang membuat Kucing hitam itu menjadi gugup.

“Sialan! Apa-apaan manusia itu? Kenapa tiba-tiba dia menjadi lebih cepat.”

Kucing hitam itu terburu-buru hingga tidak sadar dia telah melewati jalan buntu. 

“Haha, sekarang kau tidak bisa pergi kemana pun.” Ucap Dan seraya melangkah dengan perlahan mendekati Kucing hitam tersebut.

“Mundur, jangan dekati aku!” teriak Kucing hitam itu dengan wajah memelas.

Akan tetapi, tiba-tiba Kucing hitam itu melompat ke tembok lalu menggunakan tembok tersebut sebagai pijakan dan kembali melompat melewati atas kepala Dan, dengan begitu Kucing hitam tersebut berhasil lolos dari situasi tersebut.

“Sialan! Kucing itu pintar.” Puji Dan dengan kesal.

Dan kembali mengejar Kucing hitam tersebut dengan menggunakan kekuatan api hitamnya dan berhasil mendekati Kucing tersebut, tapi setiap kali dia mencoba meraihnya, Kucing hitam itu dengan sangat cerdik berhasil menghindar.

“Sulit sekali menangkap Kucing hitam itu.” Ucap Danny.

“Aku punya ide, tapi aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak.” Balas Dan.

“Lakukan saja, tidak ada salahnya mencoba.”

Kejar-kejaran antara mereka berdua terus berlangsung, Dan tidak langsung melakukan apa yang dia rencanakan, dia sedang menunggu sampai mereka berdua di tempat yang tepat untuk melakukannya.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya Dan sampai pada tempat yang cocok, dengan segera pengejaran itu berhenti. Dan juga Kucing hitam itu tiba-tiba langsung berhenti bergerak, karena saat ini mereka berada di dalam dunia jiwa Kucing hitam itu.

Danny bersama Dan berada di tepi hutan, di tengah hutan yang lebat terdapat sebuah kastil besar berwarna emas. Di atas kastil tersebut terdapat sebuah patung kucing berwarna hitam sedang berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan memegang sebuah tongkat.

“Kucing itu benar-benar narsis.” Ucap Danny setelah melihat kasti emas dan patung yang sangat mencolok tersebut.

“Setuju.” Dan mengangguk.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Danny seraya melihat ke sekitar.

“Sederhana, kita serang kastil itu.” Jawab Dan singkat dan jelas.

“Jika kita serang, lalu apa yang akan terjadi dengan kucing itu?” tanya Danny cepat.

“Aku tidak tahu, tapi apakah kita punya pilihan lain?” 

“Kau benar.”

Akhirnya Dan bersama Danny berjalan menelusuri hutan lebat itu dan mendekati kastil emas tersebut. Tapi, apa yang tidak mereka sadari adalah patung kucing yang berada di atas kastil memperhatikan mereka berdua dengan hati-hati. 

Tiba-tiba saja mata patung kucing itu berubah menjadi merah dan kemudian sebuah cahaya merah menuju mereka berdua. Dan yang menyadari datangnya cahaya merah itu merasakan bahaya dan dengan cepat mendorong Danny pergi dan kemudian melompat menjauh.

Boom!

Sebuah ledakan besar tercipta dan menghancurkan apa saja yang berada di dekatnya, untung saja Dan menyadari serangan tersebut dengan cepat dan berhasil mendorong Danny pergi sekaligus menghindarinya.

Dengan hati-hati Dan memperhatikan patung kucing itu dan kemudian dia berteriak. “Kau langsung pergi ke dalam kastil dan cari kucing sialan itu, biar aku yang menangani patung jelek itu!”

“Baiklah, aku percayakan dia padamu.” Jawab Danny sambil berlari pergi.