Episode 390 - Pulau Kembang Nusa (4)


Liontin Mutiara Lembayung Jiwa diolah dari binatang siluman langka Kerang Mutiara Lembayung yang hanya hidup di perairan wilayah tenggara Negeri Dua Samudera. Untuk mengubah Kerang Mutiara Lembayung menjadi Liontin Mutiara Lembayung Jiwa, seorang ahli mengimbuhkan tenaga dalamnya atau tenaga dalam ahli lain ke dalam liontin mutiara. Tujuan dari tindakan ini adalah menjalin ikatan antara si ahli dimaksud dengan liontin. Bilamana ahli tersebut berada dalam bahaya, maka liontin yang bersinar lembayung akan meredup. Bila ancaman jiwa yang mendera, maka liontin seketika berubah warna, dari biru lembayung menjadi kemerahan. Berkat proses pembuatannya pula, maka lokasi pemilik tenaga dalam yang terpaut kepada liontin dapat diperkirakan keberadaannya.

Empat buah liontin mutiara berbeda ukuran bergelayutan di sisi bawah Untaian Tenaga Suci. Liontin paling kiri, dan paling besar, seukuran kuku jari manis, setelah itu sedikit lebih kecil adalah liontin yang paling kanan. Sedangkan, dua liontin di tengah berukuran paling kecil, seukuran kuku jari kelingking. Masing-masing liontin beberapa saat lalu masih memancarkan cayaha alami kebiruan, penuh dengan nuansa kehidupan.

Biasanya keempat liontin itu disembunyikan di balik kemben, namun kali ini liontin-liontin tersebut bergelayutan bebas sedikit di atas belahan payudara nan berukuran cukup berisi. Jemari nan lentik menyentuh pelan salah satu dari empat butir liontin, yang paling mungil, karena saat ini sedang berwarna merah terang. Di saat itu, Mayang Tenggara sedang melesat dengan kecepatan penuh ahli Kasta Bumi.

Ibunda dari kakak-beradik Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara itu tetiba mengubah arah terbang. Jauh di hamparan lautan yang seolah tanpa batas, sebentuk formasi segel berwujud seekor burung kecil menarik perhatiannya. Burung tersebut terbang mengalun seirama dengan tiupan angin malam.

Ketika tiba di hadapan Mayang Tenggara, formasi segel tersebut sedang berpendar dan mengurai, kemudian merangkai kembali menjadi wujud seorang lelaki dewasa. Ciri khas rambut kusut awut-awutan dengan kumis serta janggut yang tumbuh berserakan, dengan pakaian rombeng seadanya, menyibak senyum nan ramah. 

“Putra kita terancam…,” ujar Mayang Tenggara tanpa berbasa-basi. 

Formasi segel nan berwujud Balaputera Ragrawira menyibak senyum tenang. “Benarkah…?” ujarnya seolah terkejut. 

“Kakanda tiada perlu berpura-pura… Katakan mengapa Kakanda menghalangi diriku menyelamatkan putra kita…?”

“Diriku tiada menghalangi… Namun, apakah benar putra kita sedang terancam jiwanya…?”

“Liontin Mutiara Lembayung Jiwa tiada berdusta.” Mayang Tenggara menunjukkan liontin yang paling kecil ukurannya, yang mana sedang berwarna merah sekali. 

“Putra kita tak akan mudah meregang nyawa. Terdapat ‘sesuatu’ yang senantiasa melindungi dirinya…”

“Sesuatu…? Apakah tetua Komodo Nagaradja…? Beliau hanyalah jiwa dan kesadaran…”

“Bukan…” Formasi segel berwujud Balaputera Ragrawira menahan kata-kata, seolah enggan menjabarkan lebih lanjut.

“Lantas…?”

“Lagipula, adalah baik bagi pertumbuhan keahlian bila berhadapan dengan keadaan-keadaan yang sulit…”

“Pertumbuhan keahlian…? Bukankah kita telah sepakat bahwa ia tak akan menekuni jalan keahlian…?”

“Patut kita akui bahwa tak seorang pun bisa melepaskan diri dari takdirnya. Dikau memutuskan untuk mengasingkan diri dan membawanya jauh dari dunia keahlian… Kendatipun demikian, jalan keahlian tetap menemukannya.”

“Diriku tak akan membiarkan jalan keahlian merenggut jiwanya!” Mayang Tenggara bersiap meneruskan perjalanan. 

“Hal itu tak akan terjadi…”

“Apakah Kakanda mengetahui sesuatu…?”

“Terlepas dari itu,” tahan sang suami, “menilik dari kebiasaan Adinda, bilamana tiba di Penjara Pulau Kembang Nusa nanti maka kemungkinan besar Adinda akan meluluh-lantakkan seisi pulau tersebut.” Kata-kata Balaputera Ragrawira terkesan ringan, namun dari raut wajahnya terpancar jelas bahwa ia sangat khawatir. Ia tak hendak sang istri sesuka hati menjagal, dan di saat yang bersamaan ia belum pula dapat menjelaskan tentang apa yang sesungguhnya berlangsung.

Mayang Tenggara terdiam di tempat, karena lagi-lagi pertanyaan yang ia ajukan tak mendapat penjelasan yang pantas. Benaknya seketika itu melayang… Sejak menerima pinangan sang suami dan bersama-sama mengaruhi bahtera rumah tangga ratusan tahun silam, masih sangat banyak rahasia yang tiada kunjung diungkap. Dengan dalih kelangsungan Negeri Dua Samudera, Balaputera Ragrawira senantiasa berhasil mengalihkan pembicaraan. Seolah memikul beban yang teramat berat di pundaknya, beban tersebut tak hendak dibagi bersama. Setiap kali ditanyakan, selalu saja ia berkilah. Selama ini Mayang Tenggara tiada pernah mempersoalkan terlalu jauh, namun belakangan tindak-tanduk sang suami semakin mencurigakan. “Apa yang Kakanda sembunyikan…?” 

Di saat pertanyaan terlontar keluar, formasi segel berwujud Balaputera Ragrawira memudar perlahan. “Nantikan diriku di Kerajaan Siluman Gunung Perahu…” Dengan dmikian, sang suami lenyap tak berbekas dari hadapan istrinya. 


===


Suasana di Lapas Batu lengang. Bulian Tungkal menatap kosong kepada pintu gerbang nan berdiri tinggi dan megah. Ia menanti Bintang Tenggara dikembalikan, atau setidaknya dirinya dipanggil untuk dimintai keterangan. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, ia menyisir Lapas Batu dalam upaya mengumpulkan informasi. Ia telah mengetahui bahwa Ryan dan Ipul beserta rekan-rekan mereka, merupakan predator dan layak diganjar hukuman mati karena hendak mencabuli Bintang Tenggara.

Tanpa Bulian Tungkal dan seorang pun penghuni Lapas Batu sadari, sesungguhnya saat itu seorang lelaki dewasa bertubuh kurus namun pendek sedang berada di tempat kejadian perkara. Ia melakukan penyelidikan, dan berbeda dengan sipir-sipir lain, ia sudah berada pada Kasta Emas. Saat ini, lelaki dewasa tersebut ditemani oleh dua ajudan, seorang sipir, dan seorang sipir penyidik.

“Siapa pelakunya…?” Nada suara rendah, dan bertolak belakang dengan penampilan, aura yang terpancar menyiratkan bahwa tokoh ini merupakan ahli yang sangat tegas.

“Yang Terhormat Tuan Kepala Lapas Batu,” tanggap sipir penyidik, “Pelaku pembunuhan adalah seorang bocah yang baru satu purnama lalu tiba.”

“Apa kejahatannya sebelum ini…?” Ia berujar kepada sipir lain. 

“Ia dicurigai sebagai kaki tangan pembunuh bayangan.”

“Dicurigai?” Sang Kepala Lapas Batu menoleh pelan. Kedua matanya menyipit. “Pihak mana yang menetapkannya sebagai terpidana?”

“Hm… soal itu…” Sipir yang berperawakan gemuk, menampilkan gelagat salah tingkah. “Satu purnama lalu, Penyidik Johar dari Ibukota Rajyakarta menitipkan bocah itu…”

“Dan kau menerima tahanan baru tanpa mengabari aku…?”

“Maaf, Tuan.” Sang sipir membungkukkan tubuh sampai demikian rendahnya. Kedua kaki lunglai dan nada suara bergetar, “Sungguh… sungguh diriku lalai melapor…”  

“Siapa yang menjadi korban…?” Kepala Lapas beralih kepada sipir penyidik yang mendampingi. 

“Lima tahanan…”

Sang Kepala Lapas Batu kemudian mengeluarkan sebuah benda pusaka. Ukurannya sebesar dua kepalan tangan, dan dikenal sebagai Permata Pringgondani yang teramat langka. Permata Pringgondani biasanya memiliki fungsi untuk menyimpan kenangan masa lalu, dan menampilkan kenangan tersebut pada permukaannya. Permata Pringgondani kali ini sedikit berbeda. 

Lelaki dewasa itu menebar jalinan mata hati dan mengalirkan tenaga dalam, dan tak lama kemudian Permata Pringgondani di tangannya memancarkan cahaya redup. Samar, pada permukaan permata terlihat lima ahli yang sedang mengerubungi dan bersiap membekuk seorang anak remaja nan malang. Potongan kejadian pada permukaan permata berkedip-kedip, dan adegan selanjutnya yang ditampilkan adalah aura bernuansa kehijauan telah membungkus tubuh si anak remaja yang berada dalam keadaan terjepit. Gambaran kejadian berkedip dan terpotong lagi. Selanjutnya aura kehijauan telah membangun wujud selayaknya jalinan akar, berpencar, dan melesat mengincar!

Dada dan perut tiga lelaki dewasa ditusuk akar dan terdorong sampai menghantam dinding batu. Seorang lelaki dewasa lain tertikam tepat di leher dan roboh di tempat. Sementara itu, lelaki dewasa terakhir tergopoh mundur beberapa langkah, raut wajahnya pucat. Masih terdapat satu lagi jalinan akar merayap di permukaan lantai, yang tetiba melejit lurus ke atas dan menembus dagu. Wajahnya pun pecah berhamburan karena kekuatan yang menyeruak dari bagian dalam kepala! 

Sipir, sipir penyidik dan dua ajudan membelakkan mata, sedangkan sang Kepala Lapas Batu menarik jalinan mata hati. Sekujurnya tubuhnya bersimbah keringat, sebagai petanda bahwa memanfaatkan Permata Pringgondani untuk menampilkan kejadian yang berlalu banyak menguras tenaga dalam. 

“Bekuk dia, dan serahkan kepada Kepala Lapas Besi!” perintah sang Kepala Lapas kepada dua ajudannya. Jari telunjuknya mengacung kepada sipir yang gemuk. 

“Tuan… Maafkan hamba, Tuan…,” isak sang sipir. Ia bersimpuh sujud di tempat. 

“Engkau bersalah karena menempatkan tahanan tanpa melalui proses yang wajar!” 

Di Penjara Pulau Kembang Nusa, para Kepala Lapas merupakan penuntut, hakim, sekaligus algojo. Mereka adalah penguasa mutlak. Bagi Kepala Lapas, sipir yang menerima dan menempatkan tahanan tanpa memberi laporan, merupakan pelanggaran terhadap kewenangan dan penyalahgunaan jabatan. Pelanggaran berat!

“Segera sampaikan pesanku kepada Kelapa Lapas Gleger. Kita akan menyerahkan seorang tahanan kepada mereka,” lanjut sang Kepala Lapas Batu kepada sipir penyidik, yang tentunya mengetahui bahwa atasannya kali ini mengacu kepada tokoh yang lain. 

Berkas sinar mentari merambat dari jendela kecil berjeruji besi. Kehangatan menerpa pipi seorang anak remaja yang tergolek lemah di lantai dingin. Sekujur tubuh dipenuhi dengan memar dan lebam, tulang rusuk retak, yang kesemuanya membuat rasa sakit teramat sangat. Selama tiga hari dan tiga malam, ia sama sekali belum mencicipi makanan dan minuman sama sekali. Suhu tubuhnya tinggi, hanya menghitung waktu sebelum ia terserang demam. 

Bintang Tenggara membuka kelopak mata, berat rasanya, namun ia memaksa. Silau. Hanya ini yang mampu ia lakukan, karena jangankan bangkit berdiri, menggerakkan jemari saja sudah tiada dapat dilakukan. 

Menghadapi derita di dalam kurungan penyidikan, si anak remaja telah memantapkan hati. Ia akan mengungkap jati diri sebagai sang Yuvaraja, Putra Mahkota dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang kepada para sipir. Ia berharap agar mereka tak lagi bersikap dan berlaku sewenang-wenang, bahkan melepaskan dirinya yang tiada bersalah. Atau setidaknya, ia akan memperoleh kesempatan untuk menjalani pengadilan sesuai tata aturan yang benar. 

Derap langkah kaki di kejauhan terdengar merambat di lantai. Ibarat algojo yang siap memenggal kepala, kedatangan para sipir penyidik merupakan sebuah mimpi buruk yang tak berkesudahan. Tubuh Bintang Tenggara meringkuk dengan sendirinya tatkala langkah-langkah tersebut semakin mendekat. 

“Kita belum mendapatkan keterangan dari bocah ini…,” ujar seorang sipir penyidik kepada rekannya di pintu jeruji besi kurungan. 

“Perintah adalah perintah… Kita harus segera memindahkannya…”

“Sungguh malang sekali nasibnya… Jikalau saja ia mengaku bersalah atas tindakan membantai lima tahanan lain, maka ia tak perlu melewati siksaan. Paling buruk, ia akan dipindahkan ke Lapas Besi atau Lapas Kembang Kuning…”

“Kepala Lapas Batu telah menyelidiki sendiri dan menjatuhkan hukuman. Membunuh sesama tahanan merupakan salah satu kejahatan paling berat.”

“Tapi… hanya tahanan yang menanti hukuman mati yang ditempatkan di sana…” 

Jeruji besi tempatnya disekap berderak dibuka, Bintang Tenggara mengumpulkan tenaga untuk bersuara dan membuka jati diri…

“Mendengar nama tempat terkutuk itu membuat bulu kudukku berdiri…” 

“Ngeri! Aku tak hendak ke tempat itu… Kau masih ingat Jamal, rekan seangkatan kita…?”

Kedua sipir penyidik saling pandang ketika mengangkat tubuh Bintang Tenggara. Mereka menempatkan anak remaja itu di atas sebuah tandu. 

“Iya. Sungguh malang nasib Jamal… Dia menjadi gila karena bertugas di sana…”

“Kudengar kegilaannya disebabkan oleh bisikan-bisikan salah seorang tahanan…”

“Benar. Disebabkan oleh tahanan yang berasal dari ujung utara Pulau Barisan Barat. Awalnya tahanan tersebut dilaporkan warga karena menyebabkan keresahan. Setelah melalui persidangan, ditetapkan bahwa dia terbukti bersalah…”

“Bersalah atas pelanggaran apa…?”

“Pelanggaran terberat menurut pemerintah di Ibukota Rajyakarta…”

“Hm… Apakah karena terbukti membunuh…?”

“Bukan…”

“Melakukan uji coba terhadap sesama ahli…?”

“Bukan…”

“Sebagai anggota Partai Iblis…?”

“Bukan juga…”

“Lantas apa…?”

“Ia terbukti bersalah atas kejahatan… meramal!”

Kedua bola mata Bintang Tenggara membelalak karena mencuri dengar pembicaraan kedua sipir penyidik!