Episode 387 - Pulau Kembang Nusa (1)



Sangkar tersebut dibangun oleh formasi segel yang unik. Susunannya rumit dan di antara simbol-simbol yang digunakan, terlihat beberapa yang tak lazim. Di dalam sangkar, berdiam seekor burung yang warna bulunya hitam mengkilap. Jikalau berada di bawah sinar mentari, bulu-bulu tersebut dapat berubah menjadi biru semu. Yang juga unik dari penampilan sang burung, adalah panjang ekor yang mencapai sekira setengah meter dan berbentuk melengkung. Sebagai tambahan, pada bagian kaki burung memiliki warna merah gelap, dan karena telah mencapai usia dewasa terdapat sisik dan lekukan seperti belimbing.

Sangkar dengan seekor burung di dalamnya, terletak di salah satu sudut pekarangan luas, yang dinaungi oleh bayangan tembok nan tinggi. Dari arah berlawanan, seorang lelaki dewasa muda melangkah santai, namun sangat terukur sehingga tiada menimbulkan suara sama sekali. Tiba di sisi sangkar, ia lantas memancungkan bibir dan bersiul seolah mengerti bahasa burung dan mengajak bercengkerema. Tindakan tersebut ditanggapi oleh si burung kicau, sejenis murai, yang melompat-lompat girang karena disambangi oleh pemiliknya.

Lelaki dewasa muda itu tetiba berhenti bersiul, dan melontar pandang jauh ke arah barat. Kelopak mata menyipit dan mata hati menebar jauh, ia lantas mendapati sebentuk formasi segel yang terbang dilatarbelakangi langit petang nan jingga keemasan. Semakin mendekat, dapat kini dipastikan bahwa formasi segel tersebut berwujud layaknya seekor burung.

Lelaki dewasa muda sontak merapikan penampilan dan berdiri tegap ibarat tentara yang khusyuk saat upacara bendera berlangsung. Di hadapanya, formasi segel berwujud burung tersebut tiba, lalu berpendar dan mengurai, sebelum merangkai kembali membangun wujud manusia.

“Guru Yang Terhormat,” lelaki dewasa muda itu membungkukkan tubuh kepada formasi segel yang kini berwujud seorang lelaki dewasa dengan rambut kusut dan kumis serta janggut yang panjang berantakan. 

“Muridku Khandra, ada sebuah tugas bagimu…,” ujar formasi segel tersebut dengan nada suara yang lelah dan lemah.

“Baik, Guru!” Pembawaan Guru Muda Khandra alias Balaputera Khandra, yang biasanya tenang dan santai, kini terlihat amat sangat serius. “Apakah gerangan tugas dimaksud, wahai Guru?”

“Seseorang mengambil sesuatu yang bukan miliknya…” Belum rampung menyampaikan pesan, formasi segel nan berwujud Balaputera Ragrawira tetiba memudar karena tenaga dalam yang diimbuhkan telah terkuras. Sebagai gantinya, sebuah lencana jatuh tergeletak di tempat di mana formasi segel tersebut tadinya berdiri. 

Balaputera Khandra mengibaskan jemari dan lencana dimaksud melesat ke dalam genggamannya. Ia mencermati perintah yang diberi, lantas mengangguk, “Tugas segera dilaksanakan!” 


===


Sejak sehari sebelumnya, tiada derak dan goncangan roda yang dirasa, sebaliknya kereta kuda yang berperan sebagai alat transportasi tahanan mengalun-alun ringan dimainkan ombak. Dengan kata lain, kereta kuda tersebut diperkirakan sedang menumpangi sebuah perahu menyeberangi perairan selat. 

Di dalamnya kereta kuda, tergeletak dua remaja dengan tangan dan kaki yang terbelenggu. Bintang Tenggara terlentang tiada berdaya di dalam ruang nan gelap dan lembap. Hanya sedikit berkas sinar mentari yang dapat menerobos melalui sela-sela jendela kecil nan berjeruji besi. Sungguh tiada pernah sekalipun ia membayangkan akan terjatuh dalam keadaan yang sedemikian rupa. 

Kendatipun demikian, perhatian anak remaja tersebut kini sedang terpusat pada belenggu-belenggu yang mengikat di pergelangan tangan serta pergelangan kaki. Dua pasang borgol untuk lebih tepatnya, yang berfungsi untuk membatasi gerak, mencegah pemakainya melarikan diri, serta membangun pesan nestapa bahwa hak untuk hidup bebas telah dicabut paksa. 

Borgol-borgol tersebut bukan hanya terbuat dari bahan baku logam hitam yang teramat keras, namun juga diimbuh dengan formasi segel nan berlapis-lapis. Lapisan luar formasi segel menambah daya tahan pada logam bahan dasar borgol, agar tak mudah dipatahkan atau dibuka paksa. Lapisan formasi segel berikutnya memiliki dua fungsi dalam membatasi keahlian: fungsi pertama adalah mengaburkan jalinan mata hati, sementara fungsi kedua membatasi aliran tenaga dalam dari mustika di ulu hati. 

Bintang Tenggara mencermati dengan sangat seksama. Benaknya berkutat dalam kekaguman. Siapakah dia yang mampu merapal formasi segel nan demikian canggih, sampai digunakan oleh pihak berwenang Negeri Dua Samudera? Andai saja dirinya dapat menggunakan keterampilan khusus sebagai perapal segel, maka akan sangat tertantang ia mengurai jalinan formasi segel pada borgol-borgol tersebut.

“Hiks…”

Bintang Tenggara menoleh ke sisi kanan, dan mendapati seonggok tubuh yang memunggungi dirinya. Dalam keadaan sama tiada berdaya, tubuh tersebut bergetar pelan senada dengan isak tangis nan tertahan. Berbeda dengan Bintang Tenggara yang bahkan dalam keadaan sulit sekalipun dapat mencari sesuatu yang menarik rasa ingin tahu, Bulian Tungkal berbeda. Teman seperjalanannya itu lebih realistis menatap nasib. 

“Tenanglah, Bulian…” Bintang Tenggara berupaya menenangkan. “Kita akan baik-baik saja…”

Kata-kata Bintang Tenggara dijawab oleh tubuh yang semakin bergetar tiada terkendali serta dibarengi isak tangis yang jelas terdengar. 

“Di Ibukota Rajyakarta nanti kita akan menjalani sidang pengadilan. Para hakim akan menemukan bahwa kita tiada bersalah, dan oleh karenanya akan membebaskan tanpa syarat,” ujar Bintang Tenggara penuh keyakinan. 

“Persidangan!? Hakim!? Bebas!?” Bulian Tungkal menggolekkan tubuh cepat. “Apakah otakmu sudah tumpul!?” 

Bintang Tenggara terperangah. Tiada ia menyangka bahwa teman seperjalanan yang selama ini senantiasa berlaku ramah, dapat secara tiba-tiba menyergah penuh amarah.

“Kau tahu apa yang akan menimpa diri kita!? Mereka akan sengaja berlama-lama mengurung kita dengan alasan menanti pengadilan. Di dalam kurungan, kita akan digebuki, disiksa, dipaksa mengaku atas kejahatan yang tak pernah kita lakukan!”

“Tapi…”

“Tidak akan ada pengadilan!” sergah Bulian Tungkal memotong kata-kata yang akan keluar dari mulut Bintang Tenggara. Ia lanjut menumpahkan kesedihan nan mendalam. “Nasibmu mungkin berbeda! Putra saudagar kaya dengan banyak keping-keping emas! Kau bahkan mengenal Saudagar Senjata Malin Kumbang nan tersohor di seantero Negeri Dua Samudera! Kau dapat menyogok jalan keluar dari nasib malang ini! Sedangkan aku… Aku yang tak punya apa-apa akan membusuk di penjara sebagai terpidana kaki tangan pembunuh bayangan!” 

Bintang Tenggara terdiam. Sulit baginya memahami bahwa seseorang yang tak bersalah dapat menerima hukuman tanpa melalui sidang pengadilan. Selain itu, pihak berwenang tentu tak akan menerima sogokan, karena sebagai penegak keadilan mereka senantiasa memperjuangkan kebenaran tanpa pandang bulu.

“Sungguh dikau keliru dalam menilai, wahai Bulian Tungkal…” Bintang Tenggara masih berupaya meyakinkan. Dalam pandangannya, keadaan diborgol tanpa daya kiranya membuat Bulian Tungkal demikian tertekan sehingga tiada dapat berpikir lurus. “Keadilan tiada memihak. Di mata hukum, kaya dan miskin, jabatan dan garis keturunan, tak ada bedanya. Kita akan dinyatakan tak bersalah karena memang kebetulan saja berada di dekat tempat kejadian perkara pembunuhan.”

“Apakah kau selama ini hidup di negeri dongeng!?” raung Bulian Tungkal. Ia lalu menangis tersedu-sedu. “Satu-satunya kesalahanku adalah memasang tarif yang terlalu tinggi sebagai pemandu wisata… cuma itu… Huuuuu…uuuu….” 

“Brak! Brak! Brak!” 

Tetiba dinding kereta kuda yang menampung dua remaja sebagai tersangka kaki tangan pembunuh bayangan digedor. “Jangan berisik! Sebentar lagi kita tiba!”

Ingatan Bintang Tenggara beralih kepada gambaran Ibukota Rajyakarta nan melayang perkasa di langit tinggi. Sungguh pemandangan nan menakjubkan. Awan-awan berarakan rendah, membentur sisi pulau di angkasa lalu pecah berhamburan layaknya ombak menerpa pantai. Bayangan di dalam benak anak remaja itu kemudian berlanjut kepada akar-akar maha besar dan maha panjang yang berjuntai-juntai ke bawah. Sejumlah sulur-sulur akar menjangkar erat sampai ke permukaan bumi di kejauhan.

Mengingat gambaran pemandangan Ibukota Rajyakarta sungguh tak bisa dilepaskan dari kisah-kisah kepahlawanan Sang Maha Patih. Bukan hanya memindahkan pusat pemerintahan dari wilayah pusat ke ujung barat Pulau Jumawa Selatan, bersama dengan para Jenderal Bhayangkara beliau bahkan mengangkat dan melambungkan sebuah kota besar tinggi ke angkasa! Pangkal dari tindakan tersebut adalah agar ibukota baru Negeri Dua Samudera terhindar dari ancaman Perang Jagat!

Malangnya, Bintang Tenggara hanya pernah menatap pemandangan Ibukota Rajyakarta dari rawa-rawa di bawahnya sahaja. Kala itu ia tersimpang arah, kemudian terlibat dalam pertarungan berat sebelah menghadapi seorang ahli yang jauh lebih tangguh. Sedangkan kali ini, keadaan yang membawanya ke wilayah tersebut pun jauh dari angan-angan dan harapan. Namun demikian, setidaknya nanti akan ia berkesempatan menyaksikan langsung gelimang kehidupan di atas sana.

Kereta kuda terasa melambat, sebagai petanda bahwa perahu yang menampungnya sedang menepi di sebuah dermaga. Bulian Tungkal semakin tenggelam dalam nuansa duka, sedangkan Bintang Tenggara sangat menanti kesempatan mengunjungi ibukota. 

Derit logam bertemu logam terdengar beberapa kali, menandakan bahwa tak hanya satu gembok yang digunakan untuk mengamankan kereta yang membawa kedua tahanan. Pintu kereta kuda kemudian terbuka, bersamaan dengan itu menyeruak masuk sinar mentari yang silau sekaligus menghangatkan. Siluet tubuh seorang ahli nan kekar kemudian melompat naik ke dalam kereta kuda, mendirikan tubuh kedua remaja, lantas mendorong mereka ke luar. Bersusah payah kedua remaja yang tangan dan kaki diborgol menjaga keseimbangan agar tak terjatuh ke atas geladak perahu.

“Kita telah sampai di tujuan,” ujar seorang lelaki dengan perawakan kurus tinggi berkulit putih. Walau hatinya senang, raut wajahnya kaku dengan menampilkan pipi cekung dan lekuk hidung mancung yang mirip paruh burung beo. Sepasang matanya nan besar dan belok, tak lepas mengamati kedua remaja secara seksama.

Bintang Tenggara dan Bulian Tungkal, mengabaikan kata-kata Penyidik Johar. Gaya tokoh tersebut memanglah meyakinkan, namun dalam hal kinerja ia ternyata payah. Buktinya, sebagai seorang penyidik yang memperoleh mandat dan berasal dari Ibukota Rajyakarta, mengapa bisa ia salah menilai, dan lebih buruk lagi, salah tangkap!

Masih membiasakan mata dengan cahaya terang di siang hari, Bintang Tenggara memutar tubuh dan mendongak ke atas. Akan tetapi, tiada ia menemukan gumpalan pulau yang melayang di langit tinggi. Yang dapat ia saksikan, adalah kubah besar dari formasi segel yang mengelilingi daratan di hadapan. Megah sekaligus kokoh sekali, dan menyibak aura yang sangat menekan. Dari susunannya, bahkan bila dirinya memperoleh kembali keterampilan khusus merapal formasi segel, maka akan sangat kesulitan membuka formasi segel tersebut!

Dimanakah ini…? Mungkinkah dirinya masih perlu menempuh perjalanan darat sebelum benar-benar tiba di Ibukota Rajyakarta…?

Penyidik Johar mengangkat sebuah tas panggul berukuran sedang di tangan kiri, dan membuka telapak tangan kanan yang mana terlihat menggenggam empat bentuk cincin. “Aku ‘menyita’ barang-barang ini, dan akan membawanya sebagai barang bukti…,” ujarnya dengan nada puas.

Maling! batin anak remaja itu berteriak. Tas panggul tersebut tak lain merupakan miliknya, dan di dalam tersimpan Sisik Raja Naga yang dibuka paksa saat tindakan penahanan dilakukan beberapa hari silam, serta terdapat juga berbagai jenis lencana. Demikian pula dengan dua bentuk cincin Batu Biduri Dimensi, satu merupakan pemberian Lampir Marapi saat berada di Pulau Dua Pongah dan berisi pakaian, beberapa lembar Sirih Reka Tubuh, serta Tempuling Raja Naga yang hancur ujung tajamnya. Cincin Batu Biduri Dimensi kedua adalah pemberian Maha Guru Segoro Bayu saat mampir ke Kota Ahli, di dalamnya tersimpan bahan makanan dan keping-keping emas hasil hajatan akbar pewaris takhta di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Cincin ketiga adalah Cincin Gundala Si Putra Petir, pusaka pinjaman dari keluarga Canting Emas, sedangkan yang terakhir adalah cincin darurat pemberian Maha Guru Sangara Santang.

“Sebaiknya dikau menyimpan baik-baik barang-barang itu…,” Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Kali ini, kedua matanya melotot dan wajah memerah padam. Amarahnya memuncak, serta hawa membunuh merambat di udara. 

“Tentu saja dengan senang hati aku akan ‘menyimpannya’. Akan kujaga dengan sangat baik, seolah merupakan milikku sendiri,” tanggap Penyidik Johar santai. Ia dapat membaca ancaman di balik kata-kata anak remaja tersebut, namun tiada yang perlu dikhawatirkan. “Sepertinya pengakuanmu sebagai anak saudagar kaya bukanlah rekayasa. Lencana-lencana milikmu adalah asli adanya, dan tentu didapat dengan membayar harga tinggi…” 

Bintang Tenggara menghela napas panjang sebagai upaya menenangkan. Kini ia sadari bahwa si penyidik itu tak lebih dari penyamun rendahan yang memangsa dengan dalih menjalankan tugas sesuai kewenangannya. Bangsat! Akan kubongkar kebobrokanmu saat persidangan nanti! batin anak remaja tersebut menyimpan dendam. 

Kedua remaja kemudian dibawa turun dari atas perahu. Di dermaga telah menanti setidaknya sembilan ahli. Perawakan mereka besar dan garang, yang mana setiap satunya berseragam lengkap ibarat prajurit yang siap berangkat perang. 

“Kutitipkan mereka…,” ujar Penyidik Johar sembari menyalami seorang ahli yang kiranya mengepalai kedelapan prajurit. 

Di saat itu, sudut mata Bintang Tenggara menangkap perbuatan Penyidik Johar yang secara sembunyi-sembunyi menyerahkan beberapa keping emas! Kepingan emas milik dirinya! Benar kata-kata Bulian Tungkal, para pejabat di Negeri Dua Samudera memiliki perangai bobrok!

Tanpa basa-basi lebih lanjut, Penyidik Johar segera undur diri. Ia melompat naik ke atas perahu. 

Tokoh yang menerima sogokan dari Penyidik Johar merupakan seorang lelaki bertubuh gempal dan berperut buncit. Ia mengusap-usap perut sebagai ungkapan hati yang riang. Di hadapan Bintang Tenggara, ia menyunggingkan senyum sambil berujar penuh semangat, “Selamat datang di rumah baru kalian… Semoga betah menetap di Pulau Kembang Nusa!” 

“A… A… APA!?” Mata melotot dan mulut menganga, Bulian Tungkal berteriak histeris saat mendengar nama tempat tujuan mereka. Belum memperoleh jawaban, benaknya kesulihan mencerna nasib malang yang mendera. Ibarat kehilangan tulang punggung, tubuhnya lantas lunglai jatuh di tempat.