Episode 91 - Api Takdir yang Padam



Malam hari berikutnya.

Ferdian dan Iblis Hitam yang berada di dalam mobil sedang mengawasi sebuah villa di depannya. Mereka berdua sedang menunggu pasukan polisi untuk menempati posisi masing-masing sebelum menyergap geng yang berada di dalam villa tersebut.

“Mereka sudah berada di posisi masing-masing, semua persiapan sudah siap.” Ucap Ferdian setelah menerima pemberitahuan dari pasukan polisinya.

“Oke.” Iblis Hitam menggangguk dan membuka pintu mobil.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Ferdian.

“Aku akan langsung masuk ke dalam.” Jawab Iblis Hitam tenang.

“Walaupun kita melakukan penyergapan, tapi mereka pasti memilki senjata.” 

“Lalu?” tanya Iblis Hitam seraya menaikan alisnya.

“Kau tidak membawa senjata apapun, apakah kau mau mati?” Ferdian merasa gila dengan apa Iblis Hitam lakukan. Mereka sudah mengumpulkan banyak pasukan, tapi dia malah ingin menyerang sendiri.

“Tenang saja, aku bisa melakukannya sendiri.” Balas Iblis Hitam lalu berjalan pergi, meninggalkan Ferdian yang masih ingin mengatakan sesuatu.

Ferdian memandang Iblis Hitam dengan muram. Dia tidak pernah melihat aksi penyergapan seceroboh ini. Tapi apa yang tidak Ferdian tahu adalah Iblis Hitam memang mengatakan yang sebenarnya, dia mampu menghadapi mereka semua, adapun pasukan yang di posisikan untuk mengelilingi villa ini adalah untuk menangkap mereka yang mencoba kabur. 

Tentu saja, meskipun dia mampu, tapi dia tetap satu orang, menangkap banyak orang sekaligus adalah hal yang mustahil.

Tanpa penundaan Iblis Hitam langsung menuju ke arah depan villa. Di sana terdapat pagar besi setinggi dua meter, tidak mungkin orang biasa bisa melompatinya. Namun, Iblis Hitam memang tidak pernah berniat untuk melompatinya.

Bam!

Pagar besi yang sebelumnya kokoh mulai sedikit penyok.

Bam!

Bam!

Bam!

Lebih banyak penyok tercipta pada pagar besi tersebut. Ferdian yang sedari tadi terus melihat ke arah Iblis Hitam merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia mengucek matanya beberapa kali dan akhirnya mau tidak mau harus percaya, karena memang itu yang terjadi.

Bam!

Satu tinjuan terakhir itu akhirnya menjatuhkan pagar besi yang kokoh tersebut. 

Keributan yang Iblis Hitam lakukan membuat orang-orang yang berada di dalam villa keluar. Ferdian merasa gugup setelah melihat mereka semua membawa senjata api di tangan masing-masing dan dalam hatinya dia merasa rencana ini tidak lagi bisa disebut penyergapan, ini adalah tantangan langsung.

Terlihat keren, juga terlihat gila dan bodoh.

“Siapa kau?”

Iblis Hitam mengabaikan pertanyaan itu dan terus berjalan dengan perlahan, dia sepertinya tidak merasa terburu-buru.

“Berhenti! Jika tidak kau akan mati.”

Iblis Hitam tetap tidak bergeming dengan ancaman yang mereka berikan.

“Sialan!”

Seorang pria dengan senapan di tangannya mengarahkan moncong senjata pada Iblis Hitam dan segera menarik pelatuknya. Peluru terbang keluar dan mengarah pada Iblis Hitam tepat di kepalanya.

Ferdian mengira Iblis Hitam akan segera jatuh tepat setelah peluru ditembakan. Namun, setelah beberapa saat Iblis Hitam tetap berdiri di tempatnya. Ferdian mengira peluru itu pasti meleset, akan tetapi orang-orang di depan Iblis Hitam tahu apa yang terjadi sebenarnya terjadi.

Peluru itu tidak meleset, itu tepat mengarah pada Iblis Hitam. Namun, kemudian Iblis Hitam menggerakan tangannya dan menangkap peluru tersebut, lalu detik berikutnya tangan yang dia gunakan untuk menangkap peluru terbakar dan peluru itu berubah menjadi bubuk.

“Tidak mungkin.”

“Apa-apaan itu?”

“Siapa dia sebenarnya?”

“Pakaian serba hitam, apa mungkin dia Iblis Hitam?” gumam pelan seseorang.

Setelah mendengar itu, mereka semua langsung mengingat sebuah rumor yang telah lama beredar. Dikatakan terdapat seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam menyerang orang-orang yang dia temui pada malam hari, kemudian orang-orang menyebutnya sebagai Iblis Hitam.

“Si Iblis Hitam? Apa yang dia lakukan di sini? Kita tidak memiliki masalah dengan dia.”

“Siapa peduli, berani menyerang kita seorang diri, dia pasti sudah gila.”

“Benar, kita pasti bisa membunuhnya.”

Walaupun telah melihat adegan hebat dari Iblis Hitam yang berhasil menangkap satu buah peluru, tapi mereka tetap percaya dia tidak mungkin bisa menghapi ratusan peluru sekaligus.

“Tembak dia secara bersamaan.” 

Kemudian mereka mengarahkan moncong senjata api masing-masing ke arah Iblis Hitam. Ferdian yang berada di dalam mobil menjadi sangat gugup ketika mereka semua mengarahkan senjata ke Iblis Hitam. Menurutnya, meskipun kali ini ada yang meleset, tapi pasti ada yang kena juga.

“Tembak!” 

Dengan aba-aba tersebut mereka semua langsung menarik pelatuk senjata masing-masing. Peluru terbang keluar dari moncong senjata api dan mengarah pada Iblis Hitam yang masih berdiri menatap mereka dalam diam.

Iblis Hitam tidak bergeming, dia menyapu tangannya dari kiri ke kanan dan kemudian sebuah perisai api tercipta di depannya. Perisai api itu menghalangi jalannya peluru dan kemudian mengubahnya menjadi bubuk.

“I-Iblis! Dia benar-benar iblis!” ucap seseorang seraya terjatuh. Matanya menatap ngeri pada Iblis Hitam yang masih tidak bersuara.

Mereka merasa ngeri dengan apa yang baru saja mereka lihat. Itu benar-benar di luar nalar dan sangat tidak masuk akal, tapi kenyataannya jelas di depan mata mereka sendiri. Lalu terbesit satu kata di dalam benak mereka setelah melihatnya, yaitu ‘Iblis’.

Namun, masih ada yang cukup berani di antara mereka, dia maju dan menarik pedang dari sarungnya dan berlari kencang menuju Iblis Hitam. Setelah jarak mereka berdua cukup dekat, pria itu mengayunkan pedang secara horizontal. 

Masih tetap berdiri di tempatnya, Iblis Hitam menghalau pedang tersebut dengan telapak tangannya. Ketika pedang dan telapak tangan itu bertemu, laju pedang itu langsung terhenti. Pria itu terkejut dan tidak percaya bahwa ada yang bisa menghentikan pedangnya hanya dengan telapak tangan saja. 

Namun, pria itu tidak menyerah, meskipun dia berpikir bahwa tidak mungkin dia bisa mengalahkan Iblis Hitam, akan tetapi ada suara kecil di dasar hatinya yang terus meneriakan kemungkinan.

Pria itu kembali mengayunkan pedangnya, akan tetapi dengan sangat mudah bisa dihentikan oleh Iblis Hitam dengan tangan kosong saja. Bahkan tidak ada bekas goresan di tangannya tersebut walaupun sudah berbenturan dengan pedang.

“AHHHH!” pria itu berteriak seraya menusukkan ujung pedang ke arah dada Iblis Hitam.

Namun, sebelum ujung pedang mengenainya, pedang itu segera terhenti. Pria itu melihat dengan ngeri pada pedangnya yang dihentikan menggunakan dua jari saja oleh Iblis Hitam. Lalu tiba-tiba api keluar dari tangannya dan kemudian bilah pedang itu meleleh.

“Ahhh!” pria itu berteriak ketakutan dan segera melepas pedangnya.

Pria itu berjalan mundur lalu terjatuh pada pantatnya. Tidak lama kemudian cairan pesing keluar membasahi celana dan lantai. Namun, pria itu tidak peduli, dia terus mencoba untuk menjauh dari Iblis Hitam. 

“Aku tidak mau membunuh, jadi lebih baik kalian menyerah saja.” Ucap Iblis Hitam dengan tenang.

“Baik, kami menyerah.”

“Ya, aku mohon, kasihanilah kami.”

“Aku tidak akan mengulanginya lagi, tapi tolong ampuni nyawa kami.”

Mereka semua bertekuk lutut dengan wajah yang menyedihkan. Di depan kekuatan yang tidak bisa mereka hancurkan, mereka hanya bisa menyerah dan mohon ampun. 

Ada beberapa yang mencoba kabur, tapi Iblis Hitam tidak peduli, karena sudah ada tim yang akan menjegat jalur pelarian mereka, jadi pelarian itu sangat sia-sia. Dan alasan kenapa dia tidak langsung mengalahkan mereka semua adalah untuk menanamkan ketakutan supaya mereka tidak akan berani lagi untuk mengulanginya.

Setelah itu Iblis Hitam berjalan dengan santai dan masuk ke dalam villa, tidak lagi memedulikan orang-orang yang bertekuk lutut seraya menangis di belakangnya.

Di dalam villa tersebut masih terdapat beberapa orang, tapi tidak butuh waktu lama bagi Iblis Hitam untuk mengalahkan mereka. Tidak lama kemudian Ferdian ikut masuk ke dalam villa, di sana dia tidak merasa terkejut lagi setelah melihat para gengster itu babak belur di lantai.

“Apakah sudah semuanya?” tanya Ferdian pada Iblis Hitam.

“Entahlah.” Jawab Iblis Hitam singkat.

“Akan aku bantu.”

“Hmm.” Iblis Hitam mengangguk pelan.

Ferdian berjalan ke lantai dua dan menemukan sebuah pintu yang terkunci. Dia mencoba untuk mendobraknya, tapi tetap tidak mampu dia buka, Ferdian sekali lagi mencoba mendobraknya tapi tiba-tiba pintu itu terbuka. 

Ferdian jatuh terjerembab, lalu tiba-tiba sesosok pria duduk di atas tubunya.

“Haha, kita ketemu lagi, Pak Polisi.” 

“Siapa kau?” Ferdian berteriak seraya mencoba untuk melepaskan diri.

JLEB

Pria itu menekan pisau kecil ke bahu Ferdian.

“Argghhh.” Ferdian berteriak keras.

“Haha, makanya jangan berontak.” 

Ferdian mencoba untuk memberontak lagi tapi tusukan pisau kembali menancap pada bahunya. Pria itu berdiri lalu menendang tubuh Ferdian dengan keras berkali-kali. Ferdian hanya bisa mencoba untuk menahan tendangan itu dengan kedua tangannya.

Ferdian melirik ke arah pria itu dan terkejut, wajah itu sudah dia lihat tempo hari. Wajah tampan dengan senyum yanag memesona. Dia adalah Dokter Rama.

“Kau...”

Rama berjongkok di depan Ferdian dan tersenyum bahagia. Pisau kecil di tangannya bergerak cepat menuju leher Ferdian. Namun, Ferdian tidak diam saja, dengan tangannya dia mencoba untuk menghalau laju pisau tersebut.

JLEB.

Pisau menembus telapak tangan Ferdian. Rama tertawa terbahak-bahak sementara Ferdian berteriak kesakitan. 

“Semua ini karenamu, aku sudah tidak ragu lagi untuk membunuh, terima kasih, Pak Polisi.” Ucap Rama dengan tulus.

Rama menarik pisau yang menancap di telapak tangan Ferdian dan kemudian menusukannya lagi menuju leher Ferdian. Namun, tiba-tiba saja sebuah tendangan keras mengenai wajah Rama dan membuat dia terlempar ke dinding, darah segar mengalir dari bibirnya.

Tanpa menyeka darah itu Rama kembali tersenyum. Sebuah senyuman yang tulus dan memesona, tapi karena ada darah itu membuat senyum tersebut terlihat menyeramkan.

Iblis Hitam mengangkat tangannya dan mengarahkan bola api ke arah Rama. Bola api tersebut meluncur cepat ke arah Rama dan membakarnya. Di balut oleh api yang menyala, tawa Rama tidak pernah berhenti.

“Tidak, aku tidak mau membunuh!” teriak Iblis Hitam.

Kemudian api yang membakar tubuh Rama segera padam dan meskipun dia memiliki luka bakar yang parah di sekujur tubuhnya, tapi nyawanya masih terselamatkan.