Episode 385 - Rahasia


Seorang lelaki dewasa bertubuh tambun dan berkepala gundul mengendap-endap. Ia menoleh ke kiri dan kanan sebelum membuka pintu, lantas melangkah masuk. Sebelum pintu ditutup, sekali lagi ia memastikan bahwa tak ada yang mengekori. Kemudian, secara perlahan dan sebisa mungkin tiada menimbulkan suara sama sekali, pintu ditutup. Sungguh pelik, padahal ia sedang memasuki ruang kerjanya sendiri di dalam gedung milik sendiri pula. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang duduk di balik sebuah meja kerja yang terbuat dari kayu mahal nan besar lagi mewah. Pelahan, ia mengeluarkan sebuah lencana dari dalam saku, dan meletakkannya pada permukaan meja. Bentuknya lencana tiada beraturan, seperti lempengan batu alam dan tanpa ukiran apa pun pada permukaannya. Sebagaimana diketahui, ini adalah lencana khas milik kelompok tertentu.  

Menghela napas panjang, ia mengimbuhkan tenaga dalam serta menebar jalinan mata hati kepada lencana batu tersebut. Segera setelah itu, bayangan hitam merayap pada permukaan meja dengan lencana tadi sebagai pusatnya. Lantas bayangan tersebut membagi diri menjadi enam cabang dan menyebar ke segala arah. Satu bayangan terhubung kepada diri Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

Tak lama, dari ujung bayangan-bayangan yang lain, menyeruak bayangan yang menyerupai sosok manusia. Tak semua cabang bayangan terlihat menampilkan sesiapa pun, hanya tiga yang mencirikan siluet tubuh dari perut ke atas. Sangat rinci bayangan-bayangan tersebut mewakili anggota-anggota kelompok yang mana Saudagar Senjata Malin Kumbang merupakan anggotanya..

“Kau terlambat!” hardik salah satu bayangan kepada tokoh yang baru saja bergabung. 

“Saudaraku Wrendaha, sungguh diriku terbuai dalam tawar-menawar nan berlangsung sengit. Semua kulakukan demi tujuan kita bersama…” 

“Tiada mengapa…,” sela suara lain yang juga mewakili bayangan sosok lelaki. Jikalau Bintang Tenggara saat ini berada di dalam ruangan kerja tersebut, dapat kiranya ia mengidentifikasi suara dan siluet bayangan tersebut sebagai Sesepuh Kertawarma dari Perguruan Maha Patih.

“Pertemuan rutin Kekuatan Ketiga dimulai,” tukas sosok bayangan perempuan. Lekuk dadanya terlihat jelas, dengan bentuk payudara padat yang mana pada ujungnya terdapat bulir sesuatu kiranya lebih besar dari rata-rata milik perempuan, serta mancung mengehadap ke depan. Agaknya saat ini tokoh di balik bayangan tersebut sedang berendam di pemandian air panas.

“Apakah kita tiada menanti kehadiran Saudara Sugema dan yang lain…”

“Mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing,” tanggap Balaputera Wrendaha cepat dan mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam pokok pembahasan. “Sementara ini, empat dari kita sudah cukup mewakili untuk saling berbagi dan menyusun rencana ke depan.” 

“Perihal para Raja Angkara,” lanjut sosok bayangan perempuan. “Kita kehilangan jejak Raja Angkara Durhaka.”

“Diriku yang membangkitkan beliau, maka diriku pula yang akan menelusuri,” sahut Sesepuh Kertawarma.

“Raja Angkara Durjasa telah terlepas dari formasi segel yang mengurungnya di Pulau Belantara Pusat dan terakhir diketahui bertandang ke Pulau Dewa. Raja Angkara Durkarsa sedang mengembalikan kekuatan di lautan, namun jejaknya senantiasa berpindah-pindah. Raja Angkara Durjana masih berdiam diri di Partai Iblis. Satu-satunya yang belum diketahui keberadaannya adalah Raja Angkara Dursila.”

“Kelima Raja Angkara haruslah berkumpul bila kita hendak menggulirkan rencana…” Sesepuh Kertawarma mengingatkan.

“Kita akan terus mengawasi mereka.” Balaputera Wrendaha menutup pembahasan pertama dan segera masuk kepada pembahasan berikutnya. “Akibat kejadian di Perguruan Budi Daya, kita banyak kehilangan hasil penelitian. Maha Guru Prima Gama menyita sebagian besarnya, sehingga saat ini Saudara Sugema terpaksa bekerja berkali lipat lebih keras. Selain itu, kita juga kehilangan dua anggota di sana.”

“Persekutuan antar para ahli aliran putih sudah mulai mengendus gerakan kita…” Sesepuh Kertawarma menambahkan. “Kecurigaan mereka terhadap diriku pun belum sepenuhnya sirna. Ke depan, setiap satu dari kita perlu lebih berhati-hati lagi.” 

Tiga sosok bayangan lain serempak menganggukkan kepala petanda setuju. 

“Berikutnya terkait Kerajaan Kepetangan Hari,” lanjut Balaputera Wrendaha. “Dalam pertemuan sebelumnya, kita telah sepakat untuk menugaskan salah satu saudara kita ikut serta dalam sayembara pemilihan penguasa baru.” 

Bayangan perempuan dewasa Gubernur Pulau Empat Jalang, mencondongkan tubuh ke depan. “Tiga dari delapan peserta sayembara telah meregang nyawa. Kemungkinan ada yang membayar jasa pembunuh bayangan.”

“Kuyakin ‘dia’ tak akan bertindak gegabah sampai menjadi korban pembunuh bayangan. Kesempatan bagi kita memperluas kekuatan mutlak diperlukan. Akan tetapi, perlu kita mencari tahu peserta mana yang mengupah pembunuh bayangan untuk menyingkirkan saingan.”

Sebagaimana sebelumnya, ketiga sosok bayangan lain serempak menganggukkan kepala. 

“Bagaimana dengan upaya dikau merekrut anggota baru, wahai Saudara Malin Kumbang?” Balaputera Wrendaha melanjutkan kepada pokok pembahasan berikutnya. 

“Beberapa waktu lalu, kala menelusuri rantai pasokan bahan baku yang terhambat di Pulau Logam Utara, diriku kebetulan bertemu dengan seorang anak remaja nan unik. Sifatnya dingin, bahkan cenderung kejam. Tentu saudara-saudara yang lain telah mendengar musibah yang menimpa Kota Tambang Lolak…”

“Seorang anggota Partai Iblis dari Pulau Lima Dendam membuat kericuhan di sana,” sambut suara perempuan yang tak lain adalah Gubernur Pulau Empat Jalang di Partai Iblis. “Ia membakar hampir seisi kota tambang tersebut.”

“Siapakah namanya….?” Sesepuh Kertawarma hendak memastikan. 

“Kum Kecho,” tanggap Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

“Dia juga yang membakar Perguruan Maha Patih atas alasan dendam Persaudaraan Batara Wijaya,” Sesepuh Kertawarma menambahkan. “Apakah Partai Iblis juga menugaskannya untuk membuat huru-hara di Pulau Logam Utara dan Pulau Jumawa Selatan…?”

“Latar belakangnya tiada diketahui dan telah cukup lama pula sosoknya menghilang dari pantauan Partai Iblis. Demikian, tindakan yang ia ambil bukan merupakan perintah dari atasannya. Besar kemungkinan ia bertindak atas dasar kepentingan pribadi,” tanggap Gubernur Pulau Empat Jalang. 

“Jadi, remaja bernama Kum Kecho itu merupakan anggota Partai Iblis sekaligus murid di Persaudaraan Batara Wijaya…,” Balaputera Wrendaha merangkum keterangan. “Tindakannya terkesan ceroboh, namun sepertinya terdapat semacam pola.”

“Atasan langsung anak remaja itu adalah Lintang Tenggara, murid Saudara Wrendaha sendiri…,” tambah Gubernur Pulau Empat Jalang. 

“Bila demikian, diriku akan menelusuri jati diri Kum Kecho secara langsung,” sambut Balaputera Wrendaha. “Saudara Kertawarma, apakah dikau memiliki pandangan lain…?”

“Aku menyaksikan langsung betapa ia memanfaatkan senjata pusaka yang menampung unsur kesaktian api pada tingkat panas putih. Tanpa ragu ia memberangus Perguruan Maha Patih dan tindakannya itu juga memakan korban jiwa banyak murid. Sikapnya yang sedemikian akan menjadi tambahan bagi kekuatan kita, namun kekhawatiranku adalah ia nantinya tiada dapat dikendalikan.”

“Demikian telah diputuskan,” sambung Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Saudara Wrendaha akan memastikan langsung apakah Anak remaja bernama Kum Kecho layak menjadi bagian dari Kekuatan Ketiga.”


===


“Salam hormat, wahai Puan Ahli…,” sapa si pemandu wisata kepada seorang perempuan dewasa. 

Bintang Tenggara, sebaliknya, tiada mengendorkan kewaspadaan. Secara naluriah tubuhnya memberi isyarat bahwa tokoh tersebut bukanlah perempuan sembarang. Mata hatinya tiada dapat mencerna kasta keahlian sosok yang baru saja tiba itu, sehingga membuat kecurigaan tumbuh berlipat ganda. Dan karena perempuan dewasa itu tiada menyibak aura nan menekan, semakin kehadirannya menyulut ancaman. Datangnya saja dengan cara terbang, dan hanya setelah mendarat baru dapat disadari keberadaannya. 

Perempuan dewasa itu melangkah mendekat. Raut wajahnya elok dengan bentuk mata, lekung hidung dan lekuk bibir yang serasi. Bilamana dipisah-pisah dan menyematkan mata, hidung dan bibir tersebut disematkan kepada wajah beberapa perempuan berbeda, maka niscaya perempuan-perempuan tersebut akan tampil sangat mempesona. Postur tubuhnya pun ideal, tak terlalu tinggi tiada pula lebar. Mendapat cahaya temaram dari api unggun, kulit tubuhnya merona putih kemerah-merahan. Sungguh mempersona.

“Kami kebetulan sedang dalam perjalanan,” lanjut si pemandu wisata tanpa ditanya. Dari segi kemampuan komunikasi antar pribadi, jelas ia lebih piawai daripada rekan seperjalannya kali ini. Dengan santun dan penuh hormat pula ia mempersilakan perempuan dewasa itu mendekat kepada api unggun. 

Dari gelagat si pemandu wisata dalam menyambut sang tamu dan dari pembawaan perempuan dewasa itu sendiri, Bintang Tenggara menyimpulkan bahwa sosok tersebut besar kemungkinan merupakan pembunuh bayangan yang tanpa tedeng aling-aling menjagal para ahli Kasta Emas peserta sayembara. Oleh karena itu, sebaiknya tiada berlaku sembarangan di hadapannya.

“Maafkanlah kehadiran diriku yang secara tiba-tiba. Sungguh diriku juga sedang dalam perjalanan, dan hendak mencari tempat beristirahat. Diriku tertarik saat melihat api unggun ini.” Kata-kata yang keluar dari mulut perempuan dewasa itu meluncur ringan. Kesan yang ia tampilkan adalah santun dalam tutur kata, ramah dalam tindak tanduk. Biasanya, jarang ahli tingkat tinggi berperilaku yang sedemikian di hadapan ahli Kasta Perunggu dan Kasta Perak. 

Walhasil, ketiga ahli duduk mengelilingi api unggun yang seadanya. Sampai sejauh ini, tiada sepatah kata pun yang terucap keluar dari mulut Bintang Tenggara. Lebih baik diam, daripada tersalah kata kepada pembunuh bayangan yang senang mencabut nyawa ahli Kasta Emas, batin anak remaja itu. Oleh karena memikirkan setiap gerakan yang hendak diambil, tindak-tanduknya menjadi demikian kaku. 

“Api unggun ini mulai meredup,” ujar si pemandu wisata pelan. “Izinkan diriku mencari tambahan kayu bakar.” Ia kemudian bangkit berdiri, dan meninggalkan perempuan dewasa bersama dengan anak remaja yang sedang kebingungan dalam bertindak. 

Gemeretak api yang melahap ranting-ranting kering, berbaur dengan alunan suara binatang malam. Suasana demikian tenteram, namun benak Bintang Tenggara sedang berkecamuk. Ia salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa. 

“Di pergelangan tangan dan kaki dikau, apakah itu senjata pusaka…?” Tetiba perempuan dewasa itu membuka pembicaraan. Ia mengacu kepada Sisik Raja Naga. 

“Aa… a… angin malam ini… se… sejuk sekali…” Entah mengapa, jurus mengalihkan pembicaraan yang ia rapal demikian lemahnya. Bintang Tenggara sebenarnya bukan takut kepada sosok perempuan dewasa itu, namun perasaan guguplah yang datang mendera. Setelah merusak Tempuling Raja Naga, kini muncul risiko pusaka pemberian gurunya hendak digondol oleh seorang pembunuh bayangan nan digdaya. Cemas. 

“Jika tak salah cerna, maka itu adalah Cincin Gundala Si Putra Petir…,” lanjut perempuan dewasa itu mengacu kepada sebentuk cincin yang tersemat pada ibu jari.  

“Di… diriku a… akan mencari ka… kayu… bakar…” Bintang Tenggara sontak bangkit berdiri. Tanpa menanti jawaban dari lawan bicaranya, ia pula melangkah pergi.

“Tunggu…,” cegat perempuan dewasa itu pelan. “Teman seperjalananmu akan segera kembali dengan dahan dan ranting kering. Duduklah.”

Walau tanpa nada memerintah, tanpa tekanan tenaga dalam, dan tanpa hawa membunuh, suara yang keluar dari mulut perempuan dewasa itu membuat sekujur tubuh Bintang Tenggara kaku di tempat. Ia tiada dapat berkilah dan terpaksa kembali duduk di dekat api ungun. 

“Pusaka yang dikau kenakan berasal dari tubuh siluman sempurna, sedangkan unsur kesaktian yang dikau kerahkan mengandalkan bantuan cincin itu…” 

Bintang Tenggara mengangguk pelan. Setiap kata-kata perempuan dewasa itu tepat sasaran. Kini, dapat pula disimpulkan bahwa selain pembunuh bayangan, perempuan dewasa itu kemungkinan besar merupakan pula pemburu harta karun atau kolektor benda pusaka. Di dalam batin Bintang Tenggara meringis, karena berhadapan dengan lawan yang berkali lipat mengancam!

“Usahlah khawatir…,” ujar perempuan dewasa itu menenangkan. “Diriku tiada berniat merampas hak milik dikau. Namun, sungguh dikau mengingatkan diriku akan seorang guru di masa lampau…”

“Be…benarkah…?”

Perempuan dewasa itu menjawab dengan melontar pandang ke langit tinggi nan hitam lagi kelam, selayaknya sedang meneroka kenangan di masa lampau. Ia mengangguk pelan, lalu berujar, “Beliau memanfaatkan unsur kesaktian yang diperoleh dari senjata-senjata pusaka, karena unsur kesaktian miliknya sendiri sangat terbatas dalam penerapannya.”

“Apakah beliau memiliki unsur kesaktian hitam?” aju Bintang Tenggara cepat. Rasa ingin tahunya kini menaklukkan perasaan gugup, sehingga lebih lugas dalam bertutur. 

Perempuan dewasa itu menatap kepada lawan bicaranya sambil menyibak senyum nan lembut, yang seolah dapat meluluhkan batu karang sekalipun. “Tepat sekali.”

“Dengan segala hormat, Puan sempat mengatakan ‘sangat terbatas dalam penerapannya’… Bukankah hal itu berarti unsur kesaktian hitam sesungguhnya dapat dikerahkan sampai pada batasan tertentu…?”

“Berkat kegigihan serta bantuan beberapa ahli lain… Iya.” 

“Apakah guru yang Puan maksud masih hidup…?”

Perempuan dewasa itu menatap Bintang Tenggara. Tatapan matanya berubah tajam. Ia mencermati setiap gerak-gerik dan agaknya sedang menakar kemampuan dan memperkirakan jati diri anak remaja di hadapan. 

“Pu… Puan Ahli… Ma… maafkanlah kelancangan diriku!” Bintang Tenggara berujar cepat dengan nada tinggi. Kegugupan kembali merasuki. Salah tingkah, ia lantas melontar pandangan ke langit tinggi.

Di lain pihak, perempuan dewasa itu tersenyum sumringah. “Sungguh sebuah kebetulan, apakah dikau putra kedua Mayang Tenggara dan Wira…?”

Bintang Tenggara terkesiap. Dari mana perempuan dewasa itu dapat menebak dengan teramat sangat akurat…? batinnya semakin penasaran. 

“Srek!” 

Tetiba, perempuan dewasa itu bangkit berdiri. Ia melontar pandang jauh ke arah utara. Sepertinya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan perlu ditangani segera. Ia lantas melayang ringan. Namun, sebelum melesat pergi, ia menoleh kembali kepada Bintang Tenggara. “Mayang Tenggara tak akan suka… Namun, bila dikau hendak mengetahui rahasia di balik unsur kesaktian hitam, maka datanglah kepadaku di lain waktu…” 

Demikian, perempuan dewasa itu melesat terbang. Terpaan angin deras menghembus rambut dan pakaian, serta membuat tubuh Bintang Tenggara terdorong pelan. Berdiri dalam keterpanaan, beberapa pertanyaan menyeruak di dalam benak si anak remaja… Siapakah dia jati diri sosok perempuan dewasa itu…? Bagaimanakah cara menemuinya kelak…?