Episode 378 - Ancaman


“Bagaimana ia melepaskan diri dari formasi Segel Kepompong Sutera Lestari!? 

“Sungguh aku tiada mengetahui dan tiada berniat mempertanyakan. Bagiku, yang terpenting adalah beliau dalam keadaan yang baik-baik saja.” 

“Diriku menolak percaya!” seru Ginseng Perkasa. 

“Aku memiliki cara untuk membuktikan garis keturunan Wangsa Syailendra dari Trah Sanjaya,” jawab Arya Wiraraja, mengacu kepada Prasasti Darah. 

“Bagaimana mungkin Yang Mulia Elang Wuruk tega mengorbankan murid-murid tak berdosa di Perguruan Maha Patih!?”

Arya Wiraraja menghela napas panjang. “Aku tak mempermasalahkan jalan keahlian seperti apa yang hendak beliau tempuh. Kesetiaanku pada garis keturunan Batara Wijaya tak akan lekang dimakan waktu…” 

Ginseng Perkasa mengetahui bahwa Arya Wiraraja mengabdi kepada Batara Wijaya, Gadjah Mada, dan Sudah barang tentu kepada Elang Wuruk. Sungguh tokoh tersebut menjunjung tinggi kesetiaan kepada tiga generasi penguasa Negeri Dua Samudera. “Apa gunanya kesetiaan bilamana membutakan hati nurani!?” lanjutnya menyuarakan ketidakpuasan. 

“Tak ada hubungannya dengan engkau yang lebih mementingkan diri sendiri.”

“Cerminan dari kesetiaan yang dikau junjung tinggi itu, sepantasnya diwujudkan dengan membimbing beliau agar tak salah langkah. Agar beliau tumbuh dengan nilai-nilai yang sejalan dengan para pendahulunya!” Entah mengapa, hari ini sang Maha Maha Tabib Surgawi tampil bijak sangat. 

“Itu adalah pandangamu…,” balas Arya Wiraraja ringan. “Bukan pandanganku.” 

“Cih! Jangan keras kepala!” Ginseng Perkasa berubah gerah. “Dalam kaitan memberikan bimbingan, tampaknya bahkan Komodo Nagaradja lebih piawai daripada dikau!”  

Jikalau Bintang Tenggara menyimpan sebentuk cangkang siput yang memiliki kemampuan memutus jalinan mata hati antara pawang dengan binatang siluman sebagai persiapan menghadapi Kum Kecho, maka lawan pun berpandangan senada. Pada pertemuan pertama di antara mereka, Kum Kecho menyadari bahwa serangan senjata pusaka Bintang Tenggara mampu membuat kulit keras binatang siluman miliknya meretak. Meskipun hanya retakan kecil dan dapat pulih seiring waktu, namun Kum Kecho merasa bahwa ia berhadapan dengan ancaman yang nyata. (1) 

Di atas panggung, binatang siluman yang oleh Kum Kecho dinamai sebagai Kepik Cegah Tahan sepintas hanya terlihat sebagai kubah besar dan cenderung lucu, serta tiada memberi kesan yang mengancam. Apalagi, saat ini ia masih kelihatan gamang, karena tak terhubung melalui jalinan mata hati dengan tuannya. Kendatipun demikian, cangkang keras berbentuk kubah di pundaknya tiada dapat dipandang sebelah mata. Binatang siluman serangga yang diketahui memiliki unsur kesaktian logam ini, telah menyerap, atau lebih tepatnya memamah, bahan tambang sangat langka dan khas Pulau Logam Utara.

Besi Luwu, merupakan bijih besi alam tanpa perlu melalui proses pemurnian. Dikenal umum sebagai besi terkeras, titik leburnya sangat tinggi. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa untuk meleburkan Besi Luwu diperlukan sumber panas yang setara dengan matahari. Oleh karena itu, tak banyak pandai besi yang mampu mengolah logam ini. Besi Luwu adalah simbol kebesaran kota tambang. Jumlahnya sangat terbatas dan harganya tak ternilai. Ia mewakili kehormatan dan harga diri kota tambang itu sendiri. 

Untuk mendapatkan sebongkah Besi Luwu, Kum Kecho sampai membungihanguskan setengah Kota Tambang. Tak terkira berapa jumlah korban yang meregang nyawa atas tindakan tersebut. Akan tetapi, sungguh tindakan yang diperhitungkan matang demi meningkatkan kemampuan tempur. 

Berkat Besi Luwu, daya tahan Kepik Cegah Tahan melonjak menjadi berkali lipat lebih keras. Berkat daya tahan tersebut pula, Tempuling Raja Naga yang oleh Kum Kecho dinilai sebagai sebuah ancaman, berhasil dipatahkan!

Bintang Tenggara masih terpana menyaksikan senjata pusaka andalannya. Setelah kehilangan tubuh sang guru, kini ia juga merusak senjata pusaka yang diberikan. Ibarat jatuh tertimpa tangga, anak remaja tersebut patah semangat. Kedua matanya terus menatap ujung runcing Tempuling Raja Naga, yang mana sepanjang sejenggal jemari orang dewasa hancur berkeping. Senjata pusaka tersebut kini tak lebih dari sebilah galah panjang yang tumpul.

Menyaksikan lawannya lengah, Kum Kecho merangsek maju. Walau tubuh kelelahan dan sedang menderita luka dalam, ia memaksakan diri. Secepat kilat ia tiba di hadapan tubuh Bintang Tenggara sembari menghunuskan telapak tangan nan dibalut cahaya temaram…

Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam! 

“DUAK!” 

Tubuh Bintang Tenggara terlontar ke belakang, demikian pula dengan Kum Kecho. Sebuah kekuatan tak kasat mata meledak sesaat sebelum Kum Kecho melesakkan bauran jurus. Kedua anak remaja dibuat tiada berdaya!

Segenap hadirin terperangah. Para sesepuh dan maha guru yang menonton menyadari bahwa Kum Kecho melanggar adab pertarungan di dalam perguruan karena berniat melancarkan jurus mematikan. Sedangkan para murid memperkirakan bahwa Bintang Tenggara memiliki pusaka tertentu yang berfungsi melindungi dirinya dari ancaman jiwa. Cara tersebut merupakan hal yang lumrah dimiliki bagi para murid yang menyandang status sebagai Putra Perguruan. 

Kum Kecho mendarat di ujung panggung. Napas terengah, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, serta matanya mencari-cari. Ia menyadari bahwa kekuatan ledakan bukan berasal dari Bintang Tenggara, melainkan dari pihak ketiga! Siapakah gerangan yang menghalanginya mencabut nyawa lawan kali ini!? Apakah para sesepuh dan maha guru yang sedang menonton dari ketianggian…?

“Jangan mencoreng nama baik dikau di dalam perguruan…” Suara yang terdengar datang melalui jalinan mata hati. Kendati sayup dan lemah, suara tersebut memiliki wibawa yang sangat besar.

“Kakek Wiraraja…,” batin Kum Kecho. “Mengapakah dikau menghalangi seranganku!?”

“Aku mengemban tanggung jawab kepada kakek dan ayahandamu meski keduanya telah tiada. Dan oleh sebab itu, di bawah pengawasanku, di dalam Persaudaraan Batara Wijaya, dikau dilarang berbuat sesuka hati!” 

Bintang Tenggara yang lengah, di sisi lain, kurang sigap. Saat terpental dan mendarat di ujung panggung, kakinya tergelincir… lantas jatuh dan mendarat di luar wilayah panggung.

“YEAH!” 

Sorak-sorai penuh suka cita pecah membahana. Segenap murid-murid yang tadinya senyap menyaksikan pertarungan di atas panggung, sontak melompat kegirangan. Betapa mereka bangga kepada Kum Kecho yang dengan kemampuannya sendiri dapat menjatuhkan Bintang Tenggara, seorang murid dari Perguruan Gunung Agung yang terkenal sangat berbakat dan berprestasi gemilang. Kekaguman mereka semakin menjadi. Kum Kecho merupakan pahlawan yang telah membalaskan dendam perguruan, dan kini semakin mengharumkan nama Persaudaraan Batara Wijaya dengan mengalahkan Bintang Tenggara! 

Di tengah riuh-rendah puja dan puji, Kum Kecho menggeretakkan gigi. Jelas ia tak puas, namun sulit baginya menentang nasehat ahli sekelas Arya Wiraraja. Dalam pandanganya, Bintang Tenggara akan selalu menjadi batu kerikil yang dapat tumbuh menjadi gunung nan maha besar. Baginya, sosok yang tiada sengaja membuka formasi Segel Kepompong Sutera Lestari akan senantiasa menebar ancaman yang nyata. Seiring dengan pertumbuhan keahlian dan pemahaman seputar formasi segel di kemudian hari, bukan tak mungkin Bintang Tenggara dapat mengurung kembali dirinya. 


Catatan: 

(1) Episode 29