Episode 377 - Duak! Duak! Duak! BRAK!



“Bocah itu…”

“Ada apa dengannya…?”

“Ia adalah keturunan Balaputera… sekaligus Tenggara. Sungguh kombinasi yang tak biasa.” 

“Hahaha… Huaaahahaha…” Gelak tawa dari bayangan jiwa dan kesadaran sang Maha Maha Tabib Surgawi membahana, walaupun hanya lawan bicaranya seorang yang dapat mendengarkan. Kesombongan yang ia tampilkan sungguh berada pada titik puncak dunia keahlian. 

“Tetapi bukanlah sesuatu yang luar biasa…”

“Wahai Arya Wiraraja, sang Ahli Strategi, tertua dan setia, Jenderal Kesembilan Pasukan Bhayangkara… Sungguh pengamatanmu jeli, namun hanya sebahagian.”

“Maksudmu…?”

“Hahaha…” Ginseng Perkasa kini berubah menjadi sosok yang penuh misteri.

“Terlepas dari itu,” Arya Wiraraja menimpali, “Menghadapi peranakan siluman keturunan Sang Maha Patih… bukanlah perkara mudah.” 

“Hah!?” 



Bintang Tenggara dan Kum Kecho sudah berpindah tempat. Keduanya kini berada di atas panggung pada salah satu gelanggang berlatih milik Persaudaraan Batara Wijaya. Di bawah panggung, berkerumun sudah ratusan murid Kasta Perunggu yang hendak mengambil pelajaran dari pertarungan ahli yang lebih tinggi kasta dan tingkatannya. Melayang di udara, puluhan murid-murid Kasta Perak yang di antaranya berstatus sebagai Murid Utama, pun tak hendak melewatkan tontonan seru. 

Bagi sebagian besar penonton, Bintang Tenggara diketahui sebagai ahli dengan nama yang tersohor di semerata perguruan. Ia mengangkat nama Perguruan Gunung Agung dari Pulau Dewa melalui kejuaraan antar perguruan. Ia pun diketahui sebagai murid terbaik di ajang pertukaran murid di Perguruan Budi Daya. Di lain sisi, walau terbilang anggota baru di Persaudaraan Batara Wijaya, sosok Kum Kecho telah diterima sebagai pahlawan yang membela harga diri perguruan. Perannya dalam membalas lunas dendam kesumat kepada Perguruan Maha Patih harum di seantero perguruan. Semakin banyak murid-murid yang berbondong-bondong hendak menyaksikan pertarungan. 

“Pertarungan ini menggunakan adab perguruan. Kemenangan ditentukan bilamana lawan menyerah, jatuh dari panggung, atau tumbang di tengah pertarungan. Kedua pihak dilarang keras mengincar nyawa,” ujar sang wasit sembari mengangkat dagu tinggi-tinggi.

“Akh! Kurang seru!” 

“Hei Rangga Lawe, siapa pula yang memilihmu menjadi wasit!?” 

Sontak Rangga Lawe melompat turun dari atas panggung. Sejumlah murid berdesakan mundur demi memberi ruang.

“Siapa tadi yang berujar kurang seru!?” Rangga Lawe menyapu pandang, memelototi murid-murid dihadapannya satu persatu. “Maju sekarang dan akan kutunjukkan apa yang sesungguhnya lebih seru!”

Suasana tetiba hening. Tak satu pun penonton yang maju menyambut tantangan. 

“Aku yang memilih diriku sebagai wasit! Siapa yang keberatan!?”

Suasana masih hening. Jikalau ada jarum yang jatuh ke tanah, maka suaranya akan bergemuruh. Tak satu pun khalayak yang berani maju ke hadapan. 

“Sudahlah, Rangga Lawe… mengapa malah dikau yang terpancing emosi…?” Seorang murid yang melayang di udara menengahi. 

“Mulai sajalah… jangan buang-buang waktu. Bukankah temanmu hendak segera meneruskan perjalanan…?” Sosok lain lagi, yang juga melayang di udara, mengingatkan. 

Sesungguhnya, kedua tokoh yang melayang adalah teman-teman Rangga Lawe dan merupakan bagian dari Sembilan Singa Muda. Selain mengenal watak Rangga Lawe, kehadiran mereka ini juga yang membuat tak seorang pun murid berani menentang tokoh berdagu panjang itu. Siapa yang lancang menyangkal kenyataan bahwa Sembilan Singa Muda yang tampil berani menemani Kum Kecho berangkat ke Perguruan Maha Patih, ketika banyak yang menyangsikan kemampuan tokoh yang kini menanti di atas panggung.

“Apakah kalian berdua memahami aturan yang kusampaikan tadi!? Bahwa pertarungan yang akan kalian jalani merupakan latih tarung!” tegas Rangga Lawe, tak hendak berbasa-basi lebih lama. 

Kum Kecho dan Bintang Tenggara mengangguk hampir secara bersamaan. 

“Mulai!” 

“Hya!” Bintang Tenggara merangsek maju. Ledakan kecepatan Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang dari jurus pesilatan Pencak Laksamana Laut menyatu dengan Bentuk Pertama: Utkatasana dari jurus unsur kesaktian Asana Vajra. Hanya dalam satu kedipan mata, ia telah tiba di hadapan Kum Kecho sembari melancarkan tinju berkecepatan tinggi. 

Sigap, Kum Kecho berkelit ke samping. Di tempat di mana ia tadinya berada, dan sebelumnya terlindung oleh pusaka Jubah Hitam Kelam, telah menanti tiga ekor binatang siluman Kutu Gegana Ledak yang tersenyum riang!

Tinju berkecepatan Bintang Tenggara tiada dapat ditarik dan serta-merta menghantam ketiga ekor binatang siluman tersebut… Namun demikian, tiada ledakan yang menggelegar. Sekujur tubuh Bintang Tenggara nyatanya adalah bayangan, karena pada detik-detik akhir anak remaja tersebut mengerahkan Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting, dari jurus Silek Linsang Halimun. Tubuh aslinya telah berpindah dan sedang mengejar Kum Kecho! 

Melompat mundur, suara berdenging terdengar bersamaan dengan kemunculan awan nan gelap. Menyapu deras, kawanan binatang siluman Nyamuk Buru Tempur melesat dan siap mengepung mangsa! 

Bintang Tenggara sontak menghentikan langkah, dan dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi ia mengeluarkan sebentuk perisai bundar yang bentuknya sudah tiada beraturan lagi. Nasib Perisai Tunggul Waja memang sudah sangat menyedihkan sekali, dan kalau pun masih sempurna, tentu tak akan mampu menanggul kawanan nyamuk yang datang dari berbagai arah! Oleh karena itu pula, agaknya yang menjadi alasan mengapa perisai tersebut hanya digeletakkan saja di bawah kaki.

Kawanan nyamuk sedikit lagi mengepung! 

Menghela napas panjang, Bintang Tenggara kemudian menekuk siku dan membuka telapak tangan. Kilatan petir berderak ketika anak remaja tersebut melepaskan serangan… ke arah permukaan panggung! Dengan kata lain, jurus Guntur Menggelegar tiada dilepaskan kepada kawanan nyamuk, namun ke permukaan Perisai Tunggul Waja di bawah! Dampak yang tercipta seketika petir menghantam logam adalah hentakan balik, di mana kilatan petir memantul dan berpencar menyengat ke semerata penjuru! 

Ratusan nyamuk dalam radius tiga meter layu berguguran, dan sisanya menjauh karena naluri mereka mengisyaratkan akan bahaya sengatan petir!

Kendatipun demikian, dari balik nyamuk yang tersisa, kelebat berwarna hitam melesat cepat. Giliran Kum Kecho maju dengan telapak tangan yang siap menghenyakkan jurus. Di saat yang bersamaan pula, Trio Kutu Gegana Ledak yang urung meledakkan diri melompat dengan tujuan membokong sasaran dari arah belakang. 

Kembali terjepit, Bintang Tenggara memutuskan untuk merangsek maju! Ia melontarkan tubuh ke arah Kum Kecho, namun pada detik-detik akhir melakukan teleportasi jarak dekat! Walhasil, sebelum telapak tangannya menghantam ketiga kutu, Kum Kecho memberi perintah agar ketiganya saling menghantamkan diri! 

“Duar!” 

Ledakan yang tercipta semakin memisahkan jarak antara kedua petarung di atas panggung!

Membutuhkan waktu yang panjang untuk menggambarkan jual-beli serangan yang berlangsung ini dalam kata-kata. Pada kejadian nyatanya, sungguh sangat tangkas dan sulit diikuti oleh pandangan mata. Napas segenap hadirin tertahan, sehingga ketika kedua anak remaja sudah saling memisahkan diri dan menjaga jarak, dada para hadirin naik turun meraup udara segar! 

Tiada sorak-sorai dukungan, tiada pula caci-maki merendahkan semangat lawan. Segenap penonton terpana. Meski menyadari bahwa kedua anak remaja di atas panggung merupakan pribadi-pribadi yang sangat berbakat, tak satu pun yang menyangka akan memperoleh suguhan yang demikian mencengangkan. Pertarungan yang berlangsung bukan berada pada kelas ahli Kasta Perak, sehingga sangat jauh dari bayangan khalayak! 


“Jurus persilatan milik Yang Mulia Laksamana Hang Tuah dan salah satu dari jurus unsur kesaktian Sapta Nirwana dari Pulau Dewa…,” guman Jenderal Kesembilan Pasukan Bhayangkara, Arya Wiraraja tanpa menyembunyikan kekaguman. “Kemungkinan di mana ia mencapai bauran jurus sudah dekat…”

“Benarkah!? Ehm… Tentu saja!” Sang Maha Maha Tabib Surgawi, yang memang tiada pernah membanggakan kepiawaian di bidang persilatan dan kesaktian, terlihat demikian bangga. 

“Sungguh kemampuan yang pantas bagi keturunan Tenggara…”

“Dari manakah dikau mengetahui hal-hal seperti ini…?” gerutu Ginseng Perkasa penasaran. “Keturunan si ini… keturunan si itu…”

“Akan tetapi, sebagai keturunan Balaputera, mengapa dia belum sekalipun merapal formasi segel…?”

“Pantas saja berlindung di balik Jubah Hitam Kelam… Rupanya beliau adalah Yang Mulia Elang Wuruk…” 

Sungguh bukan pertukaran kata-kata yang berlangsung di antara kedua Jenderal Pasukan Bhayangkara ini. Masing-masing lebih cenderung berbicara kepada diri sendiri.


Sejumlah maha guru dan beberapa sesepuh di Persaudaraan Batara Wijaya mengangkasa. Bahkan mereka tiada dapat menahan diri untuk tak menyaksikan langsung pertarungan yang berlangsung di antara kedua anak remaja. Dalam pandangan mereka, bakat-bakat muda seperti ini akan menentukan arah dunia keahlian di kemudian hari. Pandangan mereka terhadap Kum Kecho mulai berubah, bahkan bagi sebagian yang awalnya berprasangka buruk. 

Akan tetapi, tentu masih ada yang merasa terancam, dan menyesalkan bahwa pembunuh bayaran yang mereka kirimkan lalai menjalankan perintah. Bagi kalangan ini, bakat Kum Kecho jika dibiarkan terus berkembang, maka akan menggeser kedudukan keluarga mereka di dalam perguruan. 

Kembali ke atas panggung berlatih. Bintang Tenggara dan Kun Kecho saling pandang. Keduanya sudah dapat menakar kemampuan satu sama lain. Saat ini, Bintang Tenggara berkesimpulan bahwa akan membutuhkan waktu yang panjang untuk menumbangkan Kum Kecho. Ia harus membuka peluang untuk melancarkan jurus pamungkas. 

Dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi, Bintang Tenggara kemudian mengeluarkan sesuatu dan memindahkannya ke dalam tas punggung. Menyaksikan keberadaan benda yang berukuran dua kepal tangan tersebut, raut wajah Kum Kecho seketika berubah gusar. 

Sebagaimana diketahui, ada banyak jenis cangkang siput dengan berbagai macam kegunaan pula. Ada yang berfungsi untuk meredam suara, mengacau mustika tenaga dalam, menghalangi rapalan lorong dimensi ruang, menyerap api, meniupkan angin, dan masih banyak lagi. Dalam kaitan itu, cangkang siput milik Bintang Tenggara memiliki fungsi memutus jalinan mata hati antara pawang dengan binatang silumannya. Ini adalah senjata simpanan Bintang Tenggara yang khusus disimpan untuk menghadapi Kum Kecho. (1)

Kesal karena tak lagi leluasa memanfaatkan Kartu Satwa, Kum Kecho merentangkan kedua lengan dan membuka telapak tangan. Cahaya kemudian berpijar baik dari telapak tangan kiri maupun kanan. Cahaya yang sangat menyilaukan pandangan mata! 

Bintang Tenggara sontak melindungi matanya dengan mengangkat lengan, namun terlambat! Tak hanya menyilaukan pandangan mata, cahaya tersebut sampai batasan tertentu juga menggangu pantauan mata hati. Kum Kecho, di saat yang bersamaan, telah merangsek maju! Tiada dapat dipungkiri, ia pun hendak menyelesaikan pertarungan sesegera mungkin. 

Kesulitan mencermati gerakan lawan, Bintang Tenggara mengeluarkan Tempuling Raja Naga. Galah tulang ekor yang panjang tersebut ia tebaskan membabi-buta ke segala arah sembari berputar-putar di atas panggung. Meski gerakannya serampangan dan tak terlihat mencerminkan kepiawaian persilatan, tindakan tersebut terbukti sangkul dan mangkus. Kum Kecho kesulitan masuk ke dalam wilayah pertahanan Bintang Tenggara. Sementara itu, cahaya yang berpijar pada kedua telapak tangan memudar perlahan. Bahkan bagi Kum Kecho, unsur kesaktian cahaya nyatanya tak mudah dirapal. 

Memperoleh kesempatan, Bintang Tenggara dengan Tempuling Raja Naga di kedua belah tangan, melenting lurus ke hadapan. Ia lantas menikamkan senjata pusaka tersebut. 

“Duak!” 

Dalam keadaan terdesak, Kum Kecho memaksakan diri mengeluarkan Kepik Cegah Tahan. Tanpa jalinan mata hati sang empunya, binatang siluman tersebut terlihat gamang. Akan tetapi, Kum Kecho tak habis akal. Memang si kepik tiada dapat menerima arahan untuk bergerak melindungi, namun bukan berarti Kum Kecho tak bisa mengangkat tubuh binatang siluman tersebut dan menjadikannya sebagai tameng!

“Duak! Duak! Duak!”

Bintang Tenggara melancarkan tikaman beruntun yang memaksa lawan bersama perisai hidupnya terdorong mundur. Tujuan yang hendak dicapai sangatah sederhana, yaitu mendorong Kum Kecho keluar dari panggung pertarungan.

“Duak! Duak! Duak!”

Lompatan dan tikaman datang bertubi, membuat Kum Kecho mulai kepayahan. Pada keadaan normal, serangan Bintang Tenggara pada pundak binatang siluman kepik tak akan berpengaruh banyak terhadap Kum Kecho. Apakah yang menyebabkan tokoh tersebut tetiba tampil di bawah rata-rata…?

Setelah memporak-porandakan Perguruan Maha Patih tiga purnama yang lalu, Kum Kecho bersama Sembilan Arya Singa berpencar demi mengaburkan jejak. Dua purnama kemudian mereka berkumpul, dan ketika rekan-rekannya kembali ke perguruan, Kum Kecho malah memutuskan untuk mengejar seorang gadis belia. Yang tak diketahui banyak pihak setelah itu, adalah dua pekan lalu ia terlibat dalam pertarungan ketat menghadapi Embun Kahyangan dan menderita cedera! Setelah pertarungan itu, tanpa istirahat yang memadai Kum Kecho melanjutkan perjalan kembali ke Persaudaraan Batara Wijaya. Tak dapat dipungkiri, bahwa tubuhnya mengalami kelelahan dan cedera dalam yang ia derita belum sepenuhnya pulih!

“Duak! Duak! Duak!”

Suara tikaman sangat terdengar nyaring bahkan memekakkan telinga. Bintang Tenggara merasakan sensasi yang tak lazim ketika menikam. Ada yang berbeda dari binatang siluman kepik tersebut. Kendatipun demikian, anak remaja tersebut terus mendobrak pertahanan lawan! Tinggal sedikit lagi!

“Duak! Duak! Duak! BRAK!”

Bintang Tenggara mendarat dan terpana. Kedua tangannya bergetar keras dan dadanya berdebar kencang. Sesuatu yang berada di luar cakupan nalarnya, di luar ambang batas kemampuan cerna akalnya, telah terjadi. Akibat terus menerus menghantam cangkang si kepik, ujung runcing pada Tempuling Raja Naga… patah! 

 

Catatan:

(1) Episode 83