Episode 370 - Penyusupan



Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat serta keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta. -- Kahlil Gibran

Sungguh rangkaian kata-kata nan indah. Akan tetapi, kegelapan yang saat ini menyibak, bukanlah yang bermakna kiasan nan penuh makna. Ia merupakan sesuatu yang amatlah sederhana. Bahkan, ‘kegelapan’ kali ini memiliki arti harfiah, dengan lawan kata ‘tidak terang’ dan disebabkan oleh ketiadaan cahaya, bersamaan dengannya muncul suasana kelam, mencekam, dan suram. 

Kegelapan seperti ini hanya dapat terjadi pada malam-malam nan tiada berbulan maupun berbintang.

Sebuah graha nan megah lagi mewah, berdiri tegar di tengah kegelapan. Bangunan tersebut hanya diterangi oleh beberapa lentera kecil, yang berperan untuk meniup pergi kegelapan malam. Tiada pengawal yang bersiaga, sehingga suasana demikian sunyi dan sepi. Sungguh pelik, karena kediaman dengan penampilan seperti ini adalah sepantasnya dijaga ketat. 

Kelebat tubuh melesat cepat di bawah bayangan malam, bahkan gerakannya seolah merupakan bayangan itu sendiri. Ia berhenti sejenak, mengamati situasi, lantas meneruskan gerakan. Sesekali bayangan tersebut mengalun, meninggalkan jejak bayangan yang memudar perlahan. Di kala hal tersebut terjadi, sosok tubuh aslinya sudah berpindah tempat. Sungguh kemampuan nan unik. 

Kelebat bayangan memasuki wilayah graha yang tak memiliki penjagaan. Sangat gesit ia menelusuri wilayah-wilayah yang tak menerima pencahayaan, serta sangat waspada pula ia menjaga agar keberadaannya selalu tersebunyi. Sebagai penyusup yang masih bau kencur, gerak-geriknya cukup meyakinkan.

Tak selang beberapa lama, ia sudah menelusuri serambi kemudian selasar graha. Tiba di dalam sebuah aula, langkah kakinya terhenti mendadak. 

“Siapakah dikau…?” Tetiba terdengar suara menyapa, yang dibarengi dengan tekanan tenaga dalam nan teramat berat. 

Tertangkap basah, sang penyusup segera memutar arah. Akan tetapi, terpaksa ia kembali menghentikan langkah. Bukan karena kehendaknya, melainkan akibat sang penghuni graha yang bergerak lebih gesit menutup jalan keluar. Sesosok tubuh berjubah melayang ringan di atas permukaan lantai. 

“Aku mengenal dikau…”

Dalam kegelapan, si penyusup mendecak lidah demi mengutuk nasib. Mengapa dirinya sampai terseret ke dalam sebuah permasalahan yang sejak awal bukanlah urusannya...? Mengapa ia membiarkan diri terjebak dalam situasi yang sangat membahayakan jiwa…? Bahkan, sejak awal ia sudah memperkirakan bahwa kemungkinan besar akan tertangkap basah.

Beberapa hari sebelumnya…

“Kami menugaskan agar dikau menyelinap masuk ke dalam graha milik Sesepuh Kertawarna di Perguruan Maha Patih. Adapun tugas dikau adalah mencari bukti petunjuk bahwa Sesepuh Kertawarma merupakan bagian dari kelompok Kekuatan Ketiga.”

“Hah!?” Mata melotot dan mulut menganga, Bintang Tenggara tiada percaya akan kata-kata yang baru saja ditangkap oleh telinganya. “Mengapa!?”

Maha Guru Segoro Bayu menyilangkan lengan di depan dada. “Kami tak dapat bertindak gegabah. Sesepuh Kertawarma sangat lihai menyusun siasat dan berkelit. Sehingga bilamana salah satu dari kami tertangkap menyelinap, maka ia akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memojokkan kami di hadapan para tetua Perguruan Maha Patih.”

“Murid Bintang Tenggara dari Perguruan Gunung Agung,” sambung Adipati Jurus Pamungkas nan penuh wibawa. Kumisnya yang tebal dan melenting bergerak naik dan turun ibarat tebasan parang nan besar lagi tajam. “Bukankah dikau menguasai jurus Silek Linsang Halimun…? Dengan kemampuan jurus tersebut, akan sangat mudah bagimu untuk menyusup masuk.” (1)

“Ini adalah sebuah kesempatan yang baik untuk menebus kelalaianmu di Perguruan Budi Daya,” lanjut Maha Guru Sangara Santang. Senyuman di sudut bibirnya mengingatkan kepada sejenis binatang mamalia yang terkenal licik dan culas. 

Ketiga ahli perkasa Kasta Emas yang berdiri di hadapan Bintang Tenggara penuh wibawa ibarat hakim, penuntut, dan algojo. Dengan mudahnya mereka menyusun dalih demi menjatuhkan hukuman kepada terdakwa lemah yang sesungguhnya tiada bersalah. 

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara tiada mengindahkan kata-kata yang dilontarkan oleh setiap satu dari mereka. “Kalian tiada berhak memberi perintah! Diriku bukanlah murid Perguruan Maha Patih atau Sanggar Sarana Sakti, bukan pula rakyat Keraton Ayodya Karta!” 

Ketiga ahli saling pandang. 

Memperoleh peluang berkelit, anak remaja tersebut pun melanjutkan dengan gertakan ringan. “Jikalau memaksakan kehendak, maka kalian bertiga akan berhadapan dengan kemurkaan Perguruan Gunung Agung!” 

Maha Guru Segoro Bayu, di saat yang bersamaan, merogoh ke dalam kantong jubahnya. Ia mengeluarkan sebentuk lencana dan kepadanya menebar mata hati. Lencana tersebut kemudian mengulang rekaman sebuah perintah: 

Murid Utama Bintang Tenggara, aku Maha Guru Keenam, Berawa, dari Perguruan Gunung Agung, dengan ini menitipkan dikau kepada Maha Guru Ke-10, Segoro Bayu, di Perguruan Maha Patih. Laksanakanlah seluruh perintah beliau dalam kaitan menumbuhkembangkan keahlian, sebagaimana layaknya perintah tersebut datang langsung dari diriku.

Bintang Tenggara kembali menganga, kali ini demikian besarnya sampai seolah dagu menyentuh dada. Suara yang keluar dari lencana memang benar berasal dari pemiliknya. Sedari awal, pertemuan dengan Sangara Santang tatkala meninggalkan Perguruan Budi Daya diketahui bukanlah kebetulan semata, begitu pula dengan Maha Guru Segoro Bayu dan Adipati Jurus Pamungkas yang sedia menanti di Kota Ahli. Bahkan, siasat mereka sangat terencana dan terukur, sampai memanfaatkan Maha Guru Berawa di Perguruan Gunung Agung. Luar biasa! 

“Tugas dikau sangatlah sederhana…,” sahut Sangara Santang segera setelah pesan dari Maha Guru Berawa diputar ulang. “Kami mencurigai salah satu tokoh di dalam Perguruan Maha Patih sebagai anggota kelompok Kekuatan Ketiga. Tugas dikau hanyalah mengumpulkan bukti-bukti.” Lelaki dewasa muda tersebut kemudian menyerahkan sebentuk cincin mungil kepada Bintang Tenggara. 

‘Menumbuhkembangkan keahlian’ melalui tugas ‘sederhana’ dengkul kuda! batin Bintang Tenggara mengutuk. Di hadapan anak remaja tersebut, kini telah berdiri Sesepuh Kertawarma dari Perguruan Maha Patih. Hubungan dirinya dengan tokoh tersebut tak pernah baik. Rupanya, tiga ahli Kasta Emas jahanam mengirimkan dirinya melangkah masuk ke sarang buaya!

Jalinan petir berderak, dan Bintang Tenggara melesat dalam lintasan tiada beraturan. Di dalam aula luas yang hanya disinari cahaya temaram, ia berharap dapat menemukan pintu keluar lain. Akan tetapi, sungguh kesia-siaan belaka. Kecepatan gerak ahli Kasta Perak, sebagaimana pun tangguhnya, tiada dapat dibandingkan dengan ahli Kasta Emas. Kendati menemukan pintu lain, telah pula menanti Sesepuh Kertawarma!

Anak remaja tersebut memutar arah. Kini, kecepatannya bertambah berkali-kali lipat sebagai hasil dari penggabungan dua jurus yang dirapal secara bersamaan. Jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra ditambah dengan jurus persilatan Pencak Laksamana Laut, ibarat meledakkan kecepatan. Namun demikian, lagi-lagi Sesepuh Kertawarma sudah melayang ringan di hadapannya. 

Kejadian ini berulang sampai beberapa kalian. Ibarat permainan kucing-kucingan yang berlangsung berat sebelah, Bintang Tenggara terjepit dan terpojok. Selama ini, ia terbiasa melarikan diri di ruang terbuka. Di hutan atau di lereng gunung, anak remaja tersebut terbiasa bebas dalam menentukan arah dan memanfaatkan bentangan alam. Akan tetapi, di dalam ruangan tertutup dengan hanya dua pilihan pintu kelur, ia tak memiliki banyak pilihan.  

Akan tetapi, Bintang Tenggara belum hendak menyerah. 

Kepalan tinju lengan kanan mengatup kencang, ia lepaskan jurus persilatan Tinju Super Sakti ke permukaan lantai. Berbarengan dengan ledakkan membahana yang semakin memekak telinga karena dilepaskan di dalam ruangan, jalinan ubin pecah berhamburan ke segala penjuru. Belum reda debu yang membumbung memenuhi ruang aula, Bintang Tenggara telah melesat ke arah yang berlawanan. Akan tetapi, sebelum mencapai pintu, sigap ia melompat balik ke arah pintu lain. Hanya bayangan tubuh mengalun yang tertinggal, sebagai petanda bahwa kini ia sudah beralih ke jurus unik, yang mengandung sifat persilatan sekaligus unsur kesaktian, Silek Linsang Halimun. 

Upaya mengecoh dua tingkat dilancarkan dengan baik, dan agaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Di hadapan, jalan menuju salah satu pintu terbuka lebar. Sesepuh Kertawarma belum terlihat menanti di sana, sehingga Bintang Tenggara menambah kecepatan langkah. Di luar, udara sejuk pada subuh hari terasa menyegarkan sekali. 

Namun demikian, di kala anak remaja tersebut merasa telah berhasil keluar dari dalam aula, tetiba ia merasa kerah belakang leher dijenggut. Belum sempat bereaksi menanggapi, tubuhnya disentak dan dibating ke tengah aula! 

Bintang Tenggara membiarkan tubuhnya diperlakukan sedemikian, dan memanfaatkan kekuatan bantingan untuk melesat ke pintu lain. Akan tetapi, tetiba langkahnya terhenti karena menyaksikan Sesepuh Kertawarma sudah menanti di hadapan sana. Sontak ia menoleh ke belakang, ke arah pintu sebelumnya, di mana masih terlihat pula sosok Sesepuh Kertawarma…

Klon tubuh! batin Bintang Tenggara. Pada tahap ini, klon tubuh bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi anak remaja tersebut. Maha Guru Sugema di Perguruan Budi Daya berhasil membuat klon tubuh dari sosok ahli perkasa di masa lampau. Dia mengambil pengetahuan dari jasad tubuh Ginseng Perkasa melalui cara yang belum diketahui. 

Oleh karena itu, tujuan Bintang Tenggara sebagai penyusup kini rampung sudah. Mendapati Sesepuh Kertawarma memiliki klon tubuh, merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa tokoh tersebut merupakan rekan dari Maha Guru Sugema. Dengan kata lain, mereka merupakan para ahli yang tergabung di dalam kelompok Kekuatan Ketiga!

“Dikau adalah murid Bintang Tenggara dari Perguruan Gunung Agung…” Sesepuh Kertawarma berujar pelan. Akan tetapi, hawa membunuh yang dipancarkan tubuhnya mengisyaratkan bahaya yang nyata.

Bintang Tenggara tertangkap basah. Tenggorokannya tercekat, dan di saat yang bersamaan benaknya berputar deras. Tokoh yang melayang ringan di hadapan dan di belakang tubuhnya sudah ratusan tahun menekuni jalan keahlian, terbiasa dalam menyusun muslihat, sehingga tentunya tak akan mudah dikibuli. 

“Maafkanlah kelancangan hamba, wahai Yang Terhormat Sesepuh Kertawarma.” Bintang Tenggara membungkukkan tubuh. “Sungguh diriku tersimpang arah, dan tiada sengaja memasuki kediaman Yang Terhormat Sesepuh.”

“Siapakah yang mengirimkan dikau…?” Sesepuh Kertawarma tiada hendak berbasa-basi. Pertanyaan yang ia lontarkan langsung menohok ke pokok permasalahan. 

Benak Bintang Tenggara masih menelusuri kemungkinan yang ada untuk melepaskan diri. Kembali berupaya melarikan diri bukanlah pilihan, karena memang tiada memungkinan. Di hadapan Sesepuh Kertawarma dan klon tubuhnya, pilihan sangat terbatas. Anak remaja itu menoleh ke segala penjuru. Sekali lagi ia menyapu pandang kepada dua sosok Sesepuh Kertawama. Keduanya memiliki kekuatan yang digdaya sebagai ahli Kasta Emas tingkat atas. Hanya satu hal yang dapat disimpulkan, bahwa sejak awal memasuki aula Sesepuh Kertawarma telah mengenali dirinya. 

Bintang Tenggara menggenggam kepalan tangan kiri. Pada jari kelingking, tersemat sebentuk cincin mungil. Cincin tersebut merupakan pemberian Sangara Santang sebelum menjalankan tugas penyusupan. Bilamana menggosok-gosok cincin ini, maka semacam formasi segel akan muncul dengan sendirinya untuk melindungi si pemakai cincin, dan di saat yang bersamaan mengirimkan pesan kepada Sangara Santang bahwa dirinya berhadapan dengan bahaya yang mengancam jiwa. Dari ukuran cincin, diperkirakan bahwa benda tersebut dibuat khusus bagi Citra Pitaloka, agar Putri Mahkota dari Kemaharajaan Pasundan tersebut senantiasa berada dalam perlindungan. 

“Siapakah yang mengirimkan dikau…?” Sesepuh Kertawarma mengulang pertanyaan yang sama. Kendatipun hawa membunuh menyibak semakin kental, kemungkinan besar hanya gertakan sahaja. Terhadap ahli Kasta Perak, maka Ahli Kasta Emas memiliki seribu satu cara untuk mengorek informasi secara paksa. Bahkan, biasanya ahli Kasta Emas tiada akan peduli terhadap hajat hidup ahli Kasta Perak, dan mencabut nyawa semudah membalik telapak tangan. 

Jadi, mengapakah Sesepuh Kertawarma sejak awal menahan diri…?

“Hamba datang atas arahan dari Maha Patih di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Yang Terhormat Balaputera Wrendaha meminta diriku menyempatkan diri mengunjungi Yang Terhormat Sesepuh Kertawarma saat melintas di Kota Ahli,” tanggap Bintang Tenggara penuh percaya diri. Di saat yang bersamaan, ia hendak menegaskan bahwa kedua tokoh benar merupakan anggota kelompok Kekuatan Ketiga. 

Raut wajah Sesepuh Kertawarma tak menyiratkan setitik pun perubahan. Ia hanya menatap dalam diam. “Lantas, apakah tujuan Wrendaha mengarahkan dikau…?” ujarnya pelan.

“Sungguh hamba tiada mengetahui,” sahut Bintang Tenggara. Pada tahap ini, lebih baik agar tiada mengarang ceritera terlalu jauh. Ketahuan berbohong, maka nyawa yang akan menjadi taruhannya.

Kini, diketahui bahwa Sesepuh Kertawarma mengenali dirinya dan tak segera mencabut nyawa si penyusup karena ia merupakan rekan dari Balaputera Wrendaha yang merupakan wali dari sang Yuvaraja. Sungguh perkiraan Bintang Tenggara hanya setengah benar, karena terdapat alasan selain itu. Sesepuh Kertawarma tak mencabut nyawanya dikarenakan kelompok Kekuatan Ketiga memiliki sebuah rencana di masa depan, di mana sang Yuvaraja akan memainkan peran yang sangat besar!

Hawa membunuh yang tadinya kental terasa, memudar secara perlahan. Sesepuh Ke-15 dari Perguruan Maha Patih itu lantas mengibaskan lengan, dan klon tubuhnya seketika menghilang tanpa jejak. Di balik keremangan pencahayaan di dalam aula, Bintang Tenggara menyadari bahwa mengendalikan klon tubuh sangat menyita kemampuan mata hati tokoh tersebut. Bahwanya, dirinya tadi memang hampir berhasil melarikan diri sehingga Sesepuh Kertawarma terpaksa mengeluarkan jurus simpanan itu. Sungguh pencapaian yang cukup membanggakan. 

“DUAR!” 

Tetiba ledakan membahana terdengar, yang dampaknya sampai menguncang aula kediaman Sesepuh Kertawarma. Tokoh tersebut segera melayang keluar lantas melesat tinggi ke angkasa. Bintang Tenggara mengikuti, dengan serangkaian pertanyaan yang berkutat di dalam benak. Apakah Maha Guru Sangara Santang, Maha Guru Segoro Bayu dan Adipati Jurus Pamungkas mengambil tindakan…? batin Bintang Tenggara. Tidak mungkin, karena dirinya belum memberi kabar melalui cincin. 

Di luar, hari hendak beranjak pagi. Kedua mata Bintang Tenggara menangkap cahaya terang jauh di balik pepohonan. Akan tetapi, segera ia menyadari akan adanya kejanggalan. Suasana terang yang terlihat, tiada berasal dari ufuk timur… melainkan dari sisi barat Perguruan Maha Patih.


Catatan:

(1) Episode 148