Episode 369 - Persekutuan



Sang rembulan menggantung tinggi, bentuknya ibarat bilah sabit milik malaikat maut yang tajam siap mencabut nyawa. Langit cerah tak berbintang, angin mengalun membawa pergi segala wujud kehangatan. Di dalam sebuah pondok yang hanya diterangi sebentuk lentera kusam, suasana sedang khusyuk. Sembilan remaja, diantaranya lima lelaki dan empat perempuan, duduk bersila menyusun setengah lingkaran. Dari penampilan, agaknya mereka berasal keluarga terpandang yang merupakan tonggak dari salah satu perguruan ternama di wilayah timur Pulau Jumaya Selatan.

“Aku akan menuntaskan janjiku.” Seorang anak remaja berujar penuh keyakinan di balik keremangan pondok. Ia bukan merupakan bagian dari sembilan remaja, namun dapat dipastikan berperan sebagai titik pusat perhatian. Selama beberapa purnama ke belakang, ia berupaya giat meningkatkan kemampuan tempur. 

“Di masa lampau, Batara Wijaya mendirikan Negeri Dua Samudera. Akan tetapi, beliau tiada berjuang seorang diri. Setia mendampingi, adalah nama besar para pahlawan yang dikenal dengan nama Sembilan Arya Singa,” lanjut anak remaja tersebut. (1)

Kesembilan remaja di hadaannya menyimak dengan seksama. Kendatipun demikian, tak semua dari mereka menunjukkan ketertarikan, bahkan ada yang meragu. Beberapa pun angkat bicara…

“Saat masih kecil, setiap satu dari kami di dalam ruangan ini tak pernah dapat mengelak dari dongeng pengantar tidur. Kisah Batara Wijaya beserta Sembilan Arya Singa senantiasa dinanti, dan dilantunkan penuh dengan hikmah kebijaksanaan serta nilai-nilai kehidupan.” Ia terdiam sejenak, menaghela napas, lalu meneruskan, “Akan tetapi, sebagaimana diriku sampaikan, itu hanyalah kisah pengantar tidur bagi bocah-bocah yang mengidamkan cerita perang dan kepahlawanan…”

“Adalah benar bahwa kami semua merupakan keturunan dari para pahlawan yang dahulu kala dikenal sebagai Sembilan Arya Singa. Akan tetapi, kami bukanlah satu-satunya garis keturunan mereka,” sambung seorang gadis. 

“Selain itu, atas alasan apakah kami patut bersumpah setia kepada dikau…? Dikau bukanlah keturunan Batara Wijaya. Nama dikau tiada termaktub di dalam silsilah hubungan darah dengan Yang Mulia Gadjah Mada, Sang Maha Patih…”

Kum Kecho alias Elang Wuruk Sanjaya menyunggingkan senyum. Mendengarkan nama Sang Maha Patih Gadjah Mada membuat hatinya muak. Jikalau memperoleh kesempatan sekalipun, enggan ia mencantumkan nama di dalam silsilah apa pun itu. Namun demikian, ia tetap menanggapi dengan tenang. “Kisah Batara Wijaya beserta Sembilan Arya Singa merupakan peristiwa sejarah, dan keberadaan setiap satu dari kalian terhubung dengan sejarah tersebut. Aku menyadari… tidak… aku mengetahui pasti betapa di dalam lubuk hati, kalian mengidamkan kejayaan sebagaimana kisah sejarah masa lampau.”

Anak remaja tersebut diam sejenak, sengaja memperhatikan raut wajah kesembilan lawan bicaranya. Ia lantas menyapa mereka satu persatu. “Rangga Lawe, Nambi, Sora, Gajah Pagon, Banyak, Kapuk, Pedang, Dangdi, dan Peteng… Setiap satu dari kalian memiliki kualitas dari para pendahulu. Aku telah mengamati, dan dapat menarik kesimpulan bahwa darah Sembilan Arya Singa mengalir kental di nadi kalian.”

Suasana hening. Kum Kecho melanjutkan, “Kalian merupakan keturunan Sembilan Arya Singa, sedangkan aku bukan siapa-siapa. Jati diriku tak dapat ditelusuri dengan jelas. Akan tetapi, Prasasti Darah memiliki kehendak lain. Prasasti Darah mengungkapkan bahwa kandungan darah biru yang mengalir di dalam nadiku mencapai taraf 24%, tertinggi sepanjang sejarah Persaudaraan Batara Wijaya.”

Walau, pada kenyataannya, taraf darah biru Kum Kecho berada pada angka 99% karena ia merupakan keturunan langsung dari Sang Maha Patih. Akan tetapi, Arya Wiraraja, salah satu dari Jenderal Bhayangkara yang berdiam di perguruan tersebut menurunkan ke ambang 24% demi menyembunyikan jati diri sesungguhnya Elang Wuruk Sanjaya. (2)

Kesembilan remaja saling pandang. Semua yang diungkapkan Kum Kecho merupakan fakta. Sejak masih kanak-kanak, mereka meyakini bahwa Prasasti Darah merupakan acuan yang menentukan garis hidup di masa mendatang. Kadar darah biru yang mengalir di nadi mereka merupakan acuan perlakuan keluarga terhadap diri dan bagaimana bersikap. Di Persaudaraan Batara Wijaya, putusan Prasasti Darah bersifat mutlak. 

“Aku akan memberikan dukungan!” Seorang remaja lelaki berdagu panjang bangkit berdiri, lantas merunduk dan menekuk sebelah lutut. Ia adalah Rangga Lawe, seorang Putra Perguruan yang terkenal sangat tinggi hati. Tak pernah sekalipun ia menundukkan kepala kepada sesama remaja, apalagi kepada yang lebih muda. Rangga Lawe diam-diam memendam perasaan kepada Seruni Bahadur dan merasa berutang budi dan menghormati Kum Kecho karena menyelamatkan jiwa gadis belia bertubuh bongsor tersebut. 

Beberapa remaja lain mengikuti tindakan Rangga Lawe. Kum Kecho menanti dengan tenang., ia kemudian bangkit. “Aku tak membutuhkan pengabdian sebagai tuan kalian. Yang aku butuhkan, adalah sekutu untuk berjuang bersama-sama mencapai satu tujuan.” 

Kesembilan remaja, yang nantinya mendapat gelar Sembilan Singa Muda, membungkuk di hadapan Kum Kecho. 


===


Bintang Tenggara, mengenakan seutas kalung dengan liontin berbahan kain yang berwarna kuning kusam, melangkah tegap meninggalkan Perguruan Budi Daya. Liontin kain segitiga kecil yang melingkar di lehernya itu, bilamana dibuka maka akan menjadi lembaran kain berbentuk segitiga yang lebih besar lagi. Pada bagian tengahnya kain, maka tersemat sehelai rambut keriting pendek nan maha maha dahsyat kegunaannya. 

Bintang Tenggara segera menyentak putus kalung tersebut dan melemparkan liontinnya ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi. 

“Sepupuku, mengapakah dikau melepas Azimat Surgawi!?” Balaputera Prameswara terkesima. “Bila dikenakan, maka azimat tersebut akan meningkatkan kemampuan meramu sampai berkali-kali lipat. Bakat meramu dikau yang luar biasa besar akan semakin tersohor ke seluruh pelosok Negeri Dua Samudera!” 

Bintang Tenggara tiada menjawab. Baginya, azimat laknat tersebut tak memiliki kegunaaan sama sekali dalam hal meningkatkan kemampuan meramu. Sugesti belaka. Hanya karena tak hendak menyinggung perasaan Maha Guru Primagama yang menghadiahi azimat tersebut, maka si anak remaja merelakan diri mengenakannya di leher. Menjijikkan rasanya, karena Azimat Surgawi adalah tak lain dan tak bukan merupakan bekas celana dalam Ginseng Perkasa si Maha Maha Tabib Surgawi!

“Terlihat pantas bagimu…,” olok Ginseng Perkasa melalui jalinan mata hati. 

“Kakek Gin, satu kata lagi dari dikau, maka akan kubuang Azimat Surgawi ini ke Kawah Gunung Istana Dewa…,” ancam Bintang Tenggara karena terpancing amarahnya.

“Oh… Dikau tak hendak terlihat mencolok karena mengenakan benda pusaka yang tiada ternilai harganya…” bisik Balaputera Prameswara seolah mengetahui alasan di balik tindakan Bintang Tenggara. “Selain itu, mengenakan benda pusaka tersebut akan menarik perhatian para penyamun, benar ‘kan…?”

Lagi-lagi Bintang Tenggara tiada menanggapi. Azimat Surgawi, betapa pun menjijikkan, merupakan bahan dasar utama dalam meramu klon tubuh bagi sang Maha Maha Tabib Surgawi. Awalnya, ia tak pernah membayangkan akan memperoleh bagian tubuh asli dari tokoh tersebut, namun kini terkesan mudah sekali. Bahkan, jasad tubuh Ginseng Perkasa diketahui masih utuh adanya, dan disimpan oleh Balaputera Wrendaha, Datu Besar Kadatuan Kedua merangkap Maha Patih di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Perihal maksud dan tujuan Kekuatan Ketiga, sempat merasuki benak Bintang Tenggara. Apakah benar upaya mereka yang hendak memicu malapetaka…? Mungkinkah tanpa keahlian dunia akan tumbuh dan berkembang dengan lebih baik…? Apakah Balaputera Wrendaha sedang menyusun suatu muslihat…?

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara segera dapat mengenyampingkan pertanyaan-pertanyaan tentang Kekuatan Ketiga. Hal tersebut terjadi ketika ia mendapat kunjungan dari Embun Kahyangan beberapa waktu setelah kejadian di hutan. Gadis belia tersebut mendatangi Perguruan Budi Daya bersama dengan seorang kakek tua nan renta. Terhadap kakek yang tak menyibak aura keahlian sama sekali, bahkan Ginseng Perkasa penasaran akan jati dirinya. Terlebih lagi, kakek tua tersebut tiada dapat diajak berbincang-bincang. Mungkin karena sudah pikun, sehingga ia kurang dapat menanggapi dengan baik. 

Embun Kahyangan mengajukan pertanyaan yang teramat sulit dijawab, yaitu tentang keberadaan Balaputera Ragrawira. Sungguh Bintang Tenggara hanya berpapasan sekali dengan sang ayahanda di Pulau Dewa beberapa waktu lalu. Kemudian, tokoh tersebut menghilang tak tahu di mana rimbanya. 

Mendapat jawaban yang jauh dari harapan, Embun Kahyangan lantas pergi begitu saja. Dingin. Perih rasanya hati Bintang Tenggara, yang berharap memperoleh kesempatan menghabiskan waktu bersama gadis belia tersebut. Sungguh kaum perempuan diselumuti dengan misteri, yang kiranya jauh lebih rumit dari tipu muslihat dunia keahlian. 

“Tap…”

Seorang lelaki dewasa muda berbalut perban mendarat tepat di hadapan Bintang Tenggara. Ia menyibak senyum ramah, dan sepertinya memang sudah sedia menanti. Bintang Tenggara tentu menyadari kecurigaan Sangara Santang terkait lepasnya Maha Guru Sugema bersama dengan jasad tubuh sang Maha Maha Tabib Surgawi. Dan sesuai dugaan, Sangara Santang tak akan membiarkan dirinya lepas begitu saja. 

“Ada apa…?” sapa Bintang Tenggara datar. 

“Oh…? kebetulan sekali…” Sangara Santang berpura-pura terkejut. “Diriku sedang dalam perjalanan mengunjungi Perguruan Gunung Agung. Biasalah, mengemban tugas dari Sanggar Sarana Sakti.”

Ibarat hama wereng yang menyerang lahan pertanian, tokoh yang satu ini pasti tak mudah diusir pergi. Walhasil, Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara mendapat teman seperjalanan yang tak diinginkan keberadaannya. 

Menggunakan gerbang dimensi ruang, ketiganya menuju Kota Ahli. Dari kota ahli, nantinya mereka akan menuju Kota Baya-Sura, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Taman Selatan di Pulau Dewa. 

“Balaputera Prameswara…” Dalam perjalanan, Sangara Santang membuka percakapan. “Tumbuh dengan berbagai halang rintang, namun kini merupakan salah seorang Putra Perguruan di Perguruan Svarnadwipa. Sungguh diriku sudah mendengar banyak tentang jati diri dikau. Seorang tokoh nan bersahaja, tiada pernah berlaku sombong, walaupun sangat piawai dalam merapal formasi segel…”

Mendapat sanjungan setinggi langit dari tokoh terkenal seperti Sangara Santang, Balaputera Prameswara tiada dapat menahan senyuman. Sempat sedikit salah tingkah, namun ia masih mampu mengendalikan diri. Dadanya membusung, dagu naik tinggi menatap langit. Sebaliknya, Bintang Tenggara melirik sebal. Sangat mudah membaca siasat Sangara Santang yang hendak menarik hati Wara, dalam persiapan menggali banyak pertanyaan.  

Bintang Tenggara tentu tak bodoh. Ia menyadari bahwa Wara dapat menjadi kelemahan. Pada kenyataannya, sang saudara sepupu sangat mudah dimanipulasi. Kemampuan tempurnya biasa-biasa saja dan terlalu polos dalam mengenali tipu-muslihat, satu-satunya kelebihan Wara adalah keberuntungannya yang sangat digdaya. Oleh sebab itu, bahkan kepada Balaputera Prameswara, Bintang Tenggara tak mengumbar sembarang informasi. 

Di Kota Ahli, dua titik hitam terlihat melayang tinggi di udara. Seakan sudah menanti, aura Kasta Emas menyibak kental. Bintang Tenggara mengenal kedua tokoh yang mengawasi gerak-gerik tiga pendatang baru. 

Sangara Santang mendongak, lantas tersenyum ramah. “Maha Guru Segoro Bayu dan Adipati Jurus pamungkas, sungguh sebuah kehormatan…” 

Kedua tokoh yang melayang tinggi tiada menanggapi. Sebaliknya, mereka memutar tubuh dan melesat terbang, seketika menghilang dari pandangan. Segera setelah itu, Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara merasakan semacam kekuatan yang melingkupi raga. Tanpa daya, tubuh kedua anak remaja melayang ringan, lantas dibawa melesat terbang oleh Sangara Santang. 

Bintang Tenggara mengenal ke mana arah tujuan mereka. Di wilayah selatan Kota Ahli, terdapat wilayah angker yang dikenal dengan Gunung Candrageni. Di wilayah tersebut pula, pernah berlangsung perlombaan antara murid-murid dari Perguruan Panji Manunggal dengan murid-murid dari Perguruan Duta Guntur. Secara tak sengaja, kala itu Bintang Tenggara ‘memperoleh’ pusaka-pusaka yang tersedia dan diperebutkan di sepanjang lintasan perlombaan. 

“Bagaimana dengan situasi di Perguruan Budi Daya?” tanpa basa-basi, Adipati Jurus Pamungkas melontar pertanyaan sesaat setelah Sangara Santang bersama kedua anak remaja mendarat. 

Sangara Santang menjawab dengan lirikan ke arah Bintang Tenggara dan Balaputera Prameswara. Ia mengisyaratkan bahwa perbincangan sebaiknya dilakukan melalui jalinan mata hati antara ahli Kasta Emas. 

“Aku percaya kepada bocah itu,” tanggap Adipati Jurus Pamungkas mengacu kepada Bintang Tenggara. Kendatipun demikian, ia melambaikan lengan dan serta merta Balaputera Prameswara jatuh tergolek di tempat. 

“Kami dengar hasilnya tak sesuai harapan…” Maha Guru Segoro Bayu dari Perguruan Maha Patih bersuara. 

“Dugaan bahwa Maha Guru Sugema merupakan anggota Kekuatan Ketiga terbukti benar,” tanggap Sangara Santang ringan. “Kita telah berhasil menghentikan penelitian mereka yang bersembunyi dan memanfaatkan sumber daya Perguruan Budi Daya…”

“Tapi kalian melepaskan Sugema dan kehilangan jasad tubuh Maha Maha Tabib Surgawi…,” potong Adipati Jurus Pamungkas. Terlihat jelas bahwa ia kecewa. “Penelitian mereka terhadap jasad tubuh tersebut akan terus berlanjut!” 

“Ehem…” Sangara Santang terlihat salah tingkah. Ia melirik kepada Bintang Tenggara. Dari raut wajahnya, terlihat bahwa sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti itu hendak mengumpat. Betapa ia menahan diri agar tak mengumbar kata bahwa anak remaja di sebelahnya itulah yang menjadi biang kerok penyebab Maha Guru Sugema berhasil melarikan diri!

Di lain sisi, Bintang Tenggara sedang menyimak sesuatu yang menarik. Kini diketahui terdapat semacam persekutuan lintas perguruan dan lintas kerajaan. Maha Guru Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti, Maha Guru Segoro Bayu dari Perguruan Maha Patih, Maha Guru Primagama dari Perguruan Budi Daya, Tumenggung Jayakusuma dari Kemaharajaan Pasundan dan Adipati Jurus Pamungkas dari Keraton Ayodya Karta… Ajaib sekali. Kesemuanya mereka bahu-membahu dalam upaya menumpas kelompok Kekuatan Ketiga. Bagi mereka bersatu-padu, sehingga menyisihkan persaingan antar perguruan dan antar kerajaan, menunjukkan betapa besar dan nyata ancaman kelompok Kekuatan Ketiga, simpul Bintang Tenggara.

“Bagaimana dengan Sesepuh Kertawarma di Perguruan Maha Patih…?” Sangara Santang mengalihkan pembicaraan sembari menoleh kepada Maha Guru Segoro Bayu. “Selama kami menumpas Maha Guru Sugema, apakah dia menunjukkan gelagat yang mencurigakan…?”

“Sebaliknya…,” Maha Guru Segoro Bayu terlihat gundah. “Kami di Perguruan Maha Patih memanggilnya keluar dari tapa, dan sengaja memberi khabar tentang kedatangan Tumenggung Jayakusuma bersama ribuan prajurit perang ke Perguruan Budi Daya. Akan tetapi, tiada seberkas pun gerak-geriknya yang mencirikan perhatian atas peristiwa tersebut.”

“Gerak-geriknya terlalu alami…?” timpal Sangara Santang. “Bukanlah hal tersebut malah mencurigakan…?”

“Kita tak dapat bergerak berdasarkan kecurigaan tak berdasar. Kita harus mengumpulkan bukti-bukti dan memancingnya keluar!” Adipati Jurus Pamungkas melirik kepada Bintang Tenggara. 

“Tidak!” Si anak remaja, yang sedari tadi diam menyimak, sontak menyergah penuh amarah. Ia dapat membaca arah percakapan antara para ahli terkemuka dan menolak keras dimanfaatkan, apa pun itu alasannya! “Aku memiliki keperluan mendesak di Perguruan Gunung Agung! Dan aku tak bersedia terlibat di dalam tipu muslihat kalian!” 


Catatan:

(1) Episode 161

(2) Episode 149-151

Rupanya web ceritera.net belum rampung diperbaharui. Jadi, kemungkinan besar dalam waktu dekat akan ada libur-libur susulan yang datang secara mendadak dan bertubi-tubi.