Episode 368 - Kain



Ledakan pertama membuat gundah, sementara ledakan kedua menyebabkan hati Maha Guru Sugema serta-merta kecut. Dua rekannya telah menghembuskan napas terakhir, demi perjuangan luhur impian Kekuatan Ketiga. 

Partai Iblis memiliki tujuan untuk merombak tatanan dan mengambil-alih pemerintahan Negeri Dua Samudera. Mereka terdiri dari para ahli yang terpinggirkan sejak era kepemimpinan Sang Maha Patih. Secara perlahan merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan, mereka menantikan saat yang tepat untuk menabuh genderang perang. 

Kekuatan Ketiga, di lain sisi, memiliki haluan yang benar-benar berbeda. Hanya satu tujuan, yaitu menghancurkan Negeri Dua Samudera tanpa terkecuali. Kiamat! Sebagai sekte aliran sesat, dalam pandangan mereka hanya dengan kehancuran dunia keahlian, maka tatanan baru yang lebih adil dan merata dapat dibangun dari awal mula. Oleh sebab itu, betapa giat para anggota Kekuatan Ketiga membangkitkan kekuatan-kekuatan masa lalu untuk mewujudkan cita-cita akan kehancuran. 

Maha Guru Sugema memacu langkah, tak hendak membuang kesempatan yang terbuka dengan mengorbankan nyawa. Sebaliknya, Bintang Tenggara sedikit cemas. Bila kedua rekan Maha Guru Sugema sengaja meledakkan diri, maka bukan berarti kemenangan berada di tangan Sangara Santang. Bahkan, kemungkinan besar lawan dari kedua ahli yang meledakkan ikut menderita cedera yang tak ringan. 

Apakah Tumenggung Jayakusuma dan Maha Guru Primagama baik-baik saja…? Tak hendak mengira-ngira terlalu jauh, Bintang Tenggara menyadari bahwa tugas yang dirinya emban bukanlah untuk mengkhawatirkan kedua tokoh tersebut. Perannya saat ini, adalah menghambat upaya melarikan diri Maha Guru Sugema. Demikian, murid Komodo Nagaradja itu berdiri teguh menghadang! 

Jalinan akar meliuk-liuk tegak dan tinggi mengiringi setiap langkah Maha Guru Primagama. Ibarat pagar kokoh yang membentengi ladang dari ancaman babi hutan liar, hampir tiada tersedia celah di antara akar-akar tebal. Sebentar lagi, akar-akar tersebut akan melibas anak remaja yang hendak berperan sebagai pahlawan pembela kebenaran. 

Menggeretakkan gigi, Bintang Tenggara merangsek maju. Jalinan petir berderak dan melingkupi kedua kaki, serta di saat yang bersamaan kecepatan langkah bertambah dua kali lipat daripada biasanya. Dengan menggabungkan jurus kesaktian dan persilatan, dalam hal ini Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana dengan Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang, anak remaja tersebut berupaya berkelit di antara jalinan akar. 

Percaya bahwa upaya Bintang Tenggara tak lebih dari tindakan terdesak ahli muda belia yang rendah pengalaman, Maha Guru Sugema tiada menghiraukan. Akar-akar miliknya ini memiliki kemampuan pertahanan diri yang apik, dan dapat bekerja tanpa menunggu perintah. Dengan sendirinya, akar-akar akan senantiasa melindungi. 

“Zzzttt…” 

Akan tetapi, sungguh Maha Guru Sugema memandang rendah anak remaja yang salah. Di luar perkiraannya, Bintang Tenggara menyelip gesit di antara jalinan akar. Atau lebih tepatnya, gerakan melesat tiada beraturan anak remaja tersebut terlalu cepat bagi akar-akar untuk mencegah. Walhasil, Bintang Tenggara sudah tiba tepat di hadapan Maha Guru Sugema! 

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Tanpa seberkas titik keraguan, jurus pamungkas milik Komodo Nagaradja dilesakkan. Maha Guru Sugema lengah, namun di saat-saat akhir ia sempat memberi perintah pada jalinan akar panjang-panjang untuk melindungi tubuhnya. 

“Duar!” 

Gelombang kejut dilepaskan berbarengan dengan suara membahana nan memekakkan telinga. Maha Guru Sugema terdorong mundur, dan jalinan mata hati yang melayangkan tabung besar berisi jasad tubuh Ginseng Perkasa terputus. Walau, sebelum jatuh ke tanah, jalinan akar sigap menyambut tabung besar tersebut. 

Bintang Tenggara, di lain pihak, sedang bertumpu pada satu lutut. Napas terengah dan sekujur tubuh bersimbah keringat. Ia terlalu memaksakan diri dengan melepaskan tiga jurus besar di saat yang hampir bersamaan. Beban hentakan balik yang mendera tubuh dipastikan demikian berat pula. Sekali lagi, aturan baku dunia keahlian berlaku: Barang siapa yang memperoleh kemampuan besar, maka wajib mengorbankan tenaga dalam jumlah yang besar pula. Sebagai tambahan, tubuh ahli Kasta Perak masih belum cukup tangguh bagi ketiga jurus tersebut dirapal dalam rentang waktu yang sangat dekat. Seusai petarungan ini, dapat dipastikan bahwa ia akan menderita encok dan linu yang cukup menyiksa dan berlangsung lama.

Maha Guru Sugema mengutuk diri sendiri dan si anak remaja. Meskipun pukulan tinju berkekuatan gelombang kejut tiada menyebabkan cedera berat, ia sedang berada dalam situasi di mana tenaga dalam terbatas. Di samping itu, ia sadar sedang menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga dan dibeli dengan pengorbanan nyawa. Maka dari itu, secepatnya Maha Guru Sugema berlari mendatangi tabung yang kini disangga akar-akar. 

Menyaksikan tindakan lawan, Bintang Tenggara memaksa diri. Ia bangkit dan melesat ke arah tabung besar di antara mereka. Baginya, mengambil tabung dan menyemayamkan tubuh Ginseng Perkasa secara benar merupakan sebuah tanggung jawab yang patut ia pikul. Oleh karena itu, jangan sampai tabung tersebut kembali jatuh ke tangan Maha Guru Sugema! 

Akan tetapi, di saat keduanya berjuang mencapai tabung, sebuah lorong dimensi ruang merekah tepat di sisi tabung. Membuka dengan sangat cepat, sesosok tubuh tinggi melangkah keluar! 

Raut wajah Maha Guru Sugema dan Bintang Tenggara sontak berubah. Keduanya ragu apakah mempercepat atau melambatkan langkah menuju tabung besar. Di dalam benak keduanya mempertanyakan, apakah kawan atau pun lawan yang akan melompat keluar dari lorong dimensi tersebut…?

Perubahan raut wajah dari cemas menjadi lega, terpampang di pihak Maha Guru Sugema. Terlihat sebentuk senyum menyungging, karena tokoh yang melangkah keluar dalam dalam lorong dimensi mengenakan jubah yang khas! 

Mirip dengan Maha Guru Sugema, tokoh tersebut mengenakan jubah longgar dan tudung yang menyamarkan wajah. Ia lantas menebar pandang dan jalinan mata hati ke semerata penjuru, sebagai upaya memantau situasi. Segera ia menyadari akan alasan mengapa tak bisa mengirim pesan kepada Maha Guru Sugema, karena wilayah hutan dikelilingi oleh prajurit yang menghalang sinyal lencana menggunakan cangkang siput.

“Dikau tiada dapat dihubungi. Firasatku tiada berdusta…,” ujar tokoh yang baru saja tiba kepada Maha Guru Sugema. Dari nada suaranya, diketahui bahwa ia merupakan seorang lelaki dewasa. 

Saking leganya, Maha Guru Sugema tiada mampu mengunggah kata-kata penyambutan. Ia mengangguk cepat dan berkali-kali. 

“Pergilah terlebih dahulu.” Tokoh yang baru datang mempersilakan rekannya memasuki lorong dimensi ruang. 

Maha Guru Sugema hendak menjangkau dan membawa tabung. Akan tetapi, tokoh lelaki dewasa itu mengibaskan lengan, sebagai isyarat bahwa dirinyalah yang akan membawakan tabung tersebut. 

Bintang Tenggara waspada. Dapat dipastikan bahwa yang baru saja tiba adalah lawan, bukan kawan. Dari aura tenaga dalam yang terpancar, dapat diperkirakan bahwa tokoh tersebut merupakan ahli Kasta Emas tingkat atas, yang berada dalam kondisi prima. 

Benak si anak remaja berputar deras untuk mencari cara mengulur waktu. Di mana Sangara Santang di kala kehadirannya sangat dibutuhkan!?

Tokoh lelaki dewasa tersebut lantas merentangkan sebelah lengan, dan formasi segel merangkai cepat dalam membuka lorong dimensi ruang. Bukan. Bintang Tenggara mengetahui bahwa formasi segel yang sedang dirapal bukanlah untuk membuka lorong dimensi ruang, sebaliknya ia mengenal formasi segel tersebut sebagai kunci dimensi ruang penyimpanan. Dirinya pernah diajari akan susunan formasi segel yang sama oleh seseorang. 

Ke dalam dimensi ruang penyimpanan, tokoh tersebut menjulurkan tangan. Gerakannya seolah sedang meraih beberapa benda secara hati-hati. Adegan selanjutnya, tokoh tersebut mengeluarkan lembar-lembar kulit kering bertangkai. Menyaksikan senjata pusaka yang dikeluarkan, seketika itu juga tubuh Bintang Tenggara kaku di tempat. Jantungnya berdebar kencang! 

“Kuserahkan nyawanya kepada dikau, wahai Saudaraku.” Maha Guru Sugema menyadari bahwa kehadirannya sudah tiada diperlukan. Tetapi sebelum melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang, ia melirik ke arah Bintang Tenggara. Sebentuk senyuman mengejek dilontarkan, dan akhirnya ia menghilang ke dalam lorong dimensi ruang tersebut. 

“Sang Maha Patih dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” ujar Bintang Tenggara yang berupaya tampil tenang. Senjata pusaka yang saat ini berada di dalam genggaman tokoh di hadapan tak lain adalah lima lembar Wayang Kulit Siluman Punakawan! 

Kepada Maha Guru Sugema, tindakan mengambil Senjata Pusaka Angkara Murka tersebut merupakan petunjuk bahwa ia akan mencabut nyawa si anak remaja. Kepada Bintang Tenggara, tindakan tersebut sengaja dilakukan untuk mengungkap jati diri sebagai sosok yang asli, bukan ahli lain yang sedang menyamar. 

“Yang Mulia Yuvaraja, Balaputera Gara…” sahut Balaputera Wrendaha yang merupakan Datu Besar di Kadatuan Kedua sekaligus juga wali bagi para pewaris takhta. Di saat yang bersamaan, ia menyingkap tudung kepala. Terlihat roman wajah yang keras, mencerminkan keteguhan hati dan kedisiplinan layaknya seorang prajurit yang telah ditempa pertempuran demi pertempuran sepanjang hayatnya. 

“Dikau adalah anggota Kekuatan Ketiga….”

Balaputera Wrendaha mengangguk pelan. “Apakah Yang Mulia Yuvaraja masih menaruh kepercayaan kepada diriku…?”

Ingatan Bintang Tenggara berkelebat mundur. Balaputera Wrendaha merupakan murid dari Balaputera Dharanindra sang kakek. Selama beberapa ratus tahun, ia bersikap dingin kepada Kadatuan Kesembilan, sebagai bagian dari sandiwara untuk membongkar kejahatan Balaputera Tarukma. Diketahui sebagai guru dari Lintang Tenggara, Balaputera Wrendaha pula yang menyusun siasat untuk mengeluarkan Balaputera Sukma dari suatu dimensi ruang. 

Oleh sebab itu, dalam menanggapi pertanyaan Balaputera Wrendaha, Bintang Tenggara mengangguk.

“Jikalau demikian, izinkan diriku membawa pergi jasad Sang Maha Maha Tabib Surgawi,” lanjut Balaputera Wrendaha. “Jasad ini masih memiliki peran yang sangat penting.”

Bintang Tenggara sejenak terlihat ragu. “Apakah kiranya manfaat dari jasad tersebut…?”

“Pengetahuan,” tanggap Balaputera Wrendaha cepat. “Maha Guru Sugema menemukan cara untuk menelusuri pengetahuan meramu tingkat tinggi dari jasad ini.”

Pengetahuan seperti apa? batin Bintang Tenggara. Bukankah jauh lebih mudah menanyakan langsung kepada jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa, daripada bersusah-payah menelusuri jasad. “Demi menjaga kondisi jasad tersebut, Maha Guru Sugema melanggar adab dunia keahlian…”

“Diperlukan pengorbanan untuk menggapai tujuan yang lebih besar.” Sungguh jawaban yang bermakna dalam. Bila berbicara tentang pengorbanan, maka Balaputera Wrendaha adalah jawaranya. 

“Bahkan dengan mencabut nyawa mereka yang tak bersalah dan lemah….?”

“Benar.” Jawaban dingin dilontarkan cepat. 

“Mengapa tak meramu dari tubuh tahanan yang akan menjalani hukuman mati…?”

“Jikalau demikian titah Sang Yuvaraga, diriku akan menjalankan. Setelah kejadian hari ini, diriku dapat menyampaikan pandangan kepada para anggota Kekuatan Ketiga yang lain.” 

Bintang Tenggara masih terlihat enggan melepas jasad tubuh Ginseng Perkasa. 

“Diriku terpaksa undur diri…,” Balaputera Wrendaha tak menunggu jawaban Bintang Tenggara. “Sangara Santang sedang dalam perjalanan kemari…” Lelaki dewasa itu kemudian melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang bersama dengan tabung kaca dan besar yang berisi tubuh telanjang Ginseng Perkasa.


“APA!?” Seorang lelaki dewasa menjerit penuh amarah, yang membuat burung-burung di hutan beterbangan gelisah. 

“Suruh siapa datang terlambat…”

“Aku terpaksa mengantar Maha Guru Primagama dan Tumenggung Jayakusuma ke balai pengobatan di Perguruan Budi Daya. Mereka menderita cedera yang cukup berat karena lawan meledakkan diri!”

Bintang Tenggara menyilangkan lengan di depan dada. 

“Tugasmu hanyalah sederhana… Hambat langkah melarikan diri Sugema!”

“Sederhana…? Sederhana dengkul kuda! Seorang ahli Kasta Emas lain datang menjemput Maha Guru Sugema. Nyatanya siasatmu tiada mampu memperhitungkan kecurigaan yang timbul ketika para ahli di berbagai tempat tak dapat menghubungi Maha Guru Segema.”

“Tunggu…,” Sangara Santang seolah baru menyadari akan sesuatu. “Tadi kau bilang seorang ahli Kasta Emas…”

“Benar!”

“Mengapa ahli Kasta Emas itu tiada mencabut nyawa saksi di tempat kejadian perkara…?” Pertanyaan yang sangat mendasar. Kedua mata Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti itu menyipit, berupaya menemukan petanda bahwa anak remaja di hadapannya tiada menyembunyikan sesuatu. Firasatnya mengatakan bahwa Bintang Tenggara sengaja berdusta. 

“Mana kutahu,” sahut Bintang Tenggara. “Mungkin dia tak tega, mungkin sedang terburu waktu, mungkin pula hendak menyembunyikan jati diri. Ada 1,001 kemungkinan jawaban. Jikalau engkau memang pintar, silakan telusuri sendiri!” 


====


Dua purnama berikutnya di Perguruan Budi Daya berlangsung cepat. Akibat tindakan Bintang Tenggara menyetor ramuan dalam jumlah besar ke Balai Bakti, jumlah tugas yang dapat diambil seorang murid segera dibatasi. Aturan ini diambil untuk menyikapi siasat Bintang Tenggara dalam mengumpulkan poin, sehingga membuat pabrik ramuan terpaksa dibubarkan.

Sesuai perkiraan, predikat murid terbaik tentunya diraih oleh perwakilan dari Perguruan Gunung Agung. Sayangnya, pada akhir ajang pertukaran murid, Bintang Tenggara hanya mampu mengumpulkan sekira 50.000 poin, dan Balaputera Prameswara 30.000 poin. Walau berhasil memecah rekor pengumpulan poin, jumlah ini masih sangat jauh dari harapan. 

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara tetap berhak memilih satu bahan dasar ramuan apa saja yang tersedia di Perguruan Budi Daya untuk dibawa pulang. Sejalan dengan tujuan awal, anak remaja tersebut memilih tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang.

Walhasil, dua anak remaja bersiap meninggalkan Perguruan Budi Daya. Akan tetapi, seorang gadis belia mencegat langkah mereka. “Sebelum pergi, Maha Guru Primagama mengundang hadir ke kediamannya,” ujar gadis belia yang mengenakan kaca mata kepada Bintang Tenggara.

Menyadari bahwa Maha Guru Primagama merupakan anggota Pasukan Penyembuh dan murid dari sang Maha Maha Tabib Surgawi, kali ini Bintang Tenggara bersedia memenuhi undangan.

Seorang perempuan dewasa duduk di balik meja dan besar. Wajahnya sedikit pucat, kemungkinan karena dampak cedera yang ia alami belum sepenuhnya pulih. “Mohon maaf karena kami telah memanfaatkan kalian…” Nada suaranya mengisyaratkan bahwa hatinya masih gundah karena tiada berhasil mengambil kembali jasad sang guru.

“Sungguh tiada mengapa,” tanggap Bintang Tengara cepat. Ia berupaya menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sengaja membiarkan jasad tersebut dibawa pergi. 

“Diriku tetap merasa bersalah karena telah mengelabui. Oleh karena itu, mohon kiranya bersedia menerima buah tangan ini…”

Gadis berkaca mata, yang merupakan Pramubakti dari Maha Guru Primagama, mendatangi sambil membawa sebentuk kotak kayu berukuran kecil. Ia mengangkat tutup kotak, menyodorkan, agar isinya terlihat jelas. Adalah sebentuk kain yang dilipat segitiga dan berwarna kuning. Bintang Tenggara mengambil kain tersebut, dan mulai mengupas lipatannya secara perlahan.


Catatan:

Berakhir sudah babak Perguruan Budi Daya. Karena web Ceritera akan di-update, maka Ahli Karang nan budiman akan berlibur selama sekitar dua pekan. 

Tabik.