Episode 367 - Tubuh Telanjang



“Kakek Gin, apakah dikau memiliki murid…?” Di kala melesat dengan langkah petir nan tiada beraturan, Bintang Tenggara hendak memastikan. 

“Banyak. Ribuan jumlahnya.”

Tentu saja anak remaja tersebut mengingat bahwasanya sebagai Jenderal Keenam dari Pasukan Bhayangkara, Sang Maha Maha Tabib Surgawi merupakan pimpinan dari Pasukan Penyembuh. Dikisahkan, kesemuanya anggota pasukan tersebut merupakan gadis-gadis nan cantik jelita. Sungguh sebuah impian yang sukar dipercaya. 

“Apakah terdapat ciri-ciri tertentu bagi para anggota Pasukan Penyembuh…?” 

“Kesemuanya memiliki ketiak nan aduhai!” 

“Apakah ada sesuatu tanda khusus pada ketiak mereka…? Sembari menggali informasi dan melesat cepat, Bintang Tenggara sigap memungut sebatang tumbuhan siluman bambu yang tergeletak. Batang bambu memanglah berserakan setelah sebelumnya dibabat oleh Tumenggung Jayakusuma.

“Menandai ketiak berarti merusak keindahannya...” Ginseng Perkasa terdengar sedikit ragu.

Memasukkan batang tumbuhan siluman bambu ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi, Bintang Tenggara menangkap keraguan dari nada suara Ginseng Perkasa. “Benarkah demikian…?”

“Hm… Setelah diingat-ingat, pernah memang ada kejadian di mana sejumlah murid belia menandai ketiak mereka. Sungguh membuat diriku murka.” Ginseng Perkasa berujar polos. 

Pas! batin Bintang Tenggara berteriak. Diawali dengan sehelai rambut pendek nan keriting, lantas tuntutan Maha Guru Primagama atas jasad guru beliau, kemudian kemampuan Maha Guru Sugema meramu klon tubuh, dan diakhiri dengan simbol ular yang melingkari lesung batu pada permukaan ketiak Maha Guru Primagama… Simbol inilah yang menjadi kunci dari teka-teka, karena sama bentuknya dengan simbol yang muncul di bahu tangan Bintang Tenggara saat meminjam keterampilan khusus peramu dari Ginseng Perkasa. 

Menghubungkan benang merah atas fakta-fakta di atas, maka menjadi sangat penting untuk menguak rahasia perseteruan antara Maha Guru Sugema dan Maha Guru Primagama. Jadi, pertikaian yang berlangsung bukan semata persaingan antara dua maha guru di dalam sebuah perguruan, sebagaimana Maha Guru Sugema hendak menggiring pandangan. Inilah yang menjadi alasan mengapa Bintang Tenggara melompat masuk ke dalam lubang bawah tanah, bukan karena diminta oleh si rubah. Catat itu! 

Suasana gelap dan lembab. Terowongan berkelok-kelok, untungnya hanya terdapat satu jalur sahaja. Tak lama, si anak remaja berhadapan dengan sebentuk daun pintu kayu nan kokoh. Ia pun mendobrak masuk. 

Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung itu tiba di dalam sebuah ruangan berukuran sedang dan berbentuk persegi enam. Hanya diterangi oleh cahaya temaram lentera pada setiap sisi, terlihat permukaan dinding batu yang basah dan ditumbuhi subur lumut-lumut kecokelatan. Panjang ibarat lembar-lembar rambut, jalinan lumut sepertinya tiada tumbuh secara alami, melainkan hidup karena sengaja dibudidayakan. Pada langit-langit ruangan, terdapat sulur-sulur yang bergelayutan ringan. Sepertinya, ada sesuatu yang terhubung dengan sulur-sulur tersebut, namun telah ditarik paksa.

Tak ada tanda-tanda kehidupan lain di seisi penjuru ruangan. (1)

Bintang Tenggara mengamati setiap jengkal ruangan, namun tiada menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kemanakah perginya Maha Guru Sugema…? Apakah ada jalur yang terlewatkan...? Bintang Tenggara hendak menggulung benang, kembali menyusuri lorong goa. 

“Ada lorong tersembunyi pada salah satu sisi dinding….” Ginseng Perkasa berujar ringan. 

Bintang Tenggara menebar jalinan mata hati, memusatkan pada indera penciuman untuk membaui senyawa ramuan. Benar saja, terdapat berkas ramuan yang berbeda pada salah satu sisi dinding yang ditumbuhi oleh lumut-lumut. Nyatanya, terdapat lorong lain yang disamarkan oleh lumut-lumut lebat tersebut. 

Anak remaja itu menyeruak masuk. Lengket dan lembab rasanya lumut panjang-panjang itu. Perasaan jijik ia abaikan dan terus memaksakan diri membelah lumut-lumut lebat. Di seberang sana, kemudian ditemui sebuah lorong gelap. Udara lembab mulai menipis dan mengisyaratkan bahwa terdapat pintu keluar di ujung lorong. 

Benar saja. Tak lama setelah menelusuri lorong, terlihat sumber cahaya dan terasa hembusan angin segar semakin dekat. Bintang Tenggara pun mempercepat langkah. Keluar melalui sebuah liang goa, ia tiba di sebuah wilayah aneh. Terdapat sisa-sisa pakaian berserakan dan jalinan rambut di mana-mana. Dalam sekali pandang, dapat ia simpulkan bahwa dirinya kini berada di sebuah tempat penjagalan! 

Yang lebih menarik perhatian, adalah sebentuk tabung berukuran besar sekira dua puluh langkah di hadapan sana, kiranya terbuat dari kaca nan teramat tebal. Sisi atasnya ditutup oleh lapisan papan kedap air, lalu terdapat sulur-sulur yang menjuntai di atas tutup itu. Agaknya sulur-sulur tersebut tadinya terhubung ke langit-langit ruangan persegi enam, sebelum terputus paksa. 

Di dalamnya tabung kaca, terdapat cairan nan jernih. Berkas sinar mentari bermain-main pada permukaan tabung kaca. Sebagian cahaya memantul temaram, sedangkan sebagian cahaya lagi menembus tabung. Dari dalamnya tabung, terlihat siluet tubuh manusia yang mengambang ringan di dalam cairan. Sedikit mengubah sudut pandangan, maka mulai terlihat tubuh lelaki setengah baya yang gemuk, terkesan pendek di dalam tabung itu. Kulitnya putih pucat, dan cairan di dalam tabung membuat alis dan janggut panjang berwarna seputih salju mengalun-alun ringan. 

“Itu…” Mulut Bintang Tenggara menganga. 

“Duar!” Hantaman keras mendarat telak di bahu si anak remaja. Ia terpelanting lalu berjumpalitan di permukaan tanah. Rambut-rambut sisa manusia yang telah diramu melayang akibat deru ledakan dan tubuh yang melintasinya. 

Bintang Tenggara bertumpu pada satu lutut, dengan darah merah mengalir di sudut bibirnya. Perasaan suka cita bercampur dengan kepala pening. Suka cita karena sudah dapat memastikan jati diri tubuh di dalam tabung kaca. Pening bukan hanya akibat dari serangan yang diterima, tetapi juga karena sempat menyaksikan tubuh di dalam tabung… tiada mengenakan sehelai benang pun. Ingatan buruk tersebut akan selamanya membekas di dalam benak!

“Itu tubuhku!” teriak girang jalinan mata hati Ginseng Perkasa. Karena sebelumnya ikut terpana bersama Bintang Tenggara, ia pun lengah atas serangan yang datang secara diam-diam. 

Tatap mata Maha Guru Sugema tak lepas dari Bintang Tenggara saat ia melesat ke sisi tabung. Dadanya naik turun, dan keringat membasahi pelipis dan wajah. Tak ayal lagi, ia kelelahan setelah meramu klon tubuh Jongrang Kalapitung. Bukan hanya itu, agar klon tubuh dapat bertarung ia wajib mengimbuhkan tenaga dalam dan perintah menggunakan jalinan mata hati. Dua upaya ini menguras tenaga dalam berjumlah besar serta sangat membebani mata hati.

Aturan baku dunia keahlian, mutlak berlaku. Untuk memperoleh kemampuan besar, maka para ahli wajib mengorbankan tenaga dalam jumlah yang besar pula. Tiada dapat ditawar. Saat ini, kekuatan Maha Guru Sugema tak beda dengan ahli Kasta Perak tingkat menengah. Oleh sebab itu pula, serangan diam-diamnya tak memiliki cukup tenaga untuk mencabut nyawa Bintang Tenggara. 

Hitung-hitungan sederhana ini dipahami betul oleh Bintang Tenggara. Secercah harapan terbuka lebar. Andai dapat mendekat, maka dirinya dapat melancarkan jurus Memutarbalikkan Fakta dan mengembalikan jiwa serta kesadaran Ginseng Perkasa ke tubuh tersebut.

“Nak Bintang, urungkan niat tersebut,” sapa Ginseng Perkasa seolah dapat membaca pikiran. “Tubuh itu telah menjadi jasad. Yang terkutuk Sugema lakukan hanyalah menjaga jasad yang sudah lama mati agar tak membusuk dengan cara yang teramat keji. Selain itu, entah apa yang selama ini telah ia perbuat terhadap wajah tampan dan tubuh indahku…”

“Tapi… Kakek Gin…” Bayangan tubuh lelaki setengah baya yang telanjang menghantui benak Bintang Tenggara. Serba salah. 

“Di samping itu, bukankah dikau tak dapat merapal formasi segel untuk melancarkan jurus pemindahan jiwa dan kesadaran…?”

Bintang Tenggara tersadar atas kebenaran kata-kata Ginseng Perkasa. Akibat hantaman keras lawan, dan tubuh telanjang lelaki setengah baya itu, agaknya membuat ia tak dapat berpikiran lurus. “Jikalau demikian, akan kuambil jasad tersebut agar tak terus-menerus disalahgunakan.”

“Benar.”

Bintang Tenggara bangkit berdiri, sembari berupaya sepenuh hati mengusir ingatan akan tubuh telanjang di dalam benak. 

“Besar sekali nyalimu bocah!” hardik Maha Guru Sugema. Beberapa saat ini ia terlihat sedang bersiap membawa tabung besar tersebut. Karena tiada dapat menggunakan Lencana Kekuatan Ketiga untuk memanggil bantuan, terpaksa ia membawa tabung nan besar keluar dari goa persembunyian, kemudian keluar dari wilayah hutan. Harapan terbuka bila ia berhasil melewati kepungan prajurit atau merusak susunan barisan para prajurit. 

Maha Guru Sugema terlihat menenggak sebutir pil. Segera setelah itu, kandungan tenaga di dalam mustika di ulu hatinya terasa bertambah. 

Bintang Tenggara melesat maju! Anak remaja tersebut kemungkinan besar tak akan mampu mengalahkan Maha Guru Sugema di dalam pertarungan satu lawan satu. Akan tetapi, ia percaya dapat mengulur waktu. Jikalau Maha Guru Sangara Santang, Tumenggung Jayakusuma atau Maha Guru Primagama meraih kemenangan, maka mereka pastinya akan segera datang membantu. 

“Swush!” 

Sepuluh langkah sebelum mencapai Maha Guru Sugema, tetiba jalinan asap hitam pekat mengepul dari permukaan tanah. Di saat itu pula, pandangan mata dan pantauan mata hati Bintang Tenggara terbelenggu. Tak ayal, Maha Guru Sugema telah siap dengan memasang jebakan!

“Binasa!” Maha Guru Sugema menghantamkan tinju berkekuatan penuh!

“Zzzt…”

Tetiba, tatkala tinjunya berada sejengkal dari tubuh Bintang Tenggara, Maha Guru sugema tersengat petir! Tubuhnya sontak terdiam kaku di tempat. Walau hanya dalam satu kedip mata saja, waktu yang tercipta dimanfaatkan Bintang Tenggara untuk melompat keluar dari kepulan asap!

“Bangsat!” hardik Maha Guru Sugema berang. Bukan kepada Bintang Tenggara, namun kepada seorang gadis belia yang sedang membuka sebuah kitab nan tebal. Ia berdiri tak terlalu jauh di sana, dan melepaskan serangan yang menyelamatkan jiwa Bintang Tenggara. 

Berbeda dengan Citra Pitaloka dan Embun Kahyangan yang hilang kesadaran karena hentakan tenaga dalam, Lampir Marapi tiada demikian. Sebagaimana diketahui, gadis belia ini tak dapat memanfaatkan mustika dan mengalirkan tenaga dalam saat bertarung. Dengan demikian, anggota Partai Iblis ini memiliki kelebihan tersendiri, yaitu hentakan tenaga dalam lawan tiada berpengaruh banyak. 

Sebelumnya, Lampir Marapi hilang kesadaran karena serangan terhadap raga. Oleh karena itu, lebih cepat pula ia siuman dibandingkan dua gadis belia lain. Di dalam formasi segel perlindungan, ia kemudian menerima arahan dari Sangara Santang untuk menyusul. Dengan memanfaatkan Cermin Cakra, sebuah cermin kecil bertangkai selayaknya alat rias sederhana milik gadis-gadis kebanyakan, yang berfungsi sebagai radar mustika tenaga dalam, Lampir Marapi dapat mengetahui persis lokasi di mana Bintang Tenggara berada. 

Dalam bertarung, Lampir Marapi bergantung pada senjata dan memanfaatkan jurus kesaktian pemberian ahli lain yang disimpan ke dalam halaman Kitab Kosong Melompong. Segel Petir yang baru saja ia lemparkan, secara kebetulan, merupakan pemberian Bintang Tenggara. (2)

Maha Guru Sugema terjepit. Keadaannya saat ini mewajibkan penghematan tenaga dalam, sementara terdapat dua ahli Kasta Perak yang akan bahu-membahu menghambat geraknya. Karena menyadari bahwa si gadis belia itu memiliki sesuatu yang mampu membuat tubuh kaku sejenak, ia akan kesulitan. Oleh karena itu, agar dapat segera keluar dari wilayah hutan, ia harus memberangus keduanya! 

Di lain sisi, baik Lampir Marapi maupun Bintang Tenggara menyadari bahwa tugas mereka adalah menghambat. Di hadapan ahli Kasta Emas, walau sedang berada dalam keadaan lemah sekalipun, tetap akan sangat membahayakan. Bintang Tenggara menelan pil pahit ketika menderita serangan diam-diam dan terpancing masuk dalam kepulan asap. Oleh sebab itu, adalah lebih bijak bagi kedua ahli Kasta Perak untuk bertindak sesuai dengan pergerakan lawan. Mereka menanti.

Dentuman demi dentuman terdengar sayup. Tiga pasang ahli Kasta Emas saling tukar-menukar serangan di kejauhan. Belum ada tanda-tanda bahwa pertarungan akan rampung dalam waktu dekat. Sebaliknya, Maha Guru Sugema dikejar waktu. Ia tak hendak berjudi bahwa klon tubuh tubuh Jongrang Kalapitung dan kedua rekannya akan tampil sebagai pemenang. Selain itu, bila para ahli dari Perguruan Budi Daya berdatangan, maka ia tak lagi dapat mempertahankan dalih persaingan antar dua maha guru. Tidak ketika jasad sang Maha Maha Tabib Surgawi telah terpapar. 

Dengan jalinan mata hati, Maha Guru Sugema mengangkat tabung. Ia melangkah pelan. 

“Swush!” 

Ujung tajam Tempuling Raja Naga tetiba mengincar dari arah kanan. Berbekal Segel Penempatan yang dilempar oleh Lampir Marapi, Bintang Tenggara memperoleh pijakan untuk melenting dan mengincar dari sudut mati. Kerjasama kedua remaja ini cukup apik, karena sudah cukup terbiasa bertarung berdampingan. Mereka pernah terdesak di Pulau Dua Pongah, pernah pula berlatih bersama di Sanggar Sarana Sakti. 

Di saat tikaman dihindari, memanfaatkan teleportasi jarak dekat Bintang Tenggara menarik diri. 

“Monyet!” sergah Maha Guru Sugema yang tertahan langkahnya. 

“Dor!” 

Mengeluarkan ketapel dan menembakkan kelereng bermuatan unsur api, Lampir Marapi memiliki kemampuan serangan jarak jauh. Paha Maha Guru Sugema bergetar nyeri. Walau tiada menimbulkan cedera berat, upaya ini ampuh menghambat langkah. 

Maha Guru Sugema mengeluarkan sebotol ramuan. Ia menenggak isinya, lantas menyembur ke segala penjuru. Akar-akar pepohonan seolah memperoleh gizi tiada terbatas, sehingga menyeruak cepat dari permukaan tanah. Melambai-lambai lentur setinggi pohon, akar-akar tersebut mengikuti langkah sang empunya. Dengan perlindungan yang dibangun, Bintang Tenggara dan Lampir Marapi kesulitan mengincar. 

Maha Guru Sugema dan tabung besar miliknya kini lebih leluasa bergerak. Ia bahkan mulai berlari kecil. Inilah kelebihan para ahli peramu, meski terbatas dalam hal menyerang namun mereka memiliki banyak cadangan ramuan untuk bertahan. 

Bintang Tenggara melibas golok angin Mustika Pencuri Gesit. Jalinan akar ditebas, namun ketebalannya akar berhasil meredam bilah angin. Segera setelah itu, jalinan akar kembali bertumbuh lebat seperti sedia kala. Upaya menebas dilakukan dua-tiga kali lagi, namun tiada membuahkan hasil yang diinginkan, sementara cadangan tenaga dalam banyak terhamburkan.

Tak mudah menyerah, sepasang remaja berlari melewati Maha Guru Sugema. Di hadapan, kini mereka berdiri menghadang. 

“Srak!” 

Jalinan akar tetiba menyeruak dari bawah kaki Bintang Tenggara dan Lampir Marapi. Keduanya sontak melompat berpencar, namun tebasan susulan meliuk tangkas. Tanpa mereka ketahui, akar-akar buatan Maha Guru Sugema merambat di bawah tanah. Selanjutnya Bintang Tenggara berkelit cepat, namun Lampir Marapi sedikit terlambat. Walhasil, gadis belia tersebut terkena sapuan akar dan terpental jauh menghantam pohon. 

Di kejauhan, terlihat Lampir Marapi yang berupaya bangkit, namun terhuyung dan bersandar pada pohon. 

“DUAR” 

Suara ledakan menggetar langit dan menggempa bumi. Maha Guru Sugema melontar pandang ke arah pertarungan yang sedang berlangsung di tempat terpisah. Raut wajahnya berubah risau.

“Apakah yang terjadi…?” Bintang Tenggara tiada dapat menahan diri untuk mengajukan pertanyaan. 

“Salah satu rekannya meledakkan diri,” jawab Ginseng Perkasa ringan. 

Meledakkan diri merupakan upaya terakhir seorang ahli dalam keadaan terdesak. Meledakkan diri dilakukan karena tak hendak memberikan kemenangan kepada pihak lawan. Dengan meledakkan diri, seorang ahli berupaya membawa lawan mati bersamanya, atau setidaknya mengalami luka berat yang bersifat tetap, sehingga tak dapat lagi menekuni jalan keahlian. 

“DUAR” 

Sebuah ledakan membahana kembali mengemuka. Wajah Maha Guru Sugema semakin kecut. Dalam kaitan ini, ia menyadari bahwa kedua rekannya telah meledakkan diri karena sudah tak mungkin lagi bagi mereka meraih kemenangan. Satu-satunya langkah untuk membuka kesempatan kepada Maha Guru Sugema, adalah dengan mengorbankan diri. Demikian besar pengabdian yang dicurahkan.



Catatan:

(1) Episode 355

(2) Episode 84