Episode 364 - Kemampuan Aneh



Bintang Tenggara melesat cepat, disusul oleh Balaputera Prameswara sebagai biang kerok. Andai saja sang saudara sepupu tak melakukan tindakan bodoh, maka kemungkinan besar mereka tak akan dikejar pasukan kemaharajaan. Bahkan, seharusnya mereka saat ini sudah menempuh setengah perjalanan kembali menuju Perguruan Budi Daya. Walau berjumlah besar, tentu mereka tak akan bertindak gegabah menyerang salah satu perguran terkemuka di Pulau Jumawa Selatan. 

Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kini Bintang Tenggara lebih penasaran dengan kebiasaan buruk Balaputera Prameswara yang tetiba berubah seperti orang mabuk bunga kecubung, yang hilang setengah kesadaran. Sebelumnya, tokoh tersebut ‘mempertemukan’ dengan Nenek Sukma sehingga dapat membongkar kejahatan Balaputera Tarukma yang telah terkubur rapi selama ratusan tahun. Oleh karena itu, sulit bagi Bintang Tenggara mengambil kesimpulan apakah perilaku aneh tersebut merupakan sebuah kebetulan belaka, ataukah sesungguhnya Balaputera Prameswara memiliki kemampuan khas yang belum terkuak…?

Hal ini kemudian membawa kembali pada pertanyaan lama, yaitu siapakah sesungguhnya jati diri ayahanda dari Balaputera Khandra dan Balaputera Prameswara…? Tiada mungkin hanya merupakan seorang pelayan sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibunda Tengah Samara. Akan tetapi, terpaksa Bintang Tenggara mengenyampingkan lagi pertanyaan ini, karena di belakangnya ratusan derap tapal kuda semakin terdengar kentara. Para prajurit penunggang kuda mengejar dan semakin mendekat.

“Cepatlah!” Sergah Bintang Tenggara kepada sang saudara sepupu yang kurang dapat dibanggakan kecepatan larinya itu.

“Akh!”

Balaputera Prameswara tiba-tiba menjerit, karena ia tersandung pada akar pepohonan. Tubuhnya jatuh berguling-guling hilang kendali. Kemudian, ia berupaya bangkit, tertatih, lalu terjerembab duduk. Kedua tangan memegang pergelangan kaki kanan, ia meringis kesakitan sangat. 

“Lagi!?” Ingatan Bintang Tenggara kembali kepada saat hajatan akbar pewaris takhta berlangsung, di mana pada saat itu pun Balaputera Prameswara terjatuh dan pergelangan kakinya terkilir. 

“Pergilah! Tinggalkan saja diriku yang nestapa ini…,” Balaputera Prameswara merintih. 

Bintang Tenggara menatap jauh ke belakang. Mereka baru saja masuk ke dalam wilayah di mana pohon-pohon tumbuh namun masih berjarak renggang. Dengan kata lain, keduanya belum terlampau jauh masuk ke dalam hutan. Dalam situasi seperti ini, sulit rasanya bersembunyi. Di lain sisi, meninggalkan Balaputera Prameswara berarti membiarkan sang saudara sepupu dipermalukan, bahkan disisiksa oleh para prajurit bawahan Martakusuma. Sempat terlintas pikiran untuk membiarkan saja dia tertangkap, toh permasalahan dengan Martakusuma memanglah disulut oleh Balaputera Prameswara yang bersikap angkuh. 

Akan tetapi, anak remaja yang satu ini masih memiliki hati nurani. Ia tak tega membayangkan raut wajah Ibunda Tengah Samara bersedih hati karena putranya dipermalukan dan disiksa. Begitu pula dengan Ayahanda Sulung Rudra, pastilah murka sangat bila mendengar bahwa salah satu kemenakannya diperlakukan semena-mena. 

Bintang Tenggara segera mendatangi Balaputera Prameswara. “Bukankah engkau memiliki Kartu Satwa…?” ujarnya dengan nada datar. 

Raut wajah pilu sosok yang menderita cedera mendongak, lantas mengangguk. 

“Lantas…?”

Balaputera Prameswara masih mendongak ibarat monyet kecil yang patah semangat…

“Keluarkan binatang siluman milikmu!” 

“Oh… iya, iya.” Balaputera Prameswara lantas mengeluarkan dan mengibaskan selembar Kartu Satwa. Formasi segel berpendar, yang membuka lorong dimensi ruang dan waktu. Seekor binatang siluman mengemuka, tubuhnya hampir dua kali ukuran tinggi Bintang Tenggara, dengan rambut lebat berwarna kehitaman pada sekujur tubuh. Ini adalah binatang siluman yang Balaputera Prameswara jinakkan saat hajatan akbar pewaris takhta berlangsung. (1)

Menyaksikan sang tuan kesakitan, binatang siluman Babun Rambut Hutan sigap menghampiri. Ia lantas terlihat kikuk, kebingungan mencari cara untuk membantu. Akhirnya, ia mengangkat tubuh nan lemah, lantas meletakkan perlahan di pundaknya. 

“Segera kembali ke perguruan, aku akan mengalihkan perhatian mereka,” Bintang Tenggara bertitah. Demikian, ia pun melepas kepergian Balaputera Prameswara yang terlihat enggan berpisah. Menyaksikan kecepatan binatang siluman Babun Rambut Hutan nan demikian tangkas di antara lebat pepohonan dan semak belukar, Bintang Tenggara yakin dan pasti bahwa saudara sepupunya akan baik-baik saja. 

Bintang Tenggara lantas menanti sejenak lagi. 

“Hei! Jangan lari!” seru seorang prajurit berkuda.


===


Tubuh seorang gadis belia nan sintal tergantung lunglai, dengan cengkeraman jari panjang-panjang milik perempuan berjubah kecoklatan melingkar pada lehernya. Embun Kahyangan terlalu lemah karena sudah berkali-kali merapal jurus kesaktian unsur kabut. Selain itu, hentakan balik jurus yang dirapal terhadap lawan yang jauh lebih perkasa, mendera berat pada tubuhnya. 

Tak terlalu jauh, di hadapan ahli misterius kedua, Citra Pitaloka bertumpu pada satu lutut. Ia terbatuk memuntahkan darah sampai beberapa kali, dibarengi dengan sekujur tubuh penuh nyeri. Hanya semangat pantang menyerah yang membuat dirinya dapat bertahan sampai sejauh ini. Di balik tubuh gadis belia tersebut, Lampir Marapi tergolek lemah. 

Upaya melarikan diri kedua gadis belia tiada membuahkan hasil. Lawan mereka terlampau tangguh. Jurang pemisah antara ahli Kasta Perak dengan ahli Kasta Emas tiada dapat dikelabui. Walau ketiga gadis belia menyusun rencana dengan memanfaatkan lebat pepohonan dan semak belukar, hasil yang sedemikian mengecewakan memang sudah dapat diduga sedari awal. 

Seorang lagi ahli Kasta Emas yang mengenakan jubah longgar kecoklatan mendarat di antara kedua rekannya. “Gawat!” ujarnya sesaat kemudian. “Gadis itu memanglah Citra Pitaloka, Putri Mahkota Kemaharajaan Pasundan. Aku menyaksikan ribuan bala prajurit di luar batas hutan. Mereka datang bersama dengannya!”

“Apakah mereka mengincar kita?”

“Tidak. Kejadian ini merupakan sebuah kebetulan sahaja. Sepertinya mereka memiliki tujuan lain.”

“Cih! Mencabut nyawa ketiga gadis ini di sini akan mengundang pencarian besar-besaran. Segenap ahli dari wilayah Tanah Pasundan akan datang berbondong-bondong menelusuri jejak pembunuh. Tempat persembunyian kita akan terbongkar!”

“Kita kembali…,” salah seorang lelaki berjubah berupaya tampil tenang. “Bawa mereka.” Ia lantas menghentakkan tenaga dalam, dan Citra Pitaloka roboh pun di tempat. 

Tubuh ketiga gadis belia kemudian melayang ringan berkat jalinan mata hati yang dikerahkan. Sebelum beranjak, salah seorang ahli Kasta Emas berjubah longgar mengeluarkan sebuah botol berukuran sedang. Ia membuka tutupnya, di mana asap hitam menyeruak keluar dan mengepul pekat di hadapan mereka. Kemudian, dengan kesaktian unsur angin, asap hitam tersebut dihembuskan ke arah di mana bala prajurit diperkirakan berada. Suasana hutan yang rindang, bertambah semakin gelap. 

Sejurus kemudian, tanpa suara, para ahli Kasta Emas pun melesat meninggalkan wilayah tersebut sambil membawa serta tawanan. 


Bintang Tenggara sedang mengalihkan perhatian para pengejar ketika sudut matanya menangkap kelebat kecoklatan yang melesat cepat. 

“Awas!” Ginseng Perkasa tetiba memberi peringatan. “Asap beracun.”

Kedua mata Bintang Tenggara lantas mendapati gumpalan asap hitam menderu ke arahnya. Sigap, anak remaja tersebut melompat ke arah samping, kemudian memacu langkah berhadapan dengan arah angin sebagai upaya menghindar. 

“Racun apakah gerangan?”

“Racun Ringan berjuluk Asap Simpang-Siur. Hanya akan menimbulkan halusinasi dan membuat korbannya kehilangan arah.” 

“Siapakah mereka yang menebar racun?”

“Tiga ahli Kasta Emas dan tiga ahli Kasta Perak,” sahut Ginseng Perkasa. “Berdasarkan aroma yang menyibak, ketiga ahli Kasta Emas tersebut merupakan peramu.”

“Apakah yang mereka lakukan di hutan ini…?”

“Kemungkinan besar mengumpulkan bahan dasar pembuat ramuan. Yang dapat kupastikan, adalah keberadaan tiga pasang ketiak nan harum… Sayang sekali mereka terlelap.”

Kata-kata Ginseng Perkasa ibarat teka-teki. Akan tetapi, bukan Bintang Tenggara namanya bila tak dapat menarik kesimpulan lebih lanjut. “Mereka membawa tiga gadis yang tak sadarkan diri… Mungkinkah penculikan…?”

Bintang Tenggara kembali memacu langkah. Berkat asap racun yang sengaja disebar, ia akan dengan mudahnya melepaskan diri dari pengejaran para prajurit berkuda yang terkecoh. Dengan demikian, langkah selanjutnya adalah menyusul Balaputera Prameswara dan segera kembali ke Perguruan Budi Daya, mengambil imbalan 10.000 poin, dan melanjutkan pengawasan terhadap karyawan pabrik ramuan. 

“Sayang sekali, salah satu ketiak itu disertai gumpalan lemak dan daging yang merusak cita rasa…” 

Bintang Tenggara berhenti mendadak, sampai-sampai mengeluarkan suara berdecit ibarat kereta kuda yang diberhentikan secara mendadak. “Gumpalan lemak dan daging yang merusak cita rasa …?” gumam anak remaja tersebut. Bila ingatan tiada mengelabui, maka satu-satunya kesempatan di mana Ginseng Perkasa membenci ketiak, adalah tatkala tokoh mesum tersebut bertemu dengan… Embun Kahyangan! (2)

Tidak mungkin. Mengapa dia ada di dalam hutan ini…? batin Bintang Tenggara. Menepis keraguan, ia pun meneruskan langkah. Tak lama berselang, Bintang Tenggara sudah kembali di Desa Bojong. Di sana, rupanya, Balaputera Prameswara sedang menanti. 

“Hei, Wara!” Bintang Tenggara berseru. “Ketika engkau kehilangan kesadaran dan kendali tubuh, apakah ada yang engkau rasakan…?”

“Hm…?”

Bintang Tenggara menghampiri. “Apakah ada perasaan tertentu… apa pun itu…?”

“Diriku melihat… bukan… seperti kelebat ingatan di dalam benak…”

“Ingatan apa yang engkau alami tadi…?”

“Lupa…”

Bintang Tenggara memegang pundak, lantas menggoncang-goncang tubuh Balaputera Prameswara. “Coba ingat-ingat! Cepat!” 

“Kelebat cahaya… berwarna… biru… bukan… lebih gelap…” Anak remaja itu terlihat kebingungan. Sungguh upaya mengingat yang demikian berat. 

“Apa!?” Bintang Tenggara menyergah, menggoncang semakin kencang.

“Kelebat berwarna ungu… membalut… seperti kain…” 

Kilatan petir menari di kedua belah kaki. Pengamatan Ginseng Perkasa ditunjang oleh apa pun itu kemampuan aneh Balaputera Prameswara, menghasilkan kesimpulan ‘gumpalan lemak dan daging yang merusak cita rasa’ yang ‘dibalut kain selendang berwarna ungu’… Bintang Tenggara melesat secepat kilat. Mata hati menebar sejauh mungkin, ia berkelebat masuk ke dalam hutan mencari jejak. 


Seorang ahli kasta emas melambaikan lengan di hadapan sebongkah batu berukuran sebesar tubuh seekor gajah. Segera setelah itu, batu tersebut tergolek dan menampilkan rangkaian anak tangga turun ke bawah. Ujungnya tiada terlihat, karena gelap gulita di dalam sana. 

“Apa yang akan kita lakukan terhadap mereka…?” Salah seorang ahli Kasta Emas menunjuk kepada tubuh tiga gadis belia yang terbaring tak sadarkan diri di tanah. 

“Tentu kita tak bisa melepaskan mereka. Taruhannya terlalu tinggi. Oleh karena itu, kita akan mengubah mereka menjadi Air Belau Mala.”

“Mereka masih terlalu muda dan kurus… lemaknya tak akan banyak…” 

“Kecuali yang satu ini…” Salah satu dari tiga ahli Kasta Emas itu terkekeh. Ia menunjuk kepada tubuh Embun Kahyangan nan tergolek pasrah. 

“Cepat. Kita tak tahu berapa lama para prajurit akan tertahan. Mereka pastinya akan menyisir seluruh penjuru hutan.” 

Ketiga ahli mengangkat lengan secara berbarengan… 

“Hei! Apa yang kalian lakukan!?” Tetiba terdengar suara menyergah, yang datangnya dari seorang anak remaja. Terengah, ia melotot penuh amarah. 

“Cih! Apa yang dia lakukan di tempat ini!?” 

“Ssstt…”

“Kebetulan aku memiliki urusan tertunda dengannya…”

“Selesaikan cepat!” 

Salah seorang ahli Kasta Emas melesat. Hawa membunuh melambung tinggi, dan tanpa basa-basi ia menghentakkan tenaga dalam. 

Bintang Tenggara, di lain sisi, sudah terbiasa dengan hentakan tenaga dalam ahli Kasta Emas. Ia mengelak ke arah sisi, lalu memutar tubuh. Di saat yang bersamaan pula, lengannya bergerak menebas dan bilah angin melecut deras. Di dalam genggaman tangan, terlihat sebuah gagang senjata tanpa bilah. Golok angin Mustika Pencuri Gesit melibas musuh! 

Menyadari akan keberadaan senjata pusaka, ahli Kasta Emas tersebut bergeser ke samping. Akan tetapi, upaya menghindarnya sedikit terlambat karena bergerak maju terlalu cepat. Walhasil, jubah di bagian lengan teriris dan pada permukaan kulit terdapat bekas sayatan tipis. Darah merah merembes pelan. 

“Bangsat!” teriak ahli Kasta Emas yang merasa dipencundangi ahli Kasta Perak. Akan tetapi, baru ia mendekat, anak remaja di hadapan dalam posisi sedang melepaskan tinju kait pada udara kosong. 

Tinju Super Sakti: Gerakan Kedua: Harimau! 

Dua gelombang kejut berhimpitan lalu melibas setengah lingkaran pada jarak sepuluh langkah ke arah depan. Dibarengi dengan dentuman membahana nan memekak telinga, tanah menyeruak tinggi seolah disabet oleh cakar-cakar tajam seekor harimau raksasa!

Serangan mendadak tersebut mendarat langsung di tubuh ahli Kasta Emas, namun tiada menyebabkan luka-luka berarti. Tubuhnya bergetar penuh amarah, karena yang berhasil dilukai adalah harga dirinya. Di lain sisi, darah mengalir di sudut bibir Bintang Tenggara. Hentakan balik jurus membuat lengan kebas dan dada sesak. 

“Cepat selesaikan!” Ahli Kasta Emas lain melesat maju dan hendak membantu. “Dia sengaja memancing kedatangan pasukan kemaharajaan!” 

Tepat. Bahkan bagi Bintang Tenggara, berhadapan langsung dengan tiga ahli Kasta Emas merupakan kemustahilan. Oleh karena itu, upaya yang ia lakukan adalah menciptakan kegaduhan dengan memanfaatkan dampak samping jurus Tinju Super Sakti. Para prajurit akan berdatangan, begitu pula dengan ahli Kasta Emas yang hadir di antara mereka.  

Rata-rata prajurit berada pada Kasta Perunggu. Sejumlah perwira dengan jabatan yang lebih tinggi tentu berada pada Kasta Perak. Secara perorangan mereka tak akan memiliki kesempatan bila berhadapan dengan ahli Kasta Emas. Akan tetapi, bila ribuan jumlah mereka maka lain lagi ceriteranya. Ibarat semut yang berhadapan dengan gajah, tentu yang lemah dalam jumlah banyak dapat mengerubungi seorang lawan. 

“Tidak!” Ahli Kasta Emas dengan gejolak amarah tingkat tinggi menghardik kepada rekannya. “Masih ada waktu. Aku akan mencabut nyawa bocah itu dengan tanganku sendiri! Kalian urus saja gadis-gadis itu!”

Bintang Tenggara sudah memutar haluan dan hendak melecut melarikan diri. Akan tetapi, ia terpaksa menunda langkah. Rencana kali ini tiada sepenuhnya berhasil, karena hanya satu ahli Kasta Emas yang berniat mengejar. Dengan kata lain, ketiga gadis belia masih terancam jiwa mereka.

“Dikau mati langkah…,” bisik Ginseng Perkasa. 

“Masih harus mengulur waktu…” gumam Bintang Tenggara mencari akal.

“Para prajurit di dalam hutan sedang tersesat. Yang masih berada di luar hutan pun, bila memaksa masuk akan menjadi korban racun Asap Simpang-Siur. Masih lama sebelum bantuan yang dikau harap-harapkan tiba.”

“Duar!” 

Ledakan api membakar perkasa, dan Bintang Tenggara terlambat menghindar. Untuk lebih tepatnya bukan terlambat, namun wilayah jangkauan jurus kesaktian unsur api tersebut cukup luas, sehingga anak remaja tersebut tetap merasakan kerasnya getaran ledakan dan panasnya api yang merambat di tubuh. 

Dalam keadaan terlontar, Bintang Tenggara kemudian merasakan hawa panas yang terasa semakin mendekat. Berbekal perlindungan Sisik Raja Naga ia memasang kedua lengan melindungi kepala dan wajah serta kedua kaki melipat melindungi tubuh, mirip binatang siluman trenggiling yang menekuk bertahan. Panas membakar membara, dan tubuhnya terpental menghantam pohon. 

Terlalu muluk bagi ahli Kasta Perak Tingkat 2 untuk berhadapan dengan ahli Kasta Emas.  

“Binasalah!” teriak lawan sembari melontarkan sebentuk bola api nan menyala besar. 

Bintang Tenggara hendak bangkit dan menghindar, namun rasa nyeri membuat reaksinya melambat. 

“Duar!”

Bintang Tenggara tiada merasakan dampak serangan. Sontak ia mendongak, di mana kedua matanya mendapati sesosok tubuh melayang turun perlahan. Jubah yang dikenakan berkibar dimainkan angin, demikian perkasa sekaligus anggun. Rambutnya putih digelung ke atas, dan aura yang ia pancarkan menebar aroma nan wangi menyegarkan.



Catatan:

(1) Episode 243

(2) Episode 234