Episode 105 - Rescue Mission


6 jam lamanya mereka semua menempuh ujian akhir ini dan setiap party memiliki kesulitannya masing-masing. 

Di rawa Vanadivia, Party Even di hadang oleh kehadiran seorang Hunter dengan nomor 38 yang memiliki sosok seorang ahli beladiri tangan kosong, berbadan besar, kekar juga tinggi yang mencapai 2,1 meter. Ia adalah pria dengan gaya rambut jabrik berdiri berwarna coklat, mengenakan pakaian beladiri dengan lengan dan kaki panjang berwarna hitam.  

Hamza si Desert Bandit menepuk pundak Even. “Jangan takut Even, setidaknya kita menang jumlah. Kita berempat dan dia hanya seorang diri.”

“Tidak, sebaiknya kalian pergi saja, kalian tidak tahu seberapa kuat orang ini.” balas Even sambil mempersiapkan perisai besarnya. “Biar aku yang mengulur waktu untuk kalian melarikan diri cukup jauh. Akan kulindungi kalian semua.”

“Loh... masa begitu,” Christo berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menggerak-gerakan badannya untuk pemanasan. “Aku sudah menantikan ini loh, daripada tersesat terus, lebih baik kita melawan orang yang sangat kuat saja. Iya kan?”

Christo mencabut kedua pisaunya, melakukan kuda-kuda bertarungnya dan mengucapkan sihir.

“Camouflage !!”

Christo mengilang dalam sekejap.

“Huh!? Lumayan juga, masih tingkat 1 tapi punya kemampuan menyamarkan diri dengan lingkungan sekitar,” Hunter No. 38 menganalisa. “Tapi aku sudah diajari banyak hal. Yang seperti ini...”

Hunter no.38 Fokus melihat bunyi langkah kaki dan efek yang ditimbulkan di tempat Christo berpijak. 

Saat Christo sudah dekat ia melempar krikil kecil ke arah Hunter No.38,

“Disana kau rupanya!” Hunter No.38 meninju sekuat tenaga ke arah yang diduga tempat Christo menyerang.

Sayangnya, tinjunya yang sangat kuat itu hanya mengenai udara kosong dan satu krikil tidak berarti. Memanfaatkan itu, Christo langsung menikam perut kekar Hunter No.38 dengan kedua bilah pisau miliknya dan menyerang Hunter itu kuat-kuat. 

Saat tikaman itu berhasil mengenai telak perut kekar Hunter. No 38, Christo ditendang perutnya seketika menggunakan dengkul hingga ia memuntahkan darah.

“UAGHHH !!”

Tubuh Christo serasa mual sekali setelahnya, ia mengusap-usap perutnya terus menerus namun rasa sakitnya tidak segera hilang juga. Lepas dari konsentrasinya, sihir yang digunakan pada tubuhnya seketika digagalkan.

Hunter No.38 maju mendekati Christo yang terkapar kesakitan dan menarik kepalanya lalu bicara di depan wajahnya.

“Dasar bodoh. Yang tadi itu, aku sengaja meleset.” kata Hunter No.38. “Kau pikir aku tidak tahu cara melawanmu? Biar kuberitahu, kemampuan yang seperti kamu itu, aku sudah pengalaman.”

Suara rantai terdengar di telinga Hunter No.38 dan yang tidak ia duga bahwa sebuah celurit besi sudah mengenai perutnya yang sempat dilukai Christo barusan.

Rantai-rantai besi itu terhubung ke senjata yang digenggam Hamza. Tak menunggu lama Hamza segera menarik kembali celurit berantainya itu dan bersiap mengoyak perut Hunter No. 38.

Begitu celurit itu akan ditarik Hamza, tarikannya terasa keras dan tak bisa ia gerakkan. Rupanya Hunter No.38 sudah menggenggam erat rantai celurit itu dan malah menarik kembali Hamza yang ada beberapa meter di depannya.

Hamza yang tertarik maju lalu di genggam wajahnya kuat-kuat dan di banting ke tanah basah rawa-rawa yang secara instan menumbangkannya.

“OHOG!” Hamza memuntahkan darah dan ia bicara dalam hatinya. ‘Andaikan aku bertarung di padang pasir aku pasti akan...’

“Tidak bisa, tidak bisa. Perbedaan kekuatan dan pengalaman kita begitu jauh.” kata Even dengan sangat ketakutan. 

Sedangkan Fernando bersembunyi di balik pohon mangrove rawa-rawa, merinding sambil terus menutup mulutnya.

“Cuma begini Even? Apa kau benar-benar memilih anggota partymu dengan serius?” kata Hunter No.38. “Kau ketuanya kan? Mereka terlihat tidak kompak dan kamu cuma ketakutan saja begitu melihatku. Kata pak Vlau angkatan ini adalah salah satu angkatan emas. Hah! Dilihat dari pertarungan ini, sepertinya tidak begitu terbukti.”

“...” Even hanya berdiri dengan kuda-kuda bertahan dan tak bisa menjawabnya, karena ia benar-benar ketakutan saat ini.

“Tapi pak Vlau tidak mungkin bicara begitu tanpa bukti. Aku ingin tanya padamu, apa kau mengenal orang-orang terbaik yang harus ku waspadai?” tanya Hunter No.38 dengan nada tinggi.

“K-kau mau melakukan apa pada mereka?” balas Even.

“Aku ingin menguji mereka,” jawabnya santai. “Itu saja.”

Sepintas gambar Leena dan Sintra muncul di kepala Even, namun ia memilih untuk menjatuhkan senjata dan perisainya lalu berkata dengan kepala tertunduk. “Tidak aku tak mengenal siapapun yang layak kau uji.”

“Hmm begitu, kalau kau tak mau bilang sih juga tidak apa-apa. Baiklah, biar aku yang cari sendiri.” balas Hunter No.38 sambil mengorek-ngorek telinganya. “Tapi Even satu saranku, kau tak cocok jadi ketua...”

 Mendengar itu hati Even serasa tertusuk.

“Kau hanya seorang Tank biasa. Kau bukanlah Evan, kakakmu yang berkarisma di depan armada besar yang ia pimpin. Dia seorang pemimpin besar di negara yang ia layani di North Azuria. Kau bukan dia Even, berhentilah menjadi dia. Kamu tidak bisa memimpin. Cukup cari orang yang membutuhkan perlindunganmu dan ikutilah dia seumur hidupmu, karena sampai kapanpun...”

Even tertunduk diam membuka matanya lebar-lebar dan mempertanyakan keputusannya.

“Kau tidak akan pernah bisa memimpin.”

Setelah itu, Hunter No.38 meninggalkannya dengan hanya menjarah setiap token seluruh party Even. Bekal dan persediaan lain tidak ia ambil. Total token yang ia rengut ada 5 token perak dan 1 token emas. Dimana Fernando yang daritadi bersembunyi, ketahuan dan ikut direbut. Kini party Even kehilangan semua tokennya.

“Itu benar,” kata Even yang tertunduk lemas. “Aku... benar-benar. Tidak bisa memimpin.”

Setelah kekalahan besar itu, seseorang tak dikenal datang, apakah Hunter yang lain atau satu orang nekat yang ingin menjarah sisanya? Hal yang pertama kali mereka fokuskan adalah Token berbentuk layangan di dada mereka.

***

Di pinggir luar kota Evania, pada ujung barat pulau Vanadivia. Dugaan Soleil benar soal lokasi yang memungkinkan Supply Drop itu berada, kotaknya besar, sekitar 1x1 meter dan dari jauh Soleil melihat isinya juga penuh dengan makanan jadi, makanan kaleng, obat-obatan, potion dan peralatan lain yang sangat berguna untuk bertahan hidup.

Namun sayang sekali orang yang menemukannya bukan hanya dia seorang melainkan sudah ada sekitar 2-4 party, sudah tiba lebih dulu dan saling berkelahi satu sama lain memperebutkan barang-barang yang ada di dalam sana.

Soleil yang hanya seorang diri, cuma bisa menunggu hingga malam tiba, memanfaatkan kegelapan malam untuk merebut obat-obatan yang berada dalam kotak besar Supply Drop. Tapi hingga malam hari, masih tersisa satu party yang memenangkan pertarungan sebelumnya dan memutuskan membuat kemah di dekat Supply Drop, tanpa tahu resiko apa yang harus dihadapi dari keputusan tersebut.

Merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ia memulai aksinya. Soleil mendekati kelima orang yang dalam satu party itu dan mengajaknya bicara baik-baik.

“Ahh permisi, perkenalkan aku Alfred dari kelas Ignis.” 

“Alfred? Siapa itu?” kata salah seorang disitu, ia perempuan dengan token 823. “Kau Soleil kan? Kenapa pakai nama samaran segala?”

‘Ahh sial’ kata Soleil dalam hati, ‘Seseorang mengenaliku.’

“Kenapa kamu cuma sendiri? Mana partymu?” kata ketua party mereka dengan token 821.

“Begini-begini, banyak hal terjadi, yang aku butuhkan sekarang adalah obat-obatan pada kotak besar itu. Boleh aku bagi sedikit dan pergi dengan damai?”

“Enak saja,” balas ketua mereka dengan ketus. “Kami berjuang keras untuk dapat mengusai Supply Drop ini, mana bisa aku membagikanmu dengan cuma-cuma.”

“Benar-benar,” sambut anggota yang lain. “Kami juga tidak tahu kamu bicara jujur atau tidak.”

“Tolonglah, hanya sebagian kecil saja.” Soleil berlutut, melipat tangan dan berlagak seperti menyembah mereka. “Teman satu partyku sakit dan aku sangat membutuhkannya sekarang.”

“Ahh begini saja, begini saja. Kita lakukan pertukaran yang setara,” kata ketua party mereka. “Aku beri obat ini, kau bayar aku dengan tokenmu.”

“Baik, baik.” Soleil segera melepas tasnya dan merogoh hingga menemukan token yang ia punya, “Ini, ini ambilah.” Soleil melakukan dengan senang hati.

Ketua party itu mengambil token Soleil dan kembali memberikan obat padanya sebagai transaksi yang setara. “Huh, kamu begitu mudahnya percaya pada orang yang baru dikenal. karena kami tidak mau kualat. Ini ambilah.”

Soleil menerima obat yang ia perlukan, “Memang aku baru mengenalmu, tapi dia yang mengenalku barusan itu anak Ignis kan, aku percaya padanya.”

“Sudah sana cepat pergi dari sini, temanmu membutuhkan pertolonganmu kan?” kata perempuan yang mengenali Soleil sebelumnya.

“Baik,” Soleil mengangguk dan berlari dari situ. ‘Huh... rasanya tadi benar-benar menakutkan, tapi aku benar-benar tak menyangka bisa mendapatkan ini tanpa bertarung. Terima kasih 821, aku akan membalas budimu nanti.‘

Setelah Soleil pergi, mereka melanjutkan perbincangan di antara api unggun itu.

“Kau benar-benar melepaskannya?” kata pria dengan token 822. “Cuma-cuma?”

“Tidak ada gunanya juga kita jarah dia,” balas ketua party mereka. “Dia tidak punya apa-apa dan kita sudah terlalu lelah bertarung.”

“Meski kamu bilang takut kualat,” kata perempuan tadi dengan token 823. “Tapi sore ini kita benar-benar menumbangkan 15 orang dan menjarah mereka semua loh.”

***

18.11 Hari pertama di kota Evania,

Alzen kini sudah sampai di lokasi untuk menyelamatkan Leena dari sandraan Vander. Mengintai dari ketinggian, sembari menyusun rencana matang-matang untuk langkah mereka berikutnya.

“Itu Leena, kalian melihatnya?” kata Alzen sambil tiarap dari ujung tebing.

“Dimana, dimana?” tanya Chandra yang melakukan hal yang sama. “Kecil sekali tidak kelihatan.”

“Perhatikan api unggun disana, dekat situ Leena di tahan.” kata Alzen.

“Informasi dari sandera itu benar.” balas Sever. “Jadi, sekarang apa?”

“Orangnya banyak sekali,” kata Chandra.

“Ada sekitar 15 orang disana,” balas Alzen. “Dan yang di depan Leena itu mungkin ketua mereka.”

“Ternyata yang berpikir soal Aliansi bukan kita seorang ya...” balas Sever.

“Aku punya rencana, begini rencananya.” Alzen berbisik pada mereka Chandra dan Sever, menjelaskannya secara detail dan setelah setuju mereka melakukan operasinya.

“Kalian semua dengar barusankan? Bahwa 60 Hunter akan menyerang kita? Tempat ini kemungkinan juga akan rawan diserang dan kita manfaatkan kekacauan yang mereka buat untuk diam-diam melepaskan Leena dan melarikan diri setelahnya. Kita berpencar jadi 3 arah, tapi fokus kita satu, ke tengah dan membebaskan mereka tanpa bertarung.”

Mereka bertiga berpencar ke tiga arah yang berbeda, Alzen di tengah, Chandra di kanan dan Sever di kiri.

***

Vander yang terus duduk di depan Leena sembari terus mengawasinya, ia menunduk memejamkan mata, kepalanya berkeringat dan ekspresinya terlihat sedang berpikir keras dan gelisah.

“Brengsek!” Vander berdiri dan segera memberikan perintah dengan jelas. “Teman-teman maafkan aku... kita kalah.”

Sahut para pengikutnya.

“Apa maksudmu Vander?”

“Kau melihat apa di masa depan?”

“Lalu kita bagaimana?”

“Kita pergi, tinggalkan saja mereka ini.” kata Vander sambil menatap Leena. 

Dan Leena menatapnya balik dengan jengkel.

“Sekitar 12 menit lagi, tempat ini akan diserang 3 Hunter sekaligus dan hasilnya 0% kita bisa menang maupun melarikan diri dan ditambah lagi nanti ada 3 pengacau, salah satunya, Alzen Franquille yang sudah ada disini.”

“Alzen disini!?” Leena terkejut.

“...” Raven hanya terdiam menunduk.

“Alzen cepat selamatkan kita!” sahut Oren.

“Hei Vander, bukannya kau menargetkan Alzen juga? Kita lawan saja dia!”

“Iya betul-betul!”

“Tidak, kondisinya kini berbeda, kita ambil rute masa depan yang lain karena tak ada kemungkinan kita bisa menang. Ayo cepat bergegas dan tinggalkan tempat ini. Kita menuju tenggara, ke Alfonso.“

‘Sial! Apa-apaan ketuanya itu, kemampuan apa yang dia punya sampai bisa tahu keberadaan kita.’ pikir Alzen sembari bersembunyi di balik rumah.

‘Alzen, rencanananya jadi kacau balau, kita harus bagaimana nih?’ pikir Chandra selagi bersembunyi dibalik batu.

‘Hmm... gagal total deh’ pikir Sever yang mengintai dan bersembunyi di atas menara.

Setiap anggota aliansi melaksanakan apa yang Vander perintahkan dan satu persatu mulai meninggalkan tempat itu. 

Sebelum Vander pergi, ia melihat Leena sebentar, tersenyum jahat seolah belum puas mempermainkannya. “Kau tak berpikir, aku akan merelakanmu dengan cuma-cuma kan?”

“4 Layers Energy Coat !!”

Vander mengcast sihirnya pada tiang dan tali pengikat Leena, Raven dan Oren dan mengunci mereka dengan tidak membiarkan tali itu dilepas atau hancur.

“Nah sampai jumpa, Leena Leanford.” kata Vander dengan pandangan merendahkan, sebagai salam perpisahan.

“Kau sialan!” Leena meneriakinya.

“Hahaha,” Vander tertawa sambil memunggunginya. “Jangan terlalu memujiku begitulah.”

Hanya dalam 10 menit tempat itu sudah menjadi kosong. Alzen, Chandra dan Sever bergegas melepaskannya, namun sihir yang ditanamkan Vander begitu susah dihancurkan tanpa melukai mereka bertiga.

Dan tepat di menit ke 12, perasaan mereka berenam seketika menjadi ketakutan dan jadi takut melangkah.

‘Pe-perasaan apa ini?’ Alzen merasa hatinya terguncang.

;A-aku takut.’ Chandra merinding gemetar.

‘Hu-hunternya... sudah.’ Sever terpaku diam.

‘Tak ada jalan keluar lagi,’ Leena menunduk putus asa.

‘Rasanya mau mati saja,’ Raven menatap mata dengan membuka mata lebar-lebar dan menangis.

‘Takut, takut, takut.” Oren muntah dan pingsan.

3 orang Hunter datang ke tempat itu dan masing-masing menampakan dirinya.

“Loh kok sepi? Kota biasanya ramai penghuni.” kata wanita yang melakukan Aura Depresi pada mereka berenam. Ia adalah Hunter no.54. Rambutnya putih perak panjang dan jabrik hingga sepunggung. Berbanding terbalik dengan kekuatannya, wajahnya terlihat ceria dan mudah senyum.

“Dari getaran langkah kakinya, mereka sudah kabur ke tenggara.” kata seorang pria kekar berambut hitam yang hanya mengenakan celana panjang dari bahan logam. Yang terus membawa totem kayu yang amat tebal dan besar. Ia adalah Hunter no.32 yang dikenal dengan julukan Earthshaker.

“6 orang disana itu, 4 diantaranya peserta turnamen. Orang-orang hebat di angkatan ini sudah kita temukan dari awal.” kata seorang wanita cantik yang mengenakan gaun dari bunga dan diikuti monster tanaman di belakangnya. Ia memiliki rambut panjang yang melingkar anggun dengan gradasi merah mawar dan hijau muda, ia terlihat bagai nyonya besar, dari parasnya terlihat seperti wanita umur 30 tahunan. Ia adalah Hunter no.27

“Mari kita uji seberapa hebat mereka.” kata Hunter no.27 sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Sleep Pollen !!”

Dan seketika serbuk ungu menyebar di udara, siapapun yang menghirupnya akan tertidur seketika.

***

Di sebuah katedral di kota Eleantra, Katedral tua yang atapnya runtuh, cahaya bulan masuk melewati lobang atap itu dan menyinari mereka yang besandar di balik altar di depan kursi jemaat. Party Nicholas bersandar dibalik Altar itu dan memulihkan diri mereka.

“Ohog! Ohog!” Nicholas memuntahkan darah, dirinya dibalut perban dan sedang disembuhkan oleh Healernya Ikzen. “Brengsek! Brengsek! BRENGSEK! Aku tidak bisa kalah, Obsidus tidak akan kalah!”

“Hei diam dulu dong,” kata Ikzen yang fokus menyembuhkannya. “Kau sedang kusembuhkan nih!”

“KAU LAKUKAN SAJA TUGASMU BODOH !!” bentak Nicholas.

“Oke, oke, oke, maaf, maaf, maaf Nicholas.” Ikzen ketakutan selagi menyembuhkan Nicholas.

“Grr... si raksasa keparat itu, benar-benar ingin kuhabisi.” kata Nicholas dengan dendam yang kuat.

“Hei, santai dong Nicholas yang kesal bukan cuma kamu nih,” keluh Clow dengan debu dan luka yang ia terima.

“Dia kau wanita tak berguna!” Nicholas membentaknya.

“Ish, kata-katanya nyelekit banget sih.” Clow jengkel seperti perempuan jutek.

“Maafkan aku yang tidak bisa melindungi kalian.” Lyanna menundukkan kepala bersandar di tembok katedral dengan rasa bersalah menghantuinya.

“Kita benar-benar K.O,” kata Velizar dengan datar, ia satu-satunya orang yang terlihat masih baik-baik saja, tidak seperti kena serang sekalipun. “Kalian semua tumbang dan token yang kita rampas dengan susah payah diambil oleh si biksu gundul itu.”

“Aku berjanji, setelah ini, aku tak akan kalah lagi! Grr...” Nicholas bertekad dengan nada penuh kebencian.

Kemudian terdengar langkah kaki dan muncul sesosok pria pirang panjang dengan jubah putih dan pedang rapier. Ia Hunter dengan nomor 51.

“Bad Luck,” Velizar berucap dengan tenang dan datar. “Seorang Hunter elemen cahaya mengincar kita.” 

***