Episode 359 - Perseteruan Bangsawan



“Apa tujuan kalian…?” Di dalam sebuah aula, seorang perempuan dewasa dengan jabatan sebagai Maha Guru Kesatu di Perguruan Gunung Agung merasa terganggu. Mengapa setiap kali ada kunjungan dari pihak-pihak luar, dirinya dijadikan sebagai penyambut tamu…? 

“Mereka mencari Bintang Tenggara…?” Berdiri di belakang Maha Guru Kesatu, seorang gadis belia bertubuh ramping memberikan jawaban. Raut wajahnya serupa dengan tokoh di muka. 

“Apakah aku bertanya padamu…?” Maha Guru Kesatu Cawan Arang menggeretakkan gigi, membuat Canting Emas salah tingkah, sekaligus waspada. Sang ibunda diketahui dapat berubah beringas hanya dalam satu kedipan mata sahaja. 

Pertanyaan Maha Guru Kesatu sesungguhnya dialamatkan kepada dua sosok di hadapan. Adalah seorang gadis belia dengan lekuk tubuh molek dan lelaki tua renta nan bongkok berpunuk. Sungguh kombinasi yang sangat bertolak belakang. 

“Kami hendak bertemu dengan Bintang Tenggara…”

Jawaban Embun Kahyangan hanya dianggap sebagai angin lalu. Sedari awal, tatapan mata Maha Guru Kesatu terkunci pada lelaki tua yang bergemetar renta. Sulit sekali bagi lelaki tersebut menopang tubuh, yang mana tiupan angin pelan saja kemungkinan besar dapat membuatnya roboh ke lantai. Di saat yang bersamaan, tak ada aura yang mencuat dan tiada dapat ditakar kasta keahliannya. Selintas pandang saja, mudah disimpulkan bahwa ia hanya manusia biasa yang sudah lanjut usia. 

“Hyah!” 

Tanpa dinyana, Maha Guru Kesatu Cawan Arang tetiba menghentakkan tenaga dalam! Kursi dan meja terpelanting dan pecah berhamburan tatkala menghantam dinding. Embun Kahyangan dan Canting Emas yang tiada menduga, pun terpental ke arah yang berlawanan. Keduanya mendarat di kejauhan. Aura panas menyibak perkasa! 

Akan tetapi, tidak dengan lelaki tua dan renta. Ia masih diam bergemetar di tempat. Mata setengah terpejam, napasnya berhembus satu per satu. Terlepas dari penampilannya tersebut, hentakan tenaga dalam nan gegap gempita sama sekali tiada berpengaruh. 

“Siapakah sesungguhnya dikau, wahai Tuan Ahli…?” Waspada, Maha Guru Kesatu Cawan Arang membuktikan bahwa firasatnya ternyata benar. Inilah mengapa ia senantiasa ditunjuk sebagai penyambut tetamu, karena sikap tak mudah percaya pada siapa pun sungguh sangat berguna. Di dalam dunia persilatan dan kesaktian, penampilan sangat mudahnya mengelabui. 

“Diriku… bukan… siapa… siapa…” Sulit sekali bagi lelaki tua renta itu mengeluarkan kata-kata. 

“Apakah dikau kawan… atau lawan…?” 

“Bukan… siapa… siapa…”

Maha Guru Kesatu Cawan Arang meraih lencana perguruan miliknya. Dengan tebaran ringan jalinan mata hati, ia menyampaikan pesan kepada para sesepuh perguruan. Dan segera setelah itu pula, dua sosok bayangan berkelebat di mana seorang lelaki dan seorang perempuan setengah baya mengemuka di sisinya.

“Sesepuh Kedua… Sesepuh Ketiga…” Maha Guru Kesatu Cawan Arang menundukkan kepala, sungguh sebuah pemandangan yang langka. 

Canting Emas terkejut bukan kepalang ketika menyaksikan dua tokoh yang datang memenuhi panggilan. Salah satu dari mereka, yang disapa sebagai Sesepuh Ketiga merupakann kakek kandungnya, yang juga ayahanda dari Maha Guru Kesatu. Tak tanggung-tanggung, dua dari Tri Baghawan Agung hadir di saat yang bersamaan. Walaupun demikian, patut diketahui bahwa keduanya hanyalah bayangan jiwa dan kesadaran semata, bukan merupakan tubuh sejati. 

“Wahai Tuan Ahli…” Sesepuh Ketiga menundukkan kepala. “Selamat datang di Perguruan Gunung Agung. Apakah gerangan tujuan kunjungan dikau…?”

“Mencari… udara… segar…”

“Mohon maaf atas kelancangan kami, tapi sudi kiranya membuka jati diri…” Sosok Sesepuh Kedua pun berujar penuh kehati-hatian.

“Bukan… siapa… siapa…”

“Bukan siapa-siapa! Bukan siapa-siapa! Dari tadi itu saja jawaban yang engkau berikan!” Maha Guru Kesatu menyalak naik darah. 

“Ssttt…” Sesepuh Ketiga memperingatkan putri kandungnya yang bertingkah kasar.

Di saat perbincangan berlangsung, Embun Kahyangan telah melangkah ke arah mereka. Berdiri di sisi lelaki tua dan renta itu, ia berujar, “Kami hendak bertemu dengan Bintang Tenggara.”

“Bintang Tenggara sedang berada di Perguruan Budi Daya!” tanggap Maha Guru Kesatu kesal. 


===


Sudah genap satu purnama di mana Bintang Tenggara mengenyam pendidikan di Perguruan Budi Daya. Rencana awal meraih gelar sebagai murid terbaik dan membawa pulang tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang telah bergeser. Kini, anak remaja tersebut juga harus mendapatkan Azimat Surgawi sebagai bagian dari upaya membuat tubuh baru bagi Ginseng Perkasa. Kesempatan memperoleh bagian tubuh asli tiada boleh dibuang sia-sia, karena sehelai rambut keriting pendek tersebut kemungkinan satu-satu bagian tubuh Sang Maha Maha Tabib Surgawi yang masih tersisa. 

Demi mencapai tujuan di atas diperlukan poin dalam jumlah yang teramat sangat besar. Sementara itu, upaya yang Bintang Tenggara kerahkan dalam mengumpulkan poin terhalang. Awalnya ia membuka kegiatan berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan membebankan poin kepada kepada murid-murid yang hendak ikut serta. Ketika jumlah peserta melonjak, maka Perguruan Budi Daya mengumumkan bahwa seorang murid tiada diperkenankan membuka perkuliahan. Walhasil, anak remaja tersebut membuka perkuliahan di luar wilayah perguruan, yang kemudian ditanggapi dengan larangan pemindahbukuan poin di antara para murid. 

Saat ini, poin yang telah Bintang Tenggara kumpulkan melalui perkuliahan, pendampingan pribadi, serta meramu adalah sebesar 8.465. Sementara itu, tanpa melakukan kegiatan berarti Balaputera Prameswara memperoleh 6.885 poin. Cukup baik, namun masih teramat jauh dari memadai. 

Kendatipun demikian, tindakan semena-mena beberapa pihak di dalam Perguruan Budi Daya, tiada menyurutkan semangat Super Murid Komodo Nagaradja. Pagi ini, di hadapan dua puluh murid pilihan yang senantiasa setia, ia memberi arahan. Apa yang akan ia lakukan berikutnya adalah sejalan dengan panduan Taktik Tempur. 

“Sebagian besar dari kalian pasti sudah menyadari bahwa diriku ingin mengejar predikat sebagai murid terbaik di Perguruan Budi Daya. Diriku pun tiada pernah menyembunyikan niat dan tujuan mendulang poin sebanyak-banyaknya.”

Keduapuluh murid mendengarkan dengan seksama. Mereka sesungguhnya merupakan murid dengan bakat serta kemampuan biasa-biasa saja. Pun selama ini keberadaan mereka di perguruan dipandang sebelah mata. Pelengkap penderita. Akan tetapi, berkat perkuliahan Bintang Tenggara, kesemuanya memperoleh manfaat dan mencapai kemajuan yang sangat signifikan, bahkan di luar perkiraan diri mereka sendiri.

“Oleh sebab itu, diriku tak akan berhenti sampai di sini…” Bintang Tenggara kemudian mengeluarkan satu tumpukan kertas. Ia mulai membagikan kepada keduapuluh murid tersebut. 

“Ini…?” 

“Ini adalah lembar pengumuman tugas dari Balai Bakti…”

“Kesemuanya merupakan jenis ramuan yang berada pada tingkat Ramuan Sedang!”

“Benar,” sahut Bintang Tenggara. “Lembar pengumuman Ramuan Sedang biasanya hanya dikerjakan oleh peramu Kasta Perak tingkat atas sekelas Guru Muda, atau ahli Kasta Emas sekelas Guru. Dengan bimbingan dari diriku, maka kalian akan mulai meracik Ramuan Sedang.”

Keduapuluh murid saling pandang. Raut wajah mencermintakan ketidakpercayaan, tak satu pun dari mereka memiliki rasa percaya diri untuk meracik Ramuan Sedang sampai ke taraf kemanjuran yang memadai. Bila tak mencapai taraf kemanjuran sebesar 70%, maka Balai Bakti tak akan menerima hasil ramuan mereka. Walaupun mengalami kemajuan yang sangat signifikan, bagi mereka meracik ramuan yang sedemikian merupakan sesuatu yang mustahil. 

“Janganlah khawatir, apalagi rendah diri…” Bintang Tenggara berupaya meyakinkan. Jikalau diriku dapat melakukannya, mengapa kalian tidak…?”

“Bagaimana kegiatan kami meramu dapat membantu Kakak Bintang mencapai predikat murid terbaik…?” Bintang Tenggara menolak disapa sebagai guru, karena memang dirinya enggan disanjung-sanjung oleh murid sepantaran dan tentu saja tak memiliki wewenang layaknya seorang guru di perguruan. Oleh karena itu, sebagai rasa hormat para murid memanggil dirinya dengan sapaan kakak. 

“Kalian akan mengumpulkan bahan dasar dan meramu, namun diriku yang akan menyerahkan ramuan yang kalian racik ke Balai Bakti atas nama diriku dan Wara…” tanggap Bintang Tenggara santai. “Kalian mendapatkan kesempatan belajar dan berlatih, sedangkan kami memperoleh tambahan poin.”

Keduapuluh murid kembali saling pandang. Walaupun merupakan murid-murid Perguruan Budi Daya yang terpinggirkan, mereka bukanlah pribadi-pribadi yang bodoh. Oleh sebab itu, tiada satu dari mereka yang keberatan, karena bila benar akan diajari dan memperoleh kemampuan meracik Ramuan Sedang maka nilainya jauh lebih besar dan berharga dibandingkan ribuan poin sekalipun. Tak perlu dipikir dua kali, karena pengetahuan dan kemampuan meramu yang didapat akan menjadi bekal tak ternilai dan bermanfaat seumur hidup.

“Akan tetapi…” seorang gadis belia angkat suara. Walau terlihat meragu, ia tetap menyampaikan pandangan. “Ketika Kakak Bintang menukarkan ramuan dalam jumlah banyak, maka hanya dalam hitungan hari saja perguruan akan membuat aturan baru.” 

“Benar,” sahut murid lain. “Perguruan nantinya akan membatasi jumlah tugas yang dapat diambil oleh seorang murid.”

“Kalian pusatkan perhatian dalam meramu. Urusan perguruan, biarkan kami yang atasi sendiri.” Penuh percaya diri, Bintang Tenggara memutar tubuh. “Segera kalian kumpulkan bahan dasar masing-masing, petang nanti diriku akan mengunjungi kalian satu persatu untuk memberi tunjuk ajar.”

Taktik Tempur No. 45: Gotong Royong telah digulirkan dan merupakan jurus simpanan Bintang Tenggara. Bersama dengan Balaputera Prameswara kemudian ia memisahkan diri dari murid-murid yang bergairah penuh semangat. Tak lama, mereka tiba di hadapan sebuah gapura nan besar. Melewati gapura, tiga halaman yang dinaungi formasi segel terbentang luas. Pada setiap satu halaman, terhadap sebuah prasasti seukuran tubuh orang dewasa yang berdiri megah. 

Ramai murid yang berjejer di halaman pertama, semakin sedikit pada halaman kedua dan ketiga. Sejumlah murid yang belum memasuki halaman menatap kedua tokoh yang baru tiba dengan pandangan tajam. Jikalau pandangan tersebut terbuat dari belati, maka tubuh Bintang Tenggara saat ini pastilah sudah bergelimang darah. Mereka ini merupakan kakak-kakak kelas. 

“Cih! Entah bagaimana dia mengelabui murid-murid bodoh dan mencuri poin dari mereka…”

“Dia tak akan berkutik di bawah pengawasan Prasasti Uji…”

“Heh… Aku tak sabar meyaksikan akal bulusnya terbongkar…”

Bintang Tenggara sigap menarik lengan si saudara sepupu yang hendak menghadap para kakak kelas yang mencibir. Rindu rasanya kepada sosok Wara yang kurang percaya diri dan lemah hati. Apa hendak dikata, predikat Balaputera Prameswara melambung tinggi karena ditopang oleh tokoh sekelas Balaputera Sukma sang nenek dengan jabatan sebagai Penyelia di Perguruan Svarnadwipa dan Balaputera Rudra sang paman yang merupakan Panglima Perang di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Siapa pun akan berubah perangainya bila senantiasa dimanja.

Bintang Tenggara, sembari menyeret Balaputera Prameswara, mendatangi prasasti kedua yang berada di posisi tengah. Pada sisi atas permukaannya prasasti terukir kata-kata ‘Ramuan Sedang’ lalu di bagian bawahnya ‘Jamu Kunci Sirih’, yang diikuti dengan daftar berbagai jenis bahas dasar serta teknik meramu. 

Sesuai namanya, Prasasti Uji merupakan sarana bagi murid-murid di Perguruan Budi Daya untuk menguji kemampuan meramu. Setiap hari, nama ramuan yang tertera pada permukaan prasati akan berganti, begitu pula dengan bahan dasar dan proses meramunya. Prasasti ini nantinya akan menilai proses meracik ramuan dimaksud dan bilamana seorang murid berhasil meramu, maka prasasti akan menetapkan taraf kemanjuran ramuan. Tidak sampai di situ, Prasasti Uji juga akan menganugerahkan poin. Semakin tinggi taraf kemanjuran ramuan yang dihasilkan, maka semakin besar pula poin yang dapat diperoleh seorang murid. 

Dengan demikian, Prasasti Uji ini merupakan satu lagi jurus simpanan bagi Bintang Tenggara dalam mendulang poin. 

Bintang Tenggara membaca aneka bahan dasar dan menghapal proses yang digariskan. Ia lantas menempelkan lencana miliknya pada permukaan prasasti sebagai tanda bahwa ia akan menjalani tantangan ramuan yang disuguhkan. Formasi segel bergetar lalu membuka, dan Bintang Tenggara melangkah masuk ke dalam wilayah halaman. 

Putra kedua dari Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara duduk bersila. Dari lencana perguruan, kemudian mengemuka lesung batu beserta bahan dasar meramu. Kesemuanya hanya rekaan belaka, bukan merupakan bagian tumbuhan siluman atau anggota tubuh binatang siluman. Apa yang dilakukan oleh murid-murid di wilayah Prasasti Uji sesungguhnya merupakan simulasi kegiatan meramu. 

Menebar mata hati, Bintang Tenggara memulai proses meramu. Gerakan tangan ringan dan pembawaannya sederhana. Sungguhpun demikian, puluhan mata murid-murid di luar sana mengamati dengan seksama. Bahkan, belasan murid yang telah tiba terlebih dahulu di halaman itu menghentikan kegiatan meramu, hanya untuk menyaksikan anak remaja tersebut beraksi. Dalam pandangan mereka para kakak kelas, mungkin saja anak remaja tersebut pandai dalam berteori sampai berani membuka perkuliahan tak resmi. Akan tetapi, kegiatan meramu berada pada tingkatan yang jauh lebih rumit. Teori dan praktek tiada boleh disamaratakan.

Waktu berjalan dan Balaputera Prameswara terlihat bosan. Ia pun mendatangi para kakak kelas yang khusuk mengamati Bintang Tenggara. “Coba ulangi lagi kata-kata kalian tadi…,” ujarnya ringan.

“Jangan mentang-mentang engkau keturunan bangsawan dapat berbuat sesuka hati di dalam perguruan!” sergah seorang kakak kelas. 

“Plak!” 

Balaputera Prameswara sungguh ringan tangan. Dengan gampangnya ia menampar si lawan bicara. “Ulangi kata-kata kalian tadi… Siapa yang mengelabui…? Siapa yang mencuri…?” 

Segenap perhatian kini beralih ke arah si pemicu keributan. Di saat yang bersamaan, anak remaja itu mengangkat lengan. Akan tetapi, tatkala ia hendak kembali menampar, lengannya tertahan…

Napas segenap khalayak yang menyaksikan tertahan seketika. Seorang pemuda bertubuh tinggi berdiri tepat di belakang Balaputera Prameswara. Jemarinya terlihat mencengkeram erat pergelangan tangan sang penampar. 

“Siapakah itu… Apakah dia Putra Perguruan…?”

“Bukan sembarang Putra Perguruan… Itu adalah Martakusuma, putra dari salah seorang Tumenggung di Kemaharajaan Pasundan…”

“Ini dia tontonan seru… Bagaimana jadinya bila seorang bangsawan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang berseteru dengan seorang bangsawan dari Kemaharajaan Pasundan…?”