Episode 358 - Pramubakti (2)



Kabar berita tentang Maha Guru Primagama mengundang seorang peserta ajang pertukaran murid ke kediamannya beredar sangat cepat. Ibarat hembusan angin yang membawa dedaunan kering, berita tersebut menyebar ke seluruh penjuru Perguruan Budi Daya. Banyak murid yang penasaran, sehingga saat ini mereka berkerumun di depan pendopo. Sebagian mengulang pertemuan sebelumnya, kebanyakan hendak melihat langsung kebenaran kabar yang beredar, serta tak sedikit yang memandang enteng dan hadir untuk mengejek.

“Tempat ini sudah tak memadai,” ujar Bintang Tenggara kepada Balaputera Prameswara. “Kita terpaksa pindah tempat.”

“Terdapat sebuah aula kosong yang telah lama tiada digunakan…” Seorang murid menimpali. Ia adalah salah satu peserta pertama dari kelas berbagi pengetahuan dan pengalaman meramu. 

Walhasil, di dalam sebuah aula kosong, Bintang Tenggara berdiri di tengah kerumunan murid-murid. Dari dua puluh murid pada pertemuan pertama, kini jumlah peserta yang hadir mencapai seratus murid. 200 poin, namun bila dibagi dua dengan Balaputera Prameswara sebagai panitia penyelenggara, maka Bintang Tenggara hanya meroleh 100 poin sahaja. Bila sehari 100 poin, maka dalam satu purnama akan meroleh 3.000 poin. 

Jumlah yang masih teramat jauh dari harapan, batin Bintang Tenggara. Wara harus memiliki 140.000 poin guna menebus tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang, sedangkan dirinya paling sedikit 140,001 guna menjadi murid terbaik di Perguruan Budi Daya. Sebagai murid terbaik, nantinya dapat ia meminta sehelai rambut keriting pendek yang dikenal sebagai Azimat Surgawi. Sungguh, membayangkan rambut itu membuat kepala pening sekaligus perut mual. 

Demikian besar tantangan yang harus dihadapi, padahal pencapaian murid terbaik pada tahun sebelumnya hanya sebesar 10.000 poin. 

Sebenarnya, Bintang Tenggara hanya perlu mengumpulkan 140.000 poin saja untuk dirinya sendiri. 140.000 poin tersebut nantinya dapat ditukarkan dengan tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang, sedangkan status sebagai murid terbaik akan menyajikan Azimat Surgawi. Akan tetapi, bagi seorang murid meroleh dua pusaka perguruan di saat yang bersamaan akan menimbulkan kecurigaan, belum lagi risiko diintai penyamun. 

Oleh sebab itu, selain membuka pertemuan berbagi pengetahuan dan pengalaman, Bintang Tenggara menyadari bahwa dirinya masih wajib mengumpulkan poin dengan cara meramu. Sayangnya, Balaputera Prameswara buta kayu dalam hal ini, sehingga semua harus dirinya kerjaan seorang diri. 

“Pada kesempatan hari ini, kita akan membahas perihal jenis tumbuhan siluman serta cara terbaik dalam pemisahan dan pemurnian bagian-bagian tumbuhan siluman…”

Perkuliahan yang berlangsung selama dua jam terasa sangat singkat. Panduan yang Bintang Tenggara berikan terasa sangat berbeda dengan yang selama ini disajikan oleh para maha guru serta sesepuh perguruan. Akan tetapi, betapa sederhana dan mudahnya paparan dan uraian ditangkap oleh murid-murid yang hadir. Hampir kesemuanya memperoleh pemahaman baru.

Karena banyaknya jumlah peserta yang hadir, maka tak semuanya berkesempatan mengajukan pertanyaan atau mendapat bimbingan langsung. Oleh karena itu, bahkan saat sesi berakhir masih banyak murid yang mengerubungi Bintang Tenggara karena hendak mengajukan pertanyaan terkait hambatan atau kegagalan mereka dalam meramu. 

“Menyingkir! Menyingkir!” Balaputera Prameswara membuka jalan. “Pertemuan empat mata selama satu jam terbuka dengan harga 10 poin per orang!” 

Sejumlah murid terlihat cemas. Akan tetapi, 10 poin masih terbilang cukup murah bilamana dibandingkan dengan perkuliahan seorang maha guru. 

“Wara, pergilah ke Gerai Ramuan dan beli bahan dasar meramu,” ujar Bintang Tenggara yang akan memulai sesi khusus. Ia pun lantas menyerahkan secarik kertas. “Bilamana bahan dasar ramuan tersebut tiada tersedia, pergilah ke pusat Kota Hujan. Kudengar di sana terdapat sebuah Gerai Ramuan yang cukup lengkap. 



“Kegiatan tersebut harus segera dihentikan!” seorang maha guru terlihat berang. “Perguruan merupakan tempat di mana pendidikan dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang!” 

“Perguruan didirikan sebagai upaya membangun standar. Metode dan mata ajaran yang diterapkan telah melalui proses uji coba yang sangat panjang. Para pengajar pun dipilih berdasarkan standar tinggi. Kita semua di sini diwajibkan mengikuti ujian sebelum dapat memberikan pengajaran,” timpal maha guru lain. 

“Oleh sebab itu, bagaimana mungkin seorang murid seumur jagung diperkenankan untuk memberikan pelajaran kepada murid-murid lain!? Sungguh tak masuk di akal!”

“Tenang… Tenanglah sejenak wahai saudara-saudaraku…” Seorang maha guru bertubuh gemuk, mengenakan jubah longgar bernuansa serba putih berupaya menenangkan. Rambutnya klimis dan mengkilat hitam, wajahnya bulat cerah berseri dan pembawaannya mencerminkan kewibawaan maha tinggi.

“Maha Guru Sugema, bukankah sepekan yang lalu anak itu berulah di dalam perkuliahan dikau!? Bagaimana mungkin dikau membiarkan tindakan yang sedemikian lancang!”

Maha Guru Sugema menyibak senyum. Ia mengetahui alasan sejumlah maha guru mendesak diselenggarakannya rapat kali ini. Perkuliahan mereka berangsur sepi, karena banyak murid yang berpindah haluan kepada pertemuan dengan Bintang Tenggara. Dampak langsung yang dirasa oleh para maha guru tersebut adalah berkurangnya pundi-pundi poin dalam jumlah yang sangat signifikan.

“Pimpinan Perguruan, Sesepuh Kesatu dan Maha Guru Kesatu berhalangan hadir. Oleh karena itu, kita tak dapat mengambil keputusan tanpa sepengetahuan mereka…” Seorang maha guru menengahi. 

“Kurasa kita tak memerlukan izin dari beliau bertiga untuk menghentikan tindakan seorang murid yang membuka perkuliahan sendiri…”

“Benar. Murid tersebut telah melanggar aturan. Ia mengumpulkan poin dari murid-murid lain melalui pertemuan yang kemungkinan besar menyesatkan…”

“Bukan ‘kemungkinan besar menyesatkan’, namun sudah barang tentu menyesatkan! Dalam satu atau dua hal, bisa saja ia memilki pemahaman yang memadai. Akan tetapi, di dalam dunia meramu, sangat banyak hal yang menjadi perhitungan. Tindakannya malah akan membahayakan murid-murid lain…” 

“Tidak hanya itu, bila terus dibiarkan maka ia akan meracuni pikiran murid-murid lain. Sehari yang lalu, di dalam perkuliahanku, seorang murid mempertanyakan dampak perpaduan tumbuhan siluman dengan binatang siluman. Aku sampai terpaksa mengusir murid tersebut karena apa yang ia perdebatkan bertolak belakang dengan pandangan perguruan!”


===


“Apa katamu!?” Balaputera Prameswara terlihat berang. 

“Hei! Jaga kata-kata dan sikapmu! Aku adalah seorang Guru Muda dan aku datang membawa perintah dari Dewan Guru. Kalian tidak diperkenankan membuka perkuliahan di dalam lingkungan Perguruan Budi Daya!” 

“Atas dasar apa Dewan Guru menghentikan upaya kami membantu pertumbuhan murid-murid!?” 

“Entahlah! Aku hanya pembawa pesan. Bila kalian meneruskan membuka perkuliahan sendiri, maka kalian akan diusir dari perguruan!” 

“Maafkan kelancangan diri ini, wahai Guru Muda…” Bintang Tenggara mendatangi. “Bila tak salah dengar, tadi disebutkan bahwa kami tiada diperkenankan membuka kegiatan berbagi pengetahuan dan pengalaman di dalam lingkungan Perguruan Budi Daya.”

“Benar!” 

“Baiklah…”

Keesokan harinya, dikelilingi tak kurang dari tiga ratus murid Perguruan Budi Daya, Bintang Tenggara melanjutkan kegiatan. Dari sekadar berbagi pemahaman dan pengalaman meramu, kini kegiatan tersebut sudah layak disebut sebagai sebuah perkuliahan utuh. Perbedaannya, perkuliahan tersebut tiada dilakukan di dalam wilayah Perguruan Budi Daya, melainkan di dalam sebuah bangunan di Kota Hujan. 

Sesungguhnya Bintang Tenggara sudah menyadari bahwa cepat atau lambat perkuliahan yang ia berikan akan mengundang ketidakpuasan dari sejumlah maha guru. Ia pun sudah menduga bahwa akan dilarang melanjutkan kegiatan tersebut. Oleh sebab itu, beberapa hari sebelumnya ia menugaskan Balaputera Prameswara mencari tempat baru. Pada secarik kertas yang diserahkan kepada si saudara sepupu, selain bahan dasar ramuan memuat pula perintah untuk menyewa tempat di luar wilayah Perguruan Budi Daya. 

Atas alasan menyewa tempat itu pula, biaya perkuliahan yang dibebankan pun ‘terpaksa’ dinaikkan. Kini, sejumlah 5 poin untuk perkuliahan umum dan 15 poin untuk perkuliahan pribadi patut dikeluarkan oleh murid-murid yang hendak meningkatkan kemampuan meramu mereka. 

“Kau lagi!” Balaputera Prameswara menghardik garang. 

Satu pekan telah waktu berlalu sejak Balaputera Prameswara dan Bintang Tenggara membuka perkuliahan di luar Perguruan Budi Daya. Sejauh ini, upaya tersebut berlangsung tanpa hambatan karena berada di luar wilayah dan kewenangan Perguruan Budi Daya. Keduanya baru saja menutup kegiatan hari itu dan hendak segera kembali ke perguruan. Akan tetapi, langkah kaki mereka dicegat. 

“Kau belum memenuhi undangan Maha Guru Primagama,” tanggap seorang gadis belia berambut poni dan mengenakan sepasang kaca mata. Ia mengabaikan Balaputera Prameswara dan berujar langsung kepada Bintang Tenggara. 

“Sampaikan permintaan maafku kepada Maha Guru Primagama,” sahut Bintang Tenggara. “Akan tetapi, diriku belum merasa pantas untuk dapat memenuhi undangan beliau.”

“Maha Guru Primagama mengatakan bahwa engkau akan menolak. Akan tetapi, beliau meminta agar aku menyampaikan sebuah kenyataan pahit bagimu. Bahwasanya, dalam waktu dekat perguruan akan melarang pemindahbukuan poin antar murid.”

Bintang Tenggara tak dapat menyembunyikan keheranan. Sepertinya upaya mendulang poin dari murid-murid lain terus-menerus berhadapan dengan hambatan. Tiada dapat dipungkiri lagi, semakin banyak pihak-pihak di dalam Perguruan Budi Daya yang secara khusus hendak membatasi ruang geraknya. Kini, satu-satunya cara meraih poin adalah dengan menjalankan tugas di balai bakti.

“Bagaimana…?” Gadis belia tersebut membenahi letak kaca matanya, di mana raut wajahnya memancarkan sinar kemenangan. “Pastinya engkau menyadari bahwa seorang Maha Guru dapat memberikan poin dalam jumlah yang lebih besar daripada Balai Bakti.” 

“Sebagaimana yang telah diriku sampaikan tadi…” Bintang Tenggara berujar penuh percaya diri. “Diriku belum merasa pantas untuk dapat memenuhi undangan Maha Guru Primagama.” 

“Kau…” Gadis belia itu terperangah sebaligus sebal. “Bila kau hendak menjadi murid terbaik tahun ini, maka tak ada jalan lain bagimu. Murid-murid yang merupakan pesaingmu adalah mereka yang dekat dengan para tetua perguruan. Secara rutin mereka membantu maha guru atau sesepuh dalam kegiatan meramu dan sebagai imbalannya memperoleh poin secara sah…”

“Bila hanya itu yang hendak engkau sampaikan, menyingkirlah sudah…,” sela Balaputera Prameswara. “Kami hendak segera kembali ke perguruan.” 

“Tanpa dukungan maha guru atau sesepuh, maka engkau tak akan meraih peringkat sebagai murid terbaik!” 

“Mohon sampaikan permohonan maaf dan salamku kepada Maha Guru Primagama.” Super Murid Komodo Nagaradja meneruskan langkah. Tak pelak lagi, ia masih memiliki jurus simpanan untuk menghasilkan poin dalam jumlah banyak.