Episode 99 - Duka Sang Bahaduri (2)


Mega Sari langsung menghentikan penggaliannya dan dengan perasaan yang amat gelisah ia menatap keatas langit malam yang kelam tiada berbintang dan berembulan tersebut, Nyai Lakbok menghentikan semedinya dan membuka matanya. "Bagaspati... Dia datang... Mega, jangan berhenti! Cepat temukan pasak emas itu!".

"Baik Guru!" jawab Mega Sari sambil meneruskan penggaliannya dengan tergesa-gesa, dan tiba-tiba cangkulnya membentur sesuatu, ia pun melemparkan cangkulnya dan menyibakan tanah diatas satu peti kayu kecil.

"Saya menemukannya Guru!".

"Cepat ambil!" perintah Nyai Lakbok, tapi si burung sirit uncuing keburu mendarat dan langsung berubah wujud menjadi Dharmadipa.

"Bagaspati!" gerendeng si Nenek bungkuk sambil menatap tajam mayat hidup dihadapannya.

Saat itu Mega Sari berhasil mencungkil kunci peti kecil tersebut dan mengambil pasak emas didalamnya yang terbungkus kain putih. Dharmadipa menoleh dan melihat hal itu, maka tiba-tiba... Wush! Wush! Wush! Belasan Jin keluar dari tubuhnya dan berubah menjadi belasan bola api berwarna-warni yang menyerang Mega Sari, Mega Sari langsung melompat mundur, dan si Nenek langsung menerjang jasad Dharmadipa!

"Bagaspati! Lihat seranganku!" bentak Si Nenek sambil menusukan tongkat bututnya ke arah dada Dharmadipa! Tidak Seperti biasanya, kali ini Dharmadipa menghindar kesamping, dan balas mengirimkan beberapa pukulan pada si Nenek, sehingga terjadilah pertarungan antara Sang Dukun Teluh dengan Jin Bagaspati!

"Mega Sari! Aku akan memancing semua Jin itu untuk masuk kembali kedalam tubuh suamimu! Begitu ada kesempatan, robek tonjolan di kepala kemaluannya dan cabut jarum emas susuk azimat suamimu itu!" teriak si Nenek, Mega Sari pun mengangguk.

Ternyata ilmu kanuragan si Nenek ini sangat luar biasa, berkali-kali ia berhasil menyudutkan Jin Bagaspati, maka terpaksa, Jin-Jin yang tadi mengeroyok Mega Sari merasuk kembali kedalam raga Dharmadipa! Pertarungan yang sangat seru sekaligus sangat mengerikan pun terjadi, jeritan-jeritan dan geraman para mahluk ghaib menggema, bola-bola api yang berwarna-warni berterbangan kian kemari, ledakan-ledakan gegap gempita terjadi disana-sini, angin dingin dan angin panas bergantian berseoran dengan deras, bumi di sekitar reuntuhan Rajamandala berguncang-guncang Dhasyat!

Mega Sari menyaksikan pertarungan adu ilmu hitam tersebut yang sangat mengerikan dengan jantung berdebar kecang! Ia khawatir pada gurunya yang dikeroyok oleh belasan lelembut tersebut, maka pada satu kesempatan ia melompat menerjang Dharmadipa untuk menusuk dan merobek kemaluannya! 

Dharmadipa awas pada bokongan Mega Sari tersebut, ia kebutkan tangan kirinya, EMPAT sambaran lidah api menderu ke arah Mega Sari. Selagi putri bungsu Prabu Kertapati ini berusaha menghindar sambil balas menghantam dengan pukulan sakti, delapan larik sinar hitam yang berasal dari tangan kanan Dharmadipa didahului suara menggelegar menderu ke arah Nyai Lakbok.

Nyai Lakbok cepat babatkan Tongkat Bututnya di tangan kanan. Selarik sinar merah berbentuk kipas raksasa membabat di udara. "Traakkk!". tongkat sakti terlepas dari genggaman Nyai Lakbok, terpental jatuh ke tanah, berubah menjadi kayu bakar hitam gosong! Dua sinar hitam musnah namun sisanya yang enam terus menggebubu ke arah Nyai Lakbok!

Nyai Lakbok berteriak keras ketika melihat empat sinar hitam menyerang ke arahnya, ia lalu kebutkan kedua tangannya kemuka, puing-puing reruntuhan keraton terbang menyongsong keenam larik sinar hitam itu, Si Nenek lalu memelototkan matanya, dari kedua matanya menyambar sinar berwarna ungu ikut menyusuk menyongsong keenam sinar Hitam! Duarrr!!! Ledakan dahsyat yang mengguncang bumi Rajamandala dan seolah merobek langit menggema! Percikan-percikan bunga api berterbangan kemana-mana membakar rumput-rumput dan pohon-pohon disekitarnya!

Nyai Lakbok jatuh terduduk, dari sela-sela mulutnya mengalir darah, dari kedua matanyapun mengalir darah, dadanya serasa sesak dan nyeri bagaikan ditusuk-tusuk jarum! Ia langsung duduk bersila lalu mengatur jalan nafasnya sambil mulutnya berkomat-kamit membaca mantera, sementara mayat hidup Dharmadipa hanya terjajar tiga langkah!

Melihat gurunya Terluka dan Dharmadipa Nampak lengah, Mega Sari yang tadi berhasil menghindar dari serangan maut Dharmadipa, langsung melompat menerjang dengan pasak emasnya mengarah ke kemaluan Dharmadipa, tapi rupanya mayat hidup ini menyadarinya, Dharmadipa langsung meniupkan lidah api yang keluar dari mulutnya.

Mega Sari terpaksa menghandari serangan lidah api tersebut, ia berguling-guling di tanah yang becek untuk menghindari serangan ganas tersebut, dan ia langsung balas dengan pukulan "Bintang Penabur Nyawa" yang ia dapat dari Nyai Mantili, putih menyilaukan disertai hamparan hawa luar bias panas berkiblat!

Blarrr! Kembali ledakan terjadi mengguncang puing keraton Rajamandala tersebut, Udara di tempat itu dilanda gelegar letusan luar biasa dahsyat, hawa panas menyengat kemana-mana, bunga-bunga api bermuncratan! Mega Sari Jatuh berguling-guling lalu terkapar ditanah, dari mulut dan hidungnya memuncrat darah segar! Dengan segenap sisa tenaganya, buru-buru wanita ini bangun dan menyalurkan tenaga dalamnya kedadanya yang berdenyut sakit dan sesak!

Melihat muridnya dalam keadaan bahaya, Nyai Lakbok langsung bangun, dia menggerendeng marah, mulutnya berkomat-kamit, matanya melotot memancarkan cahaya berwarna merah, dari sekujur tubuhnya keluar asap berwarna hitam yang sangat panas, "Bagaspati! Aku mengadu nyawa denganmu!" tantang si Nenek.

Dharmadipa menoleh ke si nenek, ia lalu menyeringai bengis, mayat hidup ini Angkat dua tangan ke atas. Langit diatas kepalanya bergetar dan sebuah lobang terbuka, dari lobang itu keluar Larikan sinar merah dan hitam yang disertai lidah api berwarna kuning, merah, dan biru menderu! DI UDARA, Nyai Lakbok terkejut melihat semburan sinar merah dan hitam yang disertai lidah api berwarna kuning, merah, dan biru menyerang dirinya dari atas. Dukun Teluh ini tidak tinggal diam. Dengan pukulan sakti "Bara Hitam" kedua tangannya menggempur ilmu gaib Jin Bagaspati, dua sinar hitam disertai gelombang api berwarna hitam menderu keatas. Dua letusan keras menggelegar!

Nyai Lakbok yang melancarkan serangan untuk menghantam serangan Ghaib Jin Bagaspati dan kawan-kawannya menjerit keras. Tubuhnya terpelanting jauh kebelakang lalu jatuh terguling di tanah dan membentur sebuah batu besar. Dari seluruh badannya mengepul asap putih. Sepasang mata membeliak, wajah pucat pasi, badan si nenek Nampak gosong mengeluarkan bau hangus menusuk hidung!

Mega Sari menjerit dahsyat ketika melihat gurunya roboh, ia hendak menerjang dengan pasak bumi emasnya dan berbuat nekad untuk membalaskan gurunya pada si mayat hidup! Namun satu bayangan berwarna biru tiba-tiba menghadangnya, seorang pria tua telah berdiri dihadapan Mega Sari. “Tahan! Biar aku yang menghdapai iblis itu!” ucap orang itu.

Mega Sari terkejut melihat pria tua bertubuh jangkung, berjubah, bersorban dan berpakaian serba biru tersebut. Ketika ia berusaha menebak siapa pria itu, datang lagi seorang pria tua bermata buta yang berpakaian butut penuh tambalan dan membawa sebuah kecapi. “Kakang Kyai Supit Pramana, aku tahu ini bertentangan dengan sifatmu, tapi sebaiknya kita keroyok saja mayat hidup itu berdua! Dia sangat berbahaya sekali!” ucap pria tua buta tersebut.

“Baiklah Adi Dewa Pengemis, kita serang dia berdua sekaligus!” tandas pria berjubah yang tak lain adalah Kyai Supit Pramana menyahut kawannya yang tak lain adalah si Dewa Pengemis. Maka segera kedua orang itu menerjang Dharmadipa!

Mayat hidup Dharmadipa menyeringai melihat siapa yang menyerangnya. “Kyai dan pengemis jahanam! Sudah lama kutunggu kalian! Kau dan temanmu ini bersiaplah untuk mampus!" teriak Dharmadipa yang bersemangat sekali lalu hantamkan tangan kiri kanan membagi serangan ke arah Kyai dan Dewa Pengemis. 

Yang diserang tak tinggal diam. Dewa Pengemis gosokkan kedua tangannya. Asap putih mengepul. Ketika dua tangannya didorong maka menderulah Sinar Pelangi yang menghamparkan hawa luar biasa dinginnya. Semua orang yang ada di tempat itu tampak menggigil. Rupanya Si Dewa Pengemis tak mau ambil resiko dan langsung menghamburkan pukulan pamungkasnya yakni Pukulan “Pelangi Kematian”!

Di bagian lain Kyai Supit balas menyerang dengan pukulan pamungkasnya yakni Pukulan “Gerhana Matahari”! Sinar berwarna emas kemerahan yang teramat panas memancarkan cahaya redup disertai pusaran gelombang angin panas menderu! Tempat disekitarnya menjadi amat panas!

Seandainya orang lain yang menerima hantaman dua orang tua sakti ini niscaya tubuhnya akan tergeletak tewas mengenaskan saat itu juga. Namun Dharmadipa seolah tidak merasakan apa-apa karena tenaga dalamnya yang sangat tinggi mampu melindungi dirinya.

"Duarrr! Duarrr!"

Dewa Pengemis terpelanting dua tombak. Terkapar di tanah dan untuk beberapa lamanya tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Sekujur badannya seolah lumpuh. Dadanya menyesak sakit. Hal yang sama terjadi pula dengan Sang Kyai, pria tua ini terpental dua tombak, jatuh terduduk di tanah dengan dada dan kepala mendenyut sakit! Dari sela mulutnya mengalir darah pertanda orang tua ini mengalami cidera di sebelah dalam.

Pada saat yang bersamaan, Jaya Laksana beserta rombongannya telah tiba di tempat tersebut. Bukan main terkejutnya Jaya Laksana ketika melihat gurunya Kyai Supit Pramana dan Si Dewa Pengemis dibuat tak berdaya oleh mayat hidup Dharmadipa! “Dharmadipa?!” Seru Jaya yang terkejut melihat rupa mayat hidup itu. “Ternyata benar apa yang kudengar, dan bahkan dia bisa mengalahkan Kyai Guru dan Dewa Pengemis!” desahnya.

“Kakang Jaya Laksana!” seru Mega Sari yang merasa lega ketika melihat kakaknya datang untuk menolong dirinya.

Jaya Laksana tidak menjawab, ia melompat turun dari kudanya, lalu perhatiannya langsung teruju pada sosok mayat hidup Dharmadipa, “Ternyata apa yang dikatakan oleh orang-orang memang benar adanya! Dharmadipalah biang keladi dari malapetaka ini!” ucapnya.

“Bukan! Itu hanya wadagnya saja! Wadagnya diisi dan digerakan oleh Jin Bagaspati dan kawan-kawannya!” jawab Mega Sari.

“Hmm… Benar, aku melihat ada banyak sekali Jin yang berada didalam tubuh Dharmadipa!” sahut Jaya membenarkan ucapan Mega Sari, ia sendiri dapat melihat setidaknya ada belasan Jin yang berada didalam mayat Dharmadipa berkat ilmu “Membuka Mata Sukma”.

“Jaya Laksana! Kubunuh kamu!” Dharmadipa menggerung dahsyat menggetarkan seluruh tempat itu, ia nampak sudah tidak sabar untuk menyerang Jaya Laksana.

“Hati-hati Kakang! Bahkan Kyai Pamenang dan Guru Nyai Lakbok pun tak sanggup menghadapinya!” Mega Sari memberi peringatan pada Jaya Laksana.

“Insyallah Gusti Allah tidak akan membiarkan kebathilan terus bertahta di dunia ini, doakan aku adikku!” sahut Jaya. Ia langsung memainkan jurus “Menjungkir Langit Menggoncang Awan” angin berseoran dahsyat seolah badai keluar dari setiap gerakan Tumenggung ini, namun ia terkejut ketika terjadi bentrokan tenaga dalam dengan Dharmadipa! Ternyata tenaga dalam Dharmadipa sungguh hebat, jauh berada diatasnya! 


Maka tak ayal, Jaya langsung menyerangnya dengan Pukulan “Gerhana Matahari”, Dharmadipa pun membalasnya dengan satu pukulan yang dahsyat. Dari kedua tangannya keluarlah lidah api berwarna Kuning, Merah, Biru dan Hitam memapasi pukulan Jaya! Bledaaarrrr!!! Satu ledakan terjadi mengguncang tempat itu! Sang Tumenggung terlempar beberapa tombak ke belakang sambil memuntahkan darah segar! Mega Sai menjerit. melihat kakaknya terluka parah, dia segera berlari menghampiri kakaknya.

Indra Paksi terkejut menyaksikannya, “Ia benar-benar bukan manusia! Selama ini aku belum pernah melihat orang yang tenaga dalamnya mampu menyamai Raden Tumenggung apalagi melebihinya!” seru Sang Lurah Tantama.

Melihat tuannya sedang berada dalam bahaya, Indra Paksi dan keempat kawannya mencabut keris pusaka mereka, namun sebelum menerjang Dharmadipa, tiba-tiba terdengarlah suara auman harimau yang dahsyat! Seekor harimau berbulu emas menerjang Dharmadipa! Maka mau tak mau Dharmadipa Tarik serangannya yang hampir saja mencelakai Jaya. Dharmadipa melompat beberapa tombak kebelakang dan mengmati harimau yang menolong Jaya barusan.

Harimau itu menggerung dahsyat dan berubah menjadi seorang pria berpakaian ala perwira yang tampangnya teramat gagah. Harimau itu tak lain adalah Panglima Gandawijaya yang bertindak untuk menyelematkan tuannya. Sang Panglima pun mengeluarkan senjatanya yang berup rantai emas dan langsung menerjang Dharmadipa!

Pertempuran antara mahluk ghaib ini pun terjadi, Panglima Gandawijaya memang sangat tinggi ilmunya sehingga ia menjadi Senopati kepercayaan Prabu Siliwangi, namun yang ia hadapi adalah Dharmadipa, yang tbuhnya dikendalikan oleh belasan Jin jahat yang teramat sakti! 

Panglima Gandawijaya memukulkan kedua telapak tangannya kemuka, dua larik sinar emas yang teramat panas menggebu dengan dahsyatnya! Dharmadipa pun menyambutnya dengan memukulkan dua tangannya kemuka, dua larik sinar hitam yng teramat panas dan menghamparkan bau bangkai busuk memapasi pukulan Gandawijaya!

Duaarrr!!! Kembli ledakan terjadi! Tubuh Gandawijaya terlempat jauh kebelakang, namun rupanya Dharmadipa tidak memberi hati. Dari dalam tubuh mayat hidup tersebut keluarlah belasan Jin penghuninya, mereka menerjang Gandawijaya! Desh! Desh! Desh! Belasan pukulan dahsyat dari para Jin tersebut bersarang telak secara bersamaan di tubuh Panglima Gandawijaya! Sang Panglima pun jatuh berguling-guling lalu memuntahkan darah segar!

Indra Paksi dan kawan-kawannya sudah tak dapat menahan dirinya lagi, mereka semua melompat menerjang tubuh Dharmadipa yang sedang kosong karena Jin Bagaspati dan belasan Jin Lainnya sedang meninggalkan tubuh itu untuk mengeroyok Panglima Gandawijaya. Satu pemandangan yang janggal terjadi, Jin Bagaspati nampak panik dan segera melayang terbang kembali kedalam tubuh Dharmadipa disertai Jin-Jin lainnya. 

Mayat Hidup Dharmadipa pun langsung bergerak lagi dan mengamuk menghantam Indra Paksi dan kawan-kawannya. Tubuh mereka berpelantingan terkena hantaman Dharmadipa! Ketiga kawan Indra Paksi langsung tewas dengan tulang dada yang remuk, sementara Indra Paksi dan satu kawannya terluka amat parah hingga tak sanggup untuk bangkit lagi!

Kyai Supit dan Dewa Pengemis yang sedari tadi menghimpun kembali tenaga dalamnya kembali menerjang Dharmadipa. Mereka berdua mengganti taktik mereka, kini mereka menyerang Dharmadipa secara bersamaan dari arah yang berbeda, taktik mereka cukup berhasil karena berhasil memecah perhatian Jin Bagaspati dan kawan-kawannya yang bersemayam didalam tubuh Dharmadipa. Beberapa kali kawanan Jin tersebut keluar masuk dari dalam tubuh Dharmadipa untuk meladeni dua jago tua dari golongan putih tersebut.

Saat itu datanglah Kyai Surakarna beserta ketiga orang muridnya. Mereka terkejut menyaksikan pertarungan di reruntuhan Keraton Rajamandala tersebut. “Itu dia! Kita berhasil menemukan Iblis ini. Cepat turun!” 

Kyai Surakarna dan ketiga muridnya turun dari kuda mereka masing-masing kemudian duduk bersila. “Cepat baca ayat-ayat suci apa saja yang kalian bisa! Yang penting khusyuk!” perintah Sang Kyai.

“Baik Kyai!” sahut ketiga muridnya, mereka pun langsung membaca ayat-ayat suci dengan sekhusyuk yang mereka bisa. 

Ajaib, disaat yang bersamaan Dharmadipa nampang meraung-meraung dahsyat sambil menutup kedua daun telinganya. “Panas! Panas!” jeritnya. Dia Langsung melirik ke arah Kyai Surakarna dan ketiga muridnya berada, kemudian dia memelototkan matanya, dari kedua bola matanya, melesatlah sepasang larik sinar merah yang amat tajam bagaikan pedang. Sepasang sinar itu tepat mengenai dada salah seorang Murid Kyai Surakarna sehingga murid itu tewas dengan dada berlubang bagaikan distusuk pedang!

Kyai Surakarna dan dua orang muridnya kaget sehingga doa mereka menjadi tidak khusyuk. Hal ini dimanfaatkan oleh Dharmadipa untuk menerjang mereka! Namun untunglah Kyai Supit dan Dewa Pengemis berhasil menghadangnya menskipun mereka harus membayar mahal ketika pukulan telak Dharmadipa bersarang di dada mereka berdua, kembali dua orang tua sesepuh dunia persilatan tanah Pasundan itu terjungkal sambil muntah darah!


Jaya yang berhasil menghimpun tenaga dalamnya lagi, langsung mengeluarkan Keris Kyai Segara Geni yang memancarkan cahaya biru dan menghamparkan hawa teramat panas, angin panas berseoran membadai bagaikan suara jeritan seratus setan. Tak ketinggalan, cincin mustika Kalimasada di jari tangannya pun memancarkan sinar biru terang.

Didahului satu bentakan keras, Jaya Laksana menerjang ke arah Dharmadipa. Mayat hidup itu nampak bergetar hebat ketika melihat dua benda pusaka di tangan Jaya, ia tak berani menyerang secara gegabah dan memusatkan perhatiannya pada serangan keris Jaya!

Karena gerakan Dharmadipa menjadi tanggung akibat terlalu memusatkan perhatiannya pada serangan keris Kyai Segara Geni di tangan kanan Jaya, Jaya berhasil menghantamkan pukulan “Badai Mendorong Bukit” yang ia lepaskan dengan tangan kirinya di dada Dharmadipa.

Dharmadipa meraung ketika pukulan Jaya bersarang didadanya, Jaya pun tak melewatkan kesempatan ini, ia segera babatkan kerisnya pada dada Dharmadipa. Bresss! Dharmadipa menjerit hebat ketika keris Kyai Segara Geni berhasil melukai dadanya, darah berwarna hitam yang teramat panas hingga mengepulkan asap dan berbau busuk memuncrat keluar dari luka di dada Dharmadipa yang menganga lebar! Jaya pun langsung hendak menusuk leher Dharmadipa, namun Dharmadipa keburu menjotoskan tangannya ke muka, satu pukulan telak bersarang didada Jaya, tubuh Sang Tumenggung pun terlempar beberapa tombak kebelakang yang membuatnya harus muntah darah untuk kedua kalinya!

Sementara itu Kyai Surakarna dan kedua muridnya berhasil kembali berkonsentrasi, mereka kembali membaca doa dengan khusyuknya. Kyai Supit tak ketinggalan, ia mengeluarkan tasbihnya kemudian berdoa kepada Gusti Allah. Akibatnya sungguh luar biasa, Dharmadipa yang sedang meringis kesakitan akibat sabetan keris Jaya semakin menjerit kesakitan ketika para ulama tersebut membacakan ayat-ayat suci dengan khusyuknya, ia menjerit-jerit kesakitan, Dari sekujur tubuhnya mengepul asap putih, dari kedua daun telinganya mengalir darah berwarna hitam yang sama seperti yang melair dari luka didadanya.

Melihat kesempatan yang mulai memihak kepada mereka, Dewa Pengemis pun segera memanfaatkannya. Dengan seluruh sisa tenaga dalamnya ia memetik semua senar kecapinya, senar-senar tersebut langsung lepas dari kecapi dan melesat menyasar sekujur tubuh Dharmadipa! Seluruh senar dari kecapi bututnya kemudian membelit sekujur tubuh Dharmadipa. Ia Segera mengalirkan seluruh tenaga dalamnya pada senar-senar tersebut sehingga mengalirkan hawa yang teramat panas! Dharmadipa pun tak dapat bergerak dan hanya bisa menjerit-jerit kesakitan, dari sekujur tubuhnya yang terbelit oleh senar kecapi tersebut langsung mengucurkan darah.

Kyai Supit pun tak ketinggalan, ia segera mengeluarkan tasbihnya kmudian membaca doa. “Ya Allah, tunjukan kuasaMU, hancurkan kebathilan, hancurkan semua kekuatan iblis yang selalu menggoyahkan iman manusia. Tunjukanlah kuasaMU. Ya Allah, Ya Allah, Ya Ro’bal A’llamin…” ucap Kyai Supit Pramana, kemudian ia lemparkan tasbihnya, tasbih tersebut kemudian membesar dan seolah menjadi hidup. Bagaikan ular naga raksasa, tasbih itu membelit sekujur tubuh Dharmadipa bersatu dengan senar kecapi butut si Dewa Pengemis!

Di saat yang amat menentukan tersebut, dengan segenap sisa tenaganya, Nyai Lakbok berbisik pada Mega Sari dengan ilmu menyusupkan suara. “Mega cepat cungkil kemaluannya dengan pasak emas itu! Ambil susuk dari kemaluannya! Cepat Mega!”

Mega Sari pun langsung berlari untuk menusukan pasak emasnya ke kemaluan Dharmadipa. Namun pada saat itu Dharmadipa berhasil menghimpun seluruh kekuatannya dan meronta hebat, belitan tasbih dan senar kecapi dari Kyai Supit dan Dewa Pengemis langsung putus, malah hantaman tenaga dalam yang teramat dahsyat itu masih bisa menghantam kedua orang tua tersebut. Kyai Supit dan Dewa Pengemis terpental jauh kebelakang kemudian jatuh berguling-guling, kali ini tubuh si Dewa Pengemis tak berkutik lagi dengan hampir seluruh tulang di tubuh mereka hancur, sementara keadaan Kyai Supit amat kritis, sampai ia tak sanggup lagi untuk bergerak.

Mega Sari terkejut melihatnya, namun ia sudah nekad. Karena perhatian Dharmadipa tertuju pada Kyai Supit dan Dewa Pengemis membuatnya lengah, para Jin yang bersemayam didalam tubuh Dharmadipa pun sudah terluka amat parah seiring luka di tubuh mayat hidup yang menjadi inangnya tersebut. Luka-luka pada Jin-jin tersebut sama dengan luka yang dialami tubuh Dharmadipa.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh janda mayat hidup tersebut. Dengan mengandalkan instingnya serta mengingat dengan cepat bentuk kemaluan suaminya, Mega Sari berhasil menebak dengan tepat dimana letak ia harus menancapkan pasak emasnya karena bagian yang ia tuju tertutupi oleh celana panjang yang dipakai mayat hidup tersebut.