Episode 98 - Duka Sang Bahaduri (1)



Wajah Kyai Surakarna berubah menjadi kelam membesi, elahan nafasnya menjadi berat dan sangat terdengar jelas. “Itulah yang juga ingin saya bicarakan dengan Kyai. Di Dusun tempat saya berdakwah sedang mendapatkan gangguan dari Jin kafir yang menyesatkan masyarakatnya…” Kyai Surakarna pun menceritakan semuanya. Kyai Supit meskipun sudah mengetahui ceritanya, tetap mendengarkan kisah dari kawannya iu dengan seksama.

“Seperti manusia, bangsa Jin pun ada yang beriman. Tapi banyak juga yang kafir. Mereka membantu Iblis untuk menggoyahkan iman manusia. Seperti yang terjadi di desanya Kyai Surakarna. Jin-jin kafir itu membuat penduduk ketakutan. Untuk kemudian menjadikan mereka sebagai Yang Bahureksa, dan para pendudukpun menyembah mereka. Syirik, menyekutukan Gusti Allah!” terang Kyai Supit.

“Bagaimana cara mengalahkan mereka Kyai?” 

“Pada dasarnya, Iblis dan pasukan-pasukannya hanya takut kepada ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tapi semua harus dibaca dengan khusyuk. Sebab manakala hatimu ragu, maka Iblis dan pasukannya akan kembali kuat. Semakin tinggi keraguan dalam hatimu, makin dahsyat kekuatan mereka. Kemudian mereka akan mampu mengalahkanmu…” jelas Kyai Supit.

“Saya sendiripun berkewajiban untuk menumpas Jin-jin tersebut dengan dua alasan. Pertama sebagai orang Islam yang mesti menghancurkan kebhatilan. Jin-jin itu sudah terlalu banyak memakan korban dan membuat manusia tersesat meninggalkan ajaran Islam. Kedua karena saya adalah warga negara Mega Mendung, saya berkewajiban untuk membantu penerusnya yang sah membangun negeri ini kembali…”

“Terima kasih Kyai…” ucap Kyai Surakarna. Obrolan mereka terhenti ketika waktu dzuhur tiba, mereka pun sholat berjamaah bersama. Pada saat malam hari tiba, Kyai Surakarna beserta ketiga muridnya terlelap karena kelelahan menempuh perjalan yang amat jauh. Sementara Kyai Supit melaksanakan sholat tahajud. Setelah selesai sholat, ia mendengar suara petikan yang amat merdu mendayu-dayu yang amat menyentuh hatinya. Ia pun melangkah keluar rumah dan melihat orang yang sedang bermain kecapi di halaman rumahnya.

Kyai Supit pun tersenyum dan menyapa orang yang bermain kecapi tersebut. Ternyata dia adalah seorang pria tua buta yang mengenakan baju butut penuh tambalan. “Adi Ranadikarta, selamat datang, aku sudah menunggumu, mari masuk dulu.” ajak Kyai Supit.

Pria tua buta itu menjawab sambil tetap memainkan kecapinya. “Hahaha… Tidak usah Kakang Kyai, waktu kita sangat sedikit. Sebaiknya kita langsung bergegas!”

Kyai Supit termenung sebentar sambil menatap gubugnya dimana Kyai Surakarna dan para santrinya sedang beristirahat. Ia merasa tak enak kalau harus meninggalkan mereka tanpa berpamitan, namun apa yang dikatakan oleh si Dewa Pengemis adalah benar, mereka harus segera menumpas mayat hidup Dharmadipa yang sudah berhasil menghancurkan negeri Mega Mendung. “Hmm… Baiklah. Ayo kita berangkat!” Kyai Supit dan si Dewa Pengemis langsung berkelebat menuruni puncak Gunung tangkuban Perahu, mereka berangkat menuju reruntuhan kota Rajamanadala, bekas ibukota negeri Mega Mendung.

        ***

Di malam dan waktu yang sama di desa Jati Jajar yang berada di pedalaman yang termasuk wilayah perbatasan Banten dengan Mega Mendung, Ki Dukun Tapak Gluduk nampak sedang duduk bertafakur dihadapan berbagai macam sesajen dan pembakaran kemenyan serta dupa. 

Sang Dukun sangat gelisah dengan berbagai peristiwa mengerikan yang menimpa desa tempatnya tinggal tersebut, maka tepat pada tengah malam berbarengan dengan semakin pekatnya aroma pembakaran kemenyan bercampur dupa, Ki Dukun menaburkan kembang tujuh rupa pada semua sesaji yang tersimpan dihadapannya, mulutnya mulai berkomat-kamit menghaturkan kegelisahannya pada Hyang Karuhun.

“Oh Eyang Pangeran Dharmadipa, Hyang Karuhun yang kini ngageugeuh Desa Jati Jajar serta seantero Gunung Pangranggo, Kami memohon agar Eyang sudilah untuk tidak lagi mengganggu rakyat desa kami, jika selama ini ada hal-hal yang tidak berkenaan dan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, kami mohon maafmu. Kami mohon agar Eyang berkenan kembali memberi dan menjaga kehidupan kami seperti sedia kala…”

Baru saja mulutnya berhenti berucap demikian, tiba-tiba suara cuitan parau burung sirit uncuing bergema, aroma bangkai bercampurkembang tujuh rupa serta kemenyan santar tercium, angin panas dan dingin bertiup dengan amat kencang silih berganti, bumi disekitar rumah Ki Dukun bergetar hebat sampaiberderak-derak seolah mau roboh.

Ki Dukun langsung panik, ia bersujud-sujur dan berteriak meminta ampun kepada jajaran semua sesajen dihadapannya. “Ampun Eyang! Ampun! Kami berniat baik! Ampun!”

Tiba-tiba sebuah lubang besar di lantai rumah Ki Dukun tercipta menganga menghisap semua sesajen dihadapan Ki Dukun kedalam bumi! Ki Dukun langsung meloncat kaget kebelakang. Matanya melotot menatap lobang aneh tersebut, baju serba hitamnya langsung basah oleh keringat dingin. Sekonyong-konyong angin panas dan dingin yang bertiup semakin kencang, lindu semakin hebat, aroma bangkai serta kembang tujuh rupa dan kemenyan semakin tajam menusuk hidung!

Ki Dukun jatuh terduduk, tatkala dari dalam lobang itu keluar sesosok manusia berpakaian serba putih, rambutnya jabrik riap-riapan, sekujur kulit tubuhnya pucat pasi bagaikan kapas, bola matanya merah bagaikan darah! Orang itu yang tak lain adalah mayat hidup Dharmadipa yang tubuhnya digerakan oleh kawanan Jin yang dipimpin oleh Jin Bagaspati, menatap dingin dengan bengis pada Ki Dukun.

Ki Dukun segera duduk bersila dan memejamkan matanya kemudian membaca semua jabang mantera yang ia ketahui untuk mengusir Dharmadipa, namun semua jabang manteranya tersebut seolah tak berpengaruh apa-apa pada Dharmadipa. Mayat hidup ini terus melangkah perlahan dengan angkernya menghapiri Ki Dukun.

Mengetahui semua jabang manteranya tak mempan, Ki Dukun langsung membuka matanya dan bersujud pada Dharmadipa sambil memohon ampun. “Eyang Pangeran, ampun! Ampuni hamba! Hamba akan segera menyuruh semua warga desa untuk membuat sesajen pada Eyang!” 

Namun Dharmadipa tak bergeming, ia langsung menyerang Ki Dukun, yang diserang tentu tak mau konyol, ia langsung berkelit dan berusaha menangkis juga menghidar dari semua serangan Dharmadipa sambil terus berteriak minta ampun.

Menyadari “Eyangnya” menghendaki nyawanya, pria paruh baya ini melompat ke sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan, ia langsung mengambil keris pusakanya untuk kemudian balas menyerang Dharmadipa.

Namun semua serangan Keris Pusaka Ki Dukun tak mempan untuk melukai apalagi membunuh Dharmadipa, malah pada satu jurus kemudian sang Mayat Hidup ini berhasil merebut keris Ki Dukun lalu meremasnya sampai hancur menjadi abu!

Ki Dukun terkejut melihat keris pusakanya berhasil dihancurkan dengan begitu mudahnya oleh Dharmadipa, namun ia segera bertindak lagi. Ki Dukun segera mengeluarkan aji pamungkasnya yakni “Ajian Soca Maut”, ia memejamkan matanya sejenak sambil mulutnya berkomat-kamit membaca mantera, dan ketika ia membuka kedua matanya, dari kedua matanya memancar sinar hitam sebesar ibu jari yang ujungnya runcing bagaikan mata pedang serta memancarkan hawa teramat dingin!

Blaarrr! Dua ledakan dahsyat meledak berbarengan ketika dua sinar hitam yang keluar dari kedua mata Ki Dukun mengenai tubuh Dharmadipa dengan telak, namun apa yang terjadi sangat mengejutkan Ki Dukun, tubuh si Mayat Hidup nampak tak terluka sedikitpun! Ki Dukun pun terkejut bukan main sebab ajian pamungkasnya tak mampu melukai tubuh Dharmadipa!

Dharmadipa mengerang, dia tak mau memberi kesempatan lagi pada Ki Dukun, maka dia kebutkan tangan kanannya, menderulah sebuah bola api yang langsung membakar sekujur tubuh Ki Dukun! Ki Dukun menjerit dahsyat ketika tubuhnya terbakar oleh bola api tersebut, sampai akhirnya jeritnya tak terdengar lagi bersamaan lepasnya nyawanya dari tubuhnya. Tewaslah Ki Dukun dengan sekujur tubuh hangus menghitam menebarkan bau sangit!

Keributan di rumah Ki Dukun yang terletak di pinggir desa Jati Jajar tersebut mengundang perhatian warga sekitarnya, dengan dipimpin Ki Demang, semua warga segera menuju ke rumah Ki Dukun. Sesampainya disana mereka berterik-teriak memanggil Ki Dukun ketika melihat rumah Sang Dukun dilalap si jago merah!

Sekonyong-konyong suara parau cuitan burung sirit uncuing bergema mengalahkan kerasnya suara teriakan-teriakan warga desa dan suara rumah yang dilalap api! Seluruh warga desa pun menatap berkeliling mencari asal suara burung pembawa maut tersebut, seluruh warga terkejut ketika dari dalam kobaran api yang membakar rumah Ki Dukun, keluarlah Dharmadipa yang berjalan perlahan menghampiri mereka dengan angkernya.

Seluruh Warga Desa pun berteriak ketakutan dan langsung ambil langkah seribu ketika melihat Dharmadipa, namun sial bagi Ki Demang, ketika ia hendak balik badan untuk kabur, tangan maut Dharmadipa keburu menusuk dadanya untuk merogoh mengambil jantungnya! Ki Demang pun tewas dengan dada berlubang besar tanpa jantung! Sementara Dharmadipa lenyap entah kemana.

***

Rombongan kecil yang dipimpin oleh Tumenggung Banten yang bergelar Pendekar Dari Lembah Akhirat tersebut bergerak dengan cepat meninggalkan wilayah Banten. Sudah tak terhitung berapa kali mereka keluar masuk hutan sejak meninggalkan Surasowan, setiap memasuki desa-desa penduduk mereka berhenti sebentar untuk beristirahat, membeli perbekalan, serta mengganti kuda-kuda mereka agar hewan-hewan yang mereka tunggani itu bisa tetap bugar untuk membawa mereka ke wilayah Mega Mendung.

Setelah beberapa hari melakukan perjalanan, akhirnya mereka pun mulai memasuki wilayah Mega Mendung, suasana pun langsung berubah mencekam ketika mereka melewati desa-desa yang kosong karena ditinggal para penduduknya untuk mengungsi ke Banten. Sepanjang perjalanan merek pun membicarakan tentang mayat hidup Pangeran Dharmadipa yang mereka dengar kabarnya dari penduduk desa-desa yang mereka lewati.

“Tubuh mati, tidak hancur… Itu karena dia punya Azimat itu…” Tebak Indra Paksi.

“Iya… Saya jadi teringat dengan kisah Mahabarata, Bima tidak mampu mengalahkan apalagi membunuh Duryudana karena Raja Hastinapura itu memiliki azimat di paha kanannya, setelah Bima menghajar paha kanannya, barulah ia dapat memenangkan pertarungan penentuan dalam Baratayuda tersebut.” sahut Jaya.

“Jadi untuk mengalahkannya kita harus melepaskan azimat itu dari tubuh mayat hidup itu?” tanya Indra Paksi.

“Benar, tapi itu akan sulit. Orang yang bisa membuang azimat itu hanya orang yang memasangnya sendiri…” sahut Jaya dengan ragu.

“Siapa kira-kira?” tanya Indra Paksi dengan penasaran.

“Aku tidak tahu. Kalau almarhum Kyai Pamenang tidak mungkin karena beliau adalah seorang ulama yang lurus, jadi kemungkinan yang memasangnya adalah orang tua kandung Kakang Dharmadipa sendiri… Mendiang Prabu Wangsadipa…” 

“Lalu? Kalau begitu bagaimana cara kita mengalahkan mayat hidup itu?”

“Jangan pesimis begitu Indra, segala hal di dunia ini tidak ada yang sempuna, begitupun dengan azimat dalam tubuh Dharmadipa, pasti ada kelemahannya!” tegas Jaya sambil teringat pada pertarungannya melawan Topeng Setan satu tahun yang lalu, ia berhasil memecahkan kelemahan Topeng Setan sehingga berhasil mengalahkan pertapa sesat yang amat sakti tersebut.

“Oh iya… Sewaktu saya mengajak para penduduk Mega Mendung untuk mengungsi ke Banten, saya mendengar selentingan kabar bahwa mayat hidup Dharmadipa itu dikendalikan oleh Putri Mega Sari yang sampai saat itu masih buron…” ujar Indra Paksa sambil mengingat-ingat.

Jaya menggeleng perlahan dengan ragu. “Saya tidak tahu, saya memang mengetahui kalau Mega Sari memiliki ilmu hitam, namun rasanya tidak mungkin kalau dia sampai bisa mengendalikan mahluk-mahluk halus yang menggerakan mayat Dharmadipa…”

“Mungkin ada baiknya kalau kita mencari Mega Sari terlebih dahulu sebelum menghadapi mayat hidup itu?” usul Indra Paksi.

Jaya mengangguk setuju. “Iya… Usulmu baik Indra, au setuju.”

“Tapi kemana kita harus mencari Mega Sari?”

Jaya nampak berpikir sebentar. “Hmm… Biasanya orang-orang yang memiliki ilmu hitam seperti itu dia akan ke puncak gunung, dan melakukan tapa brata.”

“Seperti gurunya Mega Sari misalnya Raden? Saya dengar Mega Sari adalah murid dari Nyai Lakbok, nenek Iblis Teluh yang bermukim di puncak gunung Patuha.” tebak Indra.

“Iya… Nyai Lakbok… Sebenarnya ia ingin berusaha untuk menyucikan diri, menurut keyakinannya. Tapi dia telah menyalahi aturan. Seharusnya dia tidak boleh mengambil murid, karena itu sama artinya dengan menyebarkan ajaran sesat…” sahut Jaya.

“Tapi mungkin dengan jalan itu, dosa-dosanya bisa diampuni Raden? Maaf, terus terang, nenek buyut saya pun dulunya adalah penganut aliran Ngiwa, seperti Nyai Lakbok…” ujar Indra.

“Mungkin… Menurut keyakinan mereka, barangkali iya, tapi bagi kita hanya taubatan nasuhalah yang bisa mengampuni dosa seseorang.” jawab Jaya.

“Taubat Nasuha? Hmm… Kadang saya masih belum paham dengan artian dari Taubat Nasuha…” gumam Indra.

“Taubat Nasuha adalah taubat yang sebenar-benarnya taubat… Tidak menyentuh lagi perbuatan dan ucapan itu, lalu mulai melakukan amal kebajikan, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran dan Al Hadist yang sahih.” terang Jaya.

Setelah berucap demikian, Jaya jadi teringat pada Mega Sari, hatinya sungguh mnyesal karena tidak mampu membuat adiknya untuk bertaubat. “Mega… Aku yakin siksa bathinmu sangat pedih kau rasakan, karena siksa bathin jauh lebih pedih daripada siksa lahir… Mestinya kau bertaubat saja, dan hijrah pada ajaran Islam… Duh Gusti, hamba tahu bahwa orang yang berhak mendapatkan hidayah adalah berdasarkan pada kehendakMU, namun kalau boleh hamba memohon, tolonglah berikan hidayahMU pada adik hamba Gusti… Karena hamba yakin Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…” ratap Jaya dalam hatinya.

Jaya kemudian teringat pada pesan terakhir Nyai Mantili yang disampaikan sebelum ia pergi meninggalkan Surosowan. Saat itu Nyai Mantili berkata, “Jaya Laksana muridku, satu pesanku untukmu, jangan pernah engkau menghadapi mayat hidup Dharmadipa dengan persaan benci maupun dendam, juga perasaan negatif lainnya! Sebab menurutku penyebab kekalahan gurumu Kyai Pamenang adalah perasaan penyesalan pada apa yang menimpa diri Dharmadipa serta rasa bersalahnya yang tidak mampu mendidik Mega Sari menjadi orang yang berada di jalan lurus dan benar. Perasaan-perasaan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh para dedemit itu!”

“Hamba Nyai Guru.” Angguk Jaya Laksana.

“Untuk menghadapi para dedemit yang bersemayam didalam jasad Dharmadipa, hatimu harus lurus, harus khusyuk, harus ikhlas, sehingga kamu tidak akan bisa dimanfaatkan atau dikendalikan oleh para dedemit jahat tersebut! Mantapkanlah hatimu! Tekadkan dalam hatimu kepada Gusti Allah bahwa tujuanmu hanya untuk memberantas kebhatilan, bukan untuk tujuan lain apalagi membalas dendam! Dengan demikian, Insyallah Gusti Allah meridhai dan membantumu untuk memberantas para dedemit itu!” pungkas Nyai Mantili.

Pada saat itu, Jaya terbangun dari lamunannya oleh satu pertanyaan dari Indra Paksi. “Lalu menurut Raden, sekarang Mega Sari berada dimana?” tanya Indra Paksi yang kembali pada pokok persoalan.

“Ada dua kemungkinan, pertama mungkin Mega Sari berada di puncak Gunung Patuha, di tempat kediaman gurunya. Kedua, dia berada di reruntuhan Keraton Rajamandala, karena merasa berhak untuk berkuasa disana.” tebak Jaya Laksana.

“Lalu kita harus kemana terlebih dahulu?”

“Hmm… Melihat dari perangainya, Mega Sari adalah wanita yang keras hati. Mungkin dia akan berada di reruntuhan keraton Rajamandala… Yah mudah-mudahan dia tidak putus asa dan mengambil jalan pintas.” sahut Jaya.

“Yah mudah-mudahan saja… Karena kita masih perlu mengorek keterangan tentang mayat hidup suaminya dari mulutnya sendiri!” tandas Indra Paksi.

Jaya beserta rombongannya terus berjalan hingga tak terasa sudah tujuh hari mereka melakukan perjalan sejak masuk ke wilayah Mega Mendung. Hingga pada suatu siang ketika mereka memasuki reruntuhan Kademangan Saguling yang merupakan Kademangan terakhir sebelum masuk ke bekas Kutaraja Rajamandala, satu keanehan terjadi. Tiba-tiba mereka disergap oleh kabut dingin yang tebal dan menghamparkan bau kembang tujuh rupa!

“Apa ini Raden?” tanya Indra Paksi dengan panik.

Namun sebelum Jaya menjawab, tiba-tiba mereka sudah berada di sebuah tebing gunung yang amat terjal, di samping mereka menganga jurang yang amat dalam yang terkirakan seberapa dalam. Keadaannya gelap gulita, dijalanan tebing tersebut nampak mayat-mayat manusia bergeletakan, darah mengalir dari puncak gunung mengalir hingga ke bawah jurang. Bau Bangkai dan bau amis darah, serta bau kembang tujuh rupa berbaur bercampur aduk menusuk hidung mereka semua. Kuda mereka pun menjadi amat binal, sulit untuk dikendalikan.

Jaya selaku pemimpin rombonga mengangkat tangannya untuk memberi tanda mereka semua menghentikan kuda-kuda mereka. “Rupanya kita tersesat ke alam halus… Rupanya setelah ditinggal penduduk, wilayah Rajamandala ini menjadi kosong dan menjadi tempat bermeyamnya para mahluk halus yang kafir dan jahat!”

Jaya berpikir sejenak sambil menatap kesekitarnya. “Turun!” komandonya sambil turun dari kudanya, Indra Paksi dan yang lainnya pun turun dari kuda mereka.

Jaya kemudian duduk bersila sambil bersidekap, ia memejamkan matanya sambil mulutnya berkomat-kamit. “Kalian Bacalah ayat suci Al Quran apa saja yang kalian ingat. Bacalah dengan khusyuk, sebab doa yang akan diijabah oleh Gusti Allah hanyalah doa yang dibacakan dengan khusyuk!” Indra Paksi dan yang lainnya pun mengikuti perintah Jaya. Mereka duduk bersila sambil membaca ayat-ayat suci Al Quran yang mereka ingat, sekhusyuk yang mereka bisa lakukan.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara erangan-erangan dari mahluk-mahluk ghaib berwujud raksasa yang menutup kuping mereka sambil berlarian disekitar Jaya dan yang lainnya. “Ya Gusti Allah, Engkaulah Sang Maha Penguasa yang menguasai seluruh Jagat Raya ini, kami para hambamu mohon petunjukmu agar bisa kembali ke dunia kami. Ya Gusti Allah, Engkau Maha Penolong lagi Maha Pengasih dan Penyanyang, hanya kepada Engkaulah kami memohon, diriMU lah yang berkehendak, kami hanya lantarannya saja!” ucap Jaya sambil membuka matanya dan memanggil ajian “Membuka Mata Sukma”.

Tiba-tiba tempat tersebut dilanda gempa bumi dan angin kencang yang bertiup amat dahsyat berseoran! Gunung diatas tebing itu bergejolak hebat, kilat halilintar meledak berkali-kali dengan dahsyatnya! Hingga beberapa saat kemudian… Bwoshhh!!! Tempat aneh tersebut berubah menjadi reruntuhan Kademangan Saguling, Jaya Laksana dan yang lainnya kembali berada di tempat semula di reruntuhan Kademangan Saguling.

Jaya pun membuka matanya kembali, kemudian ia mengucapkan Hamdalah sambil mengusap wajahnya. “Alhamdulillah, doa kita diijabah oleh Gusti Allah, kita berhasil kembali ke alam kita!”

“Apa yang baru saja terjadi Raden?” tanya Indra Paksi yang masih gelisah.

“Iblis dan mahluk halus alam wingit ini, membalikan mata kita, supaya kita tersesat dan mungkin celaka masuk kedalam jurang.” jelas Jaya yang kemudian memberikan komando agar melanjutkan perjalanan mereka.

***

Malam harinya di reruntuhan Keraton Rajamandala, Mega Sari dan gurunya telah sampai di reruntuhan Kutaraja Rajamandala, Kota yang dulunya megah itu kini nyaris rata dengan tanah, yang tersisa hanya puing-puing dari bangunan keraton, reruntuhan pohon-pohon, genangan-genangan air merah yang kental seperti darah, bau busuk dan anyir seperti bau darah yang telah membusuk, serta mayat-mayat manusia dan binatang-binatang yang sudah sangat busuk dan rusak yang tidak sempat menyelamatkan diri. Mega Sari dan Nyai Lakbok berdiri mematung melihat kengerian tersebut.

"Kau masih ingat letak rumahmu di keraton ini Mega?" Tanya Nyai Lakbok yang memecah keheningan.

"Masih Guru, sebelah sini" tunjuk Mega Sari, mereka pun berjalan menuju ke reruntuhan kesatriaan, dimana rumah Mega Sari dan Dharmadipa dahulu berdiri, dengan mengira-ngira Mega Sari mulai menggali tanah yang ia kira di belakang rumahnya, sementara Nyai Lakbok duduk bersemedi setelah menancapkan dua batang obor disekitar mereka untuk menerangi tempat tersebut.

Sekonyong-konyong tiba angin yang sangat dingin bagaikan es bertiup amat kencang dan berganti dengan angin yang amat panas menebar bau kembang tujuh rupa, tanah kuburan yang masih merah, dan bau bagkai busuk yang amat menusuk! Suara cuitan parau burung sirit uncuing menggema di seantero reruntuhan Kotaraja Rajamandala mengalahkan suara derasnya angin yang berseoran!