Episode 79 - Hari Kedua Turnamen Berakhir



Hari berlalu dengan cepat dan besok yang dinanti para pecinta bela diri akhirnya datang. Di gedung MA sudah penuh para penonton pendukung para peserta.

Di studio. Irwan sedang berbincang-bincang dengan Pelatih Li tentang pertarungan kedua yang baru saja usai. Seperti perkiraan semua orang, di dua pertarungan sebelumnya peserta yang diunggulkan dapat menang dengan mudah melawan musuhnya. 

Kemudian pertarungan ketiga akhirnya akan segera dimulai. Dua sosok pemuda berjalan perlahan menuju arena. Tidak lama kemudian dua sosok itu telah berdiri berhadapan di dalam arena berbentuk lingkaran tersebut. 

Di satu sisi adalah seorang pemuda bernama Andre, dengan pakaian bela diri berwarna merah membuat dia sangat mencolok. Sedangkan itu di hadapannya adalah Dedy, seorang pria botak dengan tubuh yang kekar. Jelas, para penonton berpikir bahwa Dedy yang akan memenangkan pertarungan ini. Namun, meskipun begitu, para pendukung Andre yang berasal dari perguruan bela diri yang dia masuki terus berteriak mendukungnya.

“Haha, aku sarankan kau untuk menyerah saja.” Ucap Andre dengan tampang mengasihani.

Dedy menaikan alisnya setelah mendengar apa yang Andre katakan. Dalam hatinya Dedy berpikir, “Sombong sekali si kurus ini, aku pasti akan mengajarinya apa itu yang namanya ketakutan agar dia tak sombong lagi.”

Melihat Dedy tidak merespon membuat Andre berpikir bahwa Dedy takut padanya,dan ini membuat Andre bersemangat. “Haha, bukan salahmu untuk takut, aku bahkan takut dengan kekuatanku sendiri. Jadi, kau tidak perlu malu untuk mengakui kekalahanmu, tenang saja, itu hal yang wajar.”

Melihat Andre menajadi lebih sombong membuat Dedy lebih marah lagi. Dia membunyikan buku-buku jarinya dan bertekad membuat Andre menyesal telah mengatakan sesuatu yang sombong.

“Agar kau tak terkejut akan kubertahukan ini padamu. Di tangan kiriku ini tersegel naga yang telah membantai ribuan kerajaan di masa lalu, membuat semua manusia hampir punah, karena itu reinkarnasiku dimasa lalu menyegelnya ke dalam tangan kiriku. Kalau di tangan kananku tersegel kekuatan dewa matahari yang dapat membakar apa saja yang disentuhnya. Haha, tapi bukan hanya itu saja kekuatan yang kumiliki, tapi aku tak akan memberitahukannya karena aku takut kau akan pingsan hanya dengan mendengarnya.” Andre terus berkata dengan bangga. 

Kerutan di dahi Dedy terlihat lebih jelas. Dia sangat kesal, tentu saja. Meskipun begitu, dia yang telah mengalami latihan tak terhitung jumlahnya memiliki pengendalian emosi yang sangat baik, jadi dia bisa mempertahankan citranya.

Tidak lama kemudian wasit mendekati arena dan setelah secara resmi memulai pertarungan, Andre langsung maju dan menerjang ke arah Dedy. “Rasakan ini, Tinju Meteor Pegasus.”

Itu hanya serangan tinju biasa, jadi dengan sangat mudah Dedy mampu menghindari serangan itu lalu melepaskan tinju ke wajah Andre, membuatnya terlempar ke belakang. 

Andre bangkit dan menyeka bibirnya meskipun tidak ada darah yang keluar, “Haha, kau cukup hebat bisa menghindari seranganku. Tapi, jangan sombong dulu, itu hanya serangan pembuka, aku masih punya banyak jurus rahasia yang akan membuatmu mengencingi celanamu sendiri.”

Kemudian Andre sekali lagi maju dan berlari menghampiri Dedy, “Rasakan serangan mautku, Tinju Komet Pegasus.”

Itu hanya serangan tinju biasa, lagi. Sangat mudah bagi Dedy untuk menghindarinya dan sedetik kemudian Andre terbang ke belakang setelah terkena serangan tepat di dadanya.

“Haha, ku akui kau cukup hebat karena berhasil menghindari dua seranganku, tapi selanjutnya tidak akan lagi, karena bahkan aku takut dengan seranganku ini.” Andre berlari menuju arah Dedy, “Rasakan seranganku ini botak, Tinju Naga Mendaki Gunung, Tinju Seratus Naga Mendaki Gunung, Tinju Seribu Naga Mendaki Gunung, Tinju Sejuta Naga Mendaki Gunung.”?

Kembali, itu hanya serangan tinju biasa, tapi berturut-turut. Dedy lagi-lagi bisa menghindarinya dengan mudah, tapi dia sekarang sangat kesal karena berani-beraninya Andre mengatakannya ‘botak’. Dengan tinju yang terkepal keras Andre terlempar ke belakang dan berguling beberapa kali hingga keluar dari dalam arena pertarungan. Dengan keluarnya Andre dari dalam arena. Jelas, Dedy berhasil memenangkan babak ini.

“Haha, hampir saja, kau beruntung bisa mengalahkanku sebelum aku melepaskan segel naga dan dewa matahari dikedua tanganku. Tapi, lain kali kau pasti akan kalah dariku.” Ucap Andre, tidak kehilangan rasa optimismenya.

“Bodo amat, terserah kau saja.” Pikir Dedy seraya pergi meninggalkan arena.  

Dia berjalan melalui lorong dan masuk ke dalam ruang tunggu peserta. Di dalam ruangan itu tidak banyak orang seperti hari sebelumnya, karena hari pertama adalah pembukaan, jadi semuanya diwajibkan untuk datang, sedangkan itu hari ini hanya dari grup B yang datang.

Tapi, tentu saja ada beberapa yang tidak bertanding tapi tetap datang, akan tetapi mereka berada di bangku penonton, dan motif mereka adalah untuk melihat aksi peserta yang mungkin akan jadi lawan di masa depan. Karena dalam pertarungan kuat saja tidak cukup, ada banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi kemenangan, salah satunya adalah informasi tentang musuhmu.

Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kau pasti tak akan terkalahkan dalam seribu pertarungan.

Kemudian setelah pertarungan ketiga selesai, akhirnya pertandingan terakhir hari ini akan segera dimulai. Peserta yang akan bertarung adalah Gary melawan Yesil. Dengan langkah malas Gary mulai memasuki arena, sorakan dan teriakan para penonton yang hadir membuat dia kesal. “Sial! Berisik.” 

Di studio.

“Pertandingan selanjutnya akan mempertemukan Gary melawam Yesil, menurut informasi yang aku temukan mereka cukup spesial karena sering membuat masalah di perguruan bela diri yang mereka masuki, bagaimana menurutmu pertarungan ini akan berlangsung Pelatih Pan?” tanya Irwan dengan antusias.

“Haha, dua orang yang sama-sama sering membuat masalah ya, aku tidak tahu bagaimana pertarungan ini akan berlangsung, tapi aku rasa ini akan menarik.” Balas Pan Tong.

“Benar sekali Pelatih Pan, pertarungan antara dua orang pembuat masalah, pemuda memang penuh kebebasan.”

“Tentu saja, aku jadi ingat tentang masa mudaku dulu, pada saat itu aku sering sekali berpatroli di jalanan dan mencari berandalan untuk melatih diriku, tapi pada akhirnya banyak teman-teman berandalan itu yang mencari aku untuk balas dendam, lalu aku lari ke kantor polisi, haha, hari itu benar-benar mendebarkan.”

Irwan membayangkan adegan itu dan merasa kagum sekaligus penasaran apa yang terjadi selanjutnya, tapi karena wasit sudah datang ke arena, dia tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.

Di arena, setelah wasit memulai pertandingan, Yesil dengan cepat menendang lantai dan melesat menuju Gary. Lalu dengan cepat mengepalkan tinjunya dan memukulnya. Melihat serangan itu, Gary langsung mengangkat lengannya dan menangkis serangan tersebut.

Bam!

Setelah serangan pertamanya dihalau, Yesil segera melakukan serangan berikutnya, dia menyeret kepalan tangannya dan melepas tinju lain. Gary tanpa kesulitan berhasil menghindari serangan tersebut dengan menunduk lalu mengerahkan kekuatan ke kakinya dan bergerak mundur, mencoba membuat jarak.

Tapi Yesil dengan cepat menendang lantai dan meluncur mendekati Gary lagi, alih-alih kembali mundur Gary juga menendang lantai dan berniat berdagang pukulan dengan Yesil.

Bam! Bam! Bam!

Kedua belah pihak saling serang dengan ganas dan mencoba memberi kerusakan maksimum pada musuh. Namun, setelah sekian lama berdagang pukulan, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuat musuh kalah.

Yesil yang selalu membuat masalah dengan menggertak para murid baru di perguran bela dirinya menampilkan serangan yang ganas dan mendominasi, di lain pihak Gary yang sering bolos latihan berhasil mengimbangi serangan ganas dari Yesil. 

Penonton bersorak penuh kegembiraan setelah menyaksikan pertukaran pukulan yang sangat ganas ini, sedangkan itu wasit di tepi arena dengan cermat menyaksikan peserta di arena, siap menghentikan pertarungan kapan saja jika menurutnya terlalu brutal dan mungkin akan mengakibatkan cidera yang terlalu serius.

Di salah satu bangku penonton Gerral menyaksikan pertarungan ini dengan hati-hati. Dari semua ingatan masa lalunya dia akhirnya menyadari bahwa ternyata Gary tidak pernah serius ketika bertarung dengannya, dia mengepalkan tinjunya dengan keras, menekan emosinya. Namun, ketika dia ingat pukulan tirani yang baru saja dia pelajari, Gerral merasa percaya diri bisa membuat Gary memberikan semua kemampuannya.

Gary dan Yesil terengah-engah setelah melakukan serangkaian serangan, karena itu Yesil mundur dan mencoba membuat jarak untuk menenangkan dirinya sebelum melakukan serangan berikutnya. Namun, Gary tidak akan membiarkan kesempatan ini hilang begitu saja, meskipun dia sangat kelelahan,tapi dengan motivasi untuk bisa beristirahat lebih cepat dia segera maju dan kembali menyerang Yesil.

Yesil mengerutkan dahinya dan kembali berdagang pukulan lagi dengan Gary dan mencoba sebaik mungkin mengimbangi Gary yang semakin lama semakin ganas, seolah-olah staminanya semakin bertambah setelah sekian lama pertarungan.

Serangan terus menerus dihalau oleh Yesil,tapi itu membuat dia harus terus mundur ke tepi arena, membuat dia semakin terpojok. lalu tanpa Yesil sadari ternyata dia telah keluar dari arena dan dengan begiti artinya Gary lah yang memenangkan pertarungan ini, sebuah kemenangan yang gemmilang. Dari awal hingga akhir pertarungan mereka sama sekali tidak berhenti saling menyerang.

Penonton bersorak dengan gembira karena bisa menjadi saksi mata dari pertarungan yang menakjubkan ini, dua peserta yang sama kuatnya, tidak ada di antara mereka yang terjatuh setelah lama saling menyerang. 

“Sungguh pertarungan yang hebat, bagaimana menurutmu Pelatih Pan?” 

“Benar sekali, sangat sering terjadi pertarungan akan cepat berakhir karena salah satu peserta lebih kuat, tapi karena mereka berdua sama kuatnya akhirnya pertarungan jatuh ke adu konsentrasi dan stamina, tapi pada akhirnya Gary berhasil memenangkan pertarungan, sungguh hasil yang tak terduga.” Jelas Pan Tong.

“Apa maksudnya hasil yang tak terduga Pelatih Pan?” tanya Irwan sedikit bingung.

“Haha, menurut rumor yang aku dengar tentang dia, pemuda itu adalah pria paling malas, bahkan jika tidak dijemput dari rumahnya dia tidak akan datang, karena itulah aku mengatakan ini hasil yang tak terduga.”

“Oh, jadi begitu, kalau dipikir-pikir itu benar juga.” Irwan mengangguk setuju.

Kemudian setelah pengumunan pemenang, Yesil dan Gary segera berjalan meninggalkan arena, tapi hanya setelah beberapa langkah tiba-tiba Gary terjatuh, membuat semua orang terkejut. Yesil yang tidak jauh dari Gary segera mendekatinya, tapi setelah dilihat dari dekat.

“Dia ... tertidur.” Yesil tidak tahu harus tertawa atau menangis setelah melihat situasi ini.