Episode 104 - Sunset


Di Calya bagian utara.

“Hei Alzen, tunggu!” Chandra menarik tangan Alzen dan berusaha menahannya. “Kau tidak berpikir untuk pergi seorang diri kan? Aku memberitahumu segera bukan untuk kenekatan seperti ini.”

“Dan juga kita belum tahu apa yang dikatakan orang ini benar atau tidak.” kata Sever sambil bersandar di dinding kayu rumah yang jadi markas mereka.

“Benar atau tidaknya biar aku pastikan sendiri, kalau ternyata itu jebakan dan Leena ternyata baik-baik saja, aku akan sangat bersyukur sekali.” kata Alzen sambil mengemas persediaan untuk persiapan menyelamatkan Leena. “Kalian tunggu disini, ini urusanku pribadi. Aku minta tolong untuk jaga tempat ini.”

“Aku tahu Leena itu pacarmu, tapi tolong lah... jangan pergi seorang diri.” kata Chandra dengan khawatir, “Pilih beberapa dari kami untuk membantumu, kami akan dengan senang hati menolongmu Alzen.”

“Baik, kalau begitu.” Alzen mengangguk. “Chandra, Sever. Aku minta tolong pada kalian untuk membantuku menyelamatkan Leena.” 

Chandra dan Sever mengangguk, ekspresi mereka seolah berkata mereka akan melakukannya dengan senang hati. Kemudian mereka bergegas membawa persiapan yang diperlukan.

“Ranni, kepimimpinan di tempat ini sementara aku percayakan padamu.” kata Alzen.

Ranni mengangguk setuju. “Baik.”

Alzen segera bergegas keluar membawa ransel di punggungnya. “Kalau sesuatu terjadi hingga kita harus meninggalkan tempat ini. Ingat, kita akan bertemu di lokasi yang sudah kita sepakati. Segera pergi ke selatan dan mencari persembunyian di Hutan Alfonso. Oke?”

Tak lama kemudian, Alzen, Chandra dan Sever berangkat untuk menyelamatkan Leena.

***

17. 21 Hari pertama. 

Di lokasi yang tak jauh dari tempat Alzen berada. Di tengah-tengah kota Evania, puluhan orang berkumpul secara melingkar mengelilingi pusat mereka di tengah-tengah yaitu Leena beserta kedua anggota partynya, Raven dan Oren, diikat pada sebuah tiang kayu dan terkunci oleh tali tambang yang tebal dan kuat serta sudah dilapisi Energy Aura dari Vander.

Posisi mereka terikat saling berlawanan arah menuju ke tiga arah yang berbeda, mereka tetap bisa saling berkomunasi dengan berbisik-bisik ke samping. Tapi untuk saling bertatap muka rasanya sulit untuk dilakukan.

Di depan tempat Leena duduk terikat terdapat api unggun besar, mereka menghangatkan diri, beristirahat sambil bersiap menyambut malam.

10 party yang mengikut Vander bersorak-sorai merayakan kemenangan ini. Mereka makan bekalnya dan melakukan pesta.

“Hahahaha! Wooo! Kekuatan dari kerjasama memang luar biasa.”

“Yang nomor 1 pun bisa kita kalahkan kalau kita menggabungkan kekuatan.”

“Vander, selanjutnya apa? Kita mencari target berikutnya atau...”

“Kita istirahat dulu,” kata Vander sambil menatap ke langit yang sudah senja. “Prioritas kita adalah menahan Leena untuk tidak melarikan diri. Soal target selanjutnya. Aku sedang memikirkan strategi untuk itu.”

“Hmmph...” Leena tersenyum meski dalam kondisi yang lusuh. “Sampai kapan kau bakal parno begitu? Kau sudah menang kan? Untuk apa mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu.”

“Nah... nah...” Vander membalas dengan mengibas-ngibas tangan dan ekspresi jengkel. ”Aku sepertinya tak perlu menutup-nutupi ini. 10 party yang memiliki total 50 orang, kini hanya tersisa kurang dari 15 orang dengan hanya 6 orang diantaranya merupakan ketua party. Kau mengalahkan lebih dari separuh mereka hanya dengan 5 orang. Ahh salah-salah, mungkin berempat. Karena bocah Stellar Umbra ini,” Vander menedang kaki kecil Oren dengan kasar. 

“Adududuh,” keluh Oren, “Kau ini kenapa sih?! Sakit tahu!”

Sambung Vander. “Aku lihat tidak ada kontribusi apa-apa.”

“Sungguh luar biasa,” Vander bicara di depan wajah Leena sambil memencet dagunya. “4 orang menumbangkan 27 orang dan menurunkan semangat puluhan orang berikutnya hingga mereka tak lagi disini.” 

“Kalau kau tidak sepengecut itu, kita pasti sudah menang.” kata Raven dengan mulut yang ditutupi masker hitam.

“Nah, aku bukan pengecut,” balas Vander dengan menyilangkan tangannya di belakang pinggang dan memandang rendah Raven. “Aku adalah orang yang bisa berpikir jernih.”

Leena menutup matanya sejenak, lalu menghembuskan nafas, “Hah...” 

Setelah itu, Leena kembali membuka matanya dan menolehkan kepalanya ke langit yang sudah mulai gelap, dengan suara kecil ia berkata. “Andai saja kami masih satu party... pasti...” Leena menghela nafasnya kembali. “Hah...”

***

Drushhhhttt.....ssrrzzzssstt.

Terdengar bunyi deru ombak pantai yang pasang surut membasahi pinggir selatan pulau Vanadivia, tempat itu bernama pantai Aluxany.

Sintra dengan anggota partynya dibuat sibuk menangkap ikan-ikan di pantai dan mengumpulkan persediaan makanan pada keranjang dari ranting yang cukup untuk kemah mereka yang hanya beberapa meter darisana.

Kemahnya tidak terbuat dari bahan yang baik, melainkan semuanya dibuat dari alam di sekitar. Semua kemah dan keranjang dibuat sendiri dengan bahan ranting dan daun.

Di belakang Sintra terlihat seekor hiu yang mengikutinya, hiu itu mengarah ke daratan dengan mengantongi puluhan ikan di mulutnya, namun sama sekali tidak ia telan, setelah menyentuh daratan, hiu itu perlahan berubah menjadi manusia.

“Lihat aku dapat 12 ikan sekaligus! Banyak kan?! Iya kan banyak kan?!” sahut Rie, wanita muda dari kelas Stellar yang memiliki kemampuan merubah dirinya ke berbagai jenis binatang yang kuat di darat, laut maupun udara.

Rie memiliki gaya rambut di kepang satu hingga melewati pipi kanannya, jika digerai rambutnya bisa panjang sampai sepundah dan rambutnya memiliki 3 warna gradasi yaitu merah, biru dan hijau.

“Luar biasa! Ini sih banyak banget, sampai besok mungkin masih sisa nih.” kata Thania, seorang support dari Ventus, yang juga adalah sahabat dekat Ivara yang sempat satu party dengan Leena dan Sintra saat ujian dungeon 6 bulan lalu.

Thania memiliki gaya rambut panjang dengan poni yang mentupi seluruh dahinya, warna rambutnya hijau tua seperti warna daun dan cocok dengan warna elemennya. Meski support ia bisa juga menyembuhkan namun lebih efektif dalam memberi buff kecepatan pada anggota party.

“Hehe, terima kasih.” Rie tersipu malu sambil garuk-garuk kepalanya. “Aku akan cari lagi deh.”

Sintra menepuk pundak Rie, “Sudah cukup. Kita istirahat dulu, kamu makanlah bagianmu. Hari sudah mulai gelap. Kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi nanti.”

“Hee...? Begitu?” Rie terlihat kecewa dan menggembungkan mulutnya. “Padahal aku masih mau nangkap-nangkapin ikan.”

“Meski kita sejauh ini masih baik-baik saja, tapi ini ujian bertahan hidup kan? Sesuatu yang tidak kita inginkan akan terjadi juga cepat atau lambat.” kata Sintra sambil berjalan menuju kemah bersama Rie.

“Hei, bawa kesini ikannya. biar sini, aku yang masak.” sahut Wira yang sedang sibuk membakar ikan yang sudah ditangkap sebelumnya, ditusuk menggunakan ranting dan dibakar di atas api unggun yang dibuat dari susanan batu yang berkeliling melingkar dan menggunakan bahan bakar dari daun dan ranting untuk membuat apinya terus menyala.

Wira adalah seorang pria besar, kekar dan berotot dari Ignis. Senjatanya adalah Greatsword, yaitu sebuah pedang super besar, lebar dan berat. Perannya pada party Sintra adalah sebagai Tanker, meskipun ia keberatan untuk memegang peran itu. Karena daya serang dirinya pun juga luar biasa. 

“Kita ini lagi ngapain sih? Main rumah-rumahan? Kita disini bukan buat senang-senang.” kata Momoa di depan Wira yang sedang sibuk membakar ikan. “Ayo kita berkelana dan mencari mangsa.”

Momoa adalah seorang pria tinggi dengan mata sipit dan tajam bertato ular di pipi kanannya yang panjangnya melewati matanya. Rambutnya pirang turun dan di kuncir di bagian ujung belakang rambutnya

“Halah, daritadi kamu ngomong begitu terus, tapi begitu kita diserang,” balas Wira yang malas menanggapinya, melihat matanya pun tidak. “Kamu malah bersembunyi.”

“Ugh!” Momoa tak terima, “Siapa yang bersembunyi! A-aku hanya...”

“Sudahlah tak usah membuat banyak alasan.” balas Wira dengan menahan kesal. “Saat kita semua diserang, kamu malah kabur ke dalam kemah dan ketakutan begitu. Dan sekarang kamu malah sok-sokan mau...”

“Diam! Aku tidak begitu!” Momoa membentaknya. “Aku ke dalam kemah itu untuk...”

“Wira, sudah siapkan ikannya?” tanya Sintra sambil menaruh keranjang kayu berisikan ikan mentah di dekat Wira.

“Sudah, kita makan dulu yang sudah jadi.” Wira mengangkat ranting untuk membakar ikan dan satu persatu membagikannya pada setiap anggota. “Yang baru ini biar aku masak lagi nanti.”

“Ayo kita makan,” kata Sintra yang perlahan duduk diatas pasir pantai dan mengambil jatahnya.

“Yay! Makan-makan.” Rie bersorak dengan gembira, memakan ikan bakar yang sederhana itu.

“Terima kasih hidangannya Wira” Sintra memuji Wira sambil menyatap ikan bakar bersama-sama.

 “Mmm...! Ini enak banget Wira. Kamu pakai bumbu apa?” tanya Thania sambil memakan ikan bakar itu dengan lahap.

“Tidak ada bumbu di tempat ini.” balas Wira sambil memakannya. “Aku hanya membakarnya saja dan kurasa ikan ini biasa saja, rasanya tawar. Cuma rasa ikan saja.”

“Pueh, makanan apa nih?” Momoa melempar ikan bakar itu ke pasir pantai. “Rasanya pahit, gak enak. Sebenarnya kau ini bisa masak gak sih?”

“Hey sialan,” kata Wira yang tersulut emosi. “Kalau ini caramu untuk memulai perkelahian aku siap meladenimu sekarang juga.”

Sintra diam saja dan terus melahap makanannya.

“Ehh?! Sabar-sabar Wira.” Thania menahannya agar Wira tidak sampai membelah Momoa menjadi dua. 

“Kau tidak membantu apa-apa daritadi, tapi saat seperti ini kau malah mengejek kerja keras kami!” Wira marah besar pada Momoa dan sudah menggenggam pedang besarnya saat itu juga. “Kau keterlaluan sekali.”

“He? Hee?!” Momoa membalasnya dengan merinding. “Kok kau marah sih!”

“Bilang dong, kalau tak mau...” balas Rie sambil perlahan merubah dirinya menjadi serigala dan melahap ikan bakar yang sudah bercampur pasir itu dengan lahap.

Setelah habis memakannya Rie kembali berubah mejadi manusia. “Mmmm... masih enak kok. Ayo Wira masak lagi dong.” kata Rie dengan senyum.

Wira seketika meredam emosinya dan menenangkan diri lalu kembali membakar ikan. “Baik, ini semua demi kalian. Kau Momoa! Kalau kau tak suka, kau tak usah makan. Tak ada jatah buatmu.” balas Wira dengan kesal.

“Ihh, yaudah.” balas Momoa. “Aku masih punya bekal di dalam tas. Jadi cowok tapi ngambekan banget.”

“Yasudah! Makan itu saja dan jauh-jauh dari pandanganku!” Wira mengusirnya. “Grr bikin kesal saja.”

“Ihh, siapa juga yang mau deket-deket orang bau kayak kamu!”

“Apa katamu!” Wira tersulut amarah. “Kamu mengajak berkelahi lagi ya!”

***

17.51 Hari pertama.

Di tengah-tengah pulau ini ada sebuah gunung dan ada istana besar diatas sana, istana itu adalah tempat mereka mendarat ke pulau ini dan tidak bisa diakses hingga ujian ini menjelang waktu terakhirnya. Istana itu juga yang menjadi tempat tinggal para penyelanggara. Dan disekelilingi gunung itu, terdapat sebuah hutan rimba dengan rawa-rawa di dalamnya.

Even dari pertama kali ia melakukan Warp bersama dengan partynya yang sepenuhnya acak masih juga tersesat di dalam rawa Vanadivia. Dan sejauh ini mereka terus mencari jalan keluar.

Meski peta mampu menunjukkan lokasi mereka, tapi jalannya yang seperti labirin dan semua tempat yang terlihat mirip membuat mereka kesulitan menentukan arah yang benar.

“Tak terasa, sudah mau malam saja. Kita berkemah dulu sejenak, besok pagi kita lanjutkan lagi.” kata Even yang duduk diatas tanah basah rawa dan mulai menyalakan api dengan gesekan batu. 

“Kita ini sebenarnya dimana sih? Aku biasa bertarung di tempat luas dan kering seperti padang pasir tapi tempat ini sangat berlawanan. Selain basah juga sempit. Agh! Aku tak suka tempat ini.” kata Hamza yang dikenal dengan julukan Hamza, the Desert Bandit of Terra.

Hamza memang bernampilan seperti itu, ia menggunakan sorban dan masker yang hanya menyisakan matanya. Ia juga mengenakan google di dahinya, jika ia kenakan. Wajahnya tak bisa dikenali.

“Huft...” Even mengelap keringat di dahinya dengan lengan. “Akhirnya berhasil. Gila! Cara menyalakan api seperti ini susahnya... setengah mati.” 

Saat mereka duduk melingkar mengelilingi api unggun. 

Ico beranjak naik, ia adalah seorang pria kekar dengan seni beladiri tangan kosong dan pemanfaatan elemen tanah untuk melapisi tubuhnya dengan batu. Ia mengenakan tanktop hitam dan celana panjang dengan warna yang sama. Rambutnya cepak hitam dan di kedua tangannya terdapat gelang hitam dari besi.

“Aku pergi dulu.” kata Ico

“Kamu mau kemana?” tanya Even.

“Mencari hewan untuk diburu,” kata Ico sambil beranjak pergi. “Sepertinya tadi aku melihat ada babi hutan.”

“Hei tidak perlu,” balas Even. “Kita makan bekal ini saja.” 

“Jumlahnya cuma 3,” kata Ico yang terus berjalan pergi. “Terlalu sedikit buatku. Mending simpan buat nanti saja.”

“Bicara apa sih dia ini? Paling cuma alasan saja.” kata Christo. “Padahal kalau tidak dimakan segera, nanti juga basi loh.”

Christo adalah pria berambut coklat pendek dari kelas Terra, dia jauh dari tipikal anak-anak di Terra yang besar dan kekar, ia terlihat kurus dan biasa-biasa saja. Senjata yang digunakan adalah Dual Knife yang cenderung mengandalkan kecepatan sangat kontras dengan stereotip anak Terra.

“Aneh ya, aku memilih untuk mendapat anggota secara acak.” kata Even. “tapi aku malah dipasangkan dengan teman-teman satu kelasku. Ini sebuah kebetulan atau murni acak?”

“Ya, semua dari kita dari Terra,” balas Hamza yang melepas maskernya. “Kecuali...”

“Hmm.. biar kalian relaks, biar aku nyanyikan satu lagu.”

Jreng!

Fernando memetik gitarnya dan mulai menyanyikan suatu lagu untuk meregenerasi stamina mereka dengan lebih cepat. Ia adalah seorang Bard, profesi musisi yang biasa memainkan alat musik di bar-bar atau restoran tempat para petualang beristirahat dan bersantai sejenak. Petikan gitar dan suaranya akan memberikan buff positif pada orang yang mendengarnya. 

Fernando berpakaian ala seorang Bard, mengenakan pakaian lengan panjang dengan corak blaster berwarna coklat, mengenakan rompi dan topi dengan bulu burung di sisi kirinya.

Selang tak lama sejak Fernando mulai bernyanyi. Waktu tepat menunjukkan pukul 18.00 dan pengumuman berikutnya datang lagi dengan cara yang sama seperti sebelumnya, melalui gelombang sihir

“Perhatian! Perhatian! Pengumuman berikutnya akan diberitahukan. ” terdengar suara Vlaudenxius lagi. “Tolong dengarkan ini baik-baik. Karena penjelasan panjang ini hanya aku beritahukan sekali saja.”

“Kalian bisa lihat sendiri, matahari sudah terbenam, juga hari mulai gelap. Namun tantangan kalian bukan hanya malam hari yang gelap gulita ini saja. Baru saja kami sudah melakukan Warp pada 60 senior kalian yaitu para pelajar tingkat 2 yang sudah kami pilih dengan pertimbangan yang matang. Ke berbagai tempat di pulau ini.”

“60 senior ini bisa kalian sebut sebagai Hunter. Karena tugas mereka adalah memburu token kalian sebanyak-banyaknya. Kalau dibandingkan dengan jumlah kalian yang bertotal 1880 peserta. Jumlah mereka hanya 1 banding 31,33 atau kita bulatkan saja bahwa untuk 1 Hunter akan mengurusi masing-masing 30 dari kalian.”

“Kami sarankan untuk menghindari Hunter begitu melihatnya, karena mereka sangat-sangat kuat. Tapi aku yakin beberapa dari kalian pasti masih ada yang cukup ngotot untuk mencoba melawan mereka dan itu diperbolehkan.”

“Selagi kalian mendengar pengumuman ini para Hunter sudah mulai tersebar merata ke seluruh area dan memburu kalian. Untuk memicu semangat mereka dalam memburu token kalian. Kami kasih harga 10.000 Rez untuk setiap token perak yang mereka dapat dan 50.000 Rez untuk token emas yang akan dihitung begitu ujian selesai. Jadi selama mereka masih ada di pulau ini kalian tetap bisa merebut token curian mereka juga. Cukup adil bukan?”

“60 Hunter ini akan mewakili masing-masing 10 pelajar tingkat 2 dari setiap kelas. Mereka juga akan memiliki nomor token mereka masing-masing. 1-10 untuk Ignis, 11-20 untuk Liquidum, 21-30 untuk Ventus, 31-40 untuk Terra, 41-50 untuk Fragor dan terakhir 51-60 untuk Stellar termasuk Lumen dan Umbra. Ini berarti kalian bisa mengenali elemen yang mereka punya dari angka depan tokennya.” 

“Kalian tetap boleh merebut token mereka yang berbentuk seperti layangan untuk kepuasan pribadi kalian sendiri sebagai bukti pernah mengalahkannya, namun tidak memiliki nilai apapun pada poin kalian atau penalti pada Hunter.”

“Mereka juga memiliki aturan yang sama dengan kalian yaitu dilarang membunuh dengan alasan apapun. Sebagai gantinya mereka akan mengunci pergerakan kalian apabila kalian dikalahkan.” 

“Mereka juga boleh bekerjasama dan harus bertahan hidup seperti kalian dalam periode waktu tertentu. Namun mereka diperbolehkan Warp kembali ke istana untuk beristirahat dan makan di waktu tertentu, anggap itu sebagai masa tenang kalian dari para Hunter.”

“Cukup sekian pemberitahuan kali ini dan selamat berusaha!”

Seusai Vlaudenxius memberikan pengumunan, seseorang yang asing dan tak dikenal dengan token berbentuk layangan bertuliskan angka 38, muncul dihadapan mereka dengan membawa Ico di pundaknya yang babak belur dan berdarah-darah.

“Hah... ternyata kamu, adiknya Evan. Kata anak ini kamu ketua partynya ya.” Hunter No.38 itu melempar dan menjatuhkan Ico ke tanah. 

“UAGHH!” kata Ico yang menjerit begitu berbenturan dengan tanah. “Maaf Even, aku membocorkan lokasi kita.”

Even hanya berdiri terdiam gemetar, melihat seseorang yang ia kenal muncul di hadapannya sebagai Hunter.

***