Episode 352 - Salah Perhitungan



Lima remaja berpakaian serba gelap berhadapan dengan gerbang Kota Tambang Lolak nan megah. Tak ada keraguan dari raut wajah setiap satu dari mereka, bahkan terkesan penuh dengan semangat membara. Dinding tembok berbatu yang ditunjang dengan tiang-tiang logam, tiada pula menggetarkan nyali. 

Salah satu dari lima remaja mengeluarkan seekor binatang siluman bersayap dari selembar Kartu Satwa, lalu melenting tinggi naik ke atas pundaknya. Ia pun melesat cepat di udara. Empat remaja lain melangkah masuk ke dalam kota, tiada menimbulan kecurigaan tatkala mereka berbaur dengan arus keluar-masuk para penambang dan saudagar. Tiada pula yang mengetahui niat mereka di hari nan cerah ini. 

Pandangan mata Kum Kecho dari atas pundak binatang siluman Kecapung Terbang Layang terpaku pada sebuah bangunan nan megah lagi indah di pusat kota tambang. Tak lama berselang ia sudah melayang di atasnya Balai Kota. Anak remaja itu lantas mengayunkan tangan ibarat seorang petani yang sedang menebar benih di kala musim semai tiba. 

“Duar! Duar! Duar!” 

Letupan demi letupan nan beruntun menggetarkan wilayah di sekeliling Balai Kota. Puluhan Kutu Gegana Ledak dalam tiga kelompok kecil berjatuhan lalu menghantamkan tubuh kepada sesiapa saja yang ada di bawah sana. Para saudagar yang terlibat dalam tawar-menawar sengit, para penambang yang melaporkan hasil keruk harian, atau khalayak ramai yang kebetulan sedang berlalu-lalang, menjadi sasaran empuk. Tua dan muda, miskin maupun kaya, tiada yang menyangka akan menjadi luapan amarah. Tak pandang bulu, keriting maupun lurus, sama saja! 

Suasana sontak berubah ramai! Pekik lirih kesakitan dan tangis mengiris pilu. 

Di saat kericuhan berlangsung di pusat kota, dari empat penjuru arah terdengar denging ribuan nyamuk yang membuat bulu kuduk merinding. Kerumunan binatang siluman tersebut beterbangan dengan beringasnya, memangsa siapa saja yang berada dalam lintasan mereka. Suara ledakan di pusat kota seolah menjadi aba-aba bagi keempat gadis belia untuk bergerak. Masing-masing telah dibekali dengan Kartu Satwa, walhasil ribuan ekor binatang siluman Nyamuk Buru Tempur menyapu tanpa belas kasih. Juga tak pandang bulu, mereka menyebar menjadikan Balai Kota di tengah benteng nan kokoh sebagai tempat untuk berkumpul.

Khalayak berlarian tunggang-langgang, namun tak sedikit yang mengandalkan kemampuan untuk membela diri. Para Pengawal Kota sigap menghalau. Ahli Kasta Perunggu terlihat kesulitan, akan tetapi ahli Kasta Perak dapat mengimbangi. Tiada satu yang menyangka bahwa kota tambang di mana mereka bertempat tinggal dan mencari nafkah akan menjadi sasaran gelombang amuk binatang siluman. Meskipun peristiwa yang sedemikian lumrah adanya, namun sudah ratusan tahun tak terdengar keberadaan gelombang amuk binatang siluman yang melumat Kota Tambang. Kegiatan pertambangan mengusir kaum binatang siluman jauh ke pedalaman. 

Di dalam benak segenap ahli dan khalayak bertanya-tanya, bagaimana mungkin gelombang amuk binatang siluman datang secara tiba-tiba. Apa yang dilakukan oleh para penjaga kota sampai menjadi demikian lengah…? Atau, mungkinkah gelombang amuk binatang silumam merupakan perbuatan yang direncanakan oleh kelompok tertentu!? 

“Gelombang amuk binatang siluman melibas kota!” 

“Lari! Tinggalkan kota. Ini adalah perbuatan Partai Iblis!” 

“Mungkinkah ada kota tambang lain yang datang menyerang!? Mereka hendak mengambil alih daerah tambang kita!”

Kepanikan semakin menjadi di tengah ketidakpastian. Rasa takut yang luar biasa menjalar. Timbul pula perasaan bahwa suatu bencana sedang berlangsung dan segera menimpa seisi kota. Kesimpangsiuran membuat khalayak tak mampu mengendalikan diri! Panik!

“Swush!” 

Sejumlah ahli Kasta Emas kini mengemuka dan segera tampil menonjol. Di Kota Tambang Lolak, yang berukuran menengah di antara kota-kota tambang yang ada, jumlah ahli Kasta Emas terbatas. Upah jasa pengawalan mereka terlalu tinggi, sehingga tak lebih dari lima ahli yang mampu dibiayai. Kendatipun terbatas dari segi jumlah, dengan mudahnya mereka menebas kerumunan nyamuk nan menderu lapar. Di saat yang bersamaan, mereka pun meraba-raba apa yang sesungguhnya sedang berlangsung. 

“Hei!” Seorang ahli Kasta Emas menangkap keberadaan sosok serba gelap yang mengendalikan binatang siluman nyamuk. Dengan kemampuan mata hati tingkat tinggi, tentu ahli Kasta Emas dapat menelusuri jejak. Di tempat terpisah, ahli Kasta Emas lain pun menangkapkan keganjilan senada, dan mendapati sosok-sosok berpakaian serba gelap sebagai biang kerok! 

Menyadari keberadaan diri telah diendus dan kemungkinan besar akan menjadi incaran, keempat gadis belia seketika waspada. Sigap pula mereka melesat meninggalkan posisi masing-masing, tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Melati Dara menebar jalinan rambut ke permukaan tembok tinggi, lalu mendaki cekatan ibarat seekor laba-laba. Dahlia Tembang berbaur dengan keramaian, dan melepaskan diri bersama dengan khalayak panik yang berhamburan keluar melalui gerbang utama kota. Seruni Bahadur menghantamkan senjata pusakanya, membuat lubang yang cukup besar pada permukaan tembok nan tebal. Hongke Riro, gadis bertubuh mungil itu menyelinap melalui gerbang kecil yang penuh sesak di sisi kota. 

Selayaknya telah memperhitungkan akan terjadinya pengejaran, keempat gadis belia menghilang dari dalam kota. 

Langkah para ahli Kasta Emas tertahan sejenak. Sebelum mengejar, mereka terpaksa mengurangi jumlah nyamuk yang beterbangan dan memangsa tanpa kendali. Tebasan unsur kesaktian angin menderu pesat, api membakar gahar, tanah menghantam keras, serta air melibas kencang. 

Percaya bahwa para pengawal dan ahli Kasta Perak sudah dapat mengendalikan situasi, mereka pun menghilang dari dalam kota. Bagi ahli Kasta Emas tersebut, sasaran mereka hanyalah ahli Kasta Perak. Tak akan perlu waktu lama untuk membekuk. 



Kum Kecho masih melayang tinggi di angkasa. Berkat keempat gadis belia yang ikut memicu kepanikan di sudut kota, perhatian terhadap dirinya teralihkan. Ia menyaksikan betapa binatang siluman nyamuk menderu, lantas banyak dibabat oleh ahli Kasta Emas. Ia pun mencermati bahwasanya keempat ahli Kasta Emas menyebar mengejar jejak para gadis belia. Kendatipun menyadari ancaman terhadap mereka, tak ada perubahan pada raut wajah nan pucat itu. 

Saat ini, wilayah di sekitar Balai Kota ibarat kuburan. Para pejabat dan khalayak yang terhindar dari hantaman kutu-kutu berkekuatan ledak telah berlindung atau melarikan diri ke luar kota. Sejumlah mayat bergelimang kaku. 

Dari dalam Balai Kota, seorang lelaki setengah baya melangkah keluar, disusul oleh seorang lelaki dewasa muda. Kedua ahli tersebut mendongak, salah satu dari mereka terperangah. Tentu mereka mengenali anak remaja itu sebagai pengacau yang datang ke kota sepekan sebelumnya. 

“Apakah engkau datang hendak menuntut balas…?” Ahli Kasta Emas berujar tenang. Akan tetapi, suaranya diimbuh dengan tenaga dalam, membuat suasana seketika mencekam. 

“Dia datang hendak mengantarkan nyawa!” Tuan Muda Lolak, yang mana masih gemar bermain di payudara sang ibunda, berujar garang. “Bawa dia ke hadapanku!” 

Lelaki setengah baya itu hanya diam memandangi. Sepekan yang lalu, memang dirinya menarik paksa anak remaja tersebut, namun kini ia tak segera menaati perintah sang tuan muda. Benaknya sedang berputar menelusuri sejumlah kemungkinan. Menyaksikan nyamuk-nyamuk yang masih beterbangan dan sedang diperangi oleh para ahli Kasta Perak di berbagai tempat, ia mengambil kesimpulan bahwa anak remaja tersebut memanglah perampok yang menyerang rombongan saudagar. Berkenaan dengan itu pula, membunuh ahli Kasta Emas bukanlah perkara enteng. Mungkinkah anak remaja tersebut memiliki senjata pusaka nan digdaya? Ataukah ada seorang ahli perkasa yang bergerak di balik layar…?

Misteri mulai terungkap perlahan. Dapat diperkirakan bahwa kunjungan anak remaja itu ke Kota Tambang Lolak sepekan yang lalu bukanlah kebetulan semata. Kehadirannya saat ini pun bukan sekedar hendak menuntut balas atas perlakuan yang semena-mena.

“Apakah yang engkau kehendaki di kota ini…?” Lelaki setengah baya itu kembali mengajukan pertanyaan. 

Kum Kecho melompat turun. Sepekan sudah berlalu, waktu yang memadai untuk beristirahat dan memulihkan diri. Saat ini, anak remaja itu sepenuhnya menyadari bahwa akan menghadapi kesulitan, namun bukan berarti dirinya tak dapat membungkam ahli Kasta Emas dalam pertarungan satu lawan satu. Belum dicoba, maka belum tahu.

Akan tetapi, tetiba, di luar perhitungan Kum Kecho, seorang lelaki dewasa melangkah keluar dari dalam Balai Kota. Kepalanya gundul, tubuhnya tambun. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, ia juga berada pada Kasta Emas! 

Sebelumnya, Kum Kecho telah mencari tahu bahwa terdapat enam ahli Kasta Emas di Kota Tambang Lolak. Satu ahli Kasta Emas telah dipastikan kematiannya bersama dengan rombongan saudagar bahan baku logam sepekan yang lalu. Empat ahli Kasta Emas saat ini sedang dibuat sibuk mengejar keempat gadis belia. Sedangkan seorang lagi, merupakan pengawal yang tak akan pernah jauh dari kewajibannya menjaga sang tuan muda. 

Oleh karena itu, dari manakah datangnya ahli Kasta Emas yang satu ini!? 

Saudagar Senjata Malin Kumbang turut keluar karena mendengarkan ledakan di luar Balai Kota. Ia lantas melongo ke arah anak remaja yang mengenakan jubah serba hitam. Benaknya menelusuri ingatan, sepertinya pernah mendengar tentang tokoh yang satu ini… Entah di mana…

Kum Kecho berupaya keras menyembunyikan kegusaran di hati. Di saat yang sama, ia menebar mata hati pada sebentuk cincin nan tersemat di jari manis. “Iblis Belial, kuberi dikau waktu untuk mengambil alih tubuh…”

Dari mustika tenaga dalam kaum iblis yang memahkotai Cincin Penakluk Iblis, lantas terdengar jawaban menggunakan jalinan mata hati, “Kau hendak memperbudak aku, wahai Elang Wuruk Sanjaya…?”

“Demi kelangsungan hidup kita….” Kum Kecho menyadari bahwa keadaan saat ini berada di luar perkiraan. Ia salah perhitungan. Tak mungkin baginya sebagai ahli Kasta Perak tingkat menengah menghadapi dua ahli Kasta Emas secara bersamaan. Mustahil. 

“Tidak!” sang Iblis Belial yang terkurung di dalam batu cincin menanggapi. Harga diri bangsa iblis demikian tinggi. Mereka adalah makhluk hidup perkasa nan abadi. Bila pun harus terkungkung jiwa dan kesadarannya, maka ia rela. Suatu hari di masa depan, tak tertutup kemungkinan hadirnya seorang ahli yang dapat melepaskan dirinya dari dalam cincin terkutuk itu. 

“Bukankah kita telah memiliki kesepakatan,” desak Kum Kecho. Anak remaja itu tak memiliki banyak waktu. “Dikau diperkenankan mengambil alih kendali tubuhku selama sepuluh menit.”

“Hanya bilamana aku menginginkan....” Sang iblis membalas datar. “Saat ini, aku sedang tak ingin merasuk tubuhmu.”

Kum Kecho menggeretakkan gigi.

“Apa yang kau tunggu!? Segera penggal kepalanya!” Tuan Muda Lolak memberi perintah. Sudah tak sabar ia menanti.

Di lain sisi, si pengawal Kasta Emas tak hendak bertindak gegabah. Sedari tadi ia mencermati perubahan pada raut wajah Kum Kecho dan menyadari bahwa anak remaja tersebut sedang menebar jalinan mata hati. Kepada siapa dia berkomunikasi…? Mungkinkah ada ahli digdaya yang bersembunyi tak jauh dari kota…?

“Aku hendak mengambil alih kota tambang ini….” tetiba Kum Kecho melontar ancaman. “Bila kalian tak segera angkat kaki, maka kota ini akan terhapus dari peta Negeri Dua Samudera!”

“Lancang!” Tuan Muda Lolak semakin berang. Ia melangkah maju, namun sang pengawal merentangkan sebelah tangan, mencegah tuannya bertindak gegabah.

“Penguasa Kota Tambang Lolak senantiasa membayar upeti kepada Partai Iblis…,” tanggap sang pengawal. “Tak ada alasan bagi kalian bertindak sesuka hati.”

Mendengar perihal Partai Iblis, si Tuan Muda Lolak beringsut mundur. Keringat dingin mulai berkumpul. 

“Tak ada alasan, katamu…? Aku yang mewakili Partai Iblis sedang mengawasi kota ini ketika kalian berlaku lancang!” Kum Kecho, yang kini memperoleh kesempatan mengulur waktu, memulai bermain sandiwara. 

“Sungguh kejadian sepekan yang lalu merupakan kesalahpahaman semata.” Meski berada pada pihak yang salah, lelaki setengah baya tersebut perlu menjaga harga diri sebagai ahli Kasta Emas. Ia tak mungkin memohon maaf kepada ahli Kasta Perak, walau merupakan perwakilan Partai Iblis sekalipun.

“Siapakah dia?” Kum Kecho hendak memastikan. Pertanyaannya mengacu kepada lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun. 

“Beliau merupakan tamu bagi Penguasa Kota Tambang Lolak. Seorang saudagar.”

“Siapakah gerangan Tuan Ahli yang mewakili Parta Iblis…?” Saudagar Senjata Malin Kumbang melangkah maju. Sebagai saudagar besar, dirinya memiliki hubungan baik dengan pulau-pulau di wilayah Kepulauan Jembalang. Tentunya terdapat satu pengecualian terhadap seorang ahli di Partai Iblis, tokoh yang sangat ia benci.

“Kalian tak perlu mengetahui akan jati diriku,” tanggap Kum Kecho cepat. “Aku berasal dari Pulau Lima Dendam.”

“Heh…?” Saudagar Senjata Malin Kumbang hampir tergelincir kehilangan keseimbangan. “Tuan Ahli ini siapanya Lintang Tenggara!?” 

“Lintang Tenggara adalah atasanku!” 

“Ha!?” 

Mendengar perbincangan kedua ahli, sang pengawal semakin yakin bahwa anak remaja di hadapan merupakan perwakilan Partai Iblis. Akan tetapi, masih ada yang sesuatu sedikit mengganjal... “Wilayah Pulau Logam Utara berada di bawah pengawasan Pulau Tiga Bengis, sedangkan Pulau Lima Dendam menaungi Pulau Jumawa Selatan… apakah diriku keliru…?”

“Sudah kukatakan di awal, bahwa aku datang hendak mengambil alih Kota Tambang Lolak!” tegas Kum Kecho. 

Baik si pengawal pribadi maupun Malin Kumbang tak terlalu heran. Kejadian perebutan wilayah di antara pulau-pulau di dalam Partai Iblis bukan tak pernah terjadi. Apalagi bila menyangkut Kota Tambang yang bernilai tinggi, dan seingkali tak berkeberatan memberi upeti agar kegiatan penambangan dan jual-beli tiada diganggu oleh anggota Partai Iblis. 

“Dikau berdusta, wahai anak muda…” Tetiba datang suara yang terdengar lembut, namun tegas. Bersamaan dengan itu pula, seorang perempuan dewasa melenggang keluar. Pada genggaman tangan akan terlihat sebentuk lencana. Pakaian dan perhiasan yang ia kenakan demikian mewah, layaknya seorang ratu dari kemaharajaan besar. 

“Ssstt… Ibunda…,” bisik Tuan Muda Lolak cemas bukan kepalang. 

“Aku baru saja menghubungi teman lamaku, Sumantorono… Gubernur Pulau Lima Dendam. Beliau tak mengetahui tentang rencana mengambil kota tambang ini…” lanjut Penguasa Kota Tambang Lolak. 

Satu lagi ahli Kasta Emas! Kali ini, perhitungan Kum Kecho sepenuhnya meleset! Keadaan berubah genting, dan tak lagi ada waktu untuk berkelit atau bahkan berpikir panjang. Kedok telah terbongkar, anak remaja itu sontak melompat mundur. Di saat yang bersamaan pula, sebuah lentera mengemuka dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi miliknya.