Episode 348 - Dingin




Sepasang suami-istri, meski terlihat sebagai dua pendekar rendahan Kasta Perak, bertarung demikian padu. Bersenjatakan pedang lurus panjang, gerak-gerik mereka saling melengkapi, bahu-membahu menutupi kekurangan satu sama lain. Ketika sang suami menyerang, maka si istri akan menutup celah serangan balik. Ketika sang istri bertahan, maka sang suami membantu memberikan dukungan melalui serangan curi-curi. 

Sebaliknya, Melati Dara yang berbalut pakaian kulit mengkilap nan sungguh ketat dengan aksesoris syal merah muda di leher, dan Hongke Riro yang sepintas masih mengenakan atasan tanpa lengan dan rok rumbai-rumbai terbuat dari daun sagu kering, terlihat kewalahan. 

Dalam hal pakaian, Hongke Riro menolak keras mengganti pakaian yang ia kenakan. Gadis mungil berkulit gelap dan berambut hitam kribo yang menjunjung bak jamur merang itu hanya bersedia bila pakaiannya diwarnai serba hitam, sedangkan bahan-bahan yang digunakan tetapi alami khas Pulau Mutiara Timur. Setelah melalui upaya membujuk nan panjang, Melati Dara hanya dapat memaksakan satu hal lagi, yaitu bagi Hongke Riro mengenakan celana dalam.

“Sulit menaklukkan cinta...” Melati Dara mengibas jalinan rambut dalam upaya menepis tusukan beruntun pendekar suami-istri. Ia lantas mundur ke dekat Honke Riro. 

Dalam hal bertarung, si postur tubuh ideal Melati Dara dengan jalinan rambut sekeras kawat logam dan selentur benang sutera, merupakan petarung jarak menengah. Rekannya, si mungil Honke Riro yang berbekal senjata pusaka tiang patung kayu bertingkat tiga yang dikenal sebagai mbis, merupakan petarung jarak jauh. Ukiran patung nenek moyang pada mbis sisi atas memiliki unsur kesaktian api, yang tengah menguasai keterampilan khusus merapal lorong dimensi ruang, sedangkan yang paling bawah mengendalikan unsur kesaktian air. Dalam pertarungan, Honke Riro berlindung di balik mbis sambil menembakkan bola-bola api atau pun gumpalan-gumpalan air. 

Melati Dara merangseng lincah. Jalingan rambut menebar dan membelit pohon. Ibarat pahlawan lelaki laba-laba di sebuah dunia paralel, tangannya menarik jalinan rambut yang membelit pada dahan pohon demi menambah kecepatan, lantas menarik jalinan rambut lain dalam mengubah arah. Sungguh lincah. 

Di saat Melati Dara melecut ke arah lawan, bola-bola api menyusul deras dari belakang tubuhnya. Sapuan rambut ditepis oleh pedang sang istri dan bola-bola api ditebas oleh sang suami. Lantas, sepasang suami-istri melancarkan serangan balik secara serempak. Tusukan dan tebasan pedang melesat silih berganti, lagi-lagi Melati Dara dipaksa mundur. 

Perlu diingat bahwa sepasang suami-istri ini merupakan pengawal rombongan saudagar bahan baku logam. Adalah tugas utama mereka melindungi, bukan sepenuhnya menyerang dan memburu lawan. Berpegang pada tugas tersebut pula, keduanya tak pernah mengejar terlalu jauh. Kedisiplinan dan kerja sama yang apik inilah yang membuat keduanya cukup dikenal sebagai pasangan pengawal yang tersohor di Pulau Logam Utara. 

Yang tak diketahui oleh banyak ahli, sesungguhnya pasangan suami istri ini berasal dari sebuah lembah di Pulau Jumawa Selatan. Di pulau tersebut, nama mereka sempat harum sebagai Sepasang Pendekar dari Celah Kledung (1). Akan tetapi, setelah mengangkat anak, keduanya memutuskan untuk menarik diri dari dunia persilatan dan kesaktian. Jadi, lawan Melati Dara dan Hongke Riro saat ini, bukanlah sekedar pendekar rendahan.

Di lain pihak, pertarungan menghadapi ahli Kasta Emas tingkat menengah belum dimulai. Kum Kecho serta Dahlia Tembang dan Seruni Bahadur cukup waspada, sehingga tiada mengambil langkah pembuka. 

Dalam hal menghadapi ahli Kasta Emas, Kum Kecho sudah cukup berpengalaman. Tiga kali sudah ia melepaskan diri dari ahli Kasta Emas. Yang pertama, merupakan seorang ahli bekas murid Persaudaraan Batara Wijaya yang menganggap enteng sasaran, sehingga meregang nyawa dalam keterkejutan. Lawan Kasta Emas kedua merupakan pembunuh bayangan yang juga merupakan utusan Persaudaraan Batara Wijaya. Pada saat itu, di akhir pertarungan berat sebelah Iblis Belial yang berdiam dalam tubuh Kum Kecho bangkit dan mengambil ahli kendali tubuh. Terakhir, berlangsung di Pulau Belantara Pusat, Kum Kecho berhadapan dengan seorang Maha Guru Kasta Emas dari Sanggar Sarana Sakti. Walau, kejadiaan tersebut tiada masuk ke dalam kategori pertarungan, karena anak remaja itu hanya melarikan diri dari kejaran Sangara Santang. 

“Hmph...” Ahli Kasta Emas menghentakkan tenaga dalam. Pada keadaan normal, maka tindakan tersebut dapat meledakkan mustika tenaga dalam ahli Kasta Perunggu dan mencederai tenaga dalam ahli Kasta Perak. 

Akan tetapi, jemari di kedua belah tangan Dahlia Tembang bergerak tangkas. Dengan sangat piawai gadis belia itu memetik dawai alat musik sampe, yang mirip dengan gitar dan khas berasal dari Pulau Belantara Pusat. Alunan musik yang tercipta memperkuat unsur kesaktian, sehingga tirai gelombang getaran suara menahan sebagian besar kekuatan hentakan tenaga dalam. 

Kening Ahli Kasta Emas berkedut, namun ia masih sangat percaya diri untuk menyembunyikan keterkejutan di hati. Awalnya tokoh tersebut merasa bahwa hadangan yang dihadapi rombongan saudagar bahan baku logam ibarat permainan anak-anak kecil sahaja, ramai dan berisik namun tak akan menimbulkan ancaman. Sebagai ahli Kasta Emas, ia pastinya telah banyak memakan asam dan garam dunia keahlian, sehingga segera menyadari bahwa para remaja di hadapannya telah mempersiapkan diri dengan matang. 

Ahli Kasta Emas menghela napas panjang, lantas mengibaskan tangan. Walau terpaut jarak sekira sepuluh langkah, kelebat cepat unsur kesaktian angin mengoyak tirai gelombang getaran suara. Sabit-sabit angin berikutnya lantas mengincar deras ke arah ketiga remaja di hadapan.

Kum Kecho mengelak sembari merangsek maju dan mengibas Kartu Satwa. Dahlia Tembang dan Seruni Bahadur serempak menyebar di kedua sisi, lantas maju secara beriringan. 

“Duar!” 

Trio Kutu Gegana Ledak gagal mencapai tubuh sasaran. Ahli Kasta Emas hanya meniupkan angin dari mulutnya, yang serta merta membuat lompatan lincah ketiga kutu oleng, lantas saling bersenggolan antara satu sama lain. 

Di tengah ledakan kutu-kutu, Seruni Bahadur mencuri serangan. Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada, ia menghantamkan senjata pusaka. Kendatipun demikian, betapa mudahnya Ahli Kasta Emas nan perkasa menahan hantaman Godam Gajah yang demikian besar. Hanya dengan menggunakan sebelah lengan, ia menyambut permukaan tumpul godam. Lantas, dengan gerakan ringan ia mendorong, namun pada kenyataannya cukup keras sehingga membuat tubuh bongsor Seruni Bahadur terjungkal ke arah samping.  

Kidung Lingsir Wengi, Bentuk Pertama: Jangan Bangun Dari Peraduan!

Unsur kesaktian gelombang getaran suara seolah membangun wujud selimut nan tebal dalam upaya membalut dan membatasi gerak tubuh lawan. Di saat yang bersamaan pula, Seruni Bahadur yang terdorong, sudah kembali merangsek maju...

“Mega Pahat, Gerakan Pertama: Besar Pasak Dari Tiang!” 

Sebelum memiliki senjata pusaka, jurus persilatan ini merupakan tenaga dalam murni yang berwujud pahat raksasa untuk membungkus di kedua lengan. Kini, berbekal Godam Gajah, tenaga dalam murni melingkupi sekujur senjata. Yang tadinya tumpul, Godam Gajah kini seolah memiliki mata pahat pada ujungnya!

Menyaksikan kehadiran jurus dan serangan tersebut, Ahli Kasta Emas kini merasa datangnya ancaman. Bukan ancaman yang cukup berarti terhadap tubuh, melainkan ancaman yang dapat melukai reputasi sebagai pengawal ternama. Di hadapan rombongan saudagar bahan baku logam yang saat ini menonton pertarungan, bila serangan tersebut mendarat maka akan dapat menurunkan reputasi. Bagi ahli yang menawarkan jasa pengawalan seperti dirinya, reputasi merupakan acuan. Reputasi yang tinggi akan membuka kesempatan pada tawaran pekerjaan mengawal dari saudagar besar. Semakin tinggi reputasi, semakin tinggi pula seorang pengawal dapat menetapkan tarif upah. Demikian adalah aturan dalam dunia pengawalan. 

Ahli Kasta Emas lantas menghentakkan tenaga dalam demi melepaskan diri dari selimut gelombang getaran suara. Segera setelah itu, ia membungkus lengan kanan dengan unsur kesaktian angin yang berpuntir deras. Sebuah tinju dilepaskan dalam menghadang serangan Godam Gajah. 

Ledakan terjadi tatkala tinju dan senjata pusaka beradu, diikuti dengan hembusan deras angin yang menyebar ke segala penjuru. Dahlia Tembang dan Seruni Bahadur terjungkal lantas memuntahkan darah. Hentakan balik dari jurus masing-masing karena dikerahkan terhadap ahli nan berada pada kasta yang lebih tinggi, tak dapat dibendung. Meski demikian, sorot mata keduanya tak bergeming dan tetap terpusat kepada lawan. 

Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam! 

Di tengah kekacauan yang tercipta, ahli Kasta Emas terlambat menanggapi. Telapak tangan Kum Kecho hanya sempat ditahan dengan sebelah lengan, namun dorongan tetap membuat telapak tangan tersebut mendarat pelan di dada. Ini bukanlah jurus persilatan biasa, melainkan jurus digdaya yang mengantarkan tenaga dalam merasuk dan mengamuk di dalam tubuh sasaran. Celah yang terbuka oleh upaya menghentikan gerak Dahlia Tembang dan serangan Seruni Bahadur dimanfaatkan dengan sangat baik. 

Tubuh Kum Kecho dan ahli Kasta Emas terpental secara bersamaan. Darah mengalir di sudut bibir putra semata wayang Sang Maha Patih akibat hentakan balik jurus yang disarangkan kepada ahli yang jauh lebih tangguh. Terpisah sekira sepuluh langkah disana, pada sudut bibir Ahli Kasta Emas pun mengalir darah karena jurus persilatan yang mendarat demikian ampuh jauh di luar perkiraan. Tokoh itu menyadari betul bahwa dirinya lengah karena tak memperhatikan gerakan lincah anak remaja tersebut. Perhatiannya tadi lebih banyak tersita kepada anggota rombongan, agar sebagai ahli Kasta Emas nan perkasa tak tampil memalukan di hadapan pemberi upah.  

“Bangsat!” Ahli Kasta Emas berang bukan kepalang. Persetan dengan reputasi, karena sejak kejadian hari ini pastilah tarif upah atas jasa pengawalan dirinya jatuh ke angka terendah. Benar-benar menyebalkan! 

Ahli Kasta Emas melesat deras dan di saat yang bersamaan sabit-sabit angin melecut deras ke arah Kum Kecho. Pertarungan tiga lawan satu berubah menjadi satu lawan satu! Anak remaja lelaki tersebut lantas melompat-lompat gesit sembari bergerak mundur. Namun, dalam sekejap mata Ahli Kasta Emas dengan unsur kesaktian angin telah tiba di hadapannya. Kepalan tinju yang dibalut angin berpilin segera mengincar dada!

Kepik Cegah Tahan!

Kubah punggung binatang siluman serangga meredam pukulan tinju yang dibalut unsur kesaktian angin, namun tiada memadai. Kum Kecho terpetal jatuh ke tanah sembari memuntahkan darah. Akan tetapi, sebelum ahli Kasta Emas dapat mengejar dan melancarkan serangan susulan, tubuhnya kembali dibalut selimut unsur kesaktian gelombang getaran suara. Di saat yang bersamaan pula, sebuah lorong dimensi ruang yang terhubung dengan pertarungan di tempat lain mengemuka tepat di belakang ahli Kasta Emas. Dari dalamnya, melesat jalinan rambut serba putih yang segera melilit tubuh tokoh tersebut. Terakhir, hantaman Godam Gajah mendarat bertubi di punggung. 

Lagi-lagi ahli Kasta Emas tertahan oleh serangan receh. Akan tetapi, walau hanya dalam satu kedipan mata perhatian tokoh tersebut tersita dan gerakannya terhambat, celah waktu yang tercipta sudah lebih dari cukup. Kum Kecho telah bangkit untuk menyarangkan serangan. Kali ini, gerakan pertama dari Jurus Tapak Suci bersarang tepat di ulu hati! 

Tanpa sempat memasang pertahanan berarti, Ahli Kasta Emas terdorong dan memuntahkan darah. Ia pun terpaksa bertumpu pada satu lutut. Pada kesempatan ini, selimut unsur kesaktian gelombang getaran suara dan lorong dimensi ruang mengantarkan jalinan rambut kembali mengunci ruang gerak, serta hantaman Godam Gajah turut memecah konsentrasi. 

Bayangan hitam memayungi tubuh ahli Kasta Emas yang sedang bertekuk lutut. Kum Kecho telah tiba di hadapannya. Sekali lagi dan sebagai penuntas, dengan dingin ia melesakkan telapak tangan tepat di kepala yang tertunduk. Tiada ampun. Darah merah dan segar menyeruak keluar dari lubang telinga, mata, hidung dan mulut. Seorang pengawal yang berada Kasta Emas tingkat menengah, roboh meregang nyawa!


===


Matahari sedang condong di ufuk barat ketika Bintang Tenggara melangkah masuk ke dalam gerai perlengkapan yang baru saja hendak tutup di Kota Sanggar. Tanpa tawar-menawar harga, lantas ia membeli sebilah belati pendek. Kemudian, anak remaja tersebut bergegas menuju salah satu kejuruan di kota tersebut. Melintasi sepasang gerbang batu tak berpintu nan megah, ia lalu menebar pandangan. Mencari-cari. 

Tak lama, kedua bola matanya menangkap keberadaan sosok lelaki dewasa muda yang sedang melangkah meninggalkan salah satu pendopo. Tampaknya tokoh tersebut baru saja menutup perkuliahan hari ini. 

Semangat kehidupan terpancar dari bola mata Bintang Tenggara. Lantas, dengan raut wajah setenang aliran sungai di musim kemarau, tubuhnya menghilang menggunakan teleportasi jarak dekat. Muncul tepat di belakang sasaran, anak remaja itu kemudian menyabetkan belati! 

“Apa-apaan ini!?” sergah Guru Muda Khandra memutar tubuh sambil memegang lengan yang tergores. 

“Belati ini telah dibalur Racun Kelabang Darah...”

“Racun...?” 

“Kau tak akan mati karena racun itu, tapi kupastikan kau akan menderita selama tujuh hari dan tujuh malam.” 

“Ha...?” Balaputera Khandra tak percaya pada indera pendengarannya sendiri. Kemungkinan ia salah dengar, karena selain itu satu-satu alasan atas tindakan sang saudara sepupu adalah bahwa dia sudah tak waras. Gila!

Dengan dingin, salah satu Murid Utama di Perguruan Gunung Agung itu lantas memberi perintah, “Berikan sokongan atas nama Maha Guru Kesebelas... sekarang!”



Catatan:

Dalam novel ‘Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk’ karya Seno Gumira Ajidarma, Sepasang Pendekar dari Celah Kledung merupakan orang tua angkat dari tokoh utama, Pendekar Tanpa Nama.