Episode 346 - Peramu Terbaik



Lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya. Bagai telur di ujung tanduk. Ayam ditambat, disambar elang. Setidaknya ada tiga pepatah yang dapat mengungkapkan nasib Bintang Tenggara kali ini. Menghindar dari Balaputera Khandra, malah bertemu dengan salah satu Raja Angkara. Di hadapan tokoh yang demikian mengerikan, salah sedikit saja maka nyawa yang menjadi taruhan. Sungguh, malang sekali nasib anak remaja itu kali ini.

Di saat yang bersamaan, berhadapan dengan tokoh yang mampu membuat tubuh siluman sempurna sekelas Super Guru Komodo Nagaradja menjadi tiada berdaya, sungguh membuat perasaan di hati campur aduk. Antara benci dan rasa ingin tahu, Bintang Tenggara ingin menelusuri lebih lanjut jati diri serta kemampuan sesungguhnya Raja Angkara tersebut. 

“Janganlah khawatir...” Ginseng Perkasa berbisik menenangkan. “Diriku cukup mengenal makhluk satu ini. Ia sedang tak dapat berbuat banyak.”

“Lantas, apa yang perlu diriku perbuat...? Melarikan diri...?” tanggap Bintang Tenggara yang sedikit cemas. Sia-sia sudah upaya mendaki ke Gunung Istana Dewa. Sementara itu, waktu yang tersisa mencari rekomendasi tiada lagi tersedia banyak.  

“Pisang tidak berbuah dua kali...,” ujar Ginseng Perkasa. “Dikau harus memanfaatkan kesempatan nan langka ini.”

“Kesempatan...?”

“Pikirkan sesuatu agar dikau dapat menarik simpatinya.”

“Bagaimana...?”

“Entahlah. Pikirkan apa yang akan Komodo Nagaradja lakukan di saat seperti ini...”

“Bertarung...?” 

“Bukan. Taktik Tempur!”

“Yang Terhormat Tuan Ahli, maafkanlah kelancangan hamba...” Bintang Tenggara menyapa santun sembari menundukkan kepala. 

“Apa yang engkau cari di tempat ini, wahai anak anjing...?” Wisanggeni sang Raja Angkara Durjasa masih duduk bersila di balik asap nan mengepul ringan.

“Hamba datang mencari seorang Maha Guru untuk memperdalam keahlian...” Bintang Tenggara mulai melancarkan Taktik Tempur bernomor seri 61 dari rangkaian 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja. ‘Bagai harimau menyembunyikan kuku’ adalah di mana penggunanya menyembunyikan kepandaian dan berpura-pura bodoh, sehingga dapat menciptakan kesempatan di saat yang tepat. Atau, dalam hal ini, berupaya mengais sedikit peruntungan dari lawan. 

“Maha Guru di tempat ini…?” Wisanggeni mencibir. “Anak anjing, Maha Guru yang engkau cari sudah kulempar ke lahar panas di bawah sana.”

“Benarkah!?” Bintang Tenggara terperangah. 

Wisanggeni memejamkan mata. 

“Bilamana demikian adanya, maka Tuan Ahli adalah jauh lebih perkasa dibandingkan dengan Maha Guru yang sedang kucari.” 

“Hmph…” Wisanggeni mengangkat dagu, dan melirik sejenak. 

“Bila Tuan Ahli sudi, dengan segala rasa hormat, perkenankanlah diri ini menimba ilmu walau hanya seujung kuku. Dengan kemampuan Tuan Ahli, pastinya hamba akan tampil perkasa di hadapan murid-murid perguruan.”

Permohonan yang Bintang Tenggara ajukan bukanlah tak lazim di kalangan ahli yang menekuni dunia persilatan dan kesaktian. Banyak murid dari perguruan atau pendekar yang berkelana, mendaki gunung dan mengarungi rimba raya, dalam upaya menemukan petapa atau resi. Sebagian besar dari mereka memiliki harapan dibekali ilmu nan digdaya, yang mana dapat membuat tampil perkasa. 

“Sebutkan namamu.” Wisanggeni berujar acuh tak acuh. 

“Bintang.” Anak remaja itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Seorang murid Purwa dari Perguruan Gunung Agung.”

“Dari mana engkau dapatkan Ramuan Tolak Bahang...?” Wisanggeni tak terlalu peduli tentang perguruan mana atau tingkatan apa si anak remaja lelaki itu berasal dan berada. Akan tetapi, kenyataan bahwa Bintang Tenggara dapat bertahan di tengah hawa panas lebih menarik hatinya. 

“Hamba seorang diri meramu...”

“Kau...? Meramu...?”

“Benar, Tuan Ahli.”

Wisanggeni lantas mengibaskan lengan. Dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi miliknya, kemudian melayang keluar bangkai yang telah diawetkan dari seekor kelabang hitam sepanjang dua jengkal dengan lebar tiga jemari, seutas akar, dan sebotol cairan merah nan kental. Ketiganya melayang ke hadapan Bintang Tenggara yang berdiri dan terpaut jarak sekira sepuluh langkah di bongkahan batu yang lain. “Kau tahu apa saja itu...?”

Bintang Tenggara menenggak ludah. Karena tak mengaktifkan keterampilan khusus sebagai peramu pinjaman Ginseng Perkasa, maka tak ia kenal satu pun bahan dasar ramuan di hadapannya. Adapun bilamana meminjam keterampilan khusus milik sang Maha Maha Tabib Surgawi, maka kemungkinan besar akan mengundang risiko jati dirinya terbongkar. Yang pada akhirnya berujung pada ancaman terhadap jiwa dan raga.

“Kelabang Goa Siluman, akar Jarak Jingga, darah Ular Cabe Keriting,” bisik Ginseng Perkasa. 

Bintang Tenggara mengamati dengan seksama. “Bila tak salah terka, maka ini adalah bangkai binatang siluman Kelabang Goa Siluman. Lalu, akar tumbuhan siluman Jarak Jingga, serta darah binatang siluman Ular Cabe Keriting,” jawab Bintang Tenggara setengah ragu.

“Hm... Anak anjing, kau punya pengetahuan yang cukup mumpuni.”

“Terima kasih, wahai Tuan Ahli. Hamba senang membaca di pustaka.”

Wisanggeni lantas mengeluarkan secarik kertas. Menggunakan jalinan mata hati ia merangkai kata. Usai menulis, lantas ia melempar secarik kertas tersebut ke arah Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara menangkap sigap. Secarik kertas tersebut kosong adanya. Akan tetapi, tatkala ia menebar mata hati, perlahan mengemuka rangkaian kalimat. 

Wisanggeni mencermati gelagat anak remaja itu. “Apakah engkau memiliki lesung batu...?”

“Ada, wahai Tuan Ahli.” Bintang Tenggara mengeluarkan lesung batu miliknya. Lesung batu ini merupakan salah satu barang yang diambil dari ruang penyimpanan milik Komodo Nagaradja di Pulau Bunga. Berwarna hitam, bentuknya pun melingkar sederhana sahaja, yaitu sebuah batu bundar dengan lubang di bagian tengah. Tak ada yang istimewa. Bahkan Ginseng Perkasa sebagai peramu terkemuka di seantero Negeri Dua Samudera, tiada pernah memperkarakan perihal lesung batu tersebut. 

Sebelah alis Wisanggeni mengangkat tatkala menyaksikan lesung batu tersebut. Akan tetapi, ia menahan diri. “Bilamana kau mampu meracik ramuan dari bahan dasar dan petunjuk yang kuberikan, maka engkau diperkenan pergi dalam keadaan bernyawa...” 

Bintang Tenggara menelan ludah. Ia sudah dapat memperkirakan kata-kata yang selanjutnya yang mengemuka dari mulut lelaki berpenampilan dewasa muda nan tampan di hadapan sana...

“Bilamana gagal, maka selayaknya nyawa anak anjing nan malang berakhir di tempat ini.”

Bintang Tenggara duduk bersila. Tiada ia menyangka akan mengerahkan kemampuan meramu tanpa pinjaman keterampilan khusus milik Ginseng Perkasa. Bahkan, ia tak percaya bahwa akan mampu meramu sama sekali. 

“Janganlah khawatir,” bisik Ginseng Perkasa. “Dikau memiliki kemampuan mata hati di atas rata-rata ahli seusia, bahkan kebanyakan peramu Kasta Perak. Dengan sedikit panduan dari diriku, maka tak ada yang tak mungkin!” 

Menggunakan jalinan mata hati, Bintang Tenggara mengangkat bangkai binatang siluman Kelabang Goa Siluman. Kondisinya masih baik sekali, mencerminkan teknik pengawetan yang nyaris sempurna.

Sesuai petunjuk pada secarik kertas, ia lantas berupaya mengeluarkan racun yang masih tersimpan dari bangkai binatang siluman yang telah diawetkan tersebut. Sungguh upaya yang teramat sukar, bertolak belakang dengan ketika mendapat pinjaman keterampilan khusus peramu dari Ginseng Perkasa. Saat itu, segala sesuatu terkait meramu terasa demikain mudah rasanya. Kini, si anak remaja mulai menyadari dan menjalani betapa sulitnya meniti jalan keahlian sebagai peramu. 

Satu jam waktu berlalu. Bangkai binatang siluman Kelabang Goa Siluman masih melayang tepat di atas lesung batu. Akan tetapi, racun dari tubuh binatang tersebut belum kunjung dapat dikeluarkan. 

“Umumnya, racun kelabang tidak mematikan sebagaimana kalajengking,” ungkap Ginseng Perkasa. “Demikian pula dengan racun Kelabang Goa Siluman, yang memiliki kemampuan melumpuhkan mangsa agar supaya binatang siluman ini dapat melarikan diri. Ia menyimpan racun di dalam rongga rahang yang dikeluarkan dari mulut dan disalurkan melalui gigitan. Oleh karena itu, agar racun dapat keluar, diperlukan rangsangan terhadap bagian mulutnya.”

Bintang Tenggara mengikuti panduan Ginseng Perkasa. Ia gerakkan mulut binatang siluman tersebut berkali-kali menggunakan jalinan mata hati. Perlahan, cairan berwarna hitam merembes keluar. Upaya selanjutnya memakan waktu lebih panjang, karena diharuskan menyuling cairan tersebut menjadi satu tetes racun murni. 

Langkah kedua terbilang sederhana. Akar tumbuhan siluman Jarak Jingga memiliki peran sebagai perantara. Ia menyerap satu tetes racun murni ke dalam serat-seratnya. Usai meletakkan akar tersebut ke dalam lesung batu, bintang Tenggara lantas mengambil satu tetes cairan darah Ular Cabe Keriting dari dalam botol kecil. Ia teteskan kepada akar di dalam lesung batu. 

“Salah,” sela Ginseng Perkasa. “Karena suhu di tempat ini tinggi, cairan darah tersebut menjadi kental.” 

Tepat sekali. Di dalam lesung batu, Bintang Tenggara menyaksikan betapa cairan darah nan kental dari Ular Cabe Keriting enggan meresap ke dalam serat akar tumbuhan siluman Jarak Jingga. 

“Kakek Gin, bagaimanakah caranya menjaga agar suhu darah tetap dingin...?”

“Mengimbuhkan tenaga dalam kepada jalinan mata hati, demi melindungi cairan darah dari pengaruh lingkungan sekitar.”

Secara teori, tindakan tersebut terdengar sangatlah sederhana. Akan tetapi, mengimbuhkan tenaga dalam sebagaimana yang dikatakan Ginseng Perkasa tidaklah mudah. Bintang Tenggara terpaksa berlatih terlebih dahulu. 

Setengah hari waktu berlalu sebelum Bintang Tenggara dapat melingkupi cairan darah dengan kombinasi jalinan mata hati dan tenaga dalam. Semacam kelereng yang terbuat dari kaca terlihat melingkupi cairan darah yang melayang masuk ke dalam lesung batu. Perlahan cairan darah tersebut meresap ke dalam serat akar. 

Langkah terakhir, adalah mengeluarkan cairan racun yang sudah menyatu dengan darah dari serat akar. Selama Bintang Tenggara sibuk dan terpusat dalam meramu, Wisanggeni mencermati dalam diam. Menurut pandangannya, sebagai peramu Kasta Perak kemampuan anak remaja itu sudah cukup baik. Meski terpisah jarak, ia dapat mengetahui bahwa taraf kemajuran racun yang tercipta sudah memadai, yaitu sekira 75%.

“Tuan Ahli,” Bintang Tenggara menundukkan kepala. “Racun Kelabang Darah telah rampung.” Anak remaja tersebut menyodorkan gumpalan cairan sebesar ujung ibu jari yang melayang ringan di atas lesung batu.”

“Kau hendak cepat mati, wahai anak anjing...?”

Bintang Tenggara tercekat. Menurut pandangannya yang ditegaskan oleh penilaian Ginseng Perkasa, maka racun yang diramu telah benar-benar rampung, dengan taraf kemajuran sebesar 75%.

“Lihat lagi isi panduan di kertas...” Ginseng Perkasa berujar seolah ia baru teringat akan sesuatu. 

Bintang Tenggara bergegas menebar jalinan mata hati pada secarik kertas. Rupanya, masih terdapat kalimat panduan pada sisi halaman kedua. Tertulis di sana, adalah tata cara meramu penawar Racun Kelabang Darah!

“Terdapat perbedaan antara hasil ramuan obat dengan ramuan racun. Para peramu racun, biasanya membuat penawar dari racun yang mereka racik.” Ginseng Perkasa berujar bijak. Padahal, dia sendiri terlupa akan satu fakta penting tersebut. 

“Maafkan ketidaktelitian hamba, wahai Tuan Ahli.” Bintang Tenggara berujar cepat. “Baru kali ini hamba meramu racun, sehingga tiada menyadari perlunya membuat penawar.”

Bintang Tenggara kembali pada lesung batu. Kegiatan meramu penawar Racun Kelabang Darah tiada terlalu sulit. Hanya diperlukan sisa dari akar Jarak Jingga yang dimurnikan sampai sedemikian rupa agar berperan sebagai spon untuk menyerap racun. Berkat suhu panas di kawah Gunung Istana Dewa, maka dalam tiga jam saja penawar, atau lebih tepatnya penyerap racun, telah rampung. 

Satu hari penuh sudah waktu berlalu. Bintang Tenggara berhasil menuntaskan tugas dari Wisanggeni, sang Raja Angkara Durjasa dalam meramu racun. Kini, di hadapannya melayang racun sekaligus penawarnya. 

“Aku pernah memiliki seorang murid,” tokoh tersebut berujar datar. “Akan tetapi, hari ini bukanlah hari di mana aku akan menerima murid baru.”

Bintang Tenggara tiada berkata-kata. 

“Namun demikian, kehadiran engkau mengingatkanku pada murid tersebut. Adalah lesung batu yang engkau gunakan, merupakan hak milik muridku. Ia meregang nyawa di tangan salah satu Jenderal Bhayangkara, siluman sempurna bernama Komodo Nagaradja.”

Raut wajah Bintang Tenggara berubah kecut. 

“Katakan padaku, dari mana engkau dapatkan lesung batu itu...?”

Bintang Tenggara tercekat. Akan tetapi, benaknya berputar deras mencari seribu satu dalih. Ia sepenuhnya menyadari bahwasanya tersalah memberi jawaban maka nyawa bisa menjadi taruhan. “Lesung batu ini kudapatkan dari sebuah lelang di Kerajaan Parang Batu...,” ujar anak remakja tersebut sembari menyembunyikan kegundahan di hati. 

Kegiatan pelelangan benda-benda pusaka, anggota tubuh binatang siluman serta bagian dari tumbuhan siluman merupakan ajang yang lazim digelar di Negeri Dua Samudera. Bahkan, Bintang Tenggara pernah ikut serta di dalam kegiatan lelang resmi di Kerajaan Parang Batu. Oleh karena itu, meskipun berbohong, kebohongan yang ia bangun memiliki dasar yang kuat. 

“Kerajaan Parang Batu berada di wilayah tenggara, dan muridku meregang nyawa di saat kami mengejar Komodo Nagaradja di sana...” Wisanggeni bergumam pelan. Ia sedang memperkirakan bahwa kemungkinan besar ada yang tak sengaja menemukan lesung batu milik muridnya, lalu menjual sebagai benda pusaka melalui kegiatan pelelangan.

“Apakah tuan ahli mengkehendaki lesung batu ini kembali...?” 

Bintang Tenggara mengetahui pasti bahwa ia akan berhadapan dengan murka Komodo Nagaradja bila menghilangkan lesung batu tersebut. Akan tetapi, apalah harga harta benda ketika harus disandingkan dengan nyawa...?

“Tidak. Yang telah mati tetaplah mati,” tanggap Wisanggeni ringan. “Karena engkau telah merampungkan tantangan dariku, maka engkau kuperkenankan meninggalkan tempat ini.”

Bintang Tenggara menundukkan kepala. Setengah kecewa, ia memutar tubuh. Paling tidak, nyawanya kini tak lagi berada di ujung tanduk.

“Bawa serta Racun Kelabang Darah beserta penawarnya...”

Bintang Tenggara kembali menghadap dan menundukkan kepala. Tiada disangka bahwa ia akan memperoleh ramuan racun yang demikian berharga. 

“Sampaikan pula pesanku kepada Ginseng Perkasa, bahwa Wisanggeni si Raja Angkara Durjasa... masih merupakan peramu terbaik di Negeri Dua Samudera.”