Episode 93 - Ikhlas…



Di Rumah Tumenggung Jaya Laksana nampak sebuah keramaian, banyak orang yang hadir di sana, makanan dan minuman disediakan berlebih untuk para tamu yang hadir terutama dari keluarga Indrapaksi, di tengah rumahnya, Nampak Sekar yang diapit oleh Nyai Mantili serta Jaya Laksana, dan dihadapannya duduk Indrapaksi yang didampingi oleh Kakaknya, Tumenggung Brajapaksi karena kedua orang tuanya sudah meninggal.

“Saya percayakan Sekar kepadamu Indrapaksi, hanya tigaa yang saya minta, yang pertama jangan pernah kecewakan dia karena sudah banyak penderitaan dan kekecewaan yang dia alami, bahagiankanlah ia! Yang kedua, jadilah Imam yang baik baginya, tuntunlah ia selalu dijalan yang sesuai dengan Al Quran dan Al Hadist, dan yang ketiga, nafkahilah ia lahir dan bathin dari rezeki yang halal!” Ucap Jaya Laksana.

“Saya berjanji, Insyallah saya akan memenuhi ketiga hal tersebut, saya akan berusaha menjadi Imam yang baik bagi Sekar”.

“Bagaimana Sekar?” Tanya Jaya pada Sekar.

“Kakang Tumenggung Waliku, Kakang Tumenggung lah wakilku, dan Guru adalah orang yang sudah kuanggap sebagai ibu kandungku sendiri, maka saya serahkan keputusannya kepada Kakang dan Guru.” jawab Sekar sambil tertunduk.

“Bagaimana Guru?” Tanya Jaya pada Nyai Mantili.

Nyai Mantili pun menganggukan kepalanya. “Saya setuju saja kalau memang Sekar mau menerima cinta Indrapaksi.”

Jaya mengangguk-ngangguk. “Baik, kalau begitu kita ke penghulu, Kita akan nikahkan kalian secara Islam, agar hubungan kalian halal dan berkah dihadapan Gusti Allah!”

***

Beberapa hari kemudian… Di halaman masjid Agung Banten, Jaya Laksana Nampak sedang berbincang-bincang dengan Kyai Abdullah Rasyid, guru ilmu agama Islamnya dan Tata Negaranya selama di Banten ini sambil berjalan-jalan mengelilingi taman masjid tersebut.

“Keadaannya akan menjadi serba sulit kalau Banten terus menyatakan tunduk kepada Pajang dan Sultan Hadiwijaya yang merebut tahta Demak dari Sunan Prawata serta Haryo Penangsang, karena pengangkatan Sultan Hadiwijaya dan pemindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang sama saja artinya dengan berakhirnya Kesultanan Demak, yang artinya masa persemakmuran Kesultanan Banten oleh Kesultanan Demak telah berakhir. Kanjeng Sunan Kudus sangat tidak berkenan atas hal ini, maka dari itulah saya dan para ulama serta sesepuh lainnya menyarankan agar Banten memisahkan diri dari dari pengaruh Pajang dan menjadi Negara yang merdeka sepenuhnya.”

“Maaf Syech, tapi Bukankah Sultan Hadiwijaya dan orang-orang Pajang itu Islam?”

“Benar, namun Kanjeng Sunan Kudus sangat khawatir apabila Mas Karebet yang sekarang bergelar Sultan Hadiwijaya menjadi penguasa di tanah Jawa, maka syiar dakwah penyebaran agama Islam akan mandeg. Ingat, bagaimanapun juga Mas Karebet adalah putra dari Ki Kebo Kenanga, murid utama dari Syech Siti Jenar, meskipun kemudian Mas Karebet menjadi murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga, ia juga merupakan murid dari Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Banyubiru yang juga merupakan murid utama dari Syech Lemah Abang atau Syech Siti Jenar, sedangkan Almarhum Senapati Djinbum dan para wali Sanga telah menjatuhkan fatwa bahwa ajaran Syech Lemah Abang tersebut adalah sesat! 

Nah Kanjeng Sunan Kudus melihat bahwa orang-orang yang paham islamnya sesat mengikuti Syech Siti Jenar tersebut sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan Sultan Hadiwijaya, maka kekhawatiran beliau sangat beralasan dan beliau lebih memilih untuk mendukung Haryo Penangsang, sayangnya Adipati Jipang Panolan itu terlalu grasa-grusu, kurang bersabar sehingga dapat dikalahkan oleh orang-orang Pajang!”

“Tetapi mengapa kita harus terlalu ikut campur urusan dalam negeri orang lain Syech? Bukankah Banten sudah menjadi negeri yang merdeka sejak Sultan Trenggono dan Kanjeng Sunan Gunung Jati Meninggal meninggal?”. (Awalnya Kesultanan Banten sangat terikat pada Kesultanan Demak dan Cirebon dengan kedaulatan yang terbatas, statusnya mirip negeri persemakmuran. Setiap pengambilan kebijakan Negeri yang menyangkut tindakan terhadap negeri lain harus melalui persetujuan Demak dan Cirebon).

“Den Jaya Laksana, menurutmu mengapa saya yang sudah tua ini masih mau hilir mudik dan ikut campur dalam urusan keraton Banten ini? Mengapa? Karena saya ingin Banten selain menjadi penerus Pajajaran dalam hal kekuasaan, saya juga ingin Banten menjadi negeri penerus Demak, negeri penyebar agama Islam yang Khafah, meneruskan tradisi yang mana ajaran Islam dipertahankan dengan kuat!”

“Apakah kita sudah bisa memastikan bahwa orang-orang Pajang adalah pengikut ajaran Syech Siti Jenar? Sebenarnya seperti apa ajaran Syech Siti Jenar tersebut?” tanya Jaya.

Kyai Abdullah Rasyid mengangguk-ngangguk perlahan sembari mengusap-usap jenggot putihnya, wajahnya langsung berubah menjadi redup. “Benar… Ajaran Syech Siti Jenar adalah manunggaling Kawulo Gusti, yakni bersatunya insan dengan Allah….”

“Saya pernah dengar bahwa Syech Siti Jenar adalah penganut ajaran Syiah, apakah itu benar?” tanya Jaya Lagi.

“Terus terang saya belum berani menyimpulkannya Raden, karena saya belum pernah bertabayun kepada beliau… Namun menurut pendapat saya, apabila kita cermati ajarannya, beliau bukan penganut Syiah karena dalam Syiah tetap ada yang namanya sholat lima waktu meskipun ada beberapa perbedaan pemahaman hadist… Nah Syech Siti Jenar adalah ulama yang tidak pernah mengajarkan pada umatnya untuk mendirikan sholat, beliau juga tidak pernah mendirikan sholat, sebab menurutnya untuk beribadah kepada Allah cukup dengan hanya berdzikir sambil mengheningkan cipta dan berpuasa dengan memusatkan seluruh hati dan pikiran kepada Allah agar bisa menyatu dengannya… Inilah yang dianggap sesat oleh para wali yang lainnya.” jelas Kyai Abdullah Rasyid.

“Darimana beliau mendapatkan pemikiran sedemikian rupa Syech?”

“Menurut cerita Almarhum Sunan Gunung Jati, dahulu ketika Syech Siti Jenar dan Sunan Kalijaga masih berguru kepada Sunan Bonang, mereka bertiga berangkat ke Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji. Pada suatu ketika di Masjidil Haram Syech Siti Jenar melihat seorang kakek yang kerjanya hanya berdzikir di halaman masjid tanpa melakukan sholat. Syech Siti Jenar menanyakan hal tersebut kepada gurunya Sunan Bonang tentang si kakek tersebut, namun Sunan Bonang tidak berkenan untuk menjawabnya dan hanya tegas berkata agar Syech Siti Jenar jangan berbicara apalagi berguru kepada si Kakek yang oleh Syech Siti Jenar dianggap sebagai ahli dzikir tersebut.

Namun rupanya rasa penasaran Syech Siti Jenar sangat besar tentang si Kakek tersebut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berguru kepada si Kakek. Ternyata si Kakek adalah seorang penganut paham dan ahli Sufi dari negeri Iraq. Syech Siti Jenar dibuat terkagum-kagum akan keahlian agama si Kakek sampai akhirnya dia berhasil mempelajari seluruh ilmu si Kakek. Setelah itu ia juga banyak belajar dan mendalami ilmu sufi dari para Syech di negeri Turki. 

Ketika pulang ke tanah Jawa, beliau mengamallkan dan menyebarkan ajaran tersebut yang ternyata disambut baik oleh masyakat Jawa pedalaman sehingga ia mempunyai banyak murid. Suatu ketika Syech Maulana Maghiribi secara tidak sengaja menyaksikan Syech Siti Jenar yang sedang berdakwah, beliau terkejut karena menganggap ajaran Syech Siti Jenar telah menyimpang dan melaporkannya kepada dewan Wali Songo dan Sultan Demak bahwa ajaran Syech Siti Jenar adalah sesat. Maka diputuskanlah untuk menyelidiki Syech Siti Jenar oleh para Wali, dan memang semuanya berpendapat bahwa ajaran Syech Siti Jenar adalah sesat, maka mereka memutuskan untuk menghukum mati Syech Siti Jenar…” papar Kyai Abdulah Rasyid. 

Jaya mengangguk-ngangguk memahami penuturan dari gurunya tersebut, namun ia kembali pada topik tentang Pajang. “Kembali pada persoalan Pajang… Tetapi saya tetap masih kurang mengerti Syech, mengapa kita harus sejalan dengan pemikiran Kanjeng Sunan Kudus? Mengapa kita harus perduli dan ikut campur urusan Pajang yang jauh diluar batas wilayah negeri kita, yang sama sekali tidak ada pertalian darah dengan negeri Banten?”

“Kamu tentu ingat bagaimana Pati Unus yang rela mengorbankan dirinya melawan Portugis yang mencaplok negeri Islam Malaka? Kamu ingat Sultan Trenggono yang dengan gagah berani menyerang Kediri yang mengaku sebagai penerus Majapahit dan menindas umat Islam? Kamu ingat Kanjeng Sunan Gunung Jati dan menantunya Raden Fatahillah menyerbu Sunda Kelapa dan Pajajaran? Dan terakhir, tujuan Banten menyerbu Pajajaran kemarin, juga negerimu Mega Mendung?

Itu semua karena dalam ajaran Islam yang sesungguhnya, antar muslim adalah saudara, dan antar muslim sat dengan yang lainnya seperti anggota tubuh, yang apabila salah satu ada yang sakit, maka yang lainnya pun akan selalu merasa sakit!”

“Terus terang Syech, saya sangat tertarik ingin belajar lebih dalam lagi tentang Islam, saya ingin belajar bagaimana hebatnya persaudaraan Islam, hingga bisa mempengaruhi bahkan pada orang di Negeri Sebrang.”

Kyai Abdullah Rasyid menatap tajam pada mata Jaya Laksana, “Jadi Raden tidak menginginkan tahta Mega Mendung, apabila suatu saat nanti Raden dan seluruh Rakyat Mega Mendung berhasil membangun negeri itu kembali?”

Jaya menghela nafas dan menatap jauh keatas langit. “Buat apa tahta itu Syech, kalau hanya akan menimbulkan petaka bagi orang banyak di kemudian hari? Saya sudah lama mengikhlaskannya, bahkan saya sudah lama berencana untuk mengundurkan diri dari jajaran pemerintahan Banten ini, saya ingin menyepi untuk mempelajari ajaran Islam secara lebih mendalam.”

Kyai Abdullah Rasyid menepuk-nepuk pundak Jaya sambil menitikan air matanya “Raden… Saya doakan cita-cita Raden tersebut akan diijabah oleh Gusti Allah, dan semoga Raden selalu Khusnul Khotimah…”

     ***

Pada suatu pagi, di sebuah desa bernama Jati Jajar yang berada di pedalaman yang termasuk wilayah perbatasan Banten dengan Mega Mendung. Seorang wanita paruh baya berlari menuju alun-alun desa sambil menjerit-jerit ketakutan. “Tolong! Tolong! Ada mayat! Tolongggg!!!”

Kontan saja para penduduk desa yang baru saja membuka jendela dan pintu rumah mereka, dibuat kaget. Mereka pun berlarian menghampiri wanita paruh baya tersebut. “Tenang Nyai! Tenang! Ada apa?!” tanya Ki Demang sembari berusaha menenangkan wanita tersebut.

“Tolong! Ada orang mati!”

“Dimana?”

“Di sana! Di Gerbang desa sebelah timur, dekat kebun pisang!”

Ki Demang termenung sesaat, apalagi sejak semalam sampai saat itu, desa itu ramai oleh suara cuitan burung sirit uncuing yang tiada hentinya. “Aneh… Sejak semalam burung sirit uncuing itu terus berkicau, dan sekarang ada orang yang terbunuh, jangan-jangan…” 

Ia lalu memberi komando pada semua warga yang ada disana. “Para warga semua, mari kita lihat kesana!” dengan dipimpin oleh Ki Demang, para warga pun segera ke gerbang desa sebelah timur, sementara si wanita paruh baya itu dibawa masuk kedalam kademangan untuk ditenangkan.

Tidak berapa lama, mereka pun sampai ke gerbang desa sebelah timur, terkejutlah mereka semua. Di sana nampak satu sosok mayat yang dipaku pada sebatang pohon dengan sekujur tubuh hancur! “Lho itu bukannya Kang Dudung?” tunjuk seorang warga yang mengenali mayat tersebut, beberapa warga yang mengenalinya dan mempunyai pandangan mata yang awas pun mengamininya.

 Ki Demang tertegun menatap mayat tersebut dengan hati yang dipenuhi oleh perasaan takut dan ngeri. Naluri dan akal sehatnya pun berkata bahwa ini bukan kejadian sembarangan, tidak mungkin ada manusia yang melakukan pembunuhan dengan cara yang demikian, ditambah dengan keanehan bahwa sepanjang malam sampai saat ini desa tersebut ramai oleh suara cuitan burung sirit uncuing! “Sebaiknya kita segera beritahukan hal ini pada Ki Dukun Tapak Gludug!” usulnya yang diamini oleh semua warga desa, maka beramai-ramailah mereka menuju ke rumah dukun yang dimaksud.

Didalam sebuah rumah yang nampaknya sangat angker, duduklah seorang pria berusia lanjut yang sedang bersemedi, menghadap sebuah bejana berisi air kembang tujuh rupa dan kemenyang yang dibakar. Di tengah kekhusyukannya bersemedi, terdengarlah suara rebut-ribut orang banyak yang membuat ia membuka matanya, ia pun segera berlari keluar.

“Lho Ki Demang dan seluruh warga? Ada apa pagi-pagi sudah ramai kemari?” tanya si Aki Dukun.

“Ada orang mati dipaku ke batang pohon besar di gerbang desa sebelah timur! Cepat Ki!” jawab Ki Demang.

Ki Dukun terdiam sejenak, ia dapat menangkap keanenhan ketika mendengar suara cuitan burung sirit uncuing yang menggema di seantero desa itu, ia lalu mengangguk-ngangguk. “Baik, ayo cepat kita kesana!” kembali rombongan warga desa itu berjalan menuju ke gerbang desa sebelah timur.

Ketika sampai Ki Dukun terkejut melihat mayat yang seluruh tubuhnya nyaris hancur dan dipaku oleh lima buah pasak besi berwarna hitam pada batang sebuah pohon yang besar. “Lho itu kan Kang Dudung? Bukakah ia memiliki ilmu kanuragan yang cukup mumpuni?”

“Benar Ki Dukun, makanya kami pun heran!” jawab Ki Demang.

“Ini jelas perbuatan Yang Karuhun di desa ini! Biarkan mayat itu, jangan kita ganggu! Ini adalah peringatan dari Yang Karuhun! Kita cukup emberi sesajen di tempat ini dan di pohon beringin keramat di tengah hutan sana!” perintah Ki Dukun. (Yang Karuhun = Mahluk yang dikeramatkan dalam mitologi Sunda)

Dari arah alun-alun desa, nampak seorang pria paruh baya yang mengenakan sorban dan jubah berwarna serba putih, serta tiga orang pemuda berpakaian cokelat dengan sorban berwarna putih. Mereka langsung menghampiri kerumunan warga di gerbang desa sebelah timur dan menyaksikan apa yang para warga desa lakukan terhadap mayat tersebut.

“Astagfirullah! Siapa yang tega melakukan kekejaman seperti ini?” tanyanya pada Ki Demang sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang berwarna putih.

“Menurut Ki Dukun, Kang Dudung dibunuh oleh Banaspati Yang Karuhun di desa ini, rohnya dimakan oleh Banaspati tersebut!” jawab Ki Demang.

“Apakah itu benar Kyai?” tanya salah seorang muridnya.

“Mungkin saja, karena cahaya keimanan Islam belum masuk ke desa ini, maka dari itu kekuatan Iblis akan dengan mudah mengahncurkan kita, agar kita takut kemudian menjadi hambanya!” jawab Sang Kyai, ia lalu bertanya lagi pada Ki Demang “Lalu kenapa mayatnya dibiarkan begitu saja Ki Demang?”

“Karena menurut Ki Dukun, apa yang terjadi pada Kang Dudung adalah peringatan bagi kita semua, jadi kami khawatir kalau Yang Karuhun akan marah pada kami semua kalau kami menurunkan dan menguburkan mayat itu!”

“Tapi kasihan keluarganya kalau kita biarka mayat itu Ki! Lagipula sudah menjadi kewajiban kita untuk mengurus dan menguburkan jenasah tersebut!” 

“Kyai Surakarna! Ini adalah bentuk peringatan akan kelalaian kita karena sudah lupa untuk memberi sesajen pada Yang Karuhun di desa ini! Dan kelalaian ini terjadi semenjak kedatanganmu serta murid-muridmu itu!” sela Ki Dukun Tapak Gludug sambil menunjuk wajah Kyai Surakarna.

Kyai Surakarna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Kelalaian kita adalah karena warga desa ini yang tidak pernah mau sembahyang atau sholat, menyembah Gusti yang Maha Penguasa, Gusti Allah Subhanahu Wataalla!” tegasnya namun dengan suara lembut.

Ki Dukun mendelik menatap wajah sepuh sang Kyai. “Kyai Surakarna! Seharusnya kau berterima kasih sudah boleh tinggal di desa ini! Tapi kamu dan murid-muridmu itu malah mau merusak tatanan dan adat leluhur!”

Kyai Surakarna menghela nafas, ia berusaha tenang menghadapi Ki Dukun, sementara Ki Dukun melangkah mendekatinya sambil memelototi wajah Sang Kyai. “Dari semenjak jaman nenek moyang kami, kami sudah memberikan sesajen pada Yang Karuhun di desa dan hutan ini! Kamu malah mempengauhi warga desa untuk meninggalkan kebiasaan suci itu dan menggantinya dengan kebiasaan orang asing!”

“Karena saya melihat bahwa kalian telah keliru! Yang Karuhun dari desa ini, hutan ini, bahkan seluruh jagat dan langit adalah Sang Maha Pencipta! Yaitu Gusti Allah Subhanahu Wataalla!” jawab Kyai Surakarna.

“Disitulah letak kekeliruanmu! Aku justru sangat tahu itu! Aku tahu dari para leluhurku bahwa Sang Pencipta sudah membagi tugas kepada kekuatan-kekuatan tertentu untuk memberikan pengayoman! Kalau tidak bagaimana repotnya dia mengatur semua ciptaannya sendiri!” tukas Ki Dukun, para warga pun tampak mengangguk-nganguk setuju dengan pendapat Ki Dukun yang sudah tua itu.

Kyai Surakarna tersenyum mendengar ucapan lawan bicaranya tersebut “Kalau Sang Pencipta bisa repot, maka saat penciptannya akan jauh repot dibanding pemeliharaannya! Akan tetapi ingatlah bahwa Zat Allah tidak sama dengan manusia yang mudah repot dan lelah, Allah selalu terjaga dari semua kelemahan itu… Allah yang menjaga semua bintang-gemintang di langit hingga tidak betabrakan, dan Allah yang mengatur jalannya siang maupun malam sehingga tepat waktu. Kemudian, Allah menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya di barat… Itu semua Allah lakukan dengan kuasaNYA… Ingatlah bahwa akal manusia tidak akan pernah sanggup menembus tabir zat Allah, maka dari itulah kita menyebutnya Tuhan! Wallahuallam Wibisawab!”

“Ah persetan dengan segala ocehanmu!” bentak pria tua yang berpakaian serba hitam berkalung tengkorak kecil ini dengan dada kembang kempis menahan amarahnya.

Saat itu tiba-tiba datanglah seorang pria dengan seluruh tubuh hangus menghitam oleh luka bakar sambil menjerit-jerit minta tolong dengan amat kesakitan sampai akhirnya jatuh tersungkur tak bernyawa lagi, semua warga yang ada di sana pun langsung terkejut melihatnya. Ki Dukun pun langsung berlari dan melihat sekujur tubuh pria yang tewas dengan luka bakar yang teramat hebat itu. “Celaka! Eyang Buta Kala murka!”

Ki Dukun lalu bangun dan menatap Ki Demang sert seluruh warga. “Jelas eyang Buta Kala murka karena kalian sudah lama tidak memberi sajen… Sekarang terserah pada kalian, kalau bencana ini akan dibiarkan terus menimpa kita semua, turututi saran Kyai Surakarna! Silakan minta tolong langsung kepada Tuhannya! Tapi kalau kalian percaya kepadaku, ikuti saranku! Segera siapkan sajen! Sembelih seekor kerbau dan bawa kepala serta darahnya untuk sajen tambahan!”

Ki Demang serta seluruh warga pun nampaknya lebih percaya kepada ucapan Ki Dukun daripada Kyai Surakarna karena mereka sedang didera ketakutan oleh peristiwa dua pembunuhan yang serba aneh ini. Mereka pun langsung kembali ke desa untk menyiapkan segala perlengkapan sajen. Kyai Surakarna beserta tiga muridnya hanya bisa mengelus dadanya masing-masing sambil membaca istighfar melihat para warga desa yang lebih mempercayai ucapan Ki Dukun.