Episode 344 - Izin



Sang mentari bersinar terik hampir tepat di atas kepala. Tak ada awan berarak, angin pun seolah enggan bertiup. Sorang anak remaja lelaki menapaki jalan terjal yang berbatu dan berdebu, sambil memanggul dua karung besar berisi semacam akar. Satu karung di pundak kiri dan satu lagi di pundak kanan. Kedua tangan menyangga agar karung-karung tetap seimbang dan tak terlepas lalu jatuh ke tanah. Rambut acak-acakan dan keringat membasahi kening, di mana debu tebal melapisi wajah. Pakaian yang ia kenakan sangat sederhana, namun kotor karena tanah dan lusuh karena sudah berhari-hari tiada disalin. 

Anak remaja lelaki ini baru saja menuruni lereng Gunung Istana Dewa. Gunung berapi tersebut dikelilingi oleh empat kota yang merupakan bagian dari Perguruan Gunung Agung. Kota Tugu, Kota Candi, Kota Sanggar dan yang kini menjadi tujuan si anak remaja adalah Kota Gapura. 

“Berhenti!” Seorang lelaki dewasa muda bertubuh gempal membuka telapak tangan yang terdiri dari jalinan jemari gemuk ke arah depan. Di balik tubuhnya, adalah sepasang pintu gerbang nan besar lagi megah. “Ini adalah kediaman Sesepuh Kedua, salah seorang dari Tri Baghawan Agung!” 

Sebagaimana diketahui, keempat kota di Perguruan Gunung Agung dikepalai oleh Punggawa Kota. Sedangkan dalam hal pengajaran keahlian, Perguruan Gunung Agung membagi displin ilmu dalam Kejuruan Persilatan, Kejuruan Kesaktian dan Kejuruan Keterampilan Khusus. Setiap satu Kejuruan dibina oleh seorang sesepuh utama Perguruan. Mereka yang dikenal sebagai Tri Baghawan Agung, yaitu: Sesepuh Kedua, Sesepuh Ketiga dan Sesepuh Keempat. Jabatan mereka berada di atas Punggawa Kota. 

“Tidak sembarang murid diperkenankan masuk!” lanjut seorang lagi yang datang menghampiri. Tubuhnya kurus tinggi. “Enyahlah!” 

Anak remaja lelaki itu menghentikan langkah dan menurunkan kedua karung yang ia panggul. Karena sudah berhari-hari menghabiskan waktu di gunung, ia kelelahan sehingga salah satu karung terlepas dan jatuh berdebam menghantam tanah. 

“Aku datang hendak menghadap Sesepuh Kedua demi mengantarkan dua karung akar tumbuhan siluman dari Pohon Majegau Wangi.” Anak remaja itu berujar santai sembari melirik ke arah karung. 

“Kau…?” Lelaki dewasa bertubuh gempal mencibir. “Tumbuhan siluman Pohon Majegau Wangi sangatlah langka. Bagaimana mungkin murid rendahan sepertimu dapat mengumpulkan akarnya dalam jumlah sebanyak itu…?”

“Heh… Lagipula, untuk apa engkau membawa akar tumbuhan siluman itu…?” timpal lelaki dewasa muda kurus tinggi.

“Izinkan aku menghadap Sesepuh Kedua.” Anak remaja lelaki itu tak bergeming. 

“Enyahlah!” tegas lelaki dewasa muda bertubuh gempal. Geram, ia lantas melangkah maju dan hendak menendang salah satu karung…

“Brak!” 

Tendangan sapuan bawah melibas kaki. Lelaki dewasa bertubuh gempal serta merta terjatuh ke tanah. Akan tetapi, segera ia bangkit. 

“Kurang ajar!” teriak lelaki dewasa muda kurus tinggi yang merupakan sesama penjaga gerbang. Mereka pun sontak menyerang secara bersamaan.

“Aku tak akan melakukan tindakan seceroboh itu…,” tetiba terdengar suara menyela. Seorang remaja lain sedang berdiri dan bersandar pada tembok. Ia menyilangkan lengan di depan dada, dan di sela bibirnya seutas bunga ilalang bergerak-gerak dimainkan angin. Pakaian yang ia kenakan sangatlah khas, bersih berwarna seputih salju. Raut wajahnya sangat tampan dengan rambut belah tengah setengah menutup mata. Aura menyibak layaknya seorang bangsawan dari keluarga tersohor. 

“Murid Utama Aji Pamungkas!” Kedua penjaga gerbang yang terperangah serempak menghentikan langkah. 

Tokoh yang disanjung sebagai Murid Utama Aji Pamungkas menjawab dengan menyeka rambut belah tengah ke arah belakang. “Berterimakasihlah kepadaku wahai dua penjaga gerbang,” ujarnya sembari menghampiri.

“Berterima kasih…?” 

“Atas dasar apa…?”

“Kalian baru saja hendak menyerang seorang Putra Perguruan.”

“Putra Perguruan…?” Keduanya melontar pandang ke arah anak remaja kotor dan lusuh, yang penampilannya terlihat tak jauh berbeda dengan karung-karung nan tergeletak di permukaan tanah.

“Dia adalah Bintang Tenggara.”

“Hah!”

Nama Bintang Tenggara sangatlah harum di Perguruan Gunung Agung. Sebagai salah satu Putra Perguruan yang memberikan predikat kedua tertinggi pada Kejuaraan Antar Perguruan, siapa yang tak mengenal nama tersebut. 

“Tidak bisakah engkau menghindari kesalahpahaman dengan menyebutkan nama dan tujuan kedatanganmu…?” Aji Pamungkas kini berujar kepada sahabatnya. 

“Aku hendak mengantarkan akar tumbuhan siluman Pohon Majegau Wangi kepada Sesepuh Kedua…,” ujar Bintang Tenggara menyadari kesalahannya. 

Kedua penjaga gerbang masih terperangah, sehingga tiada bisa berkata-kata. Menyerang Putra Perguruan di dalam Perguruan Gunung Agung, walaupun karena kesalahpahaman belaka, berarti melakukan pelanggaran besar. Bahkan, ganjaran yang diberikan dapat membuat mereka diusir dari perguruan! 

“Kau… yang gempal,” Aji Pamungkas menunjuk dengan bibir yang dihiasi bunga ilalang. “Kau memiliki adik perempuan yang bahenol… Sebagai ungkapan terima kasih telah menyelamatkan kalian dari hukuman berat, esok petang minta adik perempuanmu itu datang menghadapku.”

Bintang Tenggara melirik, mata menyipit. Betapa Aji Pamungkas tiada berubah, bahkan kini semakin menjadi-jadi. Malah, kemungkinan besar tokoh mesum itu memang sudah lama menanti dalam diam, berharap kedua penjaga gerbang melakukan kesalahan. Terpaksa diakui, bahwasanya kemampuan pengamatan tokoh tersebut semakin tajam. 

Kedua penjaga gerbang segera membungkukkan tubuh, lalu membuka pintu gerbang. Bintang Tenggara mengangkat satu karung lalu menanti Aji Pamungkas membantu membawakan karung yang satunya lagi. Akan tetapi, dengan raut wajah setengah jijik, hampir mustahil Aji Pamungkas akan membantu memanggul. 

“Putra Perguruan Bintang Tenggara, maafkanlah kekeliruan kami. Izinkan pula kami membawakan kedua karung ke dalam…” Lelaki dewasa muda bertubuh gempal dan lelaki dewasa muda kurus tinggi menawarkan bantuan demi menebus kesalahan.


Setelah berpisah dengan Aji Pamungkas yang teramat kesal karena kehilangan kesempatan memeras penjaga gerbang, Bintang Tenggara melangkah ke kediaman Sesepuh Ketujuh. Dalam perjalanan, ia memegang secarik kertas sembari menghitung. Kini, dirinya telah memperoleh empat dari enam rekomendasi yang diperlukan untuk menjadi utusan Perguruan Gunung Agung dalam pertukaran murid ke Perguruan Budi Daya di wilayah Kemaharajaan Pasundan. Rekomendasi wajib diperoleh dari tokoh sekelas Sesepuh dan Maha Guru. Masing-masing tiga rekomendasi dari Sesepuh dan tiga lagi dari Maha Guru. 

Dua rekomendasi telah diperoleh secara cuma-cuma dari Maha Guru Keempat serta Sesepuh Ketujuh. Dua purnama silam, Sesepuh Kelima yang sempat mengasuh Panglima Segantang, bersedia memberikan rekomendasi bilamana Bintang Tenggara melayani latih tarung dengan tokoh Kasta Emas tersebut. Meski babak belur dalam pertarungan berat sebelah, Bintang Tenggara berhasil menambah satu lagi rekomendasi. Rekomendasi keempat didapatkan satu purnama lalu dari Maha Guru Kesatu yang merupakan ibunda dari Canting Emas. Untuk memperoleh rekomendasi tersebut, dirinya hanya perlu duduk manis, lalu diceramahi, dimarahi, dan diteriaki tanpa alasan jelas. 

Jadi, dengan rekomendasi dari Sesepuh Kedua yang baru saja diperoleh, Bintang Tenggara telah memiliki tiga rekomendasi Sesepuh serta dua rekomendasi Maha Guru. Demikian, kini tinggal satu rekomendasi Maha Guru saja sebelum memiliki hak sebagai perwakilan Perguruan Gunung Agung di dalam ajang pertukaran murid. 

Kendatipun demikian, rekomendasi berikutnya tak akan didapatkan dengan mudah. Masing-masing Sesepuh atau Maha Guru hanya dapat memberi satu rekomendasi kepada satu murid sahaja. Sementara itu, kebanyakan Sesepuh dan Maha Guru sudah memiliki unggulan mereka masing-masing sehingga telah memberikan rekomendasi kepada murid-murid lain untuk ikut serta dalam ajang pertukaran murid. Meski persaingan tiada kentara terlihat, pada kenyataannya sengit terjadi di antara murid-murid serta Sesepuh dan Maha Guru penyokong mereka. 

Karena hanya ada satu wakil dari Perguruan Gunung Agung yang dapat ikut serta dalam pertukaran murid, maka kerumitan perihal rekomendasi ini bertambah banyak. Bahkan, tawar-menawar antar sejumlah Sesepuh dan Maha Guru demi meloloskan murid unggulan pun berlangsung sengit. Kendatipun ada sejumlah Sesepuh atau Maha Guru yang berlaku netral kepada para murid, dengan memberikan tugas tertentu sebelum memberikan rekomendasi, jumlahnya tak banyak. Kemampuan dasar adalah yang menjadi dasar sokongan para Sesepuh atau Maha Guru jenis ini.

Tenggat waktu pengumpulan rekomendasi hanya tinggal sepekan lagi. 

“Bagaimana…?”

Bintang Tenggara ditarik kembali dari dunia lamunan. Di hadapannya, adalah Sesepuh Ketujuh yang sedang melemparkan sejumlah dedaunan dan akar ke dalam tempayan besar berisi cairan kental. Cairan di dalam tempayan tersebut senantiasa dijaga suhu kehangatannya oleh api kecil di bagian bawah. Di dalam tempayan, tubuh lemah Si Kancil direndam. Langkah ini diambil oleh Sesepuh Ketujuh demi menjaga agar luka bakar di sekujur tubuh binatang siluman itu tak memburuk. Upaya ini bersifat sementara. 

“Diriku baru saja mendapat persetujuan dari Sesepuh Kedua. Tinggal satu lagi sokongan dari seorang Maha Guru.”

“Tenggat waktu semakin dekat…” Perempuan setengah baya tersebut berjongkok, menambahkan arang hitam agar nyala api di bawah tempayan berkesinambungan. 

“Yang Terhormat Sesepuh Ketujuh, apakah ada Maha Guru lain yang belum memberikan sokongan…?” Bintang Tenggara berujar penuh harap. 

“Menurut hematku, memang ada sejumlah Maha Guru yang belum memberikan sokongan. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka sedang mengasingkan diri dalam tapa. Beberapa lagi menetapkan prasyarat yang terlalu rumit, bahkan tak mungkin dijalani oleh murid Kasta Perak.”

“Apakah ada murid lain yang telah melengkapi enam sokongan…?”

“Belum ada…,” sergah suara nyaring memasuki ruangan. “Termasuk engkau, hanya ada tiga murid lain yang telah memiliki lima sokongan.” Seorang gadis belia, dengan tubuh ramping dan rambut dikepang panjang memasuki ruangan. Ia membungkuk ke arah Sesepuh Ketujuh, lantas menoleh kepada Bintang Tenggara. 

“Bagaimana dengan peluang mereka…?” lanjut Bintang Tenggara penuh harap.

“Engkau mungkin perlu mempertimbangkan memberi dari pasar gelap. Meski tak ada kepastian, tetapi bila kita mengumumkan kesediaan membeli tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang dengan harga tinggi, tentunya akan ada yang menyanggupi.” Canting Emas berujar datar. 

“Tindakan tersebut hanya akan menyulut semangat para penyamun untuk bertindak. Kalian dapat memicu pertumpahan darah dari mereka yang tak bersalah…” Sesepuh Ketujuh menanggapi gagasan ceroboh gadis belia itu. 

Bintang Tenggara bukan tak terpikirkan akan pilihan tersebut. Akan tetapi, senada dengan kata-kata Sesepuh Ketujuh, ia tak hendak ada korban dalam upaya mendapatkan bahan dasar ramuan. 

Canting Emas mendengus. “Ada seorang Maha Guru yang belum memberikan sokongan kepada sesiapa pun…” 

“Siapakah gerangan…?”

“Maha Guru Kesebelas.”

“Di manakah beliau?”

“Maha Guru Kesebelas adalah salah satu Pembina di Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel.”

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Ia tak mengenal Maha Guru Kesebelas, akan tetapi sama sekali tak hendak berurusan dengan Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel. Di sana, bercokol seorang Guru Muda yang paling menyebalkan sedunia. “Apakah tak ada pilihan lain…?”

“Jikalau engkau hendak melaksanakan tugas yang mustahil, aku bisa menyebutkan beberapa nama Maha Guru…”

“Bagaimana dengan teman-teman Maha Guru Kesatu…?”

“Ibundaku tak memiliki banyak teman… dan sebaiknya kau tak berutang budi kepada perempuan itu…”

“Meski tak begitu mengenal secara pribadi, diriku pernah mendengar sepak terjang Maha Guru Kesebelas. Beliau sangat berwawasan dan terkenal adil. Tak ada salahnya berkunjung ke Kota Sanggar…,” saran Sesepuh Ketujuh. 


Selang beberapa hari kemudian, Bintang Tenggara menghabiskan waktu dengan mendatangi beberapa Maha Guru yang belum memberikan rekomendasi. Memang sesuai dengan kata-kata Sesepuh Ketujuh dan Canting Emas, permintaan mereka sungguh tak masuk di akal. Ada yang menuntut lahar membara dari kawah Gunung Istana Dewa, ada pula yang meminta disuguhi lukisan langka berjudul ‘Paras Ayu’ karya ahli ternama yang tak diketahui keberadaannya. Terakhir, karena mengetahui jati diri Bintang Tenggara, malah ada yang meminta kesempatan dipertemukan dengan Balaputera Ragrawira. Sungguh rangkaian permintaan yang sangat tak masuk di akal!

Waktu yang tersisa semakin sempit, hanya dua hari jelang tenggat waktu pengumpulan rekomendasi. Dengan berat hati Bintang Tenggara melangkah di antara gerbang Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel di Kota Sanggar. Tak lupa ia menebar mata hati, mencermati kalau-kalau ada sosok bejat yang dapat muncul secara tiba-tiba dan tanpa disadari. 

Pada salah satu balai, terlihat seorang Guru Muda sedang memberi perkuliahan. Menyadari kedatangan Bintang Tenggara, tokoh tersebut segera merampungkan paparan, yang ditanggapi dengan keluh kecewa segenap murid. Baru kali ini Bintang Tenggara menyaksikan perkuliahan di mana para murid bergerombol banyak dan begitu terkesima kepada sosok seorang Guru Muda. Guru Muda penipu pula. 

“Murid Utama Bintang Tenggara, sungguh sebuah kehormatan.” Balaputera Khandra mendatangi sembari menebar senyuman ramah dan sumringah, “Angin manakah yang berhembus sehingga membawa dikau datang bertandang di hari nan cerah…?”

“Aku tak ada urusan denganmu. Aku datang hendak bersua dengan Maha Guru Kesebelas,” ucap Bintang Tenggara tak hendak berbasa basi.

“Oh…? Atas tujuan apakah gerangan…?”

“Bukan urusanmu.”

“Dikau sedikit terlambat… Maha Guru Kesebelas baru beberapa hari yang lalu mengasingkan diri dalam tapa. Beliau tiada dapat diganggu.”

Bintang Tenggara tertegun. Terlintas di dalam benaknya duduk di atas pundak binatang siluman Elang Laut Dada Merah pinjaman dari Canting Emas. Hembusan angin menerpa wajah dan mengibas rambut tatkala ia dibawa terbang menuju kawah berapi Gunung Istana Dewa. Andai saja dirinya memiliki tempat penampungan di mana lahar membara dapat ditempatkan tanpa mengurangi kadar panasnya, maka sudah ia lakukan tugas tersebut tanpa setitik pun keraguan. Kecewa, si anak remaja lantas memutar tubuh. 

“Akan tetapi, Sesepuh Kesebelas memberikan sebagian wewenang kepada diriku…”

Bintang Tenggara menghentikan langkah. “Maksudmu…?” 

“Misalnya, atas nama beliau, diriku berwenang memberi sokongan terhadap murid yang hendak ikut serta di dalam ajang pertukaran murid.”

Bintang Tenggara menyipitkan mata. Dari mana Balaputera Khandra memperoleh pengetahuan tersebut...? Apakah tokoh itu sengaja memata-matai…? Kemungkinan besar adalah demikian adanya. Namun, atas tujuan apa...? Perintah siapa…?

“Apa permintaanmu…,” gerutu sang Yuvaraja, Putra Mahkota dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Meski, nada bicaranya sejenak melunak.

“Sederhana…”

“Tak perlu berbasa-basi. Katakan saja…”

“Izinkan diriku mencoba mengurai formasi segel yang dirapal oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa terhadap dikau.”



Cuap-cuap:

Lupa. Karena keasyikan berlibur, Ahli Karang kesayangan terlupa menyetor episode pada Senin lalu. Mohon maaf lahir dan batin.