Episode 51 - Rampogan!


Arca-Arca bertahan

Bura-Bura melawan

Arca-Arca senantiasa

Bura-Bura kelak tiada

Arca-Arca dalam diam

Bura-Bura kelak silam

Arca-Arca tetap ada

Bura-Bura kelak sirna

Arca-Arca kerbau menang

Bura-Bura macan tumbang

—Lagu perlawanan Arcapada “Palagan Rampogan” yang populer setelah Ratu Indrani wafat, dilarang keras dinyanyikan di delapan penjuru Nagart


Ada dua hal yang membuat Hikram amat marah untuk saat ini. Pertama, diseret ke alam gaib merupakan pengalaman yang belum pernah dirasakannya, dan Hikram akui, dia sama sekali tidak menyukainya dan tak ingin mengulangi hal itu meski diganjar emas sekalipun. Kedua, kalau ini benar alam gaib … Hikram mengawasi sekitar dengan was-was. Di mana kiranya iblis-iblis pengabdi Naraca yang mendiami tubuhnya?

“Ini diluar dugaanku,” sempat-sempatnya Yaksa mengutarakan hal yang sudah jelas. “Aku belum memberikan ijinku, tapi kau tarik aku dan saudariku ke alam ini. Kembalikan kami ke Pemukiman sekarang! Aku tidak—”

“Pemimpin kawananmu sudah menyatakan persetujuannya,” Katis berkata enteng, ibu jarinya mengedik pada Hikram yang balas mendelik sebab tak mau dijadikan korban dalam pembicaraan tak bermutu ini, “ijin darinya itu sudah cukup bagiku.”

“Kau anggap kami ini apa, gerombolan serigala yang musti menuruti kehendak pemimpin? kami ini manusia, Pemburu!” kata Yaksi ikut nimbrung. Tak ayal lagi, nama “kawanan” untuk menyebut hubungannya dengan Hikram dan dua orang lainnya amat mengganggunya.

“Interaksi dengan manusia terasa sulit bagiku,” Katis berkata sambil lalu, lantas menarik satu anak panah bersulur dan memasangkannya pada busur, sembari menarik-narik busur panjang itu untuk melenturkannya agar saat ditarik penuh tidak putus atau patah. “Jadi biar kukatakan ini, Nona Bayangan: semakin lama kita membuang udara untuk bicara, semakin lama kalian menunda-nunda untuk kembali ke Layu. Maka bantulah, kalau kalian benar-benar mau pulang.”

Semuanya diam, termasuk Hikram. Ia tak senang dengan perkembangan baru ini, terlebih karena Katis kini mengambil alih kendali atas semuanya. Ia menyesali sesumbarnya, merasakan pahit sebab terlalu cepat bicara. Tapi, memaksa Katis untuk memulangkannya justru bisa jadi hal berbahaya. Pemburu ini sepertinya pantang pulang sebelum lawan tumbang, dan memaksanya malah bisa mendatangkan hasil yang paling ditakutkannya, yaitu terjebak di alam gaib ini tanpa ada yang bisa menunjukkan jalan pulang.

Katis melangkahkan kaki, bahkan tidak menoleh lagi, seolah-olah sudah amat yakin bahwa mereka akan mengikutinya. Dengan kesal, Yaksa membuntuti, kakinya yang kini jadi baja putih melesak ke dalam tanah setiap jengkal langkahnya, sementara Yaksi yang berada dibelakangnya menggerutu, asap yang senantiasa menyelimuti tubuhnya sejak sampai ke alam gaib ini sejenak berubah jadi lebih pekat daripada biasanya.

Hikram menyusul mereka, menarik lengan Sidya sekalian, sebelum berpaling padanya. “Nak, bagaimana hubunganmu dengan Lautan sekarang? Terputus, atau justru menguat?”

“Kenapa guru tanya?” Sidya masih sibuk mengelus rambutnya, sepertinya perhatiannya tak bisa lepas dari situ.

Hikram merendahkan suara supaya Katis yang berada paling depan tak bisa mendengar, “Supaya aku tahu apa kita bisa ambil jalan pintas lewat … uh, Lautanmu.”

Sidya coba-coba membuka telapak tangannya. Berlainan dengan di alam fana tempatnya berasal, hawa murni di sini dapat terlihat oleh mata telanjang. Buktinya, tangan Sidya mengepulkan uap putih, yang bergelung memutari telapaknya. Jadi itu bentuk hawa murni sebenarnya?

“Masih ada, guru. Tak ada bedanya.”

“Dan kita bisa masuk ke sana?” Hikram bertanya mendesak.

Sidya berpikir-pikir sebentar, sebelum mengutarakan pendapatnya, “kurasa tidak. Udara Pagi-ku keluar dari Lautan, guru. Keluar, bukannya masuk. Aku tak tahu bagaimana cara melakukan tarikan, yang kubisa hanya dorongan.”

“Jadi begitu,” Hikram mengangguk. Cukup mengecewakan, tapi kalau menyandarkan semua pada Lautan Sidya juga tak adil namanya. Ternyata—seperti hal-hal yang pernah ia rasakan sepanjang hidup— melewati ini semua tak akan mudah. Tak ada pilihan selain menuruti Katis dan kehendaknya.

Setelah menyusuri lebatnya hutan dengan daun-daun teramat hijau, terdapat dua jalan bercabang, dan Katis tanpa bicara menggerakkan busurnya untuk menunjuk ke jalan yang dikiri-kanannya terdapat sesemakan mawar indah serupa taman. Jalan satunya amat mulus, seperti sengaja dirawat oleh manusia dengan bunga-bungaan yang mirip sekali bunga melati, tapi berhubung Katis menunjukkan arah satunya, mau tak mau Hikram harus mengikutinya.

Mendadak, tanpa peringatan Katis melesat menembus sesemakan, berlari cepat, menyeruak rimbunnya semak mawar hitam berduri, bahkan tak peduli meski busurnya tersangkut-sangkut. Ia tak berlaku hati-hati, dan sangat cepat sehingga membuat para pendampingnya baru sadar dari keterkejutan saat suaranya menyeruak semak itu hampir tersamar.

Jelas tak mau tertinggal dari satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka dari nasib buruk yait terjebak selamanya di alam gaib, si kembar langsung mengikutinya bahkan tanpa banyak cakap, sementara Hikram mendorong punggung Sidya, menyuruhnya untuk menyusul keduanya supaya dia jadi yang paling akhir saja. Siapa tahu ada binatang lain yang jauh lebih berbahaya dari si monyet bersayap tadi. Ini alam gaib, Hikram tak tahu apakah aturan dasar dunia fana berlaku pula di sini, tak ada yang tahu apakah ada kemungkinan akan munculnya sesuatu dari udara kosong, maka tak ada salahnya untuk berhati-hati.

 “Demi Palu Baja milik Dewa Katili,” Yaksa berucap tertahan, terdengar begitu nelangsa sehingga Hikram mempercepat langkah menyusulnya, mengeluarkan gumam tak sabar sebab berkali-kali pakaian kebesaran milik Sidya menyangkut di berbagai batang bunga mawar berduri.

Ketika sampai di tujuan, tahulah Hikram apa yang menyebabkan Yaksa mengeluh seperti itu. Di sana, dengan jarak ratusan langkah, lebatnya hutan langsung berakhir, seperti sesuatu yang dipotong melihat betapa rapinya batas hutan yang kini digantikan oleh padang dengan rumput-rumput panjang berwarna coklat muda, mirip-mirip seperti di stepa utara.

Memang ada kerbau di sana, dalam jarak ratusan langkah. Tapi, jumlahnya bukan hanya satu, melainkan ribuan. Memang ukurannya lebih kecil dari kerbau raksasa yang oleh Katis dipanggil sebagai Raja Kerbau, tapi dari jumlahnya saja sudah mampu membuat orang ternganga. Kerbau ternak tak biasanya bertingkah bergerombol seperti ini, kecuali yang telah lama hidup di alam. Kerbau ini mirip sekali banteng yang dijinakkan, yang berarti sifat-sifat kebantengan para kerbau ini telah bangkit. Semuanya sedang merumput dengan santainya seolah tak ada apa-apa, hitamnya badan mereka amat mencolok diantara coklatnya rerumputan. Kerbau-kerbau tersebut berbentuk seragam, mirip dengan Si Raja sendiri, dengan tanduk empat dan mata sekelam malam.

“Dia bersembunyi di antara rakyat-rakyatnya,” Katis mendengus. “Mengecilkan diri rupanya, supaya bisa menyamar. Pintar, tapi tak ada yang terlalu pintar untukku.” Anak panah yang tetap dijaganya terpasang kini ditarik bersama tali busur, Hikram bahkan bisa lihat urat-uratnya menonjol dalam usahanya, tepat dibalik kulitnya yang kini semirip kulit pohon.

Tapi bahkan tangannya tak tergetar saat ia menarik sekuat tenaga.

“Jarak mereka amat jauh,” Hikram menyangsikan. Dia tak yakin apa anak panah itu bisa tepat mengincar si Raja, bukannya mengenai kerbau lain yang Katis sebut sebagai “rakyat”-nya. Apalagi, dengan jarak seperti ini, bahkan ahli busur istana pun ia cukup ragu apa mereka mampu mengenai incarannya. Hikram sendiri penasaran yang manakah dia, berhubung rupa mereka semuanya sama, juga mata tuanya tak cukup membantu.

“Jauh, Awatara? Kau pikir aku tak bisa mengincar kutu di salah satu punggung kerbau-kerbau itu?” Katis bertanya, dan untuk sekali ini, seringai muncul di bibirnya, sesuatu yang cukup dekat dengan senyuman, walau malah membuat Hikram merasa tak nyaman dan malah membuatnya berharap Katis kembali pada sikap datarnya. “Apa-apa yang tertangkap oleh mataku, kupastikan bisa kuhantam. Karena aku—” matanya memicing, mengincar, “—adalah—” ia melepaskan anak panah, busurnya berbunyi, “—Pemburu—” anak panah bersenandung membelah udara, cepat dan tak ada yang mampu menghentikannya, “Hutan Layu!”

Clep! Sebuah lenguh penuh rasa sakit terdengar keras dari tengah-tengah gerombolan kerbau itu. Lenguhan penuh derita itu disambut ratusan lainnya, menimbulkan semacam paduan suara alam liar yang amat mengerikan.

“Biar aku tebak,” teriak Hikram keras untuk menandingi lenguhan yang masih bersahut-sahutan, sembari dalam hati mengutuk diri sendiri kenapa sebodoh ini dan tidak membaca gelagat Katis sedari tadi, “kau menggiring mereka menuju kita, bukan?!”

Seringai Katis yang makin lebar sudah cukup sebagai jawaban. Tapi ia malah menyongsong gerombolan kerbau itu, yang kini bergerak-gerak panik seperti memusar, gerak kuat kaki-kaki mereka menimbulkan gemuruh kecil serta menerbangkan debu-debu ke angkasa. Memang pada awalnya mereka akan menyongsong Katis yang dengan tolol malah menuju arah mereka, tapi sepertinya di tengah jalan, mereka berubah pikiran.

Lenguhan-lenguhan marah berubah jadi kepanikan.

“Satu anak panah tak bisa mengejutkan, apa lagi membuat takut ribuan kerbau, Awatara!” teriak Katis lantang, terlihat amat gembira seperti anak kecil menerima manisan. Dia melempar pandang ke sisi hutan yang lain, “tapi satu sosok Raja Macan bisa!”

Hikram menengok ke arah yang dilihatnya pula. Ada seekor macan muncul dari sana, memang. Tapi, ciri apa yang mengatakan bahwa ia adalah Raja Macan tak kelihatan untuk saat ini, ia sama dengan harimau-harimau lain yang pernah disaksikan oleh Hikram. Malahan, macan ini kelihatan kurus, seperti jarang makan, bulunya yang anggun pun tak mampu menutupi resam tubuhnya yang kerempeng hingga tulang-tulangnya menonjol. Macan itu menggerung, menunjukkan taring, sementara Katis mengayun-ayunkan busurnya pada si macan untuk menunjuk pada kawanan kerbau.

Ini mungkin hanya bayangan Hikram saja, tapi sepertinya macan itu menganggukkan kepala tanda mengerti, lantas menyongsong ribuan kerbau yang kabur ke arah lain. Di tengah jalan, makin kelihatan bahwa memanglah ia si Raja Macan. Badannya membesar, terus membesar, hampir sebanding dengan ukuran Raja Kerbau, kumisnya yang sudah mengintimidasi kini bertumbuh seperti ujung tombak besi yang teramat tajam, kuku-kukunya sepanjang pedang dan Hikram yakin bisa mencabik seseorang hanya dengan satu cakaran malas darinya.

Sementara itu, ada satu kerbau yang melawan arus. Ketimbang lari, ia kini menghadang Raja Macan, keempat kakinya menghentak garang. Mata kerbau ini picak, mengeluarkan darah, dan di sana pula ada sebuah anak panah yang tak diragukan lagi dilepaskan oleh Katis.

Si Raja Kerbau. Ia bahkan tak berproses untuk kembali ke wujud aslinya, melainkan langsung mendebam, menandingi si harimau dari segi ukuran lantas merangsek sembari menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan kanan siap menyambut. Raja bertemu Raja, mereka siap untuk beradu senjata anugerah dari alam sendiri. Keliaran, melawan keliaran. Tanduk, melawan taring. Pemburu, melawan buruan.

Sesaat sebelum kedua Raja berhantaman, Hikram terlalu sibuk mengawasi kedua binatang raksasa dengan mulut ternganga. Dia bahkan tak sadar saat Katis mendekat lantas menarik lengan Sidya dengan kasar, wajah si pemburu yang ekspresinya berubah-ubah hingga tak terkatakan sungguh tak bisa dibilang manusiawi lagi. Katis berkata pada Sidya, keras-keras hingga ludahnya berhamburan, “Nenek moyangmu juga suka melakukan ini, kau tahu? Arcapada busuk mengadu binatang hanya untuk membuktikan bahwa kerbau—yang disimbolkan sebagai mereka—akan menang melawan harimau, menang melawan keganasan nenek moyangmu satunya, Burazhong penjajah! Saksikan, Putri! Dan lihat kenyataan apa yang akan kau temukan dari pertunjukan alam liar ini!”

Katis berjongkok dibelakangnya, memegangi kedua pelipisnya untuk memaksa wajah Sidya menatap ke kedua binatang yang menyongsong satu sama lain, dan tak ada yang bisa si putri kecil lakukan untuk menghindari paksaan itu. Matanya melebar, terus melebar, mau ditutupnya, tapi tak bisa.

Dan keduanya benar-benar bertumbukan.

—