Episode 73 - Kesulitan Raon dan Tinju Tirani



Sementara Gop sudah berhasil mengambil alih tubuh Tomas, Raon masuk ke tubuh seorang untuk mengambil alih. Ketika Raon masuk, dia melihat sekeliling dan menemukan tempat di mana dia berada sangat aneh. Tekstur permukaannya tidak kokoh, karena kakinya langsung terbenam ketika dia menginjaknya.

Raon menyentuh permukaan tanah berwarna cokelat di bawahnya dan menemukan bahwa dia tidak tahu apa itu, tanah itu tidak seperti lumpur meskipun berwarna cokelat, tapi seperti sebuah air, tapi sedikit lebih keras.

Dahi Raon tertekuk dalam kebingungan, tapi dia cukup penasaran dengan benda apa sebenarnya itu. Sayap gagak di punggung Raon membentang dan dengan santai dia terbang untuk memeriksa sekitar, Raon mencoba menyentuh permukaan tanah lainnya, tapi untuk yang kali ini bukan berwarna cokelat, tapi putih. Setelah dia menyentuhnya, Raon menemukan bahwa tanah itu sama rapuhnya dengan yang sebelumnya, satu-satunya faktor pembeda hanya warnanya.

Raon melihat sekeliling dan menemukan tempat ini memiliki struktur permukaan yang sama, jadi dia berhenti mencoba mencari tahu, karena Raon dapat menyimpulkan bahwa semuanya pasti sama. 

Dengar teliti, Raon melirik ke salah satu ujung tempat, di sana berdiri sebuah rumah kecil sederhana, Raon yakin jiwa pemilik tubuh ini pasti ada di sana, jadi dengan kecepatan yang sedang dia mencoba mendekatinya, lagipula dia tidak terburu-buru. Meskipun mereka hanya di beri waktu tiga hari, tapi Raon tidak terlalu peduli. Dia lebih ingin melihat bagaimana dunia manusia sebenarnya.

Namun, ketika Raon mendekati rumah tersebut, tiba-tiba dari permukaan tanah yang rapuh itu terbentuk sebuah mahluk raksasa. Bentuknya sangat sederhana, bahkan tangannya tanpa jari. Itu benar-benar seperti sebuah boneka yang dibuat dengan asal oleh anak kecil.

Setelah melihat bahwa Raon mencoba mendekati rumah, mahluk raksasa itu dengan segera menggunakan tangannya untuk meninju Raon. Meskipun mahluk raksasa itu sangat besar, tapi Raon menemukan bahwa dia cukup cepat. Namun, meskipun begitu, Raon tidak berusaha untuk menghindarinya, karena Raon cukup yakin, mahluk itu hanya besar, tapi rapuh, seperti permukaan tanah yang sebelumnya dia sentuh.

Tangan Raon mengepal, lalu dengan santai dia melayangkan tinju tepat pada tinju mahluk itu, kedua tinju saling berhadapan dan dalam sekejap mahluk raksasa itu langsung hancur. Pemikiran Raon sebelumnya benar, mahluk itu sangat rapuh. Karena dia tercipta dari es krim.

Raon belum pernah melihat es krim sebelumnya, jadi wajar saja dia tidak tahu permukaan tanah itu apa, tapi itu sebenarnya itu adalah es krim. Benar, semuanya yang ada di sini tercipta dari es krim. Kecuali rumah kecil yang dilindungi oleh mahluk raksasa tersebut, rumah itu tercipta dari roti tawar.

Seketika setelah mahluk raksasa itu hancur, tanah es krim bergetar kembali dan dua mahluk raksasa berwarna merah muda dan kuning tercipta. Yang berwarna merah muda adalah es krim strawberry, sedangkan yang berwarna kuning adalah es krim pisang. Mereka berdua tanpa menunggu lebih lama lagi langsung melayangkan tinju raksasanya dan menyerang Raon, mencoba menjauhkannya dari rumah kecil tersebut.

Namun, serangan kedua mahluk raksasa itu tidak membuat Raon gentar, dengan santai dia terbang ke samping untuk menghindari serangan tersebut. Memang benar bahwa mahluk raksasa itu cepat, tapi tidak cukup cepat untuk membuat Raon dalam posisi tidak mampu menghindar. Dengan manuver yang sangat lihai, Raon melayangkan tinju pada salah satu mahluk raksasa dan seketika mahluk itu hancur. 

Kemudian, dengan langkah yang sama Raon berhasil menghancurkan mahluk raksasa lainnya. Itu bahkan tidak bisa di anggap sebagi pertarungan, melainkan pembantaian.

Namun, tanpa Raon sadari dari arah belakangnya tercipta tiga mahluk raksasa lagi dengan warna merah muda, hijau, dan cokelat. Ketiga mahluk raksasa itu tak menahan diri dan langsung melayangkan tinjunya pada Raon.

Serangan itu begitu tiba-tiba dan Raon tidak pernah menyangka serangan itu, dia terkena hingga membuat dia terlempar jatuh. Raon bangkit dan menatap penuh benci pada mahluk raksasa tersebut, dengan cepat dia membentangkan sayap gagak di punggungnya. Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi Raon bermanuver cepat seraya menghindari mahluk raksasa yang mencoba untuk menginjaknya.

Dengan tinju yang terkepal, Raon menyerang salah satu mahluk raksasa itu dan seketika mahluk raksasa tersebut langsung hancur. Lalu dengan cepat Raon berpindah untuk menyerang mahluk raksasa kedua dan ketiga, mereka berdua benar-benar hancur hanya dengan satu pukulan Raon. Meskipun begitu, dengan cepat permukaan es krim bergetar dan kembali terbentuk mahluk raksasa dengan warna yang berbeda, kali ini mereka berjumlah empat.

Kali ini Raon tidak langsung menyerang, dia mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi, ke ketinggian di mana dia tidak akan bisa diserang oleh mahluk raksasa tersebut. Kali ini, kemarahannya redam dan kepalanya telah dingin kembali.

Raon menyadari sesuatu, yaitu jumlah mahluk raksasa itu akan bertambah setiap kali dia menghancurkannya. Jika Raon terus melanjutkan seperti ini, maka tidak akan lama sampai jumlah mahluk raksasa itu tak mampu lagi Raon hadapi sendiri. 

Jadi, kali ini Raon tidak menyerang mahluk raksasa tersebut, dia bermanuver seraya menghindari serangan mahluk raksasa tersebut. Meskipun serangannya cukup cepat, tapi Raon masih mampu menghindarinya. Yang lebih merepotkan adalah jumlah mahluk tersebut, jika seperti diawal yang hanya berjumlah satu, maka akan sangat mudah untuk langsung menuju rumah kecil itu. Namun, dengan jumlah mereka saat ini, itu sedikit merepotkan, apalagi Raon tidak dalam kekuatan penuhnya.

Setelah menghindari empat mahluk raksasa, akhirnya Raon tepat di depan rumah kecil tersebut, akan tetapi tiba-tiba saja tanah bergetar kembali dan satu mahluk raksasa dengan cepat tercipta di depannya dan langsung menyerangnya.

Raon terlempar dengan serangan mendadak ini, hatinya dipenuhi dengan rasa asam. 

Apa-apaan ini? Kenapa sangat sulit? Apakah semua manusia sesulit ini ditaklukan?

Raon mengomel di dalam hatinya, tapi dia tidak bisa terus bersantai karena empat mahluk raksasa sebelumnya kembali mengarahkan tinjunya kepada Raon dan membuat Raon semakin kesal.

Sementara itu, di dalam rumah kecil tersebut, berbaring sesosok perempuan dengan gaun berwarna biru. Matanya tertutup dan ekspresinya terlihat sangat tenang. Wajahnya sangat cantik dengan kulit yang seputih salju. Pipinya berwarna kemerahan dan bibirnya tertutup rapat.

Dia terlihat seperti dewi, yang kebetulan sama seperti julukannya, dewi di sekolah, Alice.

***

Tomas terbangun. Kini meskipun tidak ada yang berubah dari penampilannya, akan tetapi jiwa yang mengendalikan tubuh itu adalah Iblis bernama Gop. Gop terbangun dan duduk di pinggir kasur. Gop mencoba tubuh barunya, lalu kemudian dia melepas semua pakaiannya dan berjalan ke pojok ruangan, dengan cermat melihat pantulan tubuh barunya.

Tidak terlalu buruk, tapi apa-apaan yang menggantung di kakinya ini? Terlihat sangat menjijikan!

Gop kembali memakai pakaiannya dan berjalan keluar. Gop tidak tersesat, karena dia mengetahui dengan jelas semua detail rumah dengan melihat ingatan dari Tomas. 

Akhirnya Gop sampai di halaman belakang rumah, di sana terdapat tanah kosong, tempat biasa Tomas berlatih. Di salah satu sisi terdapat sosok boneka kayu yang telah dilapisi dengan kain tebal. Boneka kayu tersebut biasa digunakan Tomas sebagai objek latihannya untuk tinju petir.

Gop melihat bagaimana Tomas menggunakan tinju petir dan mencoba menirunya. Tapi, tinju petir kali ini telah Gop lapisi dengan energinya.

Bam!

Boneka kayu lusuh itu hancur berkeping-keping. 

Gop tersenyum tipis, dia telah meyakinkan pemikirannya. Dia masih bisa menggunakan energinya, dengan ini Gop tidak akan khawatir lagi. Tidak mungkin ada manusia yang bisa membahayakannya. Namun, energi di sini sangat tipis, jadi tidak akan mudah untuk mengisi kembali energinya. Karena itu, Gop mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu boros dalam menggunakan energinya. Kecuali dalam situasi bahaya, maka Gop tidak akan menggunakannya. 

Gop tidak terlalu yakin, tapi dia merasa kekuatan tubuh barunya cukup hebat, jadi dia tidak akan terlalu khawatir untuk mengalahkan manusia hanya dengan kekuatan tubuh barunya saja.

Tiba-tiba suara langkah cepat terdengar, lalu Gop melihat ke arah suara itu dan menemukan Gerral yang melihatnya dengan wajah yang terkejut. Dari ingatan Tomas, Gop dapat mengetahui Gerral adalah adiknya. 

“Ada apa?” tanya Gop.

“Tadi aku mendengar suara keras, jadi aku terbangun dan langsung ke sini.” Jelas Gerral.

“Oh, maaf, tadi aku sedang latihan dan tidak sengaja menggunakan terlalu banyak kekuatan dan menghancurkan boneka kayu itu.” Gop berkata seraya menunjuk boneka kayu yang kini telah berubah menjadi kepingan kayu.

“Apa? Tidak sengaja menggunakan terlalu banyak kekuatan?”

“Ya.” Jawab Gop singkat.

Gerral melihat ke kepingan kayu yang telah berhamburan di tanah dan tidak bisa menemukan boneka kayu yang sebelumnya kokoh berdiri di sana. Mata Gerral yang sebelumnya mengantuk tiba-tiba cerah dan dia langsung berlari mendekati Gop.

“Bisakah kau mengajariku jurus itu?” tanya Gerral dengan semangat.

“Jurus apa?” tanya Gop.

“Jurus yang kau gunakan untuk menghancurkan boneka kayu itu, jika aku bisa mengusai jurus itu, maka aku pasti bisa mengalahkan semua orang di turnamen nanti.” Ucap Gerral dengan buru-buru.

“Ah ... oke.” Tanpa pikir panjang Gop meng-iya-kan permintaan Gerral.

“Jurus ini sangat sederhana, pertama-tama kau harus mengumpulkan semua tenaga di tanganmu lalu melepaskan semuanya tanpa menyisakannya sedikitpun,” Gop menjelaskannya dengan santai sambil menyentuh tangan Gerral dan memasukan sedikit energinya, “tapi, kau hanya bisa menggunakannya sekali saja, coba kau serang pohon di sana.”

“Baik.” Ucap Gerral.

Meskipun dia masih ragu dengan apa yang Gop kakaknya katakan, tapi dia tetap mematuhinya. Dia berjalan ke pohon dan mengencangkan semua otot di tangannya lalu melayangkan tinju ke batang pohon tersebut.

BAM!

Terdengar suara keras setelah tinju Gerral menabrak batang pohon, Gerral menarik tangannya dan melihat ada lubang tercipta pada pada batang pohon itu, meskipun tidak terlalu dalam, tapi itu masih luar biasa. Lagipula itu batang pohon, batang pohon yang keras, bukan pohon pisang.

Gerral tidak menyangka akan semudah ini untuk menguasai jurus yang sangat kuat ini, meskipun masih belum sekuat kakaknya, tapi Gerral yakin bahwa dengan latihan yang tekun, dia pasti bisa menghancurkan boneka kayu seperti yang kakaknya lakukan.

“Apa nama jurus ini?”

Gop berpikir sejenak lalu berkata dengan santai, “Tinju Tirani.”