Episode 101 - First Announcement


14.53 Hari Pertama.

“Wohoo!”

“Yeah! Yeah!”

“Hidup Vander! Hidup Vander!”

Di kota kecil Evania, orang-orang yang mengikuti Vander bersorak-sorai merayakan kemenangan mereka. Separuh anggota yang telah ditumbangkan oleh party Leena, kembali disembuhkan dan perlahan mereka pulih kembali. 

Namun, terlihat sebagian kecil jumlahnya sudah berkurang.

Leena kini diikat dengan tali tambang pada sebuah balok kayu yang mengunci tangannya dan harus duduk di atas tanah berdebu dengan kondisi babak belur di tengah kota-kota dan disaksikan banyak orang yang sebelumnya habis-habisan mengepungnya.

Leena diikat di tengah, sementara di sisi kanan dirinya terdapat Raven dan di sisi satunya diikat Oren berdampingan dengannya dalam tiga balok yang berbeda.

Vander berjalan mendekati mereka, berdiri tegap sambil bertepuk tangan sembari berkata, “Satu tumbang, tinggal dua lagi... Alzen, Nicholas. Kalau salah satu dari mereka ditemukan, aku juga akan melakukan hal yang sama. Untuk dapat menaklukan mangsa yang besar, aku juga harus membayar harga yang besar. Jujur saja aku tidak menyangka ini akan berhasil. Tapi prediksiku memperlihatkan hal lain.” 

Vander adalah seorang pria berambut putih tersisir dengan sangat klinis dan rapih, dengan kacamata bulat besar dengan jaket panjang berwarna putih yang membuatnya terlihat seperti seorang dokter.

“Curang! Kau main keroyokan!” keluh Oren sambil menghentak-hentakkan kakinya dan ngambek seperti anak kecil. “Kalian 50 orang lawan kami berlima! Curang! Curang! Curaaang!”

“Sebisa mungkin, aku tidak pernah meremehkan lawanku. Aku tidak berpikir 5 lawan 5 dengan kalian memiliki kemungkinan menang yang terjamin.” balas Vander sambil melipat tangan di dadanya.

“Hah... hah... Leena, kau juga tertangkap!?” Raven menundukkan kepala. “Maafkan aku... kau jadi harus kembali untuk menolong kami.”

“Ya kau memang hanya beban!” sahut Vander dengan nada tinggi. “Terimalah kenyataan itu!”

Sementara Leena hanya menatap Vander tajam, tubuhnya berdarah dan sangat terluka parah, tapi pikirannya masih fokus mengamat-amati Vander di depannya. “Padahal dia ada di kelas Stellar dengan kemampuan diatas rata-rata. Tapi kenapa, kenapa aku tidak pernah mengenalnya?” pikir Leena

“Hah?! Kenapa kau menatapku begitu?!” Vander dibuat kesal dan berniat menendangnya, tapi tendangannya terhenti sebelum mengenai pipi Leena, “Huh!?” Vander terpikir akan sesuatu.

Ia langsung menjulurkan tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka, 

“Energy Coat !!”

Mengcast sihirnya pada tali tambang yang mengikat mereka.

Tak lama setelah tali tambangnya dilapisi Aura, Leena mengcast sihir cahaya di seluruh tubuhnya dengan meledekan cahaya agar bisa melepaskan diri dari ikatan tali itu.

Dan 50 orang yang sedang sibuk menyembuhkan rekannya yang terluka kembali fokus menatap Leena dan siap menyerbunya, sekali lagi.

Namun tentu saja tali itu tidak rusak sama sekali.

“Hehe... percuma saja, usaha melarikan dirimu sudah kuprediksi.” balas Vander.

Leena tersenyum, menahan tawanya sedikit. “Jadi begitu.”

“Begitu apa?!” tanya Vander balik.

“Tentang kemampuan Auramu. Aku mengerti sekarang.” Leena mendongak ke atas, menatap Vander dengan penuh percaya diri. “Kemampuan pertamamu. Kamu ini non element, atau sering disebut juga Energy Aura. Aura mentah yang punya tenaga luar biasa baik, tapi juga perlu suplai aura yang lebih banyak dari biasanya. Jarang sekali ada yang...”  

BUAGHH! 

“Berisik!” Vander menendang pipi kiri Leena dan terlihat wajahnya geram sekali. “Salah! Salah! Semua itu salah! Kau hanya mengada-ngada!”

“Reaksimu yang tiba-tiba panik itu mengkonfirmasi asumsiku.” kata Leena setelah pipinya ditendang. Lalu dalam hati Leena berkata, “Serangan fisiknya lemah.”

“Hey pria jahat!” balas Oren yang merasa terluka sebagai wanita. “Kau kasar sekali terhadap wanita!” 

“Kemudian kemampuan keduamu,” kata Leena dengan tersenyum penuh percaya diri. “Kau bisa memprediksi sekitar 5, 10, atau 20 detik ke depan dan mendapat gambaran tentang bahaya yang mungkin terjadi.”

“Huh!?” Vander terpikir akan sesuatu dan kembali mengulurkan tangannya ke depan.

“Energy Coat !!”

Jeda beberapa detik Leena mengcast ledakan cahaya dari tubuhnya kembali dan kali ini lebih besar ledakannya dari sebelumnya.

Tapi lagi-lagi tali tambang itu tidak mengalami kerusakan sama sekali.

Leena tersenyum setelah melakukannya. “Terima kasih sudah mengkonfirmasinya. Aku jadi mengerti sekarang.”

“Brengsek!” Vander menendangnya kembali. “Kenapa kau masih bisa tersenyum meski sudah kalah! Hah!”

Lalu Vander menendang Leena lagi, lagi dan lagi. “Brengsek! Brengsek! Kau sudah kalah! Kau sudah kalah! Sadarlah akan posisimu!”

“Perhatian! Perhatian! Pengumuman pertama akan diberitahukan.” terdengar suara Vlaudenxius.

Suaranya disampaikan melalui sihir dan sampai pada pikiran setiap orang yang berada di pulau tanpa terkecuali. Suaranya tidak benar-benar ada, tapi mampu terdengar jelas pada pikiran mereka semua.

“Huh?” Vander menghentikan tendangannya.

“Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00” kata Vlaudenxius melalui gelombang sihir itu. “Semua peserta sudah masuk kurang lebih sekitar 90 menit yang lalu dan kami mampu memantau setiap gerak-gerik kalian tanpa terkecuali dimanapun kalian berada di pulau ini dan sekali lagi aku ingatkan... DILARANG MEMBUNUH TANPA TERKECUALI!! Tidak boleh ada korban jiwa pada ujian kali ini! Barangsiapa yang kedapatan melakukan tindak kejahatan tersebut, akan menjalani hukuman penjara seperti hukum yang berlaku.”

Setelah mendengar pengumuman itu senyum Leena semakin melebar. “Kau dengar? Di-la-rang mem-bu-nuh.” sindir Leena sembari mengejanya.

“Cih! Dasar brengsek!” Vander berusaha menahan diri.

***

15.01 Hari pertama.

Di barat laut kota Evenia. Terdapat sebuah terowongan bawah tanah. Di jalan masuknya, Ivara dan Soleil bersembunyi disana. 

“Hah... hah... kau dengar pengumuman barusan?” kata Soleil pada Ivara. “Dilarang membunuh, jadi Leena, Raven dan Oren seharusnya baik-baik saja.”

“Huh... huh... Badanku lemas...” kata Ivara lesu tak bersemangat. Bersandar lemas pada tembok terowongan dengan suhu badan yang tinggi.

“Aduh bagaimana ini,” Soleil mengacak-acak rambutnya. “Disaat seperti ini kau malah sakit dan lagi, tas juga token kita sudah...”

“Maafkan aku,” balas Ivara. “Aku terlalu memaksakan diri tadi.”

“Apa boleh buat tanpa Healing Circle darimu kita tidak mungkin bisa bertahan selama itu.”

“Pemberitahuan selanjutnya adalah Supply Drop, kami akan melakukan warp 9 kotak besar yang posisi munculnya akan bersifat acak. Agar tidak mengenai salah satu dari kalian saat melakukan Warp, kotak ini sudah di atur agar muncul di tempat yang masih kosong jauh dari tempat berpenghuni saat ini. 9 kotak ini juga akan secara adil muncul di 8 arah mata angin dan 1 di tengah-tengah pulau ini. Kotak ini semuanya memiliki isi yang sama, terdapat makanan, peralatan dan obat-obatan yang kalian perlukan. Jadi cari dan temukanlah.Terima kasih atas perhatiannya... sekian...”

“Itu dia!” mata Soleil terlihat memiliki harapan. “Ivara tunggu disini, aku harap tidak ada yang datang kemari. Tapi untuk jaga-jaga, bersembunyilah. Aku akan cari Supply Dropnya dan menyembuhkanmu.”

“Soleil, kumohon jangan tinggalkan aku sendiri.” Kata Ivara dengan nafas lemas.

“Aku berjanji akan kembali secepatnya, Tunggu disini dan jangan kemana-mana. Oke?” Soleil sambil mengacungkan jempol dan pergi dari terowongan ini. 

***

15.04 Hari pertama.

Di area dekat kuburan Aluxany. Terdapat hutan dengan pohon-pohon kering tak berdaun dan hitam seperti terbakar.

Sinus diikat menggunakan es kering dengan kepadatan tinggi disalah satu pohon itu oleh rekannya sendiri. Pipinya kini kering oleh air matanya sendiri yang tak bisa usap karena tangannya tertempel di belakang pohon itu, posisinya terkunci hingga tangan Sinus terasa keram sekali .

“Kalian berdua benar-benar melakukan dosa besar.” kata seorang pria gundul yang duduk diatas batu, berpakaian jubah seorang biksu buddha berwarna abu-abu bernama Greysong. “Menghakimi ketua party kalian sendiri yang harusnya kalian hormati dengan dosa yang tidak ia lakukan.”

“Kalian berdua membenci Nicholas dan Velizar.” balas Benedict, pria tinggi berambut coklat tua dengan jubah hitam abu-abu, yang bersandar pada salah satu pohon hitam dengan tangan terlipat di dada. “Tapi melampiaskannya pada Sinus yang tak berdaya itu. Kalau tidak ada larangan dilarang membunuh kalian mungkin sudah melakukannya pada teman satu angkatan sendiri.”

Dilihat dari wajahnya mereka terlihat jauh lebih tua dari angkatannya yang berusia di bawah 20 tahun. Benedict berusia 27 tahun dan Greysong 29 tahun. Mereka jauh lebih dewasa dari teman-teman seangkatannya.

“Masalah ini bukan urusan kalian.” jawab Luxis dengan ketus sambil tatapannya tajam melihat ke belakang. 

“Ini hukuman buatnya karena berani-beraninya merasa bisa memimpin.” balas Koblenz dengan senyum merendahkan. “Kau ini lemah! Sebaiknya kau terus saja mengekor pada mereka. Kau cuma beban! Seharusnya hari itu kau dikeluarkan saja dari sekolah. Ngapain balik lagi!”

“...” Sinus hanya menunduk dengan tatapan kosong.

“Baik,” Greysong berdiri dan mengambil tasnya. “Aku keluar dari party ini.”

Tak lama, Benedict melakukan hal yang sama. “Aku tidak berniat melakukan perkelahian dengan party sendiri. Jadi mungkin ini cara terbaik.”

“Pergi saja sana! Aku tidak perlu kalian!” sahut Koblenz.

“...” Luxis terdiam dan memikirkan sejenak sambil mataya sekali lagi menoleh pada mereka berdua yang berjalan menjauh.

Benedict menuju arah utara, sedangkan Greysong ke selatan.

***

Di Calya Utara,

“Alzen apa segini cukup?” tanya Ranni sambil menunjuk dua karung penuh berisi apel yang ditaruh di salah satu rumah.

“Aku rasa untuk 1-2 hari ke depan ini cukup.” balas Alzen, “Membawa terlalu banyak juga akan memperlambat kita.”

“Dan kau dengar soal Supply Drop barusan?” tanya Ranni. “Apa kita perlu mencarinya?”

“Tidak, kita tetap disini,” Alzen memutuskan, “Jika isinya banyak barang yang berharga seperti itu pasti akan ramai dikerumuni banyak orang yang saling berebut.” 

“Alzen,” sahut Cefhi yang fokus menjernihkan air. “Aku sudah murnikan kira-kira 19 liter air untuk persediaan minuman kita.”

“Baik, terima kasih Cefhi.” balas Alzen.

“Apa perlu ditambah lagi?” tanya Cefhi yang masih terus fokus.

“Tak apa, silahkan istirahat dulu.”

“Puah baiklah...” Cefhi membasuh keringat di dahinya dan menghentikan pekerjaannya sementara.

Celci memandangi Cefhi dengan kagum. “Wah kakak hebat banget ya...”

“Aku tidak mau hanya diam dan menunggu saja.” balas Cefhi.

“Kau yakin kita minum dari air di kamar mandi?” tanya Ranni.

“Apa boleh buat, kita tidak menemukan ada sungai disini.”

“Nirn! Jangan makan mulu dong.” Iris menegur. “Kamu sudah habiskan 3-3 bekalmu!?”

“Habis... aku capek memetik apel, boleh minta punyamu?”

“Tidak, tidak boleh...” Iris memegang erat tasnya. “Aku bahkan belum makan satupun.”

Selagi Livia memantau keadaan sekitar pedesaan dari tempat tinggi dan menembak jitu tepat pada kaki siapapun yang ada dalam jangkauannya. Sejauh ini sudah ada 4 orang tertangkap dan ditahan oleh mereka.  

Sementara Damien terus melakukan patrolinya. Jika ada yang tertembak oleh busur Livia, Damien akan mengangkutnnya dan membawanya pada Chandra dan Sever yang berada di salah satu rumah untuk melakukan interogasi pada para tahanannya.

“Katakan pada kami, darimana kalian muncul dan kenapa bisa sampai kesini? Apa yang terjadi pada kalian sebelumnya?” tanya Chandra di hadapan mereka berempat sambil menyembuhkan luka di kakinya yang tertembak.

“Ceritakan yang sejujurnya, kami tak berniat melukai kalian lebih dari ini.”

“Aku kenal kalian, Chandra dan Sever. Kalian satu party atau...”

“Cukup jawab pertanyaan kami.” ancam Sever dengan menghunuskan pedangnya pada mereka.

“Hiy... oke-oke, aku datang dari Lindia, utara tempat ini, disana ramai sekali dan semuanya saling menyerang satu sama lain sejak kita pertama kali datang.”

“Apa yang terjadi pada rekan satu partymu?” tanya Sever.

“Keempat rekan partyku sudah ditahan, aku sendiri yang berhasil kabur.”

“Kalau kamu?” Sever bertanya pada orang disebalahnya.

Lalu jawab orang kedua. “Aku baru saja keluar dari hutan belantara dan begitu keluar aku melihat desa ini, tapi malah...”

“Lalu apa yang terjadi dengan partymu?” tanya Sever dengan pertanyaan yang sama.

“Kami tersesat dan terpecah belah, tapi sepertinya baru aku yang berhasil keluar dari hutan belantara itu.”

“Dan kamu...” tanya Sever.

“Dari Evania, kota yang tak jauh dari sini. Disana kumpulan banyak orang ribut melawan Leena dan partynya.”

“Leena!?” Chandra terkejut. “Lalu bagaimana kelanjutannya?”

“Aku tak tahu, rekan-rekanku tumbang saat di pimpin oleh pria bernama Vander, setelah pura-pura pingsan, aku diam-diam melarikan diri dari tempat itu.”

“Lalu Leena?”

“Dia terlalu kuat, kami sudah bersatu hingga kurang lebih ada 10 party bertarung bersama, tapi kita masih kesulitan mengalahkannya.”

“10 party!?” Chandra berhenti menyembuhkan luka mereka dan berdiri lalu keluar dari rumah. “Kuserahkan padamu Sever, aku perlu beritahukan ini pada Alzen.”

 “10 party? Itu sekitar 50 orang kan?”

Orang ketiga itu mengangguk. “Benar,”

“Sekuat apapun dia tidak mungkin menang.” pikir Sever.

“Dan terakhir...” tanya Sever pada pria di paling kanan. “Kamu?”

“Aku mungkin yang paling jauh berlari sampai kesini,” ucap orang keempat ini dengan nafas lelah. “Aku dari Eleantra, disana... “

***

15.07 Hari Pertama.

Eleantra, kota yang berada di ujung tenggara pulau Vanadivia. Lokasinya ujung ke ujung dengan tempat Alzen berada.

“Hahaha! Keluar kalian orang-orang lemah!” sahut Nicholas sambil menyerang orang-orang yang dilihatnya. “Kalian tidak akan bisa bersembunyi dari kami.”

“Nico disana...” tunjuk Clow mempetakan posisi mereka secara akurat pada orang-orang yang sedang bersembunyi.

“Dark Force !!”

Nicholas langsung menyerang dan menghempasnya hingga keluar dari tempat persembunyiannya.

Setelah dihempas keluar, reaksi orang-orang itu selalu sama, mereka melarikan diri dengan tergesa-gesa.

Nicholas langsung membelengu mereka dengan sihirnya.

“Dark Thorn !!”

Setelah terikat oleh sihir Nicholas. Ikzen, Healer mereka langsung merogoh tas mangsanya dan mencuri tokennya sambil mencemooh di depan wajahnya. Tanpa melepas belenggunya.

“Nicholas, Nicholas, tokennya sudah terkumpul 200 poin.” kata Ikzen yang mengumpulkan tokennya dalam tas miliknya. “Dan kita mengumpulkannya dalam kurang dari 2 jam.”

“Sepertinya kita memburu terlalu banyak.” kata Clow sambil menaruh kedua tangannya di pinggang, seorang wanita kecil berambut merah tua pendek, berpakaian hitam dengan celana pendek dan lengan panjang. 

“Komposisi party kita terlalu bagus.” kata Velizar dengan nada datar.

“Benar,” Nicholas tersenyum jahat sambil matanya melihat ke berbagai arah, mencari target selanjutnya. “Tunjukkan padaku Clow, dimana mereka bersembunyi.”

Clow memiliki kemampuan Aura tipe Detector, kemampuan untuk melihat makhluk hidup berdasarkan siluet warna hingga penglihatannya mampu menembus tembok sekalipun. Kemampuan ini sangat langka dan Clow adalah satu-satunya yang memiliki kemampuan ini pada angkatan tahun ini.

Selagi mereka berjalan mencari mangsa, seluruh sisi mereka dilindungi Black Barrier yang bukan berasal dari Nicholas. Melainkan dari Tanker mereka. Dark Knight Lyanna. Seorang wanita berambut ungu tua panjang dan memiliki ikat kepang, berpakaian zirah besi dan pedang yang disangkutkan di ikat pinggangnya.

“Persetan dengan aturan dari pak tua itu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu.” pikir Nicholas selagi mengcast sihir untuk memangsa target berikutnya. “Aku pemenang turnamen, aku yang paling pertama menyelesaikan ujian dungeon. Dan dengan party yang sangat sempurna ini aku akan, sekali lagi... menjadi nomor 1!”

***