Episode 341 - Bukan lawan setimpal



“Susunan formasi segel terdiri atas beraneka simbol-simbol yang membangun pola. Pola yang berisi simbol-simbol tersebut dirangkai untuk menghasilkan fungsi-fungsi tertentu, seperti formasi segel pertahanan atau formasi segel lorong dimensi, atau formasi-formasi lainnya. Simbol-simbol dan pola tersebutlah yang dipelajari dan dikembangkan oleh para perapal segel,” papar seorang perempuan setengah baya. Tatapan matanya demikian teduh.  

“Para bangsawan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera terkenal luas di seantero Negeri Dua Samudera sebagai ahli-ahli yang sangat piawai dalam merapal formasi segel. Mengalir di dalam darah kita adalah keterampilan khusus yang sangat perkasa bila dikerahkan dengan benar.”

“Nenek Sukma, dari manakah datangnya simbol dan pola tersebut…?” 

“Awal mulanya ada empat. Kakak-beradik. Para Syailendra. Masing-masing dari mereka dikaruniai keunggulan yang berbeda-beda. Saudara pertama bernama Sanjaya. Ia memiliki anugerah keperkasaan raga. Saudara kedua, adalah Balaputera dengan kemampuan merapal formasi segel demikian mumpuni. Saudara ketiga, Isyana, mampu mengendalikan berbagai unsur kesaktian secara bersamaan. Saudara keempat, Airlangga, penempa yang handal.”

“Balaputera…?”

“Balaputera pertama membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan.”

“Jika demikian adanya, maka simbol dan pola tersebut tiada bersifat mutlak. Bisa saja seorang ahli menciptakan simbol-simbol dan pola-pola yang baru…”

Balaputera Sukma mengangguk pelan. Menghadapi pertanyaan seorang anak remaja yang penuh semangat belajar, ia tersenyum senang. Terlebih lagi, anak remaja dimaksud merupakan darah dagingnya sendiri. “Ibarat kuas yang menggores karya lukisan nan indah, atau nada-nada yang merangkai tembang nan merdu, simbol dan pola baru dalam formasi segel dapat diciptakan.” 

“Apakah ada ahli yang menciptakan simbol dan pola yang baru…?”

“Ada.”

“Apakah ahli tersebut merupakan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa…?”

“Benar,” Balaputera Sukma terdiam sejenak. Pandangan matanya beralih ke langit tinggi di dalam dimensi dunia di mana dirinya terkurung selama ratusan tahun. Benaknya menelusuri ingatan masa lalu. “Tak hanya beliau. Sepanjang hematku, ada satu lagi ahli lain yang mampu menciptakan simbol dan pola baru dalam menyusun formasi segel.” 

“Hm…?” 

Dalam keterbatasan waktu, Balaputera Sukma lalu meneruskan dengan memamarkan sebuah kisah. Pada usia dua tahun, tokoh tersebut merapal formasi segel pertamanya. Di kala itu, pencapaian yang sedemikian merupakan sebuah peristiwa yang menggegarkan kesembilan kadatuan. Kala berusia empat tahun, si bocah jenius itu menyusun jurus segel baru. Atas peristiwa ini, bahkan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa mengundangnya bertandang ke istana diraja. Kemudian, seolah tiada pernah puas, pada usia delapan tahun tokoh tersebut menciptakan simbol-simbol yang benar-benar baru dalam menyusun formasi segel. 

Seorang bocah balita merapal formasi dan merumuskan jurus segel baru memang sulit diterima nalar. Meski, kenyataan ini masih bisa dimaklumi karena panduan terkait simbol dan tata cara dalam merapal formasi segel memang sudah tersedia luas. Akan tetapi, menciptakan simbol-simbol baru dalam menyusun formasi segel adalah kemampuan yang menantang kodrat alam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan tokoh tersebut dalam merapal formasi segel berada di luar pakem dunia keahlian. 

Pupil pada kedua bola mata anak remaja tersebut membesar. Hanya mendengarkan kisah saja, sudah dapat menumbuhkan kekaguman yang tiada terkira. “Siapakah gerangan tokoh tersebut…?”

“Putra bungsuku… Ayahandamu… Balaputera Ragrawira.” 


===


Tatkala lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila itu melangkah pergi sembari melambaikan jemari, Bintang Tenggara merasakan kehadiran formasi segel. Segera setelah itu, tepat di bawah telapak kaki anak remaja tersebut, rangkaian formasi segel merangkai cepat. Melingkar seukuran roda pedati dengan berbagai simbol yang membangun pola. 

Anehnya, tak satu pun dari simbol-simbol maupun pola yang sedang merangkai terlihat awam di mata sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Meski tak terlalu lama menempuh pendidikan Perguruan Svarnadwipa, Bintang Tenggara merupakan murid yang tekun. Pengetahuan dasar dan menengah seputar formasi segel ia lahap dengan rakusnya. Oleh karena itu, mendapati bentuk simbol dan pola yang tak pernah ia saksikan sebelumnya, menimbulkan kecurigaan yang mendasar. 

Di saat itu, berkelebat seberkas ingatan di dalam benak Bintang Tenggara. Kata-kata Nenek Sukma kepada dirinya tatkala terkurung berdua di dalam dimensi dunia paralel, mengalir deras. 

“Simbol dan pola ciptaan sendiri…,” gumam Bintang Tenggara terpana. Sontak ia menoleh ke arah lelaki dewasa yang melangkah menjauh. Lengan diulurkan seolah hendak menjangkau. “Aya…”

“Plop!”

Formasi segel di bawah telapak kaki Bintang Tenggara rampung. Karena perhatian sedang terpusat pada sosok lelaki dewasa, Bintang Tenggara lengah. Dirinya serta-merta terjatuh ke dalam lorong dimensi ruang!

Lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila berhenti melangkah, kemudian memutar tubuh. Sebagaimana tokoh kurang waras, ia lantas berujar kepada diri sendiri. “Hm… Seharusnya tadi diriku mengambil Si Kancil terlebih dahulu,” gumamnya pelan. “Entah kenakalan apa lagi yang ia lakukan sehingga sampai pada keadaan nan demikian mengenaskan.”

“Hei! Apa yang engkau lakukan!?” Para serdadu bayaran menjerit tatkala sasaran mereka menghilang ibarat ditelan bumi. Satu-satunya pelampiasan mereka adalah lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila yang berdiri tak jauh di sana.

Atas teriakan yang ditujukan kepada dirinya, lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila tiada menghiraukan. Sorot matanya kini sedang terpusat pada sesuatu yang sedang berpendar tak jauh dari sekelompok serdadu bayaran. Sebuah lubang berwarna hitam dengan kilatan-kilatan petir membuka cepat. Segera setelah itu, seorang lelaki setengah baya melompat keluar 

Kesepuluh serdadu bayaran gugup, lalu segera berlutut. “Salam hormat, wahai Yang Mulia Jenderal Keempat!” 

“Kalian yang mengirim pesan tentang kehadiran Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” Tanpa basa-basi, ia menginterogasi. 

“Be… benar, Yang Mulia Jenderal Keempat…”

“Lantas, dimanakah ia…?”

“Ia… Ia menghilang…”

“Menghilang…?

“Tetiba sebuah lorong dimensi tercipta di tanah tempat ia berpijak…”

“Meski menjabat sebagai Yuvaraja, anak itu tak tumbuh di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Ia belum lama mempelajari seluk-beluk formasi segel. Masih jauh baginya untuk dapat merapal lorong dimensi ruang tanpa bantuan prasasti batu. Apakah kalian hendak mengelabui aku…?”

“Sungguh kami tiada berani, wahai Yang Mulia Jenderal Keempat…” Kesepuluh serdadu bayaran kini sudah bersimpuh sujud di hadapan junjungan mereka. 

“Lantas…?”

“Lelaki itu! Dia yang merapal formasi segel lorong dimensi!” Salah seorang serdadu bayaran bangkit sembari menudingkan jemari telunjuk ke arah seorang lelaki dewasa yang mengenakan pakaian lusuh, kotor dan compang-camping. Lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila yang dimaksud, terlihat sedang melangkah menjauh, acuh tak acuh dengan kehadiran seorang jenderal besar dari kerajaan besar.

Jenderal Keempat menyipitkan mata memandangi sosok tersebut. Di saat yang bersamaan, ia menghentakkan tenaga dalam! Atas tindakan tersebut, sontak tubuh kesepuluh serdadu bayaran terlontar, dan setiap satu dari mereka memuntahkan darah! 

Akan tetapi, belum sempat tubuh para serdadu bayaran terhempas di tanah, sepuluh formasi segel berpendar dan membuka lorong dimensi secara bersamaan. Setiap satu dari formasi segel tersebut ibarat menyambut tubuh lemah para serdadu bayaran. Mirip dengan nasib Bintang Tenggara, mereka pun terjatuh ke dalam lorong dimensi dan menghilang begitu saja. 

Kedua bola mata Jenderal Keempat melotot menyaksikan simbol dan pola tak dikenal yang membangun formasi segel!

Sesuai gagasan Lintang Tenggara alias Balaputera Gara, ia telah memututuskan untuk tetap berada di Partai Iblis dan melakukan persiapan untuk mengambil alih Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Salah satu langkah penting dalam rencana tersebut, adalah menyingkirkan para Putra dan Putri Mahkota yang terpilih melalui Hajatan Akbar. Balaputera Gara alias Bintang Tenggara merupakan sasaran utama dan paling empuk. Anak remaja itu terlalu polos, atau mungkin memang dongok, karena melakukan perjalanan keluar dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang seorang diri, tanpa pengawalan sama sekali.

Oleh karena itu, petugas gerbang dimensi disuap, dan regu serdadu bayaran disiagakan. Begitu sasaran masuk ke dalam perangkap, maka dirinya akan datang menjagal. Akan tetapi, satu hal berada di luar perkiraan sang jenderal. Siapa nyana, bahwa masih adalah seorang tokoh yang selama ini mengucilkan diri, berperan sebagai pengawal dari balik bayangan. Tokoh yang menurut penjelasan Lintang Tenggara, senantiasa berada selangkah di depan. 

“Hentikan langkahmu!” sergah Jenderal Keempat. Kini, ia sadari bahwasanya keterangan para serdadu bayaran tentang sosok tersebut tiada dibuat-buat.

Lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila tak hendak memenuhi tuntutan yang diarahkan kepada dirinya. Malah, terlihat jelas bahwa langkah kakinya sengaja dipercepat. 

“Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa!” Tak tanggung-tanggung, Jenderal Keempat menebaskan pedang raksasa nan bercahaya gemilang. 

Bumi terbelah dan tanah menyeruak ke semerata penjuru. Tebasan pedang raksasa meninggalkan bekas yang sangat dalam. Akan tetapi, jelas bahwa serangan tersebut tiada mengenai lawan! 

“Ayahanda Sulung!” sergah Balaputera Ragrawira, kini melayang tinggi di angkasa. “Apakah yang dikau lakukan!?” 

“Wira!” hardik Balaputera Tarukma, wajah berubah bengis. “Akhirnya muncul juga batang hidungmu! Siapa menyangka, ketika memburu pelanduk aku malah akan menangkap harimau…”

Balaputera Tarukma melesat cepat. Tebasan demi tebasan bergelegar di langit tinggi. Kendatipun demikian, tak satupun serangan tersebut mendarat di tubuh sasaran. 

“Ayahanda Sulung…” Balaputera Ragrawira berujar di kejauhan. “Dikau masih belum sepenuhnya pulih dari pertempuran sebelumnya.”

Balaputera Tarukma kembali melesat cepat. Kali ini, memnfaatkan lorong dimensi ruang, ia memperpendek jarak. Sebuah tusukan mengincar tepat ke dada lawan. 

Di lain sisi, Balaputera Ragrawira muncul tepat di balik tubuh pamannya itu. Ia berbisik pelan, “Walaupun berada dalam keadaan puncak, Ayahanda Sulung bukanlah lawan yang setimpal bagi diriku…” 

“Tutup mulutmu, bocah!” Balaputera Tarukma memutar tubuh sambil menebas deras. Betapa berang hatinya karena diremehkan sampai sedemikian rupa. Harga diri terkoyak dan kehormatan tercemar. Ia luapkan amarah di hati dengan teriakan membahana, “Jangan jadi pengecut! Hadapi aku!”

Dalam keadaan normal, maka Balaputera Ragrawira terbiasa menghindar dari pertempuran. Bukan karena gentar, namun disebabkan masih banyaknya urusan lain yang lebih penting lagi. Akan tetapi, kali ini keadaan sangat berbeda. Bilamana dibiarkan begitu saja, maka Balaputera Tarukma akan terus-menerus mengincar Bintang Tenggara. Oleh karena itu, ada baiknya sedikit menghambat tingkah polah lelaki setengah baya itu, sehingga di masa depan tak lagi berbuat sekehendak hati. 

“Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa,” gumam lelaki dewasa gelandangan alias pengemis gila.