Episode 100 - Day One



“Cepat serahkan tokenmu dan pergi dari sini!” ancam suara perempuan yang terdengar familiar di telinga Alzen.

“Huh?” Alzen mulai mengira-ngira sampai asap yang menutupi orang yang menumbangkannya itu menghilang. “Ranni!?”

“Alzen!?” Ranni tak habis pikir dan langsung berdiri melepaskan tikaman tongkatnya sembari mengulurkan tangan untuk merangkul Alzen.

Alzen menarik rangkulan tangan Ranni, kembali berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor karena debu.

***

Mereka melakukan diskusi di salah satu rumah pada pedesaan ini. Alzen dan Ranni duduk berdua saling berhadapan dengan keempat anggota party masing-masing dari mereka berdiri di belakang sang ketua dengan di tengah-tengah meja mereka bercahayakan lilin.

“Heh!? Kalian tidak bertemu dengan siapa-siapa selama ini?!” kata Ranni sambil menggebrak meja.

“Hee... emm.” Alzen geleng-geleng kepala. “Kalian yang pertama kali kami temui.”

“Wah beruntung sekali kalau begitu.” balas Ranni. ”Sedangkan, sewaktu kami melakukan Warp, kami semua sudah muncul di sebuah pabrik besar tempat berbagai peralatan logam dibuat. Disana ramai sekali, semua saling serang dan memperebutkan token. Kami bahkan tak sempat melakukan hal lain dan langsung menghindari mereka, lalu kabur ke wilayah terbuka.”

“Huh... dan kita berakhir disini, bertemu denganmu.” kata Sever yang berdiri di belakang Ranni. 

“Sever? Huh? Kalian satu party?” tanya Chandra dari belakang Alzen.

“Dia yang memintaku.” balas Ranni sambil memalingkan wajah ke belakang.

“Kenapa?” tanya Chandra pada Sever.

“Tidak ada alasan khusus,” kemudian Sever memalingkan muka dan melihat ke bawah. “Aku sedang tidak mau menjadi ketua party saja.”

Alzen mengambil gulungan peta dari tasnya dan melebarkannya di atas meja. “Lihat ini, ini bukan peta biasa. Kalau kita menyutikkan Aura pada benda ini, maka...” Alzen memunculkan sebuah titik biru setelah tangannya diselimuti Aura. “Peta ini akan memberi tahu lokasi kita, sampai arah mata angin yang kita sedang tuju.”

“Woah... darimana kamu dapat benda sebagus ini?” tanya Ranni.

“Ada di dalam tas, kita semua mendapatkannya.” balas Alzen dengan mata yang masih fokus pada peta. “Kamu bilang tadi datang dari sebuah pabrik besar, itu artinya.” Alzen menunjuk wilayah yang berada di utara tak jauh dari Calya bernama Lindia dan di salah satu wilayah itu ada sebuah pabrik. “Kalian pertama kali muncul di Lindia.”

“Oke kami mengerti,” Ranni mengangguk-angguk. “Lalu?”

“Karena kondisi disana sudah ramai dan banyak terjadi perebutan token saat kalian datang.” Alzen menjelaskan sambil menatap Ranni. “Aku asumsikan bahwa kalian yang datangnya diurutan akhir-akhir.”

“Benar!” Ranni mengkonfirmasikan dengan tegas. “Kami memutuskan berlari menuju Warp saat tempat kita menunggu itu sudah sepi.”

“Aku berharap itu sebuah keuntungan.” sambung Sever. “Tapi kita malah jadi yang paling telat dalam persiapan.”

“Selanjutnya ada 2 kemungkinan, beberapa party pemenang di Lindia akan menetap dan mengusai tempat itu, atau mereka akan mencari tempat lain untuk dimangsa. Dan Area terdekat adalah tempat kita saat ini Calya.”

“Aku rasa mereka sudah kehabisan tenaga,” balas Ranni. “Mereka pasti akan menetap disana untuk beristirahat.”

“Namun orang-orang yang melarikan diri, beberapa di antaranya akan menuju kesini.”

“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Ranni.

“Begini...” Alzen menjelaskan. “Kita bisa mengusai tempat ini sebelum yang lain datang.”

“Jadi... kita bekerjasama, begitu?” tanya Ranni.

“Hem!” Alzen mengangguk. “Atau kita kabur ke hutan Alfonso dan bersembunyi disana.”

“Kenapa ke hutan?” Ranni membantah. “Dekat sini ada kota besar bernama Evenia. Apa sebaiknya...”

Alzen geleng-geleng kepala. “Tidak, tidak... kota besar cenderung akan banyak penghuninya juga dan sebisa mungkin kita harus menghindari pertarungan yang tidak perlu karena lawan kita bukan hanya manusia, tapi diri kita sendiri.”

“Diri kita sendiri?” balas Ranni. “Maksudmu Zen?”

“Coba lihat isi tas kalian masing-masing.” Pinta Alzen pada party Ranni.

Dan party Ranni melakukan apa yang Alzen perintahkan.

“Kita cuma dibekali 3 bekal yang akan basi hari ini.” Alzen menjelaskan. “Untuk besok, kita harus cari makanan kita sendiri.”

“Begitu ya...” kata Ranni sambil melihat isi tasnya. “Tokennya ternyata juga ada disini.” Ranni menarik token perak berpahatkan angka 1756. “Aku belum sempat melihat isi tasnya.”

“Calya punya pohon apel yang cukup banyak. Kita bisa mengusai tempat ini dan memasok cukup banyak makanan untuk bertahan di esok hari. Kami juga punya anggota yang mampu memurnikan air.” Alzen memperkenalkan Cefhi.

Wajah Cefhi memerah karena menjadi sorotan. “Ha...hai...” lambainya dengan malu-malu.

“Jadi andaikan kita bisa mengusai tempat ini, persediaan makananan dan minuman kita cukup. Kalau kalian menemukan pakaian, kalian bisa ganti baju, mandi dan tinggal di dalam rumah. Meski desa, Calya ini tempat yang cukup strategis untuk dikuasai.”

“Apa kita bisa? Kita cuma bersepuluh. Bagaimana kalau ada komplotan besar yang datang?” tanya Ranni.

“Kalau itu terjadi, kita harus siap untuk melarikan diri ke hutan Alfonso di selatan kita.” tunjuk Alzen pada peta.

“Luar biasa, kau sudah memikirkan sampai sejauh itu.”

“Baiklah, jadi Ranni apa kita setuju untuk bekerja sama?” Alzen mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Tentu saja.” Ranni membalas uluran tangan Alzen dan setuju untuk bekerja sama. 

“Bagus! Pertama-tama, beberapa dari kita sudah saling mengenal, seperti aku dan Ranni. Tapi tentunya ada yang belum kenal satu sama lain kan?” Alzen menjelaskan. “Kerjasama ini kita mulai dengan saling mengenal baik dari nama maupun kemampuan kalian.”

Alzen memulai duluan dan memperkenalkan dirinya lalu masing-masing dari partynya secara pribadi menjelaskan nama dan kemampuannya.

Kemudian giliran party Ranni memperkenalkan diri. Ranni dan Sever sudah familiar nama dan kemampuannya lewat turnamen di awal tahun. Sedang ketiga anggota random lainnya.

“H-Hai aku Celci...” kata seorang penyihir wanita kecil, berambut biru tua dengan pakaian tebal dan topi dari bulu layaknya pakain musim dingin berwarna putih dan pola-pola biru. “Aku mungkin tidak terlalu kuat namun aku harap aku bisa membantu.”

Lalu semua menatap Celci dengan setengah mata terbuka.

“Hee?”

“Kemampuanmu apa?”

“Heee!!? Maaf...” kata Celci dengan malu-malu. “Aku punya kemampuan elemen es. Li-lihat saja tongkatku.” kata Celci sambil menutup wajahnya dengan pola simbol es di ujung atas tongkatnya. “Ta-tapi... aku sering salah sasaran jadi aku mohon maaf kalau kalian aku bekukan.”

Iris menepuk dahinya. “Cih, bakal merepotkan dong.”

“Ternyata ada yang pemalu sepertiku.” kata Cefhi sambil menutupi mulutnya.   

“Hah! Aku Damien!” kata seorang pria berotot yang hanya mengenakan rompi dan celana panjang saja. Rambutnya jabrik berwarna coklat dan tubuhnya punya banyak bekas luka. “Aku berperan sebagai Tanker, aku punya kemampuan mengeraskan tubuh dari tanah yang lunak menjadi batu yang sangat keras.”

Lalu Iris melihat Nirn dengan kecewa.

“Apa? APA?” tanya Nirn yang ditatap dengan kecewa oleh Iris. “Kamu mau bilang tanker kita gendut?”

Iris mengangguk dengan tatapan yang sama. 

“Kamu jahat sekali...” Nirn duduk di pojokkan.

“A... aku Livia... dari Ventus.” kata seorang perempuan langsing berambut hitam pendek dengan google di dahinya, mengenakan pakaian hitam dengan armor besi di pundak kanannya dan kedua lengannya. “Aku pengguna Aura tipe Weapon.” Livia mengeluarkan senjata busurnya. “Busur ini kunamai Wind Caller... aku tak perlu anak panah untuk menembak, karena baik dari busur maupun anak panahnya, semua bisa kuciptakan sendiri menggunakan Aura.”

“Lalu google itu untuk?”

“Ahh... ini,” Livia menurunkan googlenya dan mengenakannya pada matanya. “Ini Scope 8x. Aku bisa melakukan sniping dengan Wind Caller kalau menggunakan ini.”

“Sniping? Bagus!” Alzen berdiri dengan semangat. “Kita sudah tahu kelebihan kita masing-masing dan setelah ini kita bersiap untuk memasok makanan sambil...”

“Aku memantau sekitar dari tempat yang tinggi.” kata Livia.

“Hee? Kau sudah tahu?” Alzen heran.

“Aku selalu diminta seperti itu...” Livia keluar dan melaksanakan tugasnya.

  ***

Tak jauh dari Calya, di wilayah baratnya terdapat sebuah kota yang cukup besar bernama Evenia.

Disana ada banyak party berkumpul mengepung dari seluruh arah fokus untuk mengalahkan satu party yang sedang bersembunyi di dalam rumah.

“Hah... hah... bagaimana ini,” kata Leena sambil menarik nafas dengan tersengal-sengal tetap fokus dalam kuda-kudanya meski ia sudah berkucuran keringat. “Kita sudah menumbangkan separuh dari mereka, tapi...”

“Ini tidak ada habisnya,” kata seseorang dengan rambut jabrik berwarna hitam, mengenakan masker yang sudah terkoyak untuk menutupi mulutnya dan pakaiannya sebagian besar dibalut kain hitam dengan pengikat rantai. Senjata yang digunakannya adalah dua pedang dan tubuh serta pedangnya dialiri listrik biru. Pria ini bernama Raven. “Lawan kita kira-kira tidak kurang dari 10 party utuh.”

“Kumohon...” kata Ivara, healer mereka yang sudah kesulitan bernafas dan tatapannya lemas. “Auraku sudah tak sanggup lebih lama lagi untuk mempertahankan Healing Circle ini.”

KRANG! KRANGGG !!

“Gah!” sahut tanker party Leena, pria dari kelas Ignis bernama Soleil. Menggunakan senjata perisai dan tombak layaknya spartan yang ujung tombaknya dilapisi api serta sisi depan perisainya diselimuti kobaran. Dengan segenap tenaga mempertahankan salah satu sisi agar penyerang dari pihak musuh tidak mampu menggapai Healer mereka. “Seberapa banyakpun serangan yang datang, aku akan lindungi kalian.

“Huaaa aku takut! Aku takut.” kata Oren, wanita kecil berambut pendek berwarna oranye. Yang dari awal hanya menunduk ketakutan di dalam perlindungan ketiga orang yang melindungi ketiga sisi dengan susah payah.

“Gi...gila... 5 Vs 50 dan di pihak kita sudah tumbang sekitar 27 orang dan tak satupun dari mereka berhasil dikalahkan.” kata salah satu ketua party yang menyerbu Leena.

“Semuanya jangan menyerah!” kata pria bernama Vander yang mengepalai kerjasama 10 party untuk menumbangkan party Leena. “Ini kesempatan yang sangat langka. Meski dia sangat-sangat kuat. Tapi tidak mungkin bisa terus bertahan melawan 50 orang sekaligus. Tetap fokus dalam formasi, kepung mereka dari segala arah.”

 “Agar bisa terus disembuhkan oleh Healing Circle Ivara,” pikir Leena, “Lami harus tetap berdiri disini agar bisa terjangkau efek regenerasinya. Tapi aku sendiri sudah kelelahan dan daritadi kita cuma bisa mengandalkan sihir jarak jauh untuk mengcounter serangan yang datang.”

“Leena, kita harus melarikan diri.” Kata Raven ke Leena di samping kanannya.

“Tapi kemana.”

Syushhh...

Lemparan senjata celurit datang menghampiri Leena.

TRANGG !!

Leena menepis dan mementalkan lemparan senjata itu, lalu dengan cepat mengcounter serangan yang datang dan menyerang balik dengan tebasan jarak jauh melalui jendela.

CRASHHHTT !!

“Tapi kemana!” sahut Leena dengan lantang. 

“Aku melihat ada sebuah lubang goa di arah barat laut sana. hah... hah..” jawab Raven dengan suara kecil karena sudah terlalu kelelahan. “Aku akan menyerang ke salah arah sana, setelah itu jalan akan terbuka dan kita bergegas untuk berlari menuju arah itu dan keluar dari tempat ini secepat mungkin.”

“Gah! Aku tak terlalu mengerti,” balas Soleil. “Tapi mau tak mau harus kita coba.”

“Untuk mengurangi beban, mau tak mau kita tinggalkan tas ini.” kata Leena sambil menyarungkan pedangnya di pinggang dan melepas tas. “Ambil dan simpan token kalian ke dalam saku.” 

“Baik,” kata Raven sambil bersiap-siap mengcast sihir besarnya. “Dalam hitungan ketiga kita mulai.”

“1...”

“Huh!? Mereka mencoba melarikan diri!” sahut Vander yang menyaksikan rumah tempat mereka bersembunyi kini memiliki kilatan cahaya.

“...2.”

“Arah utara! Cepat perketat penjagaan!” Vander langsung berlari menuju arah utara bersamaan dengan party yang bekerja sama dengannya.

“3!”

Brrrzzzsssttt...

Raven melakukan kuda-kuda menyilangkan kedua tangannya hingga menutupi mulutnya dan telapak tangannya bersandar di pundak dan kedua pedangnya menyilang di belakang kepalanya.

“Thunder Wrath !!”

DWAAARRR !!

Petir besar menyambar ke arah barat laut hingga siapapun yang ada di depan Raven mau tak mau harus menyingikir atau terkena serangan petir yang dashyat.

Leena menggendong Ivara dan Raven menggendong Oren, sementara dari belakang mereka terus mendorong Soleil yang dilapisi perisainya dengan kecepatan tinggi.

“SEKARANG !!” sahut Raven yang tubuhnya dialiri listrik, melesat.

“Thunder Step !!”

Disusul Leena dengan Leena.

“Speedy Flash Move !!”

SYUSHHH !!

Raven melesat di sisi kanan dan Leena di sebelah kiri.

Wruuuuuuushhhh...

“Hey! Hey! Hey! Kalian tadi tidak bilang kalau... HWAAAA !!” Soleil berteriak dengan mulutnya yang berkibar-kibar karena kecepatan tinggi.

Di saat semua yang di jalur itu sudah tumbang dan yang berada didekatnya menjauh, Vander justru datang menghampiri lintasan untuk mereka kabur dan...

“Kalian pikir aku akan diam saja...”

“Energy...” tangan Vander mengepal dan berselimutkan gelembung cahaya.

Lalu dihantam ke depan dan...

 “...Burst !!”

Sebuah tekanan besar menghempas mereka, Leena berhasil menghindari serangan itu dan Raven yang melambat karena kelelahan terpental dan terstun untuk beberapa detik.

“UWAAAGGHHH !!” Raven berteriak keras sekali, seluruh tubuhnya seolah mau meledak dari dalam. Sedang Oren berguling-guling terlempar dan tubuhnya kini dipenuhi debu tanah jalanan.

“Raven !!” sahut Leena yang geram melihat Raven dan Oren terpisah dari mereka 

“Cih! Salah target, kalau tidak menumbangkan salah satu dari Nicholas, Alzen, maupun Leena dari awal. Ujian ini akan jadi sangat susah.” pikir Vander seusai serangannya meleset.

Lalu sahut Vander pada Leena yang menjauh. “Hei! Pengecut, ternyata kau rela meninggalkan rekanmu? Silahkan pergi dari sini. Sekembali dari tempat ini, kedua anggota partymu tidak akan lagi bisa membantumu bertarung!”

Mendengar itu Leena seketika menghentikan dirinya.

“Leena kok berhenti! Kita harus pergi dari sini cepat!” sahut Soleil.

“Kau duluan saja.” Leena menurunkan Ivara dari punggungnya dan kembali lagi dengan wajah kesal.

“Hei Leena kau tidak berniat kembali kan?” tanya Soleil.

“Cepat bawa Ivara pergi, aku akan kembali lagi nanti.”

Leena sekali lagi mengeluarkan pedang dari sarungnya 

Syushh...

Leena melesat cepat dan 

“TRANGG !!”

Melakukan duel satu lawan satu dengan Vander.

Leena dengan tebasan pedangnya dan Vander dengan persilangan kedua tangan kosongnya yang dilapisi elemen netral bernama Energy Aura yang membuat telapak tangannya mampu memegang tangan Leena tanpa melukai dirinya..

“Apa maksudmu membuat mereka tidak bisa bertarung Hah!?” sahut Leena dengan geram. “Kau mau apakan mereka!”

“Hehehe...” Vander tersenyum puas di hadapan Leena yang murka. “Oke semuanya! SERANG !!”

DRUSSSSHHHTTT

Leena diserang oleh dua puluh orang lebih secara bersamaan.

***