Episode 71 - Gary dan Gerral


Di salah satu area di aula, dua sosok berdiri saling berhadapan. Di satu sisi adalah Gary, dia berdiri sambil menguap dan mengerjapkan matanya yang memiliki kantung mata. Di sisi lain adalah Gerral, dia berdiri tegap di hadapan Gary, sosoknya seperti pedang, dengan matanya yang memandang lurus pada Gary tanpa sedikitpun lalai.

Meskipun Gary seperti orang bodoh dan pemalas, tapi Gerral tidak pernah menyepelekan lawannya, apalagi Gary. Karena mereka sering menjadi lawan tanding ketika sparring, jadi Gerral tahu betul bagaimana kekuatan yang Gary miliki.

“Mulai.” 

Pertandingan dimulai, sosok Gerral langsung melesat menuju Gary dengan kekuatan penuhnya.

Dengan kepalan tangan kanan, serangan Gerral langsung melesat menuju wajah Gary, melihat serangan dari Gerral, Gary bergerak ke samping untuk menghindar, tapi sedetik kemudian serangan lainnya datang, kali ini kepalan tangan kiri itu lebih cepat, akan tetapi dengan sangat ajaib Gary mampu mundur dan membuat tinju itu hanya menghantam udara kosong.

Gerral tidak heran dengan Gary yang bisa menghindari serangannya. Dengan tenang dia maju sekali lagi dan menyerang Gary dengan kepalan tangannya yang sangat cepat. Melihat Gerral yang pantang menyerah terus menyerangnya, Gary mengernyitkan dahinya dan memandang Gerral dengan kesal.

Semalam Gary habis begadang menonton tim sepak bola kesayangannya, itu adalah pertandingan final, jadi itu hanya satu kemenangan lagi dan tim tersebut akan meraih tropi, di awal babak pertama, tim favoritnya berhasil mencetak gol dan terus menjaga keunggulan sampai ujung babak kedua. 

Namun, secara tak terduga, wasit memberikan hadiah pinalti kepada tim lawan setelah salah seorang pemain dilanggar di kotak pinalti. Tapi, Gary sangat yakin, itu bukan pelanggaran dan pemain tim lawan dengan sengaja terjatuh. Sempat ada keributan sebentar di lapangan, tapi wasit tetap pada pendiriannya, dan akhirnya skor menjadi imbang, yang membuat pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan.

Di babak tambahan, di mana semua pemain telah kelelahan, tim lawan berhasil mengirim umpan terobosan dan dengan lihai disambar oleh penyerang dan menghasilkan gol kemenangan. Namun, keributan terjadi sekali lagi, karena pemain lawan sudah jelas offside, tapi wasit tetap pada pendiriannya, gol itu sah. 

Kecewa tak perlu ditanya, terlebih bagi Gary, jika saja dia menonton pertandiang tersebut secara langsung di stadion dan bukan hanya lewat layar kaca, dia pasti akan turun ke lapangan dan memberi wasit tersebut sedikit pemukulan.

Pertandingan terus berlanjut, akan tetapi tidak ada lagi gol tercipta, dan membuat tim lawan menjadi pemenangnya.  

Karena hal ini, Gary saat ini dalam kondisi yang sangat buruk, bukan hanya dia sedang marah dan kecewa karena tim kesayangannya kalah, tapi dia juga sangat mengantuk karena tidak tidur sama sekali semalam. Oleh sebab itu, melihat Gerral yang menyerangnya begitu sengit membuat Gary menjadi semakin kesal.

Tidak bisakah kau santai sedikit? Kenapa kau begitu terburu-buru begitu? Biarkan aku beristirahat sejenak.

Serangan Gerral selanjutnya, alih-alih menghindarinya, Gary lebih memilih untuk melawannya, alhasil benturan antara kedua kepalan tangan terjadi dengan sengit. Pukulan mereka sangat cepat, sesuai dengan nama perguruan bela diri mereka, Tinju Petir. 

Layaknya sebuah petir, serangan tinju tersebut memiliki kecepatan yang dahsyat dan menghasilnkan bunyi yang nyaring setelah berbenturan, bukti bahwa kekuatan yang terkandung di dalam tinju tersebut tidak bisa diremehkan.

Gary dan Gerral mundur beberapa langkah setelah kedua tinju saling berbenturan, rasa sakit menjalar untuk beberapa saat dan memaksa mereka berdua menggertakan gigi untuk mencegah dari mengeluarkan teriakan. 

Bagi Gary dan Gerral, menampilkan kelemahan pada orang lain bukanlah cara hidup mereka, tanpa toleransi, mereka akan bersikap kuat layaknya pria sejati.

Tidak butuh waktu lama, lagi-lagi sebuah tinju cepat meluncur dan menargetkan dada Gary, akan tetapi dengan dua langkah mundur, Gary mampu menghindari serangan dari Gerral. Namun, alih-alih terus menghindar, kali ini justru Gary yang mulai berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu, dia maju satu langkah dan melompat dengan kaki kanannya, menempatkan kedua lutut ke depan guna menerjang Gerral.

Untuk beberapa saat Gerral merasa sedikit terkejut, karena dalam seni bela diri Tinju Petir, tidak ada gerakan yang menggunakan kaki, juga sebagian besar ahli bela diri di sini tidak menggunakan kaki mereka untuk menyerang, tapi di sini terjadi sesuatu yang tidak biasa itu, Gary menyerangnya dengan lutut.

Tapi, keterkejutan Gerral hanya bertahan beberapa saat, tapi dia sadar bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk menghindar, pilihan yang ada hanyalah menangkisnya atau menerima serangan lutut itu langsung dengan tubuhnya.

Namun, tentu saja Gerral tak sebodoh itu untuk langsung menerima terjangan dari Gary dengan tubuhnya, dengan sangat sigap Gerral memposisikan kedua tangannya untuk melindungi tubuhnya.

Terjangan lutut dari Gary berhasil di tahan oleh Gerral, tapi karena serangan itu Gerral terpaksa dibuat mundur beberapa langkah. Namun, tanpa Gerral sangka, sedetik kemudian setelah serangan itu, sebuah tinju cepat menuju wajahnya. 

Gerakan tinju yang cepat dan ganas ini adalah ciri khas dari perguruan bela diri Tinju Petir, Gerral sudah sangat sering melihatnya, tapi baru sekarang dia merasa kagum, tinju itu sangat cepat, mustahil orang awam untuk bisa menghindar. 

Saat ini Gerral hanya bisa pasrah, bukannya dia tidak mau untuk menangkis atau menghindari serangan tinju itu, akan tetapi dia tidak bisa. Saat ini, sudah mustahil baginya untuk bisa terhindar dari serangan Gary.

Namun, ternyata tinju itu tidak pernah sampai pada targetnya, Gary dengan sengaja menghentikan serangan tinju itu tepat di sebelum mengenai Gerral. Lalu, Gary tersenyum tipis dan berkata. “Kau kalah.”

Gerral terdiam beberapa saat, lalu kemudian sadar kembali, benar, dia telah kalah lagi.

“Ya, aku kalah.” Ucap Gerral dengan senyum pahit di wajahnya.

Setelah itu Gary langsung berjalan pergi meninggalkan Gerral sendiri, sambil menguap, sosoknya perlahan menghilang. Tapi, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang pria. 

“Gary, mau kemana kau, jangan kabur!” 

Dia adalah salah seorang ahli bela diri yang mengajar di perguruan bela diri ini, namanya adalah Tora. Sejak pertama Gary masuk , dialah yang mengajari seni bela diri kepada Gary. Dia sangat bangga pada Gary, karena dia mampu menguasai semua gerakan yang dia ajarkan. Gary juga mampu mengalahkan lawan yang memiliki tubuh lebih besar darinya.

Namun, belakangan ini entah kenapa Gary mulai sering telat datang bahkan bolos latihan, Gary juga tampak tak lagi bergairah untuk mempelajari bela diri, sangat berbeda dari dirinya yang dulu. Karena kelakuan Gary ini, membuat Tora sangat stres. Padahal Gary memiliki bakat, padahal dia memiliki masa depan yang cerah, akan tetapi perilaku tak disiplinnya ini bisa saja menjadi penghambat bahkan penghancur masa depannya.

Tora tidak mau hal tersebut terjadi, jadi ketika waktu latihan, dia selalu mengawasi Gary dari kejauhan, untuk memastikan dia tidak akan kabur. Tora juga selalu menjemput Gary ke rumahnya, agar Gary tidak membolos latihan lagi.

Sebelumnya, ketika Tora menyaksikan pertarungan antara Gary dan Gerral, dia merasa kesal. Karena dari awal Gerral tidak banyak mengambil inisiatif untuk menyerang, dan lebih banyak menghindar. Namun, di penghujung pertandingan, tiba-tiba Gary melakukan serangan dan seketika Gerral langsung kalah.

Sial! Aku tahu itu, jika saja dia bersungguh-sungguh, dia pasti akan bisa menang.

Namun, setelah itu Tora melihat Gary diam-diam berjalan menuju pintu, seketika Tora sadar, Gary berusaha kabur. Tapi, tidak mungkin dia akan membiarkan Garu pergi begitu saja. Sekejap kemudian Tora langsung berteriak dan mengejar Gary.

Sadar bahwa Tora sudah mengetahuinya, Gary langsung mendecakkan lidah dan berlari. 

Sial! Aku sekarangan sangat mengantuk, biarkan aku istirahat!

Semua orang melihat pemandangan ini dengan biasa, tidak ada kejutan sama sekali, karena bukan hanya sekali dua kali hal ini terjadi. Jadi, ini hanyalah pemandangan biasa. Bahkan, mereka akan merasa ada yang kurang jika Gary tidak mencoba kabur ketika sedang waktu latihan.

Sementara itu, Gerral berjalan menuju arah Tomas yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Dengan ekspresi yang kaku dan tubuh yang tegak, juga dengan sepasang mata yang tajam, dia tampak seperti sebuah tombak.

“Kau tahu kenapa kau kalah kali ini?” tanya Tomas kepada Gerral.

“Aku...” Gerral tersenyum pahit.

“Kau terlalu fokus untuk menang!” ucap Tomas tanpa jeda.

“Maksudnya?” tanya Gerral dengan wajah yang bermasalah. 

Tentu saja, karena menurut Gerral, kemenangan adalah hasil akhir yang selalu ingin dia lihat. Dia juga yakin, semua orang juga berpikir seperti itu, tidak ada orang yang datang ke dalam sebuah arena bertarung untuk kalah.

“Memang benar kau harus mengincar kemenangan, tapi kau tidak boleh terlalu berambisi untuk menang. Tidak ada yang tahu bagaimana hasil akhir dari sebuah pertarungan sebelum pertarungan berakhir.”Tomas berkata dengan bijak, lalu dia melanjutkan. “Namun, kau terlalu berambisi. Sehingga membuat seranganmu terlalu jelas, dan aku yakin, semua orang bisa dengan mudah untuk menghindarinya.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Gerral.

“Kau harus berpikir kau adalah pemenang.” Ucap Tomas dengan bijak.

“Ah, baiklah.” Jawab Gerral seraya mengganguk.

Meskipun Gerral masih belum mengerti apa yang Tomas katakan. Tapi, dia hanya menyetujuinya agar Tomas tak perlu menasihatinya lebih panjang lagi. 

Apa coba maksudnya jangan berambisi untuk menang, tapi berpikilah bahwa kau adalah pemenang?

Gerral merasa, selain bela diri, sepertinya Tomas juga berbakat dalam bidang sastra. Dia sangat hebat dalam mengolah kata menjadi sedemikian rupa.

“Setelah pulang, kita akan berlatih lagi di rumah.” 

“Baik!” ucap Gerral dengan cepat.

Gerral lebih percaya dengan semua kerja keras yang dia lakukan, seperti candi borobudur yang tidak mungkin dibangun dalam semalam, kekuatan seseorang juga seperti itu. Jadi, walaupun dia kalah kali ini, Gerral tak merasa sangat tertekan atau cemas, karena dia selalu percaya bahwa dimasa depan, pasti ada masanya dia akan bisa menjadi lebih kuat dan menang.

Sama seperti yang orang-orang katakan, hasil tidak akan mengkhianati usaha.