Episode 339 - Penyusup


Di dalam ruangan nan luas, seorang gadis belia melangkah perlahan. Ia sedang mencermati rak-rak kayu yang tersusun panjang dan menjulang tinggi. Kedua bola mata sayu, menyeka perlahan dari satu kitab ke buku selanjutnya. Ada judul yang ia cari, namun sepertinya mencari di bagian yang salah. Oleh sebab itu, ia meneruskan penelusuran. 

“Apakah yang Nona cari…?” terdengar suara serak menegur. Di dalam ruangan nan demikian luas dan sepi, suara tersebut memberi kesan angker. 

Embun Kahyangan mendapati sepasang bola mata belok yang seolah hendak melompat keluar sedang menatap. Raut wajahnya dipenuhi dengan keriput, yang demikian pucat karena tak pernah disapa sinar mentari. Pundaknya berpunuk karena bongkok, serta sekujur tubuhnya bergemetar renta. Demikian mengerikan sosok yang mengemuka secara tiba-tiba entah dari mana. 

“Apakah…,” gadis belia itu terdiam sejenak. Ia meragu. “Apakah di pustaka ini terdapat buku tentang hubungan lelaki dan perempuan…?” lanjutnya cepat.

Kakek tua renta tersenyum ramah. Lalu memutar tubuh. Ia melangkah pelan, sangat pelan tatkala menyisir rak-rak yang berdiri megah. Embun Kahyangan mengekor dalam diam.

Tak lama, kakek tua renta itu berhenti. Lengan keriput, hanya kulit membungkus tulang, mengangkat ibarat dalam gerak lambat. Jemari telunjuknya bergemetar tatkala menunjuk. 

Embun Kahyangan melangkah mengikuti arah jemari. Segera ia mengambil beberapa kitab dari atas rak, membolak-balik halaman, lalu mengembalikan. Ia raih beberapa kitab dan buku lain, kembali membolak-balik kandungannya. Raut wajah gadis belia itu berkedut. 

“Kakek Tua Kutu Buku,” tegur Embun Kahyangan ke arah lelaki tua yang hendak kembali ke mejanya di tengah pustaka. “Bukan buku seperti ini yang kucari…”

Lelaki tua renta yang dihina-dina oleh Saudagar Senjata Malin Kumbang sebagai kutu buku, memutar tubuh. “Seluruh buku di rak itu menjelaskan tentang pola hubungan antara lelaki dan perempuan….”

“Bukan sekedar hubungan…,” tandas Embun Kahyangan. “Aku mencari buku tentang tata cara berhubungan intim antara lelaki dan perempuan. Lebih baik lagi bila dilengkapi dengan gambar-gambar…”

Mendapat jawaban yang demikian polos, betapa lelaki tua renta itu terkejut bukan kepalang. Tubuhnya bergetar keras, seolah sedang menderita serangan jantung. Salah sedikit saja, maka kemungkinan besar ia akan tergolek jatuh lantas meregang nyawa. 

“Di mana bisa kudapatkan buku yang sedemikian…?”

Kakek tua renta itu menggelengkan kepala. “Tak ada buku seperti itu di pustaka ini…” 

Raut wajah Embun Kahyangan semakin berkedut. Betapa ia kecewa. Dari sekian banyak kitab dan buku langka, tak satu pun yang dapat memberikan pengetahuan yang ia butuhkan.  

“Sungguh aku kagum pada jiwa muda…,” ujar si kakek tua renta. “Akan tetapi, bukankah sepantasnya ada kitab lain yang hendak dikau temukan…” Kata-kata kakek tua renta itu kali ini meluncur cepat. 

“Kitab lain…?” Embun Kahyangan tersentak. 

“Kitab Kahyangan yang di dalamnya terkandung jurus unsur kesaktian Nawa Kabut Kahyangan…”

“Kakek Kutu Buku mengetahui tentang Kitab Kahyangan!?”

“Tentu… Tentu…,” gerutu Lelaki tua renta itu sembari memutar tubuh. Ia melangkah kembali ke meja bundar di tengah ruangan. Sepertinya terlalu lama berdiri membuat sekujur tubuhnya lelah. 

Embun Kahyangan mengekor. Pengetahuan tentang tata cara berhubungan intim memanglah penting, namun keberadaan Kitab Kahyangan pun sama pentingnya. “Apa yang Kakek Kutu Buku ketahui tentang Kitab Kahyangan…?”

Kakek tua dan renta itu berandar di kursinya. “Kitab Kahyangan tersimpan di suatu tempat. Hanya keturunan Kahyangan dan Balaputera yang dapat membuka tempat penyimpanannya…”

Bukan pengetahuan baru bagi Embun Kahyangan. Namun, mungkin saja kakek tua renta itu mengetahui lebih jauh. “Apakah Kakek Kutu Buku mengetahui di mana tempat kitab tersebut disembunyikan…?” 

“Lebih kurang…”

“Katakan di mana…”

“Kitab Kahyangan merupakan salah satu dari beberapa kitab nan penuh misteri. Diriku sangat ini membaca kandungannya. Oleh sebab itu, bilamana diriku memberi tahu tentang tempat penyimpanan kitab tersebut, apakah nanti Nona bersedia meminjamkan kitab tersebut kepadaku…?”


==


“Mengapa kalian kembali dengan tangan kosong…?”

Seorang gadis dengan dengan bentuk tubuh nan kecil mungil, belum memiliki lekuk pinggul, serta dengan permukaan dada hampir rata, melontar pertanyaan sederhana. Ia sedang berdiri di atas kursi singasana dengan motif persegi enam sebagai latar belakang. 

Wajahnya yang tirus menampilkan pesona kecantikan alami dan khas. Kendatipun demikian, raut wajahnya datar, membuat para punggawa kerajaan menjadi gusar. Semakin mencemaskan, adalah hawa membunuh nan demikian kental yang mencuat dari diri sang penguasa itu. Hawa membunuh yang mana membuat sesak di dada dan melemahkan sekujur tubuh para punggawa dan perkasa sekalipun. 

“Apakah tak ada satu pun di antara kalian yang dapat memberikan penjelasan?”

Pertanyaan dilontarkan kepada delapan punggawa kerajaan, yang saat ini sedang bertekuk lutut dan tak berkutik di hadapan kursi singasana. Walau setiap satu dari mereka merupakan tokoh-tokoh terkemuka dan perkasa di seantero negeri, tak satu pun yang menanggapi. Sebaliknya, kesemuanya menundukkan kepala, tak ada yang berani angkat suara.

Sosok lelaki setengah baya di antara kedelapan punggawa lantas bangkit berdiri. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, ia lantas berujar, “Mohon ampun, wahai Yang Mulia Ibunda Ratu. Setelah menyisir wilayah selama sehari suntuk, para prajurit kelelahan, baik tubuh maupun mental mereka.”

“Apakah aku bertanya tentang keadaan para prajurit, wahai Romualdus...?”

“Mohon ampun, wahai Yang Mulia Ibunda Ratu...” Hawa membunuh teramat menekan, membuat sekujur tubuh lelaki setengah baya itu bergementar. “Akan tetapi...”

“Aku tak tertarik dengan jawaban berbelit,” tanggapnya dingin, sekaligus memberi kesan muak. “Jikalau aku menemukan kelalaian yang disengaja, maka yakinlah bahwa engkau dan sanak saudaramu akan menerima ganjaran yang setimpal.”

Romualdus sontak kembali menunduk, lalu bertekuk lutut. Rasa takut kini menjalar di sekujur tubuhnya. Di lain pihak, Sang Ibunda Ratu Lebah mengalihkan pandangan. Sorot matanya kini terpusat kepada salah satu punggawa kerajaan yang masih bertekuk lutut.

Menyadari dirinya diharapkan memberika jawaban dan penjelasan, Elirio pun bangkit berdiri. 

“Aku memberi titah langsung kepada engkau untuk menemukan mempelai lelakiku.”

“Mohon ampun, wahai Yang Mulia Ibunda Ratu,” tanggap Elirio. “Diriku sepenuhnya menyadari bahwa Yang Mulia Ibunda Ratu mengkhawatirkan keselamatan Tuan Muda Bintang Tenggara. Akan tetapi beliau memiliki kemampuan khas dalam menyembunyikan diri.”

Ibunda Ratu Lebah melotot. Jawaban Elirio masih jauh dari harapannya. 

“Oleh karena itu,” lanjut Elirio, “diriku telah meninggalkan bawahan yang sangat kupercaya. Mereka akan memberi khabar perihal keberadaan Tuan Muda Bintang Tenggara.” 

“Katakan padaku mengapa engkau kembali dengan tangan kosong?”

Elirio menundukkan kepala. Sesungguhnya jawaban atas pertanyaan ini sangatlah mudah adanya. Adalah Romualdus yang memaksa dirinya dan pasukan menghentikan pencarian dan segera kembali. Jikalau kenyataan tersebut disampaikan kepada Ibunda Ratu Lebah, maka tak hanya Romualdus, namun segenap anggota keluarganya akan menerima ganjaran berat dari sang penguasa. 

Kendatipun demikian, Elirio menyadari bahwa masih ada kegunaan lain dari tokoh seperti Romualdus. Lebih bermanfaat bilaman tokoh tersebut tetap bernapas dan berutang budi, daripada meregangnya nyawa. Utang ini akan dapat ditagih pada waktunya nanti. 

Ibunda Ratu Lebah masih menantikan jawaban. Elirio menyadari bahwa kini adalah dirinya yang sedang terjepit, bahkan terancam. 

“Brrrt...”

Tetiba, sesuatu di saku pakaian Elirio bergetar. Segera ia merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebentuk lencana. Ia menebar mata hati, lalu menerima sebuah pesan. Sungguh sebuah pesan yang datang tepat pada waktunya. “Yang Mulia Ibunda Ratu, Tuan Muda Bintang Tenggara telah ditemukan.”

“Lantas, apa yang engkau tunggu...?”

“Yang Mulia Ibunda Ratu, diriku mohon undur diri.” Elirio mengambil beberapa langkah mundur, sebelum memutar tubuh dan bergegas pergi. 

Di saat yang bersamaan, sejumlah punggawa lain ikut bangkit berdiri dan hendak menyusul. Tentu mereka berniat baik, yakni hendak membantu Elirio membawa kembali sang mempelai lelaki. 

“Apakah aku mengizinkan kalian pergi...?” cegah Ibunda Ratu Lebah. 

Sontak para punggawa tersebut menghentikan niat di hati, lantas kembali bertekuk lutut. Tak satu pun berani menyanggah. 


Ibarat dalam pertempuran hidup dan mati, Elirio melesat cepat. Deru angin bergemuruh tatkala ia terbang ke wilayah di mana upacara adat remaja suku dayak berlangsung. Lencana yang ia memiliki merupakan alat komunikasi satu arah, di mana pesan yang ia terima tak lain datang dari Amadio. 

Di saat tiba, Elirio menyaksikan langsung betapa Bintang Tenggara dengan gagahnya telah merobohkan Amadio. Anak remaja yang memanggul kotak kayu itu sedang melangkah menuju lorong dimensi yang mengoyak udara. Sesuai perkiraan Elirio, Bintang Tenggara akan muncul karena menantikan Kuau Kakimerah yang datang menjemput. 

Tanpa pikir panjang, Elirio mengepak sayap setengah kasat mata di punggung sembari menebar mata hati. Tentu kemampuan yang dimiliki Amadio dan kawan-kawannya dalam mengerahkan Supremasi Ilusi tak dapat disandingkan dengan Elirio. Semudah membalikkan telapak tangan, punggawa Kerajaan Siluman Lebah Ledang itu menaklukkan Bintang Tenggara. 

Betapa Elirio menyaksikan Bintang Tenggara yang telah jatuh dalam pengaruh Supremasi Ilusi menatap cemas kepada dirinya. Kini, adalah perkara mudah membawa sang mempelai lelaki kembali ke sarang. Akan tetapi, sedetik kemudian, perasaan tak nyaman hinggap di benak Elirio. Ia menyaksikan sebuah senyuman tipis yang menghias di sudut bibir Bintang Tenggara. 

Bukannya Bintang Tenggara dapat membatalkan Supremasi Ilusi yang sedang dirapal terhadap dirinya. Sesuatu yang mustahil baginya tatkala berhadapan dengan tokoh sekelas Elirio. Bahkan dengan memperkuat indera pendengaran, anak remaja itu tak menyadari bahwa kesadarannya tetap dapat dirasuk dengan mudahnya. 

Yang membuat hati Bintang Tenggara lega, adalah apa yang sedang ia saksikan di dalam lorong dimensi antar dunia. Di balik sana, terlihat Kuau Kakimerah mengerahkan wujud unsur kesaktian rotan, kepak sayap rajawali, sebagai upaya mengoyak paksa lorong dimensi antar dunia. Tentu gadis belia itu tak dapat melakukan apa-apa selain memusatkan perhatian. Namun demikian, adalah sosok anak remaja lelaki bertubuh mungil yang sedang berjongkok di dekat Kuau Kakimerah, yang membuat hati lega. 

Elirio sudah melesat turun, sembari memberi perintah agar tubuh Bintang Tenggara melompat mundur. Akan tetapi, jalinan rotan melesat sedikit lebih pantas. Muncul seketika dari balik lorong dimensi antar dunia, jalinan rotan tersebut segera membelit tubuh sasaran bersama dengan kotak kayu yang dipanggul, lalu menyentak deras! 

Bintang Tenggara merasakan betapa tubuhnya yang tiada berdaya serta-merta dibelit jalinan rotan, dan ditarik masuk ke dalam lorong dimensi. Ia lantas jatuh tersungkur, dan Kuau Kakimerah sontak membatalkan wujud unsur kesaktian miliknya. 

“Selamat datang kembali!” seru Puyuh Kakimerah girang. Adalah anak remaja ini, yang tak lain merupakan saudara sepupu Kuau Kakimerah dan rekan dalam upacara adat, yang membelit dan menarik tubuh Bintang Tenggara. 

Kendatipun mendapat sambutan hangat, di saat jatuh tergolek berbalut jalinan rotan di depan Goa Awu-BaLang, sorot mata Bintang Tenggara tak lepas dari lorong dimensi antar dunia yang sedang menutup. Ia menyadari bahwa dirinya belum benar-benar terlepas dari ancaman sampai lorong dimensi antar dunia itu menutup sempurna. 

Kewaspadaan yang terbukti benar, karena kedua mata sang mempelai lelaki Ibunda Ratu Lebah menangkap bayangan hitam berkelebat. Bayangan tersebut menyusup keluar berbarengan dengan lorong dimensi antar dunia yang sedang menutup!

Apakah Elirio mengekor!? Benak Bintang Tenggara dipenuhi dengan kecemasan. 

Namun demikian, bayangan tersebut terlihat melesat cepat di antara semak belukar, dan menghilang di balik lebat pepohonan...