Episode 338 - Sang Penakluk



Kompi pasukan menyisir wilayah. Ratusan jumlah para prajurit menyebar ke semerata penjuru. Di permukaan tanah mereka berbaris berbanjar perlahan, pada batang pepohonan mereka menyeka setiap lekuk dan ceruk, di langit tinggi mereka menebar pandang. Namun demikian, tak satu pun dari mereka menemukan jejak dalam pencarian besar-besaran itu. 

Hari beranjak malam dan raut wajah setiap satu dari mereka memancarkan kecemasan yang tiada terperi. Kegusaran telah merambat ke ceruk hati terdalam.

“Tuan… sudah seharian kita menyisir…”

“Jejaknya menghilang di sekitar wilayah ini.”

“Ia menghilang tanpa jejak, seolah lenyap ditelan bumi…”

“Teruskan pencarian! Kita harus menemukannya!”

“Mohon maaf, Tuan… Akan tetapi para prajurit sudah sangat kelelahan. Kejadian pada pagi hari tadi menguras mental mereka. Hampir kesemuanya tak lagi sabar untuk secepatnya kembali ke sarang,” ungkap lelaki dewasa muda. Datang menghadap secara bersama-sama, hadir pula satu lelaki dan satu perempuan dewasa muda lain. 

Sebagaimana diketahui, pada pagi sebelumnya keadaan di dalam dimensi dunia Goa AwuBalang berlangsung mencekam. Kekuatan asing yang selama ini diumbar, datang membuat suasana menjadi kalang kabut. Binatang siluman serangga berhamburan dalam suasana panik, lalu bersembunyi dalam ketakutan. Para ahli dari ketiga kerajaan siluman mempersiapkan diri dan berkumpul untuk bertempur. Tak satu pun dari mereka yang dapat mengetahui dengan pasti apakah hari ini merupakan hari terakhir bagi diri mereka, serta dunia di mana mereka berdiam. 

Kecemasan di pagi itu, pada akhirnya mereda. Jiwa mereka tertolong. Sebuah kekuatan besar dalam wujud ‘meriam’ mampu mencegah kedatangan kekuatan asing yang mengancam kelangsungan hidup. Dengan tembakan demi tembakan yang membahana, api putih berhasil mencegah terbukanya lorong dimensi antar dunia. Perihal asal-muasal keberadaan meriam api putih masih merupakan misteri bahkan bagi segenap ahli, namun kehadirannya lagi-lagi menjadi dewa penyelamat. Kendatipun demikian, perasaan mencekam sudah meninggalkan bekas yang teramat sangat dalam.  

“Amadio, laksanakan perintahku!” tanggap sosok lelaki dewasa terhadap bawahannya yang sudah lelah dalam pencarian, dan tak lagi dapat menjaga moral para prajurit. 

Tatkala perintah disampaikan, sekelompok ahli lain mendarat tak jauh dari mereka. Sesosok lelaki paruh baya dengan wajah yang tegas dan keras melangkah mendatangi. Amadio, Delfina dan Regis sontak membungkukkan tubuh. 

“Tuan Romualdus... Apakah gerangan yang membawa dikau jauh dari sarang…?”

“Tuan Elirio, dikau melampaui wewenang sebagai punggawa yang bertugas mengelola hal ikhwal luar negeri. Mengerahkan sedemikian banyak prajurit, melangkahi wewenang punggawa lain, dan bergerak tanpa melalui rapat dewan… sungguh melecehkan aturan.” 

Atas kritik pedas yang dilontarkan, tak ada perubahan pada raut wajah Elirio. Sebaliknya, sebentuk senyuman menghias sudut bibirnya. “Tuan Romualdus, diriku bertindak tanpa terlebih dahulu berunding dengan para punggawa lain karena berada di dalam situasi mendesak. Calon mempelai Ibunda Ratu Lebah menghilang…”

“Kita hidup dan bekerja dalam tatanan. Kita sepakat menyokong kerajaan, dan oleh karenanya patut tunduk pada aturan kerajaan,” usai berkata-kata, Romualdus melirik kepada Amadio, Delfina dan Regis yang sedang berdiri di belakang Elirio. Tatap matanya tajam, dan pesan yang disampaikan segera dapat ditangkap oleh ketiga ahli dewasa muda. Sontak mereka menundukkan kepala, lantas memutar tubuh. Perbincangan antara kedua punggawa kerajaan, bukan sesuatu yang pantas didengar oleh para bawahan. 

“Adalah kewajiban setiap satu dari anggota kerajaan untuk melindungi calon mempelai Ibunda Ratu Lebah, apa pun jabatannya tanpa terkecuali,” tegas Elirio. 

“Tuan Elirio…,” lelaki paruh baya itu terdiam sejenak, sepertinya berupaya memilih dan merangkai kata-kata yang tepat. “Apakah dikau percaya dengan kehendak Ibunda Ratu Lebah? Apakah dikau setuju beliau menikahi anak manusia?”

“Diriku tiada mempertanyakan dan menentang kehendak Ibunda Ratu Lebah!” 

“Adalah tugas dan tanggung jawab kita sebagai punggawa kerajaan untuk senantiasa mengingatkan Ibunda Ratu Lebah. Setiap keputusan yang beliau pilih dan setiap tindakan yang beliau ambil, kita wajib menyajikan pandangan agar beliau tak melakukan kesalahan.”

“Dikau tak menyetujui rencana menikah Ibunda Ratu Lebah…?” 

Romualdus menatap tajam ke arah Elirio. Menghela napas panjang, lelaki paruh baya itu berujar, “Ibunda Ratu Lebah masih terlalu muda. Beliau duduk di takhta karena Ibunda Ratu Lebah sebelumnya menghembuskan nyawa pada perang besar menghadapi bangsa iblis. Oleh karena kurang pengalaman, beliau terlalu cepat mengambil keputusan… Dalam hal ini, sebuah keputusan yang keliru.”

“Lantas…?” Elirio mengangkat sebelah alis. 

“Tarik mundur pasukan pencarian. Anak manusia itu sendiri yang melarikan diri, dan kemungkinan besar meregang nyawa akibat dimangsa binatang siluman liar di tengah-tengah kekacauan. Dengan demikian, kesalahan yang diperbuat tak akan berlarut-larut dan Ibunda Ratu Lebah tak perlu menikahi anak manusia itu.”

“Perintah pencarian datang langsung dari Ibunda Ratu Lebah. Diriku tak hendak membangkang. Segala daya upaya pencarian patut dikerahkan.”

“Untuk kali ini saja, kumohon abaikan titah Ibunda Ratu Lebah…”

“Mengabaikan titah Ibunda Ratu Lebah merupakan pembangkangan. Makar!” tegas Elirio.

Tak terlalu jauh dari Elirio dan Romualdus yang bersitegang, di bawah rindang bayangan daun raksasa, seorang anak remaja bersembunyi di balik dimensi khusus ruang persembunyian. Setelah mengerahkan jurus Silek Linsang Halimun Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar, ia menanti dalam diam. Sungguh tiada nyaman, karena kali ini ia terpaksa membawa serta kotak hitam ke dalam ruang nan sempit. 

Terlepas dari itu, Bintang Tenggara sedang sangat beruntung. Ahli sekelas Elirio hanya memberikan perintah kepada bawahan dan prajurit dalam pencarian. Karena betapa pun canggihnya jurus Silek Linsang Halimun, maka perapalnya akan terpapar bilamana ahli tingkat tinggi memusatkan mata hati ke wilayah tempat persembunyian. Kejanggalan akan ruang dimensi yang dirapal oleh ahli Kasta Perak, tentu dapat dirasa oleh Ahli Kasta Emas ke atas.

Bintang Tenggara menyadari betul bahwa dirinya mau tak mau  melewati malam nan panjang tanpa melelapkan mata, karena jurus yang dikerahkan akan serta merta batal bilamana tertidur. Esok adalah hari di mana Kuau Kakimerah datang menjemput, sehingga semalam suntuk dijalani di dalam persembunyian. Rencana yang dikemas saat ini adalah menanti sampai sang mentari tepat berada di atas kepala, di mana kelelahan kompi pasukan berada pada titik tertinggi. Di saat itu nanti, ia akan melesat ke wilayah di mana upacara adat berlangsung. Jaraknya tak terlalu jauh, namun juga tak dekat karena menjaga agar jejak yang ditinggalkan tak menimbulkan kecurigaam. 

Malam beranjak pagi. Rupanya tak lagi ada pasukan siluman sempurna yang menyisir wilayah. Kemungkinan mereka telah kembali dengan tangan kosong, kemungkinan pula menunggu di antara semak belukar dan pohon-pohon maha raksasa, menanti kesempatan menyergap. Oleh sebab itu, Bintang Tenggara tak hendak bertindak gegabah. Ia memutuskan untuk berdiam diri sesuai rencana.

Anak remaja itu menebar mata hati kepada diri sendiri dan hanyut di dalam seluk-beluk ingatan. Tak lama, ia menemukan sebuah peti dari besi yang terkunci gembok. Ukurannya biasa saja layaknya peti-peti kebanyakan, namun terlihat sangatlah kokoh. Ingatan itu bukan miliknya, melainkan kepunyaan ahli lain yang ditempatkan menggunakan kemampuan khas. Dengan kata lain, Supremasi Ilusi digunakan untuk mengirimkan ingatan ke dalam benak sasaran, seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Amadio kala menciptakan kenyataan palsu tentang ‘tempuling kecil’ yang digunting. 

Perkiraan Bintang Tenggara menyimpulkan bahwasanya di dalam peti bergembok tersebut tersimpan seberkas ingatan. Ingatan tentang tata cara penerapan Supremasi Ilusi sebagaimana yang biasa dirapal oleh para siluman sempurna rayap. Ingatan milik Ayahanda Raja Rayap. Cara menyampaikan yang demikian berbeda dengan waktu Komodo Nagaradja mewariskan Tinju Super Sakti atau saat Pangalih Rantau menurunkan Silek Linsang Halimun. 

Bintang Tenggara berupaya membuka gembok pada peti besi, namun upaya yang ia kerahkan tak membuahkan hasil. Bagaimana caranya membuka sesuatu yang tersimpan di dalam ingatan…? Anak remaja itu sama sekali tak memiliki petunjuk. Yang jelas, ada syarat dan ketentuan tertentu yang harus dipenuhi guna membuka. Sesuatu yang Ayahanda Raja Rayap kehendaki…? Ataukah sesuatu keadaan yang perlu dicapai agar peti dapat terbuka dengan sendirinya…?

Di kala berandai-andai dan menelusuri berbagai kemungkinan, tiada terasa hari beranjak siang. Bintang Tenggara menghela napas panjang, lantas membatalkan jurus Silek Linsang Halimun. Begitu melompat keluar, jalinan petir berderak di kedua belah kaki dan siluet seorang anak remaja lelaki yang memanggul kotak kayu pun melesat cepat.

Lintasan tiada beraturan, namun gerakan sangat sangkul lagi mangkus. Jarak tempuh yang panjang dipersingkat dengan kecepatan. Akan tetapi, tetiba langkah kakinya terhenti di tempat. Baru hendak memasuki wilayah di mana upacara adat remaja suku dayak berlangsung, tiga ahli dewasa muda sudah siaga menanti. Raut wajah mereka kusam, dan mata memerah. Ketiganya terlihat demikian lelah. 

“Akhirnya tiba juga Tuan Muda,” sambut Amadio berupaya tampil cerah sembari melangkah maju. “Dikarenakan satu dan lain hal, Tuan Elirio terpaksa kembali ke sarang, namun beliau menugaskan kami menanti di sini.” 

Cih! Tiga Jahanam, batin Bintang Tenggara melakukan perhitungan. Jarak di antara mereka hanya terpaut sekira sepuluh langkah, dan kesempatan yang ada segera dimanfaatkan untuk menebar mata hati dan mengalirkan tenaga dalam ke arah telinga. Dengan meningkatkan kemampuan indera pendengaran, Bintang Tenggara berupaya sepenuhnya menangkap suara kepak sayap di balik pundak ketiga lawan. Supremasi Ilusi milik para siluman sempurna lebah diketahui mengandalkan suara sayup kepak sayap yang tak disadari untuk menyerang. Dengan sengaja mendengarkan suara kepak sayap tersebut, maka kesadaran menjadi sadar. 

Demikian itu merupakan sebuah cara yang sangat sederhana dalam menangkal kemampuan Supremasi Ilusi yang khas dari siluman sempurna lebah! 

Raut wajah Amadio, Delfina dan Regis kompak berubah seketika. Ketiganya menyadari bahwa anak remaja di hadapan mereka, yang mana sedang memanggul kotak kayu itu, sama sekali tiada terpengaruh kemampuan Supremasi Ilusi. Bagaimana bisa!?

“Kuperintahkan kalian menyingkir!” hardik sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Tuan Muda, kami memperoleh kepercayaan dari Tuan Elirio. Kami tak bisa kembali tanpa membawa serta Tuan Muda.”

Kata-kata Amadio dijawab dengan kilatan petir bergemuruh yang meluncur dari permukaan telapak tangan Bintang Tenggara. Jurus tunggal Guntur Menggelegar mencabik permukaan tanah di tempat di mana ketiga ahli dewasa muda tadinya berdiri, sementara mereka sudah terlebih melompat ke berbagai arah. Bintang Tenggara membuka serangan!

Bergerak gesit, anak remaja itu lantas mengincar Regis yang melompat ke sisi kiri. Cakar-cakar bermuatan petir mencabik, namun lawan masih cukup gesit menghindar. Kecepatan tubuh ahli Kasta Perak Tingkat 7 memang tak dapat dipandang sebelah mata. Namun demikian, perlahan dan pasti Bintang Tenggara yang meski memanggul beban di pundak, mempersempit ruang.

Hampir terdesak, Regis melompat ke samping. Di saat Bintang Tenggara mengubah arah untuk mengejar, di saat itu pula datang ancaman dari arah lain. Tepat dari balik tubuhnya, muncul Delfina yang melompat sekaligus membokong dengan tendangan sapuan. 

Sontak Bintang Tenggara memutar tubuh dan menyilangkan lengan di depan dada. Daya hentak tendangan kemudian diredam oleh sepasang Sisik Raja Naga, namun tenaga dorongan tendangan diterima apa adanya. Sebagai tambahan, anak remaja itu pun melompat mundur… 

“Brak!” 

Sebaliknya, Regis yang sedang menarik napas lega karena berhasil melepaskan diri dari serangan bertubi, menjadi lengah dan merupakan sasaran empuk bagi kotak kayu keras yang dipanggul di pundak. Kini ia terjepit di antara pohon dan kotak kayu tersebut. Sementara itu, Bintang Tenggara menahan pukulan demi pukulan yang disarangkan Delfina, kemudian mengalirkan kekuatan dorongan ke pundak sehingga membuat Regis semakin terhenyak. 

“Hentikan serangan!” teriak Amadio sembari mengejar. 

Delfina terlambat menyadari karena pandangannya terhalang kotak kayu berwarna hitam. Hanya setelah Bintang Tenggara melompat menjauh, baru kedua matanya mendapati Regis yang sudah tergolek lemas di kaki pohon. 

“Jangan gegabah,” ujar Amadio. Meski tetap tampil tenang, dalam benak ia takjub. Pengalaman bertarung anak remaja yang hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 2 demikian terasah. Hampir tanpa mengerahkan tenaga, dia sudah merobohkan salah satu dari tiga lawan! 

Di lain sisi, Bintang Tenggara sepenuhnya menyadari keteguhan lawan-lawannya dalam menjalankan perintah. Tiga Jahanam harus dijatuhkan, hanya dengan tindakan yang sedemikian dirinya dapat melepaskan diri. Di saat yang bersamaan, waktu semakin sempit. Bukan tak mungkin Amadio telah mengirimkan pesan kepada prajurit lain, bahkan kepada Elirio. Elirio bukan lawan yang sepadan!

Bintang Tenggara kembali merangsek maju. Kali ini kecepatan langkah petir melesat dua kali lebih cepat. Kombinasi jurus kesaktian Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana dengan Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang sulit dicerna nalar. Ia tiba tepat di hadapan tubuh Delfina yang menanti ketibaan Amadio, lantas menyarangkan tinju beruntun tepat di ulu hati. Perempuan dewasa muda itu roboh di tempat! 

Amadio tiba dan melompat maju. Ahli Kasta Perak Tingkat 9 berada pada kelas yang berbeda. Dua tingkat di atas Regis dan satu tingkat di atas Delfina. Tambahan lagi, Amadio sangat waspada. Ia tak akan mengulang kelengahan Regis dan Delfina. Pertarungan dapat berlangsung lama.

Pertukaran pukulan terjadi tangkas. Kali ini, dan akibat ruang gerak yang dibatasi oleh kotak kayu di pundak, Bintang Tenggara terpukul mundur. Ia hanya mampu berkelit ke arah sisi dan belakang, tanpa dapat menyarangkan serangan balasan yang berarti. Sepintas pandang, maka Super Murid Komodo Nagaradja seolah sedang terdesak adanya. 

Tetiba Amadio berhenti menyerang. “Bertarunglah dengan sepenuh hati,” ujarnya pelan. “Tuan Muda telah dapat menakar kemampuan persilatan kami melalui latih tarung kita di sarang. Selama itu pula Tuan Muda menyembunyikan kemampuan sesungguhnya.” 

Bintang Tenggara hanya diam. Siasat yang ia tanamkan sejak beberapa waktu lalu mulai terkuak. 

“Hm…,” tetiba Amadio tersadar akan sesuatu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memantau wilayah sekeliling. “Tuan Muda membawa diriku ke tempat di mana upacara adat remaja suku dayak berlangsung…”

Bintang Tenggara masih diam. Kemampuan pengamatan lawan tak dapat dipandang sebelah mata. Siasat yang ia lancarkan saat ini pun mulai terpapar.

“Apakah Nona Kuau Kakimerah akan menjemput Tuan Muda di tempat ini…?”

Siasatnya kini sudah serta merta terbongkar. Senyuman kecut menghias di sudut bibir Bintang Tenggara. Akan tetapi, bila pertarungan menghadapi Amadio akan berlangsung lama, setidaknya kini ia berada di wilayah di mana upacara adat berlangsung. Sewaktu-waktu Kuau Kakimerah akan membuka lorong dimensi antar dunia untuk datang menjemput. Oleh karena itu, akhir dari pertarungan ini tinggal menunggu waktu sahaja. Waktu untuk melarikan diri… 

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara menurunkan kotak kayu yang dipanggul. Ruang geraknya kini terbuka lebar. Dari raut wajahnya, terpapar jelas bahwa ia akan bertarung dengan sepenuh hati. Selagi masih ada waktu, lebih baik melumpuhkan Amadio, lalu menanti dengan tenang menggunakan jurus Silek Linsang Halimun.

Pertarungan kembali berlangsung sengit. Bintang Tenggara nyaris dipukul jatuh dalam beberapa kesempatan. Namun demikian, tanpa menguasai jurus-jurus kesaktian, Amadio perlahan namun pasti mulai tertinggal. Kombinasi jurus yang apik membuat Amadio terpaksa menjaga jarak. 

“Craakk…” 

Sekira sepuluh langkah di balik tubuh Amadio, tetiba udara merekah. Jalinan rotan menembus, lalu mulai mengoyak paksa. Kuau Kakimerah datang menepati janjinya!

Bintang Tenggara meraih tali panggul kotak di mana Si Kancil tergolek tiada berdaya. Tanpa dinyana, anak remaja itu lantas melempar kotak ke arah Amadio!

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Di kala kotak kayu menutup pandangan mata Amadio terhadap lawan, di kala itu pula si lawan melakukan teleportasi jarak dekat. Bintang Tenggara tiba di antara kotak dan Amadio yang terperangah. Rentetan tinju keras pun mendarat di ulu hati. Di kala lawan ketiga roboh, di kala itu pula kotak kayu yang sebelumnya dilemparkan tiba. Dengan kata lain, rangkaian serangan anak remaja itu hanya berlangsung kurang dari dua kedipan mata! 

Setelah menyambut dan kembali memanggul kotak kayu, Bintang Tenggara Sang Penakluk yang memenangkan tiga pertarungan beruntun melangkah gagah. Tubuhnya tegap, dan sorot matanya tajam. Tak ada satu yang mampu menjegal langkahnya, langit dan bumi menjadi saksi dan ke arah lorong dimensi antar dunia yang sedang dikoyak ia menuju. 

Lorong dimensi tersebut kini berukuran selayaknya roda pedati, sehingga sudah cukup besar bagi Bintang Tenggara untuk melompat masuk…

“Sret!”

Namun demikian, hanya beberapa langkah saja lagi dari lorong dimensi antar dunia, mendadak sekujur tubuh Bintang Tenggara menjadi kaku. Perasaan tak nyaman merambat di sekujur tubuh, sampai mual rasanya perut dan pening isi kepala. Dalam panik sontak ia melirik ke atas, hanya untuk mendapati keberadaan sesosok tubuh yang melayang tinggi.