Episode 49 - Jadi Pemburu


Setelah meneliti, menelaah, menelusuri keseluruhan Pemegang Gelar yang dapat kuamati, aku dapat mengatakan hal ini: secara kasar, Pemegang Gelar dapat dibagi menjadi dua jenis. Kalian mungkin mengira bahwa pembagian ini adalah pembagian dalam aliran hitam-putih, antara kejahatan dan kebajikan, seperti anggapan masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, pembagian yang kubicarakan sebenarnya lebih mendasar, dan lebih berhubungan dengan Pemegang Gelarnya dibandingkan dengan moralitas mereka.

Pemegang Gelar hanya dapat dibagi dua: Pemegang Gelar yang dikendalikan Gelarnya, dan Pemegang Gelar yang mengendalikan Gelarnya. Sayangnya, belakangan ini aku lebih sering menemukan jenis yang pertama.

—Kaisar Ling Chi, dalam salah satu dari ratusan karyanya yang berjudul “Kajian Gelar”


“Dimohon kalian semua tenang,” kata Hikram, meskipun dari suaranya yang gemetar terdengar jelas bahwa sebenarnya dialah yang paling tidak tenang untuk saat ini.

Yaksa dan Yaksi merepet, suara mereka sangat serupa. Hikram mau saja berkomentar tentang itu kalau saja situasinya tidak segawat ini. Hikram memanggil tongkat bambunya, menggenggamnya dengan satu tangan, lantas mengibas-ngibaskan tongkat itu udara. Mata merah si kerbau raksasa mengikuti kibasan tongkat itu, ke kiri, ke kanan, seperti terhipnotis, ekornya pun bergerak dalam irama yang sama.

“Guru,” Sidya berkata tertahan, “apa guru anggap dia itu anjing yang bisa diajak main lempar tangkap tongkat?”

Sembari matanya masih mengikuti gerakan, sambil lalu si kerbau menyaruk-nyarukkan salah satu kaki depannya ke tanah, menimbulkan suara kehancuran serta debu saat kakinya yang kuat menimpa kerikil sampai remuk.

“Sabar, sabar,” Hikram berkata menenangkan pada si kerbau, tangannya yang bebas setengah terangkat. Untuk kali ini dia abai terhadap pernyataan Sidya yang sebenarnya di kesempatan lain akan disambutnya dengan tawa tergelak. Dirasakannya telapak tangan Sidya menyentuh punggungnya, menyalurkan tenaga Udara Pagi Siauliong sendiri sementara si putri menahan napas. Hikram merasakan kekuatan membuat tumpuan kakinya meneguh, tenaganya kembali sementara ia berkata, masih menatap si kerbau yang balas menatapnya, “tenang, Teman Besar. Jangan takut, kami tak akan menyakitimu. Kami bukan ancaman, percayalah. Kami akan pergi dengan damai, dan tak akan menyakitimu selama kau tak menyakiti kami.”

Apapun reaksi yang diharapkan oleh Hikram dari kerbau itu, jelas bukan ini: si kerbau menundukkan kepala, lantas dengan kekuatan berlebih yang setara dengan gempuran air bah menghambur ke depan, menyeruduk untuk mengincar Hikram, bumi bergetar seiring dengan jejakan empat kakinya ke tanah, mengingatkan Hikram pada Si Tawa Gempa walau si mendiang tukang senyum itu jelas tak bisa menggempurnya dengan tenaga kasar luar biasa besar seperti ini.

“Menghindar, Sidya!” Hikram berteriak, si putri melesat mundur sesuai dengan arahannya, memanfaatkan ilmu ajaran Pisun untuk mempercepat pergerakan, sementara Hikram sendiri melintangkan tongkatnya ke depan, yang kali ini dipegang dengan kedua tangan. Hanya jeda sedetakan jantung saja sebelum hantaman keras dari puncak kepala si kerbau akan mengenai Hikram, di kesempatan terakhir ini si kerbau memiringkan sedikit kepalanya, sisi tanduknya yang tebalnya dua kali ukuran lengan orang dewasa mengincar badan Hikram.

Beruntung, Hikram telah menyibak keempat Gelarnya secara bersamaan. 

Kerbau itu melenguh saat tanduknya tertahan oleh tongkat dengan suara yang menggetarkan bumi, dan tenaganya yang luar biasa besar pun tak mampu menggeser tatkala Si Pagar Betis Satu Orang bertarung sendirian. Si kerbau mendorong lagi dengan tenaganya yang tak main-main, kali ini lebih kuat daripada sebelumnya, dan berhasil mendorong Hikram sampai kakinya membentuk garis di tanah dan terdorong mundur empat depa sementara si pesilat tua mengertakkan gigi. 

Si kerbau memiringkan kepalanya lagi, masih dengan mendorong untuk menghujam badan Hikram, tapi si pesilat tua menghindari tanduk itu dengan cara memindahkan bobot tubuh ke sisi badan yang lain, dan dengan begitu pula untuk sementara ia terbebas dari ancam empat tanduk yang ujungnya sama tajamnya dengan sebuah pedang.

SI kerbau mengedikkan kepala, merasa terganggu saat sebutir besi melejit dan menghantam puncak kepalanya. Tak cukup keras untuk menembus kulit yang tebal, tapi jelas cukup untuk mengalihkan perhatiannya dari usaha penuh untuk menamatkan tumpuan kaki Hikram.

Apalagi, incaran besi kecil-kecil mirip kelereng itu bukan hanya satu, sebab Yaksi telah mendatangkan enam bayangannya. Dengan suara ‘ting-ting-ting-ting’ yang bersahutan serupa petikan sitar yang berirama, ketujuh Yaksi menjentik senjata rahasia dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa. ujung kepala, sisi telinga yang lebar, bahkan mata yang merah terkena hujan kelereng besi, membuat si kerbau melenguh kesakitan, napasnya mendengus sampai hidungnya mengeluarkan embun, membasahi Hikram yang mulai kewalahan harus berhadap-hadapan dengan tenaga yang setara dengan puluhan bahkan ratusan lelaki dewasa ini.

Kaki Hikram berkeriut, serasa mau patah saat dorongan yang lebih keras datang, dan celakanya Gelar Pagar Betis Satu Orang memudar perlahan pula saat Yaksi membantunya. Masih ada tiga Gelar lain yang mendukung diri, tapi keuntungan terbesar yang diberikan Pagar Betis mau hilang.

Beruntung, Hikram dan Yaksi tak hanya berdua saja untuk mengatasi kesulitan ini.

Yaksa melompat, berpijakan ke satu tempat ke tempat lain, untuk sejenak nampak sehat seolah ia belum minum minuman keras barang secawan pun hari ini, untuk kemudian menapak di samping badan besar si kerbau yang liar bergoyang ke kiri ke kanan untuk mendorong lelaki tua kurus yang masih menahannya.

Hikram melirik Yaksa, tepat saat murid pertama Abdi Katili itu mendatangkan mustikanya dari udara kosong.

Jika dibandingkan dengan Yaksi yang memiliki kelereng-kelereng besi sebagai mustika, maka mustika Yaksa yang berbentuk lempeng baja putih yang sepenuhnya melindungi lengan dan tinjunya nampak lebih mentereng, sebab ia memang lebih senang memamerkan diri, tidak seperti adiknya yang amat rendah hati dan lebih suka menyembunyikan kekuatannya hingga dianugerahi Gelar Bayangan.

Sang kakak? Ia sendiri memegang Gelar sebagai Baja Wasnu.

Yaksa mundur sejenak, menarik kedua tinjunya ke dua sisi badan, yang Hikram kenali sebagai suatu bagian ilmu tangan kosong milik Ambal yaitu Hantaman Baja Pamungkas. Walau Hikram sendiri tak tahu jurus apa yang sedang dimainkannya, jelas murid pertama si Abdi Katili memainkan jurus warisan gurunya.

Dan ia merangsek, mata tetap ke depan sementara pukulan telak kedua tinju berselimut bajanya menghantam badan si kerbau dengan suara keras benda tumpul menghantam kulit. Jurus ini jelas tak bisa dilakukan kecuali lawan sedang amat lengah, dan ia punya cukup waktu untuk menghimpun tenaga, dan Hikram sendiri sadar bahwa kalau ia yang terkena pukulan telak ini, bukan tidak mungkin bahwa tubuhnya akan rontok didera tenaga kasar murid Ambal ini.

Hasilnya pun luar biasa, sesuai dengan nama ilmunya. Si kerbau raksasa badannya tergeser, kedua kaki di sisi kiri badannya terangkat dan ia mau roboh dengan lenguhan hebat. Hikram cepat tanggap, ia memutar tongkatnya, menggunakan tenaga penuh untuk memuntir tanduk yang sedang ditahannya hingga kepala si kerbau ikut berputar, dan kerbau itu roboh miring sepenuhnya, menghantam bumi dengan derak yang memekakkan telinga dan merobohkan dua batang pohon sekaligus.

Hikram cepat mundur sebelum si kerbau bangkit, sementara Yaksa telah lebih dahulu kabur setelah memukul tubuh si binatang yang tanpa penjagaan.

Kerbau itu melenguh, berdiri dan menggoyangkan kepalanya, setengah dibutakan akibat kelereng besi menghujam salah satu matanya, lantas lari dengan derap keras ke arah Pemukiman. Bahkan di tengah jalan sekalipun, ia tak peduli dengan pepohonan yang menghambat jalannya, ia hanya menyeruduk pepohonan itu dengan tanduk-tanduknya yang luar biasa kuat, melemparkan batang serta ranting yang kini berhamburan ke udara.

“Biarkan!” raung Hikram saat Yaksi mau melempar kelerengnya yang nampak amat sangat kecil jika dibandingkan dengan si kerbau untuk mengincar bagian belakang badannya. “Sedetakan jantung dia lebih lama beradu tenaga denganku, kita yang akan mati!”

“Ini berbahaya bagi Pemukiman, Paman!”

“Pemukiman dijaga oleh perisai tak kasat, bukan?!”

“Masak kita harus melepaskan bahaya yang mengancam ratusan orang tanpa menghadapinya?”

“Aku tahu!” kata Hikram frustrasi, “tapi … sudahlah. Kita buntuti dia, jangan sampai perhatiannya tertarik pada kita sekali lagi. Menghalaunya bersama dengan penghuni Pemukiman akan jauh lebih mudah daripada menghadapinya bertiga.”

“Paman ada benarnya,” kata Yaksa, dan kali ini ia berjalan sempoyongan lagi, bahkan nampak tak begitu terganggu saat tersandung sesuatu yang belakangan baru Hikram kenali sebagai tangan si Partai Pengembara malang yang tewas dikunyah oleh si kerbau, “tunggu dulu, di mana para pengejar kita?”

Hikram mengedar pandang. Tak ada satu pun cahaya obor sejauh matanya mampu memandang, hutan kembali sekelam biasanya. “Kabur, mungkin. atau kembali ke Pemukiman.”

“Kita bisa yakinkan mereka untuk melepaskan ancaman pada murid Paman!” kata Yaksa cerah, pelindung tangannya berderit saat ia menggerakkan kedua lengannya untuk melemaskan diri saat ketegangan akibat si kerbau meluntur, “aku yakin masalah ini akan terselesaikan kalau kita membantu menumbangkan binatang sialan itu.”

“Bagus,” gerutu Hikram. Ia masih belum bisa melupakan bahwa sebenarnya ia tak perlu menghadapi kerepotan ini kalau saja tidak gara-gara kelakuan Yaksa yang begitu mudah menjual berita pentingnya kepada orang lain. Hikram berpaling ke kiri dan kanan, lantas memanggil, “Sidya, Nak, kau boleh keluar sekarang.”

Sidya menunjukkan dirinya. Rupanya ia bersembunyi di balik sesemakan, badannya gemetar hebat, kedua lengannya memeluk diri sendiri sementara ia bertanya, “dia sudah benar-benar pergi?”

“Tak ada gempa kecil-kecil lagi, berarti dia memang sudah enyah, setidaknya untuk saat ini.”

“Makanya, kita musti segera—”

Perkataan mendesak dari Yaksa itu terpotong saat seorang lelaki mendarat di dekat mereka. Kedua alis Hikram terangkat, dia sama sekali tak mendengar kedatangan baru ini, mirip-mirip dengan saat si kerbau memunculkan diri. Sedetak jantung lalu lelaki ini tak ada di sana, seolah-olah ia datang dari udara kosong sendiri.

Dia berpenampilan seperti seharusnya bagaimana anggapan orang awam tentang pemburu. Pakaian dari kulit samakan, celana sederhana dari kulit pula, kantung anak panah melintang di punggungnya, wajahnya dilukis dengan garis-garis sehingga tersamar dengan warna hutan. Yang paling menarik adalah busur yang terbuat dari tulang binatang besar yang tergenggam ditangannya, yang bahkan tanpa sumber penerangan yang pasti sekalipun berpendar seperti memiliki cahaya sendiri. Wajahnya serius, terlalu serius hampir merengut seperti dia ini tahunya hanya kemuraman saja sepanjang hidupnya, dan tak pernah merasa senang.

“Malam,” sapanya cukup sopan seperti ini di Nagaratama saja dan bukannya di tengah antah-berantah. “Aku mencari buruanku, mungkin kalian melihatnya. Seekor—”

“Kerbau?” empat suara dari Sidya, Yaksa, Yaksi, dan Hikram sendiri memotong perkataannya, semuanya terdengar seperti menuduh.

Bahkan ia tidak tersenyum saat mendengar jawaban berbareng itu. “Jadi kalian melihatnya. Di mana?”

Hikram menunjuk dengan tongkatnya, ke arah kehancuran hutan yang disebabkan oleh si kerbau raksasa saat ia merusak apapun yang menghalanginya dengan hantaman tanduk. “Tak begitu susah untuk menemukannya kalau matamu cermat mencari,” kata Hikram datar.

“Susah, jika ia berpindah ke alam gaib sekali lagi.” jawab si pemburu singkat. Ia mengangguk, mungkin caranya untuk mengucapkan semacam terima kasih, lantas mau melangkah ke arah Pemukiman sebelum Hikram menghentikannya dengan lintangan tongkat di depan dadanya.

“kurasa akan lebih baik kalau kita pergi ke sana bersama-sama, Pemburu.”

Ia melirik Hikram, mata coklatnya mengawasi sebelum ia menggerakkan busurnya untuk menyingkirkan halangan tongkat.

Tapi, Hikram menyalurkan tenaganya, dan dorongan dari pemburu itu terhenti saat merasakan tenaga tentangan dari Hikram sendiri.

“Minggir,” kata si pemburu datar. ia terdengar nyaris bosan, tapi itu malah membuat lainnya mundur teratur terkecuali Hikram yang bersikeras masih melintangkan tongkat.

“Minggir. Ini peringatan terakhirku,” katanya, dan kali ini penekanan lebih nyata dalam suaranya. “Tak ada yang bisa memisahkan Katis dari buruannya,” Ia memandangi Hikram dari kaki sampai kepala, lantas mendengus, “bahkan salah satu wakil dari dewa Kahyangan sekalipun.”

Yaksi mengeluarkan suara terkejut, menekap mulutnya saat si pemburu mengatakan hal ini. Tapi, Hikram yang tak mendengar kekagetan Yaksi malah menyeringai, “wah, wah, wah, dengar siapa yang mau menantang Kahyangan sendiri. Kau cari masalah, Teman. Kalau saja Panglima Kensa mendengar tentang ini, mungkin ia akan menyambarmu dengan petir saat ini juga dan kita buktikan apa omonganmu ada benarnya. Syukurlah ia tidak dengar, jadi—“

“Apa yang sebenarnya mau kau katakan?”

“Aku baru mau sampai ke pokok utama,” kata Hikram, setitik kekesalan terdengar dalam suaranya. “Jadi begini, Pemburu. Kau yang menyebabkan semua ini, benar? Kau ini pemburu macam apa hingga meloloskan hewan buruannya untuk mengacaukan hidup orang lain? Sepertinya aku harus mengawasimu … tahulah, supaya orang-orang Pemukiman nanti mengerti siapa yang menyebabkan hal ini begitu semua selesai.”

Si pemburu diam sejenak, wajahnya yang sudah masam tambah masam lagi, tapi akhirnya ia menyingkirkan tongkat Hikram yang menghalangi.

“Baik. Tapi, jangan menghambatku jika aku sudah bertemu dengan Si Raja Kerbau.” Lalu ia menggumam, nyaris berbisik seolah mendengungkan sebuah doa, “karena percayalah, tak ada yang bisa memisahkan Katis dengan buruannya.”

--