Episode 99 - Survival Island


2 menit setelah giliran Alzen,

Gunin berlari seorang diri dengan nomor urut 296.

“Siapapun krunya, harus bisa kutangani dengan baik.”

***

12.38 hari pertama.

“Oke aku duluan ya... aku harap kau dapat party yang kuat.” Nicholas berpisah dengan Sinus.

“Baik, tidak usah khawatirkan aku.”

“Jelas aku khawatir lah bodoh!” Nicholas pergi berlari menuju warp bersama Velizar dan Ikzen, Anak pendek berumur 15 tahun yang sempat menjadi Healernya pada ujian dungeon terdahulu.

“Jaga dirimu baik-baik. Kita tetap tidak akan jadi musuh di sana nanti,” kata Velizar dengan wajah datar.

“Tenang saja, tenang saja.” kata Sinus dengan tersenyum percaya diri.

Sampai saat ini, Sinus belum juga mencari anggota dan karena reputasinya yang buruk, tak satupun menerima ajakannya atau bahkan dengan sukarela ada yang meminta bergabung pada partynya.

Nicholas mendapat nomor urut 756-760.

5 menit setelah Nicholas,

“Selanjutnya aku.” Leena melakukan tos dengan Sintra. “Sampai jumpa Sintra.”

Leena berlari menuju Warp, berdua saja dengan Ivara, anak Liquidum yang sempat menjadi Healernya di ujian dungeon terdahulu.

Leena berada di nomor urut 851-855.

Tak lama setelah Leena, Even. Mantan Tankernya sewaktu di ujian dungeon dulu masuk dan mendapat nomor urut 876.

Nomor urut 971-975 adalah party Lio, ia hanya masuk berdua dengan Fia.

“Ayo Joran! Sekarang giliran kita bersinar!” Bartel masuk dengan penuh semangat, di belakangnya. Joran mengikutinya dengan tanah bergetar pada setiap hentakan kakinya. Tak ada yang bergabung pada mereka sekalipun mereka berdua sangat kuat, di saat yang sama, mereka juga tidak mencari anggota.

Bartell mendapat nomor urut 1091-1095.

***

13.00 hari pertama.

Satu jam pertama sudah berlangsung. Peserta di istana tersisa sekitar kurang dari 700 orang.

Sinus memutuskan masuk seorang diri menyeka air matanya, karena tak satupun ada yang mau memasuki partynya, saat berlari ia dislengkat jatuh oleh Luxis dan Koblenz.

Token itu terjatuh dan diambil oleh Luxis. 

“Kau sombong sekali,” kata Luxis dengan tatapan tajam. “Orang tak berguna sepertimu membuang Nicholas dan si bangsat Velizar.”

“Kau jadi ketua party? Hahaha...” Koblenz mentertawainya. “NGIMPI!!” Koblenz menegaskan kata itu di depan wajah Sinus. “Untung si sombong dan si datar itu sudah duluan.”

“Biar aku saja yang menjadi ketua.” Luxis segera meninggalkan Sinus dan berjalan menuju Warp. “Orang tak berguna sepertimu, sama sekali tidak pantas.”

Setelah Luxis melakukan Warp, Sinus ikut hilang bersamaan dengan mereka berdua. Sinus di warp dalam kondisi menangis membasahi pipinya.

Party Luxis mendapat nomor urut 1211-1215.

Vlaudenxius menyaksikan semua itu, tapi membiarkannya begitu saja.

***

13.21 hari pertama.

Setelah menunggu lama karena Iris yang menghilang tiba-tiba, Luiz bangkit dan masuk berdua saja dengan Fhonia. 

Luiz mendapat nomor urut 1626-1630.

Dan di akhir-akhir, istana sudah mulai sepi. Sintra baru memutuskan masuk.

“Ayo ini saatnya,” kata Sintra. “Datang terakhir seharusnya akan lebih aman, karena kita sudah bisa menghindari konflik yang sudah terjadi 90 menit terakhir ini.

Sintra masuk bersama Thania, Support dari Ventus dalam party saat ujian dungeon dulu.

Sintra mendapat nomor urut 1741-1745.

“Aku jujur heran, kenapa kau yang memintaku untuk menjadi ketua partyku.” kata Ranni yang duduk saling memungguni dengan Sever. 

“Tidak ada alasan khusus, aku hanya tahu bahwa kamu ini kuat.”

“Huh...” Ranni tersenyum kecil. “Kata-kata itu datang dari orang yang sebenarnya berhasil mengalahkanku.”

“Kau masih membahas duel di turnamen itu ya... itu sudah 7, 8 bulan lalu. Tidak perlu diungkit lagi.”

“Kalau pak Lasius tidak mengintervensi dan kau bisa kontrol tornadomu dengan sempurna. Jelas aku sudah kalah telak.”

“Namun yang telah terjadi adalah pak Lasius turun mengintervensi dan aku tidak bisa mengontrol tornado milikku sendiri waktu itu.”  

“Baiklah,” Ranni berdiri. “Kita sudah menunggu sampai menit-menit terakhir.”

Sever ikut berdiri. “Ayo bergegas, kita berdua saja.”

Ranni dan Sever berdua berlari menuju Warp dan Ranni mendapat nomor urut 1756-1760.

***

13.34 hari pertama.

Seluruh peserta ujian sudah memasuki pulau. Sementara Party Alzen masih mengitari pedesaan tempat mereka pertama kali muncul sampai satu jam lamanya.

“Duh capek, kita istirahat dulu yuk.” keluh Iris sembari duduk diatas tanah dengan tubuh berkeringat. “Lagian tidak ada siapa-siapa juga disini.”

“Halo! Apa orang disini?! Halo...” sahut Chandra sambil mengecek setiap rumah pedesaan yang kita temui. “Daritadi kita periksa tempat ini satu-satu, yang ada hanyalah rumah kosong tidak berpenghuni.”

Cefhi melihat ke atas, ia disinari terik matahari yang membuat sekujur tubuhnya berkeringat. “Duh... panas banget.” ucapnya sambil membasuh keringat di lehernya. 

Kruuukkk...

Terdengar suara perut Nirn.

“Aku lapar.” kata Nirn sambil memegangi perut gemuknya dengan tatapan lemas tak bertenaga.

“Baik, kita istirahat dulu.” Alzen bicara dengan tangan kanan mengelus dagunya sambil terus melihat peta besar yang dipegangnya. “Sebelum itu, kalian coba kesini sebentar deh.” Alzen mengajak anggota partynya untuk melihat peta itu.

“Huh ada apa?” tanya Chandra penasaran.

“Kalian lihat ini.” Alzen menyuntikkan Aura ke pada selembar peta itu, lalu titik biru dengan anak panah muncul di wilayah bernama Calya. Yang lokasinya ada di wilayah barat condong ke tengah pulau Vanadivia. Di Peta itu wilayah Calya menunjukkan banyak rumah-rumah pedesaan bertebaran di area itu. 

“Woah... apa titik itu akurat?” tanya Chandra dengan kagum.

“Kita daritadi sudah mengitari tempat ini selama satu jam dan kemanapun arah perjalanan kita berubah.” balas Alzen sambil memutar badannya. “Panah di lingkaran kecil itu terus mengikuti.” 

“Itu berarti kita ada di Calya,” tanya Iris. “Bagian utara?”

Alzen mengangguk. “Hmmph! Benar.” 

“Puah... daritadi kita berjalan kesana kemari cuma untuk begini?” keluh Nirn sambil berteduh di dalam salah satu rumah. Ia menggedor pintunya dengan rasa kesal. “Mending daritadi aku makan deh.”

Nirn duduk di meja makan salah satu rumah, membuka tas dan mengambil satu dari tiga kotak bekal di dalam tasnya. “Alzen. Kau mau makan tidak?”

“Tidak usah, kamu duluan saja.” Alzen menutup peta, lalu melipatnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. “Kalau kita semua dalam keadaan tidak siap tempur kalau ada serangan datang, kita tidak bisa melawan.”

“Yasudah, aku duluan ya... selamat makan. Am yam yam yam!” Nirn memakan bekal berisi nasi, sayur dan ayam. 

“Hah... jadi daritadi kamu minta kita jalan-jalan cuma buat mengetes peta itu?” Iris bersandar di dekat pintu rumah tempat Nirn beristiharat.

Alzen merogoh tasnya dan mengangkat sebuah buku kecil berjudul Survival Book. “Tentu saja tidak, karena kita di teleportasi di tempat yang acak. Kita perlu memastikan tempat kita mendarat ini aman. Tapi karena sejauh ini kita belum ketemu siapa-siapa. Aku rasa kita beruntung bisa warp di tempat ini.”

“Kamu tak berniat memburu token Alzen?” balas Chandra.

“Aku rasa belum perlu. Kita bisa lulus dengan 1 token emas dan 5 token perak. Dan kita sudah memegang itu dari awal. Singkatnya, tidak berbuat apa-apapun selama 5 hari ke depan kita tetap bisa lulus.” balas Alzen menjelaskan. 

“Be-benar juga sih...” Chandra menunduk dan memikirkannya kembali.

“Tapi aturannya terlalu mencurigakan. Pasti ada sesuatu yang belum disampaikan.” balas Alzen. “Dan 5 hari di tempat ini juga bukan hal yang mudah. Pertama-tama kita sudah mengecek isi tas kita masing-masing. Setiap tas isinya sama.” 

“Kita cuma diberi 3 kotak bekal berisi lauk yang berbeda, beserta sendok garpu masing-masing 1 pada setiap tas.” Alzen menjelaskan. “1 kantong kulit air yang jumlahnya cuma bisa menampung 1 liter lebih saja. Tidak terlalu banyak. Kemudian pisau yang sepertinya untuk memotong buah-buahan, lalu kotak obat berisi perban dan beberapa kapsul. Lalu peta ini kita masing-masing dapat 1 dan terakhir token perak berpahatkan nomor yang berurutan. Aku dapat nomor 256. Bayangkan, kita cuma diberi itu saja untuk 5 hari ke depan. Pakaianpun tidak. Alat untuk membuat kemah juga tidak.”

Mendengar itu Chandra, Cefhi dan Iris langsung menelan ludah.

“Aku juga sudah baca habis buku panduan ini.” Alzen menunjukkan Survival Booknya. “Buku ini menuliskan cara mencari makanan dari alam. Itu berarti makanan kita cuma tiga kotak bekal ini, yang mau tak mau harus kita habiskan karena besok sepertinya sudah basi. Selebihnya kita harus cari dari alam.”

Nirn langsung kaget mendengarnya dan seketika berhenti makan.

“Tak apa Nirn, habiskan saja.” sahut Alzen begitu melihat respon Nirn dari melalui jendela rumah.

“Di buku ini juga dijelaskan malam akan jadi sangat gelap. Kita harus membuat api unggun. Bahkan di buku ini dijelaskan cara membuat api dari gesekan kayu, tapi karena aku dan Chandra juga dari listriknya Iris bisa membuat api. Kita tidak perlu khawatir soal pencahayaan.”

“Ki-kita juga tidak perlu khawatir soal air minum.” Cefhi inisiatif memberikan kontribusi. “Aku mampu memurnikan air sungai supaya bisa diminum.”

“Luar biasa...” Chandra menepuk Cefhi dan kagum padanya. “Untung kita punya kamu.”

Wajah Cefhi malu dan memerah.

“Bagus! Berarti masalah berikutnya yang perlu diselesaikan...” Alzen melihat-lihat sekelilingnya. “Aku rasa makanan juga bukan masalah. Namun untuk 5 hari ke depan, sepertinya kita harus banyak-banyak makan apel.”

Krskk!

“...!!?” Alzen langsung waspada dan menoleh pada sumber suara itu.

Krskk! Krskk!

BRUSHHHH !!

Semburan api besar datang dari belakang Alzen.

Alzen melompat mundur selangkah, memiringkan tubuhnya sembari tangannya menyilang yang kemudian dengan cepat ia hempaskan untuk mengcast sihir api.

“Fire Wall !!”

Lalu membelokkan arah semburan api itu ke atas untuk menepisnya.

Dari balik api itu terlihat siluet seseorang dan Alzen langsung tertikam hantaman benda tumpul berupa tongkat sampai Alzen terjatuh ke tanah.

BRUGGHH !!

***

Lio tiba sebuah tempat bernama Vivaldi Barrack. Dimana banyak tempat tidur tingkat ala prajurit militer, juga banyak rak-rak senjata besi di dalamnya. Lokasi tempat ini ada di bagian kanan atas atau timur laut pulau Vanadivia.

“Aku tak habis pikir, kalian berdua tetap bisa satu party meskipun sudah di acak seperti ini.” kata Lio di hadapan Eris dan Krag teman sekelasnya yang selalu duduk di bangku paling belakang, sembari duduk di meja bundar di dalam kemah tentara. 

“Mungkin...” kata Eris. “Karena kita bergandengan tangan saat Random Warp?”

“Aku harap kau tidak membuang kami.” 

Fia yang duduk di samping Lio. “Tentu saja tidak, kami justru senang dapat anggota yang sudah akrab.”

“Ahh sebenarnya meski satu kelas, kita tidak terlalu akrab.” balas Lio. 

“Hee!?” Fia terkejut. “Teman sekelasmu sendiri...”

“Aku hanya tahu kalau mereka berdua selalu bersama selama di kelas. Karena 6 bulan terakhir aku lebih sering sibuk latihan bersama Ranni.”

“Sejak Alzen pindah ke Fragor, kalian berdua yang jadi bintang kelas Ignis.” balas Eris dengan percaya diri.

“...” Krag menunduk dengan perasaaan minder, sambil matanya diam-diam melihat ke atas melihat ke wajah Lio.

“Yang membuatku bertanya-tanya. Hubungan kalian berdua ini apa sih? Adik-kakak? Pacar? Atau teman selamanya?”

“Aku adik dari Krag,” kata Eris.

“Adik? Sulit dipercaya.” balas Lio sambil mengamati wajah mereka lebih dekat. “Wajah kalian tidak mirip.”

“Aku dan kakakku Krag cuma terpaut satu tahun.” jawab Eris, anak perempuan tomboy berambut pendek berwarna pirang pudar itu. “Dan kami memiliki ibu yang sama, tapi dari ayah yang berbeda.”

“Dan karena aku tidak lulus tahun lalu. Maka...” Krag menjawab dengan menundukkan kepala. Ia memiliki gaya rambut cukur samping dengan warna rambut yang sama dengan adiknya.

“Aku mengerti, aku mengerti.” Lio memejamkan mata dan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kumohon jangan usir kami.” Krag meminta dengan kepala tertunduk sambil kuat-kuat meremas kain jubahnya.

“Tidak, tenang saja.” Fia tersenyum menyambut mereka. “Kalian adalah bagian dari party Lio.” kemudian Fia menginjak kaki Lio. “Iya kan Lio?” tanya Fia dengan tersenyum

“Ah! Ahahaha... iya-iya.” balas Lio dengan senyum canggung. “Eris Krag, kau bagian dari kelompok ini. Tenang saja.”

“Lio, bagaimana keputusanmu? Kita akan meninggalkan tempat ini atau tidak?” tanya satu anggota partynya yang memegang Role Tanker. Ia adalah Elquin, seorang wanita bertubuh cukup kekar dan tidak bersenjata, ia baru saja mengenakan gelang besi yang ia ambil dari gudang senajta yang ada di Barrack ini. Rambut Elquin terikat dan ia mengakui sangat mahir dalam penggunaan sihir Earth Wall secara responsif.

Lio bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari kemah. Di luar Lio mendapati ada gunung berapi besar terlihat tak jauh dari tempat ini. “Daripada menjauh, sepertinya kita akan pergi menuju gunung berapi itu.” Kata Lio dengan tersenyum percaya diri.

“Hee!!? Kau tidak sedang bercanda kan!” kata Fia dan Eris secara bersamaan.

Lio hanya membalas mereka dengan tersenyum lebar dan alis yang naik turun.

“Baiklah...” Elquin seusai mengenakan gelang besi, ia mengambil perisai besi dan mengikat pedang di sabuknya. 

***

Di Aluxany Graveyard, wilayah selatan condong ke tengah pulau Vanadivia.

Seseorang sedang meremas-remas tangannya bersiap untuk meninju orang di depannya. “Jarang-jarang bisa melihatmu, terpisah dari Nicholas dan si brengsek Velizar.”

“Akhirnya kesempatan ini tiba... kali ini si sombong Nicholas dan Velizar tidak ada untuk melindungimu.” kata orang disebelahnya untuk melakukan aksi yang sama.

“Hei, hei, teman-teman... tunggu sebentar.” Sinus tersungkur sambil berjalan mundur dengan menyeret-nyeret bokongnya di dedaunan yang kering wilayah kuburan ini. “Kita ini satu party, kalian tidak berniat menyerang ketua partymu kan? Apa kalian tidak berniat lul-”

“Hah.. aku tidak peduli dengan ujian ini lagi! Kau lihat luka ini?” tunjuk Luxis pada codet dari alis kanannya sampai ke pipi kirinya. “Si brengsek Velizar-lah penyebabnya! Kau tahu rasanya! HAH!? Sinus yang tidak berguna!”

“Aku dulu mengagumi Nicholas! Tapi sejak hari itu, hanya karena melindungi orang tak berguna seperti kamu, dia dengan teganya, melukai kepalaku hingga ... hingga! HWAA !!”

Koblenz tak mampu membendung rasa kesalnya lalu mengarahkan tangan kanannya ke depan.

“DARK FORCE !!”

Sinus langsung terhempas mundur sampai bajunya terkoyak-koyak oleh sihir Koblenz.

Selagi terpental, Luxis menarik pedang rapiernya dengan cepat dan mengcast sihir dengan menikam ke bagian depan.

“Ice Wall !!”

Bagian belakang Sinus terbentur oleh dinding Es tajam yang sengaja dibuat keras dan dingin sekali oleh Luxis. 

“Ohog! Ohog! Guys... kenapa...” Sinus bersikeras untuk bangkit.

Pedang Sinus diayunkan ke atas hingga akhirnya Sinus dibekukan di dalam bongkahan es dingin dengan tubuhnya yang berdarah akibat koyakan dark force dan benturan di bagian belakangnya, dalam kondisi itu ia harus dibungkus oleh es yang sangat dingin bersentuhan langsung dengan luka di tubuhnya. 

Sinus hanya bisa menangis sedih dalam kondisi dibekukan seperti itu. “Teman-teman... ke-napa ka-li-an...”

***