Episode 90 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (3)



Belum reda keterkejutan pasukan Pajajaran, tiba-tiba terdengar dua ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh tembok benteng kota! Rupanya itu adalah suara tembakan meriam-meriam Banten yang ditembakan disebelah tenggara dan barat daya Kota menyasar tembok benteng kota! Satu kali kemudian, dua kali kemudian, dan akhirnya pada enam kali dua ledakan berikutnya, benteng tembok sebelah tenggara dan barat daya berlobang besar! Lobangnya cukup besar hingga muat untuk dilewati lima kereta kuda sekaligus!

Pasukan dibawah pimpinan Tumenggung Baraja Paksi di Tenggara dan pasukan dibawah pimpinan Tumenggung Jaya Laksana di sebelah Barat Daya yang berhasil membobol benteng tembok kota itu langsung menjatuhkan satu jembatan darurat yang sangat besar dan lebar lagi kokoh untuk menyebrangi parit besar nan dalam yang berisi banyak buaya yang mengelilingi kota Pakuan! 

Lima ratus prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Jaya Laksana, dan lima ratus prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Braja Paksi segera berlari memasuki kota Pakuan melewati lobang besar yang mereka buat tersebut! Sehingga terhitung total sepuluh ribu Pasukan Banten merengsek masuk kedalam Kota Pakuan yang hanya dipertahankan oleh sekitar empat ribu prajurit Pajajaran tersebut!

Bagaikan Tsunami yang menerjang bibir pantai dengan teramat dahsyat! Pasukan Banten menyerbu masuk ke Kota Pakuan laksana air bah yang membanjiri seluruh kota! Para penduduk Kota Pakuan segera diungsikan kedalam Keraton Pakuan, pasukan Pajajaran dengan gigih dan gagah berani berusaha mempertahankan setiap jengkal kota Pakuan, namun tak urung mereka terus terdesak hingga mundur selangkah demi selangkah akibat terjangan Pasukan Banten yang bagaikan Tsunami membanjiri seantero kota tersebut!

Sultan Banten yang berada di ujung depan barisan bergerak cepat diikuti prajurit-prajurit berkuda bertombak dan berpedang, dibelakangnya terdapat prajurit-prajurit pejalan kaki yang berlari dengan tombak dan pedang telanjang serta perisai di tangan kiri mereka, melesat cepat mereka laksana anak panah yang terlepas dari busur! 

Selain itu, debu-debu asap mesiu dan anak panah berterbangan, suara letupan bedil dari ratusan prajurit Banten yang telah menguasai benteng tembok Kotaraja terus bergema, belum lagi suara dentuman-dentuman tembakan meriam-meriam Banten yang menyasar benteng-benteng, maupun pos-pos jaga prajurit Pajajaran, ribuan anak panah pun terus berdesing mencari maut menyasar para prajurit Pajajaran dari atas benteng tembok kota yang dikuasai prajurit Banten!

Di sebelah barat Daya, Tumenggung Jaya Laksana serta lima ratus prajurit Banten yang berkuda dan berjalan kaki terus menggila, menggempur hebat, menimbulkan korban luka dan kematian bagi prajurit-prajurit Pajajaran yang mencoba menahan gebrakan mereka. Aneka senjata yang coba dihadangkan untuk pasukan penggempur itu serasa tak lagi menjadi hadangan. Tumenggung Jaya Laksana yang didampingi lurah Tantama Indrapaksi berikut lima ratus pasukan pilihannya mampu menerjang hadangan itu dan meporak-porandakannya! 

Prajurit-prajurit pemanah Pajajaran segera menghujani Jaya Laksana dengan lesatan anak-anak panah, terperanjat tak terkira mereka mendapati anak-anak panah mereka yang telak mengenai Pendekar Dari Lembah Akhirat bagaikan membentur besi baja yang kokoh! Jangankan menggores kulit atau merobek pakaian Jaya Laksana, melukai kuda tunggangannya saja tidak! Berjatuhan bagaikan daun kering yang rontok tertiup angin anak-anak panah tersebut setelah menerpa tubuh Jaya beserta kuda tunggangannya! 

Para prajurit Pajajaran segera mafhum kalau Jaya Laksana memiliki ilmu kebal, maka mereka menggangti anak-anak panah mereka dengan anak panah yang ujung mata panahnya terbuat dari emas murni guna menembus ilmu kebal Jaya Laksana. Kali ini puluhan anak-anak panah yang bermata emas itu melesat menyasar bagian-bagian vital dari Jaya, namun kembali puluhan prajurit itu terkejut ketika panah-panah emas mereka kembali rontok ketika menerpa tubuh putera sulung mendiang Prabu Kertapati tersebut! 

Ternyata panah-panah emas tersebut tak mampu menembus Ajian “Bajra Panjara” Jaya Laksana yang ia dapatkan dari roh Prabu Sri Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi! Sang Tumenggung terus merangsek maju memimpin prajurit-prajuritnya bagai ombak raksasa yang ganas menyapu pasir-pasir lembut di pantai!

“Luar biasa digdaya Jaya Laksana itu!” keluh seorang prajurit Pajajaran.

“Benar, julukan Pendekar Dari Lembah Akhirat yang menggegerkan seluruh dunia persilatan itu bukan Cuma omong kosong!” sahut kawannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gemas betul mereka seperti tak mempercayai pandangannya sendiri. 

“Apalagi yang harus kita perbuat untuk menghentikan dia setelah panah emas tajam pun tak mempan di tubuhnya?” Kawannya hanya menggelengkan kepalanya, dan itu merupakan gelengan kepalanya yang terakhir kalinya di marcapada ini setelah tombak ditangan Jaya menghujam dadanya dan seluruh pasukannya menggebrak ke tempatnya dan membuatnya kehilangan nyawa! Jaya Laksana dengan Sebilah tombak di tangan kanannya benar-benar menjadi elmaut yang mengerikan bagi pasukan Pajajaran!

Jaya Laksana terus mengamuk menebarkan petaka, gempurannya amat kuat bertenaga, menghantam keras dengan tombak di tangan kanannya! Sebenarnya tombak di tangan Jaya bukan tombak pusaka, tombak itu hanyalah tombak biasa yang dipakai oleh para prajurit Banten, namun ditangan Sang Tumenggung yang terkenal dengan julukan Pendekar Dari Lembah Akhirat ini, tombak tersebut seolah berubah menjadi tombak pusaka yang sangat sakti dan bermata hingga puluhan. 

Mata tombaknya begitu ganas menusuk dan menghantam serta membuat kalang kabut prajurit Pajajaran yang menghadangnya, senjata-senjata langsung patah menjadi beberapa bagian ketika beradu dengan tombak Jaya, perisai-perisai hancur berantakan tatkala dipakai untuk menahan serangan tombak Jaya. Amukan Jaya Laksana segera diikuti oleh lima ratus pasukan Banten yang turut mengamuk menggila hingga pertahanan Pajajaran sebelah barat porak poranda!

Seorang tokoh silat istana Pajajaran yang memimpin pasukannya di sebelah barat amat geram melihat amukan para prajurit Banten dihadapannya yang membabat para prajurit Pajajaran, namun ia langsung tersenyum girang ketika melihat prajurit Banten tersebut dipimpin oleh seorang Tumenggung yang masih muda yakni Jaya Laksana. “Jaya Laksana si Pendekar Dari Lembah Akhirat! Hahahaha…”

Pria tua berambut putih panjang riap-riapan yang berpakaian dan berjubah serba hitam itu langsung menggenjotkan kakinya melompat ke arah Jaya Laksana, tangan kanannya berkelebat, satu sabetan dari pedang berwarna hitam mengarah leher Jaya, mau tak mau Jaya pun melompat dari kudanya menghindari sabetan maut itu, belum lagi kakinya menyentuh tanah, pedang berwarna hitam itu dengan secepat kilat mengarah dada Jaya, Jaya segera palangkan tombaknya! 

Stranggg!!! Suara berdenting memekakan telinga terdengar, satu percikan bunga api menerangi tempat itu, pedang di tangan si Jubah Hitam dan Tombak ditangan Jaya sama-sama patah menjadi beberapa bagian!

Jaya menjejakan kakinya ke tanah, begitupun si manusia berjubah hitam. Manusia berjubah hitam ini ternyata seorang pria separuh baya yang berwajah klimis dan bertampang gagah sekali meskipun sudah berumur. Namun sekali melihat sinar matanya, Jaya segera maklum bahwa manusia ini di samping tinggi ilmu silatnya juga mempunyai hati jahat! 

Tiba-tiba pria tua jubah hitam menunjuk cepat-cepat ke arah Jaya Laksana. “Manusia yang mengaku putra Prabu Kertapati, keturunan Sri Baduga Maharaja yang menjadi pendosa karena memihak Banten dan berani menyerbu tanah leluhurnya, harap datang ke hadapanku!” 

Suara pria ini besar parau dan menggetarkan liang telinga. Jaya Kaget namun dia tertawa, Jaya mengagumi kehebatan tenaga dalam pria ini. Siapakah dia pikir Jaya dan tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang yang tak boleh dibuat main-main. Jaya segera bersiap-siap menyalurkan tenaga dalamnya ke kedua tangan dan kakinya. 

“Harap kau suka terangkan siapa kau dan apa maksudmu menghadangku? Apakah kau seorang perwira Pajajaran?”

“Aku memang pendekar sewaan Pajajaran, tapi aku tak ada sangkut paut dengan mereka… Ketahuilah, aku datang untuk menagih hutang jiwa! Aku sengaja mau disewa oleh mereka agar aku bisa bersua denganmu, Aku adalah Guru dari Ki Wikuyana, yang kau bunuh satu tahun yang lalu di Desa Cisoka!”

Kaget Jaya Laksana bukan alang kepalang! Ki Wikuyana yang pernah dibunuhnya tempo hari ilmunya tinggi luar biasa, untuk mengalahkannya ia harus bekerjasama dengan Istrinya Galuh Parwati alias si Dewi Pengemis Bukit Tunggul untuk mengeroyok kakek tua dukun teluh yang amat sakti tersebut. 

Dan kini gurunya datang menuntut balas! Tentu ilmunya lebih hebat lagi! Tapi meskipun demikian mana mungkin Tumenggung muda ini merasa jerih. Malah dia tertawa dan berkata, “Kau datang kurang cocok waktunya, Kakek gagah. Sekarang bukan saatnya menagih segala macam hutang, apalagi hutang jiwa!”

“Sudah cukup aku lihat lagakmu membantai para prajurit kecil yang bukan tandingamu! Sekarang kau hadapi Si Iblis Jubah Hitam!” Sekali mengusap mukanya maka semua orangpun gegerlah. Muka si Kakek yang tadi cakap, klimis, dan gagah yang tidak menampakan usia aslinya yang malah kelihatan masih muda, itu kini berubah menjadi muka setan yang penuh dengan bopeng dan belatung, bertanduk dan bertaring yang membuat bulu kuduk merinding! 

Jaya memperhatikan wajah lawannya tersebut dengan tenang, ia memang sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala jenis ilmu hitam, karena mengingat Ki Wikuyana yang memiliki ilmu hitam yang amat tinggi, maka pastilah gurunya pun memiliki ilmu hitam yang dahsyat.

Didahului oleh satu lengkingan dahsyat, Si Iblis Jubah Hitam pukulkan tangan kanannya ke depan. Gelombang angin keras melanda Sang Tumenggung. Jaya bersuit nyaring dan berkelebat dengan cepat tapi dari samping Si Jubah Hitam susul dengan pukulan tangan kiri! Pendekar Dari Lembah Akhirat terkurung di antara dua angin pukulan sekaligus!

“Sialan!” maki Jaya. Dengan serta merta Tumenggung ini angkat kedua tangannya dan dorongkan ke muka dalam jurus pukulan yang bernama “Badai Mendorong Bukit”! Dua pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam hebat luar biasa saling bergulat tindih menindih! Si Jubah Hitam kernyitkan kening wajah iblisnya. Di kening Jaya sebaliknya kelihatan butiran-butiran keringat. Blarrr!!! tanah yang diinjak oleh Pendekar Dari Lembah Akhirat meledak hancur amblas!

“Celaka!” keluh Jaya Laksana. Ternyata tenaga dalam lawan tidak berada di bawahnya, malah satu tingkat berada di atasnya! Dengan bersuit nyaring Jaya melompat mundur sejauh dua tombak lalu jungkir balik sampai tiga kali berturut-turut dan jatuhkan diri di tanah dan seterusnya berguling cepat! Dengan demikian baru dia berhasil menolak dan melebur serangan tenaga dalam Si Iblis Jubah Hitam yang sangat dahsyat itu!

Melihat pemimpinnya nampak terdesak, Indrapaksi dan enam orang pasukan Banten segera menerjang Si Iblis Jubah Hitam. “Jangan!” teriak Jaya memeringatkan, tapi terlambat, Si Muka Setan berjubah hitam dorongkan kedua tangannya ke muka! Gelombang angin yang dahsyat menyambar. Laksana daun-daun kering keenam prajurit dan Indrapaksi terpelanting ke belekanag bebebrapa tombak! Indrapaksi muntah darah dan segera mengalirkan tenaga dalamnya ke dadanya lalu mengatur jalan nafasnya. Enam lainnya melingkar tewas di tanah!

Dengan menggeram marah, Jaya segera melompat menerjang si Iblis Jubah Hitam dengan mengerahkan ajian “Liman Sewu” yang membuatnya mempunyai tenaga sedahsyat Gajah! Tapi dengan sigap Iblis Jubah Hitam hantamkan tangan kanannya ke depan, memapasi angin pukulan Ajian Liman Sewunya Jaya. “Apakah tak ada ilmu pukulanmu yang lebih berguna?!” ejek Iblis Jubah Hitam. Dan sekali dia kebutkan lengan jubah hitamnya maka buyarlah serangan Jaya Laksana yang terkenal dahsyat itu.

“Hebat sekali iblis tua ini!” rutuk Jaya. Dengan diiringi oleh satu bentakan nyaring dia menyerbu ke muka. Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang! Dua gelombang angin pukulan melanda Iblis Jubah Hitam, dalam pukulan “Sirna Raga” yang ia dapatkan dari Almarhum Kyai Pamenang. Lidah api besar disertai gelombang angin panas menderu-deru, mengibarkan jubah hitam si muka setan, tapi si Kakek sakti ini malah ganda tertawa.

Dua tangan si muka setan memukul ke muka. Dua larik sinar hitam menggebu memapasi pukulan Sirna Raga! Jelegerrr!!! Jaya meraung! Tubuhnya mental sampai empat tombak, pakaiannya robek hampir di setiap bagian sedang dari hidung dan sela bibirnya kelihatan darah ke luar! 

Tak ayal lagi Jaya segera telan dua butir pil. Matanya beringas galak. Dan sewaktu Iblis Jubah Hitam datang mendekat dengan tertawa, Pendekar Dari Lembah Akhirat segera sambut dengan pukulan “Gerhana Matahari” yang menjadi pukulan pamungkas gurunya yakni Kyai Supit Pramana.

“Aha! Pukulan Gerhana Matahari yang tersohor itu!” seru Iblis Jubah Hitam. “Inilah yang kutunggu!” Tangan kanannya bergerak membuat lingkaran, kemudian laksana kilat dihantamkan ke muka! Terdengar suara mengguruh dahsyat laksana guntur! Satu sinar hitam besar disertai gelombang angin hitam bergerak berputar bergulung-gulung lalu menghantam ke muka laksana topan prahara!

Sinar Emas Lembayung kemerahan bercahaya redup yang merupakan pukulan Gerhana Matahari yang dilepaskan Pendekar Dari Lembah Akhirat tiada berdaya dan terbuntal dalam gelungan-gelungan sinar dan angin hitam pukulan lawan untuk kemudian melesat kembali menyerang dirinya sendiri, sekaligus bersama serangan angin pukulan lawan! Itulah pukulan “Dewa Topan Mengamuk” yang telah dilepaskan oleh Iblis Jubah Hitam.

“Tobat!” keluh Jaya Laksana! Tangan kanannya bergerak sebat! Selarik sinar biru disertai angin yang memacarkan hawa panas yang menggidikan serta menyilaukan mata berkiblat dan ... Buum! Satu letusan yang luar biasa kerasnya terdengar! Kutaraja Pakuan bergetar! Suara letusan tersebut sangat dahsyat dan menimbulkan gempa bumi sehingga semua orang di situ merasakan dunia laksana mau kiamat!

Iblis Jubah Hitam terkejut besar. Jantungnya mendenyut sakit sedang kedua lututnya agak tertekuk! Ketika dia memandang ke depan dilihatnya tumenggung itu berdiri dengan tubuh bergetar, muka pucat pasi dan sepasang mata tertutup, cincin Kalimasada di jari manis tangan kirinya bersinar biru terang, sedang di tangan kanannya tergenggam sebuah keris panjang bereluk Sembilan yang memancarkan cahaya biru dan hawa yang amat panas, angin panas deras berseoran, suara bagaikan ribuan setan mengaum dahsyat!

Terkesiaplah Iblis Jubah Hitam melihat kehebatan senjata lawan! Keris Pusaka Kyai Segara Geni yang merupakan pusaka wasiat keluarga raja Mega Mendung nyatanya bukan senjata pepesan kosong belaka! Pukulan “Dewa Topan Mengamuk” yang dilepaskan tadi adalah pukulan paling hebat dan ganas yang dimilikinya! Selama puluhan tahun memiliki ilmu pukulan itu tak satu lawan sakti mandraguna pun yang sanggup menghadapinya! Tapi kini seorang lawan berusia jauh lebih muda darinya dengan Keris Pusaka Kyai Segara Geni berhasil memusnahkan pukulannya itu!

Kedua mata Jaya Laksana terbuka perlahan. Satu seringai maut tersungging di bibirnya. Parasnya yang selama ini selalu tampak tenang dan kalem kini berubah total menjadi bengis menggidikkan! Sinar matanya laksana menembus tembok baja! “Iblis Jubah Hitam!” desis Jaya Laksana. “Kalau hari ini aku tak sanggup memisahkan nyawamu dari ragamu, biarlah aku mengundurkan diri dari dunia persilatan selama-lamanya!”

Sebenarnya Tumenggung muda ini sudah terluka di dalam. Tapi begitu cincin Kalimasada bersinar dan Keris Pusaka Kyai Segara Geni berada di tangannya satu aliran sejuk keluar dari cincin serta gagang Keris, memberi kekuatan baru padanya meskipun luka di dalam yang dideritanya tidak bisa dikatakan sembuh! 

Si Kakek muka Iblis tertawa dingin. “Keluarkan semua ilmu simpananmu. Kalau kau punya sepuluh senjata cabut sekaligus agar tidak mati penasaran! Sekali Iblis Jubah Hitam inginkan nyawa seseorang pasti tak bisa lepas. Tak perduli apakah kau punya tiga kepala enam tangan!”

“Manusia sombong! Kalaupun aku mampus di tanganmu tapi kejahatan tak akan sanggup menumbangkan kebenaran!”

“Jangan mengigau di malam yang panas ini! Malam ini meskipun riwayat Pajajaran akan berakhir, tapi akan kupastikan gelar Pendekar Dari Lembah Akhirat akan kuhapus dari dunia persilatan! Satu penghianat Trah Pajajaran akan Hilang selamanya!”

Iblis Jubah Hitam menggembor macam kerbau marah. Tubuhnya lenyap dan tahu-tahu dua belas serangan telah menyerbu Jaya Laksana! Yang diserang tak tinggal diam. Begitu Keris Pusaka Kyai Segara Geni berkiblat memancarkan cahaya biru tua menggidikan, maka suara menderu laksana suara ribuan geraman setan memekakan telinga! Sedang dari mulut sang pendekar membentak suara bentakan yang amat keras menusuk gendang-gendang telinga!