Episode 98 - Trial of Survival


11.32 hari pertama

Pesawat turun di tengah-tengah pulau kecil di ujung selatan Greenhill dan mendarat tepat di landasan istana di atas gunung yang berada di tengah-tengah kota ini.

Perjalanan ketiga kali sudah ditempuh bolak-balik karena pesawat ini hanya mampu menampung sepertiga dari total pelajar yang bergabung. Saat semuanya sudah mendarat dan sampai di pulau ini, peraturan ujian mulai dijelaskan.

“Semuanya mohon perhatiannya!” sahut Vlaudenxius pada mereka semua. “Selamat datang di pulau Vanadivia, pulau kecil di selatan Greenhill yang sudah kami pindahkan penduduknya untuk sementara. Hari ini kita akan melakukan ujian akhir untuk pelajar tingkat 1 dan ujian ini rutin dilakukan pada setiap angkatan. Ini adalah tugas yang sangat berat, karena untuk 5 hari kedepan, kalian akan melakukan Trial of Survival di sini!”

“Hah!? Jadi ini ujiannya?” para murid bereaksi.

“Survival? Ini ujian akhirnya? Apa aku bisa ya...”

“Walau sudah tahu dari kakak kelas, tetap saja takut rasanya.”

“Kak Neil sempat membocorkan ini sewaktu di Quistra.” Alzen meneguhkan diri. “Sekarang aku sudah siap.”

 “Aku akan menjadi Healer yang,” pikir Chandra. “Pada siapapun partyku. Setelah lulus aku menjadi Healer di medan perang.”

“Aku penasaran akan seberat apa.” Lio melihat tangan kanannya dan mengepalnya kuat-kuat. “Aku harus menjadi lebih kuat untuk bisa mengalahkan pria itu.”

“Aku akan mencoba memimpin sekarang.” Ranni menatap ke depan bersungguh-sungguh. “Lulus dari sini aku akan kembali dan menjadi pemimpin.”

“Seharusnya ini bisa kutangani.” kata Leena dengan sedikit keraguan. “Setelah ini aku akan meninggalkan Azuria.”

“Untuk kali ini aku tidak akan...” pikir Sintra.

 “Kalau membentuk party lagi, aku akan bersama Lio.” pikir Fia. “Aku akan terus mendukungnya meski sudah lulus nanti.”

“Aku harap Chandra bisa satu party denganku sekarang.” kata Cefhi dengan suara kecil sambil melihat Chandra dari belakang. “Aku takut aku tak bisa bertemu dengannya lagi setelah lulus.”

“Aku akan membuat kru kapalku sendiri,” pikir Gunin. “Maka dari itu, aku harus belajar memimpin sekarang.”

“Aku akan buktikan pada ayah,” pikir Sever. “Aku tetaplah seorang penyihir yang hebat.”

“Aku harap aku tak kelaparan di saat bertahan hidup.” Nirn memegangi perutnya yang gemuk. “Tapi yang penting, mudah-mudahan aku tak mati.”

“Siapapun yang menghalangi akan kuinjak-injak.” pikir Joran.

“Di Fel kita sudah terbukti menjadi Gladiator yang sangat kuat.” pikir Bartell. “Mungkin setelah lulus nanti, aku dan Joran akan...”

“Hah... bertahan hidup.” Fhonia duduk mengeluh. “Haaaah...” keluhnya sambil mendongak ke atas. “Rasanya pasti capek.”

“Fhonia, ayo berdiri,” Iris memperingatkan dengan suara kecil. “Malu-maluin.

“Kau membuatku malu, cepat naik sana!” bentak Luiz.

“Puah...” Nicholas menguap. “Aku kurang tidur.” 

“Ngantuk...” Sinus terlihat loyo.

“...” Velizar terdiam dengan mata terbuka setengah. 

Dari belakang Luxis menatap Velizar dengan tajam.

“Tugas kalian sangat sederhana, meski tidak mudah.” Vlaudenxius menjelaskan. “Aturan pertama dan terutama, dilarang membunuh apapun alasannya. Selama 96 jam ke depan, tepatnya ujian akan berakhir pada hari ke lima jam 12 siang.” 

 “Ujian ini memungkinkan kalian semua lulus 100 persen. Karena kalian hanya diminta mempertahankan Token ini sampai akhir.” Vlaudenxius menunjukkan Token di tangannya, ada warna emas dan berukuran lebih besar sebesar piring makan. Juga warna perak yang berukuran lebih kecil sebesar uang koin.

“Untuk lulus secara tim kalian perlu 10 poin. Token emas bernilai 5 poin, ini adalah token party kalian dan dijaga oleh ketua party dengan segenap anggota. Token perak ini bernilai 1 poin, akan diberikan pada setiap peserta dan token ini memiliki angka 1 sampai 1880. Setiap dari kalian akan memiliki ini.”

“Jadi sederhananya, untuk lulus minimal kalian perlu, 1 token emas dan 5 token perak atau 10 token perak atau 2 token emas dan boleh melebihi itu dengan batas maksimal 20 poin. 

“Jika kalian dapat lebih dari itu, kalian boleh membuangnya, memberikan ke teman kalian atau menguburnya atau menyembunyikannya. Itu terserah kalian. Namun token ini didesain untuk tidak bisa hancur atau dibuang ke laut. Jadi separah-parahnya, separuh dari kalian masih bisa tetap lulus.”

“Kurang dari itu, misal 9 atau 8 poin saja kalian dinyatakan tidak lulus pada ujian ini. Satu-satunya yang bisa menolong kalian dalam kelulusan adalah ada Guild yang bersedia merekrut kalian nanti. Itu juga kalau ada yang mau menerima kalian.” 

“Bagi yang tidak baik untuk bekerja sama dalam tim tapi memiliki performa yang baik secara individual, ada aturan khusus bagi kalian. Kalian boleh meninggalkan party kalian yang menyusahkan dan bergerak seorang diri. Sangat tidak disarankan, tapi tetap bisa menjadi pilihan apabila party kalian tidak bisa bekerja sama. Kalian bisa melindungi token perak dengan nomor kalian sendiri dan tetap lulus seorang diri. Tapi sebagai tim apapun caranya minimal 10 poin atau 5 token perak dengan nomor milik kalian sendiri.”

“Selama ujian berlangsung. Kalian akan bertahan hidup dengan party yang kalian bentuk sendiri. Kami menyarankan untuk berkelompok dengan orang yang kalian sudah akrab. Tapi di luar sana nanti, pekerjaan kalian tidak akan berjalan semulus itu. Jadi untuk 376 pelajar yang akan menjadi ketua party. Tolong maju dan ambil token emas di depan ini sekarang juga!” 

Lalu para pelajar yang berniat menjadi ketua party serentak maju dan cukup berebut token emas yang taruh disebuah keranjang besar untuk token emas nomor tidak diperlukan.

Dari nama-nama yang sudah familiar sejak turnamen yang maju untuk mengambil Token emas itu adalah...

Alzen, Lio dan Ranni. 

“Huh sayang sekali, kita tidak akan satu party.” kata Lio pada mereka berdua.

Kemudian Leena dan Sintra,

“Kita tidak akan satu party lagi, Sintra?” tanya Leena yang tidak menduga. “Aku berniat merekrutmu segera.”

“Aku sangat ingin bergabung sebagai satu party denganmu.” balas Sintra. “Namun kali ini, aku mencoba tidak lagi bergantung padamu.”

“Aku senang mendengar alasanmu.” Leena tersenyum.

“Aku juga akan memimpin sekarang.” sahut seorang pria besar disampingnya dengan tersenyum. Dia adalah Even, Tanker Leena sewaktu di ujian dungeon 6 bulan lalu.

“Even!?”

“Even!?”

Kemudian Gunin.

“Kita tidak akan satu party lagi Alzen.” senggol Gunin.

“Heh!? Kau juga Gunin?” Alzen terkejut.

Kemudian Bartell dan Luiz.

“Kali ini biarkan aku yang memimpin.” kata Bartel dengan senyum semangat.

“Tunggu disana Fhonia, Iris kita akan satu tim.” Luiz maju sambil menepuk pundak Fhonia.

“Heh? Kau tidak maju Sever?” tanya Nirn.

“Aku tidak berniat menjadi ketua party saat ini.” balas Sever. “Karena yang anggota yang kuincar sudah maju duluan.”

“Benar juga. Mereka yang menyatakan diri untuk menjadi ketua party tidak lagi bisa satu tim kan?”

Kemudian Nicholas dan Sinus.

“Huh!? Bodoh! Kenapa kau malah maju juga!” Nicholas membentak Sinus yang mencoba mengambil token emas. “Kita tetap akan satu tim bodoh!”

“Tidak, tidak-tidak-tidak.” Sinus geleng-geleng kepala dan menolaknya. “Kali ini aku akan berusaha sendiri. Aku lelah berada di posisi tidak bisa membantu apa-apa jika satu party dengan kalian.”

“Cih dasar bodoh!” Nicholas geram. “Apa sih yang kau pikirkan.”

“Kemarin kakakmu bilang padaku tinggalkan saja aku ini cuma beban. Meski sakit rasanya, tapi aku rasa itu ada benarnya. Jadi kali ini.”

“Terserah akan apa alasanmu, cepat kembali dan aku akan merekrutmu.”

“Tidak!” Sinus membentak balik. “Kali ini aku akan memimpin!”

***

11.54 hari pertama.

“Baik, karena waktu sudah semakin mepet. Maka pembentukan party akan berlangsung secara terburu-buru.” Vlaudenxius menjelaskan. “Komposisi party ideal tetap dianjurkan, yaitu setidaknya memiliki Role Tanker, Healer dan DPS.”

“Mulai tepat jam 12 siang. Setiap 15 detik secara bergiliran. Salah satu pelajar yang sudah memegang token emas, segera berlari menuju warp portal di depan kalian ini bersama paling banyak, dua anggota yang kalian pilih sendiri dan slot party sisanya akan secara acak mengambil dari pelajar-pelajar yang tidak dipilih pemegang token emas.”

“Selagi menunggu giliran, pastikan dua anggota yang kalian pilih memegang token emas itu bersama-sama agar tidak di warp paksa oleh sistem yang sudah kami bangun.”

“Party yang di warp akan muncul di sembarang tempat secara acak pada salah satu lokasi di pulau ini dan tas yang berisi perlengkapan bertahan hidup akan kalian kenakan secara otomatis. Di dalam tas kalian ada token perak yang sudah kami urutkan angkanya sesuai urutan masuk kalian. Juga bekal makanan, peralatan bertahan hidup dan peta pulau ini.”

“Baik, karena waktunya sudah dekat. Silahkan para ketua party berbaris bersama dua anggota party kalian.”

***

11.59 hari pertama.

“5... 4... 3... 2... 1... Silahkan party pertama!”

Party pertama berlari masuk seorang diri saja. Lalu 4 orang yang tidak memegang medal secara acak menghilang dari kumpulan itu secara tiba-tiba.

“Heeeh!? Jadi ini yang dimaksud Warp paksa?” komentar salah seorang peserta.

“Kalau begitu harus cepetan dipilih nih!!? Kalau enggak kita diacak?!”

Melihat orang-orang di warp begitu tiba-tiba membuat pemilhan party jadi tergesa-gesa.

“Chandra,” Alzen mengajaknya. “Ayo bergabung denganku.”

“Tidak Alzen, kita selalu satu tim. Kali ini aku tidak mau bergantung padamu.” balas Chandra. “Aku juga pernah mengecewakanmu karena tidak bisa menyembuhkanmu waktu itu. Jadi...”

“Tidak, bukan kamu yang bergantung padaku. Tapi biar kali ini aku yang bergantung padamu. Ingat, setelah lulus nanti mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama. Jadi tolong untuk terakhir kalinya di masa sekolah kita ini. Aku mohon... jadilah Healerku.”

“A...Alzen...”

Setiap 15 detik sekali para ketua party berlari menuju Warp dengan penuh semangat, untuk 100 nomor pertama banyak sekali yang memasuki warp seorang diri sehingga setiap saat selalu ada 4 orang yang di warp tiba-tiba jika tidak memegang token emas. 

Membuat para pelajar secara tegesa-gesa memegang token emas milik siapapun yang ada didekatnya.

“Cepat! Cepat! Pegan token mana saja. Paling tidak kita tidak di warp sembarang seperti itu.”

“Ehem...” Vlaudenxius memberikan penjelasan lanjutan. “Token emas itu di desain untuk menerima 2 orang anggota saja. Jika lebih dari itu maka efek randomnya akan aktif kembali. Jadi untuk para ketua party. Tolong jaga agar token emas kalian tidak disentuh anggota yang bukan pilihan kalian.”

Cefhi menghampiri Alzen dan Chandra. “Alzen, Chandra, bo-bolehkah aku bergabung ke tim kalian.” Tanya Cefhi dengan kepala tertunduk.

“Tapi kita sudah punya Healer.” balas Alzen.

“Tak apa-apa. Kau kan kuat Alzen,” balas Chandra. 

“Kumohon, aku bisa memegang Role Support dan Chandra sebagai Healer.” Cefhi menepuk tangannya sekali dan memohon.

“Baiklah, selamat bergabung Cefhi.”

Lalu giliran nomor 256-260 adalah party Alzen yang sudah memutuskan satu party dengan Chandra dan Cefhi. Mereka berlari bersamaan menuju Warp di depan mereka dan mereka diteleportasi ke salah satu tempat di pulau Vanadivia secara acak.

“Fhonia, Iris.” Luiz memperingati. “Pegang token ini baik-baik jangan sampai...”

Bughhh!!

Iris tiba-tiba di sikut hingga terjatuh oleh orang-orang yang takut di warp secara acak. 

“Aduh sakit.” Iris tersungkur ke tanah diantara keramaian para pelajar yang berebut memegan token emas.

Baru beberapa detik tangan Iris terlepas, setelah membuka matanya Iris langsung hilang di warp begitu saja.

“Iris!” sahut Luiz yang melihat Iris terkena Warp acak. “Dasar kalian sialan! Enyahlah!”

***

Beberapa saat setelah di melewati Warp, Alzen dan partynya muncul di salah satu desa dengan banyak rumah-rumah kecil tak berpenghuni. Benar seperti kata Vlaudenxius, setelah di warp. Mereka langsung mengenakan tas di punggungnya bersamaan dengan anggota party secara acak untuk memenuhi slot yang belum terisi.

“Hahh... ini dimana?” Iris terheran-heran. “Dan terlebih lagi aku satu party dengan siapa?” Iris menengok pelan-pelan, takut untuk memastikan party random apa yang akan dia dapatkan.

“Alzen!?” Iris terkejut.

“Iris!?” Alzenpun terkejut.

“Yay! Syukurlah...” Iris langsung memeluk Alzen dan bersyukur sekali. “Paling tidak partyku ada yang kukenal.”

“Hahaha... jadi kamu yang kedapatan mengisi slot kosongnya.” Alzen ikut bersukacita. “Syukurlah.”

“Aduduh... tidak ada yang memilihku.” Nirn menangis dan putus asa sekali. “Tidak yang mau menerimaku.”

“Nirn... Nirn...” Alzen menepuknya. “Kenapa menangis terus, kita satu party sekarang.” 

“Huh!? Alzen!? WUAHHH Syukurlah... keberuntungan apa aku bisa satu party denganmu. WUAHH Syukurlah...”

“Cefhi, Chandra?” Nirn melihat dengan pandangan sulit percaya.

Cefhi dan Chandra melambaikan tangan padanya.

“Wuah beruntungnya...” Nirn seketika lemas dan bernafas lega. “Aku sekelompok dengan orang-orang yang sudah kukenal.”

“Hehe... Luar biasa! Luar biasa!” Iris melompat-lompat gembira seperti Fhonia. “Kalian berempat semua orang-orang yang ikut turnamen kan. Wah.. aku merasa sangat bersyukur.”

“Tapi masalahnya sekarang,” Alzen melihat sekelilingnya yang berisi rumah-rumah pedesaan yang kosong tanpa penghuni dengan jarak yang cukup jauh dari satu rumah ke rumah lainnya. “Kita ada dimana?”

13.13 hari pertama.

***