Episode 331 - Musuh Bersama



“Ooohhh… kalian…?” Sosok yang baru saja tiba menyeringai. Ia menoleh ke kiri, lantas ke kanan. “Dua di antara sekian banyak tokoh di Negeri Dua Samudera yang sangat kuhormati…”

Kum Kecho mencibir. Dari sudut pandangnya, Lintang Tenggara merupakan tokoh yang sulit ditebak. Walau merupakan garis keturunan keluarga Tenggara, tokoh tersebut sangatlah berbeda. Tak ada nilai-nilai kehormatan dan nilai-nilai kebenaran yang dijunjung tinggi, yang ada hanya tipu muslihat busuk yang terus-menerus disusun. Kum Kecho mengenal dan paham betul akan kepribadian tokoh tersebut, karean dirinya pun anggota Partai Iblis dari Pulau Lima Dendam. Oleh karena itu, Kum Kecho tampil semakin waspada. 

Demikian pula dengan Sangara Santang yang tak dapat menyembunyikan kecemasan di hati. Sebagai anggota Pasukan Telik Sandi, ia cukup mengenal watak Lintang Tenggara sebagai anggota Partai Iblis yang sangat berbeda dari anggota-anggota lainnya. Tokoh tersebut tiada gemar merampas harta benda atau membunuh secara membabi buta. Membuat onar bukanlah kesenangan Lintang Tenggara, melainkan melakukan penelitian. Akan tetapi, bukan berarti tindakan Lintang Tenggara sepenuhnya mulia. Demi melakukan penelitian terhadap keahlian, tokoh tersebut tak ragu melanggar etika dunia persilatan dan kesaktian. Lintang Tenggara dicurigai pernah menculik sejumlah ahli, dan sampai saat ini tak ada satu pun ahli tersebut yang terlihat lagi batang hidung mereka. 

“Apakah yang kalian berdua lakukan di tempat ini…?” ucap Lintang Tenggara, sebelah alisnya mengangkat. “Kum Kecho, sudah lama dikau menghilang, mengapa pula dikau hendak mencekik seorang gadis belia…? Sangara Santang, belum lama dikau meninggalkan Pulau Lima Dendam, mengapa dikau demikian penuh dengan amarah…?”

Baik Kum Kecho dan Sangara Santang tiada menanggapi. Sorong mata keduanya menyibak berbagai makna, benci dan muak adalah dua di antaranya. 

“Oh… Aku tahu… Aku tahu…” Wajah Lintang Tenggara berubah berseri-seri. “Persoalan di antara kalian adalah klasik adanya. Tak lain dan tak bukan, kalian terjebak di dalam… cinta segitiga!” 

“Enyah!” hardik Kum Kecho berang. 

“Segera angkat kaki dari tempat ini!” timpal Sangara Santang. “Jangan ikut campur di dalam urusan kami!” 

“Nah!” Lintang Tenggara terperanjat. “Mengapa sekarang kalian bersatu menentang diriku, seseorang tak berdosa yang hanya kebetulan melintas…? Jika bukan perkara cinta segitiga, apakah kiranya yang membuat kalian saling bermusuhan…?” 

Kum Kecho dan Sangara Santang saling pandang. Keduanya menyadari bahwa kehadiran Lintang Tenggara merupakan sebuah ancaman baru. Campur tangan tokoh tak bermoral itu dapat merugikan kedua belak pihak. Ralat: Campur tangan Lintang Tenggara pasti akan merugikan mereka, dan keuntungan hanya akan diraih oleh dia seorang. Oleh sebab itu, keduanya tak akan mengungkap alasan mereka bersengketa. 

“Hari masih panjang, apakah kita akan berdiri seperti ini sepanjang hari…?”

“Aku tak tahu dan tak mau tahu alasan engkau datang ke Pulau Belantara Pusat. Oleh karena itu, jangan pula ikut campur di dalam urusan kami!” Sejurus sesudah menyampaikan ancaman, suara berdenging nyamuk dan bayangan hitam merambah dari balik Jubah Hitam Kelam. 

“Kum Kecho, tak bisakah dikau berlaku lebih sopan…? Diriku ini adalah atasannmu.” 

“Kakak Lintang,” sela Sangara Santang. Nada bicaranya sedikit melunak. “Kami dapat menyelesaikan persoalan di antara kami. Kumohon kakak melanjutkan perjalanan.” 

“Hm…” Lintang Tenggara melipat tangan kiri ke belakang pinggang, lalu tangan kanannya mengelus dagu. Terlihat sekali bahwa ia sedang berpikir entah tentang apa. Sesekali ia melirik kepada Sangara Santang dan Kum Kecho secara bergantian. Dalam sekali pandang, ia akan mengamati kedua ahli dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. 

Kuau Kakimerah kini duduk di atas sebongkah batu di sisi Kum Kecho, juga tak lepas dari pengamatan Lintang Tenggara. 

Kum Kecho dan Sangara Santang hanya menanti dalam diam. Keduanya menyadari bahwa semakin lama berada di dekat Lintang Tenggara, maka semakin nasib buruk akan berlabuh mendekat. Tokoh yang satu ini merupakan petaka dalam arti yang sesungguhnya. 

“Kehadiranku mencegah pertumpahan darah yang sia-sia.” Lintang Tenggara membusungkan dada. “Ungkapkanlah persoalan di antara kalian berdua, dan dengan senang aku akan menjadi penengah.”

“Kau menguji kesabaranku, wahai Lintang Tenggara…?” Kum Kecho menggeretakkan gigi.

Secara nyata, Kum Kecho kini berada pada Kasta Perak Tingkat 4, sedangkan Lintang Tenggara hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Jikalau tak menyadari riwayat panjang jalan keahlian yang dilalui oleh Lintang Tenggara, maka pendapat umum akan berkesimpulan bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Dibandingkan dengan Sangara Santang yang berada pada Kasta Emas Tingkat 2, maka ibarat langit dan bumi pula jurang pemisah di antara mereka. Kendatipun demikian, baik Kum Kecho maupun Sangara Santang sangat mewaspadai tokoh yang telah hadir di antara mereka. Mustika tenaga dalam adalah wadah penampungan belaka, sementara Lintang Tenggara diketahui memiliki unsur kesaktian dan senjata pusaka nan unik, belum lagi keterampilan khusus sebagai perapal segel.

“Baiklah bilamana demikian…” Lintang Tenggara merapal formasi segel. Bentuknya kotak persegi empat setinggi lutut. Kemudian, ia duduk pun duduk santai di atas formasi segel tersebut. 

Kum Kecho mendecak lidah, dan Sangara Santang menghela napas panjang. 

“Sangara Santang datang ke Pulau Belantara Pusat untuk mendapatkan sebuah benda pusaka langka. Ia harus berhadapan dengan salah satu Raja Angkara untuk mencapai benda pusaka tersebut,” Lintang Tenggara berhenti sejenak, menghela napas, lalu melanjutkan, “Berkat bantuan Kum Kecho, hambatan yang dihadapi dapat dilalui dengan lancar. Akan tetapi, usai memperoleh benda pusaka tersebut, Kum Kecho malah merampasnya dari tangan Sangara Santang.” 

Dahi Kum Kecho berkedut dan sudut bibir Sangara Santang mengangkat pelan. Keduanya tiada dapat menyembunyikan ketakjuban dan sulit menyangkal kesimpulan yang dibangun dengan tepat. Bagaimana caranya Lintang Tenggara dapai sampai kepada kesimpulan yang demikian akurat!? batin kedua ahli cemas. Sedalam apakah kemampuan pengamatan yang dimiliki oleh tokoh keparat itu? Bahkan sebagai peneliti, ada batasan terhadap kemampuan pengamatan yang dapat dibangun!

“Sangara Santang menyalahartikan kegunaan benda pusaka tersebut, sedangkan Kum Kecho mengetahui manfaat sebenarnya,” lanjut Lintang Tenggara sembari menoleh kepada kedua ahli secara bergantian. “Benda pusaka yang sedang kalian perebutkan tak lain adalah… Lentera Asura!”

Tak ada kata-kata sanggahan yang meluncur keluar dari kedua ahli yang tadinya bersengketa. 

“Lentera Asura saat ini berada di tangan… Kum Kecho!” Senyum lebar menghias raut wajah si Petaka Perguruan dari Perguruan Gunung Agung. Ia menatap tajam, seolah menebus isi kepala Kum Kecho.

Segera setelah Lintang Tenggara menyelesaikan kata-katanya, Kum Kecho sontak menyerang. Seribu Nyamuk Buru Tempur menyerbu deras bak asap hitam yang bergulung. Di saat yang bersamaan pula, Sangara Santang turut bergerak melancarkan serangan ke arah Lintang Tenggara!

Baik Sangara Santang maupun Kum Kecho menyadari bahwa Lintang Tenggara merupakan musuh bersama. Walau memiliki alasan yang berbeda, keduanya tak hendak Lentera Asura jatuh ke tangan si tokoh laknat. Bagi Kum Kecho benda pusaka tersebut memiliki unsur kesaktian api putih yang demikian digdaya. Meski masih salah pengertian, Sangara Santang masih yakin dan percaya bahwa Lentera Asura bermanfaat demi menelusuri masa lalunya. 

Oleh karena itu, tanpa kata-kata maupun perjanjian dalam bentuk apa pun, keduanya sepakat untuk menyingkirkan Lintang Tenggara. Setelah itu, Kum Kecho berharap akan peluang untuk melarikan diri, sedangkan Sangara Santang berpandangan bahwa akan jauh lebih mudah menangkap Kum Kecho tanpa keberadaan Lintang Tenggara. 

Lintang Tenggara, di lain sisi, masih duduk dengan tenang. Berkas cahaya mentari menembus di sela antara dedaunan, menyorot raut wajahnya yang menampilkan kewibawaan bak pujangga tenar. Betapa ia bangga terhadap diri sendiri, serta puas akan kemampuan dalam membangun analisis nan jitu. Aura terpelajar nan mencuat ke semerata penjuru, seolah menyilaukan pandangan mata layaknya sinar mentari.  


===


“Cih!” 

Seorang perempuan dewasa terbang mondar-mandir tinggi di udara. Raut wajahnya kesal sekaligus menyesal. Tak lama setelah itu, ia melesat terbang dan menghilang dari pandangan mata. 

Tak lama berselang, sebuah lorong dimensi ruang yang berperan sebagai tempat persembunyian membuka. Sepasang payudara ranum bergoncang tatkala seorang gadis belia melompat keluar dari dalam lorong dimensi tersebut. Kemudian, goncangan payudara semakin terlihat hebat, mengikuti irama lekuk pinggul yang melesat di antara semak belukar. 

Pada satu kesempatan, kemben tipis yang ia kenakan tersangkut pada sebatang ranting pohon, sehingga menyingkap payudara sebelah kanan nan sehat lagi gembul. Sebulir sesuatu di ujungnya payudara terpapar dan dengan perkasa menatap langit. Tak hendak memperlambat langkah, gadis belia itu menyangga sebelah payudara tersebut dengan tangan kanan sembari berupaya membungkusnya kembali ke dalam kemben. Suatu upaya yang tiada mudah, karena kini payudara kedua tak hendak mengalah dan memutuskan untuk ikut menyembul. Kendatipun demikian, menjadi lebih mudah membungkus keduanya bila dilakukan secara bersamaan. Hanya menunggu momentum goncangan yang tepat, maka sepasang payudara tersebut melompat masuk dengan sendirinya. 

Sehari semalam berlalu cepat. Sinaran cahaya mentari pagi menembus ke balik balik kemben tipis dengan motif batik berwarna ungu. Sepasang payudara masih bergoncang tanpa lelah, begitu pula si gadis belia. Lebih dari satu purnama gadis belia tersebut ditinggal pergi oleh Mayang Tenggara. Lebih dari satu purnama pula dirinya dititipkan serta disekap oleh seorang perempuan dewasa lain. 

Embun Kahyangan menyadari bahwa dirinya telah kehilangan banyak waktu. Ia hendak segera mencari kitab pusaka warisan dari sang ibunda. Akan tetapi, rupanya bukan perkara mudah menemukan tokoh yang mengetahui tempat di mana Kitab Kahyangan tersimpan. 

Menurut ibu mertua, keadaan di Negeri Dua Samudera saat ini sedang bergejolak dan penuh dengan mara bahaya, sehingga beliau yang akan menelusuri jejak paman Balaputera seorang diri. Bilamana telah menemukan petunjuk, maka beliau berjanji akan segera kembali. Malahan, bila peruntungan menyertai maka puan Mayang Tenggara akan kembali bersama dengan paman Balaputera. Kendatipun demikian, gadis belia itu tak bisa bersabar dan menahan diri. 

Tetiba, langkah kaki Embun Kahyangan terhenti di tempat. Tak jauh di hadapannya, seorang perempuan dewasa duduk menanti di atas sebilah pohon tumbang. Sungguh muluk pemikiran Embun Kahyangan, mengira bahwa dirinya dapat melepaskan diri dengan dengan mudah. 

“Dikau hendak menelusuri jejak Wira seorang diri…?”

Embun Kahyangan mengangguk cepat. 

“Mengapa tak kau katakan saja langsung kepadaku…?” lanjut perempuan dewasa itu santai. 

Embun Kahyangan tertegun. “Benarkah…? Apakah diriku diperkenankan meninggalkan tempat ini…?” 

“Pergilah…” Perempuan dewasa itu mengibaskan tangan. “Jangan khawatir pada Mayang Tenggara. Si darah tinggi itu akan mengamuk kepadaku, tapi siapa yang peduli…? Sudah berkali-kali kukatakan padanya bahwa aku telah meninggalkan dunia persilatan dan kesaktian. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran baginya.”

Si gadis belia kehabisan kata-kata. Ia hanya mengangguk, lalu memutar tubuh dan melangkah pergi. 

“Hanya satu nasehat untukmu…,” ujar perempuan dewasa itu menghentikan langkah Embun Kahyangan. “Waspadalah... Mayang Tenggara tiada berdusta di kala mengatakan tentang bahaya di luar sana. Salah satu Raja Angkara memburumu.”

“Aku akan membunuhnya terlebih dahulu,” tanggap Embun Kahyangan pelan. Ia lantas meneruskan langkah.