Episode 89 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (2)



Malam itu di puncak Gunung Patuha, malam tiada berbintang dan berbulan, Angin dari selatan, jauh dari arah laut bertiup kencang. Cabang pepohonan bergoyang, ranting berderak dan dedaunan bergesekan mengeluarkan suara gemerisik berkepanjangan. Tiba-tiba angin yang sangat dingin bagaikan es bertiup amat kencang dan berganti dengan angin yang amat panas menebar bau kembang tujuh rupa, tanah kuburan yang masih merah, dan bau bagkai busuk yang amat menusuk!

Suara cuitan parau burung sirit uncuing menggema diatas puncak gunung Patuha mengalahkan suara derasnya angin yang berseoran, burung yang dianggap sebagai pembawa petaka itu bercuit berkali-kali sampai akhirnya ia terbang memasuki sebuah gua yang terdapat di tepi kawah putih puncak gunung yang sangat angker itu.

Didalam gua itu Nampak altar pemujaan untuk Betari Durga dan peralatan perdukunan yang lengkap dengan berbagai sesaji. Burung Sirit Uncuing tersebut mendarat diatas altar dan berubah wujud menjadi sesosok pria yang seluruh kulitnya pucat pasi seperti kapas, kedua bola matanya semerah darah, berambut gondrong riap-riapan dan bertampang sangat menakutkan! Dia tak lain adalah Jin Bagaspati beserta belasan kawan denawanya yang kini bertempat tinggal didalam tubuh mayat Dharmadipa!

Dharmadipa berjalan mengahmpiri seorang nenek yang sedang terlelap didalam sebuah cekungan batu di dinding gue cadas tersebut. Si Nenek yang tak lain adalah Nyai Lakbok yang ilmu kebathinannya sangat tinggi langsung merasakan adanya firasat yang sangat berbahaya ditengah-tengah tidurnya, ia langsung membuka matanya dan menatap mayat hidup Dharmadipa.

“Itukah kamu Bagaspati? Ayo tampakan wujudmu! Aku tahu kamu tidak sendiri, Siapa lagi yang kamu bawa?!”

Dharmadipa tertawa amat buruk, dan wush! Wush! Wush! Dari sekujur tubuhnya keluarlah belasan denawa, mereka langsung mengepung Nyai Lakbok sambil tertawa-tawa, Nyai Lakbok menatap mereka satu-persatu. “Kau mau mencelakaiku Bagaspati?”

Kawanan Denawa itu langsung menerjang Nyai Lakbok, dengan secepat kilat Nyai Lakbok merogoh sesuatu dari dalam saku bajunya, sambil mulutnya berkomat-kamit, di nenek sakti ini melemparkan bubuk sihir yang ia dapat dari laut kidul yang dicampur dengan berbagai abu hasil pembakaran tulang manusia! Kawanan Denawa itu menjerit-jerit kesakitan, mereka semua lalu masuk kembali kedalam jasad Dharmadipa yang kemudian berubah menjadi burung sirit uncuing dan terbang pergi meninggalkan Nyai Lakbok.

Nyai Lakbok menghela nafas lega sambil menyeka keringat di keningnya, ia lalu menatap ke mulut goa yang baru saja dittinggalkan oleh burung sirit uncuing jelmaan Dharmadipa dengan hati diselimuti perasaan khawatir, apalagi ketika ia teringat pada Mega Sari. “Mega Sari, kamu dalam bahaya besar! Jin Bagaspati beserta kawannya itu sudah semakin liar dan tidak bisa diatur! Aku takut Mantera Perjanjian Wasiat Iblis itu sudah tidak mempan untuk mengusir dia dari tubuh suamimu!”

Si nenek dukun teluh ini lalu bangun dan berjalan menuju ke altar, disana ia duduk bersidekap dan menutup matanya, memusatkan pikirannya pada muridnya terkasih, Mega Sari. 

“Mega Sari, sudah saatnya kamu harus datang ke Puncak Patuha, mantera-mantera yang ada dalam Perjanjian Wasiat Iblismu sudah tidak mempan untuk menjinakan Jin Bagaspati, kemarilah! Kemarilah!”

Di Gubug kediaman Mega Sari, putri Prabu Kertapati ini tidak dapat tidur dengan tenang, hatinya terus dikuasai oleh rasa gelisah yang teramat sangat! Ditengah-tengah rasa kegelisahannya didalam tidur ayamnya itu tiba-tiba terdengarlah suara Nyai Mantili. “Mega Sari… Mega Sari… Datanglah ke Gunung Patuha, aku kangen padamu! Aku akan membantumu untuk mengusir Jin Bagaspati dan para Denawa lainnya yang menguasai tubuh suamimu! Mega Sari, bangunlah!”

Mega Sari pun membuka matanya, ia lalu menyapukan pandangannya kesekeliling gubugnya. “Guru…” gumamnya, ia lalu melirik menatap bayinya yang sedang terlelap, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, ia membelai tubuh mungil bayinya yang sedang terlelap itu sambil berurai air mata, ia mendapatkan satu firasat yang sangat buruk sekali, firasat yang mengatakan bahwa ia tak akan lagi dapat melihat buah hatinya tersebut.

Emak Inah pun terbangun, ia melihat Mega Sari sedang menangis sambil menatap bayinya. “Gusti belum tidur?” tanyanya.

Mega Sari menoleh, dengan mata sayu dan desahan nafas berat ia menjawab. “Saya harus ke Gunung Patuha Emak… Guru memanggil saya…”

“Gusti mau membawa Dharma?” Tanya Ki Silah yang ikut terbangun.

Mega Sari terdiam sejenak, ia menatap Dharma sebentar, tatapan mata yang hanya sebentar namun amat dalam penuh selaksa makna pada wajah tanpa dosa si mungil buah hatinya tersebut, ia lalu menoleh lagi pada Emak Inah dan Ki Silah, dengan air mata yang semakin deras ia menggeleng. “Tidak… Terlalu berbahaya… Emak dan Abah sebaiknya tinggal disini saja menjaga Dharma, saya berangkat sendiri!”

“Terlalu jauh Gusti! Apa perlu Abah antar Gusti dulu ke kaki barat gunung Patuha?” Usul Ki Silah.

“Tidak perlu Bah, saya berani sendirian, saya hapal betul jalan ke Gunung Patuha, saya tahu jalan pintasnya… Nanti pagi saya berangkat sebelum matahari terbit supaya tidak kepanasan, begitu selesai saya akan segera pulang… Ya mudah-mudahan saya bisa menemukan kuda liar atau kuda yang tertinggal disekitar desa-desa yang sudah kosong ditinggal mengungsi para penduduknya.” Emak Inah dan Ki Silah pun hanya bisa diam menyetujui majikannya.

***

Dalam perjalanannya menuju ke Gunung Patuha, Mega Sari beruntung dapat menemukan seekor kuda liar, dengan mantera yang ia miliki ia berhasil menjinakan kuda liar tersebut lalu mengendarainya sampai ke lereng gunung Patuha, disana terdapat pohon beringin kembar yang amat besar dan sudah sangat tua, ia melepaskan kuda tersebut, ia lalu duduk bersemedi sejenak memohon agar para penunggu dan penjaga Gunung angker yang masih perawan itu mengizinkannya lewat.

Semilir angin deras yang sangat dingin bertiup sampai daun-daun berguguran dan ranting-ranting pohon berderak, banyak ranting yang kecil patah akibat tiupan angin aneh tersebut. Mega Sari bangun dari semedinya, angin tersebut adalah tanda bahwa ia diizinkan untuk lewat oleh para penunggu dan penjaga gaib gunung tersebut. 

Wanita cantik berkulit putih berparas khas Pasundan ini pun kembali melanjutkan perjalannya dengan berjalan kaki menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tahap sempurnanya sehingga gerakannya yang seringan kapas sangat cepat sekali.

Menjelang tengah hari, ia sudah sampai di Kawah Putih puncak gunung Patuha, ia pun langsung memasuki gua tempat tinggal Nyai Lakbok. Mega Sari langsung sungkem pada gurunya, si Nenek bertubuh kurus dan sangat tinggi yang bungkuk itu, rambutnya yang putih panjang riap-riapan nampak botak ditengahnya ditusuk oleh tiga tusuk konde yang menancap di batok kepalanya, si Nenek dukun teluh sakti ini lalu tersenyum memperlihatkan giginya yang merah oleh sepahan, sambil mengelus-elus kepala murid terkasihnya tersebut.

Si nenek lalu mempersilahkan Mega Sari duduk, ia lalu membuatkan minuman jamu kuat untuk Mega Sari.

“Ini yang paling saya takutkan, perjanjian Wasiat Iblis selalu meminta korban yang berlebihan! Kamu ingat perjanjian Wasiat Iblis yang dibuat oleh ayahmu? Bahkan sekalipun tujuan dari perjanjian tersebut gagal terwujud, perjanjian itu tetap meminta korban yang tidak sedikit, ayahmu sendiri, ibumu, suamimu, bahkan Kakang Topeng Setan yang menjadi perantara perjanjian itu harus ikut tewas sebagai tumbal dari perjanjian Wasiat Iblis!”

Nyai Lakbok lalu memberikan jamu tersebut untuk Mega Sari, “Minumlah ini untuk mengembalikan tenagamu!”

“Terimakasih Guru” jawab Mega Sari sambil menerima gelas bamboo berisi jamu kuat tersebut.

“Jin-jin peliharaanku sudah menjadi liar, bahkan mereka sudah berani menyerang aku!”

“Lalu apa yang harus saya lakukan guru?”

“Aku harus turun gunung, kita bersama-sama menangkap jasad suamimu! Kemudian menghancurkannya!”

“Kenapa guru harus ikut? Biar saya yang melakukannya sendiri, saya tidak mau terjadi apa-apa dengan guru!”

“Kau tidak akan mampu sendirian Mega Sari, aku sendiri juga belum tentu sanggup… Aku butuh kamu untuk menghancurkan tubuh suamimu, dan aku akan menganggu juga memancing jin-jin itu dengan mantera-manteraku!”

“Tapi yang saya khawatirkan adalah, susuk azimat yang tertanam di kemaluan Kakang Dharmadipa, selama susuk azimat itu masih tertanam, tubuhnya tidak bisa kita hancurkan Guru.”

“Ya… Ya… Kamu benar, kita harus mencari cara untuk mencabut susuk azimat itu, setelah susuk azimat itu berhasil kita keluarkan, kita langsung hancurkan jasad suamimu itu!”

“Saya pernah bermimpi bertemu dengan Kakang Dharmadipa, didalam mimpi itu ia berpesan agar saya mencabut susuk azimat yang berupa sebuah jarum emas yang ditanam di kemaluannya oleh mendiang ayahnya Prabu Wangsadipa dari Parakan Muncang…”

“Bagaimana caranya menurut suamimu dalam mimpi itu?”

“Satu-satunya cara adalah kita harus mencari sebuah pasak emas yang ia tanam di halaman belakang rumah kami dulu yang terdapat di Kesatriaan Keraton Rajamandala terlebih dahulu. Dengan pasak emas itu kita bisa menyobek kemaluan kanannya dan mencukil jarum emas yang merupakan susuk azimat tersebut.”

“Hmm… Ini akan sulit, keraton Rajamandala sudah hancur lebur, kita akan kesulitan untuk menemukan letak dimana ia menguburkan pasak emas tersebut. Selain itu menurut pengelihatanku, Jin Bagaspati kini tinggal di reruntuhan keraton Rajamandala dan hendak membangun kerajaan Jin yang berpusat diatas reruntuhan Rajamandala!”

Mendengar itu, Mega Sari hanya terdiam sambil berpikir keras, sementara Nyai Lakbok membakar kemenyan dan menaburkan kembang tujuh rupa diatas altar dibawah patung Berhala Iblis, Nyai Lakbok pun duduk bertafakur disana, tanpa mereka berdua sadari, Jin Bagaspati bersemayam didalam patung itu dan menyaksikan rencana mereka berdua.

Tiba-tiba terdengarlah suara cuitan parau burung Sirit Uncuing dan suara tangisan bayi menyayat hati, yang membangunkan Nyai Lakbok dari tafakurnya, Mega Sari pun meloncat kaget mendengar suara cuitan burung pembawa petaka tersebut! 

“Saya menangkap kegelisahan anakmu Mega Sari! Saya takut ada apa-apa dengan dia! Mungkin kelaparan, karena kamu tidak susui!”

“Dia tidak menyusu saya guru, karena air susu saya tidak keluar, sejak lahir ia hanya minum susu sapi dan makan pisang.” Jawab Mega Sari sambil celingukan kesana kemari dengan gelisah mendengar suara cuitan burung sirit uncuing dan jerit tangis bayinya.

“Sebaiknya nanti sore kita berangkat! Sebelum ke keraton Mega Mendung kita berkunjung dulu ke gubugmu untuk memasang sekat pelindung agar bayimu tidak diganggu oleh Jin Bagaspati dan kawan-kawannya!”

“Baik Guru.” angguk Mega Sari.

***

Sudah tujuh hari enam malam seluruh kekuatan Pajajaran disiagakan untuk menjaga kota Pakuan dari pasukan Banten yang sampai saat ini masih belum bergerak dan hanya mengepung kotaraja Pakuan dari seluruh penjuru saja. Para prajurit Pajajaran mulai merasakan kelelahan yang teramat sangat. Lelah secara fisik, maupun lelah secara mental karena ternyata sampai saat ini pasukan Banten masih bertindak mengepung mereka sehingga mereka terus-terusan diserang oleh rasa tegang dan rasa gelisah, belum lagi kelaparan yang mulai menyerang penduduk kota karena suplai makanan dari luar kota telah terputus oleh karena kepungan tentara Banten.

Disebuah rumah di pemukiman penduduk dekat pintu gerbang utama Pakuan sebelah selatan, Senopati Ki Jungju bersama seorang Kandaga Lante Pajajaran yang membelot mengumpulkan seluruh lurah tantama yang ikut dengannya disebuah ruangan rahasia.

“Menurut kabar yang kita terima, penyerangan akan dilakukan tengah malam ini, maka dari itu kita harus segera bersiap-siap!” ucap Ki Jungju sambil membuka kain penutup mata tombak pusaka Kyai Guludug.

Ki Jungju kemudian menunjuk Kandaga Lante yang berada disisinya. “Ini Ki Bayu Tapaksana, seorang Kandaga Lante Pajajaran yang memihak pada kita, beliau sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk membantu gerakan kita malam ini.”

Ki Bayu Tapaksana mengangguk, “Benar, karena saya diperlakukan tidak adil oleh Sang Prabu maka sekarang memihak Banten!”

“Nah Ki Bayu, sekarang terangkanlah apa yang sudah kamu atur untuk kami!” pinta Ki Jungju.

“Saya akan memastikan penjagaan Pintu Gerbang Pakuan akan diperlonggar pada saat sedulur semuanya bergerak, saya akan bokong Kandaga Lante yang bertugas!” jawab Ki Bayu Tapaksana yang merasa sakit hati pada Prabu Suryakancana karena kenaikan pangkatnya dipersulit, ia merasa seharusnya ia sudah menjadi senopati karena perjuangan dan pengabdiannya pada Pajajaran, namun Sang Prabu tidak kunjung menaikan pangkatnya menjadi Senopati.

Sang Senopati tua yang sudah sangat berpengalaman ini mengangguk pada Kandaga Lante penghianat tersebut, kemudian ia menatap semua lurah tantama yang ada disana. “Sekaranglah saatnya, kita lakukan tugas Negara demi kejayaan Banten, ingat tugas kalian masing-masing, lima orang dari kalian bertugas untuk melumpuhkan para penjaga diatas benteng Kota dan kemudian melihat aba-aba berupa panah api dari Sultan dan induk pasukan kita. Sisanya kalian bertugas untuk melumpuhkan para pasukan yang berjaga disekitar pintu gerbang, begitu aba-aba kalian lihat, aku akan mendobrak pintu gerbang utama dengan Tombak Pusaka Kyai Guludug ini! Ingat, kesamaan waktu dalam sebuah gerakan adalah faktor penentu utama kemenangan! Jangan bertindak sendiri-sendiri mendahului aba-aba!”

“Siap! Hidup Banten! Allahuakbar!” sahut mereka.

“Bagus, sekarang bubar, laksanakan tugas kalian masing-masing!”

Ki Bayu Tapaksana keluar lebih dulu dari rumah rahasia tersebut untuk menjalankan niatnya, ia memperlonggar penjagaan disekitar pintu gerbang kota Pakuan. Kemudian ia membokong seorang Kandaga Lante yang memimpin penjagaan malam itu lalu membuang mayatnya.

Beberapa saat kemudian para lurah tantama Banten yang semuanya mengenakan pakaian dan cadar serba hitam menyelinap kedaerah pintu Gerbang Utama Pakuan. Dengan gerakan yang kecepatannya bagaikan siluman dan tanpa suara, lima orang dari mereka melompat keatas benteng kotaraja dan langsung melumpuhkan sekitar dua puluh prajurit penjaga disana yang kelelahan dan diserang kantuk, tiga puluh lima orang lainnya segera berpencar dan melumpuhkan para prajurit jaga yang berpatroli disekitar gerbang utama. Karena para prajurit Pajajaran itu sedang diserang oleh rasa lelah yang teramat sangat, maka dengan mudahnya para lurah tantama pilihan Banten yang semuanya berilmu tinggi itu dapat melumpuhkan mereka!

Diluar gerbang Kotaraja, bagaikan pasukan semut yang mengerubungi semangkuk gulai, sekitar sepuluh ribu Pasukan Banten mulai bergerak mendekati Kutaraja Pakuan secara perlahan dibawah pimpinan langsung Sultan, seorang prajurit lalu memberikan satu panah beserta anak panahnya pada sultan, satu orang lagi menyodorkan obor, Sultan lalu membakar ujung anak panah yang telah dililit oleh sumbu berminyak, dan setelah ujung anak panahnya menyala, ia menembakan anak panahnya keatas langit malam.

Anak panah api itu melesat ditengah kegelapan langit malam berbintang dan berbulan purnama yang sedang cerah itu, aba-aba dari Sultan tersebut terlihat jelas oleh para lurah tantama Banten yang telah berhasil melumpuhkan para pasukan jaga diatas benteng kota, mereka pun lalu bersiul memberi aba-aba pada Ki Jungju dan lurah tantama lainnya yang berada dibawah benteng kota.

Mendengar suara siulan aba-aba tersebut, Ki Jungju langsung mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tombak Pusaka Kiai Guludug langsung menyebarkan hawa sakti yang teramat menggetarkan hati bagi siapapun yang melihatnya, ujung mata tombaknya memancarkan cahaya berwarna biru menggidikan yang menghamparkan hawa amat panas, Sang Senopati langsung menusukan tombaknya ke tengah-tengah gembok pusaka Gerbang Kutaraja Pakuan tersebut dengan kekuatan tenaga dalam penuh! 

Suara halilintar menggelegar terdengar menggema di Pakuan yang keluar dari tombak Pusaka Kyai Guludug! Tombak Pusaka tersebut berkiblat menhujam gembok pusaka gerbang Kota Pakuan bagaikan kilat halilintar! Dhuaarrr!!! Pintu Gerbang yang digembok oleh mantera Sri Baduga Maharaja itu hancur berantakan! Bersamaan dengan itu, Sepuluh ribu pasukan Banten yang telah menanti diluar langsung berlarian memasuki Kota Pakuan! Seluruh lurah tantama dibawah pimpinan Senopati Ki Jungju pun langsung bergabung dengan pasukan utama Banten yang masuk menyerbu bagaikan air bah ke Kota Pakuan.

Bukan main terkejutnya Ki Patih Waja Kersa mendengar laporan dari pasukannya bahwa pintu gerbang kota berhasil didobrak musuh, ia langsung melaporkan hal ini pada Prabu Suryakencana yang sedang bersemedi, Sang Prabu pun langsung mengerahkan seluruh pasukannya untuk menghantam pasukan Banten dengan taktik gelaran perang “Wakul Buaya Mangap”, mereka akan memancaning seluruh pasukan Banten ke alun-alun kota dan akan mengepungnya dari segala penjuru!

Saat itu bersamaan dengan masuknya ribuan Prajurit Banten ke Kotaraja Pakuan, berdirilah Sembilan sosok manusia yang tak nampak oleh mata biasa di perbukitan luar kotaraja menyaksikan peristiwa tersebut dengan mata berkaca-kaca, Sri Baduga Maharaja yang tak lain sebagai pemimpin dari Sembilan mahluk ghaib itu nampak mengelus-elus dadanya sambil air matanya terus berjatuhan ke bumi menatap kota yang ia bangun menjadi arena peperangan, sementara kedelapan anak buahnya nampak jatuh berlutut sambil menangis menyaksikan kejatuhan kota Pakuan.