Episode 329 - Siapa di sana?


Batu titian bundar yang tersusun pada permukaan tanah mengantarkan kepada suasana taman nan demikian hening. Tiada terdengar kicau burung bernyanyi maupun gemericik air mengalir. Semerbak bebunga juga tiada tercium dan jauh dari warna-warni yang terlihat semarak. Hanya bebatuan, rerumputan, ranting dan dahan mati, serta beberapa batang pohon berukuran sedang dengan ranting-ranting ramping. Namun, penataan setiap satu unsur tersebut dibuat sedemikian rupa, sehingga menyajikan perasaan yang tenang lagi menghanyutkan. Taman kering, adalah nama yang biasa digunakan mewakili taman-taman dengan konsep yang serupa. 

Berkas mentari pagi menyapa wajah seorang lelaki setengah baya. Raut wajahnya terlihat lebih tua daripada yang biasa ditampilkan. Dengan mengenakan pakaian yang sangat sederhana, tiada seberkas nuansa kebesaran yang tercermin dari sosok tersebut. Di atas gundukan tanah berbalut rerumputan pendek, ia duduk bersila. Raut wajahnya demikian sendu, ibarat telah kehilangan gelora yang biasanya mencuat perkasa. 

Kedua belah matanya menatap tinggi pada gumpalan awan-awan putih yang berarak pelan. Ia menghela napas nan panjang, menghirup udara pagi nan segar, lalu memejamkan kedua mata sesaat sebagai upaya menutup diri dari dunia. Entah kapan waktu terakhir ia mengingat akan perasaan nan tenang sebagaimana saat ini. Namun, baru saat inilah ia menyadari bahwasanya dunia keahlian seringkali merampas kesempatan untuk menikmati alam, dengan menyajikan ilusi bahwa berada di titik puncak keahlian akan meningkatkan derajat sebagai manusia. Ilusi belaka. 

“Apakah kedatanganmu untuk mengolok seorang pecundang…?” Lelaki setengah baya tersebut berujar pelan. Mata masih terpejam, dan kegetiran terbias dari setiap kata yang ia ucapkan. 

“Kakek Tarukma, sungguh kedatangan diriku hendak memeriksa keadaan dikau…” Lintang Tenggara berujar pelan. Kekhawatiran dipancarkan dari raut wajahnya. 

“Memeriksa keadaanku…?” Balaputera Tarukma tersenyum kecut, mengingat kondisi tubuhnya yang masih teramat lemah serta bagaimana keadaan tersebut datang merundung. “Sesuai adab keahlian aku menantang ahli yang nyatanya jauh lebih perkasa… Menurut adab keahlian pula, atas kekalahan tersebut, nyawaku sudah sepantasnya melayang…”

Lintang Tenggara menyadari bahwa kekalahan bukan diderita oleh tubuh saja. Kendatipun luka dalam yang diderita Balaputera Tarukma kini berangsur pulih, hatinya telah kalah telak. Ibarat layang-layang yang putus benangnya, suasana hati lelaki setengah baya itu sedang limbung. 

“Kekalahan bukanlah akhir dari segalanya…,” ujar Lintang Tenggara penuh perhatian. 

Balaputera Tarukma, di lain sisi, kembali menatap awan-awan nan berarak tinggi. Kata-kata penyemangat, dalam bentuk apa pun, saat ini tak akan mempan menyentuh lubuk hatinya. Kekalahan telak yang ia derita, tak akan mampu ditebus seberapa pun besar upaya yang dikerahkan. Ia lalu menoleh pelan kepada Lintang Tenggara, “Kau menyelamatkan seorang ahli yang tak pantas diselamatkan...”

“Setelah beristirahat, tubuh Kakek Tarukma akan kembali seperti sedia kala…,” tanggap Lintang Tenggara cepat, berupaya membangkitkan semangat. 

“Aku membunuh kakek kandungmu, aku mengurung nenekmu yang tak lain adalah adik kandungku sendiri, dan aku juga pernah berupaya membunuhmu… Tak terbilang sudah dosa yang kuperbuat…,” gumam Balaputera Tarukma lirih. Kini tak hanya kekalahan yang merasuk ke dalam relung hatinya, namun juga penyesalan atas tindakan keji di masa lalu. 

Tak ada yang lebih buruk dari kekalahan yang bercampur dengan penyesalan. Balaputera Tarukma kini berada di titik terendah di dalam hidupnya. Di lain sisi, di balik wajah nan penuh kekhawatiran itu, benak Lintang Tenggara sedang berputar keras.

“Kakekku, nenekku, dan diriku…,” Lintang Tenggara terdiam sejenak, seolah merangkai kata yang tepat sebelum melanjutkan. “Kami… Kami semua masih hidup adanya…” 

Balaputera Tarukma sontak menoleh kepada Lintang Tenggara. Sorot matanya tajam menatap, dan di saat yang bersamaan ia mengingat kejadian di masa lampau. “Seranganku mendarat telak di tubuh Balaputera Dharanindra! Aku membiarkan tubuhnya dilahap kerumunan binatang siluman di hadapan Rimba Candi!”

“Benar, tapi hal itu bukan berarti bahwa beliau telah meregang nyawa…,” tanggap Lintang Tenggara cepat. 

“Apa maksudmu!?” Balaputera Tarukma bangkit berdiri.

“Pengetahuan yang diriku kumpulkan dari berbagai pihak, menyiratkan bahwa kakek Balaputera Dharanindra masih hidup…”

“Apa buktinya!?” Ia melangkah maju.

“Diriku tak memiliki bukti. Hanya kesimpulan yang diperoleh dari berbagai sumber… Sumber yang dapat dipercaya tentunya.”

“Dimanakah ia kini!?” sergah Balaputera Tarukma. Suasana hati pada kekalahan dan penyesalan seolah terangkat, ibarat bayangan awan kelabu yang berpencar untuk membuka jalan pada bias cahaya mentari.

Raut wajah datar, Lintang Tenggara mengangkat kedua bahu secara bersamaan. Memang ia hanya memiliki informasi tentang Balaputera Dharanindra yang kemungkinan besar masih hidup, namun tiada mengetahui di mana pastinya tokoh tersebut berada. Penelusuran terkait kemungkinan tersebut ia pelajari setelah mendapat kepastikan bahwa nenek Balaputera Sukma memang benar masih hidup. Ia kemudian berpegang pada kesimpulan bahwa di dalam dunia keahlian, tak ada yang pasti sampai benar-benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri. 

“Jikalau benar masih bernapas, mengapa Dharanindra tak segera pulang ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang!? Dharanindra berjiwa patriot, ia akan berupaya kembali tak peduli apa pun halang rintang yang datang menghadang!”

“Kemungkinan jiwanya terkurung, atau tubuh terbelenggu…”

“Hmph!” dengus Balaputera Tarukma sembari membuang wajah. Penyesalan yang tadinya sempat hinggap seolah terangkat sudah. 

“Maka dari itu, Kakek Tarukma perlu beristirahat dan memulihkan diri seperti sedia kala. Pada waktunya nanti, Kakek Tarukma memerlukan segenap kemampuan demi menuntaskan sengketa masa lalu…” 

“Lintara, apakah keuntungan yang akan dikau peroleh dari kematian Balaputera Dharanindra…? Ia adalah kakek kandungmu…” Balaputera Tarukma masih sulit mempercayai kata-kata Lintang Tenggara. Mungkin saja keadaan ini merupakan muslihat Balaputera Wrendaha, sang Datu Besar Kadatuan Kesatu yang saat ini menjadi Perdana Menteri di Kemaharajaan Cahaya Gemilang sekaligus wali bagi Yuvaraja Bintang Tenggara.

“Diriku tak mengenal Balaputera Dharanindra,” tanggap Lintang Tenggara dingin. “Hubungan darah tak memiliki arti bilamana tak dapat bahu-membahu…”

Balaputera Tarukma menangkap maksud dari kata-kata Lintang Tenggara. Apabila berniat melakukan perbuatan kotor, maka tokoh terhormat seperti Balaputera Dharanindra tiada akan membantu, malah akan berbalik menghalangi. Terlebih lagi, Balaputera Tarukma pun menyadari bahwasanya Balaputera Lintara merupakan seorang oportunis sejati. Tokoh tersebut tak akan melakukan apa pun yang tak memberikan keuntungan. 

Oleh karena itu, Balaputera Tarukma tiba pada kesimpulan bahwa dirinya dan Balaputera Lintara dapat membangun hubungan saling memanfaatkan. Lebih dari itu, kepribadian keduanya memanglah cocok. 

“Jadikan Balaputera Dharanindra sebagai batu pijakan menuju sesuatu yang lebih besar,” lanjut Lintang Tenggara. “Kemaharajaan Cahaya Gemilang dapat menjadi milik kita!”

Balaputera Tarukma mengangguk cepat. Semangat hidup kembali terpancar dari sorot kedua bola matanya. 

Usai menyampaikan apa yang hendak disampaikan, Lintang Tenggara mengundurkan diri. Ia menyibak senyum kemenangan, dan di dalam benak putra pertama Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara itu bersorak girang. Tiada berguna tokoh yang berada pada Kasta Bumi, namun sudah kehilangan semangat hidup. Oleh karena itu, Balaputera Tarukma perlu sembuh dari kekalahan dan penyesalan, dan kembali sebagai ahli perkasa nan penuh wibawa. Kemudian, tokoh tersebut akan berperan sebagai boneka yang dapat dikendalikan sekehendak hati.


“Kakak Lintang, siasatmu sungguh teramat keji…” Anjana menyela tatkala sang Bupati Selatan Pulau Lima Dendam baru saja melangkahkan kaki memasuki Graha Bupati.

“Aku sudah menyelamatkan nyawa si tua bangka itu…,” jawab Lintang Tenggara setengah mencibir. “Sudah sepantasnya bila di kemudian hari ia memberi imbalan yang setimpal…” 

“Tetap saja keji…”

“Sudah, jangan banyak komentar! Kau akan kembali mengambil alih tugasku sebagai Bupati…” 

“Kakak Lintang hendak bepergian…?”

“Tentu saja! Aku terpaksa membayar mahal demi menyelamatkan nyawa Balaputera Tarukma. Si Raja Angkara Durjana akan murka bila aku tak segera menumbalkan seorang gadis belia dengan ukuran dada yang berlebih…”

“Tiada kusangka Ketua Partai Iblis merupakan tokoh lucah…” Anjana tertegun. “Apakah gerangan yang hendak ia lakukan terhadap sepasang payudara...?"

“Bukan soal itu!”


===


“Tidak!” 

“Apakah maksud dikau dengan ‘tidak’!? Kita perlu merawat Kuau dan Kancil segera!” 

“Cedera gadis itu tak membahayakan nyawanya,” tanggap Kum Kecho. “Ia akan membawa aku kembali ke Pulau Belantara Pusat. Sedangkan engkau akan tinggal untuk merawat binatang siluman itu.”

Kum Kecho sepenuhnya mengenali lambang tongkat dililit ular yang terpampang pada permukaan lidah Bintang Tenggara. Meski ia tak mengetahui bagaimana dan mengapa kemampuan milik Maha Maha Tabib Surgawi Ginseng Perkasa dapat diturunkan, setidaknya kini diketahui bahwasanya nyawa Si Kancil dapat diselamatkan. Oleh karena itu pula, Kum Kecho menahan diri untuk tak membunuh lawan bicaranya kali ini. Lagipula, disadari bahwa pertarungan satu lawan satu menghadapi Bintang Tenggara tak akan berlangsung singkat. Tiada guna membuang-buang waktu. 

Di lain pihak, kini Bintang Tenggara merasa bahwa menunjukkan kemampuan penyembuhan milik Ginseng Perkasa bukanlah keputusan yang tepat. Tanggapan yang ia peroleh malah bertolak belakang dengan harapan. Kini, Kuau Kakimerah berisiko dibawa pergi oleh tokoh yang tak dapat dipercaya niat dan tujuannya! 

Kum Kecho mendatangi Kuau Kakimerah yang masih tergeletak tak sadarkan diri. Ia berjongkok, lantas seberkas cahaya terpancar dari permukaan telapak tangannya. 

“Tunggu!” Bintang Tenggara hendak menghentikan tindakan Kum Kecho yang kini hanya berada beberapa langkah dari dirinya. 

“Biarkan…,” bisik Ginseng Perkasa melalui jalinan mata hati. “Itu adalah unsur kesaktian cahaya. 

Di saat yang sama, Kum Kecho menyembunyikan keterkejutan di hati. Cedera yang dialami oleh Kuau Kakimerah sudah berangsur pulih. Kecepatan pemulihan tubuh gadis belia tersebut berada jauh di atas rata-rata kebanyakan ahli. Pelik sungguh.

“Jikalau engkau tak cepat menyelamatkan binatang siluman itu, maka ia dan gadis ini akan meregang nyawa,” ancam Kum Kecho. Walau tak mengetahui atas alasan apa, namun dirinya sudah dapat menyimpulkan bahwa Bintang Tenggara mengenal dan sangat mengkhawatirkan keadaan Si Kancil. 

Bintang Tenggara tertegun. Sekali pandang saja ia sudah tahu bahwa nyawa Si Kancil sedang berada di ujung tanduk. Bila tak ditangani segera, maka binatang siluman itu akan meregang nyawa. Akan tetapi, bilamana membiarkan Kum Kecho membawa pergi Kuau Kakimerah, maka tak terbayangkan nasib seperti apa yang akan menimpa gadis belia tersebut. Kendatipun demikian, ia tetap memeriksa tubuh binatang siluman yang dipenuhi dengan luka bakar. Anak remaja itu pun terpaksa menjulurkan lidah…

“Kau tak perlu menjilat setiap pesakitan…,” cibir Kum Kecho yang masih berjongkok di sisi Kuau Kakimerah. 

“Hei!” Ginseng Perkasa menyergah, walau tak dapat didengar oleh Kum Kecho. Nada suaranya terasa cemas. 

“Kau hanya perlu mengaktifkan keterampilan khusus sebagai penyembuh, lalu menempelkan telapak tangan pada tubuh pesakitan,” lanjut Kum Kecho. 

Bintang Tenggara menuruti tanpa mempertanyakan lebih lanjut. Di saat itu pula, semakin ia menyadari betapa parahnya luka-luka bakar yang mendera tubuh binatang siluman itu. Kemampuan penyembuhan hanya berperan sebagai pertolongan pertama, namun tak akan mampu sepenuhnya menyelamatkan. Ramuan wajib diberikan secara berkala pada luka luar serta diminum untuk membantu proses penyembuhan. Berkat keterampilan khusus sebagai peramu yang juga dipinjamkan, benak Bintang Tenggara sudah dapat menyusun berbagai jenis bahan dasar dan proses meramu yang patut dijalani. 

Di saat yang sama, benak Bintang Tenggara melayang. Sudut mata anak remaja itu lantas melirik kepada abu binatang siluman serangga belalang sembah yang sedang dimainkan terpaan angin. Api seperti apakah yang membakar mereka serta Si Kancil!?

Waktu berlalu, sekujur tubuh Bintang Tenggara bermandi keringat. Pertolongan pertama yang diberikan memakan tenaga dalam serta menyita pantauan mata hati. Masa-masa kritis bagi Si Kancil telah dilewati, sedikit saja lagi maka tubuh binatang siluman itu akan lebih stabil. 

“Diriku akan pergi bersamanya…,” bisikan pelan terdengar di telinga Bintang Tenggara. Kuau Kakimerah telah sadarkan diri. 

“Tapi…” Bintang Tenggara mulai panik. “Kita tak mengetahui apa tujuannya… Dia tak bisa dipercaya!”

“Dia pernah menyelamatkan nyawaku,” tanggap Kuau Kakimerah. Sorot matanya tiada mencerminkan keraguan. 

Pembawaan Kuau Kakimerah membuat Bintang Tenggara semakin terpana. Apa yang telah diperbuat oleh Kum Kecho menggunakan cahaya yang terpancar dari permukaan telapak tangan…? Mengapa Kuau Kakimerah demikian percaya kepada tokoh tersebut…? Apakah ilmu sirep…?

Kum Kecho, di lain sisi, menatap kepada Bintang Tenggara enteng. Ia kemudian menoleh kepada Si Kancil sejenak, lantas memutar tubuh dan melangkah ke arah seekor kecapung. 

“Bila terjadi sesuatu pada Kuau, maka sampai ke ujung dunia pun kau akan kukejar!” Bintang Tenggara memberi peringatan keras. 

Kum Kecho melangkah sama sekali tanpa beban. Ia tak merasa perlu memberi tanggapan.

“Satu purnama dari hari ini, diriku akan kembali untuk menjemput,” tambah Kuau Kakimerah. “Semoga berhasil!”

Hanya tatapan mata yang mengantar kepergian Kum Kecho dan Kuau Kakimerah yang melesat di atas tubuh Kecapung Terbang layang. Tak perlu waktu lama bagi mereka menghilang dari pandangan Bintang Tenggara. Beberapa saat kembali berlalu sebelum dirinya rampung memberikan pertolongan pertama kepada Si Kancil. 

“Tap!” Tetiba bayangan sesosok tubuh mendarat di dekat Bintang Tenggara. 

Anak remaja itu terperangah, ketika mendapati seorang anak kecil berusia sekira tujuh atau delapan tahun. Akan tetapi, terdapat perasaan yang tak lazim dari tokoh yang muncul secara tiba-tiba dan entah dari mana. Keduanya hanya saling pandang.  

“Siapakah di sana…?” Bintang Tenggara membuka pembicaraan sembari bangkit.